‘SEBELUM Iblis Menjemput’ menjadi salah satu film horor yang ditunggu-tunggu tahun ini, karena dibintangi oleh dua mega bintang, Chelsea Islan dan Pevita Pearce.
Sebelum tayang pada 9 Agustus 2018, film horror garapan Timo Tjahjanto tersebut merilis trailer perdana pada Selasa 10 Juli 2018.
‘Sebelum Iblis Menjemput’ (SIM) bercerita tentang seorang perempuan muda, Alfie (Chelsea Islan) dengan hidup yang kelam. Ibunya meninggal secara misterius. Sang ayah menikahi perempuan muda yang sudah memiliki dua orang anak, Maya (Pevita Pearce) dan Ruben (Samo Rafael).
Di awal trailer terlihat, Alfi mendapatkan telepon dari Maya bahwa ayah mereka telah dirawat di rumah sakit dengan penyakit tidak wajar. Ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Alfie, Maya dan Samo mengunjungi vila yang selalu ayahnya datangi sebelum sakit.
Di vila tersebut perlahan-lahan terungkap sebuah misteri yang menyeramkan. Kehidupan mereka tidak sama lagi karena iblis dari masa lalu kembali menghantui keluarga tersebut. ‘Sebelum Iblis Menjemput’ dipastikan berbeda dari film horor Indonesia lainnya karena jalan cerita yang kuat.
“Secara skenario film ini arah ceritanya tidak ketebak. Semua elemen scene berhubungan. Timo nulis sangat hati-hati jadi flow-nya utuh. Secara pengadegangan enggak bisa cerita banyak tapi atmosfirnya beda dengan film-film horor lainnya,” kata Wicky V. Olindo selaku produser saat peluncuran trailer baru baru ini.
AJANG penghargaan IMA Awards 2018 memutuskan aktir Adi Kurdi untuk membawa pulang award kategori spesial, Lifetime Achievement.
Anugerah ini diberikan kepada Adi Kurdi sebagai bentuk apresiasi dedikasinya di dunia perfilman Indonesia. Mendapat anugerah ini, pemeran Abah di Keluarga Cemara ini menyampaikan ucapan terima kasihnya. Dia mengaku, dirinya tidak menduga akan mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement.
Adi pun mengapresiasi para generasi penerus perfilman di tanah air dalam mengembangkan seni peran dan industri ini.
“Saya bertahan, karena punya harapan. Film itu bisa memberikan gambaran kepada masyarakat untuk membangun kehidupan lebih baik,” ucapnya.
“Dulu ketika mata saya masih normal, saya pernah jadi pria yang buta matanya. Kini kedua mata saya sudah tak bisa melihat lagi, justru dapat peran sebagai laki-laki yang normal dan bisa melihat,” ungkap Adi yang terakhir bermain di film ‘Koki Koki Cilik’
“Saya hanya menyukai dan menekuni kesenian,supaya bisa menghasilkan sesuatu yaitu karya. Saya puas jadi seniman. Mari jadilah seniman yang bertanggung jawab,” tandasnya.
Dalam IMA Awards 2018 ini, juga diberikan penghargaan untuk kategori pilihan juri. Yakni, Christine Hakim (Kartini) sebagai Pemeran Wanita Pendukung Terbaik, serta Marsha Timothy dan Dea Panendra (Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak) sebagai Pemeran Pasangan Terbaik.
Sinematografi:
Film:
Gadis Penakluk (1980)
Bukan Istri Pilihan (1981)
Putri Seorang Jendral (1981)
Bunga Bangsa (1982)
RA Kartini (1982)
Hatiku Bukan Pualam (1985)
Opera Jakarta (1985)
Beri Aku Waktu (1986)
Oeroeg (1993)
Surat untuk Bidadari (1994)
Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002)
3 Hari untuk Selamanya (2007)
Anak-Anak Borobudur (2007)
Ratu Kostmopolitan (2010)
Kapan Kawin ? (2015)
Bulan di Atas Kuburan (2015)
Triangle the Dark Side (2016)
Serial drama:
Sebening Air Matanya (1993)
Keluarga Cemara (1997)
Ali Topan Anak Jalanan (1997)
Masalembo (2015)
PENYANYI religi Opick memang telah didapuk oleh Dompet Dhuafa untuk menggelar Konser Amal demi mengumpulkan donasi dana pembangunan Rumah Sakit Hasyim Asy’ari.
