Lebih dari $2,6 Miliar Dicuci Melalui Properti Komersial AS

JAYAKARTA NEWSPara peneliti mengungkapkan bahwa laporan investigasi yang dilakukan oleh The International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) pada tahun 2020 mengidentifikasi portofolio properti besar milik oligarki Ukraina sebagai salah satu dari 25 kasus di mana dana yang diduga berasal dari hasil curian telah disalurkan ke sektor properti komersial di Amerika Serikat.

Setidaknya $2,6 miliar dana ilegal atau yang mencurigakan telah diinvestasikan dalam properti komersial di seluruh Amerika Serikat selama 20 tahun terakhir, demikian menurut laporan baru dari jaringan organisasi advokasi anti-korupsi.

Laporan yang diterbitkan pada awal Mei ini, menganalisis 25 kasus dari sumber yang tersedia untuk umum, seperti dakwaan pemerintah dan laporan berita, untuk memberikan gambaran tentang bagaimana properti komersial — termasuk mal, supermarket, dan fasilitas berkuda — dapat digunakan untuk pencucian uang. Kasus-kasus tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari aliran uang kotor ke pasar, catatan laporan itu.

Pada tahun 2020, investigasi FinCEN Files, yang dipimpin oleh Konsorsium Internasional Jurnalis Investigasi (ICIJ) dan BuzzFeed News, mengungkap bagaimana oligarki Ukraina, Ihor Kolomoisky, membangun kerajaan real estat AS selama satu dekade, dengan mengakuisisi setidaknya 22 properti, termasuk gedung pencakar langit terkenal di Cleveland dan fasilitas Motorola yang tidak aktif di lahan pertanian di utara Illinois.

Setelah pembelian besar-besaran tersebut, ICIJ menemukan bahwa Kolomoisky dan rekan-rekannya meninggalkan jejak bangunan kosong dan rusak, pajak properti yang tidak dibayar, kondisi pabrik yang berbahaya, pekerja yang menganggur, dan setidaknya empat pabrik baja yang mengajukan kebangkrutan.

Kolomoisky telah dituduh oleh AS dan pihak lain menyedot miliaran dolar dari bank terbesar Ukraina, PrivatBank, yang saat itu dimiliki bersama olehnya, melalui skema global yang berani. Ia menyangkal melanggar hukum di kedua negara.

Laporan gabungan dari Anti-Corruption Data Collective, FACT Coalition, dan Global Financial Integrity mengutip paparan ini sebagai “contoh utama” dari “kegagalan sistem secara keseluruhan.”

“Tidak ada penyelidikan agen real estat, tinjauan lembaga pemerintah lokal, atau investigasi regulator federal yang sebelumnya memicu tanda bahaya mengenai investasi Kolomoisky,” kata laporan itu.

Para peneliti menemukan bahwa dalam sebagian besar kasus yang ditinjau, terdapat “serangkaian pendukung,” termasuk pengacara, agen real estat, perusahaan hak milik, perusahaan perseroan terbatas, dan bank yang memfasilitasi — terkadang tanpa disadari — pencucian uang yang jumlahnya mencapai miliaran dolar.

Dana tersebut berasal dari 14 negara termasuk AS, Rusia, Meksiko, Iran, dan Korea Utara dan diinvestasikan di 22 negara bagian, terutama di California, Florida, dan New York. Lebih dari separuh melibatkan pejabat pemerintah asing, kerabat mereka, atau oligarki yang mendapat keuntungan dari kedekatan dengan kekuasaan.

“Seperti yang bisa kita katakan, pencuci uang tidak menjadi tuan tanah yang baik,” kata Erica Hanichak, direktur urusan pemerintah di FACT Coalition.

Pada bulan Februari, FinCEN, unit kejahatan keuangan Departemen Keuangan AS, menerbitkan pedoman yang diusulkan untuk mencegah aliran dana ilegal ke real estat residensial dengan mengungkap pelaku buruk yang membeli properti menggunakan trust atau entitas hukum rahasia lainnya. Ini mengikuti laporan Transparency International pada akhir 2023 yang menunjukkan AS tertinggal jauh di belakang beberapa negara lain, termasuk anggota OECD, dalam menerapkan kewajiban anti pencucian uang secara nasional untuk transaksi real estat komersial dan residensial.

FinCEN telah menandai bahwa agen tersebut sedang mempertimbangkan opsi untuk meningkatkan transparansi di sektor komersial tetapi belum mengumumkan kerangka waktu secara publik.

Sementara itu, laporan baru ini memperingatkan bahwa penggunaan kendaraan investasi lepas pantai sebagai saluran untuk transaksi real estat komersial, yang dipadukan dengan kurangnya informasi kepemilikan yang bermanfaat, membuat sulit untuk menentukan siapa yang membeli pasar AS.

“Tidak seperti real estat residensial, di mana transaksinya relatif tidak rumit dan kemungkinan untuk menentukan individu sebenarnya di balik pembelian relatif sederhana, mengidentifikasi siapa yang berada di balik pembelian properti komersial sering kali menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar,” kata laporan itu.

Erica Hanichak, direktur urusan pemerintah FACT, mengatakan kepada ICIJ bahwa pencucian uang juga dapat terjadi melalui kompleks apartemen komersial, berdampak pada penyewa dan komunitas dengan “menyulitkan akses perumahan yang terjangkau dan tinggal di properti yang mungkin aman.”

“Seperti yang bisa kita katakan, pencuci uang tidak menjadi tuan tanah yang baik,” katanya. “Kami melihat banyak kasus di mana apartemen telah rusak dan tuan tanah tetap tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas kondisi properti tersebut.”(ICIJ/sm)

Bertemu Presiden Zelenskyy, Jokowi: Indonesia Terus Dukung Perdamaian di Ukraina

JAYAKARTA NEWS— Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 dan mitra yang digelar di Hotel Grand Prince, Hiroshima, Jepang, Minggu (21/05/2023).

