Cenayang alias Paranormal Roy Kiyoshi yang acap tampil di layar kaca kini akan nongol di film bertajuk ‘Roy Kiyoshi-the Untold Story bercerita tentang kasusnya yang belum pernah dipublikasikan di media massa serta mengusut masa lalunya yang misterius.
Film besutan sutradara Jose Poernomo itu, dalam keterangan pers rumah produksi MVP Pictures, bercerita tentang keahlian Roy dalam menyelesaikan persoalan magis.
Pria berusia 32 tahun itu dikisahkan berhasil menyelamatkan nyawa seorang anak dari ancaman makhluk halus jahat sebagai sebuah kasus yang ditanganinya. Setibanya di rumah, Roy terkejut karena Rani, adiknya, melakukan ritual pemanggilan roh jahat berupa api, Banaspati. Rani tidak menyadari kegiatannya itu berakibat dia diculik oleh Banaspati.
Roy, yang diselimuti rasa putus asa, lantas terjebak dalam kebiasaan buruk karena merasa gagal menyelematkan Rani. Pria kelahiran Jakarta itu harus bergelut dengan dilema antara kondisi tak menentu dirinya dengan kemungkinan menyelamatkan Rani.
Adalah Sheila (Angel Karamoy), seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat yang menggantikan pekerja yang tewas secara misterius hadir dalam kehidupan Roy. Sheila meyakini Roy punya kemampuan luar biasa untuk bisa menyelamatkan adiknya. Tapi, usaha itu tidak berlangsung mudah.
Film “Roy Kiyoshi The Untold Story” akan tayang di Indonesia, mulai 21 Maret 2019. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Jakarta Melayu Festival (JMF) hadir kembali. Kali ini akan membawakan lagu-lagu legendaris yang bertema “Tribute to Chrisye – Legendary of Love”. Digelar di Pasar Seni Ancol pada Jum’at, 29 Maret 2019 mendatang.
Sejumlah artis penyanyi Jakarta Melayu Festival ikut andil didalamnya antara lain Erie Suzan, Shena Malsiana dan juga Nong Niken yang akan membawakan lagu-lagu romatis khas sang legendaris.
Tribute to Chrisye di Pasar Seni Ancol 29 Maret 2019
Sepanjang karirnya di dunia musik almarhum Chrisye telah menciptakan dan mempopulerkan banyak tembang romantis yang mampu membawa kita di masa yang penuh kenangan.
Sejumlah album telah dirilis dan sukses di pasaran, sampai saat ini lagu-lagunya masih didengar oleh lintas generasi. Untuk kembali mengenang karya-karya almarhum Chrisye, maka digelar persembahan music yang dikemas dengan musik pop dan melayu. Kegiatan ini diinisiasi oleh Gita Cinta Production dan Komunitas Kangen Chrisye.
“Tribute to Chrisye kami selenggarakan dalam rangka mengenang 12 tahun kepergian almarhum, dengan karya-karya yang luar biasa dan melegenda mendorong kami untuk menghadirkan ditengah-tengah masyarakat, terlebih lagu-lagu Chrisye memiliki kenangan tersendiri bagi para penggemarnya,” ujar Geisz Chalifah, Produser Gita Cinta Production.
Digelarnya kegiatan ini di Pasar Seni Ancol juga bukan tanpa alasan, Ancol Taman Impian sebagai destinasi wisata yang eksis sejak lama banyak menyimpan kenangan masa lalu bagi pengunjungnya, termasuk kawasan Pasar Seni Ancol yang merupakan tempat berkaryanya sejumlah seniman dan banyak mengundang kenangan romantis didalamnya. Selain itu sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi atas karya-karya almarhum Chrisye sepanjang hidupnya.
“Almarhum Chrisye merupakan musisi legendaris yang karyanya masih terus didengar sampai saat ini, kami angkat untuk pagelaran nanti adalah selain karena sosok Chrisye sudah banyak dikenal, tapi juga karena karya-karya Chrisye sangat menarik untuk menjembatani anak muda untuk mengenal musik Indonesia sekaligus menjawab kerinduan para penggemarnya” tambah Geisz.
