‘Gampang Cuan’, Lika Liku Soal Uang

JAYAKARTA NEWS— Mengangkat lika-liku soal keuangan yang kerap dihadapi masyarakat, mulai dari hutang sampai investasi saham yang dibungkus dengan nuansa drama komedi.
Disutradarai Rahabi Mandra, film produksi Temata Studios dan Adhya Pictures ini memang berkisah ihwal hutang keluarga yang penuh kelucuan dan keseruan sepanjang film.

Sultan (Vino Giovani Bastian), anak sulung dari keluarga dari Sukabumi yang merantau ke Jakarta. Adiknya, Bilqis (Anya Geraldine) menyusul sang kakak mengadu nasib ke Jakarta.
Mendiang ayah mereka meninggalkan hutang Rp 300 juta yang harus segera dilunasi.

Sultan dituntut membiayai adik bungsunya. Sultan dan Bilqis jungkir balik cari cuan guna membayar lunas hutang ayahnya tanpa sepengetahuan ibunya, mamah (Meriam Bellina).
Film ini dibingkai fenomena lewat hubungan kakak beradik yang dinamis, konyol dan tanpa diduga.

Menampilkan 2 sisi ekonomi yang kontras, yang semula hidup Sultan glamour mendadak sontak hidup melarat dengan rumah dinding yang retak dan kasur yang reyot.

Hidup memang lucu.

Gampang Cuan disesaki pemeran-pemeran yang seni perannya tak diragukan lagi : Vino G Bastian, Anya Geraldine, Ali Markers, Meriam Bellina, Dimas Danang, Iang Darmawan dll.
“Ini lucu pisan,” cetus Meriam Bellina. Film ini mencari cuan 16 November 2023. (pik)

‘Sijjin’ Diadaptasi dari Horor Turki

JAYAKARTA NEWS— Sijjin adalah sesuatu yang menakutkan dan azab yang menyakitkan. Ada ulama bilang, Sijjin terletak di perut bumi lapis ke tujuh. Pendapat lain, Sijjin itu mendekati neraka dan tempat kepala roh jahat dan tempat orang-orang kafir yang berbau busuk/laknat dan membawanya ke akhir ajal.

Namun, Sijjin alias Siccin diangkat dari kisah nyata film horor dari Turki (6 sekuel yang Box Office).

“Saya buat Sijjin ala Indonesia. Ceritanya terjadi di Sukabumi. Ada matra-matra asli oleh dukun Turki yang berpraktik ilmu hitam yang berpadu dengan sisi kegelapan Indonesia’,” ujar Hadrah Daeng Ratu, sutradara.

Film produksi Rapi Films, Sky Media dan Legacy Pictures ini mengisahkan teror yang terjadi dalam lima malam yang dibuat oleh Irma (Anggita Bolsterli) yang ingin merebut suami orang.
Astaga, Irma jatuh cinta pada sepupunya yang bernama Galang (Ibrahim Risyad) yang sudah memiliki isteri dan anak.

Irma makin ‘gila’. Ia ingin dinikahi dan minta bantuan dukun.

Irma mengirim santet ke isteri Galang dan meneror dalam lima malam. Setelah mencium aroma darah, isteri Galang akan mati.

Gangguan mistis dan kesurupan atau mencoba bunuh diri semuanya akan dan harus mati.
Pada akhirnya Irma sendiri yang dihantui teror. “Kejadian-kejadian supra natural yang menggedor batin kita visualkan di film ini. Yang mengagetkan dan yang menyeramkan sukma kita tonjolkan berkali-kali,” jelas Hadrah Daeng Ratu.

Lele Laila sebagai penulis skenario boleh dipujikan.

Deretan pemeran yang beradegan cukup menggegerkan adalah Anggika Bolsterli, Ibrahim Risyad, Niken Anjani dan Delia Husein jujur boleh diberi punten.
“Saya harus bermain sulit. Saya harus melakukan kayang di Sijjin,” ucap Anggika Bolsterli polos. (pik)

‘Perjamuan Iblis’, Kebangkitan Entitas Iblis yang Menakutkan

JAYAKARTA NEWS— Ingat lukisan berjudul ‘Perjamuan Terakhir’ (The Last Supper) karya Leonardo Da Vinci ? “Saya dapat ide liar ketika menatap lukisan itu. Saya terinspirasi dari lukisan Perjamuan Terakhir. Hanya saya tuangkan dalam bentuk film horor yaitu munculnya Rasul ke 13 yang memorakpondakan dunia,” cetus sutradara Kenny Gulardi saat merilis film bioskop pertamanya bertajuk ‘Perjamuan Iblis’.

