Say I Love You, dari Zero to Hero

JAYAKARTA NEWS – Big dream, big hope, big spirit, big action, dan big success.
Itulah spirit yang terus dikumandangkan oleh Koh Jul (Julianto Eka Putra, yang diperankan oleh Verdi Solaiman) dalam film anak-anak bertajuk ‘Say I Love You’ (SILY).

Spontan seluruh murid di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Batu, Malang menirukan kiat yang diteriakkan Koh Jul, pemilik dan guru sekolah.
Mereka adalah anak-anak yatim piatu, melarat dan kebanyakan urakan. Saat itu, di tahun 2008, SPI dijuluki ‘Sekolah Kandang Ayam’.

Tapi kini – berkat kiat 5 Big dari koh Jul – menjadi sekolah terkenal yang mengajarkan kewirausahaan, dan membuka bermacam usaha di Batu, Malang. Mereka kini berhasil mengelola hotel bintang empat, perkebunan, industri makanan olahan, wisata.

SPI kini jadi sekolah rujukan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia belajar dari kewirausahaan. Bahkan, SPI terkenal di Luar Negeri dan beberapa guru sekolahnya bertandang ke Batu, Malang guna belajar kiat 5 B tersebut.

Sutradara Faozan Rizal berhasil mengemas biopic (biography picture) tentang kesuksesan SPI lebih cair, lebih menyentuh, dan film yang lebih menghibur.


Nggak mudah mengemas film yang ingin menginspirasi penonton, tapi harus memberi hiburan bagi penonton,” papar sutradara yang kini tinggal di Jerman bersama keluarganya.

Yang jelas, ketika SILY diputar di 26 kota di seluruh Indonesia, hampir seluruh penonton meneteskan air mata keharuan sekaligus kebanggaan menyaksikan kesuksesan tokoh-tokoh SPI yang kini masih eksis. Sebagian besar tokoh yang ada di film masih mengelola bisnis di Transformer Center, pengelola unit bisnis SMA SPI.

Jujur, SILY berbeda ceritanya dibanding film putih abu-abu yang kebanyakan mencuatkan cinta remaja di sekolah, cinta segi tiga, perkelahian dan pensi (pentas seni).

Film ini bercerita ihwal SPI yang menghidupkan tokoh-tokoh di film. Sekolah bukan sekedar latar cerita yang hadir sebagai tambahan lokasi kehidupan tokoh-tokoh yang ada.

Boleh dikatakan, SPI menjadi pengantar perjalanan panjang cerita tokoh-tokoh film.

Sheren (Dinda Hauw), Robet (Aldi Maldini Siregar, mantan penyanyi boyband CJR), Ridwan (Teuku yzki), Sayydah (Rachel Amanda), Dila, Yohana, Olfa, dan Wayan adalah karakter-karakter di film yang masih bisa menuturkan dan bercerita ihwal perjalanan hidup kesuksesan mereka. Dam yang menjadi sentral cerita adalah Koh Jul. Bukan Robet dan Sheren yang berpacaran di sekolah.

Berkat ‘tangan dingin’ dan semangat 5 B Koh Jul, menjadi tokoh di balik keberhasilan dan kesuksesan SPI. Dan berkat Koh Jul pula, perjuangan, jatuh bangun selama 10 tahun bisa dikemas menjadi sebuah cerita yang menarik dan menjadi suri teladan bagi pelajar lain.

Tatkala memergoki sepasang murid berbeda jenis kelamin dalam satu toilet, Koh Jul tidak marah, melainkan menyuruh mereka berdua mengundurkan diri dari sekolah SPI dan menikah.

Juga, tatkala melihat Robet sedang asyik minum oplosan yang bisa mengakibatkan kematian, Koh Jul justru menyodorkan minuman beralkohol yang resmi dan mahal agar diminum berdua.

Sebuah modus pelajaran yang menyimpang dari pakem ataukah ini sebuah pembelajaran dari alam, oleh alam dan untuk alam ?

Pada kenyataannya, nama SPI menjadi terkenal tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Luar Negeri. Metoda pelajarannya ditiru dan dipraktikkan di sekolah-sekolah gratis di kota lain.

Bagi murid dan mantan murid yang kini berhasil menjadi wirausahawan dan pengusaha sukses, pelajaran tentang hidup dan kehidupan di SPI telah memberikan kepada mereka sejuta impian dan sejuta harapan.

Mari bersama kita teriakkan : Big dream, big hope, big spirit, big action dan big success ! (pik)

Slamet Rahardjo: Syukuri Kekurangan’

JAYAKARTA NEWS – Aktor Slamet Rahardjo yang tahun ini genap berusia 70 tahun mengemukakan, bahwa manusia yang memiliki fisik yang normal harus mensyukuri kekurangan yang ada.

“Kalau kita enggak bersyukur atas kekurangan diri kita, berarti kita menggugat Tuhan yang telah menciptakan manusia,” kata Slamet dalam diskusi publik bertajuk ‘Peluang Kerja bagi Disabilitas di Industri Perfilman’ di Perpustakaan Kementeriam Pendidikan dan Kebudayaan RI, belum lama ini.

