Puisi Cinta yang Membunuh – Intrik, Puitik, Teror dan Horor

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Garin Nugroho membuat film horor ? “Ini adalah film horor pertama saya. Judulnya ‘Puisi Cinta Yang Membunuh,” ujar Garin Nugroho kepada penulis, baru-baru ini.

“Inspirasi dari  buku puisi saya ‘Adam, Hawa dan Durian’, juga terinspirasi dari fenomena masyarakat tentang trauma healing, berbagai bentuk kekerasan ekstrim hingga mitos tenaga supernatural maupun budaya populer di komik, film hingga radio yang membawakan kiaah mistis dan horor,” urai Garin.

Dikatakannya, film ini mengandung unsur thriller dan drama karena berpusat pada perwujudan cinta manusia serta upaya manusia yang selalu memiliki trauma. Menggabungkan fenomena dunia tak terlihat dan terlihat serta aspek rasional dan mistik yang hidup dan menghidupi masyarakat Indonesia.

“Kisah horor ini merepresentasikan tentang tenaga supernatural pada tubuh manusia dan kekerasan yang menjadi sumber dari teror dan horor hidup manusia,” imbuh Garin.

Azhar Kinoi Lubis selaku Co Sutradara mengungkapkan film produksi Starvision ini bisa menjadi salah satu warna baru dalam memperkaya genre film horor Indonesia. Style-nya berbeda dengan film horor yang banyak beredar di Indonesia. Cara bercerita yang berbeda nuansa horornya.

“Memegang kuat makna dari setiap kata-kata puisi yang tertulis dalam buku ‘Adam, Hawa dan Durian’. Terkadang kengerian dan teror dalam hidup kita bukan hanya karena sosok yang menakutkan saja, namun bisa hadir dalam bentuk ketraumaan hingga nengganggu psikis kita sendiri yang muncul dari karakternya,” beber Azhar Kinoi Lubis.

Sedangkan produser Ir Chand Parwez Servia mengatakan pihaknya begitu antusias untuk terlibat dalam karya Garin ini. “Ada teror, horor dan slasher tetapi tetap indah, puitik, intrik, romantik dan penuh twist yang mencekam,” timpal Chand Parwez Servia.

‘Puisi Cinta Yang Membunuh’ mendapat  undangan dari berbagai festival diantaranya International Film Festival Rotterdam dalam sesi World Premiere dan World Premiere di Jogja – Netpac Asian Film Festival dan sold out.

Sejak penulisan script sudah menemukan pemeran utamanya adalah Mawar de Jongh sebagai Ranum yang perjalanan hidupnya penuh horor. Pemain lainnya adalah Baskara Mahendra, Morgan Oey, Raihaanun, Ayu Laksmi, Kelly Tandiono, Unique Priscilla, Isabel Jahja, Yayu Unru, Messi Gusti dll.

“Film memberikan kebebasan ekspresi dan demokratis. Saat politik dan ekonomi enggak bisa mencuatkan solusi permasalahan, seni dan budaya justru yang merawat dan membersihkannya,” demikian Garin Nugroho, SH yang baru menerima gelar Doktor dari ISI Surakarta. (pik)

‘ALENA, Anak Ratu Iblis’ – Horor Membuka Tahun 2023

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Tahun 2023 benar-benar Tahun Horor. Bulan Januari saja, ada 4 film horor dan thriller merajai bioskop di RI, yaitu ‘Alena, Anak Ratu Iblis’, ‘Anak Titipan Setan’, ‘Bayi Ajaib’ dan ‘Puisi Cinta Yang Membunuh’. Kamis (5/1) tahun 2023, dibuka film nasional bergenre horor berjudul ‘Alena, Anak Ratu Iblis’ yang disutradarai Sonu Samtani. Produksi perdana Arjuna Mega Film berdurasi 1 jam 37 menit ini benar-benar menyeramkan dan menegangkan.

