LUMAJANG, JAYAKARTA NEWS— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul dekat jalur pendakian Gunung Semeru. Sementara saat bersamaan sekitar 170 orang pendaki masih berada di Kawasan Ranu Kumbolo. Kondisi ini dengan sigap di handle oleh para petugas. Dengan cepat tim gabungan melakukan pendampingan pada para pendaki agar bisa turun denga naman.
Berdasarkan informasi Posko Karhutla Resort Ranupani, rombongan terakhir telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak api. Petugas tetap melakukan pemantauan dan pendampingan untuk memastikan seluruh pendaki keluar dari kawasan dengan selamat.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan salah satu titik kebakaran berada di Blok Gunung Kembang, sekitar satu jam perjalanan dari Ranu Kumbolo. Kondisi medan yang curam membuat pemadaman langsung oleh personel darat sulit dilakukan.
“Jadi, Blok Gunung Kembang itu posisinya di atas Ranu Kumbolo atau sekitar satu jam perjalanan. Yang terbakar itu hutan dalam posisi kemiringan curam, pasukan darat tidak bisa melakukan pemadaman,” kata Isnugroho, Kamis (27/8/2026).
Dalam kondisi tersebut, keselamatan pendaki menjadi salah satu prioritas petugas. Mereka diarahkan keluar melalui jalur yang dinilai aman dengan pendampingan tim di lapangan.
“Saat kebakaran terjadi, sekitar 170 pendaki masih berada di kawasan tersebut. Informasi terbaru dari Posko Karhutla Resort Ranupani menyebut rombongan terakhir telah mencapai Pos 3 dan berhasil melewati area yang terdampak api,” ujarnya, dikutip dari keterangan MC Diskominfo Lumajang.
Sebelumnya, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup sementara seluruh aktivitas pendakian Gunung Semeru hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan bagi pengunjung sekaligus memberikan ruang bagi petugas untuk menangani kebakaran. Masyarakat diminta tidak memasuki kawasan pendakian selama penutupan masih diberlakukan.
60 Personel Diterjunkan Kendalikan Karhutla
Selain mendampingi pendaki, tim gabungan mengerahkan sekitar 60 personel untuk mengendalikan kebakaran dan membuat sekat bakar di kawasan Gunung Kembang serta sekitar jalur pendakian.
Mobilisasi personel dilakukan dengan menyesuaikan kondisi medan. Sebagian perjalanan menuju titik penanganan ditempuh dengan berjalan kaki dan menggunakan kendaraan roda dua.
Petugas juga memantau titik api baru yang terpantau di kawasan Bantengan Jantur untuk mengetahui perkembangan kebakaran dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Sementara itu, penanganan dari udara masih terkendala kondisi cuaca. Rencana water bombing menggunakan pesawat PK-DAP belum dapat dilaksanakan sehingga pesawat mendarat di Bandara Abdulrachman Saleh.
Penanganan karhutla melibatkan BPBD, Polsek, Koramil, TNBTS, dan relawan. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus memastikan para pendaki dapat turun dengan aman.
Petugas mengimbau masyarakat dan pendaki mengikuti informasi resmi serta mematuhi penutupan kawasan Gunung Semeru selama proses penanganan karhutla berlangsung.
“Yang kita lakukan hari ini bersama-sama dengan pihak Polsek dan Koramil, tentu juga dengan pemangku kawasan TNBTS beserta relawan untuk membantu 170 pendaki di Ranu Kumbolo untuk turun,” pungkas Isnugroho. (*/di)
SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Suara gelegar lahar dingin yang turun dari atas Gunung Semeru dan meluncur deras ke bawah melewati aliran sungai yang dilewati bak mobil hilang kendali menabrak apa saja yang ada di depannya.
Suara jerit warga yang “diserang” lahar dingin bercampur material batu-batuan serta lumpur menerjang rumah, ternak, tanaman dan lain-lain itu, begitu cepat sehingga meluntuhlantakan segala benda sehingga menyisakan puing-puing berserakan.
