Mandi Matahari di Lintang Nol Derajat

Monumen Tugu Khatulistiwa, Pontianak – Kalimantan Barat. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS –  Di luar tanggal-tanggal tertentu, Tugu Khatulistiwa sesungguhnya tugu yang biasa-biasa saja. Akan tetapi di tanggal-tanggal tertentu, tepatnya tengah hari setiap tanggal 21 – 23 Maret dan tanggal 23 September, tugu ini menjadi sangat istimewa. Sebab, benda-benda tegak di sekitar Tugu Khatulistiwa menjadi tidak ada bayangan alias tanpa bayangan.

Itulah fenomena alam, fenomena geografi langka, dan hanya ada di sana. Fenomena yang menunjukkan bahwa Tugu Khatulistiwa terletak tepat pada garis lintang nol derajat. Karena itu pula, Tugu Khatulistiwa yang ada di kota Pontianak, Kalimantan Barat menjadi istimewa. Bahkan, bahasa lebay berbunyi, “Belum sah ke Pontianak kalau belum mengunjungi Tugu Khatulistiwa.”

Karenanya, kunjungan ke Tugu Khatulistiwa beberapa hari lalu bisa dikatakan “setengah sah”. Dikatakan setengah, karena berkunjung sudah, tetapi tidak pada tanggal-tanggal istimewa. Karenanya, bukan “wisata tanpa bayangan” yang didapat, melainkan wisata mandi matahari di tugu bersejarah. Tidak lebih.

Tak mengapa. Setidaknya kunjungan itu membantah bayangan selama ini, tentang sosok tugu yang menjulang tinggi di tengah kota. Tugu itu memang menjulang, tetapi tidak di tengah kota. Ia berada di Pontianak utara, di tepi jalan raya menuju Mempawah dan Singkawang. Tidak semua taksi online berkenan mengantar ke sana jika bukan siang hari. Maklum, dua jembatan menuju ke titik lokasi, selalu macet parah di pagi dan sore hari. Jarak yang hanya 15 kilometer, bisa ditempuh dalam waktu dua jam, bahkan lebih.

Tugu Khatulistiwa asli karya Frederich Silaban tahun 1938, yang berada di dalam kubah replika tugu yang dibangun tahun 1990. (foto: roso daras)

Apa boleh buat, siang hari pun harus diterobos demi bisa melihat tugu legendaris itu. Yang tampak di depan mata ternyata tugu duplikat. Sedangkan tugu aslinya, berada di dalam bangunan tugu duplikat itu. Nah, di ruang tugu duplikat itulah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pontianak sebagai penanggung jawab objek, memajang foto-foto dan keterangan-keterangan tertulis tentang Tugu Khatulistiwa.

Catatan sejarah tentang tugu itu, diperoleh tahun 1941, dari V. en. V oleh Opsiter Wiese. Mengutip keterangan Bijdragentot de Geographe (Kontribusi untuk Geografi) dari Chep Van den Topographeschen dien in Nederlandsch India: Den 31 Sten Maart 1928 (tanggal 31 Maret 1928) telah datang di Pontianak, satu tim Ekspedisi Internasional yang dipimpin seorang ahli Geografi berkebangsaan Belanda untuk menentukan titik/tonggak garis Equator di Kota Pontianak. Mereka memasang tugu dalam bentuk yang sangat sederhana, yaitu berbentuk tonggak dengan tanda panah.

Dua tahun kemudian, 1930, pemerintah Hindia Belanda menyempurnakan tonggak itu, tetapi hanya di bagian panah, dengan memberinya lingkaran, seperti lingkaran bola bumi. Perubahan ketiga, terjadi pada tahun 1938 dan agak mendasar, karena membongkar tugu yang lama sama sekali, dan menyempurnakan menjadi bangunan tugu yang terdiri dari empat buah tonggak belian.

Monumen Tugu Khatulistiwa yang didesain Frederich Silaban tahun 1938. Foto diambil tahun 1940.

Yang mengerjakan adalah arsitek dalam negeri, kelahiran Sianjur Mulamula, Pulau Samosir bernama Frederich Silaban. Jika menilik sejarah, Silaban punya jasa besar sebagai arsitek yang antara lain terlibat pembangunan Gelora Bung Karno, Tugu Monas, dan Masjid Istiqlal.

Akan tetapi, karya Silaban tahun 1938 yang kini masih utuh berdiri di ruang bawah tanah bangunan replika Tugu Khatulistiwa, terbilang masih sederhana. Bentuknya berupa bangunan empat tonggak kayu belian masing-masuk berukuran 30 cm di keempat sisi baloknya. Tinggi keempat tonggak tidak sama. Dua di depan berketinggian 3,05 meter, dan dua tonggak di belakang memiliki ketinggian 4,40 meter. Di atas tonggak belakang, terdapat lingkaran dengan panah petunjuk arah.

Benar. Hingga tahun 1989, Tugu Khatulistiwa karya Silaban itulah yang bisa dilihat. Selain terbilang pendek untuk ukuran monumen tugu, desainnya relatif tidak menarik, bagi yang mengharapkan sebuah desain unik memanjakan mata.

Tahun 1990, pemerintah baru melakukan perubahan cukup mendasar pada monumen Tugu Khatulistiwa. Renovasi dilakukan dengan membuat kubah dan duplikat. Tugu Khatulistiwa duplikat dibuat dengan ukuran 5 (lima) kali lebih besar dari tugu aslinya, sehingga penampakan sekarang menjadi dua buah tonggak bagian depan dengan ketinggian 15,25 m dari permukaan tanah, dan dua tonggak bagian belakang memiliki ketinggian 22 m dari permukaan tanah. Adapun panjang anak panah penunjuk menjadi 10,75 m.

Di bawah anak panah tertera plat bertuliskan 109020’00” OLVGR, menunjukkan letak berdirinya Tugu Khatulistiwa pada garis bujur timur. Tugu duplikat hasil renovasi itu diresmikan pada tanggal 21 September 1991 oleh Parjoko Suryokusumo, Gubernur Kalimantan Barat.

Foto seremoni pada tanggal spesial, saat semua makhluk dan benda menjadi tanpa bayangan. Perhatikan, para penari menari tanpa bayangan.

Itulah keseluruhan informasi seputar monumen Tugu Khatulistiwa yang ada dan bisa diakses pengunjung. Foto-foto lama yang terpajang di dalam bangunan kubah, tidak begitu jelas. Data kunjungan dan foto-foto kegiatan pada momentum hari “tanpa bayangan” merupakan foto hasil jepretan tahun 2015. Akan tetapi, menurut petugas setempat, setiap tanggal-tanggal “tanpa bayangan” selalu digelar seremoni di plasa tugu.