Dalam diskusi tersebut, Slamet memang menjadi ‘gong’-nya. Dia menekankan kalau kita enggak mensyukuri kekurangan, berarti kita enggak tahu kelebihan kita. “Dan kita enggak tahu berterima kasih,” ujar Slamet yang bermain apik dalam film ‘Cinta Pertama’ bersama Christine Hakim.

Ihwal peluang kerja bagi kaum disabilitas di bidang perfilman, Slamet mengawali dengan ‘apa itu film’. “Film bukan semata-mata fisik, tapi ide, gagasan,” ungkap aktor yang menyabet piala Citra yang berperan sebagai Teuku Umar dalam film ‘Tjoet Nyak Dhien’ garapan adiknya, sutradara Eros Djarot.

“Film sebenarnya adalah Kehidupan. Kalau film diartikan bioskop, itu hal kecil. Maka, bagi teman-teman saya yang kurang panca indranya dan tuna daksa (kurang organ tubuhnya), jangan sedih dan jangan khawatir. Film bukan semata-mata peluang menjadi aktor atau pemain, harus cantik dan ganteng atau harus lengkap organ tubuhnya. Bagi kaum disabilitas, bisa menjadi sutradara atau penulis skenario. Peluang kerja di dunia film masih luas,” paparnya.

Yang penting, ia menambahkan, pesan atau ide apa yang ingin disampaikan. “Dan yang terpenting adalah naluri kepekaan. Atau disebut Rasa. Jujur, banyak sineas teman-teman saya yang normal hasil karya filmnya jelek dan pesannya enggak sampai ke kita. Tapi saya melihat karya seorang teman saya yang disabilitas, meski film pendek, waduh… ini dahsyat sekali dan gagasannya sampai. Kenapa bisa begitu ? Karena film yang dibuat berdasarkan rasa, naluri,” urai Slamet yang pernah menyutradarai film drama melankolis berjudul ‘Seputih Hatinya Semerah Bibirnya’.

Aktor senior ini memberikan contoh ada seorang aktris cantik dari Hollywood yang tuna wicara, tapi amboi…dia bermain bagus dan aktingnya keluar dari rasa. Dan si aktris tersebut berhasil merebut Oscar. Orang asing ternyata bisa menghargai sebuah karya yang bagus dam seni peran yang bermutu daripada di Indonesia.

Bagaimana di kita, di sini, Indonesia ? “Apakah para produser kita sudah cukup memberi peluang kerja bagi kaum disabilitas yang lihai menulis skenario bermutu atau menjadi sutradara yang bagus ? Memang saya
pernah melihat beberapa pembisik dialog film bagi para penyandang tuna netra dan bisu tuli dalam sebuah pemutaran film khusus bagi kaum disabilitas. Tapi apakah jumlahnya sudah sebanding dengan para sineas yang normal dan awas matanya,” sergap Slamet.

Diakuinya, memang orang normal dan ‘orang normal’ ada bedanya. Banyak sineas bikin film tapi mutunya jeblok termasuk jeblok di pasaran dan tidak ditonton masyarakat. ‘Tapi lihatlah di LP Cipinang, penghuninya dikatakan ‘enggak normal’ tapi mereka merasakan normal dan mereka yang di penjara melihat orang normal diluar penjara malah disebut orang cacat dan enggak normal,” kata Slamet lagi.

Lalu, apakah pendidikan kita ada yang salah ? Saat ini, ternyata ‘pembenaran’ dan ‘kenyataan’ ada sisi perbedaan yang hakiki.

“Kaum seniman enggak ada yang bohong. Mereka lihai menangkap inti sari kehidupan. Dan kita semua, termasuk penyandang disabilitas, bisa berprestasi dan menghasilkan suatu karya yang baik dan berguna di industri perfilman,” tandas Slamet Rahardjo dalam diskusi yang difasilitasi oleh Pusat Pengembangan Perfilman Kementeriam Pendidikan dan Kebudayaan dan Cinta Film.Indonesia.

Selain Slamet Rahardjo, sebelumnya yang bicara adalah Budi Sumarno (pendiri Inklusi Film Indonesia), Gufron Sakaril (Ketua PPDI/Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, mantan Humas Indosiar), dan Fani Efrita (talent acquisition) dan moderator Didang Prajasasmita. (pik)

,

‘Dua Garis Biru’, Ketika Pendidikan Seks Menjemput Kaum Milenial

JAYAKARTANEWS – Ihwal keterbukaan informasi tentang seks sering dianggap wiilayah tabu. Pamali dan haram dibicarakan, demikian banyak orang tua menasihati anak-anaknya. Padahal, keterbukaan adalah upaya preventif yang penting.

Era 66-67, tatkala Orde Baru baru menancapkan akarnya di bidang politik dan kebudayaan, pelajar-pelajar sekolah SMP dan SMA yang berambut gondrong dilarang masuk kelas. Kalau nekad, tim gunting rambut siap menggunting rambut gondrong mereka. Ketahuan membawa dan membaca buku stensilan dan foto porno langsung kena tegur dan kena sanksi.

