Dwiki Dharmawan Tampil di 1st Moonjune Music Festival

JAYAKARTA NEWS – 1st  International Moonjune Music Festival, Jace 2022 akan diadakan di kota indah Jajce, Bosnia & Herzegovina pada tanggal 24, 25 dan 26 Juni tahun ini. Dwiki Dharmawan akan tampil pada hari ketiga yaitu tanggal 26 Juni.

Festival Musk MoonJune akan diadakan setiap tahun di bulan Juni, dan selalu di tempt yang sangat indah, dan hanya menampilkan artis di MoonJune Music & Records. Rangkaian dari seri Moonjune Music Festival (IMMF) yang akan dilanjutkan di kota Toledo, Spanyol tahun 2023, lalu di Ubud, Bali Tahun 2024 serta di wilayah Puglia, Italia 2025 yang akan datang.

Tahun ini Alexander Paul Dowerk, Asaf Sirkis, Bernhard Wöstheinrich, Boris Savoldelli, Dennis Rea, Dwiki Dharmawan, Beledo, Markus Reuter, Nguyen Le, Ofer Assaf, Sailyk Ommun, Vasco Trilla, Wadim Dicke dan Yaron Stavi akan tampil di kota yang indah Jajce, Bosnia 8 Herzegovina. Jajce kaya dengan hampir dua ribu tahun sejarah panjangnya. Acara ini akan difilmkan dan direkam secara multitrack, sera disiarkan secara live streaming.

Perjalanan Dwiki Dharmawan bersama Moonjune Records dimulai di tahun 2015 ketika merekam dan merilis album perdana kolaborasi dengan Moonjune Records yaitu album “Dwiki Dharmawan – So Far So Close” yang direkam di Los Angeles Amerika Serikat didukung Chad Wackerman (Drums). Jimmy Haslip (Bass) dan Jerry Goodman (violin), disamping dua gitaris Indonesia Dew Budjana dan Tohpati.

Pada tahun 2016 Moonjune Records yang digawangi oleh Leonardo Pavkovic kembali menggarap karya berikutnya dengan Dwiki Dharmawan dan kali in direkam di London dan didukung oleh musisi musisi yang berbasis di London yaitu Yaron Stavi (Bass), Mark Wingfield (Guitar), Nicolas Meier (Guitar), Asaf Sirkis (Drums), Gilad Atmon (Bass Clarinet), Boris Savoldelli (Vocal) dan Aris Daryono (Gamelan).

Album yang bertajuk “Dwiki Dharmawan-Pasar Klewer” ini kemudian mendapat respon yang luas dari penggemar jazz mancanegara dan menjadi “Album of The Year 2016” dari DownBeat Magazine (USA) serta “Best Albums 2017” dari jazzWise Magazine (UK).

Tahun 2017 Leonardo memboyong Dwiki ke Barcelona, Spain dan langsung merekam dua buah album bersama Dwiki Dharmawan. Di laCassaMurada Studio. Yang pertama adalah “Dwiki Dharmawan – Rumah Batu” yang didukung oleh maestro Spanyol Carles Benavent (Piccolo Bass), Asaf Sirkis (Drums), Nguyen Le (Guitar) dan Yaron Stavi (Akustik Bass).

Yang Kedua adalah kolaborasi bersama Markus Reuter (Touch Guitar), Asaf Sirkis (Drums) dan Boris Savoldelli (Vokal) yang menjadi album “Dwiki Dharmawan-Hari Ketiga”. Kedua album tersebut dirilis di tahun 2018 dan tahun 2020. (pik)

Ratusan Penonton Padati Event International Mask Festival 2022 

JAYAKARTA NEWS— Hari kedua International Mask Festival 2022 berlangsung ramai dengan ratusan penonton. Cuaca yang cerah dan bersahabat, pengunjung antusias untuk menyaksikan pergelaran tersebut. Hal ini terlihat dari panjangnya antrian di gerbang open gate, tercatat 700 orang yang hadir dalam acara malam ini.