Di area luar kubah, tampak pemerintah sedang membangun taman dan fasilitas pelengkap. Arahnya, menjadikan Monumen Tugu Khatulistiwa sebagai objek wisata keluarga. Selain bangunan tempat jualan cendera mata, juga tampak ruang-ruang restoran. Tapi belum satu pun tenan yang jualan. Sedang di bagian lain, tampak area mainan mobil-mobilan untuk anak-anak.

Keseluruhan desain pengembangan ada dalam maket yang terdapat di dalam kubah monumen. Sebagian besar peruntukan lahan, untuk area parkir kendaraan, taman, water park, planetarium, hotel, dan lain-lain peruntukan. Sedangkan yang sudah terbangun, masih jauh dari yang direncanakan. Di lokasi, juga tidak tampak kegiatan pembangunan.

Karenanya, hindari ekspektasi berlebihan jika berkunjung ke sana, di luar tanggal-tanggal istimewa 21 – 23 Maret dan tanggal 23 September. Dengan kata lain, hanya di tanggal-tanggal itulah Anda akan mendapatkan sensasi “wisata tanpa bayangan”. Di luar tanggal-tanggal itu, cukuplah wisata mandi matahari di lintang nol derajat. (roso daras)

Penulis, selfie di Tugu Khatulistiwa asli.

Janji yang Tertunda di Bukit Holbung

Pemandangan Danau Toba serta bebukitan diambil dari atas Bukit Holbung Sipege. (Foto Monang Sitohang)

JAYAKARTA NEWS – Akankah hujan ini menjadi penghalang niat wisata ziarahku? Kegalauan itu menyeruak pagi itu, saat menatap hujan rintik membasahi Desa Janji Martahan, Kecamatan Harianboho, Kabupaten Samosir. Aku, dan tiga orang teman yang datang dari Medan, menanti hujan reda dari dalam rumah. “Tak sabar rasanya ingin melihat Danau Toba,” gumam Rahmad, sahabat berbadan tambun.

Demi mendengar gumam Rahmad, Tuhan berbaik hati menghentikan hujan pagi itu. Kami bergegas siap-siap melakukan trip pagi hari itu. Pertama, ziarah ke makam orang tuaku, dilanjut menikmati keindahan alam Bukit Holbung Sipege yang berada di Desa Hariara Pohan, Kecamatan Haroanboho, Kabupaten Samosir.

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami bersama salah seorang penduduk setempat, Linggom (19) menuju Bukit Holbung Sipege. Di perjalanan tampak sebuah warung kopi di kaki Bukit Cinta yang berada di Desa Janji Martahan. Tidak hanya itu, kedai itu juga menyediakan spot untuk berfoto. Tak jauh dari sini, tepatnya di Desa Holbung, tak jauh dari masjid tampak warga sedang berbenah membangun warung. Terasa geliat warga mencoba peruntungan dengan membuka kedai kopi dan cemilan.

Di lokasi itu, sudah ada beberapa mobil dan sepeda motor. Dibanding dua kunjunganku terdahulu, maka tampak ada beberapa perubahan di objek wisata camping ini. Misal, di sebelah warung dengan jarak beberapa meter sudah ada fasilitas kamar mandi untuk para pengunjung. Tampak juga tangga stainless menuju Bukit Holbung, jauh lebih baik dari tangga bambu yang ada sebelumnya.

Setapak demi setapak kami meniti tangga sambil menebar pandang ke kiri dan ke kanan, menyapu keindahan panorama yang ada. Dari sisi sebelah kanan menuju ke atas Bukit Holbung Sipege terlihat jelas kampung Sihotang, sebelah kiri Desa Janji Martahan dan semakin tinggi terlihat juga desa-desa yang ada di Kecamatan Harianboho. Sedangkan, jika menghadap lurus ke depan tampak Kota Pangururan yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Samosir. Dan panorama tercantik tentu saja sang danau pujaan, Danau Toba dengan permukaan air yang berwarna biru. Menatapnya, dalam terpaan semilir angin yang sejuk, adalah sebaik-baiknya bertasbih, memuja keagungan Tuhan dengan ciptaannya.

Para pengunjung asal Medan dan salah seorang warga setempat sedang beristirahat di atas Bukit Holbung Sipege. (Foto. Monang Sitohang)

Kami terus mendaki hingga ke Bukit Holbung. Rupanya, kami bukan pengunjung pertama seperti yang kami duga. Sebab setiba di atas, ternyata sudah ada dua tenda terpasang. Rupanya, mereka para turis lokal yang menginap di bukit itu. Makin ke atas, ada lagi kami temukan satu tenda terpasang dengan pemandangan seorang pemuda sedang bersih-bersih sampah di sekitar tenda. “Tidak. Aku tidak sendiri bang. Teman-temanku sedang di atas bukit mengambil foto dan video,” ujar pemuda itu menjawab sapaan kami.

Denny (19) nama pemuda itu. Ia mengaku sudah tiga kali camping di Bukit Holbung Sipege. “Mulai ada perubahanlah….. Terutama dari sisi kebersihan. Setiap kali kami ke sini, kami kumpulkan sampah-sampah yang berserakan lalu kami bawa ke bawah untuk dibuang di penampungan sampah. Kalau tempat ini bersih dari sampah, pengunjung juga akan segan untuk membuang sampah sembarangan,” ujar Denny, bijak.

Denny dan kawan-kawan datang dari Binjau, menempuh perjalanan darat sekitar 10 jam dengan sepeda motor. Jalur yang mereka tempuh melewati Tigaras, menyeberang naik kapal ke Simanindo, lanjut melintasi Pangururan dan berakhir di Bukit Holbung Sipege. “Ada masalah dengan sepeda motor kawan, sehingga kami mengubah rute. Semula kami tidak merencanakan leweat Tigaras, melainkan lewat Panorama Tele. Tapi apa boleh buat….,” keluh Denny.

Denny pun kami tinggalkan dengan aktivitas mulianya memunguti sampah. Di tengah perjalanan, sobatku yang lain, Linggom Sitanggang mengisahkan pengalamannya membawa 45 mahasiswa dari Unimed dan USU ke puncak bukit Holbung paling tinggi. Linggom menambahkan di Kabupaten Samosir sekarang sudah ada bus pariwisata. Jika mau pesan di Kota Pangururan, ada rute-rute menuju objek wisata yang sudah terencana, misalkan Onan Baru, Aek Ranggat, Batu Hobon, Tatea Bulan, Panorama Tele, Air Terjun Efrata dan lainnya sampai ke Bukit Holbung Sipege. Bus itu lewat per dua jam. Jadi pengunjung bisa berhenti di satu titik objek wisata, lalu melanjutkan perjalanan, hingga pulang.

Sampai di satu titik, kami melepas lelah. Berhenti sekadar ambil napas panjang sembari menikmati indahnya alam. Seorang kawan bertanya, “Apa kita lanjut ke atas? Kalau lanjut, bakalan tidak bisa ke objek wisata yang lain.” Mungkin karena pertanyaan itu diluncurkan saat kami melepas letih, karenanya kami spontan menyepakati kesepakatan bulat, “batal ke puncak Holbung”.

