Yudhi Suyoto Menantang Raja Sapta Elvian

PEREBUTAN ‘penguasa’ olahraga DKI Jakarta segera di mulai. Akhir April nanti, tampuk pimpinan KONI DKI Jakarta segera berganti. Figur pun mulai bermunculan, dan sejumlah akademisi olahraga, juga beberapa cabor serta praktisi olahraga DKI menginginkan ‘orang baru’ memimpin KONI DKI Jakarta.

Alasan cukup masuk di akal, yaitu luka lama menyangkut kegagalan yang membuat terpuruknya prestasi olahraga DKI pada PON XIX/2016 di Bandung. Itu pula yang dikatakan Dr Nur Ali, dosen FPOK (Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) UNJ di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Nur Ali, ada enam kegagalan KONI DKI Jakarta.Bahkan, menurut Nur Ali, ada pelanggaran etik organisasi dalam RAT (Rapat Anggota Tahunan) KONI DKI karena ada upaya untuk tetap mempertahankan Raja Sapta Elvian sebagai ketua umum KONI DKI Jakarta periode 2017-2021.

Tentang enam kegagalan itu, Nur Ali menjelaskan, KONI DKI Jakarta gagal mempertahankan gelar juara umum dalam perhelatan bergengsi pada PON XIX/2016 di Jawa Barat. Kemudian, KONI DKI gagal memfasilitasi pemenuhan peralatan olahraga bagi cabang olahraga yang berlaga pada Pra PON tahun 2015 dan pada PON XIX tahun 2016.

Selanjutnya, KONI DKI Jakarta juga gagal yakinkan Pemerintah DKI dan Legislatif atas kebutuhan anggaran tahun 2016 sebesar Rp 700 miliar dan hanya mendapatkan sebesar Rp 200 miliar, masih di bawah anggarann tahun 2012 untuk mengikuti PON XVIII di Riau.

Kegagalan lainnya, KONI DKI gagal mengoptimalkan penyerapan dana untuk kebutuhan PON XIX, sehingga di akhir tahun 2016 justru ada pengembalian dana sebesar 13 miliar. “KONI DKI juga gagal membina hubungan baik dengan instansi pemerintah dan Legislatif Provinsi DKI Jakarta,” tambahnya.

Nur Ali mengatakan, dengan enam kegagalan itu, seharusnya Ketua Umum KONI DKI Jakarta, Raja Sapta Elvian harusnya tahu diri dan legowo untuk segera mundur dari bursa pencalonannya. Namun yang terjadi adalah dia mencalonkan diri kembali menjadi Ketua Umum KONI periode 2017-2021.

Sebagai figur yang juga sudah cukup malang melintang di dunia akademisi olahraga dan juga praktisi olahraga, Nur Ali mengatakan, saat ini cabor-cabor, badan fungsional dan KONI Wilayah tentu tidak bodoh untuk begitiu saja mau memberikan dukungan suara kepada calon ketua umum yang sudah memiliki track record kegagalan.

Pihaknya juga yakin Yudhi Suyoto yang diusungnya menjadi calon ketua umum KONI DKI periode 2017-2021 dapat memenangkan dalam pertarungan di Musorda KONI DKI akhir April mendatang.

Sejauh ini, Yudhi Suyoto memiliki pengalaman memimpin olahraga di DKI dan tingkat nasional. Yudhi pernah menjadi Kepala Dinas Olahraga bertahun-tahun, Ketua Harian KONI DKI, tiga periode Sekjen Perbasi, Ketua Perbasi, Wakil Sekjen PB PBSI, Ketua Perpani DKI. ***

Peluang Daud Yordan Juara Dunia Terbuka Lebar

PETINJU Indonesia Daud Yordan akhirnya membuktikan sesumbarnya dengan memukul jatuh lawannya petinju Thailand, Champee Phayom dalam pertandingan non-gelar yang dilangsungkan di OCBC Arena, Singapura, Sabtu (25/3) malam.

Duel Daud melawan Phayom ini merupakan bagian dari gelaran “Battle of Champions: Road to Glory” yang partai utamanya menyajikan perebutan gelar juara kelas welter (66,6 kg) WBC Silver antara juara bertahan Charles Manyuchi dari Zimbabwe melawan penantang Quadratillo Abduqaxorov dari Uzbekistan.

