Anak-anak Difabel ‘Ngedance’ Bersama EKI Dance Company

JAYAKARTA NEWS – SENI – khususnya seni tari dan musik – berhasil memadukan keterampilan unggul dari para penari dan penyanyi Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) Dance Company dengan insan-insan Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Jakarta, khususnya penyandang disabilitas fisik (Cerebral Palsy).

Tari dan nyanyi telah memacu rasa percaya diri insan istimewa YPAC Jakarta. Dengan latihan intensif dan disiplin, mereka berupaya menggelar penampilan, mengekspresikan kegembiraan dan keceriaan untuk menyapa khalayak di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), belum lama ini.

Disabilitas istimewa YPAC Jakarta tidak menyuguhkan kekurangan yang harus ditutupi dan ditenggelamkan, tetapi harus digali dan guna memperoleh suatu keunggulan yang spesial.

Delapan insan istimewa YPAC Jakarta , cowok dan cewek, tampil diatas kursi roda yang didorong oleh pemandunya ke atas panggung GKJ.

Sebuah nomor istimewa bertajuk ‘Aku Bisa’ merupakan segmen 1 dari pergelaran ‘EKI Update 4.1’ digebrak dengan riang. Kemudian, tampil puluhan penari cowok dan cewek dari EKI Dance Company dengan kostum milenial, warna-warni.

Show choir ini menampilkan mash up lagu ‘Aku Bisa’ dan ‘Best Day of My Life’. Mash up kedua lagu ini menunjukkan semangat hidup dan optimisme dalam mengejar impian, meski ada keterbatasan dan berbagai rintangan.

Dengan semangat optimisme, kita akan mencapai yang terbaik dalam hidup.

Ada 3 nomor tari lain yang disajikan oleh EKI Dance Company minus YPAC Jakarta. Tiga nomor tari yang berdurasi cukup singkat ini adalah Rampak Berbhinneka (koreografer Rusdi Rukmarata), Come Alive ) koreofrafer Rusdi Rukmarata dan 9 penari EKI lain) dan terakhir Stupid Baby (aransemen Michael Da Lopez).

Nomor pamungkas dibawakan oleh EKI Sound Machine yang kali ini menampilkan mash up dua nomor lagu lawas yaitu ‘Something Stupid’ dari Frank Sinatra dan Nancy Sinatra dan ‘Berdiri Bulu Romaku’ nyanyian Hetty Koes Endang.

Barulah musikal mini yang merupakan drama utama disajikan dengan durasi agak panjang. Judulnya ‘Ada Apa Dengan Sinta’, plesetan dari film terlaris ‘Ada Apa Dengan Cinta’. Delapan lagu digebrak – ya lagu Indonesia, ya lagu berbahasa Inggris dan ditutup dengan lagu berbahasa Mandarin.

Puluhan penari dan penyanyi dari EKI Dance Company berdialog lucu dan satire yang cerdas. Tema keberagaman budaya, etnis dan kepercayaan dari puak Betawi dan China dipanggungkan yang menyatu secara artistik tanpa terasakan lagi bahwa ini adalah kebudayaan Indonesia.

Yang pasti, persembahan EKI Dance Company kali in yang berkolaborasi dengan YPAC Jakarta sungguh asyik ditonton dan diresapi. (pik)

Jikustik Reunian, Usai Konser (Mungkin) Bubar Lagi

JAYAKARTA NEWS – Tak peduli grup band asing atau lokal, banyak yang mati dan bubar, hidup lagi reuni, bubar lagi.

Untuk band cewek alasannya sederhana : menikah dan punya anak, namun band cowok latar belakangnya berbeda.

Di antaranya karena pembagian uang yang tidak merata, ada pula karena manajemen yang brengsek. Masalah lainnya, vokalis yang jadi ujung tombak’ bergabung dengan band lain atau alasan kiwari : politik.

Vokalis band Nidj, Giring Ganeshai cabut dan mendadak bergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan kini vokalisnya yang baru diisi Muhammad Nur Ubay. Demikian pula band Stinky, Kangen dan Kerispatih, terkadang muncul terkadang tenggelam sekian lama. Istilah populernya : hidup enggan mati tak mau.

Bagaimana dengan Jikustik, band yang terkenal di Jogjakarta setelah Sheila On 7 (SO7) ? Paska vokalis utamanya, Pongki Barata keluar dan hengkang ke Jakarta bergabung bersama band The Dance Company, mendadak sontak tahun ini rekonsiliasi. Seperti partai politik saja, demikian pula di musik.

Sebelumnya, band Padi formasi lama menghelat konser Padi Reunion. Kemudian ada ST12 Reunion, Dr PM Reunion dan banyak band lain juga menggelar konser reuni yang sama.

Kenapa Jikustik mau menghelat konser reunian di Jogjakarta (yang pertama) dan di Balai Sarbini, Plasa Semanggil (yang kedua) baru-baru ini, 19 Juli 2019, ini jawaban Pongki Barata.

“Saya setuju dengan konsep reuni yang diajukan pak Anas Syahrul Alimi (CEO Rajawali Indonesia yang mempromote Jikustik), yaitu Jikustik Reunian hanya membawakan lagu-lagu lama dalam album pertamanya yang berjudul ‘Seribu Tahun’ yang antara lain berisi track lagu seperti ‘Perjalanan Panjang’, ‘Pagi, ‘Siang’, ‘Malam’, ‘Sepanjang Musim’ dan lain-lain. Kemudian, setelah itu, kita enggak tahu mau ngapain lagi setelah konser. Mungkin juga kita bubar lagi,” ucap Pongki.

