‘Liam dan Laila’, Perjuangan Pria Perancis Belajar Islam di Minang

Liam & Laila. Film kedua produksi Mahakarya Pictures tersebut berangkat dari kisah nyata dan menyuguhkan tentang adat Minangkabau yang kuat juga unsur ke-Islaman yang kental.

Film bercerita mengenai Liam, yang diperankan Jonatan Cerrada, pria asal Prancis yang jatuh cinta pada Laila (Nirina Zubir). Liam mendalami Islam dan ingin meminang Laila.

Waktu Liam terbatas. ia hanya punya 30 hari untuk mendapatkan restu dan hati pihak Laila. Sayangnya, kenyataan tak semudah angan, syarat adat yang diajukan oleh tetua dalam keluarga Minangkabau tak mudah dipenuhi. Perjuangan Liam pun dimulai.

Sebagai film pertamanya, Jonatan antusias selama pengerjaan film. Terlebih, nama-nama besar yang terlibat dalam produksi film tersebut turut membimbingnya.

“Ini pengalaman pertama buat saya di layar lebar. Sangat sangat menarik. Saya belajar banyak lagi tentang akting, dan bagaimana berinteraksi dengan semua elemen pekerja film,” kata Liam.

Selain nama-nama di atas, film ini juga dibintangi oleh David Chalik, Praz Teguh, Upik Isil, Gilang Dirga dan bintang lainnya. Lokasi syuting mengambil tempat di Bukittinggi (Sumatera Barat), Jakarta dan Prancis.

Film ini akan tayang dalam waktu dekat. Liam & Laila merupakan film kedua Mahakarya Pictures, yang sebelumnya mereka mengeluarkan Surau & Silek juga mengangkat budaya Minangkabau. (pik)

 

Keren Banget! ‘It’s Showtime’

Indonesia Dance Company (IDCO) pentaskan tarian ‘Swan Lake’–foto yayat

Untuk ketiga kalinya, Indonesia Dance Company (IDCO) menggelar sebuah pertunjukan tarian ballet yang menggabungkan musik kontemporer dengan Indonesia bertajuk “it’s Showtime’.

Claresta Alim selaku Executive Director dari IDCO menjelaskan bahwa pentingnya membawa misi kebudayaan dalam setiap pagelaran seni yang digelar menjadi komitmen untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap budaya asli Indonesia.

“Tema besarnya adalah It’s Showtime, dimana para penari yang unjuk gigi ini mencampurkan banyak unsur tarian mulai dari klasik, kontemporer,  hingga tradisional dengan mengangkat budaya Sumatera Barat sebagai konsep dasar yang dipilih,” tuturnya. Tari Indang dari Sumbar dan tari Papua yang dikolaborasikan dengan unsur hip hop juga ikut dipentaskan.

Indonesia Dance Company (IDCO) pentaskan tarian ‘Time’–foto yayat

 

Indonesia Dance Company (IDCO) pentaskan tarian ‘Arabian’–foto yayat
Indonesia Dance Company (IDCO) pentaskan tarian ‘Flamer of Paris’–foto yayat

Berbeda dari pertunjukkan yang lalu dengan menampilkan alur pada cerita tarian ballet ini, pada pertunjukkan It’s Showtime dari babak satu ke yang lainnya tidak berkaitan satu sama lain.

Nantinya pertunjukkan yang berdurasi selama satu jam tersebut akan terdiri dari dua babak, dimana babak pertama diisi oleh tarian dari variasi ballet sedangkan pada babak kedua lebih kepada tarian enerjik dengan mengangkat unsur kontemporer yang bercampur dengan tradisional.

“Tarian ballet yang memukau seperti Giselle, harlequinade, swan lake, nutcracker serta le corsaire akan membuka babak awal. Sedangkan tarian yang dikolaborasikan dengan jazz, hip hop dan musik tradisional akan mewarnai babak kedua dari pagelaran tari ini,” sambung Claresta.