Usai melepas lelah, kami pun memunggungi bukit Holbung, berjalan turun sambil menunduk. Bukan kami menyerah kalah, tapi kalau kami tidak hati-hati menapaki tangga turun, bisa-bisa tergelincir. Dalam hati aku bertekad, “Tunggu…. kunjungan berikutnya, aku akan taklukkan Bukit Holbung Sipege untuk mereguk keindahan panorama secara lebih sempurna. Itu janjiku.”  (Monang Sitohang)

Calon pengantin asal Lubuk Pakam, Deli Serdang sedang menuju ke atas Bukit Holbung Sipege untuk melakukan sesi pemotretan pra wedding. (Foto. Monang Sitohang)

Seruput Kopi di Puncak Tele

Pemandangan Danau Toba terlihat dari Restoran Simalem Resort. Foto. Monang Sitohang

JAYAKARTA NEWS – Danau Toba, siapa tak kenal. Salah satu danau terbesar di dunia, dengan panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer serta memiliki kedalaman hingga 500 meter lebih itu, adalah salah satu destinasi wisata yang sangat eksotik. Danau yang terbentuk akibat letusan gunung vulkanik, makin cantik dengan hadirnya sebuah pulau di tengahnya, Pulau Samosir.

Jayakarta News, berkesempatan ikut bersama 34 orang anggota rombongan wisatawan asal Batam. Bersama mereka, kami mengelilingi Toba, dan delapan kabupaten yang mengitari, di antaranya Toba Samosir (Tobasa), Tapanuli Utara, Karo, Dairi, Simalungun, Humahas, dan Phaphak Barat.

Perjalanan ini dirancang oleh PT Travel Bintan. Perusahaan travel itulah yang mengatur itinerary, lengkap dengan penyediaan tour guide yang berpengalaman, bernama Rio. Perjalanan dimulai saat penjemputan rombongan di terminal kedatangan Bandara Kualanamu, sekitar pukul 19.00. Satu per satu anggota rombongan disambut dengan kalungan stola syal motif ulos Batak.

Rombongan pun meluncur meninggalkan bandara menuju Restoran Cindelaras untuk santap malam, sebelum akhirnya tiba di Hotel Rudang Berastagi sekitar pukul 22.30 WIB. “Tolong diperhatikan buat Bapak dan Ibu, besok pagi jam tujuh pagi kita sudah breakfast, dan jam delapan sudah chek out dari hotel,” ujar Rio malam itu.

Esok pagi, rombongan diajak menuju destinasi pertama yang ada di Kabupaten Karo (Berastagi). Di antaranya, singgah di pasar buah, hingga sekadar menunggang kuda. Perjalanan berlanjut ke Sipiso-piso, menikmati air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 800 mdpl, di Tongging dan termasuk salah satu  dari 16 geosite kaldera Sumut. Dari ketinggian lokasi, wisatawan sudah bisa melihat keindahan danau Toba nun jauh di bawah sana.

Air Terjun Sipiso-piso. (Foto. Monang Sitohang)

Dari Sipiso-piso rombongan melanjutkan perjalanan menuju Taman Simalam Resort untuk makan siang. Perjalanan sepanjang satu jam itu, dilalui tanpa terasa, lantaran keindahan alam yang dilaluinya. Di kiri-kanan jalan, tampak pohn kayu manis. Dari ini masuk teritori Kabupaten Karo. Di sini banyak spot pemandangan yang sangat indah, tanaman organik, dan camping ground.

Usai kenyang makan siang, rombongan lanjut menuju Taman Wisata Iman yang berada di Kabupaten Dairi, melalui Panorama Puncak Tele. Sempat terjadi kemacetan di Desa Merek. Rio sang pemandu langsung berinisiatif meminta bus memutar balik mengambil jalan via Parapat, dan sekitar tiga jam perjalanan para rombongan tiba di Parapat, Kabupaten Simalungun.

Mathari makin condong ke Barat, ketika kami menyeberang ke Pulau Samosir menuju Hotel Toba Beach yang berada di kawasan Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir melalui kapal penumpang yang disediakan pihak hotel. Perjalanan penyeberangan sekitar 30 menit menggunakan kapal ferry.

Keesokan di pagi harinya kami melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Balige via Dolok Sanggul. Di sepanjang jalan rombongan tour dibawa ke destinasi wisata yang ada di Kabupaten Samosir, seperti Tomok tempat penjualan souvenir khas Batak, melihat Makam Tua Raja Sidabutar, kemudian lanjut lagi ke Kecamatan Simanindo ke Makam Raja Siallagan. Di sana rombongan diajak belajar manortor, dan saat itu tampak banyak wisatawan manca negara sedang mendengarkan story telling mengenai sejarah kerajaan Opung  Siallagan. Setelah itu makan siang di restoran vegetarian, sekitar pukul 13.00 Wib.

Objek wisata selanjutnya adalah Panorama Puncak Tele yang kami tempuh melalui Jembatan Tanah Ponggol. Sekitar satu jam tiba di Puncak Tele Di sepanjang jalan yang berliku, dengan pemandangan yang begitu indah, rombongan tampak takjub. Salah seorang berkata, “Sungguh luar biasa perjalanan menuju Tele. Pemandangan begitu indah dan seru. Dari awal perjalan ini mampu memberi sensasi yang luar biasa.”

Di Puncak Tele, bus berhenti satu jam memberi kesempatan para turis asal Batam menikmati keindahan yang terhampar. Di antara peserta tour, ada yang menikmati keindahan itu sambil menyeruput kopi panas di warung pinggir jalaln. Sementara Rio mengeluarkan snack untuk dibagikan. Tapi tidak sedikit anggota rombongan yang lebih tertarik mencicipi jajanan khas Byaitu ombus-ombus yang terbuat dari tepung beras yang diberi gula di tengahnya dan dibungkus daun pisang.

Meski rasanya berat meninggalkan Bukit Tele, toh Roy meminta kesediaan peserta tour untuk melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Tobasa. Perjalanan panjang yang ditempuh selama lima jam, melalui Dolok Sanggul, Kabupaten Humbahas. Pukul 19.00 Wib rombongan pun tiba di Balige (Tobasa) dan menginap di Hotel Tiara Bunga.

Untuk menuju ke hotel tersebut harus melalui kapal penumpang yang telah disediakan pihak hotel. Dermaganya berada di depan Hotel Ompu Herti. Pukul 20.00 Wib kapal berangkat, dan tiba di lokasi hotel Tiara Bunga sejam kemudian. Di sana sudah disediakan makan malam dengan makanan khas Batak, antara lain ikan niarsik.

Keesokan hari, usai sarapan dengan menu yang masih khas Batak, rombongan melanjutkan perjalanannya menuju Kota Medan via parapat. Dalam perjalanan, ketika melintas Desa Silimbad, Tobasa, bus berhenti. Di tempat itu, banyak penjual kacang gongseng dan ombus-ombus yang merupakan jajanan khas batak. Pukul 13.00 wib tiba di Kota Siantar untuk makan siang di Restoran Panorma khas masakan Minang Melayu yang terkenal lezat.