“Presiden Zelenskyy, saya ikuti terus perkembangan situasi di Ukraina. Turut berduka atas korban yang terus berjatuhan,” ujar Presiden Jokowi sebagaimana dikutip dari setkab.go.id

Presiden Jokowi juga menegaskan bahwa Indonesia terus mendukung upaya perdamaian di Ukraina dan menyatakan kesiapannya untuk menjadi jembatan perdamaian.

“Indonesia siap jadi jembatan perdamaian antara Ukraina dan Rusia,” imbuhnya.

Sementara itu, Presiden Zelenskyy menyampaikan apresiasi atas peran Indonesia untuk mengupayakan perdamaian di Ukraina. Presiden Zelenskyy masih ingat bahwa Presiden Jokowi adalah salah satu dari pemimpin negara yang pertama berkunjung ke Kyiv di tengah situasi sulit yang dihadapi Ukraina.

“Saya ingat kedatangan Yang Mulia termasuk yang pertama ke Ukraina. Terima kasih dan kami akan selalu ingat,” ucap Zelenskyy.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin juga berbicara mengenai masalah pangan, sebagaimana yang telah dibahas di Kyiv beberapa waktu yang lalu. Presiden Jokowi menyampaikan dukungan terhadap perpanjangan Black Sea Grain Initiative.

“Saya sambut baik perpanjangan Black Sea Grain Initiative selama 2 bulan. Ini sangat penting untuk kelancaran rantai pasok gandum dunia,” ungkapnya.

Selain masalah pangan, pertemuan juga membahas tentang bantuan kemanusiaan. Indonesia telah berkomitmen untuk berkontribusi dalam perbaikan salah satu rumah sakit di Ukraina.

“Pemerintah Indonesia terus koordinasi dengan Bank Dunia dan Kementerian Kesehatan Ukraina terkait hal ini,” tandasnya. Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Zelenskyy yaitu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.***/din

Rayakan Kemerdekaan di Bali, Warga Ukraina Dukung KTT G20

JAYAKARTA NEWS – Walau negaranya sedang perang melawan Rusia, kehidupan warga Ukraina di Bali tak terpengaruh. Mereka tetap merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Ukraina, Rabu, 24 Agustus 2022. Acara berlangsung di Restauran Taulan Socialhideout, Desa Kerobokan, Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Perayaan digelar Komunitas Warga Ukraina Bali. Menurut pendiri komunitas ini, Dmytro Piddubnyi, peringatan ulang tahun kemerdekaan negaranya dilakukan dengan doa bersama. “Kami mendoakan juga negara Indonesia tetap aman dan makin maju. Kami berharap khususnya Bali akan selalu aman dan damai. Apalagi Bali akan menjadi venue KTT G20,” ujar Dmytro Piddubnyi.

Warga negara asing dari Ukraina yang menyemarakkan acara tersebut lumayan banyak. Tak kurang dari sekitar 250 orang. “Warga Ukraina yang ada di Bali secara spontan datang menyemarakkan acara ini,” katanya.

Acara tersebut berlangsung meriah. Selain doa bersama, pihak penyelenggara yang dikawal langsung Dmytro Piddubnyi pun menyiapkan hidangan santap malam. Menariknya, menu yang disuguhkan terdiri dari hidangan khas Ukraina. Ditambah seni pertunjukan tarian tradisional Ukraina, termasuk aksi permainan anak-anak.

“Saya mengajak warga Ukraina menjaga Sitkamtibmas Bali, tetap mematuhi peraturan Indonesia, termasuk adat Bali. Selain itu, mendukung situasi Bali yang aman jelang pelaksanaan puncak KTT G20 di Bali pada November 2022,” harap Dmytro Piddubnyi. (syam kelilauw)

Stop Invasi Rusia ke Ukraina, Sikap Tepat Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR-RI mendukung posisi Indonesia dalam Sidang Umum PBB, yang bersama 140 negara lain menyetujui Resolusi PBB meminta Rusia menyetop invasi ke Ukraina. Martin menyampaikan hal itu di Jakarta, hari ini (4/3/2022).

Keikutsertaan Indonesia mendukung resolusi tersebut adalah cara yang tepat dalam mengekspresikan politik Luar Negeri Indonesia yang bebas aktif dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi. 

Martin Hutabarat, mantan Anggota DPR Komisi 1 ini tidak sependapat dengan Guru Besar Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, yang menyayangkan sikap Indonesia yang mendukung resolusi PBB tersebut karena mengekor ke Amerika dan tidak sesuai dengan arahan Presiden Jokowi dalam pernyataannya baru-baru ini, tidak menyalahkan siapa-siapa dan bahkan tidak menyebut invasi Rusia sama sekali. 

Menurut Martin Hutabarat, yang juga lulusan Universitas Indonesia, dalam hubungan internasional, Indonesia harus tegas dalam setiap kesempatan menyuarakan sikap politik luar negeri yang anti penjajahan dan mendukung perdamaian serta ketertiban dunia. Itu adalah perintah UUD 1945 dan ekspresi pergumulan kita sebagai bangsa sejak kemerdekaan tahun 1945. 

“Kita tidak boleh malu-malu atau setengah hati dalam menegaskan sikap politik Luar Negeri kita ini. Kita harus tegas menolak invasi Rusia ke Ukraina yang telah menyengsarakan puluhan juta rakyat,” tegas Martin Hutabarat.