Dalam rekaman pertarungan yang diunggah ke laman berbagi video dalam jaringan youtube, terlihat Cino (julukan Daud Yordan) menyerang pertama kali dengan jab kirinya ke arah wajah Phayom dan dibalas pukulan kombinasi jab dan hook dari petinju Thailand.

Di ronde kedua, kembali kedua petinju terlibat jual beli pukulan dan saling meningkatkan kecepatan serta “power”. Akan tetapi Daud Yordan yang berusia 10 tahun lebih tua dari Phayom, mampu membuktikan kualitasnya dengan memukul jatuh petinju Negeri gajah putih itu dengan pukulan uppercut yang disusul jab kerasnya.

Hingga hitungan 10, Phayom tidak kunjung bangkit sehingga Daud “Cino” Yordan berhasil meneruskan tren positifnya yang selalu memperoleh kemenangan dalam tujuh pertandingan terakhir.

Kemenangan ini juga memperbaharui catatan pertandingan petinju berusia 29 tahun itu menjadi 37 kemenangan dari 40 kali bertanding, dengan 26 di antaranya melalui KO/TKO dan tiga kali menderita kekalahan.

Sedangkan bagi Phayom yang memulai debut di tahun 2015, memperbaharui rekor bertarung menjadi 11 kali menang (7 KO) dan tiga kali kalah hasil dari pertandingan yang dijadwalkan selama delapan ronde ini.

Dengan kemenangan ini, peluang Yordan untuk merebut juara dunia semakin terbuka lebar. Promotor dari Mahkota Promotion, Raja Sapta Oktohari, mengatakan promotor sudah menyiapkan pertarungan untuk merebut gelar juara dunia bagi petinju kelas ringan (61,2kg) asal Kalimantan Barat itu, namun tidak merinci informasi itu.

“Kami sudah melaporkan hasil pertarungan ini pada partner kami di Amerika Serikat dan kami memang sudah menyiapkan pertarungan untuk gelar juara dunia bagi Daud. Tapi saat ini kami belum bisa membeberkan detailnya,” kata Raja Sapta Oktohari.

Ia mengatakan kemungkinan pertandingan perebutan gelar juara dunia nantinya tidak digelar di Indonesia. Sebelum bertanding melawan Campee Phayom, Daud Yordan berada di peringkat dua kelas ringan WBA dan peringkat sembilan untuk WBO. Dan di WBC, petinju yang juga dipanggil Cino itu berada di luar 15 besar.

“Sejak awal saya berusaha menjalankan instruksi pelatih (Craig Christian) untuk bertarung disiplin dan itu terbukti berhasil. Semoga ini menjadi tanda kebangkitan tinju Indonesia,” kata Daud Yordan tentang kemenangannya melawan Campee Phayom.

Mengenai rencana laga setelah pertandingan non-gelar itu, ia mengatakan: “Itu semua urusan promotor. Saya yakin pihak promotor telah menyiapkan yang terbaik untuk saya ke depannya.” ***

Indonesia Rindukan Prestasi Olahraga

MASA paceklik prestasi atlet nasional sudah saatnya berakhir, dan kembali kepada teraihnya prestasi-prestasi gemilang seperti yang diharapkan. Singkatnya, Indonesia saat ini membutuhkan dan merindukan prestasi dari berbagai cabang olahraga,

Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto mengatakan, Indonesia saat ini membutuhkan dan merindukan prestasi dari berbagai cabang olahraga, termasuk taekwondo. Karena itu, turnamen nanti diharapkan bisa memunculkan atlet berprestasi untuk menyongsong berbagai event internasional.

“Indonesia memperoleh momentum membangkitkan kembali kejayaan olahraga melalui penyelenggaraan Asian Games 2018. Oleh karena itu kita merindukan prestasi dan itu menjadi tanggungjawab dari seluruh pemangku kepentingan di bidang olahraga menjawab kerinduan tersebut,” kata Gatot di Jakarta.

