Berharap Sukses di Azerbaijan

TINGGAL sebulan lagi persiapan yang harus dilakukan atlet Indonesia yang bakal berlaga di ajang Islamic Solidarity Games (ISG) 2017 di Baku, Azerbaijan. Di pundak merekalah, Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berharap atlet Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa dengan menyabet peringkat kedua.

Harapan itu disampaikan langsung oleh Sesmenpora, Gatot S Dewa Broto. “Sasaran kami bisa berada di peringkat dua,” kata Gatot di media center Kemenpora, Jakarta. Gatot melanjutkan, keinginan pemerintah agar Indonesia bersinar bukan tanpa alasan. Sebab, pada ISG sebelumnya, Indonesia yang saat itu menjadi tuan rumah sukses menjadi juara umum dengan pencapaian 36 medali emas, 35 perak dan 34 perunggu.

Pada ISG ke-4 yang digelar ISG digelar pada 8-22 Mei ini, Indonesia bakal turun di 13 dari 20 cabang olahraga yang dipertandingkan yang di antaranya adalah menembak, taekwondo, polo air, selam, wushu, judo, senam, angkat besi, renang, atletik dan paraatletik.

Terkait dengan anggaran, Gatot menjelaskan pemerintah telah menyiapkan dana Rp10 miliar. Dana tersebut ditetapkan tanpa sebelum penetapan berapa cabang olahraga yang bakal dikirim dan akan digunakan untuk tranportasi, akomodasi dan uang saku.

Untuk jumlah atlet yang bakal dikirim tanpa pemain sepakbola sebanyak 104 orang. Jumlah ini menurun cukup jauh dibandingkan dari keterangan pihak KOI sebelumnya yaitu bakal mengirim 140 atlet. Saat ini, persiapan atlet telah dilakukan Satlak Prima. ***

Belum Jelas, Nasib Timnas U-22 di ISG 2017

PERSIAPAN sudah dilakukan, apa daya belum ada kepastian bagi tim nasional (timnas) Indonesia U-22 bisa berlaga di ajang Islam Solidarity Games (ISG) 2017 di Baku, Azerbaijan. Namun demikian, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) menyatakan kepastian keikutsertaan tim nasional U-22 dalam Islamic Solidarity Games (ISG) 2017 di Baku, Azerbaijan, akan segera ada kepastian.

“Saat ini kami terus mengusahakan. Keputusan final dapat diketahui sampai minggu kedua April karena pertandingan sudah dimulai awal Mei,” ujar Juru Bicara KOI Raja Parlindungan Pane di Jakarta

Raja melanjutkan sampai sekarang Panitia Pelaksana Islamic Solidarity Games Azerbaijan (AISGOC) belum memberitahukan secara jelas alasan mengapa sepak bola Indonesia tidak dilibatkan di ISG bersama delapan negara yang sudah resmi yaitu Azerbaijan, Turki, Arab Saudi, Kamerun, Maroko, Oman, Palestina, dan Aljazair.

Kalau melihat posisi kedelapan negara itu di peringkat Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), KOI menduga alasannya adalah posisi Indonesia yang memang lebih rendah dari kedelapan negara tersebut.

Berdasarkan data FIFA terbaru, Indonesia berada di peringkat 167 FIFA. Adapun peringkat terendah dari delapan negara yang diumumkan AISGOC untuk sepak bola adalah Palestina yang berperingkat 134. “Lalu bisa saja AISGOC memutuskan untuk efisiensi, jadi hanya delapan negara yang bisa memperebutkan medali emas ISG. AISGOC sendiri tidak pernah mengeluarkan alasan secara eksplisit,” kata Raja.

Menurut dia, dalam surat pada tanggal 27 Maret 2017, AISGOC hanya mencantumkan pernyataan “negara anda akan menjadi cadangan (reserved), yang baru bisa bertanding jika ada negara yang mengundurkan diri”. KOI menegaskan, tidak ada kekurangan kelengkapan administrasi pendaftaran cabang olahraga sepak bola ISG.