Tanpa ketegasan sikap, negara-negara lain tidak akan menghargai politik luar negeri Indonesia. Sebab, sikap tidak tegas bisa dimaknai plin plan atau tidak punya pendirian. Yang penting, kata Martin, kita tidak berlebihan atau terlihat seolah-olah arogan dalam menyampaikan politik luar negeri. Sikap tidak setuju invasi Rusia terhadap Ukraina telah dinyatakan Indonesia secara proporsional. (rr)

Besar Jasa Dmitriy Manuilsky bagi Indonesia

Catatan 30 Tahun Kemerdekaan Ukraina

Oleh Egy Massadiah

Egy Massadiah

JAYAKARTA NEWS – Bahwa Ukraina akhirnya menjadi negara merdeka pada tahun 1991, adalah sebuah keniscayaan sejarah. Hari ini, 24 Agustus 2021, Ukraina memperingati hari kemerdekaannya yang ke-30. Momentum itu ditandai dengan peristiwa Parlemen Ukraina mengadopsi Deklarasi Kemerdekaan dari Uni Soviet yang diikuti oleh referendum nasional yang damai.

Hasil referendum menegaskan legitimasi proses kemerdekaan Ukraina (dari Uni Soviet) dengan dukungan 92,3 persen dari penduduk Ukraina. Tahukah Anda, bahwa Indonesia “berhutang” pada seorang pria kelahiran Ukraina yang bernama Dmitriy Manuilsky, atau dikenal pula dengan nama Dmytro Zakharovych Manuilsky.

Patut kiranya, jika momentum 30 Tahun Kemerdekaan Ukraina hari ini (24 Agustus), kita jadikan momentum yang baik untuk lebih membumikan persahabatan kedua bangsa. Kita berangkat dari kutipan kalimat Presiden Sukarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah”.

Tersebutlah sejarah awal kemerdekaan Indonesia, antara tahun 1945 – 1950 yang kita sebut sebagai periode perjuangan diplomasi mencari pengakuan dunia internasional atas kemerdekaan dan kedaulatan bangsa pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Peran Uni Soviet dalam hal ini sangat besar. Dan Ukraina, saat itu, masih menjadi bagian dari Uni Soviet.

Uni Soviet merupakan salah satu negara yang menyambut baik lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka dan Uni Soviet mengecam segala bentuk kolonialisme. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Soviet berkali-kali mengangkat masalah Indonesia dan menuntut PBB menghentikan agresi militer Belanda, serta mengimbau dunia internasional mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Pada 21 Januari 1946, Dmitri Manuilsky, ketua utusan Republik Soviet Sosialis Ukraina di PBB untuk kali pertama mengajukan masalah Indonesia kepada DK PBB. Dalam suratnya, Manuilsky menyatakan bahwa keadaan di Indonesia membahayakan perdamaian dan keamanan dunia.

Dmitry Manuilsky (berdiri kiri) dari Ukraina dan Herbert V. Evatt (berdiri kanan) dari Australia dalam salah salah satu agenda rapat di markas PBB. (sumber foto: Gjon Mili/LIFE)

Dalam Sidang Umum PBB pada 25 Januari 1946, Manuilsky mendapatkan dukungan dari Edward Stettinius, utusan Amerika Serikat dan Abdel Hamid Badawy Pasha, utusan dari Mesir. Sidang DK PBB terkait Indonesia berlangsung alot selama enam hari (7, 9-13 Februari 1946). Dalam setiap sidang, Manuilsky bersikukuh dengan pendapatnya bahwa Indonesia dalam keadaan berbahaya sehingga PBB harus campur tangan.

Ketika Ukraina mengusulkan soal Indonesia dibahas dalam sidang DK PBB, sejak itu pula sengketa Indonesia-Belanda menjadi sengketa internasional sepenuhnya. Demikian dikutip dari Historia.

Selain itu, sumber lain juga menyebutkan, bahwa Dmitry yang merupakan politisi kelahiran Ukraina 3 Oktober 1883 itu membela Indonesia dalam pertemuan-pertemuan di organisasi PBB serta organisasi internasional lainnya. Misalnya, pada tahun 1947-1948 dalam sidang ECOSOC diajukan sejumlah usulan untuk diakuinya kedaulatan Indonesia. Juga saat konferensi Delhi, Januari 1949 kembali mengecam Agresi Militer terhadap Indonesia dan mengimbau dunia internasional mengakui kemerdekaan Indonesia.

Mari kita kenali tokoh Ukraina yang begitu berjasa bagi bangsa kita. Dmitriy Manuilsky, atau Dmytro Zakharovych Manuilsky adalah seorang revolusioner Bolshevik, politisi dan akademisi Soviet penting yang menjadi Sekretaris Komite Eksekutif Komintern, Komunis Internasional dari Desember 1926 hingga pembubarannya pada Mei 1943.

Tercatat, ia lahir 3 Oktober 1883 di perkampungan kecil bernama Sviatets, tak jauh dari Kremenets. Kremenets sendiri adalah sebuah kota di Oblast Ternopil di Ukraina barat. Ini adalah pusat administrasi Kremenets Raion, dan terletak 18 km timur laut dari Biara Pochayiv yang agung. Kota ini terletak di wilayah bersejarah Volhynia. Kota ini masuk dalam sebuah teritori yang ketika itu dinamakan Volhynian Governorate, atau Kegubernuran Kekaisaran Rusia Republik Rakyat Ukraina.  Dmitriy wafat di Kyiv, Ukraina pada tanggal 22 Februari 1959 pada usia 76 tahun.

Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, nama Dimitriy Manuilsky begitu mashur. Bahkan, dokumen sejarah mengabadikan bagaimana bangsa kita berterima kasih kepada Ukraina, berterima kasih kepada Manuilsky. Parade “Pawai Terima Kasih Ukraina, Terima Kasih Manuilsky” itu terjadi pada tanggal 4 Februari 1946 di Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia.

Peta negara Ukraina. (sumber foto: Adobe stock)

Identitas Ukraina

Sejarah Ukraina pun mengalir menemukan jalannya kepastian. Ukraina lepas dari Uni Soviet, sekaligus lepas dari tekanan dan pembatasan yang diberlakukan oleh sistem Soviet dalam hal budaya, bahasa, dan sejarah.