“Dalam pertunjukan ini semua orang adalah peran utama, karena kami percaya semua orang memegang peranan penting untuk hidup mereka masing-masing untuk memberikan karya terbaiknya. (pik)

 

JIFFest Mati, Balinale sebagai Pengganti

Rolland Joffe n Mooryati Soedibyo

MENYEDIHKAN memang. Sebagai negara besar dengan penduduk nomor empat  terbanyak di dunia, nyaris kita tak memiliki festival film bertaraf internasional.  Dalam sejarah festival film internasional, dulu kita memiliki Jakarta International Film Festival  {JIFFest} yang menayangkan film-film berkualitas yang tak mungkin diputar di bioskop.

Tahun 1999, seorang perempuan penyuka film bernama Shanty Harmayn mengajak kawan-kawannya yang  punya hobi menonton film mendirikan sebuah festival film bertaraf internasional.  Terbentuklah JIFFest di Jakarta  dan hal ini jelas membawa angin segar bagi penikmat film di Jakarta dan Indonesia.

Namun, memasuki tahun ke 12 yaitu tahun 2010, panitia JIFFest kalang kabut terbentur masalah dana.  Co Director Lalu Roisamri mengatakan, anggaran JIFFest harus tersedia Rp 6 Milyar. Dan itu pun sudah ditekan hanya Rp 2, 5 Milyar saja. Maklum, selama ini, panitia JIFFest kontrak dengan sponsor asing. Dan sesuai perjanjian di surat kontraknya, pada tahun 2010, panitia JIFFest harus mencari dana sendiri.

Ibu Mooryati Soedibyo terima award dari Triawan Munaf.

Apa daya. Respon nihil. Lalu Roisamri mengeluh tentang tidak ada jawaban dari pihak Pemda  Jakarta dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Di tahun itu, JIFFest yang merupakan salah satu festival film terbesar di Asia harus tamat riwayatnya hanya karena masalah dana.  Meski mendapat dukungan dari para pecinta film, misalnya dengan menyebarkan  tagar #mari kita bersama selamatkan JIFFest, toh pada akhirnya JIFFest harus tamat. Tragis.

Padahal, hingga tahun 2009, JIFFest  ditonton lebih dari 350.000 orang dengan pemutaran 1500 judul film dari lebih 40 negara.

Satu hal yang perlu diacungi jempol tinggi-tinggi adalah keragaman budaya dan ide-ide pembaruan dari para sineas seluruh dunia. “Sebelum hari penayangan, tiket JIFFest sudah sold out dan jujur, banyak penikmat dan penyuka film berkualitas tidak kebagian tiket.

 

Memang, ada satu atau dua film dari luar negeri yang tidak bisa diputar di JIFFest, karena tidak lolos sensor. Toh walau panitia dan penonton kecewa, kita harus mafhum inilah keadaan yang sebenarnya.  Kita tidak punya Lembaga Klasifikasi Film, yang kita miliki adalah Lembaga Sensor Film,” papar Lalu Roisamri dalam perbincangan dengan penulis.

Kita akui, dari FIFFest lahir banyak sineas berkualitas. Sebut misalnya Salman Aristo (penulis skenario ‘Ayat Ayat Cinta’ dan sutradara ‘Satu Hari Nanti’), Lucky Kuswandi (sutradara ‘Madame X’ dan ‘Galih dan Ratna’), Hanny R Saputra (‘Heart’, ‘Love is Cinta’) dan masih banyak lagi sineas lain yang mengaku banyak memperoleh referensi dan pelajaran berharga saat menonton film-film asing yang diputar di JIFFest. Para volunteer alias sukarelawan pun mencuat lewat JIFFest, antara lain Dian Sastro dan Alex Abbad. Bahkan, Presiden Timor Leste Xanana Gusmao  dan sineas kawakan dari Iran, Jafar Panahi juga menyempatkan diri hadir menonton film di JIFFest. Melalui program diskusi dan workshop serta master class, JIFFest banyak melahirkan generasi baru perfilman Indonesia.

BALINALE DIIKUTI 34 NEGARA

Bertepatan dengan berakhirnya usia JIFFest ke-12, tahun ini (2018), sebuah festival film internasional lain yang diadakan di Indonesia baru memasuki usia ke-12.  Adalah Bali International Film Festival alias Balinale, juga didirikan oleh perempuan penyuka film berwarganegara Amerika, Deborah Gabinetti. Tahun 2007, Deborah atau akrab dipanggil Debby mengawali dengan mendirikan Bali Film Center guna mendukung komunitas lokal lewat program untuk anak dan program kunjungan ke sekolah

 

Pelajar-pelajar SMA antre nonton ‘NYAI’ dan film nasional lain

Dengan  komitmen dari para pembuat film dalam negeri untuk secara terus menerus memberikan workshop dan pengetahuan mengenai perkembangan film di Indonesia selain mengadakan special preview film-film nasional.

