Rudi Soedjarwo Garap Film Horor ’13 The Haunted’

Tahun 2018 agaknya akan menjadi tahun yang sibuk bagi Raffi Ahmad dengan rumah produksi miliknya, RA Pictures. Betapa tidak, usai melepas The Secret: Suster Ngesot Urban Legend pada penghujung April silam, dua film lain telah mengantri untuk dipertontonkan ke publik. Dua judul tersebut yakni Dimsum Martabak dan 13 The Haunted.

Dimsum Martabak yang sudah tayang pada libur Lebaran mengambil jalur komedi romantis, sementara 13 The Haunted yang direncanakan untuk memeriahkan layar lebar tanah air pada bulan Juli mendatang memilih untuk berada di ranah horor. 13 The Haunted akan menandai kembalinya sang sutradara, Rudi Soedjarwo (Ada Apa Dengan Cinta?, Pocong 2), ke jalur film horor setelah terakhir kali menggarap Hantu Rumah Ampera (2009).

Yang menarik, Rudi mengarahkan sejumlah bintang-bintang muda tanah air dengan potensi menjanjikan dalam 13 The Haunted. Beberapa nama yang terlibat dalam departemen akting antara lain Al Ghazali, Endy Arfian, Atta Halilintar, Valerie Thomas, Marsha Aruan, Steffi Zamora, Achmad Megantara, Mikha Tambayong, beserta Mumu Gomez.

“Dalam 13 The Haunted ini, para pemainnya terdiri dari gabungan antara aktor, selebgram, sampai DJ. Buat aku, tantangannya berada disitu. Kita kan beramai-ramai dari profesi berbeda-beda jadi perlu usaha untuk membangun chemistry-nya agar terlihat seperti sudah memiliki ikatan persahabatan yang sudah lama banget,” ujar Endy Arfian yang sebelumnya ikut memeriahkan Pengabdi Setan (2017).

Guliran penceritaan 13 The Haunted sendiri berfokus pada upaya tujuh sahabat untuk merengkuh popularitas dengan mengalahkan dua vlogger terkenal. Upaya tersebut membawa mereka ke sebuah resor terbelangkai di Pulau Ayunan yang dikabarkan menyeramkan. Mereka mengabadikan pengalaman mereka di sana dalam bentuk reality show. Tanpa pernah mereka sangka-sangka, teror justru semakin menjadi-jadi yang seketika mengancam keselamatan masing-masing.***

Film ‘Koki-Koki Cilik’ Tangan Morgan Oey Kena Pisau

Morgan Oey

Film anak-anak Koki-Koki Cilik yang bernuansa petualangan dan kuliner, sebentar lagi bakal tayang di layar lebar. Sesuai namanya, film ini mengharuskan para pemainnya untuk belajar masak. Salah satunya adalah Morgan Oey. Aktor sekaligus mantan personel grup musik Smash ini juga mengakui kalau dirinya mengalami masa-masa belajar masak demi film garapan Ifa Isfansyah tersebut.

Pengalaman belajar masaknya pun seru, dimulai dari ditantang bikin pasta hingga belajar memegang pisau seperti ahlinya. Bahkan demi film ini, Morgan sempat terkena pisau tatkala belajar mendalami karakter. “Sempat kena pisau, ya namanya enggak pernah megang pisau di rumah, bagaimana lagi,” kata Morgan saat ditemui di gala premiere film Koki-Koki Cilik di XXI Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Tak cuma belajar memegang pisau, Morgan yang memang berperan sebagai chef andal di film tersebut mengungkap jika dirinya juga sempat belajar ngulek. “Saya benar-benar belajar masak, dari ulek-ulek bawang, cabai, benar-benar bikin, ngerasain dan nyobain.Jadi, enggak cuma pegang pisau,” katanya.

Di film produksi MNC Pictures ini, Morgan Oey berperan sebagai Rama, seorang mantan chef terkenal yang mengasingkan diri. Selain Morgan, film Koki-Koki Cilik dibintangi oleh Farras Fatik, Chloe Xaviera, Alifa Lubis, Marcello, Ali Fikry, Patrick, Cole Gribble, Clay Gribble, Romaria, Clarice Cutie, Ringgo Agus Rahman, Fanny Fabriana, dan Aura Kasih.

