Elvira, Prasangka dan Imajinasi

JAYAKARTA NEWS –  Namanua Sophie. Bukan Sapi. Juga bukan Sapiah. Cantik. Usianya 25 tahun. Tokoh ini diperankan oleh Elvira Devinamira, Puteri Indonesia 2014.

Mahasiswi yang cerdas dan mencintai negaranya. Sedang merampungkan tesisnya. Demikian awal cerita dalam film ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi” karya sutradara John de Rantau yang diangkat dari cerita pendek karya sastrawan Seno Gumira Ajidarma.

Objek penelitian tesisnya adalah Kampung Lapak yang multietnis dan multiprofesi. Ada emak, polisi, pengusaha, dan wartawan. Ada Jawa, Batak, Sumatera dan Cina.

Kampung Lapak adalah magnet yang terus menyedot pikirannya  untuk menjadikan mereka objek tesis.

Namun, tanpa disadarinya, kehadirannya membuat Kampung Lapak berubah. Bermula satu dua orang. Kemudian mewabah dan menjadi kebiasaan nakal para suami yang ada dalam Kampung Lapak.

Para isteri protes dan melapor ke Pak RT Muchus (Mathias Muchus). Sebagai pemimpin di kampung tersebut, pak RT Muchus menjadi pusing bin konyol. Juga, kehidupan kampung jadi rumit dan terjadi peristiwa dan hal aneh dan lucu.

Kampung dipenuhi imajinasi dan prasangka. Siapakah sumber penyebab masalah kerumitan di kampung dan siapakah korbannya ? Apakah Sophie ? Apakah para suami atau para isteri ?

“Saya baca skenarionya sampai selesai. Ini komedi cerdas, penuh satire. Semula saya ragu diajak main film oleh bang John (John de Rantau), tapi akhirnya saya bersedia, dengan syarat tidak menjatuhkan karakter saya sebagai Puteri Indonesia 2014,” cerita Elvira kepada penulis di Jakara, baru-baru ini.

Bukankah Anda tiga kali beradegan mandi dengan busa sabun di film ini, kok mau ? “Itu disyut dari belakang dan bagian depan dan punggung saya dipenuhi busa sabun. Jadi ini enggak porno dan enggak vulgar. Selain itu, bang John juga memotong dua adegan saya mandi. Jadi, tinggal satu adegan saya mandi,” kata Elvira yang kini bergelar Sarjana Hukum lulusan Universitas Airlangga, Surabaya.

Yang hebat, film ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’ dipenuhi 62 aktor senior, diantaranya Mathias Muchus, Yurike Prastika, Yayu Unru, Anna Tarigan, David John Schaap, Ricky Malau, Emmi Lemu, Anne J Koto, Maryam Supraba (puteri WS Rendra), Is Daryanto, Farid Ongki dan seabreg pemain lain.

Pemilik tinggi 1.75 meter  yang mengaku masih jomblo ini paling demen membaca cerpen-cerpen karya Seno Gumira Ajidarma (kini Rektor IKJ).

“Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi adalah cerita komedi pintar, tapi enggak nyinyir. Para tokohnya enggak mengeritik pemerintah secara kasar, tapi lewat banyolan satire. Kala itu, apa-apa serba dilarang. Dilarang turun ke jalan, dilarang gondrong, dilarang menyerang pribadi Menteri, dilarang makan, dilarang beol, dilarang menyanyi di kamar mandi, dilarang ini, dilarang itu…

 “Pokoknya, di ending, kita tertawa. Semula mas Seno Gumira Ajidarma mau mengubah judul filmnya menjadi ‘Komedi Kritik’, tapi judul semula ‘Dilarang…” tetap dipertahankan,” tutup Elvira yang tidak mau bergabung bersama teman-temannya dalam ‘law firm’, namun ia tetap mau berprofesi sebagai aktris film, apapun resikonya. (pik)

Sierra Soetedjo Tampil di Jazz Gunung 2019

JAYAKARTA NEWS – Membicarakan penyanyi jazz paling cantik dan kualitas vokalnya yahut (ditunjang lagi kostumnya yang memukau, tapi tetap sopan) adalah Amanda Sierra Soetedjo (34 tahun).

Sierra akan unjuk diri di Jazz Gunung Bromo 2019, yang dihelat 26 dan 27 Juli 2019. Dia tampil pada hari ke dua (27 Juli) bersama Geliga, Candra Darusman Projects, Djaduk Ferianto’s Ring of Fire feat.Didi Kempot dan Ricad Hutapea, S4 band dari MLD Jazz Projects, dan Nita Aartsen Kwartet dengan bintang spesial Rene Calvin, Antonio Marcos dan Pablo Calzado.

