Hutan Bambu Pasca Karhutla, Bukan Sawit

Oleh: Toto Izul Fatah
(Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA)

Ada ungkapan satir yang belakangan ramai di jagat sosial media setiap kali terjadi kebakaran hutan dan lahan. “Hutan terbakar, terbitlah sawit.”

Kalimat itu memang bukan rumus ilmiah. Bukan pula vonis hukum. Tetapi ia lahir sebagai bentuk kecurigaan publik terhadap apa yang terjadi setelah api padam.
Jangan-jangan, setelah hutan habis dilalap api, yang kemudian tumbuh bukan lagi hutan, melainkan perkebunan.

Kekhawatiran semacam itu tentu tidak boleh dianggap sekadar prasangka. Apalagi, praktik membuka lahan dengan cara membakar memang menjadi persoalan serius.

Kementerian Lingkungan Hidup pada Agustus 2026, misalnya, kembali menerbitkan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar.
Praktik jahat dan kotor tersebut, selain masih terjadi, juga menimbulkan kerusakan ekosistem, pencemaran udara, hilangnya keanekaragaman hayati, serta emisi gas rumah kaca.

Sementara, hingga akhir Agustus 2026 Karhutla belum sepenuhnya selesai. Aparat pun telah menangkap puluhan orang dan menyelidiki sejumlah perusahaan berkaitan dengan dugaan pembakaran ilegal.

Karena itu, kekhawatiran bahwa api dalam sebagian kasus berkaitan dengan kepentingan pembukaan atau penguasaan lahan memang tidak sepenuhnya muncul dari ruang kosong. Meskipun, kesalahan siapapun tetap harus melalui proses hukum.

Setelah api benar-benar padam, tugas pemerintah sebenarnya belum selesai. Justru pekerjaan yang lebih panjang baru dimulai.

Pertanyaannya sederhana: apa yang akan ditanam di atas tanah yang telah hangus itu? Di sinilah pemerintah perlu membuktikan bahwa ungkapan satir “hutan terbakar, terbitlah sawit” hanya tinggal satire.

Caranya juga sederhana. Jangan biarkan kawasan hutan yang terbakar kemudian beralih menjadi perkebunan sawit hanya karena lahannya telah menjadi terbuka.

Ini bukan berarti sawit harus dimusuhi. Kelapa sawit tetap merupakan komoditas ekonomi penting bagi Indonesia. Jutaan orang menggantungkan kehidupan pada industri tersebut.
Tetapi sawit harus tumbuh pada tempat yang tepat. Bukan dengan mengorbankan kawasan hutan yang seharusnya dipulihkan.

Persoalannya, mengembalikan hutan seperti sebelum terbakar bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Butuh waktu kurang lebih 30 sampai 40 tahun. Bahkan, dalam kondisi tertentu bisa lebih lama lagi.

Karena itulah kita membutuhkan strategi pemulihan yang sekaligus cepat, ekologis dan produktif secara ekonomi. Dan salah satu tanaman yang sangat layak dipertimbangkan sesuai kebutuhan adalah: bambu.

Tentu, bukan sekadar menanam beberapa rumpun bambu. Tetapi, menanam melalui sebuah program besar nasional, misalnya, Hutan Bambu Indonesia.

Mengapa harus bambu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, bambu tidak memerlukan puluhan tahun untuk tumbuh. Inilah keunggulan bambu yang paling mudah dilihat.
International Bamboo and Rattan Organization atau INBAR menyebut bambu sebagai salah satu tanaman dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Pertumbuhan rumpun bambu juga dapat mencapai kematangan produksi dalam waktu sekitar tiga sampai lima tahun. Bandingkan dengan banyak jenis pohon hutan yang membutuhkan puluhan tahun.

Karena itu, dalam restorasi lahan terdegradasi yang tepat, bambu menawarkan kecepatan yang sulit disaingi. Hari ini kita menanam. Dalam beberapa tahun kemudian, bentang hijau sudah mulai terbentuk.

Itulah yang kita perlukan setelah jutaan pohon dan vegetasi hilang atau rusak akibat kebakaran. Yaitu, kecepatan menghijaukan kembali bumi tanpa merusaknya kembali.

Kedua, bambu adalah “Mesin Ekologis.” Bambu bukan hanya cepat tumbuh. Akar bambu juga sangat bagus untuk rehabilitasi lahan. Ia bermanfaat, antara lain, untuk mengendalikan erosi tanah, konservasi air, rehabilitasi lahan dan penyerapan karbon.

Bahkan, kajian terbaru mengenai agroforestri berbasis bambu juga mencatat kemampuan bambu dalam meningkatkan bahan organik tanah, mengurangi erosi, menjaga kelembapan tanah, mendukung penyimpanan karbon dan bermanfaat bagi perlindungan daerah aliran sungai.

Bayangkan jika ratusan ribu hektare lahan rusak ditumbuhi vegetasi semacam ini. Tanah yang sebelumnya terbuka mulai terlindungi. Air hujan lebih banyak tertahan. Erosi dapat ditekan. Karbon kembali terserap. Dan bentang alam yang berwarna hitam setelah kebakaran perlahan-lahan kembali hijau.

Karena itu, menanam bambu seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai kegiatan penghijauan. Menanam bambu adalah membangun infrastruktur ekologis.

Ketiga, dipanen tanpa harus menghabisi hutannya. Bambu berbeda dari banyak komoditas kayu. Ketika kayu dipanen, pohonnya ditebang dan harus ditanam kembali.
Pada bambu, batang yang sudah matang dapat dipanen secara selektif sementara rumpunnya tetap hidup dan menghasilkan rebung serta batang baru.