Membicarakan dan mendiskusikan masalah seks dan anatomi tubuh cowok dan cewek, noway. Beberapa kali akan digelar diskusi tentang kelahiran bayi dan masalah seks, acaranya dihentikan dan panitianya – yang notabene anak-anak sekolah – dilaporkan ke polisi.

Dulu kala, sebuah SMA Katolik yang semua siswanya cewek, ketahuan memutar BF alias Blue Film, langsung Kepala Sekolahnya ditegur dan diganti dengan guru lain. Padahal, saat itu, film ‘Helga’ yang membahas secara detil ihwal persenggamaan antarmanusia dan kelahiran bayi, lolos sensor. Lalu, dimana salahnya ?

Secercah sinar keterbukaan mulai menguak sedikit demi sedikit. Pada tahun 70-an, mendadk sontak ada produser kita yang nekad membuat film yang diangkat dari novel laris karya wartawan Zainal Abdi bertajuk ‘Bernafas Dalam Lumpur’.

Film yang disutradarai Turino Junaidy ini diperankan oleh Suzanna dan Rachmat Kartolo. Ada salah satu adegan Rachmat Kartolo yang jadi tukang becak entah kemasukan setan apa, tiba-tiba nyaris memerkosa penumpang Suzanna didalam becak yang kala itu jalanan sedang sepi. Celana dalam Suzanna dipelorotkan oleh si tukang becak dan adegan ini lolos…sensor.

Di bioskop Soboharsono di Jogjakarta, terpajang baliho gede Suzanna sedang memelorotkan celana dalamnya, dan astagafirullah, celana dalamnya….beneran masih baru yang dibeli di toko pakaian. Promosi lihai atau promosi keblinger demi menggaet banyak penonton ?

Anehnya atau uniknya, kelarisan Bernafas Dalam Lumpur menjadi momentum kebangkitan perfilman nasional yang telah lama tidak berproduksi. Kala itu, ada pengamat film menulis bahwa film ‘Bernafas Dalam Lumpu’ adalah film esek-esek nasional pertama yang laris di Indonesia.

Dipenuhi adegan perkosaan, pelacuran, adegan ranjang hingga kata-kata kotor berhamburan dalam film ini. Seketika itu juga, banyak produser dan sutradara kita membuat film dan penonton film nasional pun mulai melirik mendatangi bioskop.

Era kuantitas produksi film nasional meningkat drastis, namun kualitasnya bisa dihitung dengan jari. Hampir separuh judul film nasional bergenre drama rumah tangga yang dipenuhi adegan ranjang. Film remaja pun dipenuhi adegan ciuman dan ada yang nekad meningkat ke adegan seks terlarang.

Beberapa judul film kita kala itu lolos sensor dan diakui oleh para pengamat film, sangat seram dan vulgar. Baca saja : Yang Jatuh di Kaki Lelaki, Ranjang Bergoyang,

Ranjang Siang Ranjang Malam, Surga Dunia di Pintu Neraka (Tandes) dan seabreg judul lain yang bikin bulu roma bergidig. Sebuah catatan penting, film ‘Yang Jatuh di Kaki Lelaki’ yang lolos sensor di Indonesia justru dilarang main di Singapura.

Lalu, apakah pendidikan seks masih penting di era digital di zaman now saat ini ?

“Masih, khususnya pernikahan dini. Sebagai ibu dari dua anak, saya pikir masih perlu dibicarakan secara terarah dan step by step ihwal kondom dan alat bantu seks yang marak beredar sekarang. Agar generasi muda di masa depan enggak tersesat jalannya,” ujar Gina S. Noer, sutradara dan penulis skenario film ‘Dua Garis Biru’ yang lolos untuk 17 tahun ke atas.

Ditulis skenarionya sejak tahun 2010, Gina S. Noer mulai ragu terhadap keinginannya menjadi sutradara untuk pertama kalinya, Namun, produser dari PT Kharisma Starvision Plus, Ir. Chand Parwez Servia memberikan dorongan dan semangat agar bisa diselesaikan. Dan akhirnya, tahun 2019, film ‘Dua Garis Biru’ selesai syuting dan lolos sensor.

Dikatakannya, film perdananya ini adalah desakan kerasnya untuk para pihak yang bertanggung jawab agar berupaya lebih serius mengurangi jumlah kesalahan fatal seperti kehamilan dini pada remaja di Indonesia. Kesalahan yang bisa berujung pada kematian ibu dan atau bayinya, menambah jumlah angka pelajar putus sekolah, lingkaran kemiskinan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga karena ketidaksiapan pernikahan dini.

Cinta kita sebagai orang tua seharusnya menjadi modal utama untuk membuka ruang diskusi tentang kesalahan apa yang anak mungkin lakukan nanti. Rasa ingin tahu anak seharusnya juga menjadi modal utama untuk masyarakat yang lebih sehat dan bahagia. Bukan malah sesuatu yang tabu dibicarakan.

Dalam film ‘Dua Garis Biru’ bukan hanya kisah Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48) yang remaja baik-baik berpacaran sejak SMA. Juga, keluarga keduanya termasuk baik-baik. Namun, mereka melakukan hubungan terlarang sebelum nikah sah. Konflik pun mulai mencuat, bagaimana sekolahnya, dan jika Zara sudah melahirkan anak, dimana Bima bekerja dan mendapatkan uang untuk membeli susu ?