Ajang ISG 2017 sendiri diadakan pada 8-22 Mei 2017 di Baku, Azerbaijan. Cabang olahraga sepak bola mulai dipertandingkan pada 8 Mei 2017 dan di final digelar pada 21 Mei 2017. Timnas U-22 Indonesia yang dilatih Luis Milla direncanakan mengikuti kejuaraan multi cabang tersebut sebagai bagian dari persiapan menuju SEA Games 2017 di Malaysia. ***

Awas, Pemain dan Pelatih Asing Liga 1 Tanpa KITAS

GOJEK Traveloka Liga 1 tinggal 11 hari lagi. Rencananya kick-off akan dilakukan 15 April 2017 dengan laga pembuka: Persib Bandung vs Arema. Mungkinkah kompetisi di bawah PSSI yang punya jargon #Profesional dan #Bermartabat dan jadi harapan penggerak reformasi tata kelola sepak bola Indonesia ini taat aturan?

Selain sejumlah regulasi yang kontroversial, Liga 1 juga berpotensi mempekerjakan tenaga asing (pemain dan pelatih) ilegal alias tanpa izin kerja. Berdasarkan hasil survey Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Save Our Soccer #SOS, sampai H-11 mayoritas klub belum mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara/Terbatas (Kitas) yang menjadi syarat mempekerjakan tenaga asing.

“Ini tidak bisa dibiarkan karena merugikan negara. Klub peserta dan operator kompetisi harus ditindak sesuai aturan hukum yang berlaku. Jangan lagi ada toleransi untuk sebuah pelanggaran,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS.

KITAS adalah syarat wajib mempekerjakan tenaga asing sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 12 Tahun 2013 dan Undang Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang imigrasi. Aturan ketenagakerjaan menyebutkan pekerja asing berkewajiban membayar  Kompensasi Penggunaan Tenaga Kerja Asing (KPTKA) yang nilainya 100 dolar AS per bulan. Artinya, bila pemain/pelatih asing dikontrak setahun mereka berkewajiban membayar 1200 dolar AS.

Saat digelar Indonesian Soccer Championship (ISC) banyak pemain dan pelatih asing tak punya izin kerja sampai akhirnya #SOS mengingatkan. Bahkan, pelatih timnas ketika itu, Alfred Riedl dan asistennya Hans Pieter Sieler serta Pikal Wolfgang tak punya izin kerja. Kerugian negara mencapai lebih dari Rp 500 juta. Bisa jadi saat ini selain pelatih dan pemain yang akan tampil di Liga 1 belum banyak yang mengurus KITAS, PSSI juga abai dengan izin kerja pelatih timnas U-22 Luis Milla Aspas dan dua asistennya, Miguel Gandia, pelatih fisik, dan Eduardo Perez, yang sudah mendampingi timnas uji coba melawan Myanmar.

“Operator kompetisi dalam hal ini PT Liga Indonesia Baru (LIB) tidak boleh mengesahkan dan mengizinkan pemain dan pelatih asing yang belum memiliki KITAS. Bila hal ini diabaikan, tak ada bedanya dengan PT Liga Indonesia dan PT Gelora Trisula Semesta yang dulu melanggar aturan baik regulasi kompetisi maupun undang-undang negara,” kata Akmal.

Ya, jangan lagi aturan negara soal KITAS kembali ditabrak. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) sebagai refresentasi negara yang berwenenag melakukan pengawasan terhadap olahraga profesional tidak boleh lagi bersikap lembek dan kompromistis. Bahkan, harus buat aturan tegas: pemain asing yang mau  bekerja di Indonesia datang minimal pakai visa kunjungan usaha (VKU) bukan lagi visa on arrival (VOA) alias visa turis seperti banyak yang terjadi sampai saat ini. VOA masanya cuma 40 hari. Sementara VKU itu tiga bulan dan bisa diperpanjang dua kali. Ini untuk antisipasi lamanya pengurusan KITAS dan agar devisa negara tak lari ke Singapura dan Malaysia tempat para ekspatriat memperpanjang VOA-nya.

“Aturan dibuat untuk ditegakkan, bukan dilanggar. Selama pengingkaran aturan dibiarkan, sepak bola kita tak akan bisa profesional dan mendapatkan prestasi yang membanggakan. Reformasi tata kelola sepak bola seperti yang diamanatkan Presiden Joko Widodo pun tak akan berjalan sesuai harapan,” kata Akmal.***

“Bali Sixes” sebagai Ajang Seleksi

TAK berlebihan bila Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Cricket Indonesia (PB PCI) Aziz Syamsuddin menyebut Kejuaraan Cricket Internasional 2017 yang digelar di Bali 14-23 April 2017 sebagai ajang seleksi atlet menuju SEA Games 2017 di Malaysia dan Asia Games 2018 di Indonesia.

Aziz yang juga anggota DPR RI menjelaskan, kejuaraan ini dinilai sangat tepat bagi Indonesia karena atlet negara lain yang turun mayoritas pemain timnas meski pada kejuaraan di Bali ini membela timnya masing-masing. “Pemain terbaik masing-masing negara banyak yang turun di sini. Makanya kita harus bisa memaksimalkan. Apalagi beberapa negara merupakan calon lawan kita di SEA Games nanti,” katanya menambahkan.

Pada gelaran kali ini, sebanyak 16 tim dari delapan negara dipastikan bakal memeriahkan Kejuaraan Cricket Internasional 2017 atau lebih dikenal dengan sebutan “Bali Sixes” dan Kartini Cup di lapangan cricket Udayana, Bali, 14-23 April. Delapan negara yang berpartisipasi itu adalah Inggris, Australia, Malaysia, Singapura, India, Thailand, Selandia Baru, dan tuan rumah Indonesia. “Kejuaraan ini terdiri dua rangkaian yaitu Bali Sixes untuk putra pada 14-16 April, dan Kartini Cup untuk putri pada 17-23 April,” katanya.

Meski akan berhadapan dengan Thailand, Malaysia maupun Singapura, Aziz menegaskan kemampuan atlet Indonesia bisa diandalkan. Karena itu, pihaknya meminta pemain timnas yang saat ini membawa nama timnya dapat bermain maksimal. Berkaitan peluang atlet Indonesia pada SEA Games 2017, Aziz menjelaskan cukup terbuka. Peluang terbesar dari timnas putri, karena berdasarkan hasil pertandingan uji coba yang dilakukan, trennya terus mengalami peningkatan. ***

Lombok Bakal Miliki Sirkuit MotoGP

KABAR gembira bagi pecinta dunia otomotif tanah air. investor France’s Vinci Construction sepakat melakukan investasi senilai 500 juta dollar Amerika Serikat (AS), untuk membangun komplek wisata 120 hektar dan sirkuit MotoGP di Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dengan demkian, Indonesia bakal memiliki sirkuit baru yang dapat digunakan untuk balap MotoGP. Perjanjian investasi tersebut ditandatangani Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) dan Presiden RI Joko Widodo, dalam kunjungan kenegaraan belum lama ini di Perancis.

Deputi V Bidang Harmonisasi dan Kemitraan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Gatot S Dewa Broto menjelaskan, dari pihak Lombok atau ITDC belum ada yang minta surat rekomendasi pembangunan Sirkuit ke Kemenpora.

“Kami baru akan melakukan pertemuan sore ini. Informasi selengkapnya akan saya umumkan setelah pertemuan itu,” ujar Gatot kepada Otomania.com melalui pesan singkat, Selasa (4/4).

Sejauh ini, kata Gatot baru Palembang dan MNC Group yang sudah memberikan surat rekomendasi untuk membangun Sirkuit. Namun, belum ada perkembangan terbaru lagi.

“Semuanya masih sama. dam kita sudah memberikan surat rekomendasi kepada MNC Group yang akan membangun Sirkuit di kawasan Lido, Bogor. Palembang masih menunggu kabar terbaru dari pihak sana,” kata Gatot.

