• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Pakaian Kekuasaan: Ketika Seragam Pejabat Membangun Jarak Psikologis antara Penguasa dan Rakyat

Pakaian Kekuasaan: Ketika Seragam Pejabat Membangun Jarak Psikologis antara Penguasa dan Rakyat

April 8, 2026
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

Survei SMRC Simulasi Pilpres: Gibran dan AHY Kalahkan Prabowo

October 18, 2026
Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

Meluncur ke Lokasi, Kepala BNPB Kristomei Pimpin Langsung Operasi Penanganan Karhutla Sumsel

October 18, 2026
Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

Kejurnas Menembak Piala PPAD 2026: Dedi Iswanto Juara Eksekutif, PPAL 2 Raih Gelar Beregu Purnawirawan

October 18, 2026
Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

Konflik Timteng Mirip ‘Permainan Biliar’, Pergerakan Bolanya Ditentukan Trump dan Netayanhu

October 18, 2026
Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

October 18, 2026
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 19, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Pakaian Kekuasaan: Ketika Seragam Pejabat Membangun Jarak Psikologis antara Penguasa dan Rakyat

by admin
April 8, 2026
in Kabar
0
Pakaian Kekuasaan: Ketika Seragam Pejabat Membangun Jarak Psikologis antara Penguasa dan Rakyat
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Heri Mulyono, Malang

Di negara-negara demokratis modern, pakaian pejabat publik bukan sekadar urusan estetika; ia adalah bahasa kekuasaan yang berbicara tanpa kata, membangun hierarki, dan secara psikologis menegaskan jarak antara yang memerintah dan yang diperintah.

Busana sebagai Bahasa Kekuasaan

Sejak peradaban Mesopotamia hingga istana-istana Eropa abad pertengahan, pakaian selalu menjadi penanda status. Raja dan kaisar mengenakan jubah, mahkota, dan lambang-lambang kebesaran bukan semata karena kemewahan, melainkan karena pakaian berfungsi sebagai sistem komunikasi nonverbal yang paling langsung. Dalam konteks itu, busana adalah manifesto kekuasaan yang dapat dibaca oleh siapa pun, bahkan oleh mereka yang buta huruf sekalipun.

Psikolog sosial Paul Ekman, yang dikenal melalui penelitiannya tentang komunikasi nonverbal, menegaskan bahwa manusia secara naluriah membaca informasi hierarki dari tampilan fisik lawan bicaranya jauh sebelum sepatah kata pun terucap. Dalam kerangka ini, desain pakaian pejabat yang menyerupai pakaian kebesaran kerajaan bukan anomali budaya semata, melainkan sebuah strategi komunikasi publik yang terencana—atau setidaknya, yang secara tidak sadar mereproduksi logika lama kekuasaan feodal.

Anatomi Pakaian Kebesaran Modern

Fenomena pakaian pejabat yang bercorak ‘kebesaran’ dapat diamati dalam berbagai konteks. Di Indonesia, misalnya, muncul kecenderungan di kalangan pejabat daerah maupun nasional untuk mengenakan pakaian adat dengan aksesori berlapis—selempang, lencana berlapis emas, topi atau destar bermahkota, dan jubah bersulam benang emas—tidak hanya dalam acara seremonial adat, tetapi juga dalam pelantikan jabatan publik, sidang dewan, bahkan kunjungan kerja.

Fenomena ini perlu dikaji melalui lensa psikologi komunikasi. Menurut teori impression management yang dikembangkan sosiolog Erving Goffman dalam karyanya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), individu secara aktif mengelola kesan yang ingin ditampilkan kepada publik. Pakaian adalah salah satu ‘properti panggung’ (stage props) yang paling mudah dimanipulasi. Ketika seorang pejabat secara konsisten hadir dalam balutan pakaian megah dan berlapis atribut kekuasaan, ia sedang mengirim pesan: ‘Saya berbeda. Saya berada di atas.’

Jarak Psikologis: Dari Pelayan Publik ke Penguasa

Psikologi sosial mengenal konsep social distance—jarak sosial yang dirasakan antara dua individu atau kelompok dalam interaksi. Pakaian kebesaran bekerja secara langsung untuk memperlebar jarak sosial ini. Ketika rakyat jelata melihat pejabatnya datang bukan dengan penampilan sederhana seorang pelayan negara, melainkan bak panglima atau raja kecil dalam balutan atribut kebesaran, respons psikologis yang terbentuk bukan rasa dekat atau percaya, melainkan rasa kecil, tunduk, dan jauh.

Penelitian dalam bidang psikologi kekuasaan (power psychology) menunjukkan bahwa simbol-simbol kekuasaan yang berlebihan justru kontraproduktif dalam konteks kepemerintahan demokratis. Profesor Dacher Keltner dari Universitas California, Berkeley, dalam bukunya The Power Paradox (2016), berargumen bahwa kekuasaan sejati dibangun melalui kepercayaan, empati, dan kedekatan—bukan melalui jarak dan intimidasi simbolik. Pemimpin yang terlalu banyak mengenakan ‘mahkota’ justru cenderung kehilangan legitimasi moral di mata masyarakat.

Dalam konteks ini, jarak yang tercipta antara pejabat dan rakyat bukan sekadar jarak fisik atau protokoler, melainkan jarak psikologis yang jauh lebih dalam: jarak antara ‘kami yang memerintah’ dan ‘kalian yang diperintah’. Inilah titik di mana logika kepemerintahan bergeser—dari yang semestinya hubungan pelayan publik dengan konstituen, menuju relasi yang lebih menyerupai tuan dengan hambanya.

Dinamika Majikan–Budak dalam Semiotika Pakaian

Roland Barthes dalam Mythologies (1957) menjelaskan bahwa objek-objek budaya—termasuk pakaian—bekerja melalui dua lapis makna: makna denotatif (literal) dan makna konotatif (ideologis). Denotatif, seragam pejabat adalah kain dan benang. Konotatif, ia adalah sistem tanda yang memproduksi ideologi hierarki. Ketika pakaian pejabat semakin menyerupai pakaian raja, makna konotatif yang diproduksi adalah: si pejabat bukan hanya berbeda secara jabatan, tetapi berbeda secara fundamental dalam derajat kemanusiaannya.

Inilah yang secara psikologis berbahaya. Ketika perbedaan hierarki diperkuat melalui simbol visual yang konsisten dan berlebihan, masyarakat secara perlahan-lahan ter-kondisi untuk menerima relasi tersebut sebagai hal yang wajar—bahkan yang seharusnya. Antonio Gramsci menyebut proses ini sebagai hegemoni kultural: dominasi yang tidak memerlukan paksaan fisik karena telah diinternalisasi oleh pihak yang didominasi sebagai ‘tatanan alami’.

Dalam kerangka itu, dinamika majikan–budak yang terbangun melalui semiotika pakaian bukan merupakan dinamika yang kasat mata dan disadari penuh oleh semua pihak. Rakyat yang setiap hari menyaksikan pejabatnya tampil bak bangsawan, lama-kelamaan tidak lagi mempertanyakan mengapa hak mereka sering diabaikan, mengapa aspirasi mereka tidak didengar, dan mengapa birokrasi terasa begitu jauh dan tidak responsif. Simbol-simbol kekuasaan yang berlebihan itu telah melakukan pekerjaannya: mereduksi ekspektasi rakyat dan membesarkan rasa takut untuk bersuara.

(Foto:malang.go.id)

Pakaian Kebesaran vs. Pakaian Pelayan Publik: Perspektif Komparatif

Perbandingan lintas budaya memberikan kontras yang menarik. Di negara-negara Skandinavia yang secara konsisten menempati peringkat tertinggi dalam indeks demokrasi dan kepuasan publik, pejabat pemerintah—termasuk perdana menteri dan presiden—umumnya hadir dengan pakaian yang relatif sederhana dalam konteks kerja sehari-hari. Penampilan sederhana ini bukan ketidakmampuan, melainkan strategi komunikasi politik yang disengaja: kami adalah bagian dari kalian.

Sebaliknya, di banyak negara dengan praktik korupsi tinggi dan jarak kekuasaan yang besar (high power distance, dalam terminologi Geert Hofstede), pakaian pejabat cenderung semakin elaboratif dan megah. Korelasi ini bukan kebetulan. Hofstede dalam Culture’s Consequences (1980) menunjukkan bahwa masyarakat dengan indeks jarak kekuasaan tinggi lebih menerima hierarki yang tidak setara dan lebih mentoleransi perilaku pejabat yang menonjolkan keistimewaannya—termasuk melalui pakaian.

Indonesia, dengan skor jarak kekuasaan yang relatif tinggi dalam riset Hofstede, berada dalam posisi yang rentan terhadap fenomena ini. Budaya sungkan, ewuh pakewuh, dan hormat kepada yang berkuasa—yang secara tradisional merupakan nilai-nilai positif—dapat dieksploitasi oleh simbolisme pakaian kebesaran untuk mengabadikan relasi hierarkis yang tidak sehat dalam konteks demokrasi modern.

Implikasi bagi Komunikasi Publik dan Tata Kelola

Dari sudut pandang komunikasi publik, desain pakaian pejabat memiliki implikasi yang jauh melampaui urusan protokoler. Ia adalah sinyal pertama yang diterima warga dalam setiap interaksi dengan aparatur negara. Ketika sinyal itu adalah simbol keagungan dan jarak, maka seluruh sesi komunikasi berikutnya—apakah itu pelayanan publik, konsultasi kebijakan, atau dialog warga—telah dimulai dengan kesenjangan psikologis yang dalam.

Para ahli komunikasi pemerintahan menekankan pentingnya apa yang disebut approachability—keterjangkauan—dalam membangun kepercayaan publik. Pejabat yang tampil dengan pakaian yang berlebihan justru menurunkan approachability-nya, sehingga warga yang seharusnya bisa menyampaikan aspirasi dengan bebas, memilih diam karena merasa tidak layak berhadapan dengan ‘sang raja’.

Lebih jauh, ketika pakaian kebesaran menjadi norma dalam pemerintahan, ia menciptakan budaya internal birokrasi yang berbahaya: para aparatur di bawahnya pun belajar bahwa simbol status adalah kunci, bukan prestasi kerja. Ini menggeser fokus dari substansi ke penampilan, dari pelayanan ke representasi diri, dari akuntabilitas ke kemegahan.

Menuju Pakaian yang Demokratis

Bukan berarti pakaian adat atau pakaian formal tidak memiliki tempat dalam konteks kepemerintahan. Dalam acara-acara seremonial yang memang merayakan identitas budaya, pakaian adat yang megah adalah tepat dan perlu. Masalah muncul ketika pakaian kebesaran itu bocor keluar dari konteks seremonial dan menjadi kostum keseharian jabatan—seolah menegaskan bahwa sang pejabat bukan sekadar sedang menghadiri upacara, melainkan memang pada hakikatnya adalah ‘yang dimuliakan’ setiap saat.

Reformasi komunikasi publik melalui pakaian bukan berarti uniformisasi dan penghapusan keragaman budaya. Ia berarti kesadaran bahwa pilihan berpakaian adalah pilihan komunikasi—dan seorang pejabat yang memilih tampil dengan kesederhanaan yang bermartabat pada hari kerja sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih kuat dari selembar selempang emas: bahwa ia hadir bukan sebagai tuan, melainkan sebagai pelayan.

Penutup: Refleksi atas Demokrasi yang Belum Selesai

Pakaian kebesaran pada pejabat publik adalah simptom, bukan penyakit itu sendiri. Ia adalah manifestasi dari mentalitas kekuasaan yang belum sepenuhnya bertransisi dari paradigma feodal ke paradigma demokratis. Selama penguasa masih berpikir bahwa mereka adalah ‘raja’ yang perlu tampak agung, dan selama rakyat masih ter-kondisi untuk menerima jarak itu sebagai kewajaran, maka demokrasi kita adalah demokrasi yang masih mengenakan pakaian kerajaan lama.

Perubahan sejati dimulai dari hal-hal yang paling terlihat. Dan tidak ada yang lebih terlihat dari penampilan. Seorang pejabat yang berani menanggalkan mahkota simbolisnya dan duduk semeja dengan warganya—bukan sebagai belas kasihan, tetapi sebagai tanggung jawab demokratis—adalah pemimpin yang telah memahami bahwa kekuasaan terbesar bukan diukur dari kemegahan pakaian yang dikenakannya, melainkan dari kepercayaan yang diberikan oleh orang-orang yang dilayaninya. *

Referensi Utama:

Barthes, Roland. Mythologies. Paris: Éditions du Seuil, 1957. | Goffman, Erving. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday, 1959. | Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. London: Lawrence & Wishart, 1971. | Hofstede, Geert. Culture’s Consequences. Beverly Hills: Sage Publications, 1980. | Keltner, Dacher. The Power Paradox. New York: Penguin Press, 2016.

Tags: busana sebagai bahasa kekuasaanpakaian kekuasaanseragam pejabat
Share196Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

Polda Jabar Ungkap Sindikat Obat Keras di Bandung, Temukan Mesin yang Mampu Produksi 8 Juta Pil per-Hari

October 19, 2026
LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

LDKI JAYA Desakan Proses Hukum Dugaan Penyelundupan Pasal 18 Ayat 3 PKPU No 19 Tahun 2024

October 19, 2026
Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

Malam Spiritual di Samosir, Oscar Habeahan Ungkap Peringatan tentang Wabah dan Pesan Kebenaran

October 19, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version