Konser legendary of love ini rencanya akan digelar mulai pukul 19.00 wib sampai selesai dan akan dikemas dengan sesuatu yang berbeda karena disuguhkan dengan membawakan nuansa melayu ke dalam lagu-lagu Chrisye.***laksanawati
Para seniman,budayawan dan cendekiawan ungkap keprihatinan–foto istimewa
JAYAKARTA NEWS—Sekelompok seniman, budayawan, cendekiawan dan intelektual kampus mengimbau dan mengeluarkan pernyataan prihatin. Menyikapi keadaan dan situasi kehidupan sosial dan politik belakangan yang dampaknya masyarakat terbelah menjadi dua kubu yang siap berperang.
Perpecahan kelompok masyarakat yang didasari oleh perbedaan suku, agama/keyakinan hingga pilihan politik yang terjadi sampai pada tingkat personal dan hubungan keluarga/rumah tangga.
Konflik horisontal dan vertikal akibat perpecahan hingga pada tingkatan fisik yang melibatkan bukan saja sesama anggota perkauman/adat, tapi juga antara sahabat, hingga anggota keluarga.
Lalu, apa obatnya ?
“Obatnya bukan politik dan ekonomi, tapi budaya.,” ujar budayawan Radhar Panca Dahana dengan suara lantang di Wapress (Warung Apresiasi), Bulungan, Jakarta Selatan, belum lama ini. Radhar Panca Dahana mengatasnamakan penggagas Mufakat Budaya Indonesia (MBI).
Dikatakan Radhar yang akan menjadi salah seorang panelis debat dalami Debat Cawapres Minggu (17/3) di Hotel Sultan, Jakarta mewakili unsur sastrawan/budayawan, syahwat kuasa politik dan ekonomi yang kerap tak terkendali dimana rakyat pada umumnya kemudian terpengaruh secara negatif, sifatnya destruktif bagi kemasalahatan bangsa.
“Kita bangkitkan lagi ruang-ruang kebudayaan. Kita harus berani melawan praktik segregasi, politik identitas dan xenophobia,” kali ini ikut bicara Doktor filsafat, Donny Gahral Ardian. Ditegaskannya, kaum seniman, budayawan, cendekiawan, pendidik dan wartawan harus bersatu dan memberi ‘ruh’ pada Kebudayaan Indonesia.
Bagi siapa pun yang menganggap dirinya warga dari negara Indonesia atau rakyat dari negeri ini memiliki imperasi untuk mempertahankan kedaulatan dan keutuhan warisan kepulauan ini.
“Sebagai makhluk budaya, dalam arti semua orang terlibat dalam semua produk budaya bangsa ini, juga wajib menjaga dan mengembangkan kebudayaan yang dalam kurun waktu sangat panjang membuat bangsa kita dinamis dalam membentuk karakter dan jati diri serta tidak xenophobia atau takut pada perbedaan dan keasingan,” papar Donny Gahral Ardian.
Maka, bagi siapa pun yang melakukan khianat atau ingkar dari keadaban publik, sebaiknya mengoreksi diri secara sungguh-sungguh, atau jika tidak dapat, segera melucuti dari seluruh atribut kebangsaan dan kewarganegaraannya sebagai konsekuensi.
Niniek L Karim, artis teater/film juga ikut bicara. “Kita wajib menjaga kewarasan di tengah suasana yang sakit ini,” tegas Niniek yang juga psikolog/pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Sementara budayawan dan aktor teater/film Adi Kurdi meminta agar menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa, sikap hingga tindakan yang terbukti berpotensi merusak dan membusukkan tata hubungan sosial, kultural masyarakat Indonesia yang sudah susah payah dibangun oleh leluhur kita bersama.
Renny Djajoesman, rocker wanita, selain membaca puisi, juga menegaskan bahwa kebudayaan belakangan tampak lemah dan kita harus memberikan energi baru. Hadir di Wapress antara lain Niniek L Karim, Anto Baret, Tony Q, Syahnagra, Suhadi Senjaya, Dindon WS dll.