Menurut Abdulbar Mansoer, Kepala ITDC seperti dikutip laman GCR, Selasa (4/4/2017) mengatakan, investasi Rp 6 triliun itu untuk membangun tujuh hotel di Lombok dan Bali, serta Sirkuit MotoGP di Mandalika, Lombok. Pembangunan semuanya ditargetkan rampung dua tahun ke depan atau sekitar 2019. ***

Adu Tangkas Berebut Piala Danjen Kopassus

MULAI 2-7 April 2017 sebanyak 16 tim bola voli akan berjibaku mengatur serangan dan pertahanan bak tentara untuk memperebutkan Piala Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus dalam event bertajuk turnamen voli Danjen Kopassus-BNI Terbuka 2017 di Gedung Nanggala Markas Kopassus Cijantung, Jakarta/

“Turnamen ini menjadi ajang sinergi antara prajurit Kopassus dengan masyarakat untuk memperingati HUT ke-65 Kopassus pada 16 April,” kata Wakil Ketua Panitia Danjen Kopassus Terbuka 2017 Letnan Kolonel Infantri Ahmad Fikri Musmar dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (31/3).

Enam belas tim bola voli itu terbagi dalam delapan tim putra yaitu tim Asabri, tim Persatuan Bola Voli Angkatan Darat, tim BCA, tim Pelindo, tim Mega Jayatama, tim PPOP DKI, tim Bandung Tectona, dan tim Kopassus.

Sementara, delapan tim putri yang akan bertanding dalam turnamen berhadiah total Rp115 juta itu antara lain tim Persatuan Bola Voli Angkatan Darat, tim SKO Kemenpora, tim PPOP DKI, tim PPLPD Bogor, tim Dwise, tim Universitas Negeri Jakarta, tim BNI, dan tim Mabes Angkatan Udara.

“Delapan tim putra dan tim putri itu masing-masing akan dibagi ke dalam dua pool. Peringkat pertama dan kedua dalam setiap pool akan bertanding pada putaran semifinal dan final,” kata Fikri yang juga menjabat sebagai Wakil Komandan Grup 3 Kopassus itu.

Turnamen yang terbuka untuk umum itu, lanjut Fikri, akan menggelar enam pertandingan setiap hari pada babak penyisihan pool selama enam hari dan putaran semifinal dan final pada Jumat (7/4). “Kopassus juga ingin turut membangun budaya olahraga dan prestasi masyarakat dengan kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Memang, dalam hajatan besar tahun ini, Kopassus TNI AD juga menggelar sejumlah kegiatan tahun in olahraga untuk memperingati HUT ke-65 antara lain lomba lari Komando Run, lomba sepeda motocross, lomba lari militer Komando Warriors, turnamen Karate Terbuka, lomba eksekutif menembak, lomba panjat dinding, serta lomba marching band. ***

Kebijakan Serampangan PSSI Soal Marquee Player

DI LUAR masalah melanggar peraturan FIFA, kebijakan PSSI untuk Liga 1 terkait pemain juga tak luput dari masalah. Terkesan keputusan yang dikeluarkan tidak melalui sebuah proses yang matang alias terburu-buru. Kebijakan Marquee Player (MP) misalnya. Semula PSSI mengeluarkan kebijakan terkait pemain asing adalah 2+1. (Dua pemain Asing Non Asia + Satu Asia). Lalu menjadi 2+1+1 Marquee Player. Lalu berubah menjadi 2+1+1 MP +1 MP. Belakangan, Ketua Umum PSSI, Letjen Edy Rahmayadi, menyatakan bahwa klub boleh memiliki dan memainkan lima MP.

Kebijakan penggunaan Marquee Player sejatinya sangat bagus buat mengangkat prestise Liga 1. Tapi, karena sosialisasinya lemah dan berubah-ubah terkesan jadi serampangan. Semula, #SOS berpikir bahwa Marquee Player adalah kebijakan khusus dimana klub akan mendapatkan masing-masing satu dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator dengan cara diundi penempatannya. Dananya bisa diambil dari subsidi Rp 7,5 miliar yang diberikan kepada klub. Klub hanya mendapatkan Rp 5 miliar untuk operasional, sementara Rp 2,5 miliar diperuntukkan untuk Marquee Player.