Usai makan, rombongan masih menempuh tiga jam perjalanan hingga tiba di kota Medan. Di Medan, rombongan menginap di Swiss-Belhotel, Jalan Surabaya. Kemudian para rombongan makan malam di Restoran Simpang Tiga, Jalan Mongonsidi, dilanjut makan durian. Keesokan harinya beli oleh-oleh khas Medan dalam perjalanan menuju Bandara Kualanamu Airport, Deli Serdang.

Jika dihitung, perjalanan rombongan wisata tour asal Batam, telah melalui 10 Kabupaten/Kota yang ada di Sumatera Utara, mulai dari Deli serdang, Kota Medan, Kabupaten Karo, Simalungun (Parapat) Samosir(Pangururan), Humbahas (Dolok Sanggul), Tobasa (Balige), Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Serdang Bedagai. Sebuah perjalanan panjang yang akan selalu terkenang. (Monang Sitohang)

#SaveKomodo dari Pemburu Gelap

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempertimbangkan untuk menutup Pulau Komodo arena pemburu terus mencoba untuk mencuri kadal raksasa itu dari habitatnya untuk diperdagangkan secara illegal.

Pemerintah mempertimbangkan untuk menutup akses ke Taman Nasional Komodo, untuk  memulihkan habitat yang rusak dan membantu kadal raksasa yang ikonik itu memperoleh keleluasaan berkembangnya mangsa mereka.   

Dengan panjang  3 meteran kaki dan berat  90 kilograman, komodo adalah kadal terbesar di Bumi — dan mereka pasti tangguh.

Dengan kecepatan tertinggi 3 km/jam  dan gigitan berbisa, mereka dapat mengalahkan  rusa atau kerbau — dan kadang-kadang juga bisa  menyerang manusia.

Tetapi reputasi itu belum cukup untuk menjauhkan mereka dari para pemburu gelap. Akibat kasus-kasus  penyelundupan besar, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur  mungkin menutup Pulau Komodo bagi para wisatawan mulai Januari 2020.

Kemungkinan penutupan itu terjadi setelah pihak berwenang menggagalkan penyelundupan  yang mencoba untuk menjual kadal dan hewan langka lainnya ke  luar negeri sebagai bagian dari perdagangan hewan peliharaan yang eksotis.

Polisi menyita lima komodo yang berusaha dijual oleh penyelundup di Facebook. Menurut Andre Barahamin, para pemburu gelap mengakui bahwa mereka telah menjual 41 hewan di luar negeri dengan harga antara $ 3.500 dan $ 35.000 tergantung pada ukuran mereka dan apakah mereka hidup atau mati.

Diyakini binatang-binatang itu dikumpulkan di Pulau Flores, yang memiliki populasi kadal di pesisir, bukan di Pulau Komodo itu sendiri.

Setelah pejabat provinsi bertemu dengan pihak berwenang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia — yang mengelola Pulau Komodo, bagian dari Taman Nasional Komodo — juru bicara Pemerintah Prov NTT  Marius Jelamu mengatakan kepada  bahwa taman itu akan ditutup selama satu tahun, untuk memungkinkan revegetasi dan membiarkan populasi kadal bertambah. .

“Itu adalah rencana kami untuk mengelola Taman Nasional Komodo khususnya Pulau Komodo pada tahun 2020,” katanya.

Barahamin melaporkan bahwa pengumuman penutupan itu terlalu dini, dan kelonggaran bagi pulau itu belum menjadi kesepakatan. Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia saat ini sedang melakukan penilaian pulau yang akan selesai pada bulan Juli. Direktur jendral konservasi kementerian, Wiratno, mengatakan pihaknya memiliki keputusan akhir dan akan menentukan apakah akan menutup pulau itu untuk pariwisata berdasarkan laporan itu.

Gagasan menutup pulau itu pertama kali muncul pada bulan Januari ketika gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat mengumumkan pulau Komodo akan ditutup selama satu tahun untuk memberi kadal dan populasi rusa Timor yang mereka suka berburu kesempatan untuk pulih.

Apa pun yang terjadi, insiden perburuan telah menarik perhatian ke Taman Nasional Komodo, Situs Warisan Dunia UNESCO dan Cagar Biosfer. Kate Lyons di The Guardian melaporkan bahwa ada sekitar 5.700 komodo yang tersisa di alam liar, sebagian besar di pulau Komodo, Padar dan Rinca dalam batas-batas taman. Bahkan jika Pulau Komodo tutup, pengunjung masih akan dapat melihat komodo di taman pulau-pulau lainnya.

Perdagangan hewan peliharaan bukan satu-satunya ancaman bagi mega kadal. Peningkatan terbaru di bandara Labuan Bajo, yang melayani daerah Komodo, berarti wilayah ini sekarang dapat menerima sekitar 1,5 juta pengunjung per tahun. Barahamin melaporkan bahwa pada 2014, Taman Nasional Komodo menerima 80.626 pengunjung, yang melonjak menjadi 159.157 tahun lalu. Pada bulan Mei 2018, taman mulai menerima kelompok besar wisatawan Tiongkok yang pertama, dan kapal pesiar mulai menjadikan daerah itu sebagai pelabuhan panggilan laporan Ernest Kao di The South China Morning Post.

Bahkan, Kao melaporkan bahwa pengembang berharap untuk mengubah kota terpencil Labuan Bajo menjadi Bali berikutnya, dengan perjalanan untuk mengunjungi komodo sebagai salah satu daya tarik bintang. Tetapi kekhawatiran telah dikemukakan tentang polusi, hilangnya habitat, penangkapan ikan berlebihan dan hilangnya air tawar di Taman Nasional karena pariwisata dan manajemen yang buruk.

Agus, salah satu pemandu hutan di Taman Nasional Komodo, mengatakan kepada Kao bahwa dia melihat banjir pengunjung yang datang dengan kecemasan. “Ini adalah habitat alami terakhir untuk komodo,” katanya. “Terlalu banyak pariwisata tidak akan baik untuk kehidupan laut lokal atau [taman]. Kita perlu menyeimbangkan pariwisata [dengan konservasi] ekosistem. “

Dua Panda Lengkapi Koleksi Bonbin Kopenhagen

JAYAKARTA NEWS – Ada kabar gembira buat warga Denmark. Kini, mereka dan para pelancong yang tengah berada di negeri rumpun Skandinavia itu, dapat menyaksikan binatang yang amat cantik dan menggemaskan. Panda.

Wakil Direktur Kebon Binatang Kopenhagen, Bengt Holst mengatakan, taman fauna kebanggan Denmark itu kedatangan dua ekor panda. Yang jantan bernama Zing Er, sedangkan pasangannya bernama Mao Sun.