Ada prinsip ekonomi yang sangat menarik. Kita bisa memanen hasilnya tanpa harus menghabiskan hutannya. Bambu dapat menjadi bahan bangunan, furnitur, kerajinan, flooring, tekstil berbasis serat, pulp, biomassa, arang bambu hingga berbagai material modern berbasis bambu.

Artinya, hutan bambu tidak harus menjadi proyek lingkungan yang hanya menghabiskan APBN. Ia justru bisa dibangun menjadi sebuah ekosistem ekonomi hijau. Dan masyarakat di sekitar kawasan bisa dilibatkan sebagai penanam, pemelihara, pengolah sekaligus pemilik manfaat ekonominya.

Keempat, bambu bisa menjadi brand Indonesia di mata dunia. Dan alasan lain yang tidak kalah penting, bambu sangat dekat dengan sejarah dan kebudayaan Indonesia.

Selain memiliki sekitar 176 spesies bambu, dengan sekitar 105 di antaranya disebut endemik. Itu berarti kira-kira 10 persen jenis bambu dunia terdapat di negeri ini.

Tetapi ironisnya, ketika dunia mulai melihat bambu sebagai material masa depan yang ramah lingkungan, Indonesia belum sepenuhnya menjadikannya komoditas strategis nasional.

Jepang punya sakura. Belanda punya tulip. Mengapa Indonesia tidak membangun positioning dengan brand baru. Indonesia, Negeri Bambu Dunia.

Kita punya iklimnya. Kita punya tanahnya. Kita punya sejarahnya. Dan sekarang kita punya alasan ekologis yang semakin mendesak untuk mengembangkannya.

Tentu ada satu catatan penting.Gagasan hutan bambu tidak berarti seluruh kawasan yang terbakar secara seragam harus diganti menjadi bambu.

Ilmu restorasi tidak bekerja demikian. Untuk kawasan hutan alam dengan kemampuan regenerasi yang masih baik, vegetasi asli seharusnya dipertahankan dan dibantu pemulihannya. Dan yang harus dipulihkan lebih dulu adalah airnya. Bukan hanya sekadar memadamkan apinya.

Setelah api padam, pemerintah seharusnya segera memetakan seluruh kawasan terbakar. Mana hutan konservasi, mana gambut, mana hutan produksi, dan mana kawasan yang harus dikembalikan penuh kepada vegetasi aslinya. Setelah itu baru ditentukan model restorasinya.

Dan yang jauh lebih penting, bagaimana pemerintah bisa menjawab satire yang selama ini beredar: “Hutan terbakar, terbitlah sawit.” Jawabannya adalah jutaan bibit yang ditanam setelah api padam. Bukan dengan pidato dan baliho.

Sehingga suatu hari kita bisa mengganti satire lama tadi dengan kalimat baru yang jauh lebih optimistis: “Hutan terbakar, terbitlah hutan bambu.”

Jakarta, September 2026

Karhutla Terjadi di Dekat Jalur Pendakian, Petugas Dampingi 170 Pendaki Semeru Turun dengan Aman

LUMAJANG, JAYAKARTA NEWS— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul dekat jalur pendakian Gunung Semeru. Sementara saat bersamaan sekitar 170 orang pendaki masih berada di Kawasan Ranu Kumbolo. Kondisi ini dengan sigap di handle oleh para petugas. Dengan cepat tim gabungan melakukan pendampingan pada para pendaki agar bisa turun denga naman.

Berdasarkan informasi Posko Karhutla Resort Ranupani, rombongan terakhir telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak api. Petugas tetap melakukan pemantauan dan pendampingan untuk memastikan seluruh pendaki keluar dari kawasan dengan selamat.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan salah satu titik kebakaran berada di Blok Gunung Kembang, sekitar satu jam perjalanan dari Ranu Kumbolo. Kondisi medan yang curam membuat pemadaman langsung oleh personel darat sulit dilakukan.

“Jadi, Blok Gunung Kembang itu posisinya di atas Ranu Kumbolo atau sekitar satu jam perjalanan. Yang terbakar itu hutan dalam posisi kemiringan curam, pasukan darat tidak bisa melakukan pemadaman,” kata Isnugroho, Kamis (27/8/2026).

Dalam kondisi tersebut, keselamatan pendaki menjadi salah satu prioritas petugas. Mereka diarahkan keluar melalui jalur yang dinilai aman dengan pendampingan tim di lapangan.

“Saat kebakaran terjadi, sekitar 170 pendaki masih berada di kawasan tersebut. Informasi terbaru dari Posko Karhutla Resort Ranupani menyebut rombongan terakhir telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak api,” ujarnya, dikutip dari keterangan MC Diskominfo Lumajang.

Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan bagi pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menangani kebakaran. Masyarakat diminta tidak memasuki kawasan pendakian selama penutupan masih diberlakukan.

60 Personel Diterjunkan Kendalikan Karhutla

Selain mendampingi pendaki, tim gabungan mengerahkan sekitar 60 personel untuk mengendalikan kebakaran dan membuat sekat bakar di kawasan Gunung Kembang serta sekitar jalur pendakian.

Mobilisasi personel dilakukan dengan menyesuaikan kondisi medan. Sebagian perjalanan menuju titik penanganan ditempuh dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan roda dua.

Petugas juga memantau titik api baru yang terpantau di kawasan Bantengan Jantur untuk mengetahui perkembangan kebakaran dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Sementara itu, penanganan dari udara masih terkendala kondisi cuaca. Rencana water bombing menggunakan pesawat PK-DAP belum dapat dilaksanakan sehingga pesawat mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh.

Penanganan karhutla melibatkan BPBD, Polsek, Koramil, TNBTS, dan relawan. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus memastikan para pendaki dapat turun dengan aman.