Dia mengemukakan, prestasi akan lahir dari adanya keseriusan dalam melakukan pembinaan olahraga sejak usia dini. Selain itu butuh komitmen untuk menyelenggarakan kompetisi dan turnamen secara berjenjang di semua level. “Taekwondo ini perkembangannya cukup menggembirakan karena keberadaannya makin digemari oleh anak-anak sejak usia dini,” jelasnya. ***

Turnamen Taekwondo Menhan Cup 2017

SEBANYAK 2.500 atlet taekwondo bakal mengikuti Turnamen Taekwondo Menhan Cup 2017 di Jakarta, 31 Maret – 2 April mendatang.Pada turnamen yang digelar Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PB TI), Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Kemenpora tersebut mempertandingkan dua kategoristasi, yaitu kyorugi (tarung) dan pomsae (seni).

Para peserta berasal dari 18 provinsi di Tanah Air, seperti Papua, Kalteng, Kaltara, Sumut, Jambi, Sumsel, Lampung, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, NTT, DI Yogyakarta, Sumbar, Kepulauan Riau, Kaltim dan Bengkulu. Selain itu ada peserta mancanegara dari Thailand dan Malaysia.

Ketua Umum Pengprov Taekwondo DKI Ivan Ronald mengatakan, ajang ini cukup diminati atlet dari berbagai daerah. Buktinya hingga pendaftaran ditutup pada 19 Maret lalu, taekwondoin yang ingin berpartisipasi mencapai 2.500 peserta.

“Cabang olahraga taekwondo ini masuk dalam cabang olahraga multieven, baik di SEA Games, Asian Games dan Olimpiade. Kami berharap melalui ajang ini akan lahir taekwondo-taekwondo Indonesia yang berprestasi di tingkat internasional,” kata Ivan Ronald.

Sementara itu, Ivan berharap, turnamen nanti diharapkan bisa memunculkan atlet berprestasi untuk menyongsong berbagai event internasional. Terlebih atlet Indonesia, termasuk cabang Taekwondo sudah cukup lama paceklik prestasi, dan sudah waktu yang tepat untuk membuktikan kemampuan. ***

Indonesia Tuan Rumah Dua Turnaman Bulutangkis Junior

KABAR gembira! Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan dua turnamen badminton paling bergengsi di level junior (U-19), Asia Junior Championships (AJC), serta World Junior Championships (WJC). Dua kejuaraan ini memainkan nomor beregu campuran dan perorangan.

AJC rencananya akan dilangsungkan di GOR Jaya Raya Bintaro, Jakarta, 22-30 Juli 2017, mundur beberapa pekan dari jadwal awal karena berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Adapun penyelenggaraan WJC telah diumumkan sejak tahun lalu, dimana Daerah Istimewa Yogyakarta akan menjadi provinsi penyelenggara kejuaraan ini, pada 9-22 Oktober 2017.

‘Soal persiapan yang cukup singkat, kami rasa tidak ada masalah. Masih ada waktu empat bulan ke depan, kami sudah mulai mengerjakan persiapan yang sudah bisa dikerjakan,’’ ujar Kasubid Hubungan Internasional PP PBSI, Bambang Roedyanto, di Jakarta.

Sebuah kehormatan bagi Indonesia dalam setahun dipercaya menjadi tuan rumah AJC dan WJC sekaligus. Ini membuktikan bahwa reputasi Indonesia sebagai penyelenggara kejuaraan bulu tangkis sudah diakui. Tak hanya mengangkat nama Indonesia, kesempatan menjadi tuan rumah juga menguntungkan Indonesia dari segi jumlah kuota atlet yang bertanding di AJC dan WJC 2017.

Klub dan pembina bulu tangkis juga dapat menyaksikan langsung sejauh mana kekuatan pemain-pemain asing dan nantinya dapat memberikan masukan bagi pembinaan atlet di klubnya. Selain itu, AJC dan WJC 2017 merupakan ajang bagi pebulutangkis U-19 untuk berlomba-lomba merebut poin menuju Youth Olympic 2018 di Buenos Aires, Argentina. Hampir dipastikan mereka yang akan turun di AJC dan WJC 2017 adalah atlet-atlet junior terbaik di dunia.

Indonesia telah memulai persiapan jelang dua kejuaraan ini dengan memanggil 26 atlet untuk latihan bersama di Pelatnas Cipayung. Atlet tunggal putra dan tunggal putri sudah bergabung pada 13 Maret 2017, sedangkan ganda putra dan ganda campuran pada 17 April 2017.

