Pengalaman Seru Rossa di Panggung Java Jazz 2019

Rossa–instagram rossa

Rossa tampil ngejazz untuk pertama kalinya lewat panggung Java Jazz Festival 2019 di JI Expo Kemayoran Jakarta, Sabtu malam (2/3). Dia tampil dengan penuh percaya diri.

Rossa tampil dalam program Yamaha Music Project di Teh Botol Sosro Stage. Untuk lagu pertama dia membawakan “Sakura”, berduet dengan Is Pusakata, mengutip antaranews.com

Rossa di panggung Java Jazz 2019—foto
instagram Is Pusakata

Lagu tersebut diaransemen menjadi lebih jazz dan upbeat. Rossa dan Is saling mengisi dengan part-nya masing-masing.

“Ini adalah kali pertama saya di Java Jazz Festival. Terimakasih telah dikasih kesempatan. Saya dikasih pe-er untuk menyanyikan lagu yang biasa saya nyanyiin tapi tidak terdengar seperti yang biasa saya nyanyiin,” kata Rossa.

Meski tidak biasa mendengar Rossa bernyanyi jazz, penampilannya tetap menyenangkan untuk disimak. Dia pun tidak terlihat canggung dengan gaya bernyanyinya yang baru.

Rossa kemudian membawakan “Pudar” yang juga telah berubah aransemen menjadi jazz. Penonton yang memadati Teh Botol Stage pun ikut bernyanyi bersama Rossa. Bahkan, di area penonton yang berdiri, tidak sedikit yang ikut bergoyang.

Penampilan Rossa  diakhiri dengan menyanyikan “Inikah Cinta”. Dia juga memanggil Is dan juga Rinni Wulandari yang terlebih dahulu tampil di Yamaha Music Project. “Pengalaman yang seru banget dimana lagu aku di re-arrange oleh Ronald Steven. Such an amazing feeling being able to sing in an uncommon way and nailed it,” tulis Rossa di akun instagramnya.***pik

 

Catatan Java Jazz 2019: Penampilan Toto Sempurnakan Kepuasan Penonton

Penampilan grup Toto di panggung Java Jazz 2019–foto istimewa

Penampilan grup musik legendaris Toto di BNI Java Jazz Festival 2019 yang telah ditunggu-tunggu Minggu malam (3/3) sukses digelar. Penggemar Toto memenuhi BNI Hall untuk menyaksikan idolanya secara langsung dalam selebrasi 15 tahun Java Jazz Festival dimana tak kurang dari 16 lagu dipersembahkan oleh Toto pada malam ini.

Konser dibuka dengan penyambutan penonton oleh Cameron Smith yang dulunya adalah penyiar radio danTV personality asal Amerika disusul dengan nyanyian lagu Indonesia Raya yang dipimpin oleh Ardhito Pramono dimana semua penonton berdiri dan dengan lantang menyanyikan lagu kebangsaan.

Toto memulai penampilannya dengan lagu Devil’s Tower dengan sangat sempurna. Di lagu keduanya, yaitu Hold the Line,Toto berhasil membuat para penonton histeris dan bernyanyi bersama. Kemeriahan konser berlanjut dengan lagu-lagu yang tidak asing di telinga para penggemarnya yaitu Lovers in the Night, Alone, dan Rosanna yang dibawakan dengan sangat memukau dan membuat para penonton bernyanyi bersama.

Penampilan Toto di panggung Java Jazz 2019–foto instagram javajazz2019

Keramaian di pertunjukan Toto dapat dibilang sangat kompak, penonton tidak henti-hentinya bernyanyi bersama. Teriakkan histeris juga terdengar saat lagu Georgy Porgy dinyanyikan.

Steve Lukather, sang gitaris menyapa penonton dengan berkata “Ready to sing along?” setelah itu mereka memainkan lagu Human Nature yang di populerkan oleh Michael Jackson. Hal tersebut membuat penonton yang berada di belakang maju kedepan dan penonton yang duduk berdiri.

Saat laguI’ll be Over You dibawakan, penonton lagi-lagi bernyanyi bersama dengan kompak. Hal menakjubkan terjadi saat lagu While My Guitar Gently Weeps yang dipopulerkan oleh The Beatles dibawakan oleh Toto pada malam ini. Dipertengahan lagu, para penonton menyalakan flashlight handphone nya dan melambaikan tangannya keatas.