Penampilan perdana disajikan oleh Athanasios Yanuari Christyawan (Yogyakarta) dengan judul “Hormat Bagi Sang Guru”.  Tarian yang dibawakan bercerita tentang penghormatan kepada guru sang penari, serta tarian ini menggambarkan keteladanan sang guru. Sikapnya yang halus serta dapat mengendalikan diri menjadi contoh bagi banyak orang, sehingga penampilan pertama ini sangat memiliki banyak filosofi di balik tariannya.

Tidak hanya itu, penampilan dari dalam negeri juga dibawakan oleh Sanggar UKM SEBA UNKHAIR (Maluku Utara), Kemantren Langenpraja (Solo), Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kab. Pati), Toto Sudarto, S.Kr., M.Hum. (Karanganyar), Uti Setyastuti (Yogyakarta), Sanggar Tari Beber (Majalengka), Sanggar Tari Bonoroto (Solo)Darmawan Dance Company (Yogyakarta), dan Agung Dancing Center (Klaten). 

cristina duque-ekuador

Pada puncak acara International Mask Festival 2022 tentunya tidak hanya menampilkan tarian dari dalam negeri, melainkan juga dari mancanegara salah satunya penampilan dari Norisham Osman dari The Kaizen M.D Collective (Singapura) yang berjudul “IN ESSENCE”. Tarian ini menggambarkan pengejawantahan budaya yang diwujudkan dalam wadahnya dan membangkitkan emosi ketidakpastian. Selain itu penampilan dari luar negeri juga ditampilkan oleh Sirisook Dance Theater (Thailand) dan Cristina Duque (Ekuador).

Wakil Walikota Surakarta, Drs. Teguh Prakosa,  menyampaikan, “Saya berharap untuk pelaksanaan IMF pada tahun depan bisa lebih luar biasa dan spektakuler baik dalam sisi penyelenggaraan pertunjukan maupun pameran kerajinan topengnya. Saya berpesan untuk lebih melibatkan seniman-seniman muda agar muncul ide-ide dan kreatifitas yang semakin segar serta regenerasi seniman dan budayawan akan terus berlanjut.” 

Keseruan puncak acara IMF hari kedua semakin pecah dengan adanya penyajian flashmob dance. Para delegasi dan panitia turut berpartisipasi di dalam tarian flashmob ini untuk menutup rangkaian acara IMF 2022.***/ebn

Keseruan Final Yupi’s Got Talent 2022 Melalui Yupiness Camp

JAYAKARTA NEWS – Setiap anak memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Untuk itu Yupi memprakarsai ajang Yupi’s Got Talent, sebuah ajang pencarian bakat bagi anak yang memiliki talenta positif. Ini sudah tahun kedua Yupi mengadakan kegiatan Yupi’s Got Talent. Di tahun 2022 ini Yupi mencari Yupiers yang memiliki bakat dalam bidang seni seperti menyanyi, menari, story telling, gymnastic, bermain musik, dan masih banyak lainnya.

Tahun ini tercatat 4500 Yupiers berpartisipasi dalam Yupi’s Got Talent, dengan pendafataran yang dimulai dari tanggal 15 Maret – 20 Mei 2022. Pada Grand Final Yupi’s Got Talent  2022 yang merupakan puncak acara akan menghadirkan “Yupiness Camp” dengan mengadakan Grand Performance.

Kegiatan Grand Performance ini dilaksanakan pada 15 – 17 Juni 2022 secara langsung di JSI Resort Megamendung. Menghadirkan 73 peserta Yupi’s Got Talent yang berhasil lolos ke tahap final.

Berbeda dari tahun sebelumnya, Yupi’s Got Talent 2022 dikemas lebih menarik, salah satunya ada “Yupiness Camp”. Di mana para Yupiers yang sudah berhasil memasuki tahap final akan mendapatkan camp khusus selama 3 (tiga) hari dan akan mendapatkan workshop yang langsung di mentoring oleh Instruktur yang berpengalaman dibidangnya dan juga Influencer Indonesia.