Olivia Zalianty, anggota dan aktifis MBI termuda, atlet wushu wanita, singkat berpendapat. “Masih adakah cinta di hati kita,” ucapnya.
JAYAKARTA NEWS—Memulai debut musiknya pada usia 17 tahun, penyanyi asal Jakarta, Danila Riyadi, kembali menggaungkan talentanya di bidang tarik suara. Kehadirannya kali ini adalah sebuah bentuk kolaborasi bersama The Panasdalam Bank yang turut mengisi soundtrack film Dilan 1991.
Dalam soundtrack Dilan 1991, Danila mengisikan suaranya pada lagu yang diberi judul “Dan Bandung”. Sesuai dengan judulnya, lagu ini menceritakan segala atmosfer Kota Bandung yang menjadi latar film Dilan 1991. Lirik yang tersurat di dalamnya juga mengundang senyum bagi para penonton film Dilan 1991 ataupun mereka yang memiliki memori tersendiri pada kota Bandung.
Ada keunikan tersendiri pada lagu ini. Sebuah sajak kecil karya Pidi Baiq yang terpampang di sebuah tembok jalan raya yang terletak di dekat alun-alun Bandung turut menjadi bagian dari lirik lagu ini. Hal ini semakin menguatkan aura Kota Bandung yang ada di dalam lagu ini.
Sama halnya dengan filmnya, lagu ini disasarkan pada pendengar remaja yang tentunya juga adalah penonton dari filemnya sendiri. Lantunan musik pop/folk yang dihiasi dengan suara Danila Riyadi menjadikan lagu ini sebuah lagu yang mudah diterima oleh masyarakat, khususnya kaum milenial yang menjadi target pasarnya.
Lagu “Dan Bandung” menyampaikan segala cerita yang tertulis di kota ini, khususnya dalam latar filem Dilan 1991. Pendengar yang sekaligus menjadi penonton kisah Dilan dan Milea dapat dengan mudah terkoneksi dengan lagu ini beserta jalan cerita filmnya. Sadar atau tidak, lagu ini dapat menarik senyum pada wajah pendengarnya.
Sama halnya seperti soundtrack film lain pada umumnya, setiap lagu yang menjadi soundtrack Dilan 1991 merupakan sebuah cerita singkat yang diberi nada yang tentunya akan sangat berkaitan erat dengan filmnya. Tanpa diragukan lagi, penggemar kata-kata puitis dari Pidi Baiq dapat dengan mudah dibuat luluh oleh lagu-lagu yang menjadi soundtrack film ini. (pik)
Film “The Sacred Riana: Beginning’ bakal tayang dalam waktu dekat di bioskop Indonesia. Film yang mengangkat kisah The Sacred Riana semasa kecil hingga dewasa ini menyajikan horor yang berbeda.
Film ini diawali saat Riana masih kecil bersama dengan ayahnya yang diperankan oleh Prabu Revolusi dan bersama ibunya yang diperankan oleh Citra Prima. Musibah yang diderita keluarga Riana membuatnya harus pindah kerumah om Johan diperankan oleh Willem Bevers.
Kisah Riana dengan boneka Riani yang selalu dibawa kemana pun ia pergi dimulai. Kejadian-kejadian aneh juga mulai bermunculan saat Riana pindah ke rumah tersebut.
Diakhir konfrensi pers Riana yang ditemani Riani mengajak para penonton untuk datang menyaksikan filmnya tersebut. “Riani Menantimu,” ujar Riana, tepuk tangan pun bergemuruh sesaat setelah Riana berbicara, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (11/3/2019).
Selama syuting maupun di luar film, Riana selama ini jarang tersenyum, tertawa bahkan tak mau bicara. Kepalanya sering godek-godek dan mata kirinya tertutup rambutnya yang terurai panjang. Apa dia Indigo? “Bukan, karakter Riana memang demikian,” kata sutradara Billy Christian. Di ajang American Got Talent, Riana pernah tampil menggegerkan Juri Simon Cowell. Sayang, dia gugur sebelum masuk final.