Keduanya tiba di Denmark dalam kondisi baik-baik saja. Bagi kebon binatang yang dikelolanya itu, kedatangan kedua panda itu menjadi “momen terbesar dalam 36 tahun”.

Dua ekor panda dari China saat tiba di Denmark, diangkut dengan kontainer.

Panda-panda itu, didatangkan dari kota Chengdu di Cina barat daya. Mereka tiba pada hari Kamis malam (4/4/2019) menggunakan peti kemas di bandara Kopenhagen.

Setibanya di Bandara, mereka kemudian dibawa ke Rumah Panda yang dibangun dengan biaya 160 juta kroner ($ 24,2 juta).

Enklosur akan dibuka untuk umum pada 11 April, sehari setelah Ratu Margrethe, meresmikannya.

Denmark adalah negara terbaru yang menerima hadiah sebagai bagian dari “diplomasi panda China”.

Perdana Menteri Lars Loekke Rasmussen mengunjungi China pada bulan Mei dan melihat panda, yang dianggap sebagai simbol kekuatan budaya dan politik Tiongkok. ***

Startup Ini Sulap Mobil Super Jadul Siap Ngacir Berpetualang

JAYAKARTA NEWS – Penggemar mobil klasik barangakali sudah sangat mafhum dengan kerewelan klasik kendaraannya: lebih banyak waktu untuk mengoprek-opreknya ketimbang memanfaatkannya. Tapi, sebagai sebuah pembenaran tentang hobby kendaraan kuno tersebut, “justru itulah asyiknya.”

Untuk Anda penggemar mobil klasik, tetapi tidak ingin perjalanan advanture Anda tidak terganggu oleh mesin yang ngambek, kini sudah ada tawaran jalan keluar. Ini terutama untuk Anda yang bisa sedikit keluar dari pakem, bahwa mobil klasik itu ya harus ori luar dalam.

Untuk yang mau ori luar dalam, pada akhirnya akan kesulitan pada onderdil suku cadang. Tetapi permasalahan utama adalah kemunduran dari besi mesin utama sendiri karena persoalan waktu, yang secara natural itu memang terjadi. Penuaan!

Untuk Anda yang moderat, SUV jadul dan mobil petualangan gardan ganda Anda yang molek arsitekturnya itu, kini bisa dibantu dengan pendekatan teknologi baru, sehingga bisa diajak bertualang tanpa ngadat.

itu bagus – kecuali untuk semua bensin yang mengeluarkan limbah yang diperlukan untuk bahan bakar mereka pada perjalanan berkemah dan perjalanan indah melalui alam.

Kendaraan klasik seperti Land Rover Series 2a 1971, dpat kembali mengaspal nyaman dengan modiv elektrik.

Itulah yang dilakukan oleh sebuah startuo di Australia. Mulanya, perusahaan ini hanya memiliki modal Land Rover yang bernama Juniper. Mereka ingin mengkonversinya, untuk disewakan.

Untuk sebuah tour yang menantang, stratup ini menginginkan banyak kendaraan klasik yang bisa diubahnya menjadi clasic elektric cars.

Meraka pun melangkah mengumpulkan dana melalui kampanye di Indiegogo yang, secara mengejutkan banyak direspon warga net global dengan memberikan sumbangan lebih dari $ 10.000. Startup itu menargetkan dapat mengumpulkan $ 50.000 untuk menyediakan lebih banyak kendaraan yang mereba bisa ubah menjadi clasic electric cars.

Pembiayaan melalui fundraising itu diharapakan akan dapat memenuhi ambisi mereka untuk dapat menyediakan mobil klasik sewaan ke publik yang sudah tersedia setelah Juni mendatang untuk petualangan di Byron Bay, Blue Mountains, dan nge-drive dipantai lainnya yang indah di Australia. Untuk menyewa kendataan modif ini, cukup merogoh dompet $ 142.

Sebelum siapa pun dapat melakukan perjalanan dengan mobil listrik dengan apa yang oleh startup Jaunt disebut sebagai kendaraan “upcycled”, perusahaan ini harus memulainya dengan mobil pertama untuk dikonversi.

Proses konversi dimulai dengan melepas mesin, tangki bahan bakar, dan sistem pembuangan, dan kemudian memasukkan motor listrik, NetGain Hyper9 AC 100-kilowatt. Ada juga baterai, sistem pengisian, dan pengereman regeneratif yang masuk ke kendaraan lama tapi baru.

Bukan hanya kendaraan yang lebih tua dan usang yang dirombak dengan sentakan energi listrik. Pada bulan Februari, Porsche’s Macan SUV diumumkan sebagai kendaraan makeover listrik terbaru. E-Type Jaguar klasik akan kembali sebagai mobil sport elektrik.

Land Rover yang dikonversi oleh Jaunt hanyalah sebuah prototipe (yang belum selesai), tetapi itu akan memberi pengalaman bagi para pengemudinya untuk berpetualang menjelajahi Australia dengan mobil elektrik tapi klasik. ***

“Dinosaurus” Bikin Gaduh Taman Mini

Stegosaurus, jenis Herbivora pemakan rumput, memiliki tinggi 4 meter, panjang 9 meter dan berat 5 ton. (Foto Monang Sitohang)

JAYAKARTA NEWS – Kegaduhan kecil terjadi di depan wahana Taman Legenda Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, belum lama ini. Usut-punya-usut- seekor binatang purba jenis dinosaurus berjalan mondar-mandir, sesekali melakukan pengejaran kecil terhadap pengunjung yang lewat di depannya. Dikejar dinosaurus, siapa tidak kaget?

Begitulah cara pengelola wahana yang terbilang baru, Taman Legenda Keong Mas itu menarik pengunjung. Sekilas berhasil. Sejumlah pengunjung yang hendak masuk wahana Dunia Air Tawar, mendadak berhenti dan membelokkan langkah menuju Taman Legenda Keong Mas. Kedua wahana itu memang bersebelahan,

Seperti sore itu, sekitar pukul 14.00 WIB, penulis jalan-jalan ke Taman Mini. Awalnya hanya berniat sightseeing, melihat sekeliling, tanpa harus berhenti di tiap anjungan atau wahana yang ada. Akan tetapi gara-gara kegaduhan kecil tadi, penulis menghentikan langkah di depan Taman Legenda Keong Mas.

Tampak dua remaja putri menjerit kaget ketika dikejar dinosaurus jadi-jadian. Mereka kaget beneran. Takut beneran. Itu bisa terlihat dari roman wajahnya yang pucat. Sebaliknya, sekelompok wisatawan lain yang tidak ikut kaget, justru tertawa melihat tingkah dua remaja putri tadi. “Hari gini mana ada dinosaurus…,” ujar seorang wisatawan sambil tertawa.