Mengisahkan tentang perjuangan seorang anak laki-laki yang hidup sederhana di kompetisi masak bernama Bima (Farras Fatik), film anak-anak ini akan tayang bertepatan dengan liburan anak sekolah, yakni 5 Juli 2018.***

Walt Disney World Luncurkan Aplikasi Seluler Play Disney Parks

 

Walt Disney World telah meluncurkan aplikasi seluler baru bernama Play Disney Parks, menandai dibukanya Toy Story Land di studio-studio Hollywood.

Debut aplikasi ini dilakukan hari Sabtu, bersamaan dengan  dibukanya Toy Story Land untuk umum.

Pilihan hiburan termasuk game bertema interaktif, hal-hal sepele Disney, pencapaian digital, dan daftar putar musik.

Scott Andress adalah wakil presiden Pengalaman Tamu Digital untuk Disney. Dia menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang untuk memberikan orang alternatif hiburan.

Idenya adalah untuk mengubah waktu tunggu untuk dapat menikmati  hiburan menarik bagi keluarga dan teman. Ini tersedia untuk platform iOS dan Android. Ini gratis untuk diunduh dan digunakan.

Aplikasi ini dapat digunakan di empat taman di luar Orlando dan dua di Disneyland Resort.

 

Main Film Horor ‘Rasuk’ Shandy Aulia Ngaku Dijebak Manoj

Satu lagi film horor tanah air yang akan segera tayang yaitu film Rasuk yang akan mulai tayang di bioskop bulan Juni ini. Film horor   ini  disutradarai oleh Ubay Fox dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio. Film ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Risa Saraswati.

Aktor dan aktris terkenal dan muda usia  seperti: Shandy Aulia, Denira Wiraguna, Josephine Firmstone, Maya Kusuma, Miller Khan, Gabriella Desta, Baron Hermanto, dan Abi Canser adalah beberapa nama yang akan kita temui dalam film yang diproduseri Dheeraj Kalwani dan berdurasi kurang lebih selama 90 menit ini.

Menurut Shandy Aulia, keterlibatannya dalam film ini  karena jebakan Manoj Punjabi selaku produser. Ia tak menyangka bisa menjalani syuting di tengah hutan yang mana belum pernah dilakoni sebelumnya. “Main film ini sebenarnya agak dijebak sama Pak Manoj ha ha ha. Tapi seru 80% syutingnya di hutan. Kalau diperhatiin film horor aku sebelumnya kebanyakan ada di satu tempat, di rumah, di mall gitu, kali ini beda,” kata Shandy.

Plot pada Rasuk menceritakan tentang seorang perempuan bernama Langgir Janaka (Shandy Aulia) yang harus melalui pertengkaran dengan ibunya setiap hari. Langgir tak pernah mengerti apa yang jadi penyebab dari pertengkaran dirinya dengan ibunya yang tidak pernah mengenal akhir itu. Tidak hanya itu saja, Langgir juga dijadikan sebagai kambing hitam atas meninggalnya sang ayah karena kecelakaan yang terjadi beberapa tahun lalu.

Walau begitu, ibunya sudah menikah lagi dan mendapatkan bayi bernama Bakula dari suami barunya. Kehidupan bahagia ibunya bersama dengan suami barunya itu sama sekali tidak merubah fakta bahwa ia dan ibunya masih terus berselisih.

Alhasil, di tengah kehidupan rumah yang berantakan itulah, Langgir mulai merasa iri dengan kehidupan dari tiga orang sahabatnya: Lintang Kasih (Josephine Firmstone), Sekar Tanjung (Gabriella Desta), dan Fransisca Inggrid (Denira Wiraguna). Yup, ketiganya memang memiliki kehidupan yang lebih baik daripada Linggar dan pada akhirnya membawa rasa iri Linggar berubah menjadi kebencian.

Langgir hanya memiliki satu orang yang bisa menjadi tempat curhatnya, yaitu Abimanyu (Miller Khan). Tidak hanya sebagai teman curhat saja, sebenarnya Linggar sudah lama menyukai Abimanyu. Sayang, sikap cuek dari Abimanyu membuat ia memendam perasaannya tanpa mengungkapkannya sama sekali.