Petugas mengimbau masyarakat dan pendaki mengikuti informasi resmi serta mematuhi penutupan kawasan Gunung Semeru selama proses penanganan karhutla berlangsung.

“Yang kita lakukan hari ini bersama-sama dengan pihak Polsek dan Koramil, tentu juga dengan pemangku kawasan TNBTS beserta relawan untuk membantu 170 pendaki di Ranu Kumbolo untuk turun,” pungkas Isnugroho. (*/di)

Masyarakat Lega Perbaikan Pipanisasi di Empat Desa Terdampak Karhutla Rampung

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Akibat Karhutla Gunung Bromo awal September lalu, berdampak pada rusaknya pipa saluran air bersih di Kecamatan Sangkapura Kabupaten Probolinggo.

Saat ini, bantuan perbaikan pipanisasi yang ditekankan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa itu telah rampung seratus persen. Ribuan masyarakat di empat desa yang terdampak pun telah bisa menikmati lagi saluran air bersih dari sumber air yang sempat terdampak Karhutla tersebut.

“Alhamdulillah, saat ini perbaikan pipa yang rusak terbakar saat terjadi kebakaran hutan di Gunung Bromo sudah selesai. Masyarakat di empat desa juga sudah bisa menikmati air bersih seperti dulu,” ungkap Gubernur Khofifah , Selasa (31/10/2023).

Berdasar assessment BPBD Jatim, kerusakan pipa yang terjadi di empat desa di wilayah Kabupaten Probolinggo ini telah mencapai sepanjang 11.600 meter.

Jumlah itu, meliputi, Desa Ngadirejo sepanjang 1.600 meter, Desa Sapikerep 3.400 meter, Desa Ngadas 5.100 meter, dan Desa Wonokerto sepanjang 1.500 meter.

Dengan rampungnya perbaikan pipa air bersih ini, ribuan warga terdampak di empat desa juga bisa tersenyum lega.

Sedikitnya, 2.240 KK atau sekitar 6.472 jiwa yang tersebar di empat desa telah menerima manfaat dari perbaikan pipanisasi ini.

Jumlah itu meliputi, 450 KK atau sekitar 1.280 jiwa di Desa Ngadirejo, 1.026 KK (3000 jiwa) di Desa Sapikerep, 530 KK (1540 jiwa) di Desa Wonokerto dan sebanyak 234 KK atau sekitar 652 jiwa di Desa Ngadas.

Saat terjadi kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo, pipa yang berfungsi menyalurkan air bersih untuk warga dari berbagai sumber air itu rusak karena ikut terbakar.

Gubernur Khofifah yang berkesempatan memimpin rapat penanganan dampak Karhutla Gunung Bromo di Kantor Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru (TNBTS) kala itu langsung meminta Tim BPBD Jatim dan Dinas PU SDA Jatim untuk memberikan bantuan penanganan pipanisasi yang rusak.

“Semoga kejadian kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo yang diakibatkan flare pengunjung itu tidak terjadi lagi di masa-masa mendatang,” harapnya.

Gubernur Khofifah juga menjelaskan, upaya perbaikan pipa yang rusak itu tidak hanya dilakukan tim Pemprov Jatim saja. Namun juga melibatkan sejumlah relawan, masyarakat dan tokoh adat setempat.

Upaya pelibatan masyarakat itu, dinilainya sangat penting, mengingat beberapa desa yang terdampak Karhutla masih menjunjung kuat tradisi dan adat budaya setempat.

“Dengan pelibatan masyarakat dan tokoh adat setempat, semoga perbaikan pipanisasi ini bisa menguatkan rasa gotong royong dan upaya pelestarian lingkungan di kawasan Gunung Bromo,” harapnya. (poedji)

Gunung Lawu Kembali Terbakar, BPBD Jatim Kirim Bantuan dan Pasukan Pemadaman

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS— Setelah sempat mereda, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Lawu kembali terjadi. Kali ini api membakar di wilayah sisi Magetan, tepatnya di Petak 73B, RPH Sarangan yang masuk wilayah Desa Getasanyar, Kec. Sidorejo dan Petak 51B-1, RPH Bedagung yang masuk wilayah Desa Ngiliran, Kec. Panekan.

Karenanya, sejak akhir pekan lalu, tepatnya Jumat (20/10/2023), BPBD Jatim pun kembali menerjunkan 24 personel pasukan pemadaman jalur darat untuk bergabung membantu pemadaman Karhutla Gunung Lawu.

Selain itu, 22 personel dengan 2 unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Kota Surabaya juga turut bergabung dan berkolaborasi dalam penanganan kebakaran hutan ini.

Tak hanya pasukan jalur darat, Tim BPBD Jatim yang dikomandani Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) Satriyo Nurseno ini juga membawa sejumlah bantuan logistik dan peralatan untuk mendukung aksi pemadaman yang dilakukan Tim Gabungan dari berbagai elemen ini.

Adapun jenis bantuan tersebut, berupa, alat pelindung diri (APD) 5 set, sekop 6 pcs, cangkul 7 pcs, parang 3 pcs, Jet shooter 2 Unit, kacamata googles 10 pcs, masker 120 pcs, sepatu boots 18 pasang, kaos lapangan 200 Pcs, lauk pauk rendang ayam 3 dus, lauk pauk kare ayam 3 dus, nasi rendang 3 dus, tambah gizi biskuit 5 dus, tambah gizi kacang Ijo 2 dus dan tambah gizi koktail 2 dus.

Dalam tiga hari ini, Tim gabungan jalur darat terus berfokus pada pembuatan ilaran atau sekat bakar guna mencegah perluasan kobaran api.

Hingga akhir pekan ini, total panjang ilaran (sekat bakar) yang telah dibuat telah mencapai sekitar 7.610 meter.