Benar. Dinosaurus jadi-jadian itu hanya boneka yang dibuat sangat mirip dengan aslinya. Di dalam boneka itu, tentu saja berisi manusia yang menjadikan benda mati itu hidup, dan bisa mengagetkan banyak orang, termasuk membuat dua remaja putri tadi menjerit ketakutan.

Kegaduhan kecil pun berakhir dengan moment foto bersama…. Tidak sedikit pengunjung yang menunggu giliran bisa berfoto bareng dinosaurus di depan pintu masuk wahana Taman Legenda Keong Mas.

Disebut Taman Legenda, karena di dalamnya berisi replika binatang purba. Mungkin Anda bisa langsung membayangkan dengan mudah, kalau saja namanya Taman Jurassic, atau Jurassic Park. Kurang lebih, seperti itulah.

Wahana ini beroperasi Senin hingga Jumat, pukul 10.00 – 17.00 WIB. Tiket masuk dijual Rp 20.000 per orang (hari biasa), Rp 30.000 (Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional). Di dalam wahana, masih banyak wahana lain, yang semua berbayar. Jika ingin menikmati semua wahana di dalam dengan harga lebih murah, pengunjung disarankan membeli tiket terusan (all in one), seharga Rp 120.000 per orang (hari biasa), dan Rp 150.0000 (Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional).

Setiap pengunjung juga diminta membayar jaminan sebesar Rp 10.000 untuk gelang RFID (radio frequency identification). Anda tinggal menempelkan gelang di setiap pintu masuk wahana, dan bebas menikmati fasilitas yang ada.

Sore itu, taman Dinosaurus tampak lengang. Hanya satu dua pengunjung yang tampak menikmati dengan antusias, serasa tengah berpetualang di zaman purba. Tampak seorang pria paruh baya berjalan bersama seorang anak usia 5 tahunan. Ketika masuk area petualangan dinosaurus, si anak tiba-tiba berseru, “Stop. Jangan lewat dulu.”

Lelaki paruh baya itu pun menurut. Ia berhenti, tetapi tak urung ia penasaran juga untuk bertanya, “Kenapa harus berhenti?” Si anak awalnya diam. Tapi ketika didesak, akhirnya ia membuka sebuah “rahasia kecil”. Katanya, “Sebentara lagi ada sosok binatang Dilophosaurus yang menyemburkan air. Kalau kita tidak berhenti, bisa basah….”

Benar. Tak lama kemudian, kepala binatang purba nongol dan menyemprotkan air. Sungguh semprotan yang sia-sia, karena tidak ada korban yang kena semprotannya. Bagaimana adik kecil kita bisa tahu? “Saya sudah dua kali kesini, jadi hapal,” jawabnya enteng.

Wahana petualangan ini tampak terlihat bagaikan hutan mini yang ditumbuhi rerumputan liar, serta pepohonan yang menjulang tinggi. Di dalamnya dihuni belasan jenis dinosaurus yang hidup ribuan tahun silam. Beberapa binatang yang dibuatkan repkilanya antara lain Dilophosaurus, Carnotaurus, Brachiosaurus, Parasaurolophus, Sphinosaurus, Tyrannousaurus-Rex (T Rex), Pachycephalosaurus, Ankylosaurus, Velociraptor, Pterosaur, dan Stegosaurus.

Semua replika tampak begitu nyata. Menjadi begitu hidup karena didesain sedemikian rupa sehingga bisa bergerak dan mengeluarkan suara. Contoh, Pterosaur yang digantung di atas, mengeluarkan suara yang begitu keras. Ia digambarkan bisa terbang. Di wahana itu, juga tampak Pterosaur bersama anak yang baru menetas. Tak jauh darinya, kelihatan pecahan cangkang telur.

Pendek kata, wahana Legenda Keong Mas Taman Mini ini cukup menarik. Selain menghibur, tentu saja bisa menambah pengetahuan. Sebab, pengunjung juga diberi kilasan informasi. Bukan saja informasi tentang nama, tetapi juga bisa melihat bentuknya satu per satu, kemudian spesies, makanan, anatomi tubuh, dan lainnya. (Monang Sitohang)

Budaya Jatim dan Papua Ramaikan Festival Mulktikultural di Canberra

Reog Ponorogo saat tampil di National Multicultural Festival Canberra. (Foto: KBRI di Canbera]

PUBLIK Australia di kota Canberra antusias menikmati suguhan budaya Indonesia yang ditampilkan  Tim Reog Ponorogo Singo Budoyo Mudho yang berkolaborasi  dengan Sanggar Tari Nusantara Sydney yang menampilkan tarian Papua.

Masyarakat Canberra memadati area Panggung Budaya di National Multicultural Festival (NMF) 2019  pada  16 Februari 2019. NMF sendiri digelar selama tiga hari, yakni mulai 15  hingga 17 Februari.

 

Kostum dan tarian yang ditampilkan Reog Ponorogo, mengundak decak kagum warga negeri banua tersebut. Michelle (16), misalnya,  mengaku sangat mengagumi tarian dan kostum Reog Ponorogo. “Menurut penilaian saya, penampilan Indonesia sangat unik, menarik, dan mistis”, ujar remaja yang belajar di Melrose Highschool Canberra ini.

KBRI di Canberra bekerjasama sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mendatangkan  Tim Reog Ponorogo Singo Budoyo Mudho  dari tanah air. Begitu pun dengan penampilan  tari dan kostum Papua, yang dibawakan para pelajar Indonesia di Australia dan staf KBRI Canberra, juga tidak kalah menariknya.

Kesenian Reog Ponorogo dan tari asal Papua tersebut, memberi  gambaran kepada publik dunia, khususnya di Canberra, tentang  kebhinekaan Indonesia.

 

Foto: KBRI Canberra

Penampilan Reog Ponorogo seakan-akan menghipnotis pengunjung dibandingkan penampilan peserta lainnya, seperti dari China, India, atau Nepal. Peserta Parade berasal dari berbagai belahan dunia dari Eropa, m Amerika, Timur-Tengah, Afrika dan Asia Pasifik.

Selain panggung budaya, Indonesia juga ikut berpartisipsi dalam Parade yang dilakukan di sepanjang jalan London Circuit yang berada di pusat Kota Canberra. Duta Besar Kristiarto Legowo dan DCM Derry Aman, bahkan memimpin langsung kontingen Indonesia pada parade multi-budaya ini dengan berbaur dengan masyarakat umum. Penampilan Indonesia sangat dielu-elukan dan menjadi sasaran bidikan kamera para penonton.

Kata-kata ‘Wow’ berulang kali terlontar dari para penonton ketika menyaksikan parade Indonesia khususnya para peraga Reog Ponorogo yang dikelilingi para penari staf KBRI yang berpakaian Warok dan Jathil, berlenggak-lenggok memamerkan keindahan gerakan dan kostumnya.

 

Reog Ponorogo merupakan satu dari sejumlah atraksi budaya yang ditampilkan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, selain Tari Papua, ada juga tari Kuda Lumping, dan  workshop alat musik Rindik khas Bali pada NMF tahun 2019 ini.