Sebagai negara merdeka, sejak 1991 Ukraina kembali ke jati dirinya. Keunikan negara yang memiliki luas wilayah 603.628 km² dengan jumlah penduduk sekitar 44,5 juta jiwa itu pun mulai muncul ke permukaan. Kini, Ukraina makin dikenal dengan lukisan-lukisan yang bermutu tinggi, selain itu juga musik, teater, balet, sastra, film, sains dan olahraga.

Sekadar menyebut tokoh-tokoh Ukraina, kita tentu mengenal Valeriy Lobanovskyy, Andriy Shevchenko, Roman Olehovych Yaremchuk sebagai bintang sepakbola kelas dunia. Di dunia keaktoran, ada nama Bohdan Sylvestrovych Stupka. Lalu di dunia mixed martial art, Ukraina juga memiliki aktor yang fenomenal, Yaroslav Amosov.

Bintang sepakbola Andriy Shevchenko berpose di depan patung “bapak filosofi sepakbola Ukraina”, Valeriy Lobanovsky di markas klub Dinamo Kiev. (foto: https://www.footballcoin.io/)

Di bidang keilmuan, Ukraina memiliki nama besar Borys Yevhenovych Paton. Lelaki kelahiran Kyiv 1918 itu meninggal di kota yang sama, pada 19 Agustus 2020 lalu. Sejak 1962 hingga kematiannya, Paton menjabat Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Ukraina. Penemuannya yang fenomenal adalah las listrik.

Nama besar Ukraina lain adalah Leonid Kostyantynovych Kadenyuk. Dia adalah astronot pertama Ukraina merdeka yang terbang ke luar angkasa. Dia terbang di NASA Space Shuttle Columbia pada tahun 1997 sebagai bagian dari misi internasional STS-87. Kadenyuk memegang pangkat Mayor jenderal di Angkatan Udara Ukraina.

Kvitka “Kasey” Cisyk. (foto: http://www.istpravda.com.ua/artefacts/)

Ukraina juga memiliki artis yang mendunia. Namanya Kvitka “Kasey” Cisyk (4 April 1953 – 29 Maret 1998). Ia adalah adalah seorang penyanyi sopran coloratura Amerika dari etnis Ukraina. Cisyk, panggilan akrabnya, adalah seorang penyanyi opera klasik terlatih, mencapai kesuksesan dalam empat genre musik: musik populer, opera klasik, musik rakyat Ukraina dan jingle komersial untuk iklan radio dan TV. Cisyk merekam lagu “You Light Up My Life” untuk film dengan judul yang sama (menang Oscar dan Golden Globe Awards pada 1978).

Adalah fakta, bahwa sebelum kemerdekaannya (1991), nama Ukraina bagi sebagian besar rakyat Indonesia, terdengar lamat-lamat. Akan tetapi, sejak merdeka, utamanya setelah tahun 2014, situasi berbanding terbalik: Sebagian besar rakyat Indonesia mengenal Ukraina. Bukan hanya di Indonesia, Ukraine bahkan dikenal di seluruh dunia.

Problem Krimea

Tahun 2021, tidak saja diperingati dalam konteks 30 tahun merdeka, tetapi juga menandai peringatan 7 tahun, pencaplokan dan pendudukan illegal Rusia atas Krimea. Rusia menaklukkan wilayah itu dan mulai memaksa minoritas Muslim, Tatar Krimea, keluar. Sejak 2014. Itulah saat-saat buruk, di mana hak asasi manusia telah diabaikan dengan pelecehan dan penganiayaan terus-menerus terhadap minoritas, terutama Tatar Krimea dan etnis Ukraina. Jika pendudukan itu berlanjut, berpotensi terjadi pemusnahan penduduk asli, Tatar Krimea, di Semenanjung Krimea.

Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar telah mendukung perjuangan Tatar Krimea dan persatuan Ukraina. Indonesia termasuk di antara 100 negara yang mendukung resolusi 2014 tentang integritas wilayah Ukraina.

Transformasi Internal

Di bawah kepemimpinan Presiden Volodymyr Zelensky, Ukraina berkomitmen penuh untuk mempercepat transformasi internal. Selama dua tahun terakhir, Pemerintah dan DPR telah mengambil langkah-langkah, antara lain penciptaan pasar tanah, reformasi perbankan, privatisasi skala besar, desentralisasi, dan lain-lain.

Proses reformasi jauh lebih rumit, karena setelah Ukraina merdeka, baru saat ini pemerintah negara itu mulai memperkenalkan pasar di sejumlah bidang, termasuk layanan kesehatan, pengelolaan limbah, atau transportasi. Dan ini bukan hanya tentang mengesahkan undang-undang, tetapi tentang memulai proses ini dari awal.

Pemerintah Ukraina telah menentukan poin utama pertumbuhan ekonomi. Prioritasnya adalah digitalisasi ekonomi, pasar persaingan bebas, pengembangan kewirausahaan dan daya tarik investasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dasar. Demikian antara lain informasi yang disampaikan Kedutaan Besar Ukraina di Jakarta, kemarin (23/8/2021).

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky. (foto: https://www.latimes.com/)

Tiga Acara

Merayakan 30 tahun kemerdekaannya, Ukraina menggelar tiga acara penting dengan partisipasi mitra internasional. Pertama, KTT perdana Platform Krimea; Kedua, KTT Kyiv Pertama Para Ibu Negara; Ketiga, Parade Militer untuk Hari Kemerdekaan.

Adapun KTT Pertama Platform berlangsung 23 Agustus 2021. Platform Krimea adalah format konsultasi dan koordinasi baru yang diprakarsai oleh Ukraina untuk meningkatkan efisiensi respons internasional terhadap pendudukan Krimea, menanggapi tantangan keamanan yang berkembang, meningkatkan tekanan internasional terhadap Rusia, mencegah pelanggaran hak asasi manusia lebih lanjut, melindungi korban pendudukan rezim, dan mencapai tujuan utama: untuk menduduki Krimea dan mengembalikan kedaulatan Ukraina atas semenanjung.