Grup band Toto–sumber instagram javajazz2019

Steve Lukather kembali menyapa penonton dengan mengatakan “Are you ready for the next song?” dan penonton berteriak dengan kencang sebagai tanda bahwa mereka siap. Tidak lama kemudian Toto membawakan lagu yang telah ditunggu-tunggu yaitu Africa. Semua penonton menjadi histeris dan bertepuk tangan dengan kompak dan tentunya bernyanyi bersama. Setelah lagu Africa selesai, Toto meninggalkan panggung dan membuat penonton di dalam BNI Hall berteriak “We want more! We want more!”

Seketika lampu kembali gelap dan Toto  kembali ke atas panggung. Saat itu, Toto mengumumkan bahwa ini adalah penampilan terakhir dalam turnya yang saat ini sedang berjalan dan mereka berterima kasih kepada para krunya. Penampilan Toto di Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 diakhiri dengan lagu Home of the Brave membuat para penonton yang hadir malam ini terlihat puas dan bahagia. *** (pik)

Kirana Larasati: “Bismillah Terus Berjuang Sampai Hari Penghabisan!”

Kirana Larasati dan Jen 9pur) Moeldoko–foto instagram kiranalarasati

JAYAKARTA NEWS—Kirana Larasati sibuk kampanye di daerah pemilihannya Jabar 1, Kota Bandung, Cimahi. “Bismillah, terus berjuang sampai titik hari penghabisan sebelum minggu tenang,” ujar artis cantik ini. Salah satu yang juga disosialisasikan Caleg PDI Perjuangan No urut 3 untuk DPR RI, ini, adalah, visi misi juga kabar baik  dari Capres No urut 01 Jokowi .

“Ini sosialisasi kertas suara dan membawa 3 berita baik dari Pak Jokowi. 1. Kartu Sembako Murah, 2. Kartu Indonesia Pintar Kuliah dan Kartu Pra Kerja,” ungkap Kirana lewat akun instagramnya.

Kirana Larasati sedang sosialisasi visi-misi—foto instagram kiranalarasati

“Alhamdulilah program-program tersebut juga terdapat dalam visi dan misi saya sebagai calon legislatif,” ucapi ibu satu anak itu.

Meski sibuk berkampanye, dia tetap berupaya menjalankan tugasnya sebagai ibu. Hanya saja saat kampanye, dia tidak menyertakan sang anak yang baru berusia dua tahun. “Kalau saya kampanye, saya menitipkan anak di rumah kerabat terdekat di wilayah kampanye. Tapi kalau saya di Dapil Bandung, anak saya ikut. Tapi dia tinggal di rumah neneknya,” kata artis yang namanya mulai dikenal luas setelah membintangi sinetron Azizah.***ebn

Keprihatinan Via Vallen Saat Kunjungi Dusun Terpencil di Sidoarjo

Via Vallen–foto instagram viavallen

JAYAKARTA NEWS—Meski  sudah menjadi penyanyi  terkenal seantero  negeri, namun  Via Vallen tidak lupa daerah asalnya, Sidoarjo, Jawa Timur. Berbagai undangan untuk manggung di daerahnya, ia berusaha penuhi. Manggung sekaligus pulang kampung bertemu dengan orangtua, keluarga juga orang-orang dekatnya yang selama ini menyokong kariernya di dunia hiburan.

Nah yang baru-baru ini  yang dilakukannya adalah mengunjungi Dusun Pucukan, daerah terpencil di Sidoarjo. Menurut Via sebagaimana dipaparkannya dalam di intagram miliknya, untuk mencapai tempat itu selain jalur darat dia juga harus melewati sunggai. “Dusun Pucukan wilayah terpencil di Sidoarjo. Untuk menuju tempat ini, selain menggunakan jalur darat, kami juga harus melewati sungai menggunakan perahu kurang lebih PP 3 jam,” tuturnya.

Instagram Via Vallen

Dulu, lanjut gadis kelahiran Surabaya Oktober 1991, mereka yang sudah tua lahir dan besar di dusun ini  hidup dengan fasilitas yang terbatas, tanpa listrik. Baru tahun 2015 listrik masuk dusun ini. Tanah yang mereka tempati bukan lah milik mereka melainkan milik pemerintah.

“Untuk mereka yang masih bersekolah harus menggunakan perahu untuk menuju sekolah. Karena, sudah 2 tahun ini jembatan yang menjadi akses mereka ke sekolah dan tempat lainnya, rusak. Kata mereka, selama ini sering diadakan pengukuran untuk pembuatan jembatan baru. Namun sudah 2 tahun ini belum terealisasi juga,” kata pedangdut yang mendapat julukan ‘Ratu Pop Koplo, ini.