Berikut nominasi atlet Asia Junior Championships 2017:

Tunggal Putra

  1. Mochammad Rehan Diaz (Mutiara Cardinal Bandung)
  2. Gatjra Piliang Fiqihillahi Cupu (Exist Jakarta)
  3. Ikhsan Leonardo Emanuel Rumbay (SKO Ragunan)
  4. Fathurrachman Fauzi (Exist Jakarta)
  5. Alberto Alvin Yulianto (Djarum Kudus)

Tunggal Putri

  1. Sri Fatmawati (Jaya Raya Jakarta)
  2. Asty Dwi Widyaningrum (Jaya Raya Jakarta)
  3. Putri Ayu Desiderianti (Exist Jakarta)

Ganda Putra

  1. Abyyu Fauzan Majid (SGS PLN)
  2. Muhammad Shohibul Fikri (SGS PLN)
  3. Ade Bagus Sapta Ramadhani (Exist Jakarta)
  4. Alam Muhammad Afwani H (Exist Jakarta)
  5. Alfandy Rizki Putra Kasturo (Jaya Raya Jakarta)
  6. Emanuel Randy Febrito (Jaya Raya Jakarta)
  7. Ferdian Mahardika Ranialdy (Jaya Raya Jakarta)
  8. Ghifari Anandaffa Prihardika (Jaya Raya Jakarta)
  9. Fenta Age Prasetyo (Exist Jakarta)
  10. Jonanes Aldy Djunaedi (Exist Jakarta)
  11. Adnan Maulana (Jaya Raya Jakarta)
  12. Rizki Adam (Candra Wijaya International Badminton Club)

Ganda Campuran

  1. Renaldi Samosir (Exist Jakarta)
  2. Herdiana Yuli Marbela (Exist Jakarta)
  3. Indra Leonard Prasetya (Bayu Kencana Pasuruan)
  4. Violita Dewi (Bayu Kencana Pasuruan)
  5. Pramudya Kusuma (Djarum Kudus)
  6. Lisa Ayu Kusumawati (Djarum Kudus)

Lawan Petinju Thailand, Daud Yordan Jaga Kondisi

WAKTU duel yang tinggal hitungan hari tak dilewatkan begitu saja oleh petinju Indonesia Daud Yordan. Bahkan, dia terus menjaga kondisinya menjelang pertarungan non-gelar melawan petinju asal Thailand Campee Phayom di OCBC Arena, Singapura, Sabtu (25/3).

Ini merupakan pertarungan pertama Daud setelah merebut gelar juara WBA International di Montevideo, Uruguay, Juni tahun lalu saat dia mengalahkan Cristian Rafael Coria dengan kemenangan angka mutlak.

Lebih dari enam bulan tanpa jadwal bertarung tak membuat Daud bersantai. Sebagai seorang petinju profesional, dia terus menjaga kondisinya agar terus berada dalam kondisi prima. Saat mendapat kabar harus bertarung kurang dari satu bulan, Daud juga tidak terlalu kaget.

“Saya tetap rutin berlatih di kampung. Jadi saya tidak terlalu kaget saat diberitahu harus bertanding dalam waktu yang sesingkat ini. Saat datang ke Bali dan mulai berlatih bersama Craig Christian, dia juga bilang bahwa kondisi saya sudah siap sehingga tinggal melanjutkan program dari Craig saja,” ujar Daud, Kamis (23/3).

Selama menunggu jadwal pertarungan berikutnya, Daud terus menempa fisiknya di pagi hari dilanjutkan dengan latihan teknik di sore hari bersama dengan petinju-petinju lokal di sasana miliknya. Petinju yang akrab disapa Cino ini akan menjalani timbang badan resmi pada Jumat (24/3) dan dia mengatakan sudah tidak ada masalah dengan berat badannya.

“Kamis pagi berat saya 62 kilogram dari batas berat badan 61,2 kilogram. Dari pihak promotor mengatakan bahwa limit berat badan kali ini tidak terlalu ketat karena ini pertarungan non-gelar. Jadi saya akan menjaga berat badan saya di sekitar angka yang sekarang saja supaya tidak terlalu menyiksa diri,” kata Daud, yang saat ini memiliki rekor bertarung 36 kali menang (24 KO) dan tiga kali kalah.

Sekadar diketahui, sekarang Daud berada di peringkat dua kelas ringan WBA dan peringkat sembilan di WBO. Untuk WBC, Daud berada di luar 15 besar, sehingga kemenangan pada partai non-gelar ini akan membawa Daud ke peringkat yang lebih baik di WBC. ***

Muaythai Bidik Sukses SEA Games & Asian Games

KEBERHASILAN Muaythai merebut tiga medali emas, satu perak dan dua perunggu dalam Kejuaraan Internasional Muaythai Martial Art di Bangkok, Thailand, 11-18 Maret lalu, merupakan hasil luar biasa. Terlebih, ajang ini diikuti para atlet dari 56 negara.

Hasil luar biasa itu makin mempertebal optimisme muaythai merebut emas pada SEA Games 2017 di Malaysia dan menatap sukses jika dipertandingkan pada Asian Games 2018. Sukses yang diraih dilalui melalui perjuangan berat. Persiapan dilaksanakan dengan biaya swadaya, lantaran dukungan pemerintah untuk persiapan menuju SEA Games 2017 belum turun, ternyata mampu menunjukkan prestasi gemilang.

“Ini hasil luar biasa. Apalagi atlet kita ada yang menang ko. Kami jelas bangga karena upaya kami dalam berkarya dengan swadaya membuahkan hasil. Tapi kami tidak boleh berpuas diri karena target kami ada di SEA Games 2017 dan Insya Allah juga merebut emas di Asian Games 2018 saat Indonesia menjadi tuan rumah,” ujar Ketua Umum PB MI, Sudirman kepada wartawan saat ditemui di lantai 11 Gedung KONI Pusat, Senayan, Jakarta.

Indonesia mengirimkan 11 atlet ke Kejuaraan Internasional Muaythai Martial Art di Bangkok. Hasil gemilang tiga emas dipersembahkan oleh M Ridwan di kelas 48 kg, Madlani kelas 51 kg dan Zulbimantara kelas 54 kg.  Tiga emas itu dihiasi satu perak oleh Rinda di kelas 51 kg kemudian perunggu dari Jalu pada kelas 71 kg dan Jeksen Karmela di kelas 57.

Hasil yang membuat PB MI makin serius menempa para atlet untuk berprestasi di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. “Kami mentargetkan untuk mereih emas di SEA Games 2017 juga di Asian Games 2018,” jelas Sudirman.

Untuk itu, demi meningkatkan prestasi para atlet, PB MI telah menyusun program yang berksinambungan. Para atlet Pelatnas SEA Games dan Asian Games mulai 20 Maret lalu langsung melakukan training camp selama satu bulan di Angthon Institute Campus, Thailand. Mereka ditempa oleh dua pelatih asal Thailand dan didapingi dua pelatih serta satu wasit dari Indonesia.

Setelah pulang ke Tanah Air, para atlet andalan Indonesia itu akan tampil pada ajang Muaythai One di Ciater selama satu malam. Dalam ajang ini seluruh atlet terbaik Indonesia akan ambil bagian. Diperkirakan ajang yang digelar di daerah wisata itu akan dihadiri ribuan peserta.

Untuk ajang internasional, PB MI akan mengirimkan atlet Pelatnas SEA Games dan lapis dua ke Kejuaraan Dunia di Belarusia mulai 2 Mei mendatang. Dalam kejuaraan yang diikuti 100 negara ini, Indonesia berusaha meraih satu emas. Menyamai raihan 1 emas dan 2 perak pada Kejuaraan Dunia tahun lalu di Swedia.

“Pada bulan Juli kami akan mengirimkan atlet terbaik ke World Games di Polandia. Ini akan menjadi ajang uji coba terakhir atlet Pelatnas SEA Games. Doakan agar bisa meraih yang terbaik untuk Merah Putih,” ucap Sudirman yang juga Ketua Badan Arbitrase Olahraga Indonesia (BAORI) itu. ***

Jual Beli Lisensi di Liga 2 PSSI

MASALAH yang luput dari perhatian PSSI di Liga 2 adalah terjadinya transaksi jual beli klub. Setidaknya, di Liga 2 ada lima klub yang melakukan transaksi jual beli. Yakni, PS Bintang Jaya Asahan yang pindah dan berganti nama menjadi 757 Kepri Jaya FC. Lalu, Villa 2000 yang berganti menjadi Celebest FC. Persebo Bondowoso menjadi Sumsel Musi Banyuasin FC, Persires Rengat menjadi Lampung Sakti FC, dan Laga FC yang berpindah kepemilikan menjadi Sragen United.