Suatu hari, Langgir mengajak ketiga teman baiknya itu untuk berlibur di sebuah vila di Karma Rinjani, dimana tempat itu memang dikenal sebagai sebuah tempat yang angker.

Terang saja, keinginan mereka untuk menghabiskan waktu dengan bersenang-senang justru berakhir sebagai malapetaka. Dimulai dari Inggrid yang ternyata mengajak Abimanyu turut serta dalam liburan itu dan membuat Langgir marah besar begitu mengetahui Inggrid dan Abimanyu sudah menjalin hubungan di belakangnya.

Rasa benci dan amarah yang sebegitu besarnya membuat Langgir meninggalkan teman-temannya itu. Kegelapan yang tumbuh dengan sangat baik di dalam dirinya membawa ia pada sesuatu yang paling mengerikan dalam hidupnya dan bisa mengancam tidak hanya dirinya namun juga nyawa teman-temannya. ***

 

Film Jaran Goyang Diilhami Kisah Nyata

Diilhami kisah nyata yang terjadi di tengah masyarakat Jawa, film Jaran Goyang pun digarap. Sutradara sinetron Ganteng Ganteng Serigala (GGS), Findo Purwono, dipercaya menggarap fllm yang dibintangi Cut Meyriska dan Ajun Perwira.

“Jaran goyang itu terkenal di Jawa Timur sebagai salah satu ilmu pelet. Saya buatnya pun hati-hati, karena orang yang kena ajian jaran goyang itu akan sinting,” kata Findo Purwono ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

“Cerita Jaran goyang, menarik ini, film ini beda karena ada mistisnya. Kisah nyatanya menarik banget. Sudah lama banget, sekitar 2 tahun lalu, dan akhirnya baru bisa dibuat tahun ini,” tambahnya.

Menggarap fllm horor, pasti mengalami kejadian mistis. Nah, kata Findo, saat syuting film Jaran Goyang sempat ada yang kesurupan.

“Jadi ada anggota kuda lumping, nari-nari tiba teriak sendiri. Alhamdulillah ada pawangnya dari grup itu sendiri. Alhamdulillah hanya menunjukkan aja keberadaan dia,” katanya.

Cerita Jaran Goyang yang bertagline ‘datang sinting, pulang tergila-gila’ ini berkisah ihwal tukang kebun bernama Dirga jatuh cinta dengan Elena, penyanyi dangdut pop yang sedang populer. Namun, pernyataan cinta Dirga ditolak Elena. Dirga sakit hati dan ia pun kemudian minta ilmu pengasihan Jaran Goyang kepada bibinya. Berhasilkah Dirga memikat hati Elena ? Film yang cukup menegangkan ini juga menampilkan Trio Macan dengan hitnya Jaran Goyang. ***

Film 11 : 11, Syuting di Kedalaman Laut di Lampung dan Bali

Setelah lama vakum Layar Production, yang telah memproduksi berbagai sinetron yang tayang di televisi nasional, juga infotainment Kassel. Kini dengan manajemen baru yang dikelola anak-anak muda kreatif dan profesional, dipenghujung Juni 2018 ini, kembali hadir lewat film bioskop perdana, dengan judul Film 11:11 Apa Yang Kau Lihat?.

Dengan genre horor dan terinspirasi mitos angka 11:11:11, yang disebut-sebut sebagai gerbang neraka, film 11:11 Apa Yang Kau Lihat?  akan di produksi bersama antara Layar Production dan Cinema Delapan. “Mengapa kita pilih bikin film horor, karena genre ini memang lagi laris di bioskop. Namun dalam pengemasannya kita garap berbeda dari film horor sebelumnya.

Tepatnya di film ini, akan kita sajikan horor dalam laut, yang menegangkan dan akan memaksa menguji adrenalin penonton dari awal hingga akhir cerita,” terang Eksekutif Produser Fitrin Hapsari Sukainah dalam siaran persnya pada awak media, Kamis (28/6/2018) di Lounge XXI Plaza Senayan-Jakarta Selatan, disela syukuran jelang produksi film 11:11 Apa Yang Kau Lihat?

“Walau genrenya horor tapi mata penonton akan kita manjakan dengan keindahan panorama alam dalam laut, serta pantai- pantainya yang cantik dan memukau,” sambung Fitrin, dimana film ini, akan suting mulai awal July ini, dengan lokasi di Lampung dan Jakarta.