Mistik dan horornya pas. Cerita yang ditulis Maruska Bath ini mengisahkan ihwal pasutri Hendra dan Maya yang lama tak mempunyai anak

Suatu hari, mereka menemukan seorang bayi di tengah jalan dan diadopsinya. Aneh, keluarga Hendra dan Maya setelah mengadopsi anak yang kemudian diberi nama Alena   ini, ekonominya mulai membaik. Namun, terjadi keganjilan-keganjilan yang menimpa mereka. Siapakah Alena sebenarnya?

Setelah ditelusuri, ternyata Alena bukan anak manusia, tapi anak penguasa kegelapan alias setan.

Yang berperan sebagai Alena adalah Clara Brosnan, aktris cilik yang sebelumnya bermain gemilang di film ‘Bumi Manusia’ dan trilogi ‘Kuntilanak’.

“Film Alena benar-benar menguras tenaga. Cukup sulit memerankan Alena. Bayangkan, selama take camera, mata saya enggak boleh berkedip. Kan Alena itu anak Ratu Iblis,” tutur Clara Brosnan polos kepada penulis, usai preview film Alena di Jakarta, baru-baru ini. 

Sedangkan yang jadi Ratu Iblis ditunjuk model Karenina Anderson. Pelakon lain adalah Ririn Ekawati, Wulan Guritno, Temmy Rahardian, Ali Zainal, Jerico Gowtama dan seabreg yang lain.

“Seluruh pemain berperan bagus sesuai karakternya. Enggak ada yang pakai stunt woman atau stunt man,” beber Sonu Samtani.

Khusus untuk adegan-adegan berbahaya dan menyeramkan, digunakan teknik Computer Generated Imagery (CGI) sehingga yang terlihat di hadapan mata penonton benar-benar seperti realistis. (pik)

Saatnya Ada Festival Film Horor Indonesia

Peserta diskusi dari kiri ke kanan: Azzura Pinkan, Kicky Herlambang, Teguh Yuswanto, Caitlin, Muhammad Bagiono, Pramu Risanto, Ody Mulya Hidayat. (ist)

Jayakarta News – Eksistensi film horor, di jagat perfilman nasional tidak bisa diabaikan begitu saja. Baik oleh para pemberi penghargaan, ataupun pihak yang berkuasa terhadap layar bioskop.

Faktanya, sudah puluhan judul film horor yang  sanggup mendatangkan penonton hingga jutaan. Dan pengemasan dari sisi cerita maupun artistik pun layak mendapat apresiasi. Bahkan sering mendapat penghargaan dari luar negeri.

Sayangnya, film horor jarang mendapat penghargaan dan kerap kesulitan mendapat jumlah layar bioskop seperti yang diharapkan. Sampai-sampai salah seorang penggiat film mengatakan, film horor masih dipandang sebelah mata.    

Melihat kegelisahan itu, KJSI (Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia) yang diketuai Kicky Herlambang, memandang perlu untuk mengumpulkan berbagai pihak demi membicarakan masalah ini. Maka dibentuklah kepanitiaan yang diketuai juga oleh Kicky Herlambang menggelar forum diskusi.

Untuk menggelar diskusi itu tentu tidak mudah. Mengumpulkan banyak orang yang mempunyai kesibukan seabreg dalam waktu dan tempat yang sama, butuh kesabaran. Belum lagi memikirkan tempat dan konsumsi. Beruntung, diskusi film yang telah digagas jauh–jauh hari itu akhirnya bisa terlaksana pada Kamis (22/8) lalu di Theater Museum Manggala Wanabhakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta.

Teguh Yuswanto (Jayakartanews), Muhammad Bagino (Pafindo) Ody Mulya hidayat (Max Pictures), Pramu Risanto (Pengamat Sosial). (ist)

Diskusi santai bertema, ‘’Menjadikan Film Horor Sebagai Tontonan yang Menghibur dan Tuntutan Selera’’ menghadirkan nara sumber, Ody Mulya Hidayat (produser film), Muhammad Bagiono (Ketua Umum PAFINDO), dan Pramu Risanto pemerhati sosial, dipandu Teguh Yuswanto dari media online Jayakartanews.com

Hadir dalam diskusi tersebut artis Rency Milano, Roni Dozer, Ustad Astari, Caitlin North Lewis, Azzura Pinkan, dan rekan–rekan wartawan yang tergabung di Kumpulan Jurnalis Sinema Indonesia, akademisi, dan para blogger. 