Hari pertama, Jazz Gunung 2019 diisi sederet jazzer ternama yaitu Tompi, Debu, Yuri Mahatma Quartet, Gugun Blues Shelter, Jazz Malang Community dan Idang Rasjidi feat Mus Mujiono. Tampil juga Tristan dengan Institut Francais Indonesia (IFI) asal Belanda yang bernuansa acid jazz, soul dan funk serta Voyager 4 dari Perancis.

“Ini kedua kalinya saya tampil di Jazz Gunung. Saya senang dan bangga sekali bisa ikut menyemarakkan event ini,” lontar Sierra kepada penulis belum lama ini di sebuah kafe terkenal di kawasan Kemang, Jaksel.

Jazz Gunung Bromo tahun ini menginjak tahun ke 11dimana akan tampil musisi jazz bergenre etnik diatas ketinggian 2000 meter dari permukaan laut dengan berlatarkan pegunungan berdinding cemara dan beratapkan langit. Semua pergelaran dipusatkan di Jiwa Jawa Resort Bromo, Sukaputra, Probolinggo, Jawa Timur.

Sierra Soetedjo

Ketika ditanya mengapa Sierra menyukai genre musik jazz dan blues, dia memberi penjelasan yang lugas. “Jazz bagaikan sebuah simbol kebebasan berekspresi, menyuarakan perlawanan hingga samangat perubahan . Yang menarik, jazz hadir sebagai harmonisasi dari segala perbedaan yang ada,” paparnya.

Ditengah terpecah-belahnya persatuan bangsa Indonesia pasca hiruk0pikuk dunia politik nasional, Jazz Gunung hadir tahun ini.

“Jazz bersaksi untuk Ibu Pertiwi, bahwa ditengah perbedaan yang ada, harmonisasi akan membalut suasana menjadi persatuan,” tandas Sierra yang pernah meraih gelar studi di Perth (jurusan vokal).tahun 2005 dan Bachelor of Music Performing Jazz tahun 2007.

Bagaimana akses perjalanan ke Jazz Gunung di Sukapura, Probolinggo ?

“Kini penonton Jazz Gunung semakin murah dan terjangkau. Karena hadirnya tol baru yang menyambungkan Surabaya-Probolinggo serta tol Malang-Probolinggo yang dapat mempersingkat waktu dan jarak tempuh menuju keawasan Gunung Bromo menjadi hanya 1-2 jam saja, yang sebelumnya dapat memakan waktu hingga 4 jam,” jelas Sigit Pramono, founder Jazz Gunung yang juga akan menghelat Jazz Gunung Ijen di Banyuwangi, (pik)

‘Rumah Merah Putih’, Senandung Indonesia Raya dari Indonesia Timur

JAYAKARTA NEWS -Mengapa sineas Ari Sihasale selalu memfokuskan pembuatan film-filmnya di kawasan Indonesia Timur, seperti Papua, NTT, NTB, bahkan perbatasan Timor RI – Timor Leste ?

“Rasa cinta NKRI enggak boleh hilang. Kita semua tetap cinta NKRI,” jawab Ari Sihasale kepada penulis disela-sela press screening film ke sembilan produksi Alenia Pictures bertajuk ‘Rumah Merah Putih’ di Jakarta, belum lama ini.

Film terbarunya ini menyemangatkan tentang cinta tanah air.

“Cinta tanah air enggak boleh luntur. Kita tetap hidup berdampingan, walau berbeda-beda suku dan agama. dalam bingkai merah putih. Lihatlah anak-anak dan warga di gerbang terdepan NKRI, di perbatasan Timor RI dan Timor Leste, mereka tetap cinta Indonesia. Setiap 17 Agustus tepat di Hari Kemerdekaan RI, mereka khidmat ikut upacara bendera penaikan bendera merah putih di halaman sekolah atau lapangan, dan takzim menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indoensia Raya’,” kata Ari Sihasale.

Film ‘Rumah Merah Putih’ yang didukung oleh Bank NTT disutradarai dan diproduseri oleh Ari Sihasale dan executive producer Nia Zulkarnaen (isteri Ari Sihasale). Skenario ditulis oleh Jeremais Nyangoen yang menulis berdasarkan kisah nyata yang terjadi di NTT. Syuting dilakukan di Kabupaten Belu dan Timor Tengah Utara, dengan anak-anak kecil yang diperankan oleh anak-anak asli NTT. Ada beberapa dialek Belu, sehingga harus diberi teks bahasa Indonesia.