Namun, karena kondisi medan yang sangat curam dan berbatu, serta hembusan angin yang sangat kencang, pada Sabtu malam (21/10/2023), kebakaran hutan pun meluas bahkan hingga mencapai pinggiran jalan di daerah Tamansari, Desa Pacalan, Kec. Plaosan.

Beruntungnya, Tim Gabungan BPBD Jatim dan Magetan, bersama Polsek setempat, relawan dan pasukan Damkar Kota Surabaya bergerak cepat melakukan pemadaman dan pembasahan dengan menggunakan Jetshooter dan Fire Pumper Truck.

“Karena lokasinya yang berada di pinggiran jalan raya, akhirnya jalur lalu lintas sempat kita buat buka tutup, demi keselamatan pengguna jalan,” terang Satriyo Nurseno.

Selain membuat ilaran, Tim gabungan pemadaman karhutla Gunung Lawu juga telah membuat tandon air di Kawasan Cemoro Sewu dengan ukuran panjang 10 meter, lebar 8 meter dan tinggi 1,20 meter.

Pembuatan tandon dengan kapasitas sekitar 60.000 liter air ini diperuntukkan bagi kebutuhan Tim jalur darat dan warga sekitar yang akan melakukan pemadaman lewat jalur darat.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto saat meninjau lokasi kebakaran hutan di wilayah Cemoro Sewu, Minggu (22/10/2023) menjelaskan, luasan terdampak kebakaran Gunung Lawu saat ini masih dalam proses pendataan.

Namun, yang menjadi perhatiannya saat ini adalah, rusaknya sekitar 320 meter pipa saluran sumber air yang mengakibatkan sekitar 150 KK warga Dusun Cemoro Sewu, Desa Ngancar Kec. Plaosan mengalami kekurangan air bersih.

“Karena kebutuhan air bersih itu untuk kebutuhan kebun yang akan panen dan usaha warung di sekitar Cemoro Sewu, kami ingin ada percepatan dalam penanganan pipa saluran air ini,” ujarnya. (poedji)

Polri Instruksikan Jajarannya Cegah Karhutla

JAYAKARTA NEWS – Mabes Polri memberikan instruksi kepada jajaran kepolisian terkait pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Indonesia.

“Instruksi itu ada, bahwa kita melakukan pengawasan kemudian melakukan pencegahan terhadap kebakaran hutan di daerah dan itu telah disampaikan ke jajaran,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Ahmad Ramadhan kepada wartawan seperti dikutip, Jumat (25/8/2023).

Ramadhan menjelaskan bahwa instruksi tersebut termasuk pengawasan dan langkah-langkah pencegahan karhutla di daerah-daerah yang dianggap rentan. Instruksi akan diberikan melalui surat telegram khusus kepada Polda di wilayah-wilayah yang sering mengalami karhutla.

Selain melibatkan aparat kepolisian, Polri juga akan menggandeng partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan karhutla ini. Ramadhan menyatakan bahwa ini adalah kolaborasi antara masyarakat dan Polri, dengan tujuan mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan serta dampak negatifnya.

“Ini kerja sama antara masyarakat sama Polri dan upaya-upaya pencegahan kebakaran itu harus terus dilakukan selain dalam bentuk besar adalah karhutla ya,” tutur Ramadhan.

Ramadhan menegaskan bahwa di tengah kondisi cuaca yang panas saat ini, upaya pencegahan harus tetap dijalankan secara kontinu. Dalam konteks ini, ada ancaman sanksi berupa pencopotan jabatan bagi yang gagal dalam mencegah atau menangani karhutla. Hal ini menjadi langkah serius untuk memastikan penanganan yang tepat dalam melindungi lingkungan dan sumber daya alam.

Dengan semakin seringnya insiden kebakaran hutan dan lahan, langkah-langkah pencegahan yang efektif menjadi sangat penting. Polri berharap bahwa melalui instruksi ini dan kerja sama dengan masyarakat, potensi terjadinya karhutla dapat diminimalisir, menjaga lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat.

“Tetapi kebakaran-kebakaran di situasi kondisi yang saat ini, panas ini sudah mulai terjadi tentu upaya-upaya pencegahan tetap harus dilakukan,” ujarnya.***/mel

Tinjau Karhutla di Mempawah, Pangdam XII/Tanjungpura Ungkap Sejumlah Kendala

PONTIANAK, JAYAKARTA NEWS— Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Iwan Setiawan meminta personil di lapangan berhati-hati dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Faktor keamanan harus diperhatikan.

“Karena bahaya sekali apabila terjebak dalam kawasan hutan yang terbakar selain itu juga kedalaman gambut bisa puluhan meter. Kalau kita terjerembab bahaya sekali. Terus semangat dan berdoa serta bekerjasama di lapangan,” tegasnya.

Hal itu disampaikan Pangdam Mayjen Iwan usai meninjau langsung kebakaran hutan dan lahan bersama Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto di Desa Parit Besar, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah.

Menggunakan helikopter dari Polda Kalbar dan BPBD, Pangdam dan rombongan memantau titik api dari udara dan meninjau langsung lokasi serta upaya penanganan Karhutla yang tengah dilakukan oleh personel gabungan dari TNI-Polri dan stakeholder terkait lainnya.

Pangdam Mayjen Iwan meninjau langsung kebakaran hutan dan lahan bersama Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan dan Kapolda Kalbar Irjen Pol Pipit Rismanto di Desa Parit Besar, Kecamatan Segedong, Kabupaten Mempawah/foto: Pendam XII/Tpr

Usai meninjau, Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Iwan Setiawan menyampaikan, ada beberapa kesulitan yang dihadapi dalam pemadaman Karhutla. Di antaranya, jauhnya sumber air dengan lokasi, lahan gambut yang dalam dan titik lokasi yang tidak bisa ditembus oleh kendaraan darat sehingga diperlukan helikopter untuk waterboombing.