Puncak hanyalah awal dari aktivitas besar. “Kami sedang bekerja untuk membangun mekanisme koordinasi permanen untuk Platform di semua bidang utama. Kami memanggil mitra yang paling aktif untuk memimpin di masing-masing bidang utama ini,” demikian bunyi siaran pers Kedutaan Ukraina untuk Indonesia.

Dukungan internasional untuk Platform Krimea berkembang. Ukraina mengumumkan bahwa negaranya telah memperoleh 45 surat konfirmasi untuk partisipasi dalam KTT Platform Krimea dari berbagai negara. Negara-negara yang dikonfirmasi sejauh ini termasuk Amerika Serikat, Inggris, Polandia, Turki, negara-negara Baltik, Prancis, Jerman, berbagai negara Uni Eropa, Australia, Selandia Baru, dan Korea Selatan.

Platform Krimea tidak berusaha untuk menggantikan pekerjaan besar di Krimea oleh PBB, ataupun upaya-upaya yang telah dilakukan oleh UE, NATO, Amerika Serikat, dan mitra lainnya. “Ini justru akan melengkapi, mensistematisasikan dan memperkuat semua langkah yang telah ditempuh,” bunyi siaran pers itu.

Kementerian Luar Negeri juga meluncurkan situs resmi Platform Krimea. Situs web berisi kategori berikut: Krimea Sebelum Pendudukan, Krimea dalam Pendudukan, Platform Krimea, Jaringan Pakar Platform Krimea; dan KTT Platform Krimea.

Sementara, pada tanggal 23 Agustus, atas prakarsa Ibu Negara Ukraina Olena Zelenska, KTT Para Ibu Negara Kyiv berlangsung di Kyiv untuk pertama kalinya dalam sejarah. Istri pemimpin dan suami pemimpin perempuan memainkan peran penting di negara mereka. Pada saat yang sama, kerja sama internasional antara ibu negara dan bapak-bapak tidak pernah sistematis.

Ukraina telah mengambil peran utama dan untuk pertama kalinya dalam sejarah menciptakan platform internasional semacam itu. Bapak dan Ibu Negara, bersama dengan pakar internasional dan Ukraina, akan membahas tantangan dan solusi saat ini di bidang pendidikan, kesehatan, akses bebas hambatan, Persamaan hak untuk pria dan wanita.

Kesiapan Ukraina untuk mempertahankan kemerdekaannya, yang telah mereka tunjukkan sejak 2014, akan ditunjukkan dengan parade militer besar-besaran pada 24 Agustus. Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun kemerdekaan, acara direncanakan dengan partisipasi perwakilan dan peralatan militer. semua kekuatan sektor keamanan dan pertahanan Ukraina dan negara-negara mitra.

Untuk pertama kalinya pula dalam sejarah, pada 30 Juli 2021, Ukraina menerima dokumen strategis sistematis tingkat tertinggi tentang kebijakan luar negeri: Strategi Kebijakan Luar Negeri.

Ini dikembangkan oleh Presiden Volodymyr Zelensky, yang mengedepankan prioritas perlindungan diplomatik Ukraina dari agresi Rusia, perampasan tanah dan rakyat, dan membawa Rusia ke tanggung jawab hukum internasional atas kejahatannya.

Lima bidang prioritas kebijakan luar negeri lainnya: Memastikan kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, jalannya keanggotaan UE dan NATO, Mempromosikan ekspor Ukraina dan menarik investasi asing, Melindungi hak dan kepentingan warga negara Ukraina di luar negeri, Mempromosikan citra positif Ukraina Di dalam dunia.

Ukraina – Indonesia

Secara simbolis bahwa pada hari ini Presiden Ukraina menunjuk duta besar yang profesional dan ambisius untuk NATO, Turki, Austria, Indonesia dan Tanzania (paruh waktu). Arah yang cukup berbeda, tetapi kepentingan Ukraina di mana pun kita dapat membuat Ukraina lebih kuat.

“Pada tahun 2022, kita akan merayakan hari jadi ke-30 terjalinnya hubungan diplomatik antara Ukraina dan Republik Indonesia,” demikian dinyatakan dalam siaran persnya.

Selama bertahun-tahun, kedua negara telah memperdalam persahabatan mereka dan membangun hubungan kerja sama di berbagai bidang termasuk bidang politik, ekonomi, akademik, dan budaya. Kerjasama perdagangan dan ekonomi selalu menjadi elemen penting dalam hubungan bilateral antara Ukraina dan Indonesia, terutama selama pandemi, yang menyebabkan penurunan serius dalam perdagangan dunia.

Terlepas dari situasi ekonomi dunia, perdagangan dan kerja sama ekonomi Ukraina-Indonesia ditandai dengan dinamika yang stabil, sehingga Republik Indonesia tetap menjadi mitra dagang terbesar Ukraina di kawasan ini.

Ekspor utama Ukraina ke Indonesia secara tradisional adalah gandum dan produk metalurgi. Impor barang Indonesia ke pasar Ukraina meningkat signifikan pada semester pertama tahun ini, terutama minyak sawit dan kakao.

Sektor yang paling menjanjikan untuk memperdalam perdagangan bilateral dan kerja sama ekonomi tetap adalah industri pertanian, teknik militer, energi, metalurgi, teknologi informasi, farmasi, dan makanan.

Untuk mendukung dan meningkatkan tren positif dalam kerja sama ekonomi antara Ukraina dan Indonesia, negosiasi Perjanjian Perdagangan Preferensial antara negara kita yang akan membawa hubungan bilateral ke tingkat yang baru dimulai tahun ini.