Dikatakan Kenny yang irit bicara ini, film ini adalah challenge buat dirinya. “Bagi saya, dalam film ini saya kisahkan ihwal kebangkitan entitas iblis yang menakutkan. Dimana-mana menebar teror yang menyeramkan dan mematikan,” urai Kenny.

Mengusung tema mistis dan gelap, dikisahkan, awalnya pasutri Radit (Fandy Christian) dan Kala (Putri Ayudya) hidup berbahagia bersama anak semata wayang mereka, Bima (Jordan Omar).

Mereka kembali ke rumah lama Adit, tempat ibu Radit wafat secara misterius. Terjadilah serangkaian teror yang mengerikan dan fokus Kala hanya pada Bima.

Radit mendadak sontak meninggalkan rumah tersebut. Dan mulai terjadi awal dari mimpi buruk yang lebih besar.

Bagaimana akhir kisah ini ?

“Perjamuan Iblis memang film (horor) pertama saya. Dan ini debut saya. Kenapa horor ? Tapi ini horornya beda dengan horor lain,” urai Kenny lagi yang acap mengumpulkan cerita-cerita etnis dan klenik.

Produser Agustinus Sitorus dari PIM Pictures yang bekerja sama dengan Dynamic Pictures optimistis filmnya kali ini akan menuai sukses.

“Saya baca skenarionya dan pemeran-pemerannya sangat kuat aktingnya,” ungkapnya.
Beredar 16 November 2023 di bioskop seluruh Indonesia, film ini dibintangi sederet pemeran yaitu Putri Ayudya, Fandy Christian, Jordan Omar, Epy Kusnandar, Vonny Anggraini, Putri Patricia, Karina Ramu, Tina Roostiati, Naomi Melody, Sunarsih dll. (pik)

Andi Rianto Gelar Konser ‘The Sound of Colors II’

JAYAKARTA NEWS— Apa kabar Andi Rianto? Sukses dengan gelaran ‘The Sound of Colors’ pertama di JCC Jakarta 14 Maret 2004 silam, kini musikus Andi Rianto tengah menyiapkan konser spektakuler ‘The Sound of Colors II’ di Istora Senayan, Jakarta di Istora Senayan Jakarta, 3 Desember 2023.

“Perbedaannya dengan gelaran pertama adalah bintang tamu, materi lagu-lagu dan aransemen yang lebih dewasa. Tentu saja konser yang ini akan lebih megah, lebih menghibur dan lebih menampilkan berbagai genre musik,” jelas Andi Rianto.

Di balik konsernya nanti, Andi Rianto mengartikan makna keberuntungannya telah diberi kesempatan menyuguhkan orkestra kepada penikmat musik.

“Ini menggambarkan korelasi warna dan nada. Maksud utamanya mempersembahkan konser yang menghibur,” imbuhnya.

Konser ini akan didukung 83 musisi orkestra (Magenta Orchestra), 40 The Sound of Colors Choir serta menampilkan 9 penyanyi kebanggaan Indonesia : Rossa, Lyodra, Mahalini, Judika, Mario Ginanjar, Fabio Asher, Prinsa Mandagie, Ronny Parulian, Nyoman Paul plus Rising Star.

“Sesuai temanya, seluruh penyanyi di konser ini memiliki suara khas dan memberikan warna-warna yang berbeda,” ungkap Andi Rianto.

Persiapan yang dilakukannya dan tim management tak main-main. “Terhitung enam bulan merumuskan konser istimewa di ujung tahun. “Kesulitannya memikirkan konten dan memilih para penyanyi yang akan tampil,” akunya.

Ia berharap konsernya nanti berjalan lancar dan memanjakan mata, telinga dan hati penonton.