Paviliun Indonesia yang dibuka oleh KBRI Canberra juga menjadi salah satu stand yang paling besar dibandingkan kedutaan besar asing lainnya yang ikut NMF.

Menteri urusan Multikultural Canberra, Chris Steel, dan Komisioner untuk International Engagement Kota Canberra, Brendan Smyth menyempatkan diri mengunjungi Paviliun Indonesia yang berada di ASEAN Village.

Acara pembukaan ASEAN Village di NMF tahun ini dihadiri oleh seluruh Duta Besar negara anggota ASEAN di Canberra serta wakil dari Pemerintah Australian Capital Territory. Acara pembukaan ASEAN Village ditandai dengan pemukulan Gong Bali yang memang sudah menjadi alat musik popular di Indonesia. Selain pertunjukan budaya negara anggota ASEAN, ditampilkan juga Joget Berhibur oleh Malaysia, alunan musik petik oleh Filipina, dan tarian tradisional Fhon Khom Khum dari Thailand.

Di Paviliun Indonesia disajikan berbagai barang promosi budaya Indonesia mulai dari daerah Jawa hingga Bali. Beberapa pengunjung terlihat memadati Paviliun Indonesia dan mengambil brosur pariwisata Indonesia yang memang sengaja disediakan. Sambil melihat tampilan video promosi pariwisata, pengunjung juga terlihat bertanya mengenai “10 Bali Baru” destinasi pariwisata Indonesia. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang mengaku penasaran ingin berkunjung langsung ke Indonesia untuk mempraktekkan bahasa Indonesia yang pernah dipelajari di sekolah sebelumnya.

Tidak hanya itu, Paviliun Indonesia juga memamerkan dan membagikan sampel berbagai produk-produk Indonesia yang telah merambah pasar Australia, seperti kerajinan rotan, mie instan, bumbu dapur, minuman dalam kemasan, snack, dll. Barang- barang produk Indonesia ini merupakan kerja sama antara Kementerian Perdagangan dengan DWP KBRI Canberra.

Tidak ketinggalan Becak dan Ondel-Ondel Betawi sebagai photo booth menjadi atraksi tersendiri bagi Pengunjung yang hadir untuk selfie atau foto bersama keluarga.

Menurut Duta Besar RI untuk Australia, Kristiarto Legowo, partisipasi Indonesia di NMF bertujuan untuk mempromosikan budaya dan pariwisata Indonesia di kalangan publik Australia.

“Posisi Indonesia sebagai destinasi terfavorit bagi wisatawan, pelajar, mahasiswa serta sukarelawan Australia yang berwisata ke luar negeri setelah Selandia Baru, semakin memotivasi KBRI untuk selalu menggelar berbagai bentuk promosi yang inovatif”, ujar diplomat senior yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Kemlu RI.

“Setiap kali mengikuti NMF, Tim Parade dan juga Paviliun Indonesia senantiasa menjadi primadona pengunjung”, imbuhnya.

Seorang pengunjung asal Gungahlin, Canberra, Eliza Kikkert (38) yang mengaku tak pernah ketinggalan menghadiri NMF dalam 6 tahun terakhir, menyebut keikutsertaan Indonesia di NMF dalam beberapa tahun terakhir ini semakin menarik dan terbukti telah memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan multibudaya di Canberra.

NMF merupakan ajang perhelatan multi seni-budaya dan makanan serta tarian terbesar di Ibu Kota Australia yang diadakan setiap tahun dan diikuti oleh komunitas dari berbagai negara di dunia. Rata-rata pengunjung yang datang mencapai hampir 300 ribu orang. Partisipasi Indonesia pada ajang multi-seni budaya di Canberra ini sudah menjadi acara tahunan yang selalu ditunggu oleh Publik Australia.***

[pr/sm]

Pesona Kota Cantik yang Terhampar di Dua Benua

ANDA boleh iri dengan warga Istanbul, Turki, karena mereka memiliki kota yang terhampar di dua benua, yakni Eropa dan Asia. Ia menjadi satu-satunya kota di dunia yang terbentang di dua benua.

Bukan itu saja. Istanbul bukan hanya menyuguhkan pemandangan ala Asia dan Eropa, pun terpampang juga  tampilan kota Afrika Utara atau Timur Tengah. Itulah kemudian, Istanbul tidak cukup didefinisikan dengan dua benua atau wilayah tertentu.

Apabila Anda berkunjung ke Istanbul, cobalah berdiri untuk susana di persimpangan Timur dan Barat. Anda akan melihat  landmark indah kota ini yang menakjubkan. Kota ini  juga lengkapa dalam menggabungkan budaya dan agama.

Hagia Sophia yang terkenal telah menjadi sebuah gereja dan masjid, sementara sisa-sisa inkarnasi kota sebelumnya sebagai Bizantium dan Konstantinopel, kita dapat menemukannya di mana-mana di kota yang luas ini.

Sejarah juga seperti  mengalir dari setiap jalan. Istanbul adalah kota abad ke-21 yang memadukan tempat-tempat kontemporer yang menarik dengan monumen abadi. Tempat ini  juga merupakan kota metropolitan modern dengan berbagai kafe dan klub yang trendi, yang merupakan kejutan yang menarik bagi setiap pengunjung.

Cobalah untuk menghabiskan waktu  pagi Anda dengan menjelajahi Grand Bazaar, lalu  sore Anda datang ke  Masjid Biru, kemudian berkunjunglah ke Museum Seni Modern Istanbul.

Jangan lupa untuk mengambil kesempatan  makan di resto-resto  Asia dan menikmati berpesta ala   Eropa hingga subuh.

Apa yang Dapat Anda Lihat dan Lakukan di Istanbul

Putuskan apa yang benar-benar ingin Anda lihat di Istanbul berdasarkan minat Anda – apakah itu seni, arsitektur, kehidupan jalanan, atau hanya mengambil beberapa foto dari landmark utama. Di antara yang menarik adalah:

Hagia Sophia & Masjid Biru
Hagia Sophia adalah gereja terbesar  Kristen sampai abad ke-15, yang kemudian berubah  menjadi masjid. Pada 1935  bangunan itu berubah menjadi museum dan menjadi salah satu bangunan terbesar di dunia.

Satu lagi yang istimewa adalah Masjid Biru. Lokasinya hanya beberapa langkah jauhnya dari Sophia. Ini pertama kali dibangun pada abad ke-17 sebagai masjid termegah di dunia, dan nama populernya berasal dari ubin biru yang menghiasi dinding interior.

Di arah tenggara Istanbul lainnya, ada Menara Galata, yang sebelumnya dikenal sebagai Menara Kristus. Menara itu dibangun oleh komunitas kota Genoa  dan menawarkan platform tampilan di atas.