“Kita sedang petakan bersama Kapolda dan Gubernur titik-titik mana saja yang sudah dan belum dibuatkan embung-embung,” kata Pangdam.

Pangdam mengimbau untuk masyarakat Kalbar dan Kalteng, sesuai arahan Presiden agar menumbuhkan kesadaran bersama untuk saling menjaga agar tidak membakar hutan. Kalaupun ada yang membuka lahan dengan membakar agar mengikuti Perda dari Gubernur,

Setiap yang membuka lahan dengan batasan dua hektar agar lapor kepada aparat desa, Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta menembusi pemilik lahan sekitarnya dan harus ditunggui apinya. Harus bergantian tidak boleh bersama-sama.

“Kita imbau mudah-mudahan tidak ada lagi yang bakar hutan dan kalaupun ada harus sesuai Perda dari Gubernur,” himbau Mayjen TNI Iwan Setiawan.

Untuk personel yang di lapangan, Ia harap untuk tidak menyerah dan terus berjuang dan berusaha dalam melakukan upaya pemadaman. Namun demikian, Pangdam menekankan kepada personel harus tetap memperhatikan faktor keamanan.

“Karena bahaya sekali apabila terjebak dalam kawasan hutan yang terbakar selain itu juga kedalaman gambut bisa puluhan meter. Kalau kita terjerembab bahaya sekali. Terus semangat dan berdoa serta bekerjasama di lapangan,” tegasnya.

Sedangkan Kapolda Kalbar, Irjen Pol Pipit Rismanto mengatakan, dalam penanganan Karhutla upaya penegakkan hukum tetap dilakukan oleh kepolisian. Tapi menurutnya yang terpenting adalah bersama-sama melakukan penanggulangan mulai dari kegiatan preemtiv dan preventif.

Kata Kapolda juga, bukan hanya memadamkan api tapi bagaimana melakukan langkah-langkah strategis. Bagaimana melokalisir agar tidak melebar karena sumber air dari titik api terkadang sangat jauh sehingga perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi.

“Saya mengajak semua stakeholder untuk berupaya mengambil langkah-langkah strategis secara bersama-sama. Dan saya yakin dengan Tiga Pilar di desa-desa mohon untuk tidak henti-hentinya memberikan himbauan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan agar tidak terbakar,” tutupnya. (Pendam XII/Tpr)

“Bunuh Anak Hakim” untuk Selamatkan Hutan

JAYAKARTA NEWS – Pejabat asal Madura ini selalu lugas kalau bicara. Dialah Menko Polhukam Mahfud MD. Tampil berbicara pada Rakornas Penanggulangan Bencana (PB) 2021, hari ini (5/3/2021) di Jakarta, Mahfud fokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Ia mengilas waktu ke tahun 2015, saat masyarakat dunia mengecam kabut asap yang diakibatkan karhutla Indonesia. Yang bikin gemas adalah sektor penegakan hukum. Para pengusaha yang dituntut sebagai penyebab kebakaran hutan, oleh hakim kemudian dibebaskan.

Karena dicecar wartawan atas putusannya, hakim santai menjawab, “Biarin saja… Hutan terbakar kan nanti bisa ditanam lagi….” Sejurus kemudian muncul balasan pernyataan dari masyarakat, “Ayo kita bunuh anak-anak para hakim. Kalau anaknya mati, kan pak hakim bisa bikin anak lagi.”

Lepas dari berseloroh atau serius, pernyataan hakim itu oleh Mahfud disebut sebagai “kebodohan”. “Itu oknum hakim bodoh,” katanya.

Guru Besar UII Yogyakarta itu lantas mengurai panjang lebar ihwal karhutla. Ia menyorongkan data kebakaran hutan yang berjumlah 17.000 lebih dalam lima tahun terakhir. Khusus tahun 2021, sudah terjadi 173 karhutla di Aceh, Sumut, Riau, Kepri, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Sultra, dan Papua.

Meski begitu, ayah tiga anak kelahiran Sampang, Madura 63 tahun lalu itu mengabarkan kabar baik. Bahwa tahun 2020, kasus karhutla turun 81 persen. Sebagai perbandingan, tahun 2019 karhutla meluluhlantakkan 1,6 juta hektare lebih area hutan dan lahan di Indonesia. Angka itu turun menjadi hanya 296 hektare lebih di tahun 2020.

“Prestasi ini antara lain karena tingginya komitmen pemerintah dalam menanggulangi karhutla,” tambah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-2013) itu.

Mahfud MD. (foto: BNPB)

Mahfud lantas menunjukkan slide presentasi Inpres Nomor 3 tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, di mana ia ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai koordinator pelaksananya.

Inpres itu menunjuk para pejabat terkait untuk penanggulangan karhutla di seluruh wilayah Indonesia. “Bapak Presiden ketika membuka Rakornas ini menekankan pentingnya pencegahan. Berkali-kali beliau menegaskan pentingnya pencegahan,” tandas anggota Dewan Pengasuh Forum Keluarga Madura Yogyakarta itu.

“Yang tak kalah penting adalah perintah Inpres 3 tahun 2020 untuk bidang gakkum, atau penegakan hukum,” kata lulusan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta itu.

Presiden mengingatkan, kita tidak hanya fokus memadamkan karhutla, tapi juga mengefektifkan upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana karhutla. Bahkan bukan hanya aspek pidana, tapi juga aspek administrasi, termasuk pembayaran ganti rugi.