“Rencananya, film ini akan menjadi awal ‘trilogi perbatasan’ yang nantinya juga akan membahas kehidupan perbatasan di Papua dan Kalimantan. Kini, kehidupan warga di perbatasan sudah jauh lebih baik daripada di masa lalu,” papar Ari Sihasale.

Film ini dibintangi oleh Pevita Pearce (Mario Lopez), Yama Carlos (Daniel Amaral), Shafira Umm (Rosalia), Abdurrahman Arif (Ruslan), Dicky Tatipikalawan (Oracio Soares) dan seabreg pemain anak-anak asli dari NTT. Mereka adalah Petrick Rumlaklak (Farel Amaral), Amori De Purivicacao (Oscar Lopez). Dijadwalkan, film ini akan mengadakan nobar di tiga kota yaitu Batam, Banyumas dan Banjarmasin. Tayang di seluruh bioskop diseluruh RI pas liburan sekolah mulai 20 Juni 2019.

Berkisah tentang Farel Amaral dan Oscar Lopez yang tinggal di perbatasan NTT-Timor Leste. Meski hidup dengan kesederhanaan, rasa cinta mereka terhadap tanah air sangat dalam.

Berawal dari seminggu menjelang perayaan 17 Agustus ketika empat sekawan (Farel, Oscar, Anton dan David) akan mengikuti lomba panjat pohon pinang yang meriah.

Mereka bukannya bersatu, justru berdebat hadiah mana dulu yang akan diambil di puncak pohon pinang. Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah dan putih milik Farel hilang entah kemana.

Takut dimarahi ayahnya,Farel, Oscar dan teman-temannya berupaya mengumpulkan uang untuk membeli cat pengganti yang hilang. Namun, tidak cukup masalah itu saja masalah yang membelit mereka. Mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa stok cat merah putih sudah habis karena perayaan 17 Agustus semakin dekat.

Perjalanan Oscar dan teman-temannya guna merayakan hari Kemerdekaan RI, menjadi cerita utama film ini.

Kak Seto Mulyadi, tokoh pendidik anak-anak yang nonton film ini mengatakan, ada perasaan terharu, tertawa dan banjir air mata menjelang ending. (pik)

Reza Rahadian Jadi ‘Pria Sensi’

JAYAKARTA NEWS – Berbeda dengan peran-peran sebelumnya, aktor Reza Rahadian kali ini mendapatkan peran yang lain daripada yang lain.

 “Saya jadi cowok sensitif terhadap cinta. Namanya Tristan yang merasa trauma dalam kehidupannya,” kata Reza Rahadian yang jadi pemeran utama dalam film ‘Toko Barang Mantan’  (TBM) karya sutradara Viva Westi.

   
“Perannya cukup unik, introvert. Misterius, diam terus, ” ujar aktor yang juga saat ini sedang syuting dalam film ‘Habibie 3’ di Jakarta.

Bagi dirinya, peran ini ‘something different’  dan dia banyak berdiskusi dengan sutradara Viva Westi dan penulis skenario Titien Wattimena.

“Saya sangat ‘pede’ , all ready. Begitu syuting Habibie 3 kelar, saya memasuki syuting film TBM yang juga mengambil lokasi seputar Jakarta dan kota lain,” ungkapnya.

Film bergenre komedi romantis produksi MNC Pictures ini mengusung tema yang berbeda dari kebanyakan film-film yang bertema cinta. Beragam cerita sedih maupun lucu tergambar dari kisah-kisah barang pemberian mantan pacar yang dijual. Hal ini menjadi bagian yang harus dilalui Tristan, pemilik Toko Barang Matan. Karena ia haarus mendengar cerita dibalik barang dari mantan yang akan dijual.

Tristan bosan sering mendengarkan kisah cinta yang kandas. 

“Namun, saya harus tetap menjalani usaha toko barang mantan untuk bertahan hidup,” tambahnya.

Sampai suatu ketika, benih cinta tumbuh di hati Tristan saat berkenalan dengan Laras (Marsha Timothy). 

   
Reza Rahadian mengatakan, di tokonya ia acap mendengarkan cerita cinta dari orang lain. 

 “Ini cerita sangat unik. Dialog yang puitis akan bertabrakan dengan cerita-cerita kisah cinta yang lucu dan konyol yang terjadi di Toko Barang Mantan,” paparnya.

   
Pendapatnya tentang barang-barang mantan pacar, daripada dibuang, atau disimpan jadi kenangan pahit, mending dijadikan uang saja.