“Yang harus diingat PSSI adalah bahwa jual beli klub hanya dibolehkan melalui proses jual beli saham. Bukan jual beli lisensi. Pasalnya, bila yang terjadi adalah jual beli lisensi maka PSSI sejatinya sudah melanggar statuta dan regulasi FIFA terkait lisensi klub profesional,” ujar Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS.

Dalam regulasi FIFA artikel 4.4 halaman 20 yang dijadikan acuan Konfederasi (AFC) dan federasi (PSSI) dalam menentapkan lisensi klub profesional dengan gambang dan tegas dijelaskan. Artikel 4.4.1.7 menyatakan “A licence may not be transferred” yang bila diterjemahkan berarti lisensi klub tak bisa dipindahtangankan (dijualbelikan). Artinya, bila PSSI selaku federasi membolehkan jual beli lisensi, maka mereka serta merta telah melanggar statuta dan regulasi yang telah ditetapkan FIFA dan AFC. Dengan kata lain, FIFA-AFC pantas memberikan sanksi kepada PSSI.

“Seharusnya Komite Lisensi PSSI atau bahkan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) ikut turun tangan untuk setidaknya menjadi saksi terhadap transaksi jual beli klub yang dilakukan. Apakah jual beli yang dilakukan itu jual beli saham layaknya sebuat Perseroan Terbatas (PT), atau jual beli lisensi. Bila terjadi pelanggaran harus diberikan sanksi, bukan didiamkan seperti yang terjadi,” kata Akmal.

#SOS menemukan data bahwa jual beli klub yang dilakukan mayoritas adalah jual beli lisensi, bukan jual beli saham. Bahkan, ada yang hanya jual beli asset berupa logo klub. Parahnya lagi, jual beli lisensi yang dilakukan melibatkan pejabat teras PSSI sebagai “calonya”. “Tidak dibenarkan pejabat teras PSSI menjadi makelar jual beli lisensi klub. Harusnya Komite Etik PSSI memperhatikan ini dan memberikan sanksi kepada pejabat PSSI yang terlibat,” kata Akmal. “Dikhawatirkan terjadi conflict of interest dalam proses jual beli lisensi dan juga saat klub tampil di kompetisi. Ini jelas melanggar etika,” Akmal menegaskan.

Selain jual beli lisensi, cross ownership (kepemilikan dua atau lebih klub) dalam satu kompetisi itu juga dilarang FIFA. Masalah ini juga luput dari perhatian PSSI. “PSSI saat ini menjadi simbol reformasi tata kelola sepak bola professional. Sejatinya, kesalahan masa lalu tak dibiarkan terjadi lagi. PSSI harus bekerja profesional dan bermartabat sesuai motonya,” Akmal mengungkapkan. “Mari sama-sama kita tegakkan aturan untuk sepak bola Indonesia yang lebih baik.” ***

#SOS: Liga 2 Sangat Rawan Masalah

PESERTA 60 klub. Tiga klub akan promosi, 36 klub akan degradasi. Komposisi yang tidak sehat untuk sebuah kompetisi profesional.

Bila Liga 1 (dulu ISL: Indonesia Super League) jadi primadona yang kabarnya akan dapat subsidi Rp 7,5 miliar per klub dan berkesempatan menggunakan Marquee Player. Beda halnya dengan Liga 2 (Divisi Utama). Mereka masuk kategori “anak tiri”.

Selain minim perhatian, peserta Liga 2 yang juga kompetisi profesional tak memiliki saham di PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku operator kompetisi sepak bola nasional. Peserta Liga 2 hanya mendapatkan “tali asih” yang tak lebih dari Rp 500 juta per klub untuk menjalankan kompetisi yang super berat. Fakta inilah yang membuat Liga 2 akan sangat rawan masalah.