Semula, disetujui tema konser adalah ‘Konser Rekonsiliasi’ yang lagi jadi trending topic di dunia politik. Misalnya Presiden Jokowi mengadakan rekonsiliasi dengan Prabowo.

“Kok tiba-tiba berubah jadi ‘Konser Reuni’ yang ditulis di ujung. Ya sudah, yang terpenting kita bisa manggung lagi setelah 10 tahun tidak saling sapa dan hanya berdiam diri saja. Gimana ya…sedih rasanya setelah lama kami berpisah dan enggak bertemu lagi…tapi mungkin ini sudah takdirnya, Jikustik harus bubar dulu, kemudian rekonsiliasi lalu bubar lagi dan silakan Jikustik kembali bermain musik dengan vokalis baru,” timpal Pongki yang memang memulai ribut-ribut dengan Jikustik dengan jalan cabut dari Jikustik yang kemudian diikuti oleh Icha (bas).

“Konser Reuni di Jogjakarta kemarin adalah salah satu konser Jikustik terbaik yang pernah saya lakukan. Saya mendapatkan perasaan yang luar biasa saat itu, Makanya, saya ingin mengulang kembali perasaan itu di Jakarta bersama Jikustikan (fans setia Jikustik,” ujar Pongki.

Tampil berlima yaitu Pongki (vokal, gitar), Icha (bas), Dadikz (gitar), Carlo (drum) dan Adhit (keyboard),Mereka menyuguhkan 20 lagi yang diseling dengan ‘lawakan’ dan ‘celetukan’ Pongki agar lebih menyebarkan suasana. Nomor ‘Maaf’ digebrak sebagai lagu pembuka, disusul ‘;Aku Datang’, ‘Tak Ada Yang Abadi’. ‘Untuk Dikenang’ dan ‘Seribu Tahun’. Dari lagu ke lagu yang dilantunkan Pongki, Jikustikan ikut bareng menyanyi, serta menyalakan telepon genggamnya. Terjadilah koor paduan suara nan megah dan solid.

Di tengah acara, vokalis Jikustik yang baru, Brian Prasetyo Adi pun diberi tempat untuk menyanyi. Sebuah lagu manis dilantunkan yang bertajuk ‘Tetap Percaya’. Tiga nomor pamungkas adalah ‘Puisi’, ‘Selamat Malam’ dan
‘Akhiri Ini dengan Indah’.

Benar, konser harus diakhiri dengan (momen) indah.

Tapi juga sarat kenangan.

Ada energi kerinduan, ada emosi yang terasa. (pik)

Totalitas Nyoman Wenten, Guru Gamelan di AS

JAYAKARTA NEWS – Namanya I Nyoman Wenten. Dia adalah perupa, penari, musikus dan guru besar gamelan gagrag Bali di Amerika.

Sejak tahun 1965, penggiat budaya yang kini berusia 74 tahun) itu, sudah ikut bergabung dalam misi Kebudayaan yang digagas Presiden I RI, Bung Karno dengan tugas mengajar seni musik gamelan Bali di Amerika.

Komitmen itu tetap dia pegang hingga kini. Praktis. hampir separuh hidupnya, Wenten bermukim di Amerika, tinggal bersama isterinya yang perempuan Jogjakarta bersama tiga anaknya.

“Mungkin tahun depan, saya persiapan pensiun. Saya ingin di hari tua tinggal di Bali atau di Jogjakarta bersama anak dan cucu-cucu saya,” lontar Wenten yang sejak usia 9 tahun sudah mempelajari gamelan Bali.

Saat ini, Wenten masih mengajar di UCLA Departemen Musikologi (University of California) dan Herb Alpert School of Music dan Cal Arts School of Music.

“Ketika budayawan Umar Khayam ke AS, beliau memberikan kurikulum gamelan kepada saya untuk saya praktikkan di Amerika,” kata Wenten kepada penulis.

Sebelum pensiun, Wenten mendadak sontak main film dokumenter bertajuk ‘Bali : Beats of Paradise’ yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia, Agustus tahun ini.

Film yang disutradarai Livi Zheng menampilkan keindahan pariwisata Bali dan mengangkat kisah inspiratif pemain dan komposer Nyoman Wenten yang mengejar mimpi sebagai seniman di AS lewat mus8ik gamelan Bali.

‘Bali : Beats of Paradise’ adalah film yang menceritakan semangat seluruh bangsa, yaitu The Indonesian Dream.

Dalam film itu, Wenten berkolaborasi dengan Judith Hill, pememang Grammy Awards yang sebelumnya mengajak Michael Jackson dan Steviw Wonder dan membintangi film pemenang Oscar ’20 Feet Stardom’.
Ikut serta seniman musik dan gitaris 8 jari, I Wayan Balawan.

“Saya bangga bisa main film ini. Tentang seniman Bali yang walaupun awalnya enggak punya apa-apa , namun berkat kegigihan dan percaya pada diri sendiri, akhirnya bisa sukses di luar negeri, yaitu melalui seni budaya gamelan Bali,” paparnya.