Oya,  jangan lewatkan Dolmabahçe Sarayi, istana tempat para sultan yang pindah pada tahun 1856. Ini adalah konstruksi yang  luar biasa dengan interior mewah, yang meliputi lampu gantung terbesar di dunia dan hampir 300 kamar dan enam hamam.

Modern dan Seni Kontemporer 
Istanbul Modern adalah museum seni kontemporer nasional pertama di Turki. Obyek wisata ini dibuka pada tahun 2004 di bekas gudang, dan mempromosikan seni Turki dalam koleksi permanennya bersama dengan   pameran sementara yang dilakukan oleh seniman internasional. Tempat ini juga merupakan rumah bagi  kafe yang populer dan menawarkan pemandangan kota dari lantai dua.

Arsitektur dan Monumen Utama 
Jembatan Bosphorus yang terlihat dari Masjid Barak Ortakoy Camii merupakan  sumber gambar-kartu pos terbaik di Istanbul. Jembatan gantung itu menghubungkan Eropa dengan Asia dan dibuka pada 1973.

Situs Kuno 
Yerebatan Sarayi (Basilica Cistern) adalah instalasi  bawah tanah yang merupakan salah satu pemandangan paling mengesankan di kota ini. Obyek ini  berasal dari abad ke-6 dan memiliki lebih dari 300 kolom marmer, dua di antaranya dengan balok diukir di kepala Medusa.

Kota dan Jalan Utama 
Setiap pengunjung ke Istanbul pastinya ingin melewati Grand Bazaar. Lokasinya terletak di jantung bersejarah kota, ia memiliki lebih dari 4000 vendor, dan itu adalah pengalaman yang sangat menarik.   Dari lokasi ini, Anda bisa melanjutkan berbelanja  di Jalan Istiklal dengan pejalan kaki. Ini adalah kawasan kota yang paling ramai di Istanbul, tempat  bagi banyak toko internasional dan kafe.

Tempat Belanja
Pasar-pasar besar  dari zaman kuno di Istanbul sekarang digantikan oleh mal-mal canggih seperti Kanyon dengan hampir 200 toko merek internasional dan Turki. Tapi tentu saja Grand Bazaar masih ada di sana, meskipun itu lebih merupakan pengalaman wisata daripada tujuan belanja yang sebenarnya.

Kita bisa mencari suvenir di sekitar gang-gang tertutupnya, memilih karpet, rempah-rempah, kain, atau perhiasan. Anda juga bisa  pergi ke distrik Nisantasi, yang  merupakan tempat untuk berburu  merek-merek mewah.

Tempat turis dan penduduk lokal berbelanja bersama berada di Istiklal Caddesi. Ini kawasan untuk  pejalan kaki yang terkenal dengan toko-toko dan kafe-kafenya. Ini adalah jalan kosmopolitan yang tidak boleh dilewatkan oleh siapa pun yang mengunjungi kota ini, dari Taksim Square ke Menara Galata yang ikonik.

Makan dan Minum 
Tidak ada tempat lain di dunia ini yang eksotis pemandangannya saat Anda menghadap ke Bosphorus di sejumlah restoran di Eropa atau Asia. Di sini Anda bisa menikmati hidangan Turki kontemporer atau menu fusion internasional. Sejumlah besar kafe dan restoran dapat ditemukan di Istiklal Caddesi.***

Indonesia Tercantik di Asia, Terindah #6 di Dunia

PENERBIT buku panduan wisata Inggris, Rough Guides, menempatkan  Indonesia ke dalam daftar negara paling indah di dunia.

Peringkat yang diperbarui pada Januari lalu itu,  dibuat berdasarkan voting para pembaca Rough Guides melalui saluran media sosialnya.

Pencapaian itu disambut baik oleh Indonesia.  Presiden Joko “Jokowi” Widodo, melalui akun instagramnya mengungkapkan kegembiraannya.

“Penerbit terkenal di Inggris, Rough Guides, baru-baru ini melakukan survei global terhadap negara-negara paling indah di dunia. Hasilnya [menunjukkan] bahwa Indonesia berada di peringkat keenam di dunia, tetapi [disebut sebagai] negara terindah di Asia, ” kata Jokowi di akun medsosnya itu.

Dengan masuk menjadi 10 besar negara tercantik di dunia yang wajib dikunjungi, menurut Jokowi, hal itu jelas menjadi modal yang sangat berharga bagi kita. “Dengan modal itu saja, devisa pariwisata sudah mencapai USD17 miliar,” kata Presiden.

Namun di depan para anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia di Jakarta, belum lama ini, Jokowi  menyampaikan bahwa pariwisata Indonesia masih perlu digarap. Hal ini penting,  agar dapat memberikan devisa yang lebih besar lagi, “bahkan melebihi sektor-sektor lain yang selama ini menjadi unggulan,” tandasnya.

“Pertanyaannya, produknya sudah siap belum? Saya lihat destinasinya belum siap,” ujar Jokowi.

Untuk itu, Presiden telah menginstruksikan  Menteri PUPR untuk konsentrasi menggarap empat destinasi pariwisata prioritas. Sejauh ini dari 10 prioritas,  baru Bali  yang infrastruktur memadai, sedangkan yang  sedang dikembangkan yaitu Mandalika, Danau Toba, Labuan Bajo, dan Borobudur.

“Sebenarnya infrastruktur yang dibangun besar-besaran empat tahun ini, dari jalan sampai pasokan listrik, adalah untuk memudahkan akses dan pengembangan pariwisata di negara kita,” tutur Presiden

Kabar mengenai ini disambut baik kalangan netizen yang menjadi follower Jokowi, seperti:

@herrymosyen72: Harus itu pak..semangaaattt…indonesia beautiful

@ dhik166: Mantul

@arabica_tengger: Bromo hadir Pak Dhe @jokowi

@bulakjualan06: Maju terus pak , untuk Indonesia yg lebih indah dan lebih majun. Doa kami sekeluarga buat bapak dan keluarga

@fatiahistiqomah: Jangan rakus mengharapkan devisa pariwisata sebanyak2nya. Perlu juga diimbangi dengan adanya program serta edukasi kepada pihak2 terkait dan juga masyarakat akan pentingnya menjaga alam dan ekosistemnya agar tidak rusak. Belajar dari negara2 lainnya yang sudah menerapkan hal tersebut karena rusaknya alam mereka. Jangan sampai setelah rusak baru kita berpikir bagaimana cara merecoverinya. @jokowi

 

 

https://www.instagram.com/p/BtZpWTVhN5O/

 

Inilah 20 negara terindah di dunia, menurut pembaca Rough Guides:

  1. Skotlandia
  2. Kanada
  3. Selandia Baru
  4. Italia
  5. Afrika Selatan
  6. Indonesia
  7. Inggris
  8. Islandia
  9. Amerika Serikat
  10. Wales
  11. Slovenia
  12. Meksiko
  13. India
  14. Finlandia
  15. Swiss
  16. Peru
  17. Norway
  18. Irlandia
  19. Kroasia
  20. Vietnam