Menurut Via, sebenarnya dia sudah menawarkan untuk membantu pembangunan jembatan baru tapi RW setempat memintanya untuk menunggu. “Saya sudah menawarkan bantuan untuk jembatan baru buat mereka, tapi kata pak RW tunggu dulu, karena baru-baru  ini banyak calon-calon wakil rakyat yang sudah datang ke dusun mereka untuk menjanjikan pembuatan jembatan baru,” jelasnya.
Warga berharap agar mereka yang berjanji membantu pembuatan jembatan baru segera merealisasikan janjinya. “Mereka (warga) Cuma ingin jembatan baru agar lebih mudah beraktivitas,” tandas Via.***ebn

Kemendikbud : Film Dilan 1991 telah Lolos Sensor dan Boleh Diputar

Dilan 1991–gambar istimewa

Kepala Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Maman Wijaya mengatakan film Dilan 1991 telah lolos sensor. “Film- film yang beredar di bioskop dipastikan sudah melalui prosedur sesuai peraturan yang berlaku, seperti sudah dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF) untuk kategori usia tertentu. Termasuk film Dilan 1991 ini,” ujar Maman di Jakarta, Jumat.

Dia menambahkan jika ada pihak-pihak yang kurang setuju dengan film tersebut, maka diharapkan disalurkan dengan cara yang benar.
“Kami memahami dan mengapresiasi setiap kepedulian masyarakat terhadap film dan juga terhadap kemungkinan adanya potensi pengaruh negatif dari sebuah film. Namun demikian, untuk menyalurkan kepedulian tersebut hendaknya dilakukan dengan cara benar. Ada lembaga yang berwenang dalam hal ini, seperti LSF yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menyalurkannya,” jelas dia.
Maman juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung perfilman Indonesia dan tidak anarkis bila tidak setuju. “Jika tidak setuju, maka bisa menyalurkan aspirasi kepada LSF dan juga Pusbang Film Kemendikbud.”
Dia menjelaskan film Dilan 1991 ini mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat Indonesia. Menurut dia, hal itu merupakan pencapaian yang luar biasa yang patut dihargai. Hari pertama penayangan, Dilan 1991 telah memecahkan rekor nasional, yaitu menggaet 800 ribu penonton.
Sejumlah masyarakat di Makassar mengajukan protesnya terhadap pemutaran film Dilan 1991, karena dinilai melecehkan profesi guru. (pik)

Karya Lagu Setara Lahan Properti

Peluncuran aplikasi MusikBagus diramaikan konser intim Glenn Fredly di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

JAYAKARTA NEWS – Berkeinginan menaikkan nilai karya lagu setara investasi properti, kepemilikan tanah ataupun gedung perumahan dengan menggandeng dunia perbankan — MusikBagus kini mengedepankan bisnisnya jadi platform aplikasi ekosistem digital yang meninggikan profesi pencipta lagu, penyanyi dan pemusiknya diatas recording label maupun studio musik rekaman.

Apabila Anda berminat masuk menjelajah di seputar fitur-fitur bermanfaat dalam MusikBagus, adalah cukup dengan mengunduh ke MusikBagus yang semudah menjalin hubungan sosial lewat akun Google dan layanan jejaring Facebook. Segalanya itu dilengkapi video live streaming sesai kebutuhan pengunjungnya.

Menampilkan bukan sekadar konser pertunjukan musik biasa, tetapi sejauh ini MusikBagus bisa menjadi perpanjangan tangan proses perjuangan artis di kelompok musiknya maupun dirinya sebagai penyanyi dan instrumentalis, karena segalanya nanti direkam langsung untuk didata sebagai konten video, berikut info penayangan karya-karya terbarunya yang siap beredar ke tengah masyarakat.

Konser musik serta jasa promosi karya lagu seniman musik Indonesia dijadikan prioritas utama, demikian dijelaskan panjang lebar oleh Glenn Fredly, termasuk didalamnya membuka ruang kolaborasi karena Indonesia jadi area industri hiburan yang bukan seputar jangkauan domestik tetapi juga mampu berekspansi secara internasional. (john js)

Angel Karamoy Diteror Makhluk Gaib

Angel Karamoy–foto instagram angelkaramoy

Film Reva Guna Guna bakal tayang diseluruh bioskop Indonesia, 7 Maret 2019 mendatang. Film bergenre horor ini merupakan film produksi Indonesia. Bagi yang memiliki hobi menonton film horor, film ini dapat menjadi rekomendasi. Film ini juga mengandeng tiga rumah produksi sekaligus, yakni Spectrum Film, Maxima Pictures, Unlimited Production.