Didukung dengan nama-nama artis yang mumpuni dan tim kerja yang kreatif dan profesional, Fitrin optimis film 11:11 Apa Yang Kau Lihat?, yang direncanakan akan tayang di bioskop pada Nopember mendatang, akan memikat hati penonton film nasional. Disutradarai Andy Manopo, pemain yang hampir semuanya adalah pemain muda diantaranya Rendy kejaenet, Twindy Rarasati, Bayu Anggara, Fauzan Smith, Lady Nayoan, dll. ***

Ariana Grande Mau Para Haters Sudahi Memusihinya di Medos

 

ARIANA Grande tampil membawakan “No Tears Left To Cry” di Billboard Music Awards di MGM Grand Garden Arena pada 20 Mei 2018 di Las Vegas.

Ariana Grande berharap dapat  menjalani hidupnya tanpa opini negatif.

Setelah pertunangannya dengan Pete Davidson, beberapa minggu berpacaran, penyanyi itu menutup semua orang yang berpikir tentang dia hal yang buruk.

Dalam beberapa screenshot yang diambil oleh Arianators yang setia, Grande menjawab komentar yang menyiratkan bahwa jari tengah bintang SNL dalam foto paparazzi ditujukan untuk para penggemar.

“R u nuTS??????” she wrote. “The PAPS..not YOU……???? ever…??? stop w this sh—. please. forreal. i love y’all too much for this. enough w the ig / twitter war thing. it ends now.”

 

https://www.instagram.com/p/Bkb667lh-rL/?taken-by=ariananewsalerts

Fans lain bertanya tentang lirik dalam single terbarunya “The Light is Coming.”

Line – “Anda tidak akan membiarkan siapa pun berbicara dan sebaliknya” – berasal dari pertemuan di balai kota tahun 2009 di mana Senator Pennsylvania, Arlen Specter, berdebat dengan konstituen mengenai asuransi kesehatan yang diistimewakan.

“Ini tentang orang & pendapat keras mereka membuat mereka tuli kepada orang lain & cahaya,” jawabnya.

 

Demi burung kecil, festival musik Bluefest Kanada ditunda

Telur burung killdeer terlihat di sarangnya yang ada di jalan berbatu di lokasi festival musik Ottawa Bluesfest, di sebelah Museum Perang Kanada di Ottawa pada Senin, 25 Juni 2018. PRESS CANADIAN / Justin Tang

SETIAP  bulan Juli, orang-orang dari seluruh Kanada bersemangat melakukan perjalanan ke Ottawa, demi  menghadiri Bluesfest, salah satu festival musik terbesar di negara itu.

Tapi tahun ini, persiapan festival festival itu harus ditunda, untuk melindungi satu peserta yang sangat istimewa: induk burung dan sarangnya.

Oooo.. kok bisa begitu?

Dalam persiapan akhir proyek festival musik itu, ada pekerja menemukan  killdeer (Cerek  kecilyang sedang menjaga empat telur di sarangnya. Untuk diketahui,  di Kanada trah burung killdeer ini dilindungi oleh pemerintah. Siapa pun  tidak dapat memindahkan sarang burung killdeer, apa lagi sudah ada telurnya, tanpa izin dari pemerintah federal.

Burung dan empat telurnya itu, yang menikmati status dilindungi di Kanada,  bersarang di tambalan batu, yang biasanya dipakai untuk panggung utama. (Lihat foto utamaRed). Telur burung ini memang harus dilindungi, karena  tidak biasa bagi mereka untuk tidak menetas pada pertengahan Juni.

 

Seorang penjaga keamanan berdiri di depan pita peringatan agar orang tidak melintasinya, menjaga orang-orang mengganggu  burung killdeer yang membuat sarang dan bertelur di jalan berbatu di lokasi festival musik Ottawa Bluesfest, di sebelah Museum Perang Kanada di Ottawa pada Senin, 25 Juni 2018. PRESS CANADIAN / Justin Tang

“Saya harus mengatakan ini adalah salah satu masalah paling menantang yang kami hadapi akhir-akhir ini,” kata direktur eksekutif Bluesfest, Mark Monahan kepada wartawan.