Nilai Rp 2,5 miliar ini hampir setara dengan pemain sekelas Didier Drogba yang bermain bersama Phonenix Rising FC di MLS dengan bayaran 250 ribu dolar AS setahun. Bila klub ingin membeli pemain dengan harga melebihi itu, mereka tinggal menambahkannya. “Dengan disebarnya Marquee Player ke 18 klub peserta akan sangat adil dan membuat kompetisi sangat menarik dengan hadirnya para pemain bintang,” kata Akmal. “Kebijakan yang memberikan kebebasan kepada klub merekrut sebebasnya Marquee Player sesuai kemampuan akan membuat kompetisi tak sehat. Ini hanya melahirkan kesenjangan antara klub kaya dan miskin,” Akmal menegaskan.

Selain itu, kebijakan klub peserta Liga 1 wajib mendaftarkan lima pemain U-23 juga sejatinya sangat bagus untuk regenerasi. Ditambah dengan kebijakan wajib memainkan tiga pemain U-23 minimal 45 menit untuk menambah jam terbang. Tapi, kebijakan ini menjadi tidak nyambung karena peserta Liga 1 bakal menggelar kompetisi mudanya kategori U-19. Ada yang terputus dari 19 menuju 23 tahun. “Lebih progresif bila kebijakan itu diberlakukan bukan untuk U-23, tapi U-19. Jadi, nyambung dengan kompetisi U-19 antar Klub Liga 1. Usia 23 sejatinya sudah jadi pemain profesional. Mereka juga bisa dimatangkan di Liga 2 dan Liga Nusantara yang menggunakan kebijakan U-23,” kata Akmal.

Sementara pembatasan setiap klub Liga 1 hanya boleh mengontrak maksimal dua pemain U-35 terbilang aneh. Pasalnya, sepak bola profesional tidak melihat umur, tapi kualitas pemain. Pemain tua dengan sendirinya akan berguguran bila kualitasnya sudah tak mampu bersaing. Ditambah hadirnya pemain muda potensial. Jadi, tak perlu dibatasi. “Pembatasan umur maksimal pemain sepakbola ini melanggar Hak Azasi Manusia (HAM). Juga hak sebagai pekerja profesional,” kata Akmal.***

#SOS: PSSI Langgar Aturan FIFA

KEBIJAKAN PSSI bersama PT Liga Indonesia Baru (LIB) terkait boleh melakukan lima pergantian pemain di Liga 1 yang akan bergulir mulai 15 April 2017 melanggar Law of The Game FIFA yang dikeluarkan The International Football Association Board 2016/2017. Dalam peraturan terkait Kompetisi Resmi (Official Competitions), FIFA menyatakan “A maximum of three substitutes may be used in any match played in an official competition organised under the auspices of FIFA, confederations or national football associations.”

Pada bagian penjelasan (explanation) juga dipaparkan bahwa “FIFA, confederations, and national football associations can allow up to maximum of five substitutes in all competitions except at the highest level.” (FIFA, Konfederasi, dan Asosiasi Sepak Bola Nasional boleh mengizinkan maksimal lima pergantian pemain di semua kompetisi kecuali di level tertinggi.”

“Bila aturan ini dijalankan berarti Liga 1 bukan kompetisi tertinggi atau menilik Law of The Game FIFA bisa juga disebut friendly game yang membolehkan pergantian pemain sampai 6-7 kali,” kata Akmal Marhali, Koordinator Save Our Soccer #SOS. “PSSI juga telah melanggar statutanya sendiri. Di pasal 8 Statuta PSSI tentang Law of The Game disebutkan PSSI dan tiap anggotanya melangsungkan permainan sesuai dengan Law of the Game yang dikeluarkan oleh IFAB,” kata Akmal.