Reva adalah mahasiswi yang sangat ceria. Kemudian tiba tiba berubah setelah ulang tahunnya yang ke 21. Reva menjadi pemurung dan tidak mau bergaul. Hingga kemudian di rumahnya ditemukan ibu dan kedua adiknya terbunuh secara sadis.

Ia dinyatakan sebagai pembunuh dan di rehabilitasi di rumah sakit jiwa. Devi sahabat Reva tidak mempercayai ini dan meyakini ada sesuatu terhadap Reva.

Ketika di rumah sakit jiwa Reva diteror oleh makhluk-makhluk gaib yang mengerikan.

Selain Angel Karamoy, film yang disutradarai Jose Purnomo ini juga dibintangi Wulan Guritno, Pamela Bowie, Ferry Salim dan Marcelino Lefrandt. (pik)

 

Panggung ‘Broadway’ Java Jazz 2019 Dimeriahkan 100 Musisi

Ilustrasi pagelaran Java Jazz di Kemayoran–foto mildspot com

Java Jazz 2019 segera digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Jumat hingga Minggu mendatang (1-3 Maret). Untuk penyelenggaraan tahun ini, 100 musisi akan meramaikan ajang tahunan besutan Java Festival Production tersebut.

“Jumlah musisi asing ada 35, Indonesia ada sekitar 65. Tahun ini, tema yang dipilih ‘Broadway’ karena Java Jazz adalah event tahunan yang harus selalu ada penyegaran. Java Jazz adalah edisi regenerasi bagi penonton 18-34 tahun ” ujar Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production, dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Rabu (27/2/2019).

Angka 100 penampil tak beda jauh dari tahun lalu, yang juga diisi 100-an musisi asing dan lokal. Jumlah panggung pun tetap sama, 11 buah.

Dewi Gontha, Direktur Utama Java Festival Production–foto ipik

Festival bertajuk asli Jakarta International BNI Java Jazz Festival 2019 ini memang sudah memasuki tahap konstan dan mature (dewasa), jika mengikuti istilah Dewi.

Seperti jumlah traffic, yang sudah konstan pada kisaran 110 ribu hingga 115 ribu dalam tiga tahun belakangan ini. Dewi tak menggunakan istilah “penonton” atau “tiket terjual”, melainkan “traffic” karena tiket Java Jazz bisa dibeli harian atau terusan.

Rahasianya adalah perubahan strategi dalam mengincar pangsa pasar. Dua tahun terakhir, Java Festival Production menampilkan artis muda yang populer di kalangan milenial dan gen Z. Tahun lalu ada Daniel Caesar, tahun ini ada Raveena dan H.E.R.

“Dua tahun ini kami melebarkan target audiensi untuk mengejar teman-teman yang lebih muda. Tahun lalu kami berhasil, tahun ini mengejar target yang sama,” jelas Dewi.

Regenerasi penonton diperlukan agar festival ini bisa bertahan hidup. Penonton setia Java Jazz yang mengikuti festival ini sejak tahun awal, kini beranjak tua dan matang.

Itu jadi salah satu faktor mengapa Java Jazz bisa bertahan di tahun ke-15. “Kami cukup bangga bisa jadi festival yang bertahan selama 15 tahun dan konstan,” ungkap perempuan bernama asli Dewi Allice Lydia Gontha ini.

“Kami bisa bertahan 15 tahun karena sponsor dan penonton,” lanjut Dewi. Biasanya, untuk pembelian awal, tiket Java Jazz dijual jauh lebih murah daripada membeli pada tanggal yang sudah dekat dengan hari penyelenggaraan.

Sponsor masuk untuk melakukan subsidi terhadap harga tiket. “Saya sudah pernah merasakan mengerjakan event yang sponsornya kurang. Akhirnya jatuh bangun,” keluh Dewi.