“Apa pun yang mengganggu jadwal memiliki pengaruh besar, jadi kami menganggapnya sangat serius. Kami bekerja dengan mitra kami, untuk mencoba dan menyelesaikannya dan kami berharap untuk mendapatkan resolusi dalam 24 jam ke depan,” kata Mark Monahan yang ditemui  wartawan beberapa langkah dari tempat burung bertelur.

Induk  killdeer yang bertelur, bisa ngambek  dan meninggalkan telurnya,  jika sarang mereka dipindahkan lebih dari beberapa meter, kata ahli biologi dari Carleton University, Michael Runtz seperti dikutip  CNN dan CBC.

Telur killdeer membutuhkan waktu antara 24 dan 28 hari untuk menetas. Setelah menetas,  burung-burung itu dapat terbang tidak lama setelahnya. Festival ini sedianya akan dimulai pada 5 Juli dengan mengambil lokasi di depan Museum Perang Kanada.

Bluesfest  rata-rata dihadiri  lebih dari 300.000 penggemar. Festival tahun ini antara lain akan menampilkan  Shawn Mendes, Foo Fighters dan Dave Matthews Band.

Setelah menemukan burung kecil yang tengah bertelur itu, para pekerja telah memblokir sarang dengan pita peringatan. Pihak panitia juga telah menyewa seorang penjaga keamanan untuk memastikan tidak ada satu pihak pun yang merusak sarang burung tersebut.

Panitia festival ini mengidentifikasi tempat-tempat untuk sarang yang direlokasi sekitar 50 meter dari area panggung utama, dapat diisolasi dan dilindungi.

Sarang akan jauh dari ratusan ribu penggemar musik yang akan menghadiri  festival untuk melihat performance  bintang  seperti Shawn Mendes, Bryan Adams, Foo Fighters dan Dave Matthews Band, dan  sejumlah bintang  lainnya.

“Entah bagaimana, mencoba memindahkan telur dari tempat mereka sekarang – itu benar-benar bagian penting bagi kita. Ada lokasi lain yang bisa kita pindahkan,” kata Monahan.

“Melihat perhatian publik – dan sampai penilaian selesai dan pilihan terbaik dapat ditentukan – NCC telah memastikan bahwa situs itu  tetap tidak terganggu,  dengan memberikan jaminan keamanan 24 jam di tempat,” kata juru bicara Jacqueline Theoret.***

 

‘Kulari ke Pantai’, Film Liburan Anak yang Lucu dan Seru

Dikenal sebagai rumah produksi yang mencetak fiIm-film anak legendaris dengan jutaan penonton seperti Petualangan Sherina (Riri Riza, 2000) dan Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008), Miles Films bekerja sama dengan Ideosource Entertainment, BASE & Go-Studio, kembali menghadirkan Film anak-anak dan keluarga, KULARI KE PANTAI. Dengan format film perjalanan yang menghibur, seru, dan lucu untuk anak-anak dan keluarga, film ini menghadirkan nilai-nilai positif tentang toleransi, persahabatan, keluarga, menghargai Bahasa Indonesia, merayakan keberagaman, mencintai kekayaan dan keindahan alam Indonesia.

Produser Mira lesmana dan sutradara Riri Riza kali ini mendapuk dua pemain cilik baru yang sangat bertalenta, yaitu Maisha Kanna yang berperan sebagai SAM dan Lil’li Latisha yang berperan sebagai HAPPY. Para aktor dan aktris papan atas seperti Marsha Timothy (UCI), Ibnu Jamil (IRFAN), Lukman Sardi (ARYA), Karina Suwandi (KIRANA), juga deretan komika ternama seperti Dodit Mulvanto, Mo Sidik, Praz Teguh, dan figur yang cukup dikenal di media sosial seperti ngwina Hananto dan Suku_Dani memainkan berbagai karakter yang unik dan lucu yang ditemui Sam dan Happy dalam perjalanan.

Skenario KULARI KE PANTAI yang digarap bersama oleh Mira Lesmana, Gina S. Noer, Riri Riza, dan Arie Kriting berkisah tentang dua sepupu, Sam dan Happy yang sangat berbeda. Akibat ulah Happy yang merendahkan Sam, ibu Happy meminta Happy ikut dalam perjalanan Sam dan Uci dengan harapan ia bisa mengenal dan menghargai sepupunya lebih baik. Perbedaan keduanya membuat perjalanan darat dengan mobil menjadi penuh tantangan.