“Yupi’s Got Talent 2022 menciptakan peluang bagi anak-anak dan remaja agar merasa tertantang untuk menggali bakat  yang ada dalam dirinya, YGT juga mengajak para Yupiers untuk mengekspresikan hal-hal positif dan kreativitas mereka menjadi prestasi yang bisa dibanggakan dan menginspirasi”, ungkap Juliwati Husman, Direktur Sales & Marketing PT. Yupi Indo Jelly Gum.

Tujuan Yupi’s Got Talent

Tujuan diadakannya Yupi’s Got Talent ini adalah memberikan wadah positif lewat talenta yang mereka miliki dengan cara berbagi kebahagiaan yang disebut oleh Yupi sebagai ‘Share Yupiness’. Selalu menyuarakan semangat positif dan ceria di kalangan penikmat permen gummy, sebagaimana halnya mengunyah Yupi yang memberikan sensasi Yupiness.

PT Yupi Indo Jelly Gum, atau lebih dikenal dengan Yupi, sebuah perusahaan manufaktur gummy di Indonesia. Memiliki pasar yang luas dan melayani market gummy ke seluruh dunia, Yupi memiliki standar internasional tertinggi dan telah memiliki sertifikat halal MUI untuk semua produknya. Hingga saat ini Yupi sudah didistribusikan ke Asia, Amerika Utara, Australia, Eropa, dan Timur Tengah.

Yupi Indo Jelly Gum memiliki tim peneliti dan pengembangan produk sendiri agar mampu menghasilkan berbagai produk yang tepat, berkualitas, sesuai selera pasar, dengan bahan-bahan terbaik. Yupi Indo Jelly Gum juga telah menggunakan peralatan yang memenuhi standar internasional.Untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan oleh PT. Yupi Indo Jelly Gum memenuhi keamanan pangan dan kesehatan, perusahaan telah menerapkan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Seluruhnya mengikuti standar Internasional Good Manufacturing Practices (GMP) sebagai penunjang penerapan sistem HACCP tersebut. Perusahaan ini berpusat di kawasan Gunung Putri,  Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.***/mel

Mark Pattie Luncurkan Single ‘Your Eyes’ Ciptaan Ria Prawiro

JAYAKARTA NEWS – Dari mana datangnya cinta? Kata pepatah, dari mata turun ke hati. Mata memang lebih jujur bicara dibanding kata-kata yang terucap lewat mulut. Dan dalam setiap keindahan akan ada mata yang melihat kebenaran.

“Tatapan dan sorot mata dapat menunjukkan keadaan dan perasaan hati. Meski terkadang mulut berkata lain, tapi mata tidak bisa berbohong,” ujar Ria Prawiro,  pencipta lagu, produser dan pianis dalam peluncuran single berjudul ‘Your Eyes’ yang dinyanyikan Mark Pattie. “Jika mata dibalas dengan mata, akan membuat seluruh dunia buta,” tutur Ria tersenyum.

Dalam single yang musiknya ditata oleh Juan Mandagie ini, bersuasana tahun 80an. “Bukan berarti generasi milenial enggak cocok mendengar lagu ini. ‘Your Eyes’ bisa didengarkan oleh semua usia. Lintas generasi. Musik zaman  80an juga sangat milenial, kekinian,” urai Ria yang belajar piano kepada Juan Mandagie.

Ria jujur mengaku di masa pandemi membuatnya dia lebih betah bekerja di rumah. “Kalau dulu saya belajar piano standar saja, kini accordnya lebih dalam. Lebih menukik ke hati,” imbuh Ria. Mark Pattie adalah penyanyi all round.