Di bidang kebudayaan, hubungan masyarakat Ukraina dan Indonesia juga semakin dekat. Dalam bahasa Ukraina, istilah budaya memiliki dua arti utama. Yang pertama dapat digambarkan dengan kata “seni”, yang kedua menggambarkan hubungan antara orang-orang. Seperti di Indonesia, orang Ukraina juga memahami dan percaya bahwa keragaman budaya merupakan faktor penting dalam kehidupan sehari-hari setiap negara.

Kuliner Ukraina

Tiga menu khas Ukraine. Dari kiri: Varenyky (pangsit), Borscht Soup, dan Olahan Ayam.

Ukraina terkenal tidak hanya karena tren budaya dan sejarahnya, tetapi juga karena arah kulinernya. Ukraina terus masuk dalam peringkat gastronomi dunia. Baru-baru ini, media Inggris “The Independent” menempatkan kelezatan menu Ukraina seperti pangsit, borscht, dan irisan daging ayam Kyiv di tempat pertama.

Masakan Ukraina memperkaya budaya dunia. Ini juga masalah budaya dan identitas nasional, tanpa masakan Ukraina, kita tidak bisa disebut orang Ukraina.

Acara untuk merayakan ulang tahun ke-30 pembentukan hubungan diplomatik akan menjadi peluang bagus untuk lebih memperdalam dan mengembangkan hubungan baik antara Ukraina dan Indonesia. Pemerintah Ukraina dan Indonesia bertekad melakukan upaya yang dapat berkontribusi untuk lebih memperdalam hubungan antara kedua negara melalui peluang tersebut. (*)

*) Egy Massadiah, wartawan senior

VIDEO TERKAIT:

Monumen Anna De Kyiv akan Hadir di Jakarta

Catatan Perjalanan Ukraina Egy Massadiah

Menjelang pukul 13.00 siang Dubes Yuddy mengajak saya ke Masjid Arrahma yang berjarak 10 menit berkendara mobil dari kantor KBRI Kyiv di Jalan Otto Shmidta St, 8, Kyivs’ka Oblast, 04107.

Untung tak terlambat, khutbah jumat masih berlangsung. Di masjid yang berkapasitas 3.000-an jemaah itulah muslim Kyiv melaksanakan aktivitasnya. Sebuah supermarket mini dengan bahan makanan halal menjadi pelengkap masjid tersebut.

Usai shalat Jumat sekalian ashar — saya gabung saja karena itu fasilitas sebagai musafir — masuk telepon dari Fedir Balandin.

Balandin, pemilik restoran Cupidon yang juga Presiden Indonesia House Ukraina, semacam komunitas pecinta Indonesia di Kiev mengajak jumpa pada hari Senin pagi.

Tentang Balandin, saya berkenalan setahun lalu atas kebaikan Gatot Amrih Djemirin HOC KBRI Kyiv teman sejak 2012. Ketika itu diplomat gesit ini bertugas di KBRI Rumania. Saat itu saya mendampingi ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla menghadiri forum Club Of Rome di Bucuresti.

Senin pagi Balandin kemudian mengajak saya ke City Council kantor walikota Kyiv. Kami jumpa dengan dua kawannya, Viktoria dan Taras pejabat di kotamadya Kyiv guna membahas pengiriman dan pemasangan Patung Anne De Kiv ke Jakarta. Bekerjasama dengan Pemprov DKI rencananya saat ulang tahun Jakarta 22 Juni 2019 patung tersebut akan menghiasi sebuah taman di wilayah kotamadya Jakarta Barat.

Inisiasi tersebut dirintis team KBRI Kyiv dibawah komando Dubes Yuddy bersama Gatot Amrih dengan melibatkan Pemprov DKI.

Sebagai refrensi, Anna, putri bungsu Kyivan Rus Pangeran Yaroslav “Mudryi”, dipinang Raja Henry ke I Capet di Katedral Reims Perancis. Anna lahir sekitar 1024 dan dibesarkan di Kyiv. Anna menguasai beragam bahasa, termasuk Old Church Slavonic, Greek, Cyrillic, dan Glagolitic alphabets.

Zaman itu, tidak semua warga di Eropa melek huruf, apalagi wanita. Anna dapat menunggang kuda, berpengetahuan luas di bidang politik, dan aktif berpartisipasi dalam memerintah Prancis, terlebih setelah suaminya meninggal.

Henry ke I sangat menghormati istrinya Anna sehingga banyak dekritnya bertuliskan “Dengan persetujuan istri saya Anna” dan “Di hadapan Ratu Anna.”

Sejarawan Prancis mencatat, tidak ditemukan adanya kasus lain dalam sejarah Prancis ketika Dekrit kerajaan memuat prasasti semacam itu. Inilah bentuk pengawasan,  tanggungjawab manajemen tempo dulu. Tradisi arif yang saat sekarang sulit kita jumpai — karena boleh jadi rawan penyelewengan.

Perihal Monumen Anna De Kyiv – Kyiv Princess diciptakan oleh duo kreatif seniman Ukraina terkenal Konstantin Skrytutsky dan Fedir Balandin. Patung itu dibuat pada tahun 2015 dan bertengger di pusat kota Kyiv serta di kota Lviv Square, yang merupakan gerbang barat ibukota Ukraina. Bahan patung adalah perunggu artistik khusus, dengan berat – sekitar 50 kilogram, tinggi hingga 140 cm.

Sebelumnya pada Februari 2018, atas prakarsa KBRI Ukraina,  Konstantin dan Balandin pernah memamerkan karya karya fotonya yang bertajuk “Musim Dingin dan Summer di Kiev Ukraina”  di Museum Diorama Monas Jakarta Pusat. Peresmian dilakukan oleh Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno ditandai dengan pertukaran buku tentang wisata Jakarta dan buku Famous Ukraina.

Monumen Indonesia di Kyiv

Jangan berkecil hati dengan mengira hanya monumen karya seniman Ukraina yang (akan) terpasang di Jakarta.  Pertengahan 2017, saat baru saja memangku jabatan Duta Besar untuk Ukraina,  Georgia dan Armenia, Yuddy langsung mewujudkan sebuah taman Indonesia di kota Kyiv.