Opick mengaku senang bisa ikut berkontribusi dalam membantu mengumpulkan dana yang ditargetkan Rp 30 miliar dari para donatur Dompet Dhuafa pada malam konser kali ini.
Dalam konser amal itu, menurut Opic yang terpenting adalah ‘seberapa peduli masyarakat dalam membangun rumah sakit yang dalam operasinalnya nanti rencananya akan digratiskan bagi para kaum dhuafa itu.
“Poinnya bukan soal Opick dan Rossa, tapi adalah kita sama-sama membangun rumah sakit ini,” ujar Opick di Jakarta Theater.
Opick menambahkan, jumlah donasi yang terkumpul akan langsung digunakan dalam membangun rumah sakit itu, berapapun jumlah yang didapatkan.
“Berapapun donasi yang kita dapatkan, nanti kita bangun langsung (rumah sakitnya), insha Allah nanti langsung dibangun kalau terkumpul,” jelas Opick.
Dia berharap pembangunan Rumah Sakit Hasyim Asy’ari cepat dirampungkan sehingga masyarakat yang memiliki ekonomi rendah bisa menikmati manfaatnya.
“Insha Allah dalan waktu yang cepat ini rumah sakit dibangun dan manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat kita, terutama masyarakat dhuafa,” kata Opick.
Da kembali menyampaikan harapannya agar kedepannya rumah sakit itu memang benar-benar dibangun dan digratiskan untuk para kaum dhuafa.
“Mudah-mudahan kita komitmen dari awal, bahwa rumah sakit ini gratis untuk masyarakat dhuafa,” tegas Opick.
Rumah Sakit Hasyim Asy’ari sedianya akan dibangun di tanah yang diwakafkan oleh Pesantren Tebu Ireng seluas sekitar 1 hektar. Tanah tersebut berada di kompleks Pesantren yang terletak di kawasan Jombang, Jawa Timur.
Jika kelak rumah sakit itu dibangun, letaknya akan berdekatan dengan kompleks pemakaman keluarga KH Hasyim Asy’ari dan makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
STREAMING raksasa Netflix, akan merilis film thriller kejahatan Austria bertajuk “Freud,” di mana psikoanalis Sigmund Freud digambarkan sebagai seorang pemuda yang menggunakan ide-ide inovatifnya untuk melacak seorang pembunuh berantai di Wina pada abad ke-19.
Netflix bekerja sama dengan lembaga penyiaran publik Austria ORF untuk memproduksi serial, Freud, demikian laporan oleh Variety dan The Hollywood Reporter.
Film thriller kejahatan ini menggambarkan Freud sebagai pria muda yang bekerja sama dengan media bernama Fleur Salome dan inspektur polisi Kiss.
ORF akan menyiarkan seri ini di Austria, dan Netflix akan merilisnya di pasar internasional termasuk AS, Inggris dan Jerman.
Perusahaan Jerman ZDF Enterprises dan Bavaria Fiction bertindak sebagai co-producer pada serial asli untuk Austria.
Film Freud ini akan diarahkan oleh sutradar Marvin Kren, yang juga menandatangani drama seri 4 Blok. Stefan Brunner (Tatort) dan Benjamin Hessler (4 Blok) akan bergabung dengannya di skrip.
Produksi akan mulai musim gugur ini. Sejauh ini pemeran serial ini belum ditentukan.
Netflix telah mencetak hit dengan seri Jermannya “Dark”. Serial itu telah mendapat sambutan bagus. Freud akan menjadi drama asli pertama dari raksasa streaming dari Austria ini.