Selain korban manusia yang tidak sempat menyelamatkan diri juga berbagai fasilitas seperti jembatan penghubung antar desa ambrol sehingga terputuslah akses yang menghubungkan berbagai kepentingan
Gunung teringgi di Pulau Jawa itu memang sering membuat susah kehidupan di sekitarnya dan tercatat di penghujung 2021 lalu mengeluarkan awan panas guguran (APG) dan muntahan lahar dingin.
Jembatan yang pernah putus tahun 2021/Foto: poedji
Akibatnya ratusan bangunan, korban sakit dan meninggal dari sejumlah warga hingga hewan ternak mati atau terjebak dalam abu vulkanik. Setelah erupsi, datang banjir lahar dingin hingga menghanyutkan rumah, kendaraan dan tanaman yang menjadi penunjang hidup masyarakat di sana.
Berdasarkan data yang ada waktu itu, tercatat ada 54 orang meninggal dunia, sedangkan 6 warga dinyatakan hilang.
Sementara total rumah rusak mencapai 1.027 unit. Rumah rusak ini tersebar di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, dengan kategori rusak berat 505 unit. Sedangkan di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, rumah rusak berat 85 unit dan rusak berat 437 unit. Kemudian warga mengungsi berjumlah 9.417 jiwa yang tersebar di 402 titik. Konsentrasi pengungsian terpusat di 3 Kecamatan, yakni di Pasirian 15 titik 1.657 jiwa, Candipuro 22 titik 3.897 jiwa dan Pronojiwo 7 titik 1.136 jiwa.
Pengungsian di luar Kabupaten Lumajang berada di Kabupaten Malang 9 titik 341 jiwa, Probolinggo 1 titik 11 jiwa, Blitar 1 titik 3 jiwa dan Jember 3 titik 13 jiwa.
Bencana alam ini mendapat respons dari sejumlah pihak. Banyak bantuan hingga relawan berdatangan.
Untuk melacak sejarah pilu itu para jurnalis yang ngepos di Pemprov Jatim belum lama ini datang ke lokasi untuk melihat, mengamati dan melakukan serangkaian wawancara kepada para nara sumber yang terkait dengan peristiwa 3 tahun yang menjadi berita terhangat waktu itu.
Ada dua tempat yang menjadi pilihan yakni jembatan putus akibat diterjang lahar dingin dan pembuatan Huntap(Hunian Tetap) bagi para korban bencana yang rumahnya luluh lantak akibat terjangan lahar yang datang tiba-tiba.
Jembatan yang pernah putus itu adalah jembatan mujur yang masuk wilayah Desa Kelopo Sawit, Kecamatan Candiputo, Kabupaten Lumajang. Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono meresmikan jembatan tersebut pada 8 Juni 2024 khususnya untuk pembangunan tanggul.
Pekerjaan juga lebih cepat karena diprediksi 2 bulan tapi pada kenyataannya bisa selesai 1 bulan lebih 3 minggu. Sehingga masyarakat bisa menggunakan lebih cepat dan roda perekonomian pulih kembali. Dua titik tanggul yang dibangun sepanjang 225 meter dan 62 meter, serta upaya normalisasi sepanjang 302 meter, kini siap melindungi masyarakat dari dampak bencana.
Jembatan itu dibangun 3 kali karena ditabrak lahar dingin. Pembangunan yang ketiga lebih ditinggikan 2,5 meter berdasarkan pengalaman lahar dingin yang menabraknya.
Petugas dari Dinas PU Bina Marga Emil menyebutkan lahar dingin yang membawa material diantaranya batu-batu besar menerjang yang ada didepannya. Sehingga jembatan yang membentang itu tidak mampu menahan derasnya lahar dan juga hantaman batu sehingga ambrol.
Pembangunan jembatan segera dilakukan dan melihat kondisi sejarah lahar yang mengalir di sungai tersebut maka jembatan ditingginkan 2, 5 meter.
Kendati demikian pihaknya tidak berani berjanji kalau jembatan yang baru diresmikan itu bisa tahan lama. “Bagaimanapun kita berusaha dan membangun sesuai sejarah aliran lahar yang melewati sungai. Tapi kalau yang di atas kuat alirannya disertai hujan lebat kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.
Kecepatan pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah menjadikan jembatan itu kembali berfungsi. Masyarakat bisa menggunakan seperti sediakala baik untuk kepentingan pribadi dan khususnya melakukan bisnis ke daerah lain karena jembatan itu bisa sampai ke Malang.
Saat ini tampak hilir mudik kendaraan yang melewati jembatan tersebut. Di sekitaran jembatan juga ada beberapa warung yang berjualan makanan untuk para pengendara yang ingin beristirahat sebentar.
Selain itu dekat jembatan juga dibuatkan taman bermain untuk anak-anak. Pada hari libur khususnya sore hari taman itu dimanfaatkan warga sekitar yang membawa anak-anaknya menggunakan fasilitas tersebut.
Sambil menjaga anak-anaknya bermain bisa mellihat sungai yang banyak batu kecil dan beaar yang dimuntahkan Gunung Semeru saat erupsi dan mengeluarkan lahar melalui sungai yang ada di bawah jembatan.
Lokasi huntap /Foto: poedji
RATUSAN HUNTAP SUDAH DIHUNI
Selain membangun kembali jembatan-jembatan yang putus akibat terjangan lahar dingin dari Semeru, pemerintah juga membangun ratusan Hunian Tetap(Huntap) untuk para korban.
Huntap tersebut dibangun di Desa Sumber Mujur, Kecapan Kali Puro, Kabupaten Lumajang dan mulai dihuni oleh para korban bencana pada 2021 lalu.
Menurut kepala desa Sumber Mujur Yayuk Sri Rahayu lokasi bangunan Huntap dulunya adalah bekas perkebunan yang luasnya 24 hektar dan saat ini jumlahnya mencapai ribuan yakni yang ada di 2 kecamatan masing-masing Sukopuro dan Pronojiwo.
Adapun fasilitas sosial yang dibangun pemerintah di antaranya Masjid, kantor kepengurusan air bersih, tempat pembuangan sampah, kandang hewan, sekolah paud, gedung pertemuan, stadion dan lain-lain.
“Juga ada bantuan ternak yaitu sapi dan kambing. Juga disiapkan pendampingan dari UNAIR dalam merawat ternak,” katanya.
Ani dari BPBD Lumajang yang mendampingi juga menambahkan kalau pada 7 Juli lalu juga ada penyitas masuk Hurtap akibat kawasannya banjir akibat lahar yang meluap dari sungai dan menerjang perumahan.
“Penyitas yang masuk Hurtap juga mendapatkan alat-rumah tangga seperti alat masak dan piring” katanya.
Mahfud dan usahanya/Foto: poedji
Dalam pada itu salah seorang penghuni, Mahfud, mengatakan sudah 3 tahun tinggal Huntap setelah rumahnya di desa Curah Kobokan porak poranda diterjang lahar termasuk ternak kambing 8 ekor yang dipeliharanya.
Ia mengaku kerasan dan enak menempati rumah barunya karena dibangun permanen dan tahan gempa. “Saya dapat 3 rumah Huntap dua diantaranya untuk anak sendiri,” kata lelaki berumur 70 tahun ini.
Saat ini dia buka toko mracangan untuk melayani penghuni di Huntap. Dagangannya adalah barang kebutuhan rumah tangga dan sehari-hari bisa ada pemasukan Rp 200 ribu kotor karena belum dihitung untungnya.
Sementara itu 2 anaknya sudah mandiri dan bekerja di luar kota sehingga untuk sementara Huntap yang dipakai 2 anaknya kosong.
Waktu masuk pertama kali di Huntap mendapatkan bantuan dari Pemerintah berupa kasur, peralatan rumah tangga dan lain-lain. “Sekarang sudah tidak ada bantuan lagi,” tuturnya.
Untuk listrik selama ini tidak ada gangguan hanya air yang kadang-kadang tidak mengalir juga ada iuran untuk sampah da WC sebulan Rp 10 ribu. “Kalau untuk kesehatan dan pemeriksaan dokter serta obat-obatan gratis,” tambah Mahfud.
Dalam pada itu Asisten Administrasi Sekda Kab. Lumajang Ir. Agus Widarto, M.M mengatakan, untuk mengatasi kebencanaan di daerahnya maka dibuat thema “Bersatu Tangguh Bencana” di mana aksi yang dilakukan dalam mengatasi adalah bekerja sama dengan pihak luar. “Mrngenal dulu ancaman selanjutnya mengurangi resiko,” katanya.
Sebelumnya harus tahu geografis lumajang yang luasnya mencapai 75 Km. Penyebabnya adalah gunung merapi dalam hal ini Semeru, samudra Indonesia mengakibatkan tsunami dan kebakaran hutan.
Selain itu juga ada gunung Bromo dan Lamongan yang mengelilingi lumajang. Oleh krn itu memetakan bencana di dua kecamatan masing-masing Pronojiwo dan Candipuro.
Catatan kejadian ada 10 bencana alam dan ada 1 tsunami 2008 sampai 2022. Untuk mengatasi pihaknya bekerja sama dengan BPBD kabupaten dan BOBD Provinsi Jatim ditambah dengan OPD terkait melakukan Tupoksi.
Pada Desember 2022 yang lalu di semeru dilakukan tanda darurat selama 14 hari. Untuk itu dilakukan tindakan seperti pemcarian orang hilang dan pembangunan hunian tetap sementara(Huntara). Khusus untuk pembagunan Huntap dilaksanakan langsung oleh Kementrian PUPR.
Juga dilakukan perpanjangan tanggap darurat yang penanganannya tiap hari. Kemudian juga dilalkukan masa transisi dan pemulihan termasuk mendatangkan dokter dan psikolog.
“Persiapan bencana alam tanda-tandanya adalah hujan setiap hari tidak berhenti berlangsung sampai tiga hari.
Lokasi pembangunan huntap/Foto: poedji
Para terdampak dan pengungsi secepatnya direlokasi. Pemetaan relawan 2 ribu lebih. Ada yg memberikan bantuan tapi tidak tepat sasaran karena sering menumpuk dalam satu lokasi. “Hal ini menjadi perhatian kami untuk kedepannya agar lebih baik lagi,” tambahnya.
ATASI MUSIBAH TERUS DIGALAKKAN
Apa yang dilakukan oleh Pemerintah baik itu pusat dan daerah dalam mengatasi kebencanaan khususnya akibat gunung Semeru di Lumajang sudah cukup baik.
Kalau toh ada yang kurang disana-sini adalah hal yang biasa karena selaku manusia tidak bisa mencapai seratus persen melaksanakan program prncegahan atau mengatasi pasca musibah yang ditetapkan.
Tetapi kekurangan tersebut akan menjadi pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan sehingga masyarakat yang menjadi korban kebencanaan tidak terabaikan.
Mereka memang harus diberi bantuan dan pembinaan agar pulih rasa trauma setelah kehidupannya rusak oleh bencana alam yang membuatnya merana.
Uluran tangan pemerintah tetap men jadi harapan mereka untuk memulai hidup baru kedepannya.
Sedangkan musibah yang ditimbulkan oleh gunung merapi tidak mungkin akan berhenti. Kalau bisa bicara mungkin gunung itu akan berkata, “ini wilayah saya jangan dekat-dekat. Silahkan cari tempat lain”.
Gunung Semeru yang ada di Kabupaten Lumajang tetap tegak berdiri dan bisa dinikmati oleh mereka yang ada disekitarnya. Gunung tertinggi di pulau Jawa itu masih tetap aktif sehingga kalau malam tiba bisa dilihat guguran lava panas yang meleleh dari puncaknya.***poedji
JAYAKARTA NEWS— Sejumlah warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur lakukan evakuasi mandiri ke tempat lebih aman pasca banjir lahar dingin Gunung Semeru yang sebabkan meluapnya debit air Daerah Aliran Sungai (DAS) Regoyo hingga merendam permukiman warga pada Kamis (19/4) pukul 19.30 WIB.
Luapan lahar dingin itu terjadi setelah hujan dengan itensitas sedang hingga tinggi melanda wilayah Gunung Semeru sejak sore hari. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang pada pukul 22.50 WIB, sebanyak 32 Kepala Keluarga (KK) mengungsi ke tempat lebih aman.
Tiga jembatan dilaporkan rusak akibat terjangan lahar dingin ini, yaitu Jembatan penghubung Desa Gondoruso dan Desa Bades di Kecamatan Pasirian dan Jembatan di Dusun Sumberbulus Desa Oro-oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo serta Jembatan Jurangmangu di Desa Purwosono Kecamatan Sumbersuko. Jalan Nasional Candipuro juga tergenang luapan lahar dingin.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang dan tim gabungan langsung menuju lokasi tersebut guna melakukan assessment dan melakukan percepatan penanganan banjir lahar dingin tersebut. Selain itu pelayanan Kesehatan sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan, BPBD Kabupaten Lumajang menurunkan satu unit perahu guna mempercepat proses evakuasi. Hingga kini tim gabungan masih berada di lokasi untuk melakukan monitoring.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kepada pemerintah daerah setempat untuk melakukan langkah-langkah penanganan dengan melihat potensi curah hujan secara berkala dan memberikan informasi secara rutin bagi masyarakat yang berada di sekitar DAS Regoyo agar dapat meminimalisir dampak apabila banjir lahar dingin kembali terjadi.***/din
JAYAKARTA NEWS— Gunungapi Semeru terus menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang ditunjukkan dengan luncuran Awan Panas Guguran (APG) dan indikator yang lain pada haru ini, Minggu (4/12). Dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunungapi Semeru dari ‘Siaga’ menjadi ‘Awas’ atau dari Level III menjadi Level IV, terhitung per pukul 12.00 WIB hari ini.
Sebagaimana yang dilaporkan sebelumnya, sumber APG berasal dari tumpukan material di ujung lidah lava, yang berada sekitar 800 meter dari puncak (Kawah Jonggring Seloko). Awan Panas Guguran tersebut berlangsung menerus dan hingga pukul 06.00 WIB jarak luncur telah mencapai 7 km dari puncak ke arah Besuk Kobokan.
Aktivitas kegempaan pada tanggal 4 Desember 2022 pukul 00.00 – 06.00 WIB terekam 8 kali Gempa Letusan, 1 Gempa Awan Panas Guguran yang masih berlangsung hingga pukul 06.00 WIB. Hal ini menunjukkan aktivitas erupsi dan awan panas guguran di Gunungapi Semeru masih sangat tinggi. Selain berpotensi terjadi awan panas, potensi terjadinya aliran lahar juga masih tinggi mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Gunungapi Semeru.
Dengan adanya peningkatan aktivitas vulkanik tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunungapi Semeru dari ‘Siaga’ menjadi ‘Awas’ atau dari Level III menjadi Level IV, terhitung per pukul 12.00 WIB hari ini.
Sehubungan dengan adanya peningkatan status tersebut, maka PVMBG merekomendasikan kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Lebih lanjut, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Di samping itu, masyarakat diharapkan agar selalu mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Adapun masyarakat juga diimbau untuk tidak terpancing oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggung jawabkan mengenai aktivitas Gunung Api Semeru, dan mengikuti arahan dari Instansi yang berwenang yakni Badan Geologi yang akan terus melakukan koordinasi dengan BNPB dan K/L, Pemda, dan instansi terkait lainnya.