Balinale yang digelar setiap tahun di Kuta, Bali dikenal telah menyuguhkan keragaman program film, baik produksi dari dalam maupun luar negeri.  Yang surprise, banyak film independen yang ditayangkan di Balinale dan menjadi pemenang film terbaik di kategori film dokumenter, film utama dan film pendek.

“Balinale mengundang para pembuat film dunia untuk bersama-sama saling berbagi pengetahuan dan kreatifitas global, dalam waktu yang sama menggali kekayaan negeri pertiwi, utamanya sebagai tujuan pembuatan film secara umum dan kesempatan untuk melakukan co-production,” kata Debby kepada penulis saat pembukaan Balinale Film Festival di Hotel Aryaduta, September 2018,

Tahun ini, jumlah film peserta Balinale membludak, mencapai 105 judul film. Dari 34 negara, terbanyak  dari negara tuan rumah, Indonesia.  Hampir setiap hari, untuk pemutaran film-film tentang kepahlawanan dari Indonesia di Cinemaxx, Kuta, Bali, mayoritas pelajar SMA menyesaki bioskop, hingga banyak yang bersimpuh di lantai studio bioskop.  Sebut saja film ‘Sultan Agung’, ‘Nyai’ (Nyai Ahmad Dahlan), ‘Wage’ dan ‘Moonrise Over Egypt’ (biopic H. Agus Salim).

Ada dua kegiatan yang tidak ditemui di festival film lain, yaitu penghargaan untuk produser tertua dan produser termuda. Yang menerima adalah Mooryati Soedibyo, produser tertua yang tahun ini berusia 90 tahun dan  produser film ‘Sultan Agung’ dan Krisnawati, produser temuda yang membuat film ‘Jelita Sejuba’ yang seluruh syutingnya di Natuna, pulau terdepan Indonesia.  Yang mengesankan, kedua  perempuan produser tersebut sama-sama baru pertama kali membuat film.

Kehadiran banyak produser, sutradara, penulis skenario dan penikmat film dari komunitas-komunitas film juga menjadi ciri khas Balinale. Rolland Joffe, sutradara asal Inggris-Perancis yang pernah membuat film ‘Killing Field’ kali ini sengaja datang ke Bali buat menjajagi pembuatan film bertema spionase yang bertajuk ‘Mata Hari’. Kemudian ada Jhett Tolentino, Edward Gustely, Seiko Kato, Julian Glimmand selain beberapa sineas asal Indonesia seperti Mike Wiluan, Erwin Arnada, Sunnil Soraya, Krisnawati, Ody Mulya Hidayat dan masih seabreg sineas lain memberikan nuansa segar bagi perkembangan Balinale di masa depan.

Mereka saling berbagi ilmu dan pengetahuan tentang dunia perfilman di sesi workshop dan diskusi. Selain itu, juga hadir Direktur dari beberapa Pusat Kebudayaan negara-negara sahabat, wakil dari Komunitas Film, Pusat Pengembangan (Pusbang) Film Kemdikbud, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), DFI dan para pengamat/penyuka film.

Pada akhirnya, Balinale terus berkembang dan semakin jauh menayangkan lebih banyak program budaya dan pengalaman baru melalui alur cerita, seni dan film dan secara khusus memberikan peran yang sangat penting bagi perkembangan dunia film di Indonesia. Sebuah harapan yang tidak utopis.*** (Ipik Tanoyo)

 

Kisah Nyata: Ruben Onsu dan Keluarganya Berbulan-bulan Diteror Hantu

Ruben Onsu dan keluarganya–instagram sarwendah

Ini bukan cerita film horor tapi kisah nyata yang dialami artis yang juga presenter Ruben Onsu dan keluarganya yang diteror makhluk halus. Kisah mengerikan ini sebenarnya selama ini disimpan rapat oleh Ruben, namun lantaran gangguan makhluk halus dirasakan sudah keterlaluan dan sangat mengganggu akhirnya Ruben pun mengungkapkannya.