Adapun harga tiket yang ditawarkan untuk total kapasitas penonton sebanyak 5000 sebagai berikut : Grand Piano Rp 5.000.000. Contrabass Rp 3.500.000. Cello Rp 2.750.000. Trombone, Clarinet dan Oboe Rp 2.500.000. Violin, Viola Rp 750.000. Flute Rp 450.000. Choir (Festival) Rp 950.000. (pik)

Iwan Fals dan Rossa akan Memeriahkan Malam Anugerah FFI 2023

JAYAKARTA NEWS— Malam Anugerah Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2023 akan dihelat di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta , 14 November 2023 mendatang. Dua artis musik ternama yaitu Iwan Fals dan Rossa akan tampil menghibur tamu undangan dengan lagu tema terbaik FFI 2023 dan lagu-lagu hits mereka.

Mengusung tema dan konsep ‘Citra’ yang menjadi nama penghargaan FFI sejak 1967, dan hadirnya beberapa kategori baru seperti kritik film dan nominasi favorit pilihan penonton.

Ketua Komite FFI periode 2021-2023, Reza Rahadian mengungkapkan selama tiga tahun terakhir penyelenggaraan FFI dengan tahun pertamanya masih berada di masa pandemi dan kini sudah di masa endemi.

“Banyak capaian yang telah dilalui, antara lain melakukan adaptasi pada beberapa syarat untuk film yang layak mendaftar,” kata Reza Rahadian dalam konperensi pers di Ruang Ki Hadjar Dewantara, Kemendikbud Ristek, Jakarta, Kamis (2/11/2023).

“Semoga di tahun terakhir periode saya menjabat sebagai Ketua Komite FFI, saya dan seluruh anggota Komite FFI 2021-2023 bisa memberikan yang terbaik untuk publik. Baik secara penyelenggaran maupun untuk penilaian untuk seluruh nominasi,” imbuh Reza Rahadian.
Ketua Bidang Penjurian, Garin Nugroho memaparkan selama tiga tahun terakhir berbagai dinamika di perfilman kita lalui.

“Kita banyak menerima masukan dari luar Panitia. Ini semuanya kita tampung dan kita bahas bersama dalam rapat,” urai Garin Nugroho.

Penyelenggaraan FFI 2023 juga turut mendapat dukungan dari jaringan bioskop Cinema XXI dan Bioskop Online.

“Senang sekali karena Bioskop Online dapat mendukung pelaksanaan proses penjurian FFI selama dua tahun. Kerja sama ini merupakan langkah positif guna terus memajukan industri perfilman di Indonesia. Bioskop Online adalah Rumah Sinema Indonesia yang berkomitmen untuk mendukung sineas lokal,” ujar Presiden Bioskop Online, Ajeng Parameswari.

alam kesempatan tersebut juga hadir Ahmad Mahendra selaku Direktur Perfilman, Musik dan Media Kemendikbud Ristek yang mewakili Mendikbud Ristek Nadiem Makarim.
Acara usai setelah digelar wawancara ‘cegat pintu’ (door stop) oleh wartawan ke nara sumber. (pik)

Hanya Tayang di Situs Netflix ‘Gadis Kretek’

JAYAKARTA NEWS— Wanita sutradara Kamila Andini (puteri Garin Nugroho) lagi-lagi menggebrak.

Setelah karyanya ‘Sekala dan Niskala’ dan ‘Yuni’, Kamila meluncurkan serial pertama yang dibuatnya berjudul ‘Gadis Kretek” dan hanya tayang di situs resmi Netflix.

Salah satu film wakil Indonesia di Busan International FF 2023 ini mengisahkan tentang perjalanan cinta yang dibalut dengan unsur sejarah dan pencarian jati diri seorang peracik rokok kretek bernama Dasiyah (Jeng Yah, dimainkan oleh Dian Sastro).

Lintingan rokok kretek hasil kerja jari-jari mulus Jeng Yah ini benar-benar bisa memiliki cita rasa yang nikmat.

Kisah berlatar waktu 60an yang diangkat dari novel karya Ratih Kumala terbitan Gramedia Pustaka Utama ini kemudian semakin seru ketika Jeng Yah bertemu dengan Soeraja (Ario Bayu), seorang pengusaha rokok kretek.

Keduanya terlibat cinta tapi kandas karena situasi politik waktu itu. Jeng Yah menghilang.

Soeraja yang sudah berkeluarga meminta tiga anaknya mencari Jeng Yan, mantan pacarnya. Anak-anak Soeraja mencari Jeng Yah ke pelosok Jawa.

Banyak hal terungkap dan rahasia-rahasia keluarga di balik usaha kretek.