Miniatur Indonesia terhidang di sebuah taman indah bersanding dengan ikon-ikon terkemuka negara negara lainnya.

Yuddy berkisah. Konon ide membangun miniatur Indonesia sudah muncul sejak 10 tahun silam. Namun tak kunjung terealisasi. Yuddy pun menyambangi petinggi National Botanical Garden, semacam Kebun Raya Bogor yang memang sudah menyiapkan lahan.

Semula pihak Botanical Garden kurang yakin. Maklum sudah 10 tahun lalu tawaran mereka belum juga bergayung sambut.

“Indonesia mendapat dua tempat. Satu yang sifatnya miniatur dengan luas sekitar 50 an meter persegi. Satu area lagi luasnya lebih besar karena keseluruhannya ada 120 hektar dan kami Indonesia mendapatkan lahan sekitar 5 ribu meter,” ungkap Yuddy ketika itu.

Nasionalisme Yuddy pun terusik setelah menyaksikan miniatur ikon Jepang dan Korea sudah tegak. Ia pun bertekad  mewujudkan wacana yang sudah tertunda 10 tahun itu. Lebih cepat lebih baik. Tapi KBRI Ukraina belum menganggarkannya. Apa boleh buat Yuddy merogoh kocek pribadinya.

Lima ikon utama Indonesia kini tak lagi menjadi khayalan. Sudah tersaji miniatur Borobudur, Monas, Pura Ulun Danu Brata, Mesjid Istiqlal dan Gereja Katedral lapangan Banteng.

Musim panas 2017 lalu masyarakat Ukraina yang berkunjung ke taman sudah dapat menikmati miniatur produksi perajin asal Boyolali Jawa Tengah. Pemilihan bahan baku tembaga mengingat cuaca di Ukraina yang bersalju dan super dingin.

 

Program Bahasa Indonesia

Kebanggaan lain, pada 3 Juli 2018, ada 7 mahasiswi program studi bahasa dan sastra Indonesia di Taras Shevchenko National University of Kyiv mengikuti upacara wisuda S2 setelah menempuh proses perkuliahan sekitar 6 tahun. Bahkan 5 diantaranya lulus dengan predikat cum laude.

“Ini momen yang sangat mengharukan sekaligus kebanggaan bagi kami. Kefasihannya berbahasa Indonesia dan juga pemahaman yang baik akan budaya Indonesia akan semakin memudahkan KBRI mempromosikan tanah air di manca negara,” ujar Dubes Yuddy didampingi Counsellor Pensosbud KBRI Kyiv Gatot Amrih Djemirin dan Prabowo Himawan salah seorang dosen sastra Indonesia dari Tarash University.

Untuk diketahui prodi bahasa dan sastra Indonesia di Tarash University berdiri tahun 2009. Wisuda prodi bahasa Indonesia ini adalah yang pertama kalinya untuk jenjang S2.

Menurut Gatot Amrih, tahun ini juga akan dibuka prodi S3 untuk Bahasa Indonesia. “Pihak universitas Tarash akan memberikan beasiswa bagi mahasiswa Tarash yang akan melanjutkan S3 nya,” tambah Gatot.

Acara yang berlangsung di aula universitas ketika itu dihadiri antara lain Kepala Departemen Tarash Prof. Dr. Ivan Boodarenko, Direktur Institut Filologi Tarash Prof. Dr. Hrihori Semenyuk dan Rektor Tarash University Prof. Dr. Leonid Huberski.

Adapun wisudawati program studi bahasa dan sastra Indonesia yaitu Anna Lisyuk, Anastasiya Pustylnyk, Olena Koval, Valeria Rumyanstseva, Violeta Torgovytska, Yana Katkova dan Mykola Savchenko.

Satu orang lulusan diangkat sebagai pengajar yaitu Anna Lisyuk. Sementara dua lainnya mendapat rekomendasi melanjutkan ke jenjang S3, Anastasya Pustylnik dan Violeta Torgovytska.

Anna Lisyuk gadis berparas cantik mengaku bahagia setelah kelulusannya ini. “Saya menemukan banyak hal hal baru tentang Indonesia selama masa masa kuliah,” ungkapnya bangga sambil memerkan piagam kelulusannya.

Tradisi Pergantian Musim

Sabtu siang 9 Maret 2019, saya menemani Dubes RI untuk Ukraina Prof Dr Yuddy Chrisnandi menghadiri sebuah acara tradisi warga Ukraina yang bernama Masliana. Masliana adalah sebuah kearifan lokal warga Ukraina memperingati pergantian musim dari Winter ke Spring. Dari Musim Dingin ke Musim Semi.

Sambil menyantap aneka hidangan khas Ukraina serta mendengarkan gadis gadis jelita Kyiv bernyanyi, saya sempat diwawancarai oleh sejumlah wartawan. Diantaranya AlkatRa TV, kelompok relawan yang berkampanye climate change, global warming serta penyelamatan lingkungan.

Saya langsung teringat sahabat saya Letnan Jenderal Doni Monardo yang kini mengkomandoi Badan Nasional Penanggulangan Bencana di Indonesia. Ketimbang mengarang ngarang,  saya langsung saja mengutip slogan BNPB:  “kita jaga alam,  alam menjaga kita.”.

Saya juga meneruskan pesan pesan Doni yang kerap ia lontarkan dalam berbagai kesempatan khususnya perang terhadap sampah plastik dan ajakan menanam pohon serta tidak membuang sampah di sungai. Di depan kamera dengan moncong mikrofon wartawan, saya serasa membayangkan diri sebagai “staf khusus resmi” kepala BNPB berpidato di luar negeri meski dengan bahasa Inggris yang terseok seok.