LUNA Maya menunjukkan totalitasnya saat syuting film Sabrina. Pada sebuah adegan, ia rela dikubur dalam pasir. “Luna dikubur dalam pasir selama 12 detik,” kata Rocky Soraya, sutradara film Sabrina dalam jumpa pers di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2018).
Luna memerankan karakter Meira di film horor tersebut. “Meira punya keluarga baru dan move on. Film ini keseruan baru yang bikin penonton jantungan,” lanjutnya berpromosi.
Film horor produksi Hitmaker Studios ini mengangkat kisah tentang roh jahat yang menjadikan boneka sebagai mediumnya. Segerobak artis top ikut menyemarakkan film ini : Christian Sugiono, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas, Rizky Hanggono dll. Selain di RI, Sabrina juga akan tayang di Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam dan Hong Kong. ***
Satu lagi novel rekaan Wulanfadi yang sebelumnya telah terlebih dahulu populer di situs Wattpad diangkat ke film layar lebar. Selepas A: Aku, Benci dan Cinta (2017) diejawantahkan dalam medium film oleh MD Pictures, kali ini giliran R: Raja, Ratu, dan Rahasia yang difilmkan. Rumah produksi yang bertanggungjawab adalah Starvision.
Meski berbeda rumah produksi, kedua film ini diperkuat oleh satu nama yang sama yakni Brandon Salim (The Underdogs, Beauty and the Best). Jika dalam Aku, Benci, dan Cinta statusnya hanya sebagai pemeran pendukung, maka dalam Raja, Ratu, Cinta, Brandon Salim menempati posisi pemeran utama. Dia memerankan seorang siswa SMA bernama Raja.
Dipasangkan dengan Brandon Salim adalah Aurora Ribero yang memulai karir keaktorannya melalui Susah Sinyal (2017) arahan Ernest Prakasa. Sesuai dengan judul, Aurora Ribero didapuk menghidupkan karakter bernama Ratu yang diceritakan sebagai remaja yatim piatu yang kesepian dan menaruh rasa kepada teman sekolahnya, Raja.
Konflik dalam film mulai mengemuka tatkala Raja mendapati Ratu telah bergabung dengan sebuah komplotan eksklusif di sekolah mereka yang bernama Komplotan Rahasia. Raja beranggapan bahwa komplotan ini hanya membawa keburukan, sementara Ratu justru menemukan kebahagiannya disini. Kebahagiaan yang tidak lagi ditemukannya di rumah.
Disamping Brandon Salim dan Aurora Ribero, jajaran pemain dalam Raja, Ratu, dan Rahasiayang penulisan naskahnya ditangani oleh Haqi Achmad (Ada Cinta di SMA, Sajen) ini turut diperkuat Dimas Beck, Ardit Erwandha, Ira Wibowo, Sheila Dara Aisha, Teuku Rizky, Jeff Smith, Zulfa Maharani, serta Asri Welas. Dan disutradarai oleh Findo Purwono HW.
Menurut rencana, Raja, Ratu, dan Rahasia yang menjalani tahapan pengambilan gambar di Jakarta dan Singapura serta memanfaatkan tembang Teman Bahagia milik Jaz sebagai lagui tema ini akan dirilis ke berbagai jaringan bioskop tanah air pada tanggal 12 Juli mendatang.***
Scarlett Johansson, 23 April 2018, tiba di premier dunia “Avengers: Infinity War” di Los Angeles. Rencana Johansson untuk menggambarkan seorang transgender telah memicu reaksi dari banyak orang yang berkeberatan dengan aktor cisgender yang memainkan peran trans. Awal pekan ini, Johansson diumumkan untuk membintangi film “Rub & Tug,” tentang pemimpin cincin prostitusi Dante “Tex” Gill, “yang dilahirkan Lois Jean Gill tetapi diidentifikasi sebagai seorang pria. Sejak itu, banyak aktor dan advokat transgender mengkritik produksi untuk casting Johansson.