Film  TBM selain dimeriahkan Reza Rahadian dan Marsha Timothy, juga disesasi banyak pemain senior dan junior yang merupakan ‘ensembel’ berkualitas, antara lain Roy Marten, Dea Panendra, Widi Mulia, iedil Putra, Shifa Hadju, Niken Anjani, Fandy Chouw, Stella Cornela, Martin, Ibob dan Cemen. (pik)

Fedi Nuril Harus Pakai Gigi Tonggos Lagi

JAYAKARTA NEWS – Untuk kedua kalinya, aktor Fedi Nuril yang meroket namanya lewat peran sebagai Fahri dalam film ‘Ayat Ayat Cinta’, harus memakai gigi tonggos lagi untuk perannya sebagai Doyok di film ‘Mendadak Kaya’ yang beredar di bioskop, 20 Juni 2019 ini. Yang pertama, Fedi Nuril mengenakan gigi tonggos di film ‘Doa’.

“Ini ulah pak Manoj Punjabi (produser) dan Anggy Umbara (sutradara). Saya harus memakai gigi tonggos palsu, Dan juga harus menggelapkan kulit. Pokoknya, saya harus membiasakan diri berdialog dengan gigi palsu saat menggerakkan otot bibir dan wajah,” kata Fedi kepada penulis.

Saat syuting di lokasi, Fedi mengajak isteri dan anaknya.

“Anak saya sampai enggak kenal ayahnya. Wah…gawat…,” ujar Fedi tertawa.

Yang lucu, anaknya biasa tertawa kalau diajak bercanda dengan ayahnya. Ini malah merengut dan bingung.

Ada kesulitan enggak saat syuting ?

“Sulit makan. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa jugal…yah…namanya cari makan, peran apa pun, saya lakukan,” jawab Fedi serius.

Dikatakannya, ‘Mendadak Kaya’ adalah drama komedi khas perkotaan yang menggelitik. Ada intrik dengan sedikit bumbu laga penuh taktik.

“Film ini enggak hanya segar secara cerita, tapi juga menyegarkan bagi saya sebagai aktor,” imbuhnya.

Kisah Doyok pernah dimuat di harian Pos Kota sejak tahun 1970an. Ceritanya demikian : Ali Oncom (Dwi Sasono) dikejar debt collector. Namun pada saat yang sama, ia juga mendapat tekanan dari pacarnya, Yuli (Jihane Almira) yang ingin segera dinikahi.

Otoy (Panji Pragiwaksono) diancam akan diceraikan Eli (Nirina Zubir) dan diusir dari rumah orang tua Eli karena tak pernah memberi nafkah.

Permasalahan mereka berdua tak kalah rumit dengan Doyok (Fedi Nuril) yang harus mengganti rugi uang puluhan juta rupiah kepada Mang Ujang (Ence Bagus), karena secara tidak disengaja membakar warung kopi miliknya.

Situasi tersebut membuat Doyok, Otoy dan Ali Oncom harus menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat. Mereka terpaksa melakukan aksi tipu-tipu, menyamar jadi pengemis dan pengamen waria hingga akhirnhya terlibat transaksi misterius antar gangster.

Tidak disangka, peristiwa itu justru membawa keuntungan bagi ketiganya karena berhasil membawa kabur uang milirian rupiah. Mimpi mereka menjadi orang kaya pun tercapai.

Satu hal yang mereka tidak pahami, adalah kekayaan tersebut justru menghadirkan petaka di kemudian hari. (pik)

5 Film Nasional Merajai Bioskop di Liburan Lebaran

JAYAKARTA NEWS – Suguhan film Nasional bukan lagi sebagai ‘kuburan’ bagi bioskop seluruh Indonesia.

Lebaran 2018, film Kuntilan menggaet 1.236.000 penonton. Si Doel the Movie meraih 1.757.653 penonton dan Single (2015) menggiring 1.351.324 penonton.

Untuk tahun 2019 ini, belum diperoleh data tentang jumlah penonton yang pasti. Namun, Lebaran tahun ini, 5 film Nasional ‘merajai’ bioskop XXI, 21, Premier. Belum lagi di Cinemaxx dan CGV.

Diperoleh data dari pihak bioskop Kuntilanak 2 memperoleh 307 layar, Single 2 (302), Ghost Writer (287), Hit & Run (283) dan Si Doel 2 (379).Ditotal, 1558 jumlah layar di Indonesia dikuasai 5 film Nasional.

Jumlah layar seluruh Indonesia ada 1750 lbuah Berarti sisanya adalah film-film asing/Hollywood, yaitu Aladdin, Godzilla dan John Weick 3.