Serial nan apik ini selain didukung Dian Sastro dan Ario Bayu, juga dimeriahkan sederet pemeran watak seperti Arya Saloka, Putri Marino, Winky Wirawan, Tissa Biani, Ibnu Jamil, Sheila Dara, Sha Ine Febriyanti, Rukman Rosadi, Pritt Timothy dan Tutie Kirana.

Bagaimana kisah bisnis keluarga rokok kretek di tiga zaman (Jepang, Kemerdekaan dan kiwari), yuk kita tonton ‘Gadis Kretek’ di situs Netflix mulai 2 November 2023.

Benar, warisan sejarah kita bertambah ! (pik)

‘Srimulat: Hidup Memang Komedi’

JAYAKARTA NEWS— Setelah merilis film ‘Srimulat: Hil yang Mustahal’ 2022, MNC Pictures dan IDN Pictures kembali akan menayangkan seri ‘Srimulat : Hidup Memang Komedi ‘ 23 November 2023 di seluruh jaringan bioskop Indonesia.

Masih disutradarai Fajar Nugros, film ini mengisahkan perjuangan grup lawak asal daerah (Surabaya dan Solo).

“Pabrik ketawa Srimulat dalam meraih popularitas sebagai bintang televisi di Ibukota. Guna merebut hati penonton Indonesia, para anggotanya pun harus menemukan karakter unik mereka masing-masing,” ujar Fajar Nugros dalam peluncuran poster dan trailer (berdurasi 1 menit karena bukan film utuh) film ini di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (31/10/2023).

Secara mendalam film ini menghadirkan perjuangan Gepeng dalam menemukan jati dirinya sebagai pelawak dan kisah cintanya dengan Royani.

Sementara itu, Tessy mengalami krisis identitas yang berujung di penjara dan menambah kompleksitas perjalanan Srimulat.

Titan Hermawan selaku President Director MNC Pictures mengatakan Srimulat sudah jadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia.

“Di film ini kami menghadirkan sesuatu yang segar dan berbeda. Penuh drama dan aksi komedi. Juga menampilkan ikon legend Srimulat yang beradu akting dengan artis-artis pop di kalangan generasi milenial dan gen Z. Judulnya sangat relate dengan kehidupan keseharian penonton secara umum bahwa benar adanya : Hidup Memang Komedi,” imbuh Titan.

Benar seperti diucapkan produser Susanti Dewi. “Membuat film tentang Srimulat  adalah tentang melanjutkan memori. Hampir semua orang di Jawa Tengah dan Jawa Timur punya memori kolektif mengenai bagaimana Srimulat pernah menjadi pabrik ketawa dan menghibur banyak orang,” papar Susanti Dewi.

Film ‘Srimulat : Hidup Memang Komedi’ dibintangi sejumlah pemeran Indonesia di antaranya Juan Bio One (sebagai Gepeng), Indah Permatasari (Royani), Elang El Gibran (Basuki), Erika Carlina (Djudjuk), Dimas Anggara (Timbul), Morgan Oey (Paul), Zulfa Maharani (Nunung), Ibnu Jamil (Tarsan), Erick Estrada (Tessy), Ana (Naimma Aljufri), Teuku Rifnu Wikana (Asmuni), Rukman Rosadi (Teguh) dan Rano Karno (Babr Makmur).

“Bersama para kru dan cast, saya membuat film ini dengan penuh passion dan haru. Karena saya sendiri memiliki memori personal dengan Srimulat, timpal Fajar Nugros.
Mainkan sajalah !  (pik)

‘Budi Pekerti’: Angkat Fenomena Perundungan Daring Makin Marak

JAYAKARTA NEWS— Perundungan daring belakangan makin marak. Film ‘Budi Pekerti” karya kedua (film bioskop) sutradara Wregas Bhanuteja terinspirasi dua fenomena sosial yang viral di internet.

“Ada orang tua atau emak yang berselisih dengan pengunjung pasar kemudian direkam temannya dan diunggah ke medsos,” kata Wregas yang lulusan SMA Kolese De Britto di Jogjakarta dan IKJ di Jakarta. “Kemudian, emak tersebut meminta maaf lewat medsos,” papar Wregas.

Di film ini, bu Prani, guru BK (diperankan sangat baik oleh Sha Ine Febriyanti) ribut dan menyalahkan seorang pengunjung kue putu yang tidak antre. Ternyata, kejujuran dan keadilan bu Prani ini berbuntut ramai. Bu Prani adalah guru separuh baya yang dibully di dunia maya.
Seorang guru merekam keributan tersebut dan video kemarahannya menjadi viral.