Proses syuting film dokumenter budaya ini berlangsung satu tahun, digarap di 2 lokasi berbeda yaitu Bali dan Los Angeles, Amerika Serikat. Film ini berhasil meraih pujian dan simpati dari kancah nasional dan internasional. Diputar di Academy of Mition Picture Arts and Sciences, Samuel Goldwyn Theater, Beverly Hills dan Walt Disney Animation Studios.

Selain itu, film karya Livi Zheng ini juga diputar di Korsel, dan di Singapore Airlines. Dan didistribusikan oleh iCiyi, salah satu perusahaan online streaming terb esar di dunia, yang berbasis di Beijing, China.

Di Indonesia sendiri, dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menpar Arief Yahya dan Kapolri Tito Karnavian sudah menyaksikan film ini dan mengajak agar masyarakat ramai-ramai menonton film ini yang tayang mulai 22 Agustus 2019.

“Saya berharap film ini bisa berperan memopulerkan budaya Indonesia pada dunia dan menginspirasi kaum remaja Indonesia untuk mencintai budaya bangsa,” timpal Wenten.

Bagaimana kalau ditawari main film lagi? “Lihat dulu skenarionya. Kalau filmnya mengangkat budaya Indonesia dan budaya Bali khususnya, saya mau saja,” jawab Wenten mantap. (pik)

Menanti Gimmick Dalam Konser Yovie Widianto

JAYAKARTA NEWS – Musikus Yovie Widianto (51 tahun) mengaku acap menampilkan gimmick alias kejutan-kejutan kecil yang tak disangka khalayak dalam konser musiknya.

“Gimmick itu biasa dan wajar terjadi dalam konser musik apa saja, baik pop maupun rock. Bisa dipersiapkan sebelumnya atau mendadak. Yang penting, membuat khalayak terpukau dan terkejut,” kata Yovie kepada penulis.

Dosen Komunikasi Politik IAIN Kediri, Prilani menulis di Jawa Pos, edisi 16 Juli 2019, menyebutkan bahwa pertemuan Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT Lebak Bulus bisa diartikan sebagai Gimmick Politik.

Seperti dalam konsernya yang bertajuk ‘Britama Inspirasi Cinta Yovie and His Friends‘ yang akan dihelar di Surabaya pada 7 Agustus 2019, Yovie berkata, akan menyuguhkan gimmick yang tidak terduga. Selain bakal ditampilkan seorang penyanyi senior BCL (Bunga Citra Lestari), juga akan ada persembahan istimewa berupa seorang pejabat terkenal di Surabaya akan naik panggung. Siapakah dia ?

“Rahasia dong. Kalau disebutkan sekarang, enggak surprise jadinya. Makanya, notnon saja deh…Konser yang dihelat Bank BRI dan dipromotori oleh Klik Kanan ini bakal heboh setelah konser dengan tema serupa yang merebut hati khalayak di JCC, Jakarta, 7 November 2018 lalu,” timpal Yovie.

Apakah konser di Surabaya sama atau beda dengan konser di Jakarta ?

“Jelas ada perbedaannya. Dari susunan lagu, karena konser di Surabaya akan ada lagu baru, atmosfirnya sangat beda. Spontanitasnya juga beda,” sergap Yovie lagi.

“Lagu-lagu melankolis tetap akan kami bawakan, seperti ‘Cantik’, ‘Mantan Terindah’, ‘Andai Dia Tahu’, ‘Takkan Terganti’ dan hits lainnya, saya akan tampil trio bersama Glenn Fredly dan Tulus melantunkan lagu ‘Adu Rayu,” imbuhnya.

Perlu diketahui, kolaborasi ketiga musisi tersebut ini sukses melahirkan lagu-lagu yang harmonis nan luar biasa . Nyaris 3 juta stream di Spotify dicapai dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan saja. Video lirik dan klipnya di Youtube pun viral dan menarik jutaan viewers dalam tempo singkat. Hal ini menyebabkan ‘Adu Rayu’ menjadi trending topic di media sosial, dari nada, lirik sampai cerita lagunya.

Yovie yang ayah seorang anak (dan juga jadi penyanyi) ini menambahkan, agar khalayak Surabaya baper, karena dalam konser ini dijamin membuat jatuh hati. Nama-nama besar di musik pop bakal unjuk diri di panggung, seperti Rossa, Tulus, Glenn Fredly, Kahitna, Brisia Jodie,Ypvie & Nuno, BCL, 5Romeo (boy band bentukan Yovie dan putranya sendiri, Arsy Widianto.

Bagi mereka yang menyaksikan konser Yovie di JCC tahun kemarin, pasti masih ingat, terjadi karaoke massal khalayak yang dengan semangat ikut mendendangkan lagu-lagu hits ciptaan Yovie. Ekspresi baper dan mesra dari semua yang hadir kala itu di JCC Senayan juga semakin membuat suasana malam itu terasa penuh cinta.

Satu hal pasti, Yovie Widianto berhasil menyerap pasar milenial lewat karya emasnya. “Dulu sistemnya analog, saya punya fans sendiri. Kini, zaman now, di era milenial, saya juga punya penggemar sendiri. Yang tua dan yang muda, ayah sama anak sama-sama menyanyikan lagu bertema Cinta yang saya nyanyikan dan juga penyanyi lain yang memberikan kejutan tersendiri,” kenang Yovie.

Saat ini, putra sulungnya, Arsy Widianto juga menjadi salah satu penyanyi yang digandrungi anak-anak milenial. Lantas, apakah Yowie bakal tergeser kariernya oleh Arsy ?