Belakangan, Mark lebih condong ke genre jazz dan lagu-lagu sentimental yang berirama jazzy. Dua single sebelumnya telah dicetak Mark Pattie, yaitu “Tetap Cinta’ dan ‘Sepanjang Nafas’   ciptaan Ria Prawiro. Jadi, single berikut masih bertema cinta ? Mark Pattie hanya menjawab dengan senyum penuh arti. (pik)

‘Atas Nama Surga’ – Poligami atau Keikhlasan?

JAYAKARTA NEWS – Film drama religi bertajuk ‘Atas Nama Surga’ produksi Shen Entertainment dan Blue Water Films ini bicara ihwal keruwetan dan masalah-masalah yang terjadi dalam dua rumah tangga para tokohnya.

Naya (Della Dartyan), wanita muslimah, tertimpa musibah,  ayah dari bayi yang dikandungnya wafat dalam kecelakaan tragis. Saat kehilangan suami yang dicintainya, Naya bertemu dengan Attar (Miqdad Addausy). Sementara Attar baru putus dengan kekasihnya, Salwa (Amanda Rigby) yang menikahi pria pilihan ayahnya.

Della Dartyan (foto Jatim Network)

Lima tahun kemudian, Attar yang sudah menikahi Naya bersua kembali dengan Salwa yang saat itu nyaris bunuh diri karena perlakuan keras suaminya. Attar membantu Salwa dan tanpa disadari hal ini membawa kekacauan dalam rumah tangganya bersama Naya.

Ketika kisah lama terbuka, apa tindakan Attar yang rajin salat ini? Apakah poligami menjadi pilihan terbaik? “Saya belajar dari perilaku Naya yang saya perankan. Keikhlasan. Naya enggak mau dicerai Attar. Akhirnya Salwa yang mengundurkan diri. Dia ikhlas menerima kebahagiaan Attar dan Naya,” lontar Della Dartyan kepada penulis.

Della Dartyan mau menerima peran di film ini karena genrenya drama religi. “Dakwah lewat media film sangat efektif. Dan saya belajar dari awal, lalu saya menyukai sosok Naya yang berperilaku santun sedangkan saya di luar film atraktif,” imbuh Della.

Syuting dikebut hanya sepuluh hari. Dan selama syuting, berat badan Della naik karena disuguhi makan yang enak-enak. Sutradara, Adis Kayl Yurachmah diakui cukup berhasil membuat film berdurasi 104 menit ini.

Lewat film perdananya, wanita sineas ini bangga bisa mengarahkan para pemain yang bermain sesuai skenario. Della Dartyan yang bermain cemerlang di film sebelumnya ‘Love for Sale’, di film ini juga sangat elok berperan gemilang.

Pasangan mainnya, Miqdad Addausy – yang berperan sebagai Lupus karya Benny Setiawan – bisa mengimbangi akting Della secara ciamik. Pemain lain pun seperti Ayu Dyah Pasha, Wanda Hamidah, Piet Pagau, Meriam Bellina dan ustad Das’ad Latif bermain sesuai porsinya, tidak jelek-jelek amat. Last but not least, keikhlasan itu lebih menawarkan penyelesaian yang Islami dan ini dilihat dari sudut pandang wanita. (pik)

‘Naga Naga Naga’ – Angkat Isu Filantropi Generasi Ketiga Naga Bonar

JAYAKARTA NEWS – Filantropi didefinisikan tindakan suka rela untuk kepentingan publik. Dunia pendidikan termasuk didalamnya. Bagaimana Monaga (generasi ke tiga ‘Jenderal’ Naga Bonar) mogok di sekolah elit dan hanya mau disekolahkan oleh opungnya, Naga di sekolah kambing.

Naga yang dulu mengusir penjajah Belanda dari tanah air kini justru mengurus pendidikan cucunya di Jakarta. Di ‘sekolah kambing’ ini, hanya ada 5 murid dari kelas bawah yang guru-gurunya bejibun.