Masalah pertama muncul dalam proses pembagian grup. Dari 60 klub peserta Liga 2, PSSI akan membagi menjadi 6 Grup. Artinya, tiap-tiap grup akan berisi 10 klub. Persebaran peserta yang jomplang menjadi salah satu sumber kerawanan. Berdasarkan data yang dihimpun Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, dari 60 klub yang berpartisipasi tersebar di 22 provinsi. Jawa Timur (14 klub) dan Jawa Tengah (12 klub) menjadi penyumbang kontestan terbanyak. PSSI berencana membagi grup berdasarkan region (kedekatan wilayah).

“SOS berharap pembagian grup oleh PSSI berlangsung fair dan transparan. Tidak ada lagi pengevakuasian klub dari regionnya berdasarkan kepentingan tertentu. Ini penyakit PSSI dulu. Terjadi transaksi di bawah meja untuk meloloskan klub-klub tertentu. Semoga hal ini tak terulang pada kepengurusan PSSI di bawah kepemimpinan Letjen Edy Rahmayadi yang memiliki jargon profesional dan bermartabat,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS.

Lepas dari pembagian grup, masalah berikutnya adalah aturan promosi dan degradasi. Dari 60 kontestan, rencananya hanya tiga klub yang promosi ke Liga 1. Yang paling rawan tentunya, jumlah peserta yang terdegradasi ke Liga 3 mencapai 36 klub. Maklum, PSSI berencana akan memutar Liga 2 pada musim 2018 dengan 24 klub peserta. Komposisi klub yang bakal turun kasta (36 klub) sangat jomplang dengan yang akan tetap bertahan (24 klub).

“Ini sangat tidak sehat untuk sebuah kompetisi. Dikhawatirkan akan terjadi transaksi jual beli pertandingan. Utamanya, untuk yang hanya sekadar bertahan. Maklum, hanya 4 Besar peringkat masing-masing grup yang tetap berada di Liga 2. Selebihnya (enam klub masing-masing grup) turun kasta,” kata Akmal. “Perbandingannya 4/10 bertahan dan 6/10 degradasi. Ini sangat riskan. PSSI harus ketat melakukan pengawasan di setiap pertandingan. SOS melihat mungkin hanya empat pertandingan di setiap grup yang akan berlangsung bersih. Selebihnya, bisa terjadi jual beli skor dan hasil pertandingan,” Akmal menegaskan.

#SOS menyanyangkan kebijakan PSSI yang memaksakan peserta kompetisi Liga 2 dengan 60 klub peserta. Pasalnya, banyak klub yang sejatinya tidak layak tampil bila dilakukan verifikasi berdasarkan aturan lisensi klub professional yang ditetapkan FIFA dan AFC. “Daripada PSSI memaksakan diri melibatkan 60 peserta, lebih baik dilakukan verifikasi baik aspek legal, infrastruktur, finansial, supporting, dan Sumber Daya Manusia (SDM). Klub yang tak memenuhi syarat harus harus berbesar hati tak ambil bagian. Ini kompetisi profesional, bukan tarkam,” Akmal mengungkapkan.

Aspek keuangan (finansial) menjadi barometer kekuatan klub untuk mengikuti kompetisi Liga 2. Musim lalu, saat digelar kompetisi tak resmi, Indonesia Soccer Championship (ISC) B, banyak klub yang tak melunasi gaji pemainnya. Dikhawatirkan musim 2017 kejadian menunggak gaji terulang. Akibatnya, aka nada klub yang sengaja menjual pertandingan untuk menutupi kebutuhan. Yang paling mengkhawatirkan: klub mundur di tengah jalan.

“Minimal peserta Liga 2 butuh Rp 3-5 Miliar untuk memenuhi kebutuhannya mengikuti kompetisi. Subsidi hanya Rp 500 juta. Klub harus mencari dana tambahan mulai Rp 2,5 miliar sampai Rp 4,5 miliar. Ini sangat rawan. Apalagi banyak klub Liga 2 yang belum mampu menarik minat sponsor,” Akmal menegaskan. “Krisis keuangan di tengah kompetisi menjadi pemicu jual beli pertandingan. Ini harus dipikirkan dan diantisipasi secara matang,” Akmal mengungkapkan. ***