Waktulah yang akan menjawabnya. (pik)

Konser Musik Jeddah Siram Dahaga Kaum Milenial Arab

JAYAKARTA NEWS – Jeddah menggelar festival musik? Menyuguhkan konser? Betul. Dan ini menjadi “sesuatu banget” yang 10 tahun lalu, bahkan lima tahun lalu, tidak pernah terjadi kecuali dalam mimpi, terutama anak-anak muda di Arab Saudi.

Kamis pekan lalu, 18 Juli 2019, sebanyak tujuh megabintang tampil menghibur tidak kurang dari 20 ribu penonton pecinta musik. Penapilan ketujuh megabintang itu, menjadi penutup yang super mewah bagi pecinta musik di negeri yang mulai membuka diri dengan kebudayaan “barat”.

Selain konser musik, Arab Saudi juga sudah menyediakan sarana hiburan yang berupa bioskop. Terobosan lainnya, wanita boleh bekerja di luar rumahnya dan diijinkan pula untuk menyetir mobil.

Ya, konser itu benar-benar menutup Jeddah Seasion menjadi pengalaman yang luar biasa untuk masyarakat Arab. Tidak mengherankan, kalau kaum muda di sana tumpek bleg menghadiri konser istimewa itu. Festival Musik Jeddah benar-benar menjadi magnet bagi orang-orang Saudi dari seluruh wilayah Kerajaan itu.

Penonton memenuhi Stadion Olahraga Raja Abdullah meskipun udara panas, tetapi tidak ada yang bisa mengjalangi mereka untuk memenuhi “undangan” bersuka-ria itu.

R3wire dan Varski muncul di panggung dan disambut dengan sorak-sorai massa penonton yang mengelu-elukan punyaan mereka. Tampilan itu menghipnotis para anak muda.

Pada satu titik, ia meminta penonton untuk menyanyikan lagunya. Lalu, penonton pun ikut larut menyanyikan remixes seperti “We Will Rock You” dari Queen dan The White Stripes’ “Seven Nation Army” sebelum kemudian mixing “One Kiss” oleh Dua Lipa dan Calvin Harris.

“Jeddah World Fest di Arab Saudi sangat istimewa! Kata-kata tidak bisa menggambarkan bagaimana suasana yang penuh dengan cinta itu, ” kata R3wire.

Calvin Harris kemudian men-tweeted: “Nama baru saya adalah 50 HALALA, jadi dapatkan dengan program ini. Saya mungkin pindah ke sini saya suka. “

Rsha Khan, 27, yang menghadiri konser bersama keluarganya, mengatakan bahwa, “Kami sangat menikmati penampilan 50 Cent, karena ia menyanyikan lagu-lagu lamanya. Sangat menyenangkan untuk melihat ketika kebanyakan orang mulai bernyanyi bersama dengannya dan melompat keluar dari kegembiraan. “

Meskipun waktu Chris Brown di atas panggung berumur pendek, dengan hanya menyanyikan empat lagu, penggemar dapat bergoyang mengikuti irama hit besar “Loyal” yang menampilkan Lil Wayne dan Tyga.

Terakhir, DJ dan produser legendaris Steve Aoki yang terbang jauh dari Mykonos, Yunani, datang ke Saudi untuk mengatur panggung dengan daftar set yang sangat besar.

Massa penonton tampak melompat dan berjingkrak-jingkak mengikuti irama lagu pembukaannya, “Moshi Moshi,” sebelum pindah ke nomor klasik lain, “Bella Ciao.”

Meskipun para penpnton tampak kelelahan setelah berada di tempat selama tujuh jam, energi mereka seperti diisi ulang ketika Aoki menghipnotis mereka dengan penampilan oktan tinggi dengan lagu-lagu seperti “Rave” yang memaksa para penonton untuk melompat bersamaan.

Aoki membuat lagu baru dengan penyanyi Saudi Dalia Mubarak, khusus untuk konser ini, hanya 24 jam sebelum dia tiba di panggung. Lagu itu memiliki campuran nada Mesir dan Teluk. Ketika vokal Mubarak yang kuat meraung di udara, Aoki menari di sisinya.

“Saya sangat bersyukur berada di sini, saya merasa saya memiliki banyak penggemar di Arab Saudi,” katanya kepada para penonton yang berseri-seri yang telah menunggu sampai dini hari untuk menemuinya.

DJ internasional menyapa semua segmen penonton, memainkan dua lagu yang menampilkan artis K-pop seperti Monsta X dan BTS. Dia memastikan untuk mengembalikan cinta yang dia rasakan dari Saudi dengan mencampur dua lagu baru khusus untuk Festival Dunia Jeddah, termasuk campuran penyanyi tercinta Mesir Abdel Halim Hafez dan campuran BTS-nya dengan MIC DROP.

Festival ini memperbolehkan penonton untuk tidak hanya menikmati pertunjukan yang mereka tunggu-tunggu, tetapi juga menemukan musik baru.