Seorang guru bernama Umar yang naik sepeda sepanjang hayat mengingatkan kita nasib si guru Umar Bakri dalam lagunya Iwan Fals. Semua biaya buat gaji dikeluarkan sendiri oleh Naga. Teman-teman Monaga dari pengamen, anak jalanan dan anak dhuafa tertarik di sekolah kambing ini. Tindakan opung didukung diam-diam oleh Bonaga (ayah Monaga).

Deddy Mizwar (kakek) dan Beby Tsabina (cucu). (Foto Tribunnews)

Namun, ibu Bonaga yang bernama Monita tidak setuju melihat keliaran putri semata wayangnya. Monita ingin putrinya menuntut ilmu di sekolah yang elit dan mahal. Isu moral dan kesenjangan generasi serta keadaan ekonomi ditengah arus politik yang semrawut berhasil dipotret oleh Deddy Mizwar selaku sutradara secara ciamik dan pas.

Dialog sebagai kekuatan utama plus skenario yang bernas mencuatkan berbagai kritik yang bernuansa satire sosial. Kita akui, pendidikan sangat penting bagi siapa pun warganegara, enggak peduli bagi anak-anak the have maupun anak kurang mampu.

Nyaris di setiap scene, film bergenre drama yang dibungkus unsur komedi ini sarat dan peduli pendidikan bagi anak dhuafa dan anak yatim. Ada nilai kebaikan di sini – meski di ‘sekolah kambing’ yang memang buat peternakan hewan kambing ‘ – bahwa melalui dunia pendidikan yang baik dan bermoral, bisa melahirkan calon-calon pemimpin bangsa.

Bukan mengorbitkan calon-calon pejabat yang koruptor yang jumlahnya ribuan di republik ini. Secara nalar, setelah menonton film ‘Naga Naga Naga’, kita sangat optimistis bahwa negara RI bukan negara para bedebah seperti dilukiskan oleh novelis Tere Liye. Menyongsong era Indonesia Emas, Indonesia yang damai sejahtera dan gemah ripah loh jinawi bakal terwujud.

Para pemeran ‘Naga Naga Naga’ (foto Sindonews)

Akting Deddy Mizwar sebagai Naga Bonar benar-benar tak terkalahkan dan dia ‘still going strong’ di puncak. ‘Apa kata dunia’ selalu dikumandangkan lewat mulut jenderal yang lugu, jujur dan ‘eksentrik’ ini.

Deddy Mizwar juga bertindak sebagai sutradara dan produser dari Citra Sinema yang kali ini bekerjasama dengan Manoj Punjabi, CEO dari MD Pictures. Pemain inti lain seperti Tora Sudiro (Bonaga), Wulan Guritno (Monita) dan pendatang Baru Beby Tsabina (Monaga) lihai mengisi celah kosong dan kuat mendampingi Deddy Mizwar di setiap kesempatan.

Tiga serangkai  pengusaha (Darius Sinatrya, Mike Muliardo dan Uli Herdinansyah) yang siap merenovasi ‘sekolah kambing’ pun cukup cantik dilihat permainan seni perannya. Tak ketinggalan Eko Patrio sebagai guru Umar dan Miing Bagito yang berperan sebagai kepsek ‘sekolah kambing’ juga mencuatkan berbagai fenomena yang kritikal satir.  Sesuatu yang tidak tabu lagi di zaman now. Apa kata dunia! (pik)

Webinar FFWI: Buku Best Seller, Film Box Office

JAYAKARTA NEWS – Buku novel dan film sangat berbeda jauh. Novel dikerjakan 1 orang, sedangkan film oleh banyak orang. “Film sering dibilang karya kolektif, bersama. Ya sutradara, penulis skenario, penata musik, penata suara dan seni peran pemainnya,” ujar sineas Setiawan Hanung Bramantyo dalam webinar 2 Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XII bertema ‘Buku Best Seller – Film Box Office’ baru-baru ini.