Luncuran APG Sejauh 19 Kilometer
Sementara itu, dari hasil pemantauan di lapangan oleh tim PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, luncuran APG sudah mencapai 19 kilometer bahkan telah melewati Jembatan Gladak Perak.
“Sudah sampai Gladak Perak,” jelas Joko Sambang, Kabid Kedaruratan BPBD Kabupaten Lumajang.
Abu vulkanik gunungapi Semeru juga dilaporkan membumbung tinggi berwarna abu dan hitam pekat. Jarak pandang sangat terbatas karena abu sudah mulai turun ditambah turun hujan di sekitar lokasi.
“Situasi saat ini di Kajar Kuning hujan deras dan abu pekat,” kata Joko.
BPBD Kabupaten Lumajang merinci ada sebanyak 93 warga dievakuasi ke pengungsian yang berlokasi di Balai Desa Sumberurip, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan terus berkoordinasi dengan Badan Geologi, PVMBG, BPBD Kabupaten Lumajang, TNI, Polri dan instansi terkait dalam pengembangan data dan informasi terkait erupsi Gunungapi Semeru.***/ebn
Gunung Semeru meletus Desember 2020. Letusan-letusan dan aktivitas guguran lava masih berlangsung hingga Februari 2021. Saat ini, gunung yang terletak di kabupaten Lumajang, Jawa Timur itu sudah reda, dan aktivitas pendakian dibuka kembali. Video ini adalah sebuah catatan tercecer dari kunjungan ke Semeru di bulan Desember 2020.
JAYAKARTA NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang melaporkan sebanyak 550 warga mengungsi setelah Gunung api Semeru mengeluarkan awan panas guguran. Gunung yang berada di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, mengeluarkan awan panas guguran pada Selasa (1/12), pukul 01.23 WIB.
Berdasarkan data sementara pada Selasa (1/12), pukul 09.00 WIB, pengungsian tersebar di dua titik, yaitu di pos pantau sebanyak 300 jiwa, sedangkan sisanya di Desa Supiturang. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, seperti makanan siap saji, dapur umum dan masker.
Lokasi yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik yaitu Desa Supiturang, Desa Oro-oro Ombo dan Rowobaung di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro. Sejumlah desa tersebut berada Kabupaten Lumajang.
Sinergi upaya penanganan darurat dilakukan oleh berbagai pihak. Penanganan darurat yang dipimpin oleh BPBD Kabupaten Lumajang membuka pos pengungsian lapangan di Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Di samping itu, untuk menghindari abu vulkanik dan penerapan protokol kesehatan, BPBD dan dinas kesehatan membagikan 4.000 masker, sedangkan dinas sosial mempersiapkan operasional dapur umum. Pihak lain, seperti TNI, Polri dan dinas terkait, turut mendukung penanganan darurat di lapangan.
PVMBG merekomendasikan beberapa poin sebagai berikut, pertama, masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas, dan kedua, mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.
Status aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada level II atau ‘Waspada.’
Melihat secara kronologi, secara visual pada periode 1 Oktober hingga 30 November 2020, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak.
Erupsi terjadi menerus dan menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 m dari atas kawah/puncak. Guguran batuan dari arah puncak terjadi tidak menerus sejak 19 Oktober 2020.
Pada 28 November terjadi kenaikan jumlah guguran secara signifikan diikuti oleh kejadian awan panas guguran yang berasal dari ujung lidah lava dengan jarak luncur maksimum 1 km ke sektor tenggara lereng.
Pada 1 Desember 2020 mulai pukul 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 Km ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lumajang untuk mendapatkan perkembangan terkini paska awan panas guguran yang terjadi dini hari tadi. (*/rr)