Khan yang tidak begitu mengenal Steve Aoki berkata: “Dia luar biasa, itu adalah pertama kalinya kami mendengar musiknya dan langsung saya menyukainya! Dia menghanyutkan massa dengan musik yang kuat. Dia seharusnya menjadi salah satu pemain pertama karena pada saat dia datang orang-orang sangat lelah, tetapi dia masih membuat semua orang menari. ”

Beberapa penonton berjuang ‘melawan’ panas. Sara Manzar, yang menghadiri konser bersama dengan adik laki-lakinya, mengatakan: “Festival ini bagus, saya sangat menikmati 50 Cent dan Steve Aoki, tetapi akan lebih baik jika ada AC di sekitar tempat ini, karena cuacanya terlalu panas. “

Dina Ajjaj, 18, yang menghadiri pertunjukan bersama ibunya, mengatakan: “Saya benar-benar menikmati festival ini meskipun cuaca sedang buruk. Bintang-bintang yang datang membuat malam ini sempurna. Aku sangat mencintai Steve Aoki, itu bagian terbaik dari pertunjukan pada malam itu! Saya tak sabar untuk menghadirinya tahun depan. “

Raneem Has Ibrahim, 30, berpikir bahwa acara itu diselenggarakan dengan lancar. “Stadion ini dekat dengan semua orang, dan gerbang sangat terorganisir dengan baik. Asisten sangat membantu dan dalam semangat yang baik meskipun ada tekanan. Sangat menyenangkan melihat keamanan dan ambulan di sekitar jika orang membutuhkannya, ” katanya.

“Konser itu sendiri adalah hot,” tambah Ibrahim. “Ini melebihi harapan dan saya sangat senang bahwa kami menghadiri konser internasional seperti ini di Jeddah.”

Jeddah Season adalah bagian dari proyek Musim Saudi untuk memamerkan dan mempromosikan kota-kota di Kerajaan itu sebagai tujuan wisata utama, dan untuk mendorong kemitraan dengan bisnis lokal.

Festival yang berlangsung 41 hari itu mencakup lebih dari 150 acara dan kegiatan yang menampilkan aksi lokal, regional dan internasional.***

“Kembali ke Awal” Jadi OST Film “Twivortiare”

Jayakarta News – Singel terbaru bertajuk “Kembali Ke Awal” milik penyanyi berdarah Maluku, Glenn Fredly yang juga jadi bagian album teranyarnya ternyata diminati oleh MD Music dan MD Pictures untuk jadi original soundtrack (OST) lagu utama di film layar lebar Twivortiare yang siap edar di bioskop mulai 29 Agustus mendatang.

Glenn Fredly mengomentari ini sebagai komitmen kepercayaan yang dibangun dan diperjuangkan serta dijalankan bersama-sama antara dirinya beserta Bumi Entertainment, Manoj Punjabi (MD Pictures), Iman Sastrosatomo (MD Music) bekerja bareng Langit Musik dan Musik Bagus Indonesia.

Terbilang nyambung karena lagu “Kembali Ke Awal” bermuatan lirik tentang pandangan pribadi dirinya sendiri mengenai kisah asmara.

Menceritakan perihal retrospektif hubungan, dimana memandang sesuatu hubungan menjadi dua sisi.

Introspeksi soal ego pribadi masing-masing yang menjadi titik fokus penting buat keluar dari sebuah permasalahan.

Lagu “Kembali Ke Awal” diproduseri oleh Ifa Fachir, salah seorang pendiri dan sebagai pianis di kelompok band Maliq & D’Essentials.

Manoj Punjabi dalam keterangannya, menyatakan memproduksi film besar seperti “Twivortiare” mengharuskan kita juga mementingkan karya lagu original soundtrack (OST) yang dikerjakan oleh sosok nama yang sudah memiliki brand reputasi, atau artinya film besar bukan saja cuma berdasarkan dari karya novel laris ataupun lantaran disukai masyarakat luas.

Manoj ikut mencontohkan dinamika luar biasanya lagu-lagu OST di film-film sekuel bergenre drama yang diproduksi MD yaitu “Ayat-ayat Cinta” dan “Habibie & Ainun”.  (john js)

Film ‘Menari’ Dirilis di Depan Para Raja dan Sultan Nusantara

JAYAKARTA NEWS – Apa itu kebudayaan ?

Menurut Prof Dr Koentjaraningrat, kebudayaan adalah keseluruhan perilaku dari manusia dan hasil yang diperoleh melalui proses pelajaran dan segalanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.

Dalam hidup, manusia tak lepas dari kebudayaan. dan adat istiadat. Kebudayaan yang berfungsi sebagai identitas dan ciri khas dan untuk itulah keberadaannya sangat penting.

Memang, kebudayaan adalah hasil dari karya cipta, rasa dan karsa manusia. Meski berujud abstrak, kehadirannya mampu mempengaruhi pengetahuan seseorang, terutama gagasan dan ide-idenya.

Setiap kelompok dan golongan masyarakat tertentu memiliki kebudayaan yang berbeda-beda. Bersifat turun temurun dari generasi ke generasi terus diwariskan.

Hal tersebut jelas terlihat ketika menonton film dokumenter bertajuk ‘Menari : An Indonesian Dance Legacy’ yang disutradarai oleh Natasha Dematra dari Indonesia bersama sineas senior Cheryl Halpern. Film dokumenter ini dibuat oleh HQ Creative (sebuah rumah produksi yang berpusat di AS) yang beberapa kali meraih Emmy Awards.