RENCANA Scarlett Johansson untuk menggambarkan seorang transgender, telah memicu reaksi dari banyak orang yang berkeberatan dengan aktor cisgender yang memainkan peran trans.
Awal pekan ini, Johansson diumumkan akan membintangi “Rub & Tug,” sebuah film tentang pemimpin linkaran prostitusi Dante “Tex” Gill, yang dibidani Lois Jean Gill, tetapi diidentifikasi sebagai seorang pria. Sejak pengumuman itu, para aktor transgender dan pendukungnya, mengkritik produser karena tidak mentransmisikan aktor trans dalam peran tersebut.
Johansson, yang juga produser film, itu semakin kebanjiran kritik dengan pernyataannya di situs web Bustle, melalui perwakilannya, yang mengatakan bahwa kritik “dapat diarahkan ke Jeffrey Tambor, Jared Leto, dan Felicity Huffman untuk komentar.”
Tambor, Leto dan Huffman adalah semua aktor cisgender yang menerima pujian untuk memainkan karakter trans. Tambor memenangkan dua Emmy Award untuk penampilannya di “Transparent,” meskipun ia meninggalkan pertunjukan tahun lalu setelah ia dituduh melakukan pelanggaran seksual oleh dua wanita transgender: aktris Trace Lysette dan mantan asisten pribadinya, Van Barnes.
Leto memenangkan Oscar untuk penampilannya di 2013 “Dallas Buyers Club.” Huffman dinominasikan untuk Oscar untuk film 2005 “Transamerica.”
Lysette termasuk di antara mereka yang tidak menyetujui niat Johansson. Di Twitter, ia menulis: “Jadi, Anda dapat terus memainkan kami, tetapi kami tidak dapat memainkan Anda?”
“Anda tidak hanya memainkan kami dan mencuri narasi kami dan kesempatan kami, tetapi Anda menepuk dana Anda dengan piala dan penghargaan untuk meniru apa yang telah kami jalani,” tulis Lysette.
Jamie Clayton, aktris transgender yang membintangi “Sense8,” Netflix, memberanikan Johansson dan pembuat film untuk mentransmisikan aktor trans di bagian non-trans.
“Aktor yang trans bahkan tidak pernah bisa audisi untuk apa pun selain peran karakter trans,” kata Clayton dalam tweet semua-topi. “Itu masalah sebenarnya. Kami bahkan tidak bisa masuk ke kamar. ”
Perwakilan untuk Johansson tidak menanggapi pesan untuk komentar.
Johansson telah mendapat kecaman sebelumnya karena memainkan peran yang mendorong kemarahan. Dalam “Ghost in the Shell” tahun lalu, dia memainkan karakter robot yang dikenal dalam manga asli Masamune Shirow sebagai Motoko Kusanagi.
Para kritikus menyebutnya sebagai contoh lain dari sejarah panjang Hollywood tentang karakter-karakter Asia yang bercat putih dengan aktor Kaukasia. Mamoru Oshii, direktur adaptasi anime asli “Ghost in the Shell,” membela casting karena peran Johansson adalah cyborg tanpa balapan tetap.
Rupert Sanders, yang mengarahkan “Ghost in the Shell,” diatur untuk memimpin “Rub & Tug.”
Dalam file foto Feb .14, 2013. Sutradara film Perancis Claude Lanzmann memegang Golden Golden Bear pada edisi ke-63 Berlinale, International Film Festival di Berlin, Jerman. Lanzmann, sutradara film epik ‘Shoah,’ telah meninggal pada usia 92.
SUTRADARA Prancis Claude Lanzmann — yang karya besarnya selama 9 ½ jam “Shoah” yang memberikan kesaksian yang “membekukan” tentang Holocaust melalui kesaksian para korban Yahudi, algojo Jerman dan penonton Polandia— telah meninggal pada usia 92 tahun.
Gallimard, penerbit untuk otobiografi Lanzmann, mengatakan dia meninggal pada Kamis 5 Juli pagi di Paris. Tidak ada rincian lebih lanjut.