Selama 15 tahun ini, tentu saja berbagai kendala pernah membayangi Java Festival Production. “Hal paling mudah (diingat, red.) adalah, tiba-tiba hujan. Pasti dimaki-maki. Kalau di luar, saya pernah ngetes, kalau hujan, penontonnya tenang-tenang saja. Di sini, penonton kita jauh lebih sensitif,” ungkap Dewi. (pik)

 

Cerita Inul Daratista ‘Banting Tulang’ Raih Kesuksesan

Inul Daratista–foto instagram inul

Inul Daratista. Siapa yang tidak kenal nama pedangdut ini. Sejak kemunculannya di pentas hiburan nasional 2003, penyanyi yang bernama asli Ainur Rokhimah ini sudah menyedot perhatian khalayak. Goyang ngebornya yang kontroversi dan mendapat kecaman keras dari Raja Dangdut Rhoma Irama dan sejumlah anggota PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), bahkan kemudian muncul seruan boikot aksi Inul.

Mungkin, ketika itu, para pembenci Inul menganggap selesai sudah karier wanita asal Pasuruan, Jawa Timur, ini. Nyatanya ‘kecele’. Nama Inul tetap bersinar.  Bukan hanya di dunia musik tapi juga akting dengan membintangi  sejumlah sinetron dan film. Kini, bisa dibilang Inul adalah satu dari sedikit penyanyi dangdut senior yang bisa tetap eksis di panggung hiburan. Tidak itu saja kesuksesan istri Adam Suseno ini. Ia juga sukses berbisnis. Setidaknya ada delapan bisnis yang dikelolanya, di antaranya karaoke Inul Vizta, kuliner, kosmetik.

Inul Daratista dan anaknya, Inul dan suaminya Adam Suseno–foto instagram inul

Menurut Inul, jangan dilihat saat ini tapi lihat proses yang telah dilaluinya. Tidak mudah. Jatuh-bangun, bahkan pernah mengalami sangat susah ketika masa-masa awal. “Tapi saya tidak pernah putus harapan, terus berjuang. Namanya orang hidup, ya pasti punya masalah. Ya masalah ekonomi, kesehatan, dll. Aku juga mengalaminya. Aku berjuang, kerja keras. Kalau ingin punya uang, ya harus kerja keras, berusaha. Saya ngomong begini bukan karena sekarang punya uang tapi karena saya telah mengalaminya,” tutur Inul.

Belajar tiada henti, berusaha mengembangkan diri dan bekerja keras. Kerja-kerja-kerja. Itulah prinsip Inul. Tidak punya banyak waktu untuk berleha-leha. Mumpung masih kuat, sehat, maka dia bertekad melakukan banyak hal produktif dan kreatif.  “Cita-cita dan keinginan saya masih jauh dari harapan. Masih banyak keinginan yang belum bisa tercapai. Masih ‘setinggi langit’ . Karena itu harus kerja keras. Kerja, kerja, kerja, pokoke kerja,” ucap Inul sambil tertawa.

RAJIN MENGUCAP SYUKUR

Menurut Inul, kunci dari ketenangannya dalam berjuang adalah rajin mengucap syukur. Mensyukuri apa yang didapat dan terus berjuang. “Satu lagi, usahakan jangan mengeluh. Saya dari dulu berusaha untuk tidak mengeluh. Hidup itu harus disyukuri dengan begitu apa yang kita perbuat akan terasa nikmat. Jangan serakah,” kata Inul yang semakin bijaksana dalam menyikapi hidup.

Inul Daratista—foto instagram inul

Beberapa waktu lalu, ibu satu anak ini mendapat penghargaan ‘Wanita Inspirasi’ karena  dinilai sebagai perempuan hebat yang sukses, bukan saja dalam kariernya tapi juga dalam rumah tangga. Apa yang telah dicapainya, dianggap layak menjadi panutan dan inspirasi bagi wanita Indonesia.

“Ada banyak perempuan sukses. Tapi yang multitalenta jarang. Yang bisa menyeimbangkan antara karier dan keluarga, jarang. Banyak yang sukses dalam karier, tapi tidak dalam keluarga. Nah, Inul adalah salah satu yang berhasil menyeimbangkan keduanya,” kata Handoko, salah seorang panitia, kala itu.