Film perjalanan darat dengan mobil dari Jakarta sampai Banyuwangi menjadi pilihan untuk bertutur tentang berbagai kisah, baik problema maupun pengalaman Sam, Happy, dan Uci. “Dua orang yang berbeda karakter terjebak di perjalanan menempuh 1.000 kilometer lebih. Harus bertoleransi satu sama lain padahal mereka berbeda. ltu yang jadi menarik. Kenapa perjalanan darat ?

Karena kalau ada dalam satu mobil, mau enggak mau, komunikasi dan kompromi akan terjadi. Juga sangat seru dan menyenangkan karena akan melakukan perhentian-perhentian di beberapa lokasi. Film ini dikemas dalam komedi drama,“ jelas Mira Lesmana. ”Film ini juga memperlihatkan betapa kayanya keindahan alam dan budaya Indonesia. Kita tidak boleh berhenti untuk memperkenalkan keragaman kepada anak-anak Indonesia,” imbuh Riri Riza.

Dalam upaya mewujudkan film ini, Mira Lesmana mengajak berbagai pihak untuk ikut terlibat, diantaranya adalah para sponsor Indofood, GO-JEK, dll.

“Kami sangat bangga dapat menjadi bagian dari film KULARI KE PANTAI. Film ini dibuat berdasarkan niIaI-nilai keluarga, dan tidak hanya menghibur, tetapi juga menampilkan unsur-unsur penting seperti pendidikan, motivasi serta pandangan positif tentang kehidupan,” kata Fierman Authar, Head of Consumer Engagement, Corporate Marketing PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.

“Melalui KULARI KE PANTAI, Miles Films mampu membungkus nilai-nilai positif itu semua dalam suatu format film.” Ianjutnya. ***

 

Perjalanan Panjang Hari Moekti di Musik dan Dakwah

Hari Moekti–istimewa

Kabar duka datang dari mantan rocker yang kini aktif di dunia dakwah, Hari Moekti. Ustaz kelahiran Cimahi, 25 Maret 1957 itu mengembuskan napas terakhir pada Minggu malam, 24 Juni 2018 sekitar pukul 20.49 WIB. Kabar cepat beredar melalui pesan berantai di kalangan peliput.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Assalamualaikum wrwb.

Telah meninggal dunia jam 20.49 hari ini kakak tercinta, sahabat pejuang, pendakwah pemberani hariyadi wibowo HARI MOEKTI doanya, semoga arwah kakanda pejuang diterima disisi Allah SWT. Pengirim berita MOEKTI CHANDRA,” tulis akun

@indonesiabertauhidid di kolom komentar instagram @harimoekti

Padahal baru sekitar 16 jam yang lalu akun tersebut memperbaharui lini masanya. Saat dikonfirmasi kabar duka tersebut, adik almarhum, Moekti Chandra membenarkannya. Ia tak memberi tahu pasti penyebab ustaz berdarah Sunda itu wafat.

“Iya, mendadak saja,” ucap Moekti singkat saat dihubungi VIVA melalui telepon.

Ia juga belum bisa membeberkan kapan dan di mana sang ustaz menutup mata. Dari nada suaranya di telepon, Chandra terdengar sibuk. Ia mengatakan bersedia diwawancara beberapa saat lagi.

“Ya nanti ada konfirmasi lagi ya,” ucapnya.

Penyanyi bernama asli Hariyadi Wibowo melalui perjalanan panjang di musik dan dakwah. Sebelum berhijrah, Hari mengawali kariernya di dunia musik.

Ia sempat bergabung dengan beberapa grup musik di antaranya, Orbit Band, Primas Band, dan yang paling mengangkat kariernya saat bergabung dengan Adegan (1985).

Lagu-lagu Hari juga cukup dikenal pada era 80-an, seperti, Lintas Melawai, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka, dan Satu. Selama kariernya, Hari telah membuat tujuh album rekaman. Album terakhir, Di Sini, jadi momen Hari berhijrah. Sejak saat itu ia lebih menekuni agama Islam. ***