“Saya termasuk orang yang hanya tahu tapi tidak mau tahu tentang hal-hal yang tidak kasat mata. Tapi jujur, sudah beberapa bulan ini, sudah sangat mengganggu karena mulai banyak kejadian-kejadian di luar nalar pikiran kami sekeluarga,” ungkap Ruben lewat akun instagramnya.

Menurutnya, dia termasuk orang yang jika ada kejadian-kejadian apapun pasti mengarahkan pikirannya pada ‘hanya kebetulan’ dan berusaha ‘stay positif thinking’. “Mereka-mereka yang memiliki ‘kelebihan’, sering memberi saya peringatan kalau ada energi gelap yang mengikuti dan punggung adalah incarannya. Dalam hati saya berucap, ‘Kok bener banget, terasa berat dan sakit sekali kalau malam’,” ucapnya.

foto instagram sarwendah/pic by @fahri_frpotret

Suatu ketika, dirinya didatangi ibunya lewat mimpi dan mengatakan, ‘Uben hati-hati. Jaga diri dan harus kuat ya, dilawan sama yang baik’. Ruben mencoba mengaitkan kejadian-kejadian yang sudah dialami dirinya juga keluarganya selama sebulan terakhir. “Mulai dari istri dan anak saya yang diserang dengan kejadian-kejadian di luar nalar yang susah saya ceritakan secara detail. Saya hanya bisa berdoa agar istri dan anak saya tidak diganggu,” kata komedian kelahiran 1983 ini.

Ternyata bukan hanya dirinya, istri dan anak yang diganggu makhluk halus tapi juga adiknya Jordi Onsu. Hal itu diketahuinya ketika sang adik, Jordi, bercerita padanya tentang gangguan-gangguan aneh di rumahnya. “Ternyata, itu sama persis dengan apa yang dialami oleh keluarga saya. Padahal sebelumnya saya tidak pernah cerita apa-apa padanya. Saya tidak pernah cerita tentang kejadian-kejadian yang saya dan keluarga alami,” tambah Ruben seraya menyebut, kejadian itu terjadi setiap pukul 02 sampai pukul 04.

“Ada yang bilang, ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan bisnis, ada yang bilang tidak suka dengan kesuksesan karier saya. Tapi percayalah semua itu saya dapatkan melewati proses kok, tidak instan,” lanjutnya.

Namun begitu, kata Ruben yang namanya melejit setelah membawakan acara ‘Rumpi’, dirinya tidak melakukan apa-apa terkait kejadian yang mengerikan yang menimpanya. Dia juga tidak bertanya-tanya kepada orang lain tentang hal tersebut. “Saya tidak pergi kemana-mana untuk bertanya-tanya lebih jauh. Saya juga tidak berusaha mencari tahu siapa yang berbuat. Tidak terlintas untuk membalasnya. Tapi saya mencoba melawan energi itu dengan keimanan saya saja. Stay positif thinking dalam setiap langkah saya,” kata ayah dari Thalia Putri Onsu (3), ini.

Dirinya yakin banyak orang juga memiliki cerita yang sama tentang kejadian-kejadian di luar nalar. “Di era teknologi canggih saat ini, ternyata saya baru tahu ‘Ada’ dan ‘Nyata’,” katanya seraya menyebut entah kejadian apa lagi yang bakal terjadi pada pukul 02 malam nanti.  “Saya percaya Tuhan menjaga saya dan keluarga kecil saya,” tandasnya.***/cybertokoh

 

Roland Joffe, Jajaki Lokasi Syuting Film ‘Mata Hari’ di Indonesia

Roland Joffe (kanan) dan Yusron Fuadi (kiri)–foto ipik

Salah seorang tamu kehormatan di Balinale Film Festival adalah Roland Joffe, 72 tahun, sutradara Inggris-Perancis. Sutradara pemenang Oscar lewat film ‘The Mission’ (1986) dan  ‘The Killing Fields’ (1984) adalah peraih pertama Bali Taksu Award (Taksu istilah Bali yang berarti inspiratif kreatif). Dia telah mempertunjukkan hal ini melalui berbagai filmnya yang membukakan pandangan kita kepada budaya dan ide-ide yang berbeda.