FIFA sendiri memang baru saja mengeluarkan kebijakan membolehkan pergantian pemain sampai empat kali. Itu pun pergantian keempat dilakukan di masa perpanjangan waktu. Tapi, hal ini belum menjadi putusan baku. Masih sebatas uji coba dan baru tahap sosialisasi yang dilakukan di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. “Seharusnya PSSI berkonsultasi dulu ke FIFA sebelum mengambil kebijakan yang menabrak law of the game, baru mensosialisasikannya. Bukan sebaliknya,” Akmal menambahkan.

Sejatinya, bukan soal pergantian lima pemain saja kebijakan PSSI menabrak aturan FIFA, AFC, bahkan statuta PSSI sendiri. Pasal 9 Statuta PSSI, menegaskan “Badan dan Ofisial PSSI harus menaati Statuta, peraturan-peraturan, instruksi-instruksi, keputusan-keputusan dan Kode Etik FIFA, AFC dan PSSI dalam kegiatannya.” Melanggar aturan, bisa berujung sanksi FIFA.

Berdasarkan hasil riset Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) #SOS, ada beberapa kebijakan PSSI yang juga melanggar aturan. Pertama, kebijakan PSSI mengganti posisi Iwan Budianto dari Wakil Ketua Umum PSSI menjadi Kepala Staf Ketua Umum. Ini jelas-jelas melanggar Statuta PSSI Pasal 34 tentang Komposisi Komite Eksekutif. Dalam pasal 1 dijelaskan“Komite Eksekutif terdiri dari 15 anggota:1 (satu) Ketua Umum; 2 (dua) Wakil Ketua Umum; 12 (dua belas) anggota.”

Kedua, terkait jual beli lisensi klub dan kepemilikan ganda (cross ownership). Dalam regulasi FIFA artikel 4.4 halaman 20 yang dijadikan acuan Konfederasi (AFC) dan federasi (PSSI) dalam menentapkan lisensi klub profesional dengan gambang dijelaskan. Artikel 4.4.1.7 menyatakan “A licence may not be transferred” yang bila diterjemahkan berarti lisensi klub tak bisa dipindahtangankan (dijualbelikan).  Artinya, bila PSSI selaku federasi membolehkan jual beli lisensi, maka mereka telah melanggar statuta dan regulasi yang telah ditetapkan FIFA dan AFC. Dengan kata lain, FIFA-AFC pantas memberikan sanksi kepada PSSI.

Hal lain yang harus mendapatkan perhatian terkait pergantian nama kompetisi dari Indonesia Super League (ISL) menjadi Liga 1. Pergantian PT Liga Indonesia menjadi PT Liga Indonesia Baru dan eksekutif PSSI yang rangkap jabatan jadi operator kompetisi. Plus kontrak sponsor dan hak siar yang tak transparan.

“Klub-klub sebagai pemegang saham seharusnya mempertanyakan kebijakan ini semua. Utamanya, soal pembubaran PT Liga Indonesia. Bagaimana laporan rugi labanya dan apa yang didapat klub sebagai pemegang saham. Ada prosedur formal dalam pembubaran sebuah PT” Akmal menegaskan. “Dulu, sepak bola kita begitu mengeramatkan Statuta FIFA dan PSSI yang tak boleh dilanggar karena bisa berujung sanksi FIFA. Kini, kita menabraknya. Dimana reformasi tata kelolanya? Dimana semboyan PSSI Profesional dan bermartabatnya?” kata Akmal. ***

Liga Itu Bernama Gojek Traveloka Liga 1

APALAH arti sebuah nama, namun nama juha merupakan doa. Seperti pula sebuah nama yang baru terlahir untuk sebuah kompetisi sepakbola tanah air, Gojek Traveloka Liga 1. “Ya, nama liga itu, Gojek Traveloka Liga 1. Apalah arti sebuah nama, tapi nama itu sudah resmi ya,” ujar Ketua Umum PSSI. Eddy Rahmayadi usai menggelar rapat di Makostrad, Jakarta, Rabu (29/3).