Diskusi dimulai sekira pukul 11.00 WIB dan berakhir pukul 14.00 WIB. Kesempatan pertama diberikan kepada Pramu Risanto sebagai pengamat sosial untuk menyampaikan makalahnya.

Menurut Pramu Risanto, sejarah film horor dimulai oleh film-film horor bergenre komedi horor. Film horor Indonesia kerap menjadi pioner, namun belakangan menjadi tertinggal dengan negara – negara lainnya. Hal tersebut lantaran sering lalai, tidak pernah menjadi sebuah tujuan, dan sering ditinggalkan.

‘’Ini menjadi PR buat kita untuk terus memperbaiki karakter film horor Indonesia tentunya terkait pesan moral yang akan disampaikan, berpengaruh kepada kehidupan sehari–hari. Setidaknya jangan terus memenuhi selera pasar atau dengan kata lain, mencoba mendidik dengan memulai sesuatu yang baik meski harus melawan arah. Film horor selain menghibur penontonnya juga punya pesan moral yang bisa disampaikan dan berguna bagi masyarakat. Film Horor jangan menyesatkan karena ini akan menjadi beban moral filmmaker-nya,’’ tandasnya lagi.

Adapun persoalan yang menyelimuti film horor Indonesia yang kerap tidak mendapat jatah layar yang memadai, Pramu Risanto memberi solusi yang jika benar-benar dilaksanakan bisa mengatasi masalah tersebut.

‘’Jika kesulitan mendapat ruang untuk memutar film horor, maka perlu dicari jalan alternatif. Perlu adanya alternatif akses masyarakat untuk menonton film di semua daerah. Jadi mereka menonton tidak hanya di XXI. Bahkan bukan hanya film horor, film lain pun jadi punya alternatif untuk diputar,’’ kata Pramu Risanto.

Masih menurutnya, dulu masyarakat bisa menonton melalui  layar tancap atau Bisokop Misbar, kalau gerimis bubar. Dan masyarakat di daerah tetap bisa menikmati dengan cara menonton di layar tancap. Malah lebih tepat lagi jika film yang diputar adalah film-film horor. Nah tinggal teknis pelaksanaannya apakah dengan menggunakan jaringan Indomart atau Alfamart  yang sudah ada hingga ke pelosok daerah.   

Karena diskusi ini sifatnya sama-sama mencari jawaban untuk memecahkan masalah, bukan perdebatan dan mencari salah benar, sehingga lebih produktif. Muncul ide-ide baru. Tak ada yang takut menyampaikan pendapat. Itu juga yang disampaikan Pramu Risanto sebaiknya sineas itu tak perlu ragu–ragu dan merasa dibatasi dalam berkarya. Bebas saja. Jangan berangkat dari ketakutan. Tapi dimulai dari kreatifitas. 

Diskusi makin mantap dan makin lengkap manakala Muhammad Bagiono yang mewakili PAFINDO memaparkan pandangannya bahwa rasa takut itu adalah hasrat. Bagiono membuka dengan teori Sigmund Freud bahwa segala tindakan manusia didasari atas hasrat. Lebih jauh Bagiono memaparkan, film Indonesia sudah ada sejak tahun 1930-an dan eksis hingga sekarang.

‘’Film horor sekarang masih berkutat pada hantu yang itu–itu saja. Dalam pencarian saya sedikitnya ada 26 jenis hantu dan umumnya belum banyak diketahui,’’  tutur Bagiono.

Upaya Bagino untuk menginvestigasi bentuk–bentuk hantu, agar film horor bukan hanya khayalan atau ilusi semata. Tapi ada bukti otentik yang bisa dipertangungjawabkan secara akademis. Sebab bisa terekam dengan kamera dan bisa disaksikan banyak orang. Bahwa jenis hantu yang berhasil ditangkap adalah seperti itu. Usaha yang dilakukan Bagiono adalah untuk menjawab tantangan bahwa ternyata banyak jenis hantu yang hidup di sekitar kita. Bhakan jenis hantu pocong saja ada tiga jenis, pocong yang warna kuning, merah dan emas.  Dan menurutnya,  bentuknya agak sedikit berbeda dari yang dikenal selama ini. Dan film horor sempat dipandang miring masyarakat karena kerap dibumbui esek-esek.