Joffee selalu mencari potensi cerita-cerita yang masih tersembunyi di dalam budaya yang kaya. Indonesia membuka banyak kesempatan baginya.

Di tahun ini, dia akan memulai syuting film dari cerita misterius ‘Mata Hari’, seorang wanita mata-mata terkenal yang sempat tinggal di Indonesia selama tujuh tahun. Pembahasan tentang proyek ini dimulai 12 tahun silam antara Joffe dan Deborah Gabinetti dari Bali Film Center. Perjalanan proyek ini mencapai lingkaran penuh karena bertepatan dengan Balinale Festival Film ke-12.

Selama ini, Joffe telah syuting di banyak negara seperti Argentina, Colombia, Paraguay, Thailand dan di Afrika Selatan untuk film terbarunya, ‘The Forgiven’.

Di Balinale, Joffe membagikan pengalaman dan wawasan luasnya dengan sineas Indonesia mengenai hal-hal yang membuat cerita lokal yang menarik bagi dunia internasional.

Di dalam segmen Directors Dialogue, Joffe bicara bersama editor dari Variety Asia, Patrick Frater, Jhett Tolentino (produser Broadway), Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Ahmad Yani Basuki dan produser Max Film, Ody Mulya Hidayat dan Cinta Laura Kiehl, aktris Indonesia yang bermain di film internasional.

Balinale Film Festival 2018 diikuti banyak peserta insan film (produser, sutradara, penulis skenario, pengamat film dan jurnalis film) dari dalam dan luar negeri. Antara lain dari Pusat Pengembangan Film (Pusbang) Film Kemdikbud, Bekraf, RRI, komunitas film, dan beberapa perusahaan film. (pik)

 

Dua Produser Perempuan Raih Penghargaan di Balinale Film Festival 2018

Dua produser perempuan raih penghargaan di Balinale Film Festival 2018–foto istimewa

Dua produser perempuan Indonesia memperoleh penghargaan dari  Balinale Film Festival di Cinemaxx, Lippo Mall, Kuta, Bali, Senin (24/9). Ke dua produser tersebut adalah Mooryati Soedibyo (produser tertua) dan Krisnawati (produser termuda).

Balinale FF  ke 12 dibuka oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf. Bertemakan ‘Timeless’ yang memperlihatkan bagaimana film dapat menyampaikan cerita-cerita  terkecil serta momen-momen singkat yang dapat mengubah emosi.

Mooryati Soedibyo (produser tertua) dan Krisnawati (produser termuda)–foto istimewa

Jumlah film peserta di Balinale tahun ini membludak mencapai 105 judul film, yang diikuti 34 negara. Dari Indonesia sendiri, sebanyak 45 film ikut serta dan terbanyak sepanjang Balinale digelar. Dibuka dengan film ‘Sultan Agung’ karya Hanung Bramantyo dan diproduseri Mooryati Soedibyo. Festival akan ditutup film asal Jepang ‘Shoplifters’, disutradarai Hirokazu Koreeda yang memenangkan Cannes Film Festival 2018.

“Ibu Krisnawati menyertakan film ‘Jelita Sejuba’ yang seluruh syutingnya di Pulau Natuna, pulau terdepan Indonesia,” ujar Direktur Festival Balinale, Groza Subhakti.

Film-film Indonesia lainnya yang diputar gratis di Cinemaxx Lippo Mall (Kuta) dan Plaza Renon antara lain Kulari Ke Pantai, Nyai, Moonrise Over Egypt, Wage, Lima, Surau dan Silek, Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran, Banda – the Dark Forgotten Trail dll. (pik)

Penakut, Zaskia Gotik Nekat Main Film ‘Arwah Tumbal Nyai’

Zaskia Gotik dalam poster film ‘Arwah Tumbal Nyai’–istimewa

Tiga penyanyi dangdut terkenal yaitu Ayu Ting Ting, Zaskia Gotik dan Dewi Perssik bermain bersama dalam film bergenre horor dalam film  Arwah Tumbal Nyai. Menariknya film horor ini menjadi yang pertama dalam film trilogi Tanah Air yang tayang menjadi tiga bagian.