Belum tahu, dari 5 film Nasional, manakah peringkat pertama, kedua dan terakhir yang bakal menggaet jumlah penonton terbanyak ? Mungkin setelah 7 hari paska Lebaran, kita baru dapat data dari pihak bioskop.

Diperoleh kabar, Si Doel 2 di hari pertama Lebaran (5 Juni) memperoleh jumlah penonton lumayan banyak dan hal ini berarti ada pertambahan layar.

Si Doel 2 masih disutradarai Rano Karno. Konfliknya kali ini tertuju pada Sarah (Cornelia Agatha) yang telah melahirkan anaknya di Belanda, Doel Junior (Rey Bong). Konflik lain muncul mencuat, masalah Zaenab (Maudy Koesnaedi), ibunya yang menjanda sepeninggal ayahnya ingin dinikahi duda tua beranah tujuh. Masalah Mak Nyak yang lumpuh tapi tak ingin Doel berpoligami. Masalah si bujang lapuk Mandra dengan Munaroh, pacar lamanya. Bagaimana cara atau kiat menuntaskan semua konflik dengan arif dan bijaksana ?

Si Doel 2 berdurasi 90 menit dan lolos sensor untuk 13 tahun ke atas.

Tak kalah seru adalah Single 2, durasi 90 menit dan untuk 13 tahun ke atas.

Masih disutradarai Dika Angkasaputra Moerwani Nasution alias Raditya Dika, masalah yang mencuat masih di seputar Ebi yang sudah berusia 30 tahun, tapi belum dapat pacar.

Ebi tetap jomblo alias single. Sejak SMP, belum pernah berpacaran lagi. Padahal adiknya, Alva, akan menikah. Ebi bertekad sebelum ultahnya yang ke 20 harus punya pacar. Namun, ia belum tahu bagaimana caranya.

Dibantu 2 temannya, Wawan dan Victor, ia berusaha melakukan pendekatan dengan cewek. Sebagai pemeran utama adalah Raditya Dika, dibantu Annisa Rawles, Arief Muhammad, Mentari Novel, Yoga Arizona, Ridwan Remin, Rina Hassim, Dede Yusuf dll.

Film Single 2 sangat memukau sinematografinya yang ditagani oleh Muhammad Firdaus. Kali ini, Firdaus berhasil ‘memindahkan’ keelokan dan keindahan Pulau Dewata Bali ke layar lebar. Jalan tol laut ke Pulau Nusa Dua bena-benar indah dilihat. (pik)

Sampai Sekarang Masih Menjomblo, Ini Curhat Via Vallen

Via Vallen–instagram

JAYAKARTA NEWS— Setiap orang yang jomblo yang usianya di atas 25 tahun pasti ‘BT’ kalau sering ditanya kapan menikah. Baik perempuan ataupun laki-laki, akan merasakan perasaan yang sama (BT) jika sering ditanya soal menikah. Pertanyaan yang menjengkelkan itu, biasanya muncul di momen dimana keluarga besar berkumpul. Itu juga yang dirasakan Via Vallen, penyanyi yang namanya tengah ‘ngehits’ di kalangan pencinta dangdut.

Lebaran lalu misalnya. Via yang menyempatkan mudik  ke Sidoardjo, Jawa Timur, untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, kerabat dan teman-temannya, kembali mendapat pertanyaan seperti itu dari kerabatnya. Ya maklum lah. Namanya juga saudara yang jarang ketemu, begitu ketemu Via langsung penasaran dan bertanya kapan menikah.

Sebenarnya tidak heran juga kenapa para kerabat dan teman-temannya menanyakan soal nikah. Pasti karena  melihat usia ‘Ratu Pop Koplo’ itu yang  hampir 27 tahun. Usia yang cukup matang untuk memasuki ‘gerbang pernikahan’ .

Acara kumpul kerabat saat Lebaran—instagram viavallen

Via sendiri sebenarnya sudah mengira pastilah nanti dalam pertemuan dengan orang-orang dekatnya saat Lebaran, pertanyaan soal kapan menikah akan muncul lagi. Karena memang  hal seperti itu selalu saja ada saat kumpul-kumpul kerabat dan teman. Tapi tetap saja, ketika pertanyaan itu benar-benar muncul, dirinya pun menjadi agak ‘BT’.

Seperti diungkapnya dalam akun instagramnya, “Seperti biasa di hari Lebaran itu ngumpul keluarga, kerabat, teman-teman. Pertanyaan yang sama dan berkali-kali sampek ngapal di pikiran adalahhhh ‘Ya awakmu kapan rabi’ (Ya kamu kapan nikah) Aku jawab, ‘Mene loh nek onok yo gak kesuwen aku wes langsung sikat (besok loh kalo ada ya ga pake lama langsung sikat). Sambil ngegas tapi,” tulisnya.