Sang sutradara, Billy Christian ingin menyajikan sesuatu yang berbeda dalam film horor ini.
Dengan memunculkan hantu Bava Gogh, Billy ingin memunculkan kesan hantu-hantu Eropa. “Di film saya sebelumnya, ‘Petak Umpet Minako’, saya pernah tampikan hantu dari Jepang,” ujar Billy Christian.
“Mau menyajikan sesuatu yang berbeda aja. Saya ingin menyajikan hantu dan suasana yang European aja,” kata Billy Christian.
‘The Sacred Riana: Biginning’ akan tayang pada 14 Maret 2019 film ini juga dibintangi oleh Aura Kasih, Agatha Chelsea, Citra Prima, Angrean Ken, dan lainnya.(pik)
Hom Pim Pah Alaihom Gambreng. Kalimat ini mungkin sering kita dengar atau diucapkan oleh anak-anak maupun kita yang dewasa untuk mengundi suatu permainan dan sebagai penentu siapa yang menang, siapa yang kalah. Namun, siapa yang mengira jika kalimat yang diadaptasi dari bahasa Sansekerta tersebut memiliki arti yang sangat dalam, yaitu ‘dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain’.
“Melalui pertunjukan ini, kami mengajak para penikmat seni untuk bersama-sama memaknai arti yang tersirat dalam musik yang kami sampaikan,” ujar Guruh Purbo Pramono selaku pimpinan produksi dari Hom Pim Pah.
Foto istimewa
Minggu (10/3) kemarin, dengan tema Panggung Ruang Kreatif, Galeri Indonesia Kaya bersama Guruh Se-Balane mempersembahkan sebuah pertunjukan bertajuk Hom Pim Pah. Kelompok yang berasal dari Banyumas ini memaknai kalimat Hom Pim Pah dalam sebuah alunan musik tradisi Indonesia yang menghibur para penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia Kaya.
Selama kurang lebih 60 menit, penikmat seni menyaksikan dan mendengarkan alunan musik indah yang dibawakan oleh kelompok Guruh Se-Balane. Perpaduan alat musik tradisional dan modern seperti gambang calung, dhendhem, kenong, klunthung sapi, saxophone, biola, gong bumbung, dan suling yang dibawakan ini mencerminkan ajaran luhur yang bersahaja bagi anak-anak untuk senantiasa melakukan perbuatan sekecil apapun dengan penuh keseriusan dan berjiwa besar.
Konsep Hom Pim Pah dapat dikatakan sebagai dunia bermain-main yang dilakukan secara sungguh-sungguh, karena dalam sebuah permainan pasti memiliki aturan-aturan yang sudah disepakati secara bersama.
Guruh Purbo Pramono selaku pimpinan produksi dari Hom Pim Pah—foto istimewa
“Guruh Se-Balane merupakan satu dari empat belas kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia 2018. Program tahunan yang rutin diselenggarakan sejak 2016 ini merupakan program yang bertujuan untuk menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni di dunia seni pertunjukan Indonesia. Kami harap, kedepannya kelompok-kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia dapat terus berinovasi dan menghasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi serta memajukan seni budaya Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.
Dalam proses persiapannya, 14 kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan didampingi oleh para mentor yang ahli dalam bidangnya seperti, Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ratna Riantiarno, Rama Soeprapto, Djaduk Ferianto, Tinton Prianggoro, Iswadi Pratama, Ruth Marini, Subarkah Hadisarjana, Hartati, dan Butet Kartaredjasa.
“Program Ruang Kreatif sangat dibutuhkan di zaman ini, karena program Ruang Kreatif dapat mewadahi generasi baru untuk berkembang dan berkarya lewat kreativitasnya. Guruh merupakan seorang komposer muda yang mampu menafsirkan tradisinya ke dalam ruang kreatif dan mampu menjadikannya sebuah tradisi baru.”