Kekuatan “Shoah”, difilmkan pada tahun 1970-an, selama perjalanan Lanzmann ke Polandia yang tandus di mana pembantaian orang Yahudi direncanakan dan dijalankan, adalah dalam memandang Holocaust sebagai peristiwa di masa kini, bukan sebagai sejarah. Itu tidak berisi rekaman arsip, tidak ada skor musik – hanya lanskap, kereta api dan kenangan yang terekam.
Lanzmann berusia 59 tahun ketika filmnya, yang kedua, keluar pada 1985. Film itu mendefinisikan Holocaust bagi mereka yang melihatnya, dan mendefinisikannya sebagai pembuat film.
“Saya tahu bahwa subjek film itu adalah kematian itu sendiri. Kematian bukannya bertahan hidup, ” tulis Lanzmann dalam otobiografi.
“Selama 12 tahun aku mencoba menatap tanpa henti ke dalam matahari hitam Shoah.”
“Karya sinematik Claude Lanzmann meninggalkan kenangan yang tak terhapuskan pada ingatan kolektif, dan membentuk kesadaran Holocaust pemirsa di seluruh dunia, dalam generasi ini dan lainnya,” kata Avner Shalev, ketua pemakaman Israel Yad Vashem Holocaust.
“Kepergiannya dari kami sekarang, bersama dengan pemisahan kami baru-baru ini dari banyak korban Holocaust, menandai berakhirnya sebuah era.”
“Shoah” hampir secara universal dipuji. Roger Ebert menyebutnya “salah satu film paling mulia yang pernah dibuat” dan Time Out dan The Guardian berada di antara mereka yang memeringkat film dokumenter terbesar sepanjang masa. Pemerintah Polandia adalah seorang yang tidak sependapat, yang menganggap film itu sebagai “propaganda anti-Polandia.” (Tetapi kemudian mengizinkan “Shoah” untuk ditayangkan di Polandia).
Pada 2013, hampir tiga dekade kemudian, Lanzmann mengunjungi kembali Holocaust dengan “The Last of the Unjust,” yang berfokus pada wawancaranya pada 1975 dengan seorang rabi Wina yang merupakan “penatua” terakhir ghetto Theresienstadt, yang digunakan oleh Nazi untuk menipu pengunjung untuk percaya bahwa orang Yahudi sedang diperlakukan secara manusiawi.
Pekerjaan terakhirnya, serangkaian wawancara dengan empat korban Holocaust yang dijahit bersama menjadi film tunggal 4½ jam, dirilis di bioskop Prancis, Rabu. Tetapi bahkan sebelum itu, Lanzmann menunjukkan keluasannya dengan film dokumenter tahun 2017, “Napalm,” yang menceritakan kunjungannya ke Korea Utara pada akhir 1950-an, termasuk dia menceritakan perselingkuhannya dengan seorang perawat Palang Merah di negara tersebut.
“Karya sinematik Claude Lanzmann menunjukkan seberapa banyak seni dapat berkontribusi pada pembangunan memori kolektif kita, memberikan resonansi individu untuk setiap cerita,” kata Audrey Azoulay, mantan menteri kebudayaan Prancis dan direktur jenderal UNESCO saat ini.
Lanzmann lahir 27 November 1925, di Paris, anak Yahudi Prancis. Setelah ibunya pergi pada tahun 1934 dan perang pecah, Claude dan dua saudara kandungnya pindah ke sebuah peternakan di mana ayah mereka menghitung waktu anak-anaknya ketika mereka berlatih melarikan diri ke tempat perlindungan yang dia gali.
Lanzmann akhirnya bergabung dengan Perlawanan sebagai Komunis dan menjadi terpikat secara intelektual dengan Jean-Paul Sartre, yang “Anti-Semit dan Yahudi” membentuk fondasi filosofis dari apa yang nantinya akan menjadi karya hidupnya.