Yang unik, peluncuran film ‘Menari…’ dihelat di XXI Planet Hollywood Jakarta di hadapan Raja dan Sultan Nusantara (antara lain Raja Pajajaran, Kasepuhan dan Kanoman dari Cirebon, Jogjakarta, Riau dll) yang khusus diundang untuk memperingati Hari Kemanusiaan Internasional (World Humanitarian Day) yang penggagasnya adalah Damien Dematara dari Indonesia.

Pembuatan film ini dilakukan di empat kota di Jawa, yaitu Semarang, Jogjakarta, Bali dan Jakarta. Proses syuting dan paska produksi berlangsung selama setahun.

Dengan durasi 30 menit, kita akan terpukau melihat deretan sinematografi nan apik dan artistik dari film ini. Lihatlah ketika pelaku Rama dan Rahwana dalam cerita Ramayana dan Candi Prambanan.

Pelaku Rama sudah agak sepuh namun dua orang anaknya yang masih berusia dibawah 10 tahun bicara dalam bahasa Inggris bahwa mereka akan menggantikan orang tuanya untuk terus menari. Ini sebagai bukti bahwa kebudayaan bersifat turun temurun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Di Bali juga demikian. Di Pulau Dewata ini, banyak anak sejak usia balita sudah diajarkan menari daerah . Setiap hari mereka bersekolah, bekerja dan berkesenian/berkebudayaan. Menari bagi mereka adalah ibadah.

“Saya dan ibu Cheryl Halpern sangat enyoy dan enggak ada kendala apapun ketika membuat film ini. Cuaca juga sangat membantu kita selama syuting di daerah,” cerita Natasha Dematra.

Deretan gambar yang tersaji di depan kita benar-benar satu bentuk kebudayaan yang agung dan sakral di Indonesia. Indonesia bisa mempersatukan hal tersebut sesuai dengan semboyan yang dimiliki oleh negara, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang artinya ‘walau berbeda-beda namun tetap satu’.

“Cultural Diversity sudah jadi keniscayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Dan hal ini tak dapat ditolak lagi keberadaannya,” papar Natasha lagi.

Senada dengan yang dilontarkan oleh Cheryl Halpern. “Semua adalah mungkin dalam berkarya guna memberi tujuan-tujuan sosial melalui suara-suara kemanusiaan yang otentik dan jujur. Tim kami kedepankan suara kemanusiaan yang nyata dalam masyarakat melalui seni film,” ujar Cheryl Halpern.

Puncak-puncak kebudayaan terdiri atas kebudayaan daerah yang mengarah kepada kewilayahan yang menjadi pertemuan antara adat yang satu dengan yang lain. Kebudayaan Indonesia mau tak mau disesuaikan dengan geografi daerahnya, apakah di pegunungan, di tepi pantai atau di suatu daerah dekat pemukiman.

“Sebagai warganegara Amerika, saya merasa iri dengan kebudayaan Indonesia. Di sini kebudayaannya beraneka ragam, Ini merupakan keunggulan tersendiri dibanding negara lain,” sergap Cheryl Halpern.

Dan pernyataan Cheryl Halpern kemudian ditutup oleh Natasha Dematra yang bangga sebagai warganegara Indonesia. “Kebudayaan kita sangat majemuk. Lihatlah budaya gotong royong di daerah-daerah. Ini mencerminkan bahwa budaya Indonesia oleh suatu kelompok tertentu masih hidup dan diwariskan turun temurun ke generasi berikutnya. Kita harus menjaganya agar jangan punah atau diakui sebagai budaya bangsa lain,” tandas Natasha Dematra.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia – ada 18.000 pulau dan 6000 pulau tak ada penghuninya – , kita dipersatukan oleh sekitar 700 bahasa (dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan), suku, adat istiadat, agama dan kepercayaan serta kebudayaan daerah. Keragaman budaya dalam NKRI yang didalamnya
dipenuhi kekayaan yang tak ternilai.

“NKRI harga mati. Bhineka Tunggal Ika sudah enggak bisa ditawar lagi,” demikian prinsip Natasha Dematra.

Selain itu, juga diumumkan film terbaik yaitu ‘Remembering : The Story of Maurits Kiek‘, film dokumenter yang mengambil tema pahlawan Belanda, Maurits Kiek yang berjuang bagi kemanusiaan, saat ia melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh Nazi di masa pendudukan Jerman selama Perang Dunia II. (pik)

BJ Habibie Menangis Dengarkan Lagu OST Habibie & Ainun 3

SELAIN dipercaya menjadi Ainun Habibie dalam film ‘Habibie & Ainun 3’, sutradara Hanung Bramantyo juga menunjuk Maudy Ayunda (24 tahun, yang menjadi Ainun) menjadi penyanyi original sound track (ost) dalam film tersebut.


“Saya diminta bagian dari sebuah lagu ciptaan Melly Goeslaw bertajuk ‘Kamu dan Kenangan’ yang berangkat dari kisah cinta sejati Bapak BJ Habibie dan isteri tercinta, ibu Hasri Ainun Bestari,” ucap Maudy dalam peluncuran OST tersebut di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Jakarta.


“Saya diminta teh Melly Goeslaw, ini kebanggaatn buat saya. Lagunya sendiri,waktu saya pertama kali dengar demonya, sudah bisa membayangkan bagaimana sedih dan harunya film ersebut. Liriknya sangat dalam dan lugas, sangat menggambarkan rasa cinta pak Habibie ke ibu Ainun. It’s such a perfect song for the movie,” kata Maudy.