Menurut Hanung yang film terbarunya bertajuk ‘Satria Dewa Gatotkaca’ beredar di bioskop ini mengatakan sebagai film maker, ia tidak ingin melencengkan cerita dari novel yang diadaptasi ke film. “Struktur novel best seller beda dengan struktur baku penulisan skenario. Tiga bab novel bisa jadi 8 sequences di film,” ucapnya.

Dengan kata lain, film bukan ‘new message’ dari novel. Penonton acap punya mindset bahwa film yang diadaptasi dari novel harus sama. “Film adalah karya baru dari novel. Dan ini enggak jadi soal lagi. Kita sering dengar ada perdebatan kenapa filmnya lebih jelek dari novel yang diangkatnya ke film,” ungkap  sutradara yang pernah memfilmkan novel-novel laris ke film, seperti ‘Ayat Ayat Cinta’, ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Bumi Manusia’ ini.

Asma Nadia (FFWI)

Ditambahkan, kalau mau nonton film yang diadaptasi dari novel sama persis, lihat saja series. “Nonton film seperti kita nonton opera. Sekali tonton, selesai, walau kini banyak dibuat lanjutan atau spin off nya. Sebaliknya, nonton series mengikuti alur seperti membaca buku. Kita bisa lihat series kapan saja dan sambil tiduran. Lanjut nonton besok, boleh,” timpal Hanung yang jebolan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta ini.

Segendang sepenarian Asma Nadia, yang dari menulis 68 novel sudah 12 yang diangkat ke film. “Kebutuhan visual beda dengan kebutuhan penulisan. Tapi semangatnya tetap ada,” urai Asma Nadia yang beberapa novelnya seperti ‘Assalammualaikum Beijing’ dan ‘Jilbab Traveller’ telah sukses difilmkan.

“Sebagai penulis novel, saya enggak ingin mengintervensi kerja sutradara. Ranah film adalah  karya film maker. Ending novel saya ketika difilmkan berbeda jauh seperti di buku karya saya, enggak apa. Asal saya diberitahu lebih dulu dan ada konsultasi,” beber Asma Nadia yang juga menulis cerpen dan sinopsis film (sekitar 6-8  halaman) yang difilmkan.

Terakhir, paparan Jujur Prananto, penulis skenario tak kalah asyik. “Beberaps novel sudah bernuansa filmis. Suasana dan strukturnya oke banget. Jadi saya enggak sulit memindahkannya ke skenario,” kata Jujur yang menulis skenario ‘Ada Apa dengan Cinta’ di tahun 2002. 

Jujur Prananto (FFWI)

Diungkapkannya, novel selalu ada ruang untuk cerita tokohnya secara detil. Sebaliknya, media film sangat terbatas. “Tapi keduanya sama-sama menarik dan mengasyikkan,” pungkas Hanung yang juga menulis cerpen di beberapa media cetak.

Dimoderatori pengarang Noorca Marendra Massardi, acara yang dihelat  oleh Panitia FFWI dan Direktorat Perfilman, Musik dan Media (PMM) Kemdikbud Ristek ini sungguh bermakna dan berkontemplasi. Tak kurang sekitar 55 wartawan budaya dan film ikut bergabung secara virtual. (pik)

Gangubai Kathlawadi – ‘Mawar Hitam’ dari Mumbai yang Mengadvokasi Hak Pelacur

JAYAKARTA NEWS – Pelacur adalah pekerjaan tertua di dunia. Makin diberantas rumah bordil dan makin dilenyapkan profesi pelacur, permintaan agar dibuka lagi makin deras mengalir.

Gangga alias Gangu (Alia Bhatt), pelacur asal Gujarat yang dijuluki ‘Mawar Hitam’ dari Mumbai yang seketika terkenal dan dibicarakan dimana-mana. Ia satu-satunya pelacur ‘high clas’ yang bisa membaca dan menulis. Berani menuntut hari libur dalam sepekan dan lihai berdebat dengan germo rumah bordilnya.