Sebelum melanjutkan paparan, Mahfud yang lulusan Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Pamekasan, Madura itu melempar kisah menarik. Kejadiannya tahun 2015 saat Idul Fitri. Ia kebetulan diundang memberi khutbah di masjid KBRI Malaysia.  “Hari itu, kebetulan ada demonstran di depan KBRI. Mereka mengecam negara kita yang tidak mampu mengendalikan karhutla, sehingga mengakibatkan Kualalumpur gelap tertutup asap,” kisahnya.

Mahfud MD. (foto: BNPB)

Bukan hanya itu. Di forum-forum internasional, Indonesia sering mendapat kritik dari negara lain soal karhutla. Maklumlah, persoalan karhutla sudah ada sejak Orde Baru dan sampai tahun 2015 belum juga terselesaikan. “Walaupun reformasi sudah berjalan 17 tahun, tapi problem karhutla belum tersentuh,” tandas Mahfud yang pernah aktif di Partai Kebangkitan Bangsa era Gus Dur itu.

Mahfud merekam dengan baik, ihwal puncak kekesalan negara tetangga gara-gara kabut asap karhutla “kiriman” Indonesia. Hanya saja Mahfud MD salah mengutip tahun. Ia menyebutkan tahun 2015 pemerintah Singapura menerbitkan Undang-undang Polusi Asap Lintas Batas. Yang benar adalah, pemerintah Singapura mengesahkan Transboundary Haze Pollution Act 2014.

Undang-undang ini pertama kali diusulkan setelah karhutla Indonesia melonjak tahun 2013. Akibat karhutla itu, wilayah Singapura dipenuhi kabut asap. Salah satu pasal dalam UU itu adalah, pemerintah Singapura bisa menangkap dan mengadili pelaku karhutla.

“Bagi yang tahu hukum tentu paham bahwa itu tidak mungkin. Sebab, polisi Singapura tidak mungkin melakukan penangkapan di Indonesia. Sama seperti halnya kita tidak bisa melakukan hal itu di Singapura,” kata Mahfud.

Tapi Singapura memang tidak bermaksud melakukan aksi penangkapan di negara kita. Akan tetapi, dengan disahkan UU itu, setidaknya Singapura bisa menangkap pelaku kebakaran hutan di Indonesia manakala berkunjung ke Singapura. “Bagaimana kalau pelakunya jalan-jalannya ke Jerman atau negara lain? Singapura tetap bisa menangkap dan mengadili di Singapura, menggunakan jalur interpol,” kata Mahfud.

Berbicara dari aspek penegakan hukum, Mahfud meminta APH tegas menjatuhkan sanksi. Termasuk para kepala daerah serta pejabat yang berwenang mengeluarkan dan mencabut perizinan. “Kalau ditengarai melanggar, langsung saja cabut izinnya. Kalau ada yang bertanya, kok langsung dicabut izin tanpa ada proses pengadilan? Tidak perlu! Ini hukum administrasi. Jatuhkan dulu sanksi, kalau tidak terima silakan gugat ke pengadilan,” kata Mahfud.

Ia lantas menganalogikan pembubaran HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan FPI (Front Pembela Islam). “Kita bubarkan dulu. Soal mereka tidak terima, silakan gugat ke pengadilan. Memang begitu aturan hukum administrasi. Berbeda dengan hukum pidana dan hukum perdata,” jelasnya.

Hukum pidana, berlaku asas praduga tak bersalah. Seseorang harus melewati proses pengadilan dulu, untuk ditetapkan bersalah satu tidak. Sementara di hukum perdata, putusan pengadilan tergantung kedua pihak yang berperkara. Jika ada kesepakatan di pengadilan, ya selesai.

Mahfud meminta para pejabat tidak ragu-ragu menjatuhkan sanksi administrasi kepada pelaku pembakaran hutan dan lahan. “Sebab, itu arahan presiden. Pencegahan, pemadaman, dan penegakan hukum,” tambahnya. (rr)

Bencana Hidrometeorologi Mendominasi Bencana Alam 2020

JAYAKARTA NEWS—-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa dalam kurun waktu tahun 2020 telah terjadi 2.925 kejadian bencana alam yang terhitung sejak Rabu, (1/1/2020) hingga hari ini, Selasa (28/12/2020).

Data yang dihimpun BNPB menyebutkan bencana yang terjadi di sepanjang 2020 tersebut didominasi dengan bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Dari jumlah kejadian bencana tersebut, bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung masih dominan pada tahun ini,” ungkap Kepala BNPB Doni Monardo dalam Webinar: “Kaleidoskop Kebencanaan 2020 dan Prediksi Fenomena Serta Potensi Bencana Tahun 2021” secara daring di Jakarta, Selasa (28/12/2020).

Berdasarkan rincian data bencana hidrometeorologi, kejadian banjir telah terjadi hingga sebanyak 1.065 kejadian di sepanjang tahun 2020.

Kemudian bencana yang disebabkan oleh angin puting beliung telah terjadi sebanyak 873 dan tanah longsor 572 kejadian.

Selanjutnya untuk karhutla telah terjadi sebanyak 326, gelombang pasang dan abrasi 36 kejadian dan kekeringan terjadi sebanyak 29 kejadian di Tanah Air.

Sedangkan untuk jenis bencana geologi dan vulkanologi, Doni menyampaikan bahwa kejadian bencana gempa bumi telah terjadi sebanyak 16 kali dan 7 kejadian untuk peristiwa erupsi gunungapi. “Gempabumi 16 kejadian, erupsi gunungapi 7 kejadian,” ungkap Doni.

Lebih lanjut, dari total keseluruhan kejadian di sepanjang tahun 2020, Doni menyebut bahwa korban meninggal dunia akibat dampak bencana alam tersebut ada sebanyak 370 jiwa, 39 orang yang hilang dan 536 jiwa mengalami luka-luka. Dampak korban meninggal mencapai 370 jiwa. Hilang 39 orang, luka-luka 536 orang,” kata Doni.