Bahkan pak Habibie menangis ketika pertama mendengarkan lagu yang dilantunkan oleh Maudy. “Kata pak Habibie, liriknya memiliki makna mendalam,” katanya. Selain itu, keluarga BJ Habibie pun ikut tersentuh mendengarkan lagu tersebut.

Ketika mendendangkan lagu ‘Kamu dan Kenangan’, diiringi balutan string yang sangat apik yang dibuat oleh Anto Hoed, suami Melly Goeslaw.

Melly Goeslaw sendiri mengatakan, lagu yang ia ciptakan terinspirasi dari skenario, karena ost mrmang liriknya harus berdasarkan skrip, ini diambil dari sudut pandang BJ Habibie yang kesepian sejak ditinggal ibu Ainun.
Video musiknya makin terasa megah yang disutradarai oleh Davy Linggar. BJ Habibie dihadirkan dalam video klip tersebut.

Maudy Ayunda adalah aktris musik yang bernaung dibawah label Trinity Optima Production dan MD Music. Beberapa kali membintangi film nasional, terutama yang bertema remaja dan drama rumah tangga. (pik)

Film Ubah Jalan Hidup Manoj Punjabi


JAYAKARTA NEWS – Siapa sangka, dunia film telah mengubah jalan hidup seorang anak lelaki bernama Manoj Punjabi (45 tahun).

Karena sang ayah, Dhamoo Punjabi (pendiri Parkit Film) sudah tua, maka sang anak, Manoj Punjabi yang studi manajemen di Amerika Serikat kembali ke Indonesia dan melanjutkan usaha yang telah dirintis sang ayah.

Pada 2003, dibentuklah MD Pictures, kepanjangan dari Manoj dan Dhamoo. Manoj pun menerapkan ‘ilmu’ yang telah dipelajari diAmerika Serikat. Dari sinilah, ia memulai usaha nan tak kenal lelah ini.

“Sejak kecil, saya telah mencintai film. Saya terobsesi menjadi pembuat film. Saya hampir tiap hari nonton film Hollywood, Bollywood dan film Indonesia, sehingga saya hafal judul-judul dan nama-nama pemainnya,” kata Manoj kepada penulis di suatu tempat.

Berkat kerja keras, gigih, tekun, disiplin dan jujur, Manoj kini menjadi ‘King of Movies’ dan pernah di suatu masa dinobatkan menjadi ‘King of Soap Operas’ (ketika sinetron marak di televisi).

Hampir tiap tahun, film-film produksi MD menjadi box office (di atas 1 juta penonton) dan kualitas film-filmnya sekelas Hollywood. Bahkan, tahun 2018 lalu, MD Pictures telah memasuki Bursa Saham Indonesia dan MD adalah rumah produksi pertama nasional yang masuk lantai bursa.

‘Cinta Fitri’ yang dibintangi Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar adalah sinetron pertama yang dibuat MD dan puluhan episode sinetron ini telah menyedot minat pemirsa televisi untuk terpaku di depan layar televisi. Sinetron ini menjadi viral pada masanya, tahun 2003.

Ketika sinetron mulai redup dan dun ia film bangkit kembali, Manoj pun banting setir membuat beberapa film yang boleh dikatakan berkualitas sekaligus berkuantitas (menyedot lebih sejuta penonton).

Berturut-turut dibuat film nasional seperti ‘Habibie & Ainun’ (2002), ‘Ayat Ayat Cinta’ (2008), ‘Merry Riana – Mimpi Sejuta Dolar’ (2014), Surga yang Tak Dirindukan’ (2015), ‘Rudy Habibie’ (Habibie 2,, 2016), ‘Danur’ (2017) dan yang terbaru ‘Habibie 3’ (2019).

Khusus film ‘Habibie 3’ yang akan tayang 19 Desember 2019 akan menjadi film di akhir tahun dan bakal menjadi puncak kesuksesan dan keberhasilan Manoj dan MD Pictures di dunia film nasional.

Sutradara Hanung Bramantyo, pemeran Habibie masih sama yaitu Reza Rahadian (pernah meraih Citra di FFI berkat perannya sebagai BJ Habibie) dan Maudy Ayunda sebagai Ainun.

“Film ini sudah melakukan syuting sejak 2017 dan bakal meredar di akhir tahun 2019, Di episode Habibie ini, cerita akan fokus ke Ainun, sejak duduk di bangku SMA sudah menunjukkan kecerdasan dan kecantikannya. Kemudian Ainun dinikahi Habibie dan mendampingi sang suami yang mendapat bea siswa untuk belajar enginering pesawat di Jerman Barat,” papar Manoj.

Manoj melanjutkan, dia merasa terhormat mendapat kepercayaan penuh dari BJ Habibie (Presoden ke 3 RI) untuk membuat film biopic (biography picture) tentang seorang tokoh terkenal dari Indonesia.

“Ini tanggung jawabnya besar. Film ini puji Tuhan bisa dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Di dua seri Habibie, bahkan penontonnya melebihi target, Ini ‘mission to make the best’ buat saya, MD, sutradara, penulis skenario, pemain dan semua kru yang menggarap film Habibie. Boleh diibaratkan, tiga film Habibie buat saya adalah ‘it’s my baby from the start till the end,” harap Manoj lagi.

Lalu, Anda akan membuat film bertema apa lagi ?