Gangu menggantikan germonya yang mendadak wafat. Menjadi penguasa baru yang ‘punya otak’ di rumah pelacuran dan memperjuangkan serta mengadvokasi hak-hak pelacur melalui jalan politik.

Jalan hidup Gangu sekejap berubah. Ia terpilih menjadi wakil Gujarat dalam parlemen daerah. Peduli dengan nasib sekitar 4000 pelacur di Gujarat dengan menjalankan berbagai siasat politik.

Semula ia jatuh cinta kepada pemuda tampan yang berprofesi penjahit baju wanita yang bernama Afsaan Razaq (Shantanu Maheshwari). Namun, ditengah jalan, Gangu merelakan kekasihnya menjadi suami anak seorang pelacur. Siasat ini dilakukannya agar anak mereka kelak tak lagi menjadi pelacur seperti ibunya selain – ini yang utama – melambungkan suara di parlemen.

Kepopuleran Gangu terdengar tidak hanya di tingkat lokal Gujarat, bahkan ia dibicarakan dan menjadi trending topic di seluruh India. Berkat membaca tulisan di sampul majalah Urdu Times, Perdana Menteri Jawaharlal Nehru memanggil Gangu ke rumah dinasnya.

Berpakaian rapi bak bintang film, Gangu menghadap Nehru dan membahas ihwal rumah bordilnya. “Tanpa rumah pelacuran, mereka tak punya masa depan. Penghasilan dari rumah bordil bisa menyekolahkan anak-anak. Dan anak-anak tak mungkin menjadi pelacur seperti ibunya,” kilah Gangu.

Shantanu Maheshwari (foto: beritamafia.com)

Nehru terperangah mendengar perkataan Gangu yang cerdas dan bermoral. Akhirnya, Nehru setuju rumah pelacuran tak digusur, tapi Nehru menolak agar pelacuran dilegalkan menjadi Undang Undang oleh pemerintah. Strategi dilawan dengan strategi, fifty-fifty.

Sutradara Sanjay Leela Bhansali yang film-film buatannya selalu menjadi box office ini benar-benar mengangkat biopic wanita berpengaruh di tanah Hindustan itu, dengan banyak menyelipkan adegan tari dan lagu, sebagai resep kelarisan film  Bollywood. Walakin, di India yang tradisi dan agamanya sangat kuat, menjadi pelacur selain langka, juga sangat riskan.

Memperjuangkan hak-hak pelacur melalui jalan politik memang sebuah fenomena yang menarik dan unik di negara Asia Tengah dengan populasi penduduknya nomor dua setelah China.

Di sisi lain, Sanjay lewat film berdurasi 154 menit ini cukup berani menyuguhkan adegan suap atau pungutan liar (pungli) para penegak hukum agar rumah bordil tidak digusur (dengan alasan apa pun). Sesuatu yang tentunya sangat kritis yang tak mungkin dilakukan oleh para sineas kita.

Dan tak boleh dilupakan adalah sederet gambar yang sangat filmis dan elok dipandang mata. Dan Sanjay masih terikat kepada tradisi serta peraturan tak tertulis dalam film India: tanpa adegan ranjang. Bahkan, cium bibir pun masih tabu. Meski belakangan ada beberapa sineas muda India yang sudah berani mempersembahkan adegan-adegan yang berani dengan sangat halus dan artistik. (pik)

SLANK dan Baceprot Gebrak MXGP – Don’t Kill Music di Sumbawa

JAYAKARTA NEWS – Sederet grup band dan vokalis cadas bakal menggebrak event sport dan musik terbesar pasca pandemi. Selama tiga hari berturut-turut (24  s d 26 Juni 2022), dalam event yang bertajuk ‘MXGP – Don’t Kill Music’ yang dihelat di Samota, Sumbawa, NTB ini, band Slank akan ber jam session dengan band-band daerah dan band dari Singapura dan Australia.