Lanzmann bergabung dengan lingkaran Sartre dan akhirnya berselingkuh dengan Simone de Beauvoir, rekan Sartre yang 17 tahun lebih tua dari misdinar muda. Lanzmann berangkat ke Israel dan pindah bersama Beauvoir ketika ia kembali, dari 1952 hingga 1959, menurut “The Patagonia Hare,” otobiografinya. Sartre, pahlawan Lanzmann, menjadi konstan dalam hidup mereka bersama.
“Jadi saya adalah oportunis -‘ di bagian make ’yang Anda katakan. Tapi dia cantik. Ketertarikan saya padanya tulus, ”katanya kepada biografi Beauvoir. Lama setelah perselingkuhan mereka berakhir, Beauvoir memberikan banyak dukungan keuangan untuk “Shoah.”
Lanzmann mengotak-atik politik dan jurnalisme, bekerja secara berkala untuk jurnal Prancis Dimanche, mengambil tugas-tugas freelance. Dia bergabung dengan Sartre dalam menandatangani Manifesto untuk 121, menyerukan kepada tentara Prancis untuk menolak pertempuran di Aljazair, dan dituntut.
Pada tahun 1968, ia melakukan pemberitaan televisi tentang Tentara Israel di Semenanjung Sinai, yang menyebabkan film pertamanya: “Israel, Mengapa.”
Beauvoir, menulis tentang Lanzmann dalam memoarnya “Force of Circumstance” menggambarkan dia sebagai seseorang yang “sepertinya membawa beban dari seluruh pengalaman leluhur di pundaknya.”
Berat badan inilah yang pada akhirnya menyebabkan seorang intelektual gelandangan untuk memeriksa peristiwa terdefinisi Yudaisme abad ke-20, secara obsesif melacak mereka yang paling dekat dengan kematian. “Film ini harus mengambil tantangan terakhir; mengambil tempat dari gambar kematian yang tidak ada di kamar gas, ”tulisnya.
Film ini dibuka bersama Simon Srebnik, yang sebagai tahanan Yahudi berusia 13 tahun bernyanyi untuk SS dan memberi makan kelinci mereka di kamp konsentrasi Chelmno. Mengucap suara yang manis dengan kelangsungan hidupnya, Srebnik melakukan lagu yang sama untuk Lanzmann saat ia mendayung di sepanjang sungai tenang yang mengarah ke kamp. Belakangan, terungkap bahwa di antara tugas-tugas Srebnik adalah membuang kantong-kantong berisi tulang-belulang orang Yahudi yang hancur ke perairan yang sama.
Dia memfilmkan Abraham Bomba di tempat kerja di pangkas rambut Tel Aviv, menggambarkan bagaimana dia memotong rambut wanita di dalam kamar gas Treblinka. Dengan pertanyaan periodik oleh Lanzmann, Bomba menceritakan bagaimana setelah setiap kelompok wanita selesai, tukang cukur diminta untuk pergi selama beberapa menit, para wanita digas dan kemudian para pria kembali untuk memotong rambut lusinan lebih banyak wanita telanjang yang ditemani oleh anak-anak mereka. .
“Kamar ini adalah tempat terakhir di mana mereka pergi hidup-hidup dan mereka tidak akan pernah keluar hidup kembali,” katanya. “Kami hanya memotong rambut mereka untuk membuat mereka percaya mereka mendapatkan potongan rambut yang bagus.” Tukang cukur itu memohon untuk berhenti ketika dia ingat melihat istri dan saudara perempuan dari seorang teman masuk, tetapi Lanzmann mendesaknya untuk melanjutkan.
Lanzmann kadang-kadang menggunakan kamera rahasia untuk merekam kesaksian, termasuk Franz Suchomel, mantan penjaga di Treblinka yang menunjuk seperti seorang guru sekolah ke cetak biru kamp untuk menunjukkan bagaimana mayat dibuang, menggambarkan kamar gas baru yang bisa “menghabisi 3.000 orang.” dalam dua jam. ”Pada satu titik selama wawancara, Lanzmann berjanji pada Suchomel bahwa dia tidak akan direkam.
Salah satu wawancara yang paling mengerikan yang dilakukan Lanzmann adalah juga yang paling singkat dalam “Shoah” – Yitzhak Zuckerman, pemimpin perlawanan Yahudi di Warsawa, yang selamat dari Treblinka dan melihat sejumlah teman dan kawan yang tak terhitung jumlahnya meninggal. Dia mengatakan kepada Lanzmann dengan getir, “jika kamu bisa menjilat hatiku, itu akan meracuni dirimu.”
Pada perdana film, jurnalis Prancis Jean Daniel memberi tahu Lanzmann: “Ini membenarkan kehidupan.”
Lanzmann selamat oleh istri ketiganya, Dominique, dan putrinya Angelique. Putranya, Felix, meninggal tahun lalu.
Penyanyi Syahrini (35) mengatakan bahwa ia main dalam film Bodyguard Ugal-Ugalan sebagai dirinya sendiri. Perempuan yang menyebut dirinya Princess atau Inces ini juga mengatakan bahwa ia tidak membaca seluruh skenario karena ia berperan sebagai dirinya sendiri.
“Secara skedul baik dan, begitu meeting, saya tidak dituntut jadi orang lain, jadi Inces sendiri. Skenario segitu tebalnya, saya enggak baca,” tutur Syahrini usai Press Screening film Bodyguard Ugal Ugalan di CGV, Grand Indonesia.
“Jadi, pas di lokasi, saya nanya, ‘Harus ngomong apa?’ Kata Mas Acho (Irham Acho Bachtiar, sutradara), ‘Terserah mau ngomong apa aja‘, ‘Oh, baik’,” sambungnya.
Film arahan sutradara Irham Acho Bachtiar itu bercerita tentang petualangan para pengawal menjaga penyanyi papan atas Princess Syahrini. Karena berperan sebagai dirinya sendiri, sang pelantun tembang “Sesuatu” ini juga tidak perlu mendalami karakter.
“Saya begitu ditawari film komedi, langsung setuju, karena hari-hari saya selalu bercanda sama tim, sama teman. Jadi, enggak perlu pendalaman karakter,” ucapnya.
Film Bodyguard Ugal-ugalan juga dimainkan oleh Tamara Bleszynski, Boris Bokir, Muhadkly Acho, dan Ririn Ekawati. Film tersebut akan mulai diputar di gedung-gedung bioskop pada 5 Juli 2018. ***
Nama aktor tampan Baron Yusuf Siregar atau yang lebih dikenal dengan Baron Yusuf memang belum begitu familiar ditelinga publik. Namun jika melihat wajahnya di layar kaca, mungkin anda sudah tak asing lagi.
Baron Yusuf sendiri memulai kiprahnya di jagat hiburan tanah air dengan debutnya pada sinetron Ronaldowati. Lalu nama Baron Yusuf sendiri mulai bersinar dan dikenal publik lewat sinetron Tendangan Si Madun dan Tendangan Si Madun 2.
Tapi tak hanya itu, pria kelahiran Jakarta 28 April 1998 ini juga sempat membintangi sebuah film layar lebar yang bertajuk ‘Garuda Di Dadaku’ yang merupakan film besutan sutradara Ifa Isfansyah.
Film pertamanya, ketika Baron berusia 8 tahun di tahun 2009, ia diajak Upi main film ‘Realita, Cinta dan Rock’n Roll. Film ketiga dan terbarunya, Baron yang sudah ganti nama menjadi Baron Wilschut digandeng sutradara Amar Mukhi memperkuat film bergenre horor thriller bertajuk ‘Aib#CyberBully’. Ia berperan sebagai pembully bernama Bondan.
“Wilschut itu nama oma saya dari Belanda. Sedangkan papa saya bermarga Siregar. Cita-cita saya sejak kecil ingin jadi pilot, tapi mama mengarahkan karier saya ke dunia film,” pungkasnya.***