“Dengan didukung para pemain yang beragam, mulai dari milenial hingga berpengalaman, menjadikan karyanya penuh imaji dan menyadarkan kita akan kekayaan musik yang ada di Indonesia. Hom Pim Pah seakan membawa kita ke dalam dunia permainan anak-anak, namun ditangan Guruh dunia main-main tadi menjadi serius. Saya harap, kedepannya kelompok-kelompok terpilih dalam program Ruang Kreatif dapat mempersembahkan karya-karya bermanfaat bagi Bangsa dan Negara kita,” ujar Djaduk Ferianto selaku mentor dari kelompok Guruh Se-Balane. (pik)
Film serial ‘Negeri 5 Menara’ yang diangkat dari Novel Bets Seller dengan judul yang sama, yang ditulis oleh Ahmad Fuadi ini pernah sukses dengan versi layar lebar. Tidak lama lagi, kita akan menikmati Film ini dalam bentuk serial di platform Mobile di Aplikasi Maxstream, pengguna Telkomsel. Avesina Soebli sebagai Produser menyampaikan bahwa film ini akan rilis pada bulan Ramadhan tahun ini.
Ahmad Fuadi, penulis Novel Negeri 5 Menara pernah datang ke Pesantren Darunnajah 2 Cipining, dalam acara Program Baca Pelajar (PBP) pada tahun 2010 silam. Berkat kehadiran beliau ke Darunnajah 2 Cipining, sedikit-banyaknya sudah mengenal dan mengetahui lingkungan Pesantren Darunnajah 2 Cipining yang berlokasi di Bogor ini.
Sehingga saat ada tim produksi yang menawarkan pembuatan film versi serial ini kepada Ahmad Fuadi, maka beliau merekomendasikan Pesantren Darunnajah 2 Cipining sebagai salah satu kandidat tempat pembuatan film. Lantas apa yang menjadi daya tarik sehingga Pesantren ini dilirik? Ternyata karena menaranya. Sesuai dengan temanya, pesantren yang akan dijadikan tempat syuting harus memiliki menara.
Avesina Soebli adalah seorang kreator dan Produser Film yang telah menghasilkan kurang lebih 23 film layar lebar (2008-2018), dan sejumlah produksi serial TV, FTV, dan program TV lainnya. Debut film layar lebar dimulai dalam produksi Laskar Pelangi berikut sequel-nya; Film Garuda di Dadaku, Film Garuda 19, Film 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta, Film Perahu Kertas, Film Ambilkan Bulan, Film Sepatu Dahlan, Film Emak Ingin Naik Haji, Film Toba Dreams, Film Hujan Bulan Juni, Film Bunda Cinta Dua Kodi, Film Mata Dewa, dan lain-lain.
Tentu penasaran juga siapa saja aktor dan aktris yang berperan dalam film ini? Ya, sedikit berbeda dengan film versi layar lebarnya yang mengambil peran utama lebih banyak dari para santri. Film Negeri 5 Menara versi Serial ini cukup bertabur bintang remaja. Berperan sebagai Alif Fikri adalah Endy Alfian, ayah Alif; Tasman Taher, Ibu Alif; Tri Yudiman, Pak Kyai; Donny Damara, Sarah (anak kyai); Jennifer Coppen, Ustadz Salman; Chand Kelvindan sederetan artis kenamaan lainnya. Kegiatan syuting ini difokuskan di kawasan Asrama Putra (kampus 3), sehingga perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya tidak terlalu jauh.
Adapun untuk syuting film pasca video Teaser ini, akan dilaksanakan pada bulan Februari 2019 selama satu bulan penuh. Film yang dibuat sebanyak 30 Episode ini selesai dalam waktu kurang dari 25 hari. Semoga pada waktunya nanti rilis, para pecinta film inspiratif dan edukatif bisa menikmati tayangan film ini, nantikan di Maxstream selama Ramadhan. Man Jadda Wajada, artinya Siapa yanf bersungguh-sungguh akan berhasil. (pik)
Dijumpai usai pemutaran film perdana ‘Yowis Ben 2’, Anya Geraldine yang berperan sebagai Asik mengaku jika dirinya kesulitan saat diminta untuk bicara bahasa Sunda. Banyak adegan yang terpaksa harus diulangi karena kesulitan Anya melafalkannya.
“Aku enggak ada Sunda sama sekali. Aku Solo, Surabaya, aku enggak ada campuran lain. Aku benar-benar orang Jawa, pure 100 persen. Cuma di film ini, aku benar-benar belajar bahasa Sunda dari awal, diajarin sama coach-nya itu Mc Danny,” ucap Anya Geraldine saat ditemui di kawasan Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (6/3).
Perempuan berusia 23 tahun tersebut mengungkapkan ia menjalani proses syuting selama satu setengah bulan dengan mudah. Meskipun para pemain lain harus bersusah payah karena memikirkan untuk membuat adegan yang lucu.
“Justru menurut aku, film komedi ini paling mudah ya karena berhubung bukan aku juga yang ngelawak di film ini. Aktingnya santai, enggak perlu yang terlalu drama yang kayak gimana dan fun juga waktu lagi syuting itu,” terang Anya.
Dalam film tersebut, Anya dikisahkan sebagai mojang Bandung yang menjalin kedekatan dengan Bayu. Kedekatan Anya dan Bayu ternyata tidak hanya terlihat saat menjalani proses syuting. Namun, itu juga terjadi di kehidupan nyata.
“Chemistry-nya baik-baik aja kok, in real life atau infilm, aku ngerasa kami berdua dekat sebagai teman. Jadi begitu sudah syuting bareng, enak ngejalaninnya,” ungkap Anya.
Sementara itu, Bayu Skak menambahkan bahwa dirinya sangat tertantang untuk menggarap film tersebut. Sebab, satu kosakata yang sama akan memiliki makna yang berbeda jika diucapkan dalam bahasa Sunda dan Jawa sekaligus.
“Contohnya (kata) atos. Atos itu kan di Jawa (artinya) keras. Di Sunda, atos itu (artinya) sudah. Kita membuatnya menjadi komedikal. Ngombe di bahasa Jawa itu (artinya) minum, tapi di bahasa Sunda itu (artinya) cebok. Lho, apa ini, maksudnya apa. Nah, itu kita buat jadi frame lucu,” tuturnya.
Pria asal Malang, Jawa Timur tersebut berharap ‘Yowis Ben 2’ mampu mendulang kesuksesan lebih dari film terdahulunya yang rilis pada 2018 lalu. Menurutnya, ia beserta seluruh tim yang terlibat sudah menemukan formula yang tetap untuk menghasilkan karya yang dapat menghibur masyarakat Tanah Air. Film ini pun sempat ditonton oleh Presiden Jokowi pada acara HFN di Malang tahun 2018 yang lalu. (pik)
Ruben Onsu akhirnya tak tahan lagi. Teror terus berlanjut yang membuat dirinya dan keluarganya trauma. Bertahun-tahun presenter Perbukers ini berusaha bertahan sambil berupaya berbagai cara untuk mengatasi teror mistis yang dikirim pihak tertentu maupun teror orang tak dikenal. Entah siapa yang begitu dendam pada Ruben Onsu..
Akhirnya, demi keselamatan orang-orang yang dikasihinya Ruben memutuskan pindah rumah. Apalagi saat ini sang istri, Sarwendah tengah hamil anak kedua mereka..Soal dimana alamat rumah baru mereka, Ruben merahasiakannya. “Soal dimana alamatnya, saya tidak bisa sebutkan ya. Kalau teman-teman mau ketemu juga diluar,” ucapnya.
Ruben Onsu dan keluarga—foto instagram rubenonsu
Menurut Ruben, dirinya dan keluarga sudah tidak tahan lagi. Bertahun-tahun berbagai teror mereka alami dan tak kunjung reda. “Ini (pindah rumah) demi keselamatan keluarga,” ungkapnya.
Rumah baru itu, jelas Ruben, bukan lah rumah yang baru dibelinya. Itu adalah rumah miliknya, namun selama ini dikontrakkan ke pihak lain.
Bertutur Ruben, sebenarnya dia telah memasang CCTV di beberapa bagian rumahnya. Namun anehnya, dia sama sekali tidak menemukan aksi orang jahat yang terekam dalam CCTV. “Gua beli CCTV yang paling bagus, berhasil mereka matiin. Jadi sudahlah lebih baik gua bawa keluarga gua pindah,” ucapnya.
Berbagai kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya membuat trauma bahkan akhirnya jadi ‘parno’. Jadi mudah panik dan takut. Menyadari hal itu, dia pun jadi konsultasi ke psikolog. Dari berbagai hal tersebut akhirnya yang terbaik adalah pindah rumah agar dia dan keluarganya tenang. ***ebn
Salah satu Badan Usaha Milik Negara yang berkiprah dalam bidang perfilman, Perum Produksi Film Negara (PFN), akhirnya kembali memproduksi film berjudul Kuambil Lagi Hatiku.
Disutradarai Ashar “Kinoy” Lubis, film yang menghadirkan deretan pemain, antara lain Lala Karmela, Cut Mini, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik, Dimas Aditya, dan Ence Bagus dijadwalkan tayang di bioskop mulai 21 Maret 2019.
“Cerita film ini orisinal dari PFN, kemudian dikembangkan bersama Wahana Kreator Nusantara dan Taman Wisata Candi. Ini semacam langkah awal untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” ujar produser M. Abduh Aziz usai konferensi pers di Ecology Bistro, Kemang, Jakarta Selatan (5/3/2019). Selain TWC (Taman Wisata Candi), 10 BUMN ikut mendukung proses produksi film ini, yaitu Pertamina, Pelindo 3, Jasa Raharja, Wijaya Karya, Perusahaan Gas Negara, Bank Mandiri, Bank BTN, Patra Jasa, Pupuk Indonesia, dan Garuda Indonesia.
Sejak awal menjabat sebagai Direktur Utama PFN pada 22 Juli 2016, Abduh sudah berkeinginan membangkitkan kembali lembaga milik pemerintah ini dalam memproduksi film.
Pun demikian, ia tak ingin gegabah dalam menyusun rencana. PFN menurutnya harus tampil dengan konsep dan citra baru, tidak boleh seperti dulu yang sangat tipikal pemerintah. Bikin film tanpa memperhitungkan sisi komersial.
“Sebagai perusahaan film, kami harus punya kesadaran memahami perkembangan zaman dan menghidupkan industri. Otomatis ketika membuat film harus juga memperhitungkan pasar,” lanjut Abduh yang pernah menjadi Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia 2011.
Agar bisa diterima khalayak, PFN tidak sekadar membuat film yang dikerjakan dengan bagus dan serius, tapi juga melakukan riset pemasaran di kawasan Jabodetabek.
Riset diperlukan untuk mengetahui pangsa pasar film ini ada di mana. Hasilnya kemudian dipergunakan untuk merancang strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran.
Kesimpulan dari riset tersebut menyatakan bahwa kalangan yang tertarik dengan cerita film ini berasal dari rentang usia 15-30 tahun.
Para responden juga mengaku lebih senang menonton film drama yang memiliki bumbu komedi di dalamnya. Itu menjelaskan kehadiran sosok macam Tarsan, Yati Pesek, dan Marwoto dalam film ini.
Sebagai orang yang menjadi saksi film-film produksi PFN terdahulu, Cut Mini mengaku antusias ketika mendapat tawaran bermain sebagai Widhi Malhotra.
“Tidak ada kata menolak. Karena dari dulu saya tahu filmnya PFN bagus-bagus dan saya senang menjadi bagian kebangkitan PFN,” ujar Mini.
PFN yang berdiri sejak 1950 –sebelumnya bernama Berita Film Indonesia– telah lama ikut memproduksi film nonfiksi alias komersial. Tercatat film pertama yang mereka produksi dengan nama PFN berjudul Antara Bumi dan Langit (1950). Film terakhir yang dibuat PFN adalah ‘Pelangi di Nusa Laut’ dan ‘Surat untuk Bidadari’. (pik)