Bicara menikah, mungkin sepertinya agak terlalu jauh. Karena sampai sekarang pun tidak pernah terdengar kalau gadis bernama asli Maulidyah Oktavia, ini, tengah menjalin asmara dengan seorang pria. Sejak kemunculannya di blantika musik nasional pada 2017 lalu, Via seolah fokus pada kariernya yang memang kini tengah melambung. Itu juga diakui oleh Via.

Via Vallen–instagram

COWOK TAJIR MELINTIR DAN TAMPAN

Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan oleh Net tv beberapa waktu lalu, pelantun tembang ‘Selow’, ini, mengaku mimiliki banyak teman dekat pria namun dari semua itu tidak ada yang dia taksir. “Kalau yang deket sih banyak ya, Tapi kalau yang menjalin hubungan yang bener-bener serius, memang belum,” ujar Via.

Sebenarnya, kata Via, dia tidak memiliki kriteria tertentu untuk pria yang disukainya. Yang terpenting, ucapnya, dia dan pria itu bisa langsung ‘klik’. “Jadi nggak ada kriteria tertentu. Misalnya harus tajir melintir atau tampan banget, enggak lah. Sebelumnya Via  juga pernah menjatuhkan hati pada seseorang, orang (pria) itu adalah biasa-biasa saja. Jadi nggak ada kriteria harus bagaimana-bagaimana,” jelasnya.

Selama ini, ujarnya, dirinya merasa belum pernah ‘klik’ dengan pria manapun. Itu sebabnya dirinya sampai sekarang belum punya pacar.  ‘Itu makanya kenapa sampe sekarang  nggak ada yang nyangkut,” kata gadis asal Sidoardjo, ini.

Namun begitu, sekalipun tidak mempunya kriteria tertentu, Via berharap kelak dia tidak mendapat pacar dari dunia entertainment. “Aku ngindarin banget ya (pacar dari dunia entertainment). Soalnya yaaa, aku tahu sendiri lah dunia entartainment kayak gimana,” tambahnya.

Tentang orangtua, diakui Via kalau orangtuanya kerap menanyakan hal tersebut, khususnya ibunya yang mengaku sudah ingin memiliki cucu dari Via. “Paling mama ya yang pernah ngomong pengen punya cucu. Kalau papa lebih mensupport pada karier Via,” katanya. Dulu sih, memang, pernah punya target menikah usia 25 tahun. Namun nyatanya sekarang malah usia itu sudah terlampaui. “Sebenarnya dari kemarin-kemarin tuh kan sudah ada target, kepengennya usia 25. Tapi ini udah keterusan (melewati umur), ya sudah lah. Toh, jodoh tidak akan kemana,” kata Via sambil tertawa. ***ebn

Makin Laris, Joe Taslim Bintangi Hit & Run

JAYAKARTA NEWS – Sejak bermain bersama Iko Uwais dalam film ‘The Raid : Redemption’, mantan atlet judo asal Palembang Johannes (Joe Taslim, 37 tahun) kini makin laris bermain dalam sejumlah film laga. Bahkan, dia juga ikut bermain dalam film ‘Fast & Furious’ 6 di Hollywood.

Kini, Joe yang pernah meraih medali perak di Sea Games 2009 lewat cabang judo baru saja merampuingkan film terbarunya bertajuk ‘Hit & Run’ produksi Screenplay Film bekerjasama dengan Legacy Pictures, Bukalapak Pictures dan Nimpuna Sinema .

Disutradarai Ody C. Harahap, Joe selain berperan sebagai pemeran utama, juga bertindak selaku kreatif produser.

“Awalnya saya menolak, karena saya mau fokus main film saja. Tapi rekan-rekan mendaulat saya dan akhirnya saya pun setuju. Saya coba saja deh..,” kata Joe yang berharap ‘Hit & Run’ yang akan tayang tepat di hari Lebaran tanggal 4 Juni 2019 bisa mencapai box office (penonton melebihi di atas 1 juta orang).

Kali ini, Joe berperan sebagai polisi selebriti bernama Tegar Saputra yang ditugasi memburu Coki (Yayan Ruhiyan), gembong narkoba yang kabur dari penjara. Akibat ulah Coki inilah, adik Joe sempat ditawari permen narkoba dan nyaris meninggal dunia. Untung, jiwanya terselamatkan.

Sebagai film aksi komedi, film ini menghadirkan adegan seru dan intens antara Joe Taslim dan Yayan Ruhian.