KUNCI SUKSES ALA INUL

Menurut Inul, apa yang telah dicapainya saat ini bukan hasil kerja kerasnya semata tapi juga berkat support suaminya, Adam Suseno, yang sangat luar biasa. “Peran suami sangat luar biasa. Saya dan mas Adam memulai dari ‘Nol’ banget, namun bisa bertahan selama bertahun-tahun hingga saat ini. Alhamdulilah. Meski rintangannya tidak sedikit, tidak mudah, tapi kita bisa melaluinya. “

“Punya anak pun tak gampang, merintis bisnis juga tidak mudah. Saya mengalami jatuh-bangun berkali-kali namun bisa tetap bertahan, terus berjuang hingga kini. Sekarang bisnis karaoke saya sudah sampai sekitar 100-an lebih. Proses yang dilalui tidak mudah dan panjang,” ujar Inul yang mendapatkan satu anak setelah 13 tahun menikah lewat proses bayi tabung. Yusuf Ivander Damares, putra semata wayah Inul kini berusia sembilan tahun.

Sudah 23 tahun, kata Inul, dirinya menjalani bahtera rumah tangga dengan Adam Suseno yang usianya beda 13 tahun darinya. Ia menikah muda, yakni saat usia 16 tahun. “Saya menikah hanya dengan modal duit 500 perak. Tidak ada pesta, hanya panggil modin dan sah dihadapan orangtua, saksi, kerabat dan tetangga. Tidak ada apapun, sederhana. Cita-cita kami hanya hidup bahagia selamanya. Itu doanya. Jika niat suci, tulus, pasti Allah akan kabulkan, meskipun harus melalui proses panjang dan berliku,” ungkap Inul sembari menambahkan dia dan suami saling mendukung dalam segala hal.

Bicara kesuksesan. Maka sekali lagi ditegaskan Inul, kerja keras. Jika ingin mencapai sesuatu, harus kerja keras dan tidak mudah putus asa dan tekun. Beruntungnya dia termasuk orang yang suka kerja keras dan tidak punya banyak waktu untuk santai berkepanjangan. “Untuk bisa sukses banyak jalan yang harus ditempuh, susah, senang, bahagia dan sedih. Semau berproses dengan waktu. Dari situlah kita bisa tahu warna-warni jalannya perjuangan yang harus dilewati, ditempuh. Tidak mudah, memang. Tapi saya menjalani dan menikmatinya,” tuturnya.***eben

 

LA Indie Movie 2019 Ajak Generasi Milenial di 3 Kota

Selepas vakum selama 2 tahun, LAIM kini hadir kembali dengan konsep yang fresh dan kekinian. “LA Indie Movie adalah program yang kita hadirkan sebagai wadah bagi para sineas maupun yang menyukai penikmat untuk ikut di industri perfilman,” ujar Novrizal selaku perwakilan dari LAzone.id di Galeri Indonesia Kaya, Selasa (26/2/2019).

LAIM 2019 kali ini akan mengusung tema ‘Your Movie Goes Digital’ dengan alasan latar belakang perkembangan teknologi digital dalam industri perfilman yang kian berkembang.

“Kenapa digital, semua sekarang sudah serba digital. Baik itu medium dan praktisinya sudah terdigitalisasi. Kemudian disambungkan ke dunia film. Sekarang ini kan selain ada bioskop konvensional ada juga yang digital kayak platform seperti netflix dan lain-lain makanya kita angkat tema itu,” ujarnya.

Pengadaan story competition yang nantinya akan difilmkan oleh tim filmmaker yang diseleksi melalui program FILMMAKER HUNT. Terpilihnya calon-calon filmmaker tersebut juga akan diikutsertakan dalam produksi pembuatan film pendek dan akan ditanyangkan di Iflix, Viddsee, dan HOOQ.

“Yang menarik nanti hasil karyanya kita sudah kerja sama dengan Iflix, HOOQ, dan Viddsee, lalu hasilnya akan ditayangkan di tiga platform itu. Mediumnya kita coba ngikutin yang trend saat ini,” jelasnya.

LAIM 2019 akan di selenggarakan di tiga kota yaitu Jogjakarta (2/3), Malang (9/3), dan Jakarta (16/3). LAIM juga turut mengundang narasumber-narasumber kredibel seperti Angga D Sasongko, Mouly Surya, Roy Lolang, Oka Antara, Arifin Putra dan masih banyak lagi.

Begitu banyaknya film atau konten yang bisa kita temukan di dunia digital dan sosial media, kita perlu memilah dan memilih konten yang mempunyai nilai lebih, baik itu dari segi cerita maupun segi teknisnya. Dan kita perlu menularkan dan membagi pengetahuan kepada generasi muda agar dapat memproduksi film pendek yang tak kalah dengan kualitas film bioskop,” ujar Ismail Basbeth selaku produser LAIM 2019. (pik)