Untuk part pertama, film bertajuk Arwah yang dibintangi oleh Zaskia Gotik ternyata menjadi pengalaman perdana bagi pedangdut asal Karawang ini. Film Arwah ini diputar perdana di Karawang, kota kelahiran Zaskia. Sore hari, Zaskia dan artis pendukung Arwah naik becak dari kantor Bupati Karawang menuju bioskop XXI (Karawang Mall).

“Ini film pertama saya, apalagi horor. Awalnya enggak mau ambil film ini karena memang takut, tapi karena mengangkat budaya Jawa Barat dan tarian jaipong jadi aku mau ambil,” kata Zaskia dalam presscon yang digelar di hotel kawasan Karawang, Jawa Barat.

Tidak jauh berbeda dengan Zaskia Gotik, Ayu Ting Ting juga mendapat kesempatan perdana untuk main film horor. Bedanya jika Zaskia cukup takut, Ayu justru merasa tertantang. “Saya juga anaknya penakut. Tapi karena mendapat kesempatan, kenapa enggak dicoba aja?,” kata Ayu.

Sebagai pemain senior, Dewi Perssik merasakan cerita yang berbeda dari film Arwah Tumbal Nyai. Akhirnya Dewi pun tertarik untuk ambil bagian dalam projek yang di produseri oleh Raffi Ahmad. “Ini film horor trilogi, yang pastinya akan berbeda. Ada tiga cerita yang saling berkaitan satu sama lain. Jadi pasti seru lah,” jelas Dewi.

Selain perbedaan dari film trilogi, Arwah Tumbal Nyai juga mengangkat soal kearifan lokal yang menjadi daya tarik tersendiri. “Karena tidak hanya sebagai hiburan, film merupakan media promosi yang baik bagi budaya kita. Lebih-lebih Indonesia memiliki begitu banyak budaya dan kita harus bangga akan hal itu,” imbuh Fransen Susanto, Eksekutif Produser RA Pictures. (pik)

 

Film ‘Belok Kanan Barcelona’ Tentang Cita dan Cinta

Apa artinya sebuah pertemanan setelah terpisah jarak dan waktu? Hal-hal klise yang sering terjadi dan terpikir buat kamu yang punya teman dekat atau sahabat karib di kehidupan nyata.

Cerita yang sama juga akan terjadi di film Belok Kanan Barcelona. Diadaptasi dari novel laris yang dikerjakan oleh empat penulis Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, Iman Hidajat pada tahun 2007 yang lalu kini akan segera hadir di bioskop-bioskop Indonesia.

Seperti apa cerita atau sinopsis film Belok Kanan Barcelona? Apakah memiliki cerita yang kurang lebih sama dengan novelnya?

Francis (Morgan Oey) memainkan nada-nada rindu melaui pianonya. Farah (Anggika Bolsterli) tengah sibuk merancang sebuah desain bangunan di Vietnam. Retno (Mikha Tambayong) melanjutkan hobi memasaknya di Denmark, dan Ucup (Deva Mahenra) yang tengah mengejar karir fantastisnya di Afrika Selatan.

Empat orang teman lama yang sudah sangat dekat sejak masa sekolah. Harus berpisah demi melanjutkan masa depan masing-masing. Jarak dan waktu, tidak menghilangkan masa-masa indah mereka di masa lalu.

Keempat orang ini masih  bersahabat. Bahkan selalu memberikan kabar terbaru tentang kehidupan mereka masing-masing. Namun, pertemanan memendam sebuah rasa. Rasa yang tidak pernah jujur serta tak terungkap dari masa lalu.

Rasa yang membuat empat orang ini melakukan perjalanan demi perjalanan yang menyenangkan sekaligus menemukan dan menentukan kisah cinta yang tidak pernah hilang. ‘Belok Kanan Barcelona’ adalah tentang cita, cinta dan cerita empat orang yang sedang memulai perjalanan hidup mereka. (pik)

AMI Awards 2018 Serukan #SatuMusikIndonesia

Dwiki Dharmawan, Ketua Umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia–foto istimewa

Anugerah Musik Indonesia Awards yang merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi insan dan industri musik Indonesia, kembali diadakan untuk yang ke-21 kalinya pada  26 September 2018 di Ecovention, Ancol, Jakarta Utara.

Tahun 2018 ini dinilai sebagai tahun yang tepat untuk berefleksi, di mana industri musik di Indonesia selalu bergerak secara dinamis. Saat ini, banyak insan musik yang sebagian besar adalah digital native, terus bergairah untuk berkarya dan menghasilkan banyak jenis musik yang berkualitas.