Bangsa ini perlu makin mendewasakan diri guna membicarakan fakta sulit seperti pendidikan seks secara lebih baik dan terarah kepada anak dan kalangan remaja. Semakin dini kita menghargai mereka sebagai manusia utuh, maka semakin lama proses kita melatih mereka membiasakan berpikir panjang, dan menimbang resiko secara menyeluruh sebelum berbuat.

Menonton film ‘Dua Garis Biru’, bukannya menutup-nutupi masalah seks, tapi membuka ruang diskusi agar dipahami bahwa perbuatan terlarang ketika dilanggar akan berdampak sangat buruk. Tapi ketika semuanya sudah terjadi, disadari setelah terlambat dan dalam proses saling memaafkan satu sama lain,dalam perjalanannya untuk menjadi manusia lebih baik lagi.

Alhasil, bukan hanya soal seks. Tapi dalam hal lainnya.

Karena memahami hal-hal mendasar seperti seks, sebenarnya adalah bagian dari perjalanan mengenali dan menghargai diri sendiri sebagai manusia. Karena pada akhirnya kita tak bisa terus melindungi anak kita selamanya, apalagi berharap kalau anak tak akan pernah berbuat salah.

Sebab, sejak kita memilih untuk berkeluarga berarti kita memilih berproses dan tumbuh lebih baik dengan segala kesalahannya, dengan segala resikonya.

Selamat datang film bertema pendidikan seks ! (Ipik Tanoyo)

Konser Pianis Klasik Jonathan Kuo, Diawali dari Karya Beethoven, Diakhiri dengan Prokof

JAYAKARTA NEWS – Menyaksikan konser musik klasik berbeda kita nonton musik bergenre lain, katakan pop, rock atau dangdut. Klasik adalah tertib, dan disiplin. Tak boleh berisik dan bercakap-cakap. Semua hening menyimak apa yang didendangkan di panggung pertunjukan.

Bagi khalayak yang telat datang sedangkan konser sudah dimulai lima menit yang lalu, kita tak boleh nekad menerobos masuk. Pintu hall sudah ditutup dan dijaga oleh seorang petugas. Kita harus menunggu di depan pintu dengan tertib. Setelah satu op (opus) usai dimainkan, barulah kita dibolehkan masuk dan mencari nomor kursi.

Seperti yang terjadi sewaktu konser pianis klasik Jonathan Kuo di Balai Resital Kertanegara, Jakarta Selatan, belum lama ini, semua tenang dan tertib. Ada interval lima belas menit di tengah acara dan kita boleh makan dan minum. Selama pertunjukan, kita tetap duduk tenang menyimak (mau kentut pun, mungkin harus ditahan), telepon genggam pun harus dimatikan.

Bayi yang masih ditaruh didalam kereta dorong tak boleh diajak nonton. Bisa menggangu konsentrasi khalayak nantinya, jika si bayi menangis minta nenen. Anak kecil yang sudah berusia 7 tahun ke atas dan sudah bisa tertib, boleh nonton.

Sekitar satu jam, Jonathan Kuo menggebrak 8 opus dengan jumawa. “Saya pertama datang dan memulai acara, sudah dag dig dug. Keringat sudah bercucuran,” aku Jonathan.
Namun, khalayak yang memadati hall memberikan aplus bergemuruh setiap Jonathan mengakhiri permainannya. Kesepuluh jarinya sungguh gemulai memainkan bilah-bilah piano

Namun anak muda ini mengawali karya komponis ‘eksentrik’ Ludwig van Beethoven (1770-1827). Thirty Two Variations in C Minor, WaO 80 mengalir syahdu ditangan Jonathan. Sepertinya Beethoven yang tak sempat menyaksikan karya megahnya, Symphony No 9 (karena keburu berada di alam lain) hadir di Balai Resital Kertanegara, malam itu.

Disusul nomor dari Franz Schubert (1797-1828) yang tak kalah megahnya : Impromptu in B-flat Major, Op 142, No 3 dimainkan dengan semangat tinggi.

Babak pertama menjadi hangat karena tak kurang Jonathan ‘mendatangkan’ roh Claude Debussy (1862-1918) yang memainkan ;The Girl with the Flaxen Hair’ dan ‘The Dance of Puck’ from Prelude, Book I. Dan di babak pertama ini ditutup dengan karya Robert Schumann (1810-1856) dengan melantunkan nomor Scherzino, Intermezzo & Finale drom Faschingsshwank aus Wien, Op. 26.

Di babak dua, hanya empat opus digebrak. Semua mahakarya nan megah dan indah.

Prelude & Fugue in C Major, BWV 870 karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) mengalun melankolis, dan menghanyutkan relung jiwa khalayak.

Kemudian hanya Ludwig van Beethoven yang dimainkan dua kali oleh Jonathan, hanya di babak dua ini khusus karya Allegro vivace from Sonata in A Major, Op. 2 No 2 ini benar-benar agung, dan sangat indah. Beethoven yang wafat karena berbagai penyakit kuning,, radang paru-paru dantuli ini mencipta sebuah sonata alias sonate yaitu suatu bentuk komposisi instrumental yang mendahului zaman Romantik.

Tak ayal Frederick Chopin (1810-1849, muda nian usianya ya) dipersembahkan Jonathan lewat Ballade No.2 in F Major, Op. 38.

Dan Jonathan benar-benar mengakhiri pertunjukannya dengan menghadirkan karya Sergei Prokofiew (1891-1953) yang menjulang namanya lewat Vivace ffrom Sonata No. 2 in D Minor. Op. 14.

Lalu, Jonathan mengundurkan diri ke balik panggung. Tetapi khalayak banyak yang berdiri dan bertepuk tangan sebagai isyarat minta tambah opus. Kalau di konser rock, mungkin penonton ramai berteriak dengan kata ‘More, more’….

Dan Jonathan nongol lagi dengan keringat masih bercucuran. Digebrak satu nomor pendek. Dan ini benar-benar nomor terakhir, tak ada lagi nomor lain. Beberapa panitia dan kawannya sibuk naik panggung menyuguhkan seikat bunga kemudian cipika cipiki.

Puas enggak, Jo ?

“Kalau saya sudah puas, pasti saya dibilang sombong. Saya ini belum apa-apa, masih terus berlatih setiap hari memainkan piano,” jawabnya.

Yang terberat, karya siapa ?

“Nomor terakhir karya Sergei Prokofiev. Karya dia benar-benar menguras tenaga dan ini tantangan buat saya, Bukan berarti nomor dari komponis lain tidak berat. Beethoven juga menantang saya untuk menyuguhkan dua mahakaryanya,” sergap Jonathan s embari melap keringatnya dengan saputangan.

Okay, Jo, mainkan terus musik klasik ya. (pik)

Hotman Paris: Saya sudah tidak Terima Honor Kecil-kecil, Mendingan Gratis

Hotman Paris–foto instagram hotmanparis

JAYAKARTA NEWS— Hotman Paris. Siapa yang tidak kenal pada pengacara satu ini. Pengacara kaya raya yang gemar koleksi mobil ferrari dan berlian. Hotman juga dijuluki pengacara artis lantaran kerap tampil membela para artis yang bermasalah hukum.

Baru-baru ini, Hotman yang membuka konsultasi hukum gratis di Kopi Johny, Kelapa Gading, kerap menyuarakan pembelaannya terhadap Fairuz A Rafiq lantaran wanita cantik itu dilecehkan oleh mantan suaminya Galih Ginanjar lewat tayangan channel Rey Utami-Pablo Benua. Kasus ini dikenal publik dengan sebutan ‘bau ikan asin’.

Hotman mengaku dirinya banyak ditanya kenapa getol membela Fairuz. Bahkan dia kini menjadi kuasa hukum  Fairuz dalam kasus tersebut. “Banyak yang bertanya kenapa sih hotman bela mati-matian Fairuz? Apa karena uang? Oh, jelas enggak dong,” kata Hotman lewat video yang diposting di akun instagramnya.

“Saya sudah nggak terima honor yang kecil-kecil. Mendingan gratis,” tambahnya.

Menurut  lelaki yang akhir-akhirnya wajahnya kerap muncul di layar kaca, dirinya adalah pengagum Fairuz sejak dulu. Bahkan dia telah menjadi pengacara Fairuz sejak lama. “Saya dari dulu sudah jadi pengagum Fairuz, bahkan sudah menjadi pengacaranya sejak dulu. Kekaguman saya sesudah dia hijrah. Dia sudah emmakai hijab. Muslim yang baik. Tapi anehnya. Setelah dia menjadi muslim yang baik, setelah hijrah dan pakai hijab, dia mendapat perlakuan tidak manusia. Itu sebabnya saya membela Fairuz,” ungkap Hotman panjang-lebar. ***ebn

Akhirnya Fairuz Bangkit Melawan Galih, Senin Lapor Polisi

Fairuz A Rafiq—foto instagram fairuz

JAYAKARTA NEWS— Awalnya Fairuz ingin diam saja, tidak mau menanggapi atau memperpanjang apa yang diucapkan oleh mantan suaminya Galih Ginanjar soal ‘bau ikan asin’. Namun entah bagaimana, bisa jadi karena persoalan ini ternyata terus bergulir di media massa, apalagi banyak komentar pedas yang dialamatkan ke Galih lantaran dianggap menghina dan bersikap tidak etis kepada mantan istrinya (Fairuz), akhirnya dia pun memutuskan untuk melaporkan masalah ini ke Polda Metro Jaya.

Hotman Paris, Fairuz dan suaminya Sonny–foto instagram hotmanparis

Dikutip dari akun instagram Hotman Paris Official, disebutkan bahwa Fairuz akan membuat laporan polisi pada Senin jam 9 di Polda Metro Jaya. Pengaduannya terjait pasal 29 ayat 1 UU ITE dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. “Terlalu lama hukum pelecehan wanita amat lemah! Di Singapura sudah puluhan laki-laki masuk penjara hanya karena raba pantat wanita! Ayok semua wanita datang ke Polda Metro jam 9. Dukung masa depan perlindungan hukum putri-putrimu! Temui Unit SPKT Sentra pengaduan kepolisian terpadu Polda Metro!” Demikian seru Hotman Paris lewat akun resminya.

Sebelumnya, kepada wartawan, Fairuz mengaku cukup kaget dengan pernyataan mantan suaminya itu. Namun dia memilih diam. Ia mendoakan agar Galih segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. “Semoga Allah membukakan pintu hati dia yang akhirnya bisa bertaubat dengan apa yang dia lakukan. Aku di sini lebih memilih diam,” ujarnya.

Sebenarnya Galih dan Fairuz sudah cukup lama resmi bercerai yakni 2014 silam. Bahkan keduanya pun sudah sama-sama memiliki pasangan. Namun entah kenapa perselisihan keduanya membara lagi. Tepatnya Galih yang memulai membongkar rahasia ranjang pernikahan mereka ke publik lewat channel  youtube Rey Utami-Pablo Benua. Sontak, pernyataan Galih membuat banyak orang tersengat lantaran dianggap sangat-sangat melanggar etika. Nitizen pun ramai-ramai menghujat.

Dalam tayangan di televisi, Fairuz mengaku awalnya tak mau menggubris cibiran mantannya itu.”Aku nggak pernah mau merespon hal seperti itu, tujuannya nanti tercapai. Aku merasa ngga perlu membalas karena aku ada Allah. Aku berdoa saja,” ungkapnya kalau itu. ***ebn

Ibu Diva Dangdut, Devano Pilih Jalur Pop

JAYAKARTA NEWS – Sekalipun ibunya penyanyi dangdut terkenal bernama Iis Dahlia, belum tentu anaknya mengikuti jejak sang ibundanya meniti karir sebagai penyanyi dangdut.

Si sulung Iis Dahlia, Devano Danendra memutuskan untuk mengawali karir musiknya sebagai penyanyi pop. Singlenya bertajuk ‘Menyimpan Rasa’ telah beredar dimana-mana.

Kini, seiring perjalanan waktu, Devano (16 tahun) malah mencoba karirnya di film. Film pertamanya adalah ‘Dear Nathan’, kemudian menjadi pemeran utama dalam film remaja ‘Melodylan’ dan yang terbaru yang akan tayang 20 Juni 2019 berjudul ‘Doremi & You’

Apakah Devano akan beralih karir dari dunia musik ke film ?

“Masih bingung nih, dua-duanya menarik sih…dulu kala, saya ingin jadi penulis, lalu ingin jadi pilot dan belakangan justru saya ingin menapaki karir di dunia militer,”papar Devano yang tampan dan berkulit putih ini.

Dari kecil, memang ibunya mengarahkan Devano menjadi pilot seperti ayahnya, Satrio Dewandono yang kini bekerja sebagai pilot Garuda.

“Tapi saya kok enggak tertarik…kalau ayah lagi menerbangkan pesawat ke luar negeri sampai berhari-hari, saya yang jagain mama di rumah…,” ungkapnya.

Devano memang pelan tapi pasti mulai dikenal di dunia film. Walau demikian, ia tidak ingin main film bersama ibunya dalam satu film.

“Kayaknya gimana gitu…toh mama tetap menjadi manajer yang baik bagi saya…mamalah yang kasih uang Rp 10 juta per bulan untuk saya,”

Film anak-anak “Doremi & You’ disutradarai BW Purbanegara berdasar skenario yang ditulis Jujur Prananto dan BW Purbanegara.

Syuting dilakukan full di Yogyakarta. Yang agak unik, film ini tidak mensyut obyek-obyek wisata seperti Malioboro, Prambanan, Borobudur, Kraton dll. Selain itu, meski cerita dan tokoh-tokohnya adalah ‘wong Yogyakarta’, namun sama sekali tidak menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa utama sehari-hari. Justru yang berseliweran adalah ucapan-ucapan seperti lu lu gue gue, dong, deh…

Kisahnya : perjuangan empat sahabat, Putri (Adyla Rafa Naura Ayu, puteri Nola B-3), Imung (Fatih Unru), Anisa (Nashwa) dan Markus (Toran Waibro) berusaha mengganti uang ekstrakurikuler paduan suara yang tidak sengaja mereka hilangkan, dengan mengikuti kompetisi menyanyi ‘Doremi & You’.

Perjuangan keempat sahabat untuk memenangkan kompetisi tersebut menjadi berat saat Reno (Devano Danendra), asisten pelatih paduan suara yang diharapkan menjadi pelatih mereka, ternyata menjadi saingan terberat di kompetisi,.

Dipenuhi sederet lagu anak-anak baru ciptaan Simhala Avadhana “Mhala ‘Numata’, (anak Tetty Kadi), film ini mengalir tenang dengan plot lurus. Ceritanya mudah diikuti. Ending benar-benar mengejutkan. Film yang mengisi liburan sekolah ini lolos sensor untuk semua umur. (pik)

“Festival Mesin Waktu 2019”

Jayakarta News – Ismaya Live dan Generasi 90-an kembali menggelar Festival Mesin Waktu yang tahun ini dijadwalkan berlangsung di Hari Kemerdekaan Indonesia, yaitu 17 Agustus 2019.

Mengambil lokasi di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat — Festival Mesin Waktu 2019 nantinya kembali mengajak kita semua menjelajahi waktu ke masa-masa kejayaan dekade 1990-an, melalui beragam zona yang ada.

Di Zona Musik, sederet musisi Indonesia lintas generasi akan membuat semua pengunjung bernyanyi sepanjang acara yaitu Dewa19 bersama Ari Lasso & Dul Jaelani, Glenn Fredly, P-Project, Rida Sita Dewi, dan 90s Boyband Project yang menampilkan Gamaliel, Petra Sihombing, Rendy Pandugo, dan Teddy Adhitya.

Nostalgia tahun 1990-an di Festival Mesin Waktu akan semakin seru di Zona Nonton yang rencananya menayangkan berbagai cuplikan tayangan-tayangan khas 1990-an mulai dari sinetron, seri TV, videoklip, bahkan sampai iklan.

Kerinduan kita bermain mesin ding-dong dan gim-gim konsol waktu kecil dulu bisa terobati di Zona Main Festival Mesin Waktu. Selain gim-gim elektronik, zona main juga akan menghadirkan kembali permainan-permainan tradisional seru sewaktu bocah.

Makanan, minuman, dan jajanan yang sering kita temukan di kantin sekolah akan kembali dihidangkan di Zona Jajan Festival Mesin Waktu. Perjalanan kembali ke tahun 1990-an akan semakin lengkap dengan kunjungan ke Zona Museum di mana beragam barang sehari-hari yang dulu sering kita gunakan akan terpajang untuk dikenang sebagai memorabilia.

“Sensasi nostalgia dekade 1990-an di Festival Mesin Waktu akan sangat terasa melalui zona-zona yang akan kami hadirkan,” ujar Sarah Deshita selaku Brand Manager Ismaya Live. “Karena bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, kami akan mengadakan beragam aktivitas khas 17an yang pastinya akan menambah keseruan Festival Mesin Waktu 2019,” janji Sarah dalam keterangannya.

“Sebagai sponsor utama festival ini, Blibli.com sangat antusias menanti keseruan yang akan disuguhkan melalui lineup artis ternama di bulan Agustus nanti. Kami harap para pengunjung nantinya bisa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan di acara festival yang merupakan kolaborasi Blibli.com, Ismaya Live, dan Generasi 90an ini,” ujar Yolanda Nainggolan, Head of Public Relations Blibli.com melanjutkan keterangannya. (john js)

Kila Bangkitkan Kembali Musik Anak

JAYAKARTA NEWS – Era musik anak hangat-hangat tahi ayam. Ada yang tampil sekejap, dan dalam sekejap pula raib.

Tak seperti dulu, tatkala pada pertengahan dekade 70-an Chicha Koeswoyo menggebrak blantika musik anak dengan melejitnya lagu anak ‘Heli’ dan seketika itu juga, populerlah frasa ‘guk guk guk…’ seantero Indonesia.

Keberhasilan Chicha dalam membuat album rekaman lagu anak-anak di Indonesia, menjadi pendorong munculnya penyanyi anak-anak. Sebut saja  Adi Bing Slamet, Iyut Bing Slamet, Dina Mariana, Silvia Kusumaningrum  Yoan Tanamal, Ira Maya Sopha,  Diana Papilaya, Vien Is Haryanto, Bobby Sandhora, Debbie Rhoma Irama, Santi Sardi, Nourma Yunita, Liza Tanzil, Sandra Dewi, Fitria Elvie Sukaesih, Puput Novel, Facrul Rozi, dan lainnya.   Jejak Chicha juga diikuti oleh adik kandungnya Hellen Koeswoyo dan sepupunya Sari Yok Koeswoyo.

Setelah cukup lama vakum tak muncul album anak-anak, datanglah kemudian Chikita Meidy, Trio Kwek Kwek, Bondan Prakoso (Si Lumba Lumba), Tina Toon.

Juga muncul seorang penyanyi  cilik bernama Joshua Suherman yang mendendangkan lagu anak bertajuk ‘Air’ yang didalamnya terdapat kalimat ‘diobok-obok…’.

Dalam tempo sekejap, pemeo ‘diobok-obok’ tiba-tiba meroket dan melambung mengalahkan pemeo lain seperti ‘apanya dong’, ‘tak uuk ya’, dan ‘manyala bob’ yang lenyap ditelan bumi. Hingga pejabat negara dan menteri siapa pun acap mengatakan ‘di obok-obok’.

Dan Joshua Suherman menjadi miliuner anak kala itu. Pundi-pundi pun terus bertambah (tidak hanya musik) : iklan produk, aksesori, gambar sampul buku tulis dan…film.

Kini mereka semua telah dewasa. Banyak yang telah menikah dan menjadi seorang ibu rumah tangga (bahkan punya anak) atau bapak rumah tangga. 

Kini, era penyanyi dan lagu anak telah berlalu…

Kekhawatiran hilangnya lagu anak dalam katalog anak-anak zaman now menjadi fokus perhatian Bobby selaku produser Bro’s Music Lalu ditariklah Aqeela Putri  Alam alias Kila (9 tahun) merekam lagu anak berjudul ‘Burung Parkit’ berisi 10 lagu anak. Semua tentang kesenangan anak terhadap binatang, seperti Kupu Kupu, Kelinci dll.