Kejadian Karhutla di Indonesia Menurun 81 Persen

Dalam kesempatan yang sama, Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa kasus karhutla di Tanah Air mengalami penurunan di sepanjang tahun 2020 .

Menurut data BNPB per November 2020, luas cakupan wilayah karhutla pada tahun ini adalah mencapai mendekati 300.000 hektare atau menurun hingga 81 persen apabila dibandingkan dengan tahun lalu yakni 1,6 juta hektar luas wilayah yang terbakar.

Oleh sebab itu, Doni memberikan apresiasi kepada beberapa wilayah yang selama ini dinilai mengalami kejadian karhutla seperti Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, karena dinilai mampu meminimalisir terjadinya potensi bencana karhutla.

“Menjadi capaian yang patut kita apresiasi khusususnya kepada daerah yang selama ini mengalami karhutla dengan intensitas yang cukup tinggi,” kata Doni.

“Tahun ini kebakaran hutan dan lahan mencapai mendekati 300.000 hektare. Jumlah yang jauh berkurang dibandingkan pada tahun 2019 yang lalu di mana karhutla mencapai hampir 1,6 juta hektare,” imbuhnya.

Selain kepada sejumlah wilayah daerah tersebut, Kepala BNPB juga memberikan apresiasi untuk seluruh Kementerian/Lembaga dan unsur terkait seperti TNI/Polri dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang telah berkolaborasi dan membantu BNPB dalam penanggulangan bencana karhutla. Menurutnya, tanpa dukungan dari seluruh komponen tersebut, maka karhutla akan sangat sulit dikendalikan.

Doni berharap agar kolaborasi penanganan dan pengendalian karhutla bersama seluruh komponen terkait dapat dipertahankan dan semakin baik untuk tahun-tahun selanjutnya.
“Semoga upaya keberhasilan kita dalam menekan karhutla tahun ini bisa kita pertahankan untuk tahun-tahun yang akan datang,” ucap Doni.

Sekolah Lapang Mitigasi Karhutla, Upaya Pemanfaatan Lahan Gambut Tanpa Bakar

JAYAKARTA NEWS—Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih kerap terjadi di berbagai wilayah tanah air. Badan Nasonal Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya telah terjadi 321 kejadian bencana karhutla yang melanda berbagai wilayah Indonesia di sepanjang tahun 2020.

Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah dalam penanganan karhutla guna meminimalisir dampak yang timbul serta mengurangi luasan lahan yang terbakar. Upaya penanganan karhutla juga dilakukan melalui mitigasi bencana.

Menurut Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, salah satu kegiatan mitigasi bencana karhutla yang giat diupayakan saat ini adalah melalui Sekolah Lapang Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan. BNPB melalui Direktorat Mitigasi Bencana bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut (BRG) menginisiasi kegiatan mitigasi partisipatif kebakaran hutan dan lahan khususnya di daerah-daerah langganan bencana karhutla.

Dengan pendekatan edukasi dan sosialisasi pemanfaatan lahan gambut tanpa bakar, kegiatan sekolah lapang ini menyasar masyarakat khususnya kelompok tani untuk melakukan alternatif pemanfaatan lahan gambut yang ramah alam sehingga karhutla di lahan gambut dapat dicegah.

Foto BNPB

Sekolah lapang mitigasi karhutla, pemanfaatan lahan gambut tanpa bakar dilaksanakan di Provinsi Kalimantan Tengah dengan Desa Henda, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau menjadi wilayah yang dipilih untuk tempat pelaksanaannya. Kegiatan yang akan menjadi agenda rutin Direktorat Mitigasi Bencana ini terselengara atas kerjasama antara BNPB, BRG, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah dan Pemerintahan Kabupaten Pulang Pisau dengan peserta dari kelompok tani yang ada di daerah tersebut.

Sebanyak 19 peserta dari berbagai kelompok tani di Desa Henda mengikuti kegiatan sekolah lapang yang dilaksanakan selama tiga hari mulai Rabu (20/10) hingga Kamis (22/10).

Dalam kegiatan ini peserta dibekali pengetahuan tentang gambut, budidaya di lahan gambut, dan pemasaran produk hasil budidaya gambut. Selain aspek teori, dalam kegiatan ini juga dilakukan kegiatan praktek dalam pembuatan pupuk organik dan mini demplot.

Kegiatan ini juga menghadirkan berbagai narasumber dengan beragam latar belakang keilmuan yang mampu meningkatkan kapasitas peserta didik, seperti dari BRG, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, BPBD Kabupaten Pulang Pisau, Dinas Pertanian Kab Pulang Pisau, fasilitator, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Pulang Pisau dan Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan (HAKLI). Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat dapat berdaya secara ekonomi tanpa merusak ekosistem lahan gambut. Dengan demikian keseimbangan ekosistem dapat terjaga serta bencana karhutla dapat dihindari.

Johny Sumbung selaku Direktur Mitigasi Bencana BNPB yang membuka kegiatan ini menyampaikan pemanfaatan lahan gambut tanpa harus membakar merupakan salah satu upaya perlindungan dan penyelamatan ekosistem gambut. 

“Kegiatan ini mengacu pada konsep restorasi lahan gambut yang dikenal dengan 3R yaitu rewetting, revegetation dan revitalization of local livelihood,” ujar Johny.

Johny juga menekankan agar dalam melaksanakan kegiatan ini dilakukan dengan memperhatikan protokol kesehatan mengingat kegiatan dilakukan dalam masa pandemi COVID-19.  Selalu menggunakan masker, rajin bercuci tangan dan menjaga jarak mutlak dilakukan selama kegiatan berlangsung.