Teya Davitai reporter AllatRa TV yang mewawancarai saya berjanji akan mengirimkan videonya setelah ditayangkan. Sebagai bentuk kecintaan kepada penyelamatan bumi,  saya kemudian merekam dengan kamera handphone dua gadis cantik dengan kostum tradisional Ukraina untuk menyampaikan slogan BNPB: Kita jaga alam, alam jaga kita.

 

 

Selamat Sore dari Kyiv

Penulis mantan wartawan, dan aktivis teater

Maskapai Butuhkan Informasi Lebih Baik Sebelum Terbang di Atas Zona Konflik

 

LEBIH dari empat tahun setelah jet penumpang Malaysia ditembak jatuh di Ukraina bagian timur yang dilanda konflik, maskapai penerbangan di seluruh dunia masih membutuhkan informasi yang lebih lengkap  dan lebih baik untuk membuat penilaian risiko tentang terbang di atas zona perang.

Hal itu disampaikan Dewan Keselamatan Belanda   yang menindaklanjuti penyelidikan peristiwa jatuhnya pesawat Malaysia  Airlines pada 17 Juli 2014, dan rekomendasi berikutnya untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Investigasi dewan keselamatan menyimpulkan, bahwa pesawat itu ditembak jatuh oleh rudal Buk yang diluncurkan dari wilayah yang dikuasai pemberontak pro-Rusia. Dalam peristiwa tersebut, sebanyak  298 orang yang ada di dalam pesawat naas itu  tewas, karena pesawat hancur di udara dan  puing-puingnya berserakan di ladang-ladang di Ukraina.

Investigasi kriminal internasional sampai kini masih berlangsung yang bertujuan untuk membawa para pelaku ke pengadilan. Belanda dan Australia mengatakan, mereka menganggap Rusia bertanggung jawab untuk memasok rudal itu.

Ketua dewan keselamatan, Tjibbe Joustra, mengatakan kemajuan telah dibuat sejak jatuhnya MH17 dalam berbagi informasi tentang potensi risiko terbang di atas konflik dan bahwa maskapai penerbangan sekarang mengambil tindakan lebih cepat.

“Maskapai mengambil pendekatan yang lebih terstruktur untuk menganalisis risiko dan ketidakpastian, meningkatkan ke tingkat risiko yang lebih tinggi pada tahap sebelumnya,” kata dewan keselamatan.

Bangsa-bangsa, otoritas penerbangan internasional, dan organisasi internasional seperti Komisi Eropa juga bekerja bersama dengan lebih baik untuk meningkatkan berbagi intelijen, kata Joustra. Tetapi laporan itu menekankan bahwa masih banyak yang harus dilakukan.

“Sangat sedikit perubahan yang berkaitan dengan manajemen wilayah udara oleh negara-negara yang berurusan dengan konflik bersenjata di wilayah mereka telah dilakukan,” kata dewan keselamatan dalam sebuah pernyataan. “Selain itu, maskapai penerbangan membutuhkan informasi yang lebih rinci dan kompleks untuk melakukan penilaian risiko yang memadai.”

Joustra mengatakan dia melihat sedikit tindakan atas rekomendasi dewan untuk bergerak cepat menutup wilayah udara atau memaksakan batas ketinggian di langit di atas zona konflik. Dia mengatakan kepentingan nasional dapat mencegah tindakan keamanan tersebut.

 

“Jika Anda menutup wilayah udara Anda, itu adalah pengakuan umum bahwa Anda tidak lagi bertanggung jawab atas wilayah atau langit Anda sendiri,” kata Joustra.***

 

Peringatan Lima Tahun Okupasi Krimea oleh Rusia

Menteri Luar Negeri Ukraina H.E. Mr. Pavlo Klimkin

JAYAKARTA NEWS – Saat ini menandai peringatan lima tahun okupasi Rusia di Krimea. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pasca-perang Eropa, Moskow pada Februari 2014 merebut sebagian wilayah milik sebuah negara berdaulat, sehingga mengganggu sistem keamanan global Eropa.

Pada waktu itu dunia dengan suara bulat mengutuk aneksasi Krimea oleh Rusia dan sejak itu pula tidak mengubah posisinya, meskipun Kremlin yakin bahwa Krimea akan diampuni tak lama kemudian, sama halnya dengan Georgia pada 2008.

Semua politisi, analis dan pengacara yang bijak setuju bahwa Moskow telah sangat melanggar hukum internasional, tidak ada yang meragukan bahwa dari sudut pandang hukum Krimea adalah milik Ukraina. Hal ini, tentu saja, sangat bagus.

Tetapi pada saat yang sama, banyak orang di dunia yang percaya bahwa tindakan Putin dapat dipahami “secara manusiawi”, karena, seperti yang mereka dengar di suatu tempat, “Krimea selalu bagian Rusia”.

Sulit untuk menemukan mitos yang lebih absurd dan kurang dapat dibenarkan, tetapi anehnya, hal tersebut meletakkan akar yang dalam di seluruh dunia dan mampu menembus kesadaran massa internasional.

Alasannya, jelas, yaitu bahwa propaganda Rusia secara perlahan sudah meluncurkan informasi yang salah tersebut segera setelah runtuhnya bekas Uni Soviet secara perlahan, ketika bahkan belum tercium aroma perang. Namun ketika saatnya perang datang, pandangan “tidak resmi” dari internasional sudah berlangsung.

Dalam artikel ini saya ingin menyajikan fakta-fakta historis yang menyangkal mitos ini dan kebenaran yang dapat Anda periksa di Wikipedia atau di sumber objektif lainnya.

Menteri Luar Negeri Ukraina H.E. Mr. Pavlo Klimkin

Jadi, seperti inilah faktanya.

Tatar Krimea adalah orang-orang asli Krimea dan memiliki negara mereka sendiri Khanate Krimea, yang pada waktu itu merupakan negara Muslim kuat dan berbudaya tinggi. Sementara orang Rusia, selain tahanan perang, tidak ada di wