Astaga, Menteri Susi Perlu Nunggu Usia 54 untuk Bisa ke Monas

ASTAGA!!! Kebangetan  atau ‘katrok’, terserah Anda untuk menilai Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, yang nyatanya ia harus menunggu usia 54 tahun untuk kesampaian berwisata ke Tugu Monas.

Lewat akun twitternya, Rabu (13/2/2019) Susi berbagi kegembiraannya bisa berkumpul kembali dengan ibu-ibu dari Muara Gembong, Bekasi. Pastinya, mereka adalah keluarga nelayan. Nelayan plus, karena mereka terampil dalam mengolah limbah plastik menjadi barang kerajinan yang bernilai ekonomi baik.

“Apresiasi untuk ibu2 di Muara Gembong daur ulang plastic kopi jadi tikar cantik. Minggu depan saya ajak mereka piknik ke monas,” demikian ujar Susi di akun twitternya  pada Rabu (30/1/2019).

Dalam video yang diunggah di twitter, tampak  Susi  duduk di sebuah warung. Dia kagum dengan tikar yang ada di warung tersebut. Tikar tersebut ternyata dibuat dari bekas bungkus kopi. Tatkala mendapat sentuhan terampil ibu-ibu, jadilah sebuah tikar nan cantik.

Hari ini Susi menepati janjinya untuk mengajak pelesir ibu-ibu dari Muara Gembong. Melalui akun twitternya, Menteri Susi mengabarkan suka citanya bersama ibu-ibu dari pantai utara Bekasi itu.

Video lain yang dibangikan Susi, menggambarkan momen lain para tamunya yang berkunjung ke Monas tersebut.

Kantor Kementrian KKP, sebenarnya tidak seberapa jauh dari Tugu Monas. Bisa dibilang cuma sepelemparan batu, karena posisinya berseberangan. Tapi kesibukan Susi pada masa lalu sebagai pengusaha dan kemudian di pemerintah, membuat ia tidak sempat untuk mengunjungi sebuh monumen kebanggaan kota Jakarta yang dibangun oleh Bung Karno tersebut.

Tugu Monas merupakan salah satu tujuan wisata di Jakarta yang murah meriah. Pada hari Sabtu atau Minggu, sangat ramai dikunjungi masyarakat. Untuk yang berminat naik ke puncak Monas, Anda harus datang pagi-pagi, agar kebagian tiket untuk naik ke puncak. Kalau tidak kebagian, apa boleh buat Anda hanya bisa menikmati Monas sampai di cawannya saja.

Jangan khawatir, itu pun menarik.

Jangan khawatir!!

Keindahan Tersembunyi Pantai Drini

Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta yang mempesona. (foto: monang s)

JAYAKARTA NEWS – Mengunjungi destinasi wisata yang ada di suatu daerah merupakan hal yang sangat menyenangkan, apalagi perjalanannya dilakukan bersama-sama keluarga, teman dan lainnya. Hal ini dirasakan rombongan keluarga Jayakarta News ketika mengunjungi Pantai Drini. Sebuah rangkaian acara “Jayakarta News Tour de Jogja”, tanggal 1 – 4 Februari 2019.

Pantai Drini merupakan salah satu dari puluhan destinasi wisata pantai yang ada di Yogyakarta. Letaknya di sebelah timur pantai Baron berjarak sekitar 1 km ke arah timur Pantai Sepanjang tepatnya berada di Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul.

Pantai ini jaraknya lebih kurang 50 km dari Kota Yogyakarta dan dapat ditempuh dengan perjalanan 2 jam kurang lebih jika menggunakan mobil.

Jalan menuju Pantai Drini cukup mulus. Dari Kota Yogya, perjalanan ditempuh menuju timur melewati Jl. Wonosari lalu Piyungan. Setelah itu perjalanan mulai menanjak naik ke perbukitan kapur. Banyak pohon jati di kiri maupun kanan jalan. Ada juga sawah sawah yang ditanami jagung. Gambaran tentang Gunungkidul yang dulu zaman Orde Baru sering diberitakan tandus dan  termasuk daerah terbelakang, sama sekali tidak tampak. Yang ada adalah Gunungkidul yang hijau dan tampak subur. Sejauh mata memandang, kanan kiri serta depan terlihatp indah.

Walaupun jalan masuk menuju pantai ini sedikit terjal dan berkelok-kelok, namun sungguh membuat perjalanan makin menarik. Pantai Drini merupakan salah satu pantai selatan Pulau Jawa yang langsung berhadapan dengan

Samudera Hindia. Bibir pantai merupakan batu batu karang yang lumayan curam sekitar 10 derajat. Sebagaimana pantai pantai di Gunungkidul, Pantai Drini merupakan bagian bukit karst dari Gunung Sewu.

Sebelum mencapai Pantai Drini terlihat beberapa penunjuk arah ke destinasi lainnya. Di persimpangan Jalan Daendels ada petunjuk jalan ke kiri arah Pacitan dan ke kanan arah Pantai Parangtritis.

Bowo, sopir bis wisata yang membawa rombongan mengatakan, kalau sudah sampai Pantai Drini, maka ada banyak pantai lain yang bisa dikunjungi karena lokasinya berdekatan. Di antaranya Pantai Sepanjang, Watu Kodok, Kukup, Baron, Sundak, Sadranan, Pantai Pulang Sawal yang lebih dikenal sebagai Pantai Indrayanti. “Di atas Pantai Drini ada Puncak Kosa Kora yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki lebih kurang 30 menit,” kata Bowo yang sudah lima tahun menggeluti profesi sopir bis wisata, Minggu (3/2/2019).

Penulis (Monang Sitohang) di landmark Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta. (foto: dokpri)

Setiap pengunjung ke kawasan pantai-pantai tersebut dikenakan retribusi Rp 10.000. Selain pemandangan yang aduhai, banyak yang bisa dilakukan pengunjung. Di pantai ini ada pasar ikan, sehingga pengunjung bisa berbelanja ikan laut yang masih segar. Ada juga perahu perahu kecil yang disewakan Rp 50 ribu perhari. Namun tarif itu bisa turun jadi Rp 30.000 jika sepi pengunjung.

Minum es kelapa muda di gazebo pinggir pantai juga menarik untuk dilakukan. Gazebo ini disewakan bagi pengunjung yang membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Namun, pengunjung yang membeli makanan dan minuman di warung warung pinggir pantai, tak perlu bayar sewa bila ingin bercengkerama di gazebo.

Pantai Drini airnya bersih, ditambah dengan hamparan pasir putih yang mempesona dan aliran airnya juga tenang. Pantai ini memiliki sebuah tebing besar yang berada di tengah-tengah pantai dan membagi pantai ini menjadi dua sisi, yaitu sisi barat dan sisi timur. Tebing ini terlihat begitu indah, membuatnya seolah-olah seperti pulau kecil yang terapung di tengah pantai.

Di pantai ini pengunjung juga dapat melihat dengan jelas rumput-rumput laut di antara karang-karang laut dan biota laut lainnya. Saat air laut surut, banyak penduduk setempat memanen rumput laut yang tumbuh alami. Rumput laut itu mereka keringkan lalu dijual ke pengunjung.

Masyarakat di sekitar Pantai Drini juga kreatif. Mereka membangun jembatan bambu di pinggir pinggir bukit karang, sehingga pengunjung bisa menikmati pemandangan lain yang sangat indah. Beberapa spot foto tersembunyi yang sangat indah bisa dibidik melalui jembatan bambu tersebut. (Monang/Laksmi)

Indahnya Pantai Drini. (foto: monang s)

Alila SCBD Jakarta Bersiap untuk Debutnya di Indonesia

Hotel Alila SCBD Jakarta kini tengah bersiap-siap untuk melakukan debutnya di Indonesia pada hari Rabu 6 Februari 2019.

Terletak di sebelah Bursa Efek Indonesia (BEI) –tepatnya di SCBD Lot 11 Jl. Jenderal Sudirman Kavling 52-53, Senayan, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta—  hotel bintang lima ini adalah menempatkan dirinya sebagai surga bagi kecanggihan kontemporer dengan fasilitas kamar sebanyak 227 studio dan suite yang penuh gaya, dilengkapi dengan ruang acara nan inovatif, kolam renang, pusat kebugaran dan pastinya juga tersedia Spa Alila.

Alila SCBD cukup menyolok berada di kawasan bisnis tersebut,  dengan tampilan arsitektur desain yang unik, karya IAW yang berbasis di Bangkok.

Konon, desainnya hotel ini terinspirasi oleh bentuk situs yang tidak teratur dan mirip sepatu bot, yang menghasilkan podium panjang dan menara berbentuk berlian.

Hal yang mencolok di hotel ini adalah pola unik tumpang tindih antara aluminium dan kanopi, yang menciptakan garis dan bayangan dan rasa ilusi bagi orang yang lewat.

Bentuk dinamis bangunan ini sesuai sekali dengan kamar-kamar yang disediakan untuk tamu dalam berbagai konfigurasi, semua dengan jendela gambar yang memukau, kamar mandi yang mewah, dan desain modern.

Soal interior, hotel ini menggunakan pendekatan  minimalis ala  Alila, dimana saling coba dipadupadankan dengan karya seni asli yang pas untuk kebutuhan “retret” ala perkotaan.

Begitu Anda tiba di luar pintu masuk ke hotel, sebagai tamu  Anda disambut oleh Orbital of Joy, sebuah karya seni besar yang dipasang di dinding yang dibuat oleh duo seniman yang berbasis di Yogyakarta, Indieguerillas.

Bentuk orbital melingkar dari karya kontemporer ini merepresentasikan siklus atau perjalanan yang berkelanjutan. Enam karakter yang membentuk karya tersebut mewakili wisatawan dalam perjalanan pribadi mereka.

Saat Anda melangkah ke dalam lobi besar, hotel ini memperlihatkan instalasi seni dramatis berjudul Birds, Bats and Butterflies (Burung, Kelelawar, dan Kupu-kupu), yang diciptakan oleh arsitek dan seniman kelahiran Australia Richard Hassell. Seniman dan arsitek ini  adalah salah satu pendiri WOHA Architects.

Lukisan ini  terdiri dari serangkaian tiga dimensi burung, kelelawar dan ubin aluminium berbentuk kupu-kupu dalam berbagai ukuran, mulai dari 80cm hingga 400cm, dipasang di dinding atau digantung di langit-langit.***

Pilih Google Flights, Skyscanner, Kayak atau Expedia?

 

SEBENARNYA tidaklah mengherankan  ketika Google, mesin pencarian terbesar di dunia,  hadir  dengan tool (alat)  yang memberi informasi perbandingan untuk penerbangan mereka sendiri, ketika Google Flights diluncurkan di Singapura,  Desember 2018 lalu.

Lagipula, pesaing agregator perjalanan seperti Skyscanner, KAYAK, dan Expedia hanyalah “mesin pencari untuk penerbangan”, bukan? Agregator perjalanan ini menjelajahi ratusan kesepakatan maskapai penerbangan, menyusun yang termurah di platform mereka.

(Kamu tahu … Seperti apa yang kita lakukan, kecuali untuk penerbangan.)

Jadi bagaimana Google Flights dibandingkan dengan para pesaingnya? Apakah mereka lebih murah? Apakah mereka memiliki kode promo?

Mari selidiki.

Apa itu Google Flight?

Seperti disebutkan di atas, Google Flights adalah situs agregator perjalanan yang dijalankan oleh Google.

Anda dapat menggunakannya seperti alat perbandingan lainnya – dengan mencari penerbangan yang Anda inginkan secara langsung di Google.com/flight – atau Anda cukup mengetik “penerbangan ke Tokyo” atau yang serupa di bilah Google Anda.

Seperti para pesaingnya, filter pencarian dasar mencakup maskapai dan waktu penerbangan pilihan, jumlah pemberhentian, dan kisaran harga. Anda juga dapat “menyimpan” pencarian Anda dengan memilih untuk melacak harga rute yang Anda inginkan.

Tinggalkan saja email Anda, dan Anda akan mendapatkan pembaruan dari setiap perubahan signifikan dalam harga tiket untuk jadwal penerbangan pilihan Anda.

Akankah histori pencarian  di Google mempengaruhi harga di Google Flights?

Seperti yang mungkin Anda ketahui, harga penerbangan sangat fluktuatif. Bandingkan harga hari ini, periksa kembali besok, dan kemungkinan, harga tiketnya tidak akan sama dengan ketika Anda pertama kali mencari mereka.

Ada banyak teori tentang algoritma apa yang digunakan situs pemesanan ini, dan sebagian besar tampaknya meyakini bahwa harga tiket dipengaruhi oleh cookie yang dikumpulkan oleh situs. Artinya, jika Anda menghabiskan seminggu terakhir memeriksa harga tiket untuk tujuan tertentu, situs agregator akan “mengingat” dan menaikkan harganya.

Dan itu hanya untuk agregator perjalanan reguler. Dengan Google juga menjalankan mesin pencari yang mungkin Anda gunakan setiap hari, ada kekhawatiran tambahan bahwa hasil Penerbangan Google Anda mungkin dipengaruhi oleh riwayat pencarian Anda.

“Apakah tiket ke Tokyo akan lebih mahal karena aku sudah terlalu terobsesi mencari perkiraan tanggal sakura mekar tahun 2019 ?!”

Untuk menjawab pertanyaan Anda, kami tidak tahu apakah Google Flights akan memanfaatkan riwayat pencarian Anda. Dan kita tidak akan pernah tahu pasti, ya.

Saya kira  tidak perlu  terlalu khawatir – ini bukan masalah karena meskipun taktik curang itu adalah praktik industri, Anda dapat dengan mudah menghindari masalah dengan berselancar incognito.

Diskriminasi harga dinamis adalah hal yang nyata dalam industri penerbangan, tetapi harga biasanya disesuaikan berdasarkan faktor umum seperti berapa banyak kursi yang tersisa dan seberapa awal Anda memesan tiket pesawat (karena permintaan vs pasokan). Jangan terlalu paranoid.

Jika Anda bertanya kepada saya, saya akan mengatakan bahwa kemungkinan besar pada saat Anda memeriksa, kursi baru saja terisi, sehingga menyebabkan harga lebih tinggi.

Apakah Google Flights lebih murah dsri Skycanner, Expedia dan Kayak?

Situs perbandingan penerbangan bukanlah hal baru – bahkan sebelum Google Flights  ada di pasar Singapura, kita  biasa menggunakan platform lain seperti Skyscanner, Expedia, dan KAYAK untuk mencari penerbangan murah. Dari segi fungsi, tidak ada yang terlalu istimewa tentang Google Flights. Jadi tentang apa hype ini?

Mari kita periksa dulu apakah ada perbedaan harga tiket di keempat agregator teratas ini. Untuk contoh ini, saya memilih perjalanan kembali ke Tokyo (bandara mana saja) untuk 2 orang, hanya penerbangan langsung, dari 26 Maret hingga 9 April 2019.

 

 

Seperti yang diharapkan, keempat agregator menarik penerbangan yang sama dari Delta Air Lines sebagai kesepakatan termurah saat itu. Google Flights, KAYAK, dan Skyscanner memiliki harga yang sama sebesar $ 1.321 ($ 660.50 per orang), tetapi untuk beberapa alasan aneh, Expedia menjual tiket yang sama dengan harga 22 persen lebih banyak ($ ​​1.620 untuk 2 orang).

Dengan pengecualian dari Expedia, saya pikir aman untuk mengasumsikan bahwa jika Anda menggunakan agregator perjalanan, harga tiket pesawat seharusnya tidak terlalu bervariasi. Lagi pula, saya berharap mereka semua mengorek informasi dari situs web maskapai besar yang sama.

Jika Anda kiasu tambahan, maka cukup periksa 1 atau 2 situs pemesanan lainnya.

Apakah ada kode promo penerbangan di Google Flights?

Kalau kita coba telusuri,  sepertinya tidak ada.

Ini adalah keluhan utama  dengan Google Flights: Walaupun harga tiketnya kompetitif, mereka tidak memiliki diskon atau promosi.

Memang, situs perbandingan penerbangan lainnya tidak dapat memberikan Anda diskon langsung pada tiket pesawat Anda, tetapi sebagian besar platform ini juga memiliki layanan pemesanan hotel dan / atau penyewaan mobil, sehingga mereka dapat menawarkan bundel diskon.

Jadi sungguh, “ekstra” apa yang dibawa Google Flights ke game pemesanan perjalanan online?

Tidak banyak, TBH.

Bukannya Google Flights adalah layanan yang buruk, itu bukan hal baru. Jika Anda adalah tipe yang seluruh hidupnya dicatat di Google – gmail, kalender Google, dll – maka Anda mungkin lebih suka menggunakan Google Flights daripada ke situs lain. Ada lebih sedikit iklan dan warna yang menggelegar, untuk satu hal.

Plus, Anda dapat mengintegrasikan semuanya ke dalam Google Trips.

Jika Anda memutuskan untuk menggunakan Google Flights, baca terus untuk beberapa tips tentang mencetak tiket termurah di Google Flights.

Bagaimana kita dapat menemukan penerbangan yang  termurah di Google Flights?

Cara terbaik untuk menemukan penawaran murah adalah dengan memanfaatkan wawasan penerbangan. Setelah Anda memasukkan tujuan, jumlah penumpang dan tanggal perjalanan, Google Flights akan menampilkan bagian “wawasan penerbangan” bersama dengan hasil Anda. Inilah cara Anda dapat memanfaatkan yang terbaik dari mereka.

1. Gunakan “tips” untuk memutuskan kapan memesan penerbangan Anda.

Google Flights memiliki alat wawasan “tips” yang menawarkan rekomendasi umum untuk dilakukan dengan rencana perjalanan penerbangan Anda. Mereka memberi tahu Anda jika harga diharapkan meningkat, dan jika harga lebih rendah dari biasanya.

Ini adalah 3 “gradasi” dan artinya:

 

Bukannya Google Flights adalah layanan yang buruk atau buruk, itu bukan hal baru. Jika Anda adalah tipe yang seluruh hidupnya dicatat di Google – gmail, kalender Google, dll – maka Anda mungkin lebih suka menggunakan Google Flights ke situs lain. Ada lebih sedikit iklan dan warna yang menggelegar, untuk satu hal.

Plus, Anda dapat mengintegrasikan semuanya ke dalam Google Trips.

Jika Anda memutuskan untuk menggunakan Google Flights, baca terus untuk beberapa tips tentang mencetak tiket termurah di Google Flights.

 

2. Jadilah fleksibel dengan tanggal perjalanan Anda dan biarkan “grafik harga” merekomendasikan yang lebih murah.

Google Flights juga memiliki fungsi grafik harga yang menampilkan tarif dan tren menurut bulan atau minggu. Ini bagus untuk mereka yang tidak memiliki tanggal perjalanan tertentu dalam pikiran, mungkin hanya gagasan kasar tentang waktu dalam setahun yang ingin mereka kunjungi.

Misalnya, jika Anda tahu ingin bepergian selama liburan Juni – cukup lihat grafik harga Juni dan pilih tanggal termurah untuk tujuan pilihan Anda.

3. Pertimbangkan bandara alternatif (mis. Lebih murah).

Selain fleksibel dengan tanggal perjalanan, menjadi “chin-cai” dengan bandara juga dapat menghemat uang. Saat Anda mencari rute penerbangan, Google Flights akan mencantumkan bandara alternatif terdekat, beserta harganya.

Anda mungkin menemukan bahwa memilih bandara kecil lebih jauh dari kota lebih murah.

4. Gunakan fungsi “jelajahi” untuk memutuskan ke mana harus pergi.

Jika di atas tidak memiliki tanggal perjalanan yang tetap Anda juga tidak memiliki tujuan mati-mati-harus-pergi, Anda dapat mencoba keberuntungan Anda dengan fungsi jelajahi.

Cukup masukkan bulan perjalanan Anda dan Google Flights akan menemukan tiket pesawat termurah. Dari sana, pilih tujuan pilihan Anda yang sesuai dengan anggaran Anda.

KESIMPULAN: Apakah kita harus menggunakan Google Flights?

Secara umum, Google Flights mudah digunakan, dan bekerja dengan baik dalam membantu wisatawan menemukan penawaran penerbangan murah. Saya menemukan filter dan alat yang mudah digunakan serta sangat intuitif – saya tidak memiliki masalah dalam menjelajahi situs.

Kami  juga lebih suka desain Google Flight yang bersih, tanpa basa-basi, daripada beberapa pesaingnya yang mengganggu, antarmuka yang banyak memuat foto. Tapi itu hanya aku lah.

Plus, mereka bekerja dengan lebih dari 300 mitra perjalanan dan maskapai, yang merupakan berita sambutan, karena agregator hanya sebagus jumlah mitra yang mereka miliki, bukan?

Jika Anda bisa menghargai semua itu, Google Flights adalah situs agregator penerbangan yang cukup bagus; terutama jika Anda berniat untuk sofa selancar (atau memesan AirBnB) dan tidak memerlukan layanan paket lain (seperti hotel, penyewaan mobil, dll).

Namun, jika Anda memang membutuhkan menginap di hotel atau roda untuk berkeliling, Anda mungkin menemukan nilai lebih baik dalam pemesanan melalui situs perjalanan all-in-one seperti Skyscanner, KAYAK dan Expedia dengan menggunakan kode promo.

BONUS: Kartukredit apa yang perlu kita gunakan pada penerbangan kita?

Kelompok kartu kredit pertama yang dapat Anda  pilih adalah kartu air miles. Kami  memesannya ketika  sudah di luar negeri, menggesekkan dalam mata uang asing untuk bonus miles akrual.

Satu-satunya pengecualian adalah jika kartu miles memiliki promosi berjalan dengan situs agregator perjalanan, seperti Expedia misalnya. Tetapi ini tidak akan pernah terjadi untuk Google Flights karena akan mengarahkan Anda ke halaman maskapai dan / atau mitra untuk memesan.

Jika Anda ingin menghabiskan mil, pertimbangkan kartu hadiah sebagai gantinya. Mereka juga memungkinkan Anda menukar poin hadiah dengan miles, dan biasanya memiliki tingkat penghasilan yang lebih baik. Tidak banyak menawarkan hadiah bonus yang dihasilkan untuk pemesanan perjalanan, tetapi DBS Woman’s Card memberi Anda 5X poin penghargaan ($ 1 = 2 mil) bahkan pada pemesanan penerbangan online. Perhatikan bahwa pengeluaran dibatasi $ 1.000.

Secara pribadi, kami akan menggunakan kartu CIMB Visa Signature. Ia menawarkan potongan harga 10 persen untuk pengeluaran online, termasuk penerbangan dan pemesanan terkait perjalanan lainnya. Namun cashback (untuk kategori belanja online) dibatasi pada $ 50, jadi itu sangat berharga jika Anda menggesekkan harga tiket di bawah $ 500.***

Lupakan Paris, Selfie Berlatar Menara Eiffel Cukup di Boyolali

KREATIF! Banyak cara menjadikan sebuah kota menjadi madu bagi pelesiran para turis –baik lokal maupun manca negara– seperti yang ditempuh Boyolali. Tidak tanggung-tanggung, tiga icon dunia diduplikasi untuk memenui dahaga selfie generasi milenial. Mereka yang lebih senior pun, tak malu-malu untuk ambil foto swadiri dengan latar icon imitasi yang disediakan Boyolali.

Benar. Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam ongkos ke Paris, jika Anda cuma ingin selfie, pamer di akun instagram bahwa Anda tengah liburan ke Paris. Datang ke Boyolali, lalu take foto di depan Menara Pisa!

Anda yang jalan-jalan ke Kota  Boyolali di Jawa Tengah, kini ditawarkan sensasi untuk mendapatkan tiga ikon dunia sekaligus yang ada di Taman Tiga Menara, bundaran Asrikanto.

Terbuat dari keramik, tiga ikon miniatur yang disediakan Boyolali adalah  Patung Liberty, Menara Eiffel dan Menara Miring Pisa.

Selain  Taman Tiga Menara yang diresmikan pada 25 Oktober 2018 lalu, di Boyolali juga  terdapat dua  monumen, yakni – Tumpeng Merapi (Nasi berbentuk Kerucut Merapi) dan Susu Murni.

Keunikan yang ditawarkan di Boyolali itu membuat Taman Tiga Menara ramai dikunjungi wisatawan lokal. Warga biasanya mulai memadati kawasan taman tersebut sekitar pukul 3:30 sore.  Para pengunjung juga dapat menemukan berbagai makanan dan minuman yang dijajakan para pedagang di kawasan taman tersebut.

Asyiknya, untuk mendapatkan akses selfie taman dengan tiga duplikat icon dunia itu, Anda tidak perlu membayar tiket. Cukup ongkos buat parkir motor atau mobil saja.  Dahsyat kan?

Kreatif! Murah meriah, dan Anda sudah bisa pamer di akun IG lagi berada di depan Menara Pisa.***

Maskapai Berciri Pramugari Berbikini akan Layani Ho Chi Minh – Denpasar


RENCANA Vietjet Air yang akan melayani penerbangan langsung Kota Ho Chi Minh (HCMC) ke Jakarta, segera memunculkan pertanyaan sensitif, mengingat maskapai berkantor pusat di Vietnam itu dikenal dengan daya tarik menampilkan pramugari dengan pakaian bikini.

Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah layanan penerbangan ke Jakarta, Ibukota  negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia tersebut, juga dengan standar yang sama. Artinya, apakah Vietjet Air juga akan membawa pramugari dengan pakaian ala kadarnya itu.

Kalau otoritas Indonesia mengijinkan, sudah barang pasti akan memimbulkan kontroversi di masyarakat. Belum lagi di tahun politik seperti sekarang ini, hal itu pasti akan menjadi makanan empuk bagi kelompok penantang petahana dalam Pilpres. Pasti, kalau diijinkan ada parsyaratan tertentu.

Setelah berjuang cukup lama untuk dapat melayani penerbangan langsung ke Indonesia, Vietjet Air akhirnya dapat ijin dari otoritas penerbangan di tanah air.  Layanan penerbangan Vietjet ada diawali layanan penerbangan dari Ho Chi Minh City ke Denpasar pada Maret mendatang. Untuk layanan Ho Chi Minh City – Jakarta baru akan dilaksanakan pada akhir tahun 2019 ini.

Itu karena, sementara rute Indonesia mereka masih belum terwujud, maskapai yang berbasis di Vietnam mengatakan akhirnya meluncurkan rute ke Indonesia, dimulai dengan penerbangan HCMC – Denpasar pada Maret diikuti oleh penerbangan HCMC – Jakarta, sebelum akhir tahun ini.

“Untuk enam bulan pertama, kami akan membuka empat penerbangan per minggu, dan kemudian kami akan terus membuka penerbangan harian,” kata Managing Director VietJet Air, Do Xuan Quang. Penerbangan HCMC – Denpasar akan membutuhkan waktu  3,5 jam.

Maskapai berbiaya rendah asal Vietnam ini, telah mendapat ijin dari kementrian perhubungan Indonesia.  Ijin itu diberikan dengan catatan, selama  mereka meninggalkan bikini di rumah.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan, pihaknya mensyaratkan pramugari Vietjet  untuk tidak mengenakan bikini. “Pramugari berpakaian bikini di pesawat  dianggap tidak pantas di Indonesia,” ujar Menteru  Perhubungan.

Sebenarnya, pakaian bikini bagi pramugari Vietjet juga bukan seragam reguler. Pakaian tersebut hanya dikenakan  untuk acara-acara khusus. Sekalipun demikian, pemerintah Vietnam pun bahkan telah menegur maskapai tersebut untuk tidak mengginakan hal itu dalam promosi mereka.

Tapi bisa diduga, promosi provokatifnya telah menyedot pelanggan baru. Public relation yang dimainkan Vietjet, telah mendongkrak jumlah pelanggan. Setalah promo pramugari berbikini, maskapai berbiaya rendah itu merebut  40 persen pangsa pasar domestik Vietnam pada 2018. Sukses itu telah menempatkan  CEO Vietjet  Nguyen Thi Phuong Thao, miliarder wanita pertama di negara.***

Alogaritma Baru Tingkatkan Keamanan Penerbangan

 

SEBUAH riset  Eropa, TBO-Met (Meteorological Uncertainty Management for Trajectory Based Operations/ Manajemen Ketidakpastian Meteorologi untuk Operasi Berbasis Trajektori) tengah mengembangkan algoritma untuk memaksimalkan prediktabilitas penerbangan dan mengurangi risiko menabrak badai yang berpotensi berbahaya.

Algoritma ini dapat meningkatkan keamanan, meningkatkan keamanan dalam berlalu lintas di udara dan mengurangi penundaan penerbangan.

Yang menarik,  penelitian ini akan mencoba untuk menjawab mengenai kendala cuaca yang sampai  sekarang masih sulit diprediksi.

Masalah cuaca selama ini telah  menimbulkan masalah bagi manajemen penerbangan, yang membutuhkan peramalan yang efisien untuk dapat menjamin kelancaran arus lalu lintas.

Untuk itu para peneliti dari proyek TBO-Met, telah mengembangkan algoritma yang —setelah diterapkan pada rencana penerbangan— memungkinkan untuk memprediksi dan meningkatkan keamanan lalu lintas udara dengan mempertimbangkan ketidakpastian ramalan cuaca.

Jelas, kemajuan ini akan meningkatkan kemampuan sistem untuk menangani sejumlah besar pesawat sekaligus.

“Dampak dari ramalan cuaca dan ketidakpastian yang terkait dengan penerbangan sangat tinggi,  sekitar 20 dan 30 persen penundaan di Eropa terkait dengan cuaca, dengan perkiraan kerugian sekitar 180-200 juta euro per tahun, ” jelas Manuel Soler Arnedo, kepala proyek TBO-Met di Universidad Carlos III de Madrid.

Pada 2017, kondisi cuaca ekstrem telah menyebabkan penundaan waktu 2,1 juta menit dan kerugian 215 juta euro.

Menurutnya, TBO-Met bertujuan untuk mengoptimalkan lintasan pesawat agar tidak terjadi masalah dengan keselamatan dan keterlambatan penerbangan. Para peneliti mempelajari kondisi cuaca yang sulit diprediksi, seperti hujan es, penumpukan es yang parah dan kilat, yang dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada pesawat terbang.

Proyek ini difokuskan pada pemahaman, karakterisasi, dan pengurangan ketidakpastian. Untuk ini, para peneliti memfokuskan pada analisis permintaan sektor dalam hal jumlah pesawat yang harus beroperasi, dan perencanaan lintasan, dengan mempertimbangkan ketidakpastian ramalan cuaca dan aktivitas badai.***

Keukenhof, di Mana Tulip-tulip Bermekaran

Kumpulan bunga tulip di salah satu sudut Keukenhof. (foto: Suzy Erlangga)

Berkunjung ke Belanda, identik dengan melihat bunga tulip dan kincir angin (windmill). Berbicara tentang tulip di Belanda tidak terlepas dengan nama Taman Keukenhof. Sebuah taman bunga seluas 32 Ha di daerah Lisse, dekat Leiden, Belanda.

Tidak kurang dar 800 varitas bunga tulip dengan jumlah bunga sekitar 7 juta tangkai ditanam apik di kebun ini. Taman musim semi bersejarah ini dibangun tahun 1857 sebagai bagian dari istana Keukenhof. Yang mempunyai arti dalam bahasa Belanda, kebun dapur.

Aneka warna tulip dengan latar belakang kincir angin. (foto: Suzy Erlangga)
Bunga tulip setengah merkar. (foto: Suzy Erlangga)
Beberapa macam bunga Lily menghiasi taman Keukenhof. (Foto: Suzy Erlangga)

Mengunjungi Belanda antara bulan Maret sampai pertengahan bulan Mei atau musim semi adalah waktu yang paling tepat. Sedangkan bulan April merupakan puncaknya. Di April itu pula, bunga tulip bermekaran. Aneka warna dan bentuk tulip bermunculan di negara yang juga terkenal dengan wisata airnya.

Tidak saja menikmati keindahan taman dengan bunga tulip yang warnanya sangat beragam tetapi juga bunga lainnya. Seperti bunga Narcussi, Daffodil, Rose, dan Lily.

Beragam bunga ditata apik di taman-taman dan sekitar kolam dengan aneka warna yang berselang-seling sangat menyejukkan mata, dengan cuaca yang sejuk pula. Jaminan akan betah berlama-lama menyaksikan panorama yang sangat indah.

Tiket masuk ke Kebun Keikenhof yang setiap tahunnya mempunyai tema berbeda, dewasa dikenakan biaya sekitar 16 Euro, anak 8 Eur dan di bawah 3 tahun gratis. Jika Anda datang dengan rombongan tentu lebih murah.

Sebenarnya tanaman tulip berasal dari Asia Tengah dan Turki, namun lebih terkenal di Belanda lantaran kreativitas para petaninya. Di Keukenhof Anda bisa melihat beragam bunga tulip tetapi tidak bisa melihat hamparan seperti karpet atau kebun bunga sungguhan.

Kalau ingin melihat kebun bunga tulip yang ditanam para petani Anda harus ke kebun tulip milik petani di wilayah Noordwijk,  dan Sassenheim, Enkhuzen , Andijk dan Bovenkarspel. Konon Anda bisa melihat dengan gratis.

Anda harus ingat bahwa bunga-bunga bermekaran hanya di musim semi. Jika Anda datang “salah musim”, maka yang ditemukan hanya gerbang Keukenhof yang sudah ditutup. Taman bunga ini hanya buka kurang lebih selama 8 minggu. So rencanakan perjalanan Anda dengan matang. (rh)

“Flower Power”, tema Keukenhof tahun 2019. (foto: istimewa)
Empat wanita cantik menikmati indahnya bunga bermekaran di Keukenhof. (foto: Suzy Erlangga)

Jalan-jalan ke Bandung, “Cobain” Swiss-Belresort Dago Heritage

JARINNGAN Swiss-Belhotel International telah  membuka resor terbarunya dengan menyusul soft opening Swiss-Belresort Dago Heritage, Bandung.

Untuk tujuan liburan ke Bandung, warga Jabodetabek dan dari mana pun, kini tersedia pilihan baru tempat untuk menginap di Bandung, tepatnya ada di kawasan Dago, dengan dibukanya Swiss-Belresort Dago Heritage, Bandung.

Berlokasi di  kawasan Dago Atas, Swiss-Belresort Dago menjadikan resor ini sebagai  properti Swiss-Belresort pertama di Jawa.

Hotel ini terletak di dalam kompleks Lapangan Golf Dago Heritage, yang dibangun pada tahun 1917 dan merupakan salah satu lapangan golf tertua di Indonesia.

“Kami mengidentifikasi potensi Bandung sebagai tempat untuk mengembangkan Swiss-Belresort pertama kami di Jawa Barat,” kata Emmanuel Guillard, wakil presiden senior operasi dan pengembangan Swiss-Belhotel International untuk Indonesia, Malaysia, Kamboja.

“Bisnis dan pariwisata berkembang pesat di kota ini dengan sejumlah bangunan baru yang mengesankan sedang dalam pembangunan,” kata  Guillard.

“Bandung juga mudah diakses dengan berbagai pilihan transportasi dari Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia, terutama dengan bandara untuk melayani penerbangan langsung baik lokal maupun  internasional ke kota.”

Menurut Guillard, Swiss-Belresort Dago Heritage memiliki 161 kamar dengan berbagai fasilitas berstandar internasional termasuk restoran, lobby lounge dan bar, fasilitas pertemuan, dan akses mudah ke Lapangan Golf Dago Heritage.

“Selain Bali dan Jawa, kami juga merencanakan lebih banyak proyek dan pembukaan Swiss-Belresort di tujuan lain di seluruh Indonesia, termasuk Pulau Belitung,” kata ketua Swiss-Belhotel International, Gavin Faull.

“Merek Swiss-Belresort dirancang untuk memberikan pengunjung resor bernilai uang di destinasi terbaik, dan untuk menawarkan layanan dan fasilitas berstandar internasional dengan akses mudah ke pilihan rekreasi dan pilihan rekreasi yang menarik,” tandasnya, ***

Ingat Anas, Shangrila dan Lijiang

Dahlan Iskan–foto instagram dahlan

Oleh: Dahlan Iskan

Jangan bangun hotel bintang  tiga. Di Banyuwangi. Apalagi bintang 2. Atau bintang 1. Lebih-lebih hotel kelas melati.

Bupati Banyuwangi tidak akan memberi ijin: Azwar Anas.

Bangun saja hotel bintang empat. Atau bintang lima. Atau bintang sembilan. Kalau ada.

Anas punya keinginan lain: mengembangkan home stay. Agar masyarakat umum ikut menikmati pariwisata. Yang lagi dikembangkan di sana.

Sejak bupati membangun bandara Banyuwangi top sekali. Ada penerbangan lang

Dahlan Iskan–foto instagram dahlan

sung dari Jakarta. Surabaya. Dan sebentar lagi dari Kuala Lumpur.

Malam itu saya bertemu Anas. Secara kebetulan. Di cafe uniknya pak Setiawan: kopi Osing. Setelah memberikan seminar. Di Universitas 17 Agustus Banyuwangi. Yang mulai maju. Setelah konflik internalnya selesai. Tuntas.

Di Cafe itu Anas lagi makan durian. Sambil mengamati layar laptop. Tampak asyik. Bersama tiga anak muda.

Anas lantas memperkenalkan siapa anak-anak muda itu. “Mereka ini lagi merancang warung aplikasi,” ujar Anas.

Selama ini Anas juga melarang jaringan Indomaret di Banyuwangi. Juga Alfamart. Juga mart-mart sejenis. Agar tidak membunuh warung  tradisional.

Kini Anas lagi merintis kelanjutan dari larangan itu: membina kios-kios rakyat. Agar  bisa memanfaatkan teknologi baru. Dalam satu jaringan Apps.

Anas sudah mempunyai program sejenis. Sudah berpengalaman. Ia anggap sukses. Ia bangga-banggakan. Itu tadi: home stay. Setelah  hotel bintang 3 dilarang di Banyuwangi.

“Home stay di Banyuwangi kini sudah mewabah,” kata Anas.

“Itu karena teknologi”, tambahnya. “Sudah masuk jaringan bisnis online” . Misalnya

Traveloka. Dengan demikian mencari home stay sudah sama mudahnya dengan mencari kamar hotel.