Penantian mengenai nama kompetisi kasta tertinggi sepakbola Indonesia memang terbayar sudah setelah Ketua Umum, PSSI akhirnya resmi mengumumkan nama kompetisi yang mulai bergulir 15 April mendatang dengan Gojek Traveloka Liga 1.

Dilihat dari nama itu, Gojek bersama-sama Traveloka sebagai sponsor utama Liga 1. Operator transportasi online dan perusahaan penyedia layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel itu akan mendukung kompetisi selama satu musim.

Setelah nama Liga 1 tercetus, kini PSSI tengah menggodok nama untuk Liga 2.  Namun, PSSI belum bisa memastikan kapan nama baru iuntuk Liga 2. diumumkan. Menurut Edy, pihaknya masih butuh waktu untuk mematangkannya.  Namun yang pasti, jika Liga 1 akan bergulir 15 April, Liga 2 mulai 18 April.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama juga diumumkan hak siar dari Gojek Traveloka Liga 1 jatuh ke tangan TV One sebagai official broadcast Liga 1 dan Liga 2. ***

Legenda Lari itu Terserang Jantung

SETELAH mantan juara dunia tinju Ellias Pical yang terbaring lemah lantaran serangan jantung, kini nasib serupa menimpa mantan pelari nasional Eduardus Nabunome. Senasib dengan Pical, Edo (sapaan akrabnya) juga mengalami serangan jantung.

Edo pun kini dalam perawatan tim medis di RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur setelah diagnosa terkena serangan jantung dan asam lambung akut. Tentu saja hal ini menambah panjang daftar mantan atlet berprestasi Indonesia yang butuh perhatian serius.

Eduardus Nabunome merupakan legenda pelari jarak menengah dan marathon. Di era tahun 80 dan 90 an Edu cukup disegani di kancah lari 10.000 meter atau yang lebih dikenal dengan 10 K. Saat ini Pria kelahiran Nusa Tenggara Timur 1968 itu adalah pemegang rekor Nasional.

Dari total 14 rekor lari jarak menengah-jauh yang dicatat lulusan Fisip Universitas Moestopo Beragama, Jakarta, dalam periode 1980 sampai 2000, hingga kini, lima rekor nasional masih bertahan atas namanya.

Kelima nomor tersebut adalah lari 10 ribu meter jalan raya 29 menit 25 menit 10 detik yang dibuatnya pada Lomba Lari Bali 10 1989 , rekornas junior lari 10 ribu meter trek 30 menit 6 detik, rekor PON lari 5 ribu meter 14 menit 20 detik, rekor PON marathon 2 jam 19 menit 27 detik, dan rekor SEA Games marathon 2 jam 20 menit 17 detik.

Menurut pihak keluarga, Edu terindikasi terkena serangan jantung pada Jumat (24/3) dan oleh keluarga langsung dibawa ke rumah sakit. “Semula kami bawa ke rumah sakit Pondok Gede, namun karena penuh akhirnya dirawat di RSUD Pasar Rebo Jakarta Timur,” kata Istri Eduardus Nabunome, Marcelina Ina N Piran dalam keterangan tertulis yang diterima media.

Awalnya, Edu mengeluhkan nyeri dibagian dada. Melihat kondisi tersebut, anak-anaknya yang kebetulan berada di rumah langsung menghubunginya karena dirinya sudah berangkat kerja. “Anak-anak telpon ke saya, karena saya sudah berangkat bekerja pada Jumat pagi itu dan langsung dibawa ke rumah sakit,” katanya menambahkan.

Berdasarkan diagnosa dokter, kata dia, Edu memang terkena serangan jantung dan asam lambung akut. Selama lima hari terakhir, pria kelahiran Nusa Tenggara Timur 1968 itu menjalani perawatan di ICCU RSUD Pasar Rebo. “Setelah lima hari dirawat di ICCU, sebenarnya sudah dipindah ke ruang perawatan. Namun, satu jam kemudian kembali drop,” kata Marcelina menambahkan. ***