Bersemangat membangkitkan kembali musik anak  (meski industri digital sudah masuk ke pola pikir anak), Bro’s Music kemudian mengajak dan menggandeng  J. Sarwono (kakek Kila) sebagai pencipta lagu dan serta Irvan Nat dan Alfa Dwiagustiar (music arranger)guna meramu lagu-lagu yang sesuai dengan jiwa anak. 

“Lagu-lagu yang direkam dibubuhi pesan yang simpel dan mudah dicerna oleh anak  di era digital. Kita rekam lagu Burung Parkit yang berdurasi 2 menit, cukup catchy dan sangat mendidik. Menarik bagi anak,” kata Bobby yang menemani Kila yang unjuk diri di acara WonderKidz di JCC, Senayan, baru-baru ini.

Susah enggak mempelajari notasi musik lagu anak ?

“Mulanya gimana ya…tapi kakek Kila, pak Sarwono tekun mengajari saya pada notasi musik. Juga kak Bobby, kak Alfa mereka semua rajin memberi tahu Kila. Kalau ada yang salah, mereka berkata, begini ya sebaiknya, jangan diulang ya…jadi yah lama kelamaan, Kila alhamdullilah bisa juga…,” sergap Kila.

Seperti anak seusianya, keseharian Kila juga diisi dengan bermain , belajar dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru yang penuh imajinasi.

Tak heran jika Kila kemudian aktif di berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, seni musik, seni peran, seni lukis hingga mendongeng. 

Saat ini, ia juga sedang antusias karena mengerjakan sebuah project bersama salah satu sahabatnya, Widuri (anak pasangan artis Widi B-3 dan Dwi Sasono, pernah bermain dalam ‘Keluarga Cemara’). Mereka berdua akan terlibat dalam film drama musikal anak bertema persahabatan. Jadi, dunia musik adalah langkah pertama Kila terjun ke dunia seni yang disenanginya.

Judulnya ? “Rahasia. Kata produsernya, enggak boleh dikasih tahu dulu,” jawab Kila cepat.

Wah…wah…(pik)

Kak Seto, Sepekan Nonton 3 Film Anak

JAYAKARTA NEWS – Pendidik dan psikolog anak, Dr Seto Mulyadi atau akrab disapa dengan panggilan Kak Seto (67 tahun) sebenarnya jarang nonton film nasional hingga tiga kali dalam sepekan. Namun, pada Juni tahun ini, ia nonton tiga judul film bergenre anak yang semuanya lolos untuk semua umur.

“Luar biasa. Menyongsong Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional tahun ini, saya senang ada beberapa film anak nasional yang saya tonton. Dan semuanya rata-rata bagus, cerita dan misinya sangat mendidik,” kata kak Seto kepada penulis usai menonton gala premier film anak ‘Koki Koki Cilik 2’ di Kota Kasablanca, Jakarta, baru-baru ini.

Tiga film anak nasional tersebut yang ditontonnya adalah ‘Rumah Merah Putih’, ‘Doremi & You’ dan ‘Koki Koki Cilik 2’. Ia nonton sendiri, didampingi beberapa wartawan.

“Saya khususnya dan penonton Indonesia umumnya rindu film anak, seperti zaman saya dulu, ada film anak bertajuk ‘Harmonikaku’, ‘Bintang Ketjil’, ‘Amrin Membolos’ dan lain-lain. Ini menumbuhkan nostalgia dan cinta Indonesia,” papar Kak Seto yang pernah bermain sebagai pemeran utama dalam film anak berjudul ‘Tangan Tangan Mungil’ produksi Gramedia Film yang disutradarai Yasman Yasid, sekitar 30 tahun silam.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak ini merasa antusias dan bersemangat menyambut 3 film anak nasional yang ditayangkan bulan Juni tahun ini.

“Nonton film anak bisa menumbuhkan minat dan mengajak anak aktif dalam kegiatan di luar akademik. Juga, anak bisa berinteraksi dan bersosialisasi,” ungkap ayah empat anak lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) ini.

Kak Seto berpesan kepada anak Indonesia agar pandai bergaul, bersosialisasi dan bergerak mengarah kepada kegiatan yang positif, seperti olahraga, belajar bersama dan berwisata ke luar kota.

“Zaman saya dulu, apa-apa serba sederhana. Alat-alat bermain minim, tapi kita enggak mengeluh dan terus ‘move on’ dan banyak anak didik saya yang kini jadi orang terkenal dan sukses di bidang olahraga, bisnis dan militer,” tambah mantan murid Pak dan Bu Kasur ini.

“Kini, semua tersedia. Teknologi di depan mata kita. Kalau kita enggak memanfaatkan Revolusi Industri 4.0 dan mengisi derap pembangunan yang terus bergerak, kita akan ketinggalan jauh dan dilindas zaman, seperti dikatakan Bapak Presiden kita, Jokowi,” tandas pembawa acara anak bersama Henny Poerwonegoro di TVRI Stasiun Pusat ini. (pik)