Anas lantas mendemonstrasikannya. Seolah sedang mencari home stay. Lewat hand phone-nya. Banyak tanda merah di layar. Pertanda full booked.

Kini pemilik rumah di desa-desa bisa jadi pengusaha hotel. Satu atau dua kamar. Di pekarangan mereka. Yang alami. Misalnya di desa lereng gunung Ijen.

Pemda, kata Anas, memberikan pelatihan. Bagaimana model kamarnya. Tempat tidurnya. Toiletnya. Dan terutama: bagaimana cara tersenyum.

Bagaimana kalau tamu home stay itu orang asing?

Soal bahasa tentu masalah. Tapi ada pelatihan sederhana. Untuk bahasa Inggris. Yang terkait dengan keperluan kamar. Ada juga pemandu wisata. Yang bisa diminta.

“Turis asing itu justru tidak sulit. Sangat mandiri,” katanya.

Yang penting kita ramah. Bersih. Apa adanya.

Apalagi soal sarapan. Breakfast. Cukup kopi, telur ceplok dan roti. “Lebih sulit bikin rawon atau soto,” ujar Anas.

Saya jadi teringat Lijiang. Kota  wisata di dekat pegunungan Shangrila. Di perbatasan Tibet. Yang terkenal itu. Hotel-hotelnya dalam bentuk home stay semua.

Hari itu saya mendadak ke Lijiang. Awal tahun tadi. Memanfaatkan waktu kosong satu hari.

Di antara jadwal yang padat di Kunming. Saya langsung ke bandara.

Cari pesawat ke Lijiang. Satu jam penerbangan.

Tiba di Lijiang tidak tahu harus ke mana. Saya ke pusat pelayanan turis. Di pojok jalan. Bagaimana cara ke Shangrila.

Sudah terlalu sore. Kabutnya tebal. Jalannya menanjak. Berliku. Tiga jam dengan mobil. Jalan tolnya masih sedang dibangun.

Disarankan bermalam dulu di Lijiang. Baru pagi-pagi ke Shangrila.

“Besok sore saya harus tiba kembali di Kunming,” kata saya.

Dia pun sibuk dengan HP-nya. Tidak tiap hari ada pesawat dari Shangrila.

“Bisa. Kebetulan besok ada penerbangan dari Shangrila langsung ke Kunming,” katanya.

“Tidak harus lewat Lijiang lagi,” tambahnya.

Saya merasa beruntung. Bisa sekaligus ke Lijiang dan Shangrila. Dalam satu harmal. Soal tiket hangus toh sudah biasa.

Saya pun minta dicarikan hotel di Lijiang. “Yang sekelas bintang empat,” kata saya. Khawatir. Dikira gak punya uang. Hanya karena bawaan saya tas kresek.

Dapat. Saya diminta menunggu jemputan.

Yang menjemput ternyata keren sekali. Anak muda. Seperti bintang film kungfu. Dengan mobil CRV putih. Masih baru.

Saya sempat ge-er. Jangan-jangan ini bos hotelnya sendiri.

Saya duduk di depan. Menghormatinya. Sambil agar bisa ngobrol.

“Apa nama hotelnya,” tanya saya.

“Dekat sekali,” jawabnya. “Tidak sampai 10 menit.”

Pembicaraan terhenti. HP-nya berdering. Ia sibuk dengan HP-nya.

Mobil memasuki perumahan. Komplek ini masih baru. Ada gerbang perumahannya. Khas Tiongkok.

Ia masih terus cang-cing-cung. Lewat HP-nya. Saat mobil berhenti di pinggir jalan. Di depan sebuah rumah. Rumah biasa. Rumah tangga.

Pantas saja. Ketika ditanya apa nama hotelnya dijawab “Dekat sekali”.

Saya mendapat kamar di lantai atas. Satu kamar. Yang dua kamar masih kosong.

Sebelum tidur saya turun ke lobi. Eh, ke ruang tamu. Tuan rumahnya lagi asyik.

Sopir tadi. Pemilik hotel beneran, ternyata.

Melihat saya turun, mereka langsung menyapa. “Ni hao,” kata mereka hampir serentak. Lantas menyilakan saya duduk. Untuk ikut ngrumpi. Sambil makan kwaci.

Saya dibikinkan teh. Tekonya ada di meja. Satu set dengan pemasak air. Kulit kwaci terus dilempar. Tuangan teh terus mengalir.

Saya yang banyak bertanya. Tentang home stay itu. Mereka bertanya hal-hal yang sederhana: apa bahasa di negara saya dan mengapa saya bisa berbahasa mandarin.

Obrolan pindah ke soal uang. Di Indonesia menggunakan uang apa.

Saya mengeluarkan tiga lembar rupiah. Dari dalam dompet. Yang 10.000-an. “Wow,” ucap wanita itu terbelalak. Sambil dua telapak tangannya menutup muka. “一万块钱,” teriaknya. Sambil menatap saya. Mengira saya orang kaya.

Di Tiongkok lembaran terbesar adalah 100. Melihat nol empat  matanya hijau.

Saya kasihkan uang itu. Satu orang satu lembar. Mereka ramai-ramai menolak. “Tidak mau. Ini banyak sekali,” katanya.

Saya pun mengeluarkan uang sapu jagat: 100.000-an.

Kali ini mereka tidak kaget lagi. Justru tertawa ngakak. Saling tuding. Di antara mereka. Saling ejek.

Begitulah.

Saya permisi mau tidur. Satu bungkus kwaci diserahkan. Untuk saya bawa. Masih ditambah apel, jeruk dan apel-apelan sebesar bola bekel yang renyah itu. Satu kresek.

Tidak mungkin saya mengalami itu. Di hotel bintang empat sungguhan. ***