Keluarganya ikut terseret dan disalahkan. Suaminya, Didit kala itu sedang sakit. Anak pertama bernama Tita (Prilly Latuconsina) dan anak bungsunya Mukhlas berusaha menolong bu Prani dan mencari tahu siapa yang membully ibunya yang tetap kukuh pada pendiriannya.

Sikap bu Prani inilah yang diributkan pedagang di pasar dan Kepala Sekolah. “Ini peran menantang. Saya jadi banyak belajar hal-hal detil sama kak Wregas. Kayak sekolah akting saja,” lontar Prilly Latuconsina polos.

Prilly mengungkapkan di lokasi syuting yang full seratus persen di Jogjakarta, ia diminta menangis tapi air matanya hanya boleh keluar dari mata kiri atau berdialog sambil gigit bibir.

“Atau adegan yang cukup susah menelan ludah,” imbuh Prilly yang harus belajar bahasa Jawa.

“Hal-hal detil begini yang saya belajar lagi sama kak Wregas,” aku Prilly.

Sependapat dengan Angga Yunanda yang di film ini harus menaikkan berat badannya 15 kg lagi dan rambutnya harus dicat.

“‘Jujur, gue yang asal Lombok serius belajar bahasa Jawa. Improvisasi dan hal-hal detil beginian yang gue paling suka,” urai Angga yang punya kiat ‘selalu belajar. Selalu belajar. Dan selalu belajar’.

Produksi Rekata Studio dan Kaninga Pictures ini dimeriahkan sederet aktor watak seperti Sha Ine Febriyanti, Prilly Latuconsina, Angga Yunanda, Dwi Sasono, Omara Esteghlal, Ari Lesmana dan puluhan cameo dari Jogjakarta. Setelah dikelilingkan dan diputar di Toronto International FF dan menjadi film pembuka Jakarta Film Week serta diputar gala di Jogjakarta dan Bandung,

‘Budi Pekerti’ akan tampil di seluruh bioskop di Indonesia, mulai 2 November 2023.
Budi Pekerti, pelajaran yang dulu paling disukai. Dan kini mulai ditinggalkan masyarakat dan guru yang kehilangan nurani dan akal sehat.Namun, di ending, meski bu Prani harus out dari sekolah, masih ada setitik budi pekerti.

Percayalah! (pik)

Film ‘Nona Manis Sayange’: Angkat Tradisi dan Budaya Labuan Bajo

JAYAKARTA NEWS— Produksi Dmilasty Pictures dan Putaar Films bertajuk ‘Nona Manis Sayange’ full mengambil lokasi di Labuan Bajo, NTT dan pulau-pulau sekitarnya seperti Pulau Komodo dll.

Keelokan dan keindahan alam Labuan Bajo terpeta di layar selama 110 menit yang memotret panorama unik seperti kapal Phinisi, Pink Beach, bukit Padar dan hotel Loccal Collection. Masih ada lagi visualisasi snorkeling dan berbagai keajaiban dan keunikan ikan, batu karang dan biota laut dll.

“Kita promosikan Labuan Bajo yang terkenal di mancanegara sebagai obyek wisata laut melalui film ini,” kata produser eksekutif Ngadiman.

Sutradara Hestu Saputra mengaku sangat puas dengan hasil film ini yang akan beredar 2 November 2023 dan diakurasi LSF menjadi semua umur.

“Paling lama kita ambil penyuntingan, CGI dan teknik produksinya dll. Total selesai 1 tahun 2 bulan dari menulis riset sampai post editing. Syutingnya sendiri kita hitung 23 hari produksi,” papar Hestu Saputra.

Produser, sutradara dan pemeran (foto Ipik)

Kisahnya tentang percintaan sepasang muda mudi. Akram (Pangeran Lantang), lelaki dari luar Bajo jatuh hati kepada Sika (Haico van Der Veken) dari Bajo. Namun, hubungan ini tak direstui ayah Sika.

Apakah Akram mampu memberikan belis (mahar) yang cukup tinggi sesuai tradisi dan adat di Bajo ?

“Cinta sejati enggak dapat dinilai dari materi dan status sosial belaka,” kelit Sika yang sejak kecil sudah jatuh cinta kepada Akram.