‘’Terlepas dari pandangan miring, masyarakat maupun pemerintah,  film horor masih eksis hingga sekarang. Dan eksistensi itu harus diapresiasi sampai sekarang,’’ tandas Bagiono.

Soal pandangan miring dari si pemilik jaringan layar bioskop dan pandangan miring juga dari panitia pemberi penghargaan yang paling merasakan adalah Produser Flm. Nah salah stau yang kerap merasakan itu tak lain Ody Mulya Hidayat dari max Pictures. Produser yang telah melahirkan puluhan film horor yang laris manis ini tak habis mengerti sikap pemilik jaringan layar bioskop yang kerap sedikit menahan untuk pemutaran film horor.

Menurt Ody Mulya Hidayat, produksi film horor Indonesia setiap tahun bisa mencapai 450 judul film. Hanya saja tidak semua bisa mendapat kesempatan untuk diputar. Kalaupun bisa diputar pada jadwal tahun depan. Padahal kalau mau bicara untung, film horor Indonesia lebih sering  mendatangkan untung. Sudah berkali-kali film horor masuk deretan box office film Indonesia.

‘’Film horor produksinya murah tapi penjualannya bagus. Hanya butuh tim mini yang solid. Cukup syuting selama 12 hari (10 hari dikerjakan oleh 2 Tim) dan sisa 15 hari untuk editing dan post pro. Film Horor menjadi genre film yang banyak di tonton, drama horor dengan marketnya yang sangat digemari. Film Horor tidak mahal. Kontennya menarik. Jadi Film Horor harus diapresiasi. Mengapa ceruk pasar film horor yang besar ini harus ditinggalkan, harus dibatas batasi. Film horor ibarat fashion. Kalau mau melawan arus, dia harus menarik. Film horor memiliki pasar yang intens atau stabil. Mengapa kita tidak mau mengapresiasi film film Horor. Sementara Film Horor Indonesia tengah membuka pasar barunya di Malaysia dan negara negara ASEAN lainnya. Film Horor jangan terus menerus dijadikan anak tiri padahal film horor, penyumbang penonton yang bagus,’’ papar Ody Mulya Hidayat.

Selain dipandang sebelah mata oleh pemilik jaringan layar, film horor Indonesia juga kerap tidak dihargai secara artsitik. Jarang sekali film horor mendapat penghargaan dari festival film yang ada di Indonesia.

‘’Mengapa Film Horor tidak dianggap, tidak diapresiasi, meski sudah box office? Kalau Film Horor menang tapi tidak diapresiasi maka bagaimana dengan penilaian masyarakat. Bagaimana obyektifitasnya. Film Horor sebagai karya seni patut diapresiasi dan dihargai. Jadi, bagi saya terpenting terus berkarya membuat film horor dan ditonton banyak orang  fokusnya di sana saja dulu. Apalagi sejak di era Dedi Mizwar selaku Ketua FFI sudah diutarakan untuk memberi apresiasi bagi film horor. Faktanya, film horor menjadi film bagus yang mendatangkan penonton maupun kerap menjadi film box office. Volume ceruk pasarnya sangat besar. Bahkan sebuah PH besar saja menganggarkan 20 film horor setiap tahunnya. Anehnya justru Hollywood yang mengapresiasi film horor Indonesia, yang selama dua bulan,  mampu bertahan di layar bioskop. Sementara di dalam negeri film ini tidak diapresiasi sama sekali,’’ tandas Ody.

Kenapa film horor butuh diapresiasi? Tujuannya untuk memacu dan menghargai serta meningkatkan kemampuan berkarya. Jika kurang apresiasi maka tidak tahu sudah sejauh mana kualitas karyanya. Karena produksi film horor jumlahya sangat besar, sepertinya perlu dibuat penghargaan tersendiri. Seperti musik dangdut di blantika musik Indoensia. Jumlah besar tapi dianaktirikan. Padahal kebudayaan Indonesia tak lepas dari dangdut dan horor. Maka dari itu sepertinya sudah saatnya Indonesia mempunyai Festival Film Horor Indonesia.  (teguh y)

Lebaran Bersama Kuntilanak

SELAIN segi cerita dan teror, Kutilanak juga menghadirkan pemeran baru sebagai tokoh utamamya, yakni Aurelie Moremans. Nantinya, Aurelie akan ditemani oleh tiga anak-anak yang akan turut andil dalam film ini. Pasalnya, seperti kita tahu, legenda hantu kuntilanak kerap dikaitkan dengan hilangnya anak secara gaib yang disebut diculik oleh makhluk astral tersebut.

Di film ini, kisah hantu kuntilanak juga digambarkan sama, yakni mengincar anak-anak. Di mana hantu tersebut memburu sekelompok anak yang tengah mengikuti acara reality show untuk membuktikan keberadaan kuntilanak untuk dijadikan korban baru.

Walau menghadirkan kisah yang baru, produser eksekutif, Amrit Punjabi menyatakan bahwa dalam film Kuntilanak akan tetap ada benang merah dengan trilogi Kuntilanak yang sebelumnya. “Intinya ada elemen yang menjadi ‘penyambung’ yaitu cermin. Dan itu yang menjadi arti penting dari Kuntilanak dulu dan sekarang,” tutur Amrit.

Selain Aurelie Moeremans, film ini juga dibintangi oleh Andryan Sulaiman, Sandrinna Michelle Skornicki, Adlu Fahrezy, dan Fero Walandouw. Kuntilanak siap meneror penonton pada libur Lebaran mendatang, tepatnya mulai tanggal 15 Juni 2018. ***

Zeta, Film Zombie Siap Hantui Bioskop

SERIAL horor The Walking Dead menjadi inspirasi bagi sineas muda berbakat, Amanda Iswan dalam menggarap film berjudul Zeta (When The Dead Awaken).

Menurut wanita yang akrab disapa Mandy ini, film Zeta yang ia buat adalah satu-satunya film Pure Thriller Zombie pertama di Indonesia.

“Ini film serius di Indonesia, di mana riset enggak asal-asal. Kebanyakan film horor Indonesia hanya ngomongin hantu, tapi di film Zeta ini yang aku angkat adalah zombie yang salah satu inspirasinya dari serial The Walking Dead,” ucap Amanda Iswan saat jumpa pers film Zeta di Madagaskar, Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (11/5/2018).

Sebagai sineas muda, Amanda Iswan telah mendalami dunia perfilman di luar negeri. Pengetahuan yang ia dapatkan kemudian diterapkannya di film yang digarapnya yakni Zeta.

Dikatakannya, untuk film Zeta, ia juga harus melakukan riset mendalam perihal penyakit yang diangkat ke dalam film tersebut.

“Sebenarnya semua berbasis pengetahuan. Saya mendapat challange dalam menggarap ini, saya biasa di luar dan kemudian harus beradaptasi dengan sistem perfilman di Indonesia. Saya laraskan antara drama aksi sampai melakukan riset ihwal muasal penyakit yang diceritakan di film ini,” papar wanita lulusan Quinnipiac University, School of Communications Hamden, Amerika Seirkat ini.

Film Zeta (When The Dead Awaken) menceritakan tentang hubungan anak dengan seorang ibu yang memiliki penyakit Alzheimer. Keduanya harus bertahan hidup di apartemen dan mencari cara memanggil tim penolong datang menyelamatkan mereka.

Film ini dibintangi Jeff Smith sebagai Deon, Cut Mini yang berperan sebagai ibu Isma yang menderita Alzheimer, Reza yang diperankan Dimas Aditya, serta Edo Borne yang berperan sebagai Reyhan dan Willem Bevers sebagai Dr. Richard Ross, Natasha Grot sebagai Maya, Revaldo Vivaldi sebagai Ario. ***

“Jailangkung 2” Tayang Lebaran 2018

TEROR Jailangkung rupanya belum berakhir dan masih menjadi masalah bagi keluarga Bella. Kengerian dan suasana arwah mencekam masih meliputi keluarga Bella. Sebuah misteri kembali harus dipecahkan oleh BELLA dan sahabatnya, RAMA, yang berkaitan dengan peristiwa di masa lalu ayah Bella, FERDI.

Pencarian jawaban akan misteri tersebut yang membuat Bella dan Rama terus mengalami hal-hal gaib yang tak mampu dijelaskan oleh logika manusia. Kejadian mistis datang satu per satu menimpa keluarga Bella, tak terkecuali adik Bella, TASYA, dan kakak Bella, ANGEL. Bagaimana Bella dan Rama menyelesaikan misteri yang terjadi kali ini?

Nantikan JAILANGKUNG 2 tayang di bioskop – LEBARAN 2018.

Film produksi Skymedia dan Legacy Pictures ini dibintangi sederet bintang yaitu Jefri Nichol, Amanda Rawles, Hannah al Rashid, Lukman Sardi, Gabriella Quinlyn, Naufal Samudra, Dania Michelle dan Deddy Sutomo. Ini adalah film terbaru almarhum Deddy Sutomo yang wafat dua hari lalu usai merampungkan film ‘Sultan Agung’ di DIJ. Sementara Sultan Agung baru akan tayang awal 2019. ***

Reuni SMA Zenith Berubah Menjadi ‘Reuni Zombie’

REUNI SMA tentunya jadi ajang untuk temu kangen teman lama, tapi gimana ya kalau dalam reuni SMA justru ada kejutan seram berupa zombie yang mengejar dan makan teman seperti di film Reuni Z karya Monty Tiwa dan Soleh Solihun?

Yup, unik memang, film Reuni Z yang disutradarai oleh Monty Tiwa dan Soleh Solihun ini merupakan film bergenre horor komedi yang membahas soal zombie. Film ini akan tayang pada tanggal 12 April mendatang.

“Kalau secara singkat, ceritanya ada sebuah zombie outbreak di reuni SMA. Terus bagaimana cara para peserta reuni bisa bertahan dari serangan zombie itulah inti filmnya,” ujar Soleh Solihun saat bertemu penulis belum lama ini.

“Kalau kita ngomongin reuni pasti semua orang punya kenangan dan sudah tau mau ngapain di reuni. Intinya kan mau temu kangen, tapi ternyata di acara temu kangen ini malah berubah jadi ajang yang memacu adrenalin seperti tagline-nya waktunya teman makan teman,” jelas Soleh Solihun.

Nggak cuma jadi sutradara, ia pun berpartisipasi dalam film ini. “Saya, Surya Saputra dan Tora Sudiro jadi peserta reuni, kalau Cassandra Lee jadi pelajar SMA di almamater kami. Ini kalau bahasa Sundanya horor tapi bodor (lucu). Bisa dibilang komedi zombie, karena ceritanya memang soal zombie tapi komedi. Jadi menawarkan rasa takut tapi juga menawarkan gelak tawa,” jelas Soleh.

Soleh Solihun mengaku memang suka menonton film-film tentang Zombie. Itu sebabnya ia tertarik untuk membuat film yang terfokus pada zombie. “Saya memang suka sih nonton film zombie, terus kayaknya belum ada film Indonesia yang ngebahas serius soal itu. Sempat ada film yang bahas zombie juga tapi lebih menonjolkan jagoan-jagoannya,” ujar Soleh. Film yang dimaksud di sini adalah 5 Cowok Jagoan yang tayang akhir tahun lalu. ***

Film Horor Sabrina, Spin Off Dari The Doll 2

FILM genre horor masih terus akan menghiasi bioskop Tanah Air tahun ini. Diproduksi oleh Hitmaker Studios, sebuah film berjudul ‘Sabrina’ baru baru ini merilis teaser poster resmi. Disutradarai oleh Rocky Soraya, film ini direncanakan akan tayang Juli 2018 mendatang.

Dibintangi oleh Luna Maya, Christian Sugiono, dan Sara Wijayanto, masing-masing dari mereka pun mengunggah teaser poster resmi film tersebut kemarin.