Untuk itu, dalam perayaannya pada 2018 ini AMI mengusung tema #SatuMusikIndonesia. Tema ini menjadi sebuah seruan tentang bukan saatnya lagi bangsa kita terpecah belah oleh adanya perbedaan, namun justru memaknai perbedaan itu sebagai sarana untuk lebih memajukan industri musik Indonesia.

“Tahun ini kita punya tema, yang saya kira tepat yaitu #SatuMusikIndonesia. Musik selalu menyatukan kita, tidak ada urusan pemilihan politik, dan lain-lain,” ujar Dwiki Dharmawan, selaku Ketua Umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia.

Dwiki menilai tagar yang diusung AMI tahun ini sangatlah tepat, karena khazanah musik Indonesia sedang berkembang pesat. Apalagi saat ini suasana politik di Indonesia sedang memanas jelang pemilihan presiden tahun 2019 mendatang. Musik dinilai menjadi sebuah instrumen yang tepat untuk menyatukan berbagai elemen masyarakat. Cahyo, selaku perwakilan dari Anugerah Musik Indonesia juga mengatakan bahwa AMI tidak mengotak-kotakkan jenis musik di Indonesia. Semua jenis musik diterima AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Penerima piala di malam puncak AMI Awards 2018 ke-21 yang akan disiarkan live oleh RCTI pada Rabu (26/9) pukul 21:00 adalah karya-karya yang diproduksi sepanjang rentang waktu 1 Juli 2017 hingga 30 Juni 2018. Untuk tahun ini, disediakan 76 piala untuk 45 kategori dan 3 kategori Best of The Best serta Legend Awards.

“AMI sekarang tidak mengotak-kotakkan musik. Semua datang baik dari Padang, Lampung, Jakarta, Bali, Baikpapan, dan hampir mencakup semua kota di Indonesia. Dan banyak lagu bahasa daerah yang kita terima,” ujar Cahyo. (pik)

 

Aruna & Lidahnya – Sebuah Film tentang Makan, Perjalanan dan Konspirasi

Novel Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak memuat beragam elemen cerita, mulai dari soal kuliner, pertemanan dan percintaan, isu politik dan sosial, serta flu burung. Untuk film adaptasinya, sutradara Edwin menyebut bahwa mereka punya sorotan utama ke dinamika hubungan antar tokoh yang terjalin lewat makan bersama.

“Kami punya fokus di perjalanan makan yang akan menjadi rangkaian. Mestinya sih lebih sederhana,” ungkap Edwin. “Kami kasih sorotan ke dinamika hubungan antar manusia, relasi mereka satu sama lain, bagaimana mereka merespons pekerjaan dengan dewasa melalui momen yang sehari-hari ada, yaitu makan bareng,” lanjutnya.

Film Aruna & Lidahnya ini berpusat pada empat tokoh, yaitu Aruna (Dian Sastrowardoyo), Bono (Nicholas Saputra), Nad (Hannah Al Rashid), serta Farish (Oka Antara). Aruna adalah ahli wabah yang ditugasi menyelidiki wabah flu unggas di beberapa kota. Ditemani Bono, Nad, dan Farish, Aruna memanfaatkan perjalanan ini untuk mencicipi kuliner lokal.

Mereka pergi ke lima kota, meliputi Surabaya, Pamekasan, Pontianak, Singkawang, serta terakhir Jakarta. Ada sedikitnya sembilan macam makanan yang mereka santap sepanjang perjalanan. Menurut Edwin, perjalanan makan bersama ini menjadi momen untuk membuka cerita setiap tokoh.

“Makanan itu bisa mengungkap hal-hal yang mungkin tidak kita bicarakan. Mungkin kita bisa menjadi lebih kenal lagi. Dari awal, saya baca bukunya, itu yang paling mengena buat saya. Ini enak untuk menjadi film,” terangnya.

Aruna & Lidahnya diproduksi Palari Films dengan produser Muhammad Zaidy dan Meiske Taurisia. Naskahnya ditulis oleh Titien Wattimena. Ini menjadi film panjang keempat Edwin sebagai sutradara dan film kedua Palari.(pik)