“Saya belajar dialek suku Bajo. Saat syuting, saya mencoba bicara dialek Bajo,” lontar Haico van Der Veken, blasteran Indonesia dan Belgia.

“Meski udara panas, kita dimanjakan keelokan pemandangan Labuan Bajo nan eksotis,” imbuh Haiko.

Setali tiga uang dengan Pangeran Lantang. “Saat libur, saya ke pasar Labuan Bajo dan bertanya serta belajar bahasa Bajo. Saya diajari adat dan kebiasaan mereka,” urai Pangeran Lantang.
Selain ketiga pemeran diatas, film ini juga dihentak dengan kehadiran Totos Rasiti, Bhisma Mulia, Canceline, Luz Victoria dan Mathias Muchus.

Drama komedi Nona Manis Sayange ini dipenuhi beberapa adegan komedi yang menimbulkan kekagetan dan kelucuan. Pas ketika Akram dan Sika hendak berciuman di Pulau Komodo, mendadak sontak muncul seekor komodo besar dari belakang mereka. Akram terpaksa harus menggendong Sika lari terbirit-birit menuju tempat yang aman….(pik)

‘Kultus Iblis’, Manusia Bisa Terjebak dan Menjelma Jadi Iblis

JAYAKARTA NEWS— Jenazah manusia hilang? Ini peristiwa janggal dan mengerikan.
Demikian intro film ‘Kultus Iblis’ yang disutradarai Bobby Prasetyo yang akan menggegerkan jaringan bioskop mulai 2 November 2023 mendatang.

Hal itulah yang dihadapi kedua anak kembar, Naya (Yasamin Jasem) dan Raka (Fadi Alaydrus) tatkala jenazah ayahnya mendadak raib secara misterius. Mereka berdua terguncang.

Naya dan Raka kemudian pergi ke kampung halaman ayahnya guna mencari tahu rahasia keluarganya namun terjebak di desa berbahaya yang penuh teror. Dan pas rahasia sang ayah terkuak, semua sudah terlambat.

“Ide cerita film ini awalnya terinspirasi waktu aku berkunjung ke sebuah desa di Jawa Timur. Warga desanya masih sangat kental dengan tradisi kuno dan berbau mistis. Sekte sesat diam-diam tumbuh subur. Ada banyak elemen cerita di film ini yang juga mengeksplorasi hal-hal ganjil yang belakangan sering viral di berita,” kata Ilya Aktop selaku penulis skenario.

“Ini bukan film horor generik tapi horor adventure dan penonton akan diajak mengikuti journey Naya dan Raka yang berbahaya dan menegangkan dari awal sampai akhir,” imbuh Ilya.

Sedangkan sutradara Bobby Prasetyo menambahkan sejak pertama kali mendengar ide cerita ‘Kultus Iblis’, ia sangat tertarik. Ia yakin ide ini bisa diterjemahkan menjadi horor yang unik dan berbeda.

“Kita kerap mengeksplorasi berbagai wujud iblis di luar manusia tapi lupa bahwa manusia bisa terjebak dan menjelma jadi iblis itu sendiri,” kata Bobby.

Pemeran utama Yasamin Jasem mengatakan film ini memberikan tantangan baru untuk berakting dengan stamina ekstra. “Aku mempersiapkan segalanya secara ekstra. Stamina dan emosi harus dijaga selama produksi,” tutur Yasamin Jasem.

Sementara produser Starvision yang memproduksi film ini, Chand Parwez Servia menambahkan dengan kekayaan folklore Indonesia, selalu ada banyak cerita yang bisa dieksplorasi.

“Terlebih melalui genre horor, cerita-cerita baru selalu bisa digali menjadi karya yang bisa disajikan ke penonton Indonesia,” urai Chand Parwez.

“Kita diingatkan agar waspada ketika menemukan tanda kehadiran sekte di lingkungan kita,” timpal Chand Parwez.

Selain Yasamin dan Fadi, film ini juga dimeriahkan sederet pemeran terkenal yaitu Rukman Rosadi, Alit Aryani Willems, Yayu Unru, Mian Tiara, Debo Andryos, Delia Husein, Emil Kusumo, Muhammad Kadavi, Viki Maintrova dan Muthia Almashudi ditambah lagi puluhan cameo yang menjadi pengikut sekte sesat. (pik)