Official teaser poster Sabrina, sebuah film horor terbaru produksi Hitmaker Studios. Sabrina akan menemui kalian mulai Juli 2018 di bioskop. #sabrinathemovie #hitmakerstudios #comingsoon,” tulis Luna Maya dalam akunnya @lunamaya.

Selain tertulis judul ‘Sabrina’, dalam poster tersebut juga tertulis ‘Spinoff ‘The Doll 2’. Spinoff adalah jenis film yang ditujukan untuk menceritakan secara fokus suatu kejadian atau karakter pendukung. Karakter tersebut biasanya memiliki penggemar tersendiri atau tanpa diduga malah menjadi ikon dan scene stealer dalam film tersebut. Contoh film spinoff misalnya ‘Annabelle’, ‘The Scorpion King’, dan ‘Penguins of Madagascar’.

‘The Doll 2’ adalah film yang rilis tahun lalu yang juga dibintangi Luna Maya. Film tersebut menceritakan pasangan suami istri, Maira (Luna Maya), dan Aldo (Herjunot Ali) yang begitu berduka karena putrinya yang bernama Kayla meninggal karena kecelakaan mobil yang tak lazim. Dalam kecelakaan tersebut, Kayla membawa boneka kesayangannya yang bernama Sabrina.

Agar bisa berkomunikasi dengan arwah Kayla, tanpa sepengetahuan Aldo, Maira bersama temannya Elsa (Maria Sabta) melakukan ritual pemanggilan arwah Kayla dengan memakai boneka Sabrina sebagai perantara. Bukannya berhasil, kejadian aneh dan mistis malah menghampiri Maira. Akhirnya Maira meminta bantuan kepada ahli spiritual bernama Laras (Sara Wijanarko). Kemudian diketahui bahwa arwah Kayla masuk ke dalam boneka Sabrina dan ingin membalas dendam atas kematiannya yang tak lazim tersebut.

Dengan tampilan kepala boneka tanpa rambut berwarna merah dengan darah menetes-netes sembari tersenyum, film ini akan fokus pada mistiknya boneka Sabrina. ***

 “PENGABDI SETAN” BORONG TUJUH PIALA

SALAH satu stasiun televisi swasta di Indonesia SCTV kembali menggelar ajang penghargaan Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2018. Tahun ini merupakan perhelatan ketiga yang kembali memilih 10 film terbaik dengan jumlah penonton terbanyak.

Film-film tersebut antara lain Surat Cinta Untuk Starla The Movie, The Dolls 2, Mata Batin, Jailangkung, Susah Sinyal, Surga Yang Tak Dirindukan 2, Danur: I Can See Ghosts, Ayat-Ayat Cinta 2, Warkop DKI Reborn Part 2: Jangkrik Boss dan Pengabdi Setan.

Acara yang dihelat di kawasan Studio 6 Emtek City, Daan Mogot, Jakarta Barat pada Jumat (23/3/2018) malam banyak dihadiri sineas tanah air mulai dari produser hingga cast dari 10 film yang terpilih untuk masuk dalam nominasi dan dipandu oleh Andhika Pratama, Darius Sinathrya, Prilly Latuconsina serta Astrid Tiar.

Di awal acara, IBOMA 2018 sempat memberikan medali emas sebagai apresiasi yang tinggi untuk 10 film terbaik dengan penonton terbanyak selama penayangannya di tahun 2017 yang kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pemenang dari 15 kategori yang diperebutkan.

Film yang merupakan remake dari judul yang sama Pengabdi Setan tahun 1980 mendominasi dengan membawa sekitar 7 piala mulai dari Pendatang Baru Terbaik hingga Film Box Office Tahun Ini.

Berikut daftar lengkap pemenang Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) 2018:

KATEGORI PENDATANG BARU TERBAIIK

Aurora Ribero, Susah Sinyal

Bianca Hello, Mata Batin

Ira Ilva Sari, The Doll

Adhiyat, Pengabdi Setan – Pemenang

Nora Danish, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2

KATEGORI PEMERAN PENDUKUNG PRIA TERBAIK

Abdur Arsyad, Susah Sinyal

Endy Arfian, Pengabdi Setan

Epy Kusnandar, Mata Batin

Gading Martin, Susah Sinyal – Pemenang

Reza Rahardian, Surga Yang Tak Dirindukan 2

KATEGORI PEMERAN PENDUKUNG WANITA TERBAIK

Aurora Ribero, Susah Sinyal

Ayu Laksmi, Pengabdi Setan – Pemenang

Niniek L. Karim, Susah Sinyal

Raline Shah, Surga Yang Tak Dirindukan 2

Shareffa Daanish, Danur: I Can See Ghosts

KATEGORI PEMERAN UTAMA PRIA TERBAIK

Abimana Aryasatya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 – Pemenang

Bront Palarae, Pengabdi Setan

Ernest Prakarsa, Susah Sinyal

Jefri Nichol, Surat Cinta Untuk Starla the Movie

Vino G. Bastian, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2

KATEGORI PEMERAN UTAMA WANITA TERBAIK

Adinia Wirasti, Susah Sinyal

Laudya Cynthia Bella, Surga Yang Tak Dirindukan 2

Luna Maya, The Doll 2

Prilly latuconsina, Danur: I Can See Ghost

Tatjana Spahira, Ayat-Ayat Cinta – Pemenang

KATEGORI ORIGINAL SOUND TRACK FILM TERBAIK

Kelam Malam, The Spouse (Music Kickup) – Pemenang

Surat Cinta Untuk Starla, Virgoun (DR.M)

Bulan Dikekang Malam, Rossa (MD Music/Trinity Optima)

Bukan Sekedar Kata, The Overtunes (Sony Music)

Andeca Andeci, Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Vino G. Bastian (Facon Music)

KATEGORI PENULIS SKENARIO TERBAIK

Alim Sudio, Hanung Bramantyo, Manoj Punjabi. Surga Yang Tak Dirindukan 2

Bene Dion Rajagukguk, Andi Awwe Wijaya, Anggy Umbra. Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2

Ernest Prakasa, Meira Anastasia. Susah Sinyal – Pemenang

Joko Anwar. Pengabdi Setan

Lele Laila, Ferry Lesmana. Danur: I Can See Ghost

KATEGORI POSTER FILM TERBAIK

Jailangkung, Screenplay Films – Pemenang

Mata Batin, Hitmaker Studio

Pengabdi Setan, Rapi Film

Susah Sinyal, Starvision

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, Falcon Pictures

KATEGORI TRAILER FILM TERBAIK

Ayat-Ayat Cinta 2, MD Pictures

Danur: I Can See Ghost, MD Pictures

Pengabdi Setan, Rapi Films – Pemenang

Surat Cinta Untuk Starla The Movie, Screenplay Films

Susah Sinyal, Starvision

KATEGORI ENSEMBLE TALENT TERBAIK

Danur: I Can See Ghost : Prilly Latuconsina, Indra Brotolaras

Jailangkung : Jefri Nichol, Amanda Rawles, Hannah Al Rashid, gabriella Quinlyn

Surga Yang Tak Dirindukan :Fedi Nuril, Laudya Cynthia Bella, Raline Shah, Reza Rahardian

Susah Sinyal : Abdur Arsyad, Arie Kriting – Pemenang

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 : Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Vino G. Bastian

KATEGORI SUTRADARA TERBAIK

Awi Suryadi, Danur: I Can See Ghost

Ernest Prakarsa, Susah Sinyal

Guntur Soeharjanto, Ayat-Ayat Cinta

Hanung Bramantyo, Surga Yang Tak Dirindukan 2

Joko Anwar, Pengabdi Setan – Pemenang

KATEGORI FILM BOX OFFICE TERBAIK

Danur: I Can See Ghost, MD Pictures

Pengabdi Setan, Rapi FIlms – Pemenang

Surga Yang Tak Dirindukan, 2 MD Pictures

Susah Sinyal, Starvision

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2, Falcon Pictures

PRODUCER OF THE YEAR: Manoj Punjabi (MD Pictures)

FILM BOX OFFICE TAHUN INI: Pengabdi Setan. ***