Selain itu, juga akan unjuk diri Denny Caknan, Els Warouw, Voice of Baceprot (band metal wanita dari Garut), Line of God, Tony G Rastafara, Alien Child (Bali), Kaniya Lituhiya, Lala Widi, Stelly dan Laura (Australia), Molliano in Rock (Australia), Sumbawa Traditional Music dan segerobak band dari Sumbawa.

Slank akan menyuguhkan raungan musik cadas yang berdebum-debum (foto aktual.com)

“Slank sangat bangga bisa tampil sepanggung dengan band-band dari daerah Sumbawa pasca pandemi,” kata Ivanka, mewakili Slank baru-baru ini. Drumer Slank, Bim Bim sangat mengapresiasi acara gabungan antara sport dan musik cadas ini. “Sebelumnya, kami tampil di Bali. Slank senang bisa membangkitkan kembali gairah dan geliat musik di tanah air setelah dua tahun prei,” timpal Bim Bim.

Sementara itu, Rangga dari penyelenggara PT Rocket Motor Company menjelaskan, event ini terselenggara setiap tahun. “Ini adalah tahun ke 13 event motocross internasional. Crosser-crosser dari berbagai negara akan bersaing menjadi yang terbaik dalam ajang olahraga bergengsi ini,” papar Rangga.

Poster Don’t Kill Music

Kali ini, PT Rocket Motor Company akan bekerjasama dengan PT SEG (Samota Enduro Gemilang)  dan Ivanka Slank yang bertindak selaku promotor. Jangan hancurkan musik ! Don’t Kill Music ! Jaya terus musik Indonesia. (pik)

Rio Adiwardhana – Curhat Teman jadi Lagu

JAYAKARTA NEWS – Curahan Hati (curhat) temannya bisa jadi sebuah lagu. Awal Juni baru-baru ini, penyanyi dan musikus Rio Adiwardhana meluncurkan singlenya yang ke delapan bertajuk ‘Cinta tak Harus Memiliki’ (CTHM) di kawasan Kemang, Jakarta.

Dibawah label CatNClaw, kali ini Rio memberikan sentuhan berbeda dari single-single sebelumnya meski masih bertema cinta. “Ada nuansa ketegaran hati seorang pria ketika melepas kepergian kekasihnya yang tak mungkin bisa dipertautkan kembali,” lontar Rio tersenyum penuh arti.

Lagu yang bernada sentimental ini dibuat tahun 2006 kemudian dilanjutkan penulisan liriknya di masa pandemi. “Prosesnya lama dan panjang. Saya harus teliti dalam hal pemilihan liriknya yang bernuansa kesedihan dan ketegaran. Juga, aransemen musiknya saya pilih yang berdinamika tapi bermakna,” papar Rio yang mengingatkan bahwa kreatifitas dan gagasan di masa pandemi bisa terus dimunculkan.

“Sebutlah lagu berdasar kisah nyata ini bermisi agar para musisi bisa bangkit dan terus berkreasi. Jangan terus loyo, terlebih lagi pandemi Covid kali ini melandai,” imbih Rio. Segendang sepenarian dengan Daniel, sutradara dari CatNClaw yang mrmbuat video klipnya,  penggarapannya terinspirasi dari lirik lagunya.

“Saya tinggal mencari spot yang cocok dengan lagunya,” timpal Daniel. Sedangkan model video, Aldi Taher (bersama Dian) mengaku dia perlu tenaga ekstra dalam syuting video ini. “Out door di perjalanan memakan waktu tujuh jam,” cerita Aldi Taher  yang jujur menambahkan inti dari lirik lagunya pas dengan kisah cintanya dengan pedangdut Dewi Perssik.

“Dewi kan bekas bini gue. Meski sudah bercerai, tapi banyak kenangan manis gue bersama Dewi. Kita masih bersahabat, tapi cinta tak harus memiliki,” aku Aldi Taher terpingkal. “Walau capai yah lumayan honor dari pembuatan video klip ini buat beli popok anak,” cekikik Aldi lepas berderai. (pik)