“Masih digodog terus oleh staf saya. Bahkan, MD pernah membuat film animasi Sapo Jarwo yang memperoleh penghargaan di FFI,” jawabnya.

Anda akan berbisnis apa lagi, sinetron, film, penyewaan alat-alat film,, musik sampai memasuki bursa ?

“Enggak bisa dikatakan sekarang. Obsesi saya mengalir terus,”

Memasuki tahun 2020, tentunya Manoj Punjabi akan terus membuat film-film berkualitas dan berkuantitas. Tapi banyak orang yang tidak tahu, bahwa film ‘Titanic’ yang beredar 1977 yang telah menginspirasi dirinya terjun ke dunia film. Kisah cinta Jack dan Rose di Titanic telah jadi ikon percintaan sepanjang masa bagi Manoj Punjabi dan isteri serta anaknya. (pik)

\

Iqra : The Universe, Luar Angkasa dan Syiar Islam

JAYAKARTA NEWS – Iqra (bahasa Arab) artinya Baca. Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada umatnya agar tekun membaca Al Quran sebanyak 30 juz, dari Surah Al Fatihah sampai Surah Al Ikhlas.

Didalamnya niscaya umat Islam akan menemukan bahwa kitab suci Al Quran bukan semata-mata berisi ihwal ibadah kepada Tuhan saja, melainkan mencakup semua hal baik yang rohani maupun yang jasmani. Dari politik, hukum, sosial, budaya sampai ilmu pengetahuan tentang luar angkasa, semua ada di Al Quran.

Sutradara Iqbal Al Fajri (semula pembuat film pendek) yang terkagum dengan isi dan misi Al Quran, pun kemudian menuangkannya dalam gagasan sebuah produk film untuk kategori anak dan keluarga. Tajuk film garapannya ‘Iqra: Petualangan Meraih Bintang’ yang dibuat pada 2017 lalu.

Karena film ini sukses, dia pun membuat sekuelnya yang berjudul ‘Iqra : The Universe’. Film ini beredar sejak 11 Juli 2019. Pembuat dan produsernya masih sama : Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Salman Film Academy, yang didukung Bumi Prasidi dan Mitra Andalas Visual. Para pemainnya sebagian besar masih sama, terutama tokoh utama.

Dulu, masih anak-anak. Kini, Aqilla yang sudah beranjak dewasa (diperankan oleh Aisha Nurra Datau) mempunyai impian ingin menjadi astronaut. Sebuah impian yang wajar dan mulia. Bangsa Indonesia harus berani bermimpi besar.

Dibuatlah vlog (video vlog) dan akan dilombakan dengan hadiah utama meninjau Pusat Penelitian Luar Angkasa di Inggris.

Semula, opa Wibowo (Cok Simbara) bersedia membantu cucunya yang cerdas ini. Namun, karena kesibukannya di bidang astronomi di Planetarium Jakarta dan harus ditugaskan di London (Inggris) guna membantu sebuah penelitian, maka Aqilla merasa kecewa.

Mendadak Aqilla beroleh ide cemerlang. Ia ingin ikut lomba vlog di sekolahnya. Ia lalu menghubungi ibu Tsurayya (Maudy Koesnaedy), seorang ahli botani yang sedang menunggu keberangkatannya ke luar angkasa dalam proyek penelitian tanaman yang hidup di luar angkasa. Melihat tekad Aqilla, ibu Tsurayya yang semula cuek dan ogah-ogahan membantu, akhirnya turun tangan dan mau direkam dalam video yang dibuat oleh Aqilla.

Bagaimana ending film bertema anak ini ? Setelah kalah di lomba vlog, ternyata ibu Tsurraya mengajak Aqilla ke Pusat Penelitian Luar Angkasa di London dan Leicester (Inggris). Alangkah senang dan bahagianya Arilla menerima ‘penghargaan’ yang lama diimpikannya.

Ini film bertema anak yang dipenuhi pembacaan ayat-ayat suci Al Quran. Sungguh, ‘Iqra..’ sebuah film yang mengangkat kebesaran Al Quran dan memaknai betapa pentingnya ilmu pengetahuan yang dibalut dengan syiar Islam.

Mengambil lokasi di Jakarta, Bogor, Siak (Riau) dan Inggris, di film ini kita digiring mengikuti imajiinasi dan impian anak yang sangat luhur dan mulia. Lagu tema ditulis liriknya oleh Dwiki Dharmawan dan dinyanyikan Lana Nitibaskara.

Selain deretan sinematografi yang indah oleh Anggi Frisca, juga tampilan animasi sungguh tidak mengecewakan. Penampilan khusus astronaut Indonesia pertama Prof.Dr. Pratiwi Sudarmono, Muzammil Hasballah (ustad muda dan pelantun ayat-ayat suci Al Quran), Dr Thomas Djamaluddin ( Kepala Pusat Penelitian Boscha di Bogo )plus Harris J (penyanyi muslim remaja asal Inggris yang tampil di Youtube dan
pernah menggelar konser di Indonesia) menambah nilai tambah film ini.

Cekak aos : ‘Iqra : The Universe’ tidak rugi ditonton bagi umat Islam khususnya dan umat agama apa saja umumnya. Kekayaan ilmu pengetahuan luar angkasa dan kebesaran Al Quran sungguh tak ternilai dan tak tepermanai ‘harga’nya. Itu tak bisa dinilai dengan uang, tapi dengan Iman dan Taqwa. (pik)