Yayan Ruhian baru saja membintangi film ‘John Wick 3’ produksi Hollywood yang kini masih tayang di bioskop seluruh Indonesia.

Duel Joe Taslim dan Yayasan Ruhian menjadi peristiwa penting dan dinantikan karena ini adalah reuni pertama mereka sejak terlibat dalam film ;The Raid : Redumption’, 8 tahun silam.

Adegan baku hantam antara atlet judo melawan atlet pnecak silat ini benar-benar intens dan berdarah-darah menjelang ujung cerita.

Meski demikian, penulis skenario Upi dan Fajar Putra tak melulu menyuguhkan duet seru, tapi juga memasukkan bumbu-bumbu komedi.

Lewat karakter tokoh yang membantu Joe, yaitu Chandra Liow sebagai tukang tipu teri bernama Liow dan Jefri Nichol.sebagai bocah yang diperbudak cinta dan cengeng, akhirnya di ending cerita, Joe berhasil mengalahkan dan membekuk Coki.

Tak ketinggalan kemunculan Tatjana Saphira sebagai Meisa, penyanyi dangdut yang centil, membuat film ini mempunyai daya pikat keseruan. Sebuah perpaduan yang ciamik antara unsur laga, komedi dan musik dangdut. (pik)

Tuntutan Peran, Biar pun tak Nyaman Abimana Harus Kenakan Kostum Gundala

JAYAKARTA NEWS – Dalam penggarapan film Gundala, Abimana Aryasatya telah diputuskan menjadi pemeran Gundala (Sancaka, Putra Petir).

Kostumnya dirancang di Indonesia, tetapi diproduksi di Amerika. “Enggak nyaman dipakai. Tapi ini harus, sesuai casting. Pas gue buka, gue basah kuyup,” kata Abimana belum lama ini.

Dikatakan, kostumnya begitu dipakai sangat panas dan gerah. “Entah bahannya terbuat dari apa. Tapi gue harus pakai. Walau gue sulit bernapas,” ujar Abimana.”Kostumnya superketat dan superpanas. Tapi enggak berat,” kata Abimana.

Selama syuting yang banyak melibatkan tokoh Gundala, dengan sendirinya Abimana harus memakai kostum tersebut.

“Anggap saja gue terbiasa pakai kostum ini di pabrik,” tambahnya.

Jagoan komik karya Hasmi (almarhum) dari Yogyakarta yang populer di tahun 1969 ini produksi bersama Bumilangit Studio, Screenplay Films dan Legacy Pictures. Disutradarai dan skenario ditulis oleh Joko Anwar.

Selain Abimana, film ini juga dimeriahkan oleh banyak bintang top, diantaranya Tara Basro, Bront Palarae, Muzakki Ramdhan, Rio Dewanto, Marissa Anita, Ario Bayu dan Cecep Arif Rahman (aktor Indonesia yang lihai pencak silat). Cecep juga ditunjuk sebagai koreografer laga.

Anak Cecep yang bernama Faris Fadjar yang juga mendalami pencak silat khas Jawa Barat juga tampil di film ini.

Pengerjaan film ‘Gundala’ memang tidak main-main. Semua usaha diberikan untuk menghadirkan film jagoan Indonesia pertama yang digarap serius dalam bentuk film. Syuting memakan waktu 53 hari di Jakarta, Cilegon dan Purwakarta. Melibatkan sekitar 1800 pemain figuran terutama yang bisa main pencak silat.

Bicara soal kostum, Abimana khusus diterbangkan ke Amerika Serikat untuk proses fitting di Watchmen dan Daredevil (Netflix).

“Ini pengalaman baru bagi saya. Di sana, semuanya dikerjakan secara profesional dengan standar internasional,” ceritanya mengenai proses yang dijalaninya.

Bagi sutradara Joko Anwar, sebuah kebanggaan dapat mengerjakan film Gundala. “Saya penggemar fanatik komik Gundala. Diangkat ke film, dikerjakan total kurang lebih 2 tahun. Ini skenario yang paling susah dibuat. Penulisan skenario yang saya tulis sendiri sampai 4 bulan. Saya butuh tempat yang tenang, sebagian saya tulis di museum dan di kuburan,” kenang Joko Anwar yang acap dipanggil Jokan.

Karakter yang dimiliki Gundala, lanjutnya, tetap dengan menggunakan catatan yang dibuat oleh pelukis Hasmi, tapi sensibilitas Gundala harus cocok dengan keadaan masyarakat zaman sekarang. Lebih grounded dan based on reality. (pik)

Adi Kurdi: Sinetron Keluarga Cemara, Kisah Nyata Orang Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Apa kabar Adi Kurdi ?