Foto BNPB

Selain di Pulang Pisau, sekolah lapang ini juga telah sukses dilakukan di daerah rawan karhutla lain, seperti di Kabupaten Kubu Raya Provinsi Kalimantan Barat, Balangan Kalimantan Selatan, Tanjung Jabung Timur Jambi. Selanjutnya dua daerah lagi rencananya akan digelar pada November mendatang, yakni di Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dan Pelalawan Riau.

Disamping mitigasi karhutla melalui sekolah lapang, upaya lain juga ditingkatkan dalam penanganan bencana karhutla. Deteksi dini hotspot, patroli udara dan pemadaman titik api yang muncul dengan mengerahkan personil darat dan udara merupakan beberapa upaya yang telah dan akan terus dilakukan dalam penanganan karhutla di Indonesia.

Diharapkan berbagai upaya yang dilakukan bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta didukung oleh masyarakat ini akan menekan angka bencana karhutla dan juga berbagai kerugian yang timbul atas bencana tersebut.***/ebn

BNPB Minta Pemda Siapsiaga Cegah Karhutla

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penanggulangan Bencana meminta pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan menghadapi karhulta (kebakaran hutan dan lahan) seperti penetapan status siaga darurat. Pencegahan dapat dilakukan, seperti pemadaman titik api sedini mungkin melalui satuan tugas darat maupun udara.

Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan, BNPB melakukan berbagai antisipasi untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang hampir terjadi di beberapa provinsi. BNPB telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencegah karhulta di masa pandemi Covid-19.

BNPB mengedepankan pelibatan semua unsur dalam pentaheliks, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media massa. Unsur dengan masing-masing peran diharapkan dapat mencegah terjadinya kebakaran sejak dini, khususnya di provinsi yang kerap dilanda karhutla. BNPB selalu menekankan upaya pencegahan dibandingkan pemadaman karena langkah ini lebih efektif untuk menghindari dampak yang luas. 

Upaya pencegahan menghadapi karhutla, BNPB mendorong untuk pengembangan pengetahuan, pemahaman dan kapasitas pengelolaan hutan dan lahan, potensi ekonomi lokal dan pengolahan hasil produksi hutan dan lahan menjadi bernilai tambah. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Badan Restorasi Gambut (BRG) telah mengembangkan pendekatan pada pemberdayaan masyarakat. 

Di samping itu, lanjut Raditya Jati, beberapa langkah teknis diupayakan yakni monitoring sistem peringatan dini melalui informasi fire danger rating system (FDRS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pantauan titik panas atau hot spot dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) maupun ketinggian muka air di lahan gambut dari BRG. 

“BNPB telah meminta pemerintah daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan menghadapi karhulta, seperti penetapan status siaga darurat. Pencegahan dapat dilakukan, seperti pemadaman titik api sedini mungkin melalui satuan tugas darat maupun udara,” ujarnya.

BNPB mengerahkan 6.000 personel yang diterjunkan keenam provinsi. Keenam provinsi tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Setiap provinsi mendapatkan dukungan 1.000 personel. Perhitungan komposisi personel di setiap daerah terdiri TNI dan Polri 40 persen, Manggala Agni 20, masyarakat 30, dan berbagai unsur 10. 

Sedangkan satuan udara, BNPB dan BPBD menggunakan pemadaman menggunakan water-bombing dan teknologi modifikasi cuaca. Pelaksanaan water-bombing menggunakan armada helikopter yang telah ditempakan di beberapa provinsi. BNPB menyiagakan armada untuk pengeboman dan pemantauan, terdiri 3 helikopter di Jambi, 11 di Sumatera Selatan, 8 di Riau, 1 di Kalimantan Barat dan 5 di Kalimantan Tengah. Komposisi ini dapat digerakkan ke wilayah yang lain dengan tingkat keparahan yang berbeda.  

Beberapa waktu lalu, BNPB telah menginformasikan dua dukungan armada baru helikopter Chinook dan Black Hawk. 

Di samping helikopter, satuan udara didukung dengan pesawat fixed-wing untuk menebar garam di udara atau cloud seeding. Operasi TMC ini dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta TNI. 

Pemerintah daerah merupakan penanggung jawab utama dalam penanganan darurat di wilayahnya. BNPB dan kementerian/lembaga akan memberikan pendampingan dalam penanganan karhutla di daerah. Dukungan yang akan diberikan untuk penguatan daerah yakni penguatan koordinasi dan komando melalui pos komando dan pusat pengendali operasi. 

Hingga saat ini, enam provinsi telah menetapkan status siaga darurat, antara lain Riau (11 Februari – 31 Oktober 2020), Sumatera Selatan (20 Mei- 31 Oktober 2020), Jambi (29 Juni-26 September 2020), Kalimantan Barat (2 Juli-30 November 2020), Kalimantan Tengah (1 Juli-28 September 2020) dan Kalimantan Selatan (1 Juli – 30 November 2020). 

Penanganan darurat bencana karhutla menggunakan beberapa parameter seperti hot spot, indeks standar pencemar udara (ISPU), jumlah penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), jarak pandang atau visibilitas serta periode musim kemarau. 

Berdasarkan data KLHK, luas dampak karhutla di enam provinsi hingga hari ini (24/8) sebagai berikut Riau 90.550 ha, Sumatera Selatan 336.798 ha, Jambi 56.593 ha, Kalimantan Barat 151.919 ha, Kalimantan Tengah 317.749 ha dan Kalimantan Selatan 137.848 ha. Sedangkan luas hutan dan lahan terdampak pada 2019 berjumlah 942.485 ha, dengan rincian lahan gambut 269.777 dan mineral 672.708 ha.***/ebn