Lima belas tahun berlalu, pemeran Abah dalam sinetron ‘Keluarga Cemara’ itu —tontonan ini tayang terakhir pada 24 Agustus 2004 dengan memutar 412 episode)— kini kesehatan Adi Kurdi sedikit memburuk. Penglihatannya mulai kabur, dan berjalan pun tidak segesit dulu. Pelan.

“Tapi semangat saya masih berkobar.Tuhan kasih jalannya. Mas Dedi Setiadi (sutradara Keluarga Cemara) suatu hari datang kepada saya dan mengajak saya kembali main film dengan seluruh pemain awal sinetron Keluarga Cemara,” kata Adi Kurdi belum lama ini di restoran Cikini Lima, Jakpus.

“Tentu saja saya senang, dan ketika saya tanyakan kepada mas Dedi Setiadi, siapakah yang jadi Emak di film yang bakal berjudul ‘Terima Kasih Emak. Terima Kasih Abah’. karena pemeran Emak dahulu ada 3 aktris yaitu Novia Kolopaking, Lia Waroka dan Anneke Putri. Dan mas Dedi langsung menyebutkan nama Novia Kolopaking (isteri budayawan Emha Ainun Nadjib), alhamdullilah, ini paling cocok…,” ungkap Adi Kurdi.

Mantan pemain Bengkel Teater WS Rendra ini lebih jauh memaparkan, Keluarga Cemara itu bukan film, melainkan kisah nyata orang Indonesia , dengan kehidupannya sehari-hari.

“Saat ini, jarang ada film yang bersifat mendidik. Nah, Keluarga Cemara ini adalah mengisahkan hubungan antara ibu dan anak-anaknya yang enggak boleh terputus. Ini pesan positifnya,” imbuhnya.

Ketika ditanya, bagaimana pendapatnya tentang film ‘Keluarga Cemara’ yang telah difilmkan oleh Visinema Film ?

“Saya sangat kecewa. Masa abah marah-marah kepada anak-anaknya ? Ini enggak benar.” jawab Adi Kurdi.

Sinetron Keluarga Cemara mengingatkan kita bahwa keluarga adalah segalanya. Keluarga selalu menjadi tempat pertama untuk berbagi kasih sayang, mengatasi masalah yang sedang dialami salah satu anggota keluarga dan membentuk karakter diri masing-masing individu dalam keluarga.

Menceritakan mengenai kehidupan satu keluarga yang sederhana yaitu Abah (Adi Kurdi), Emak (Novia Kolopaking), Euis (Ceria Hade), Cemara (Anisa Fujianti) dan Agil (Puji Lestari). Tokoh pendamping lain adalah Tante Presier, Mang Jana, Bi Eha, Pipin, Bi Salmah, Mang Cece dan Pak Wangsa. Di film nanti, akan ditambah dua pemeran baru yaitu Prasetya (suami Ara, formal, angkuh, selalu merasa benar sendiri) dan pacar Agil (ganteng, religius tapi egois).

Emak tetap menjadi tumpuan atau pusat curhat semua anaknya. Emak selalu meladeni semuanya secara intens bersama Abah yang ikut berperan disemua proses. Emak selalu menawarkan hal ideal dengan referensi yang formal seperti agama (tetapi tanpa ayat dan sebutan sumbernya) dan Abah menduniakan formula tersebut menjadi cair seperti yang ada dikenyataan sehari-hari.

Sutradara Dedi Setiadi menambahkan, syuting ‘Terima Kasih Emak. Terima Kasih Abah’akan dilakukan di Sukabumi seusai Lebaran 2019.

“Saya tidak buru-buru. Saya harus menuntaskan skenario yang tinggal sedikit lagi,” ujar Dedi Setiadi mantap.

Sedangkan Anas Syahrul Alimi, produser eksekutif dari Alimi Pictures sangat optimistis, film ini bakal sukses dan mendapat apresiasi dari masyarakat. “Ketika saya SD, saya nonton Keluarga Cemara di televisi. Ini sinetron pesannya luar biasa.

Enggak disangka saya bakal dilibatkan dalam pembuatan film ini. Film baru dengan pemain-pemain lama sinetron,” ungkap Anas Syahrul Alimi yang juga seorang promotor musik sukses dari Yogyakarta, Nantinya bersama 2 produser yaitu FX Rudy Gunawan dan Ucok Hasibuan, Anas Syahrul Alimi bakal terjun ke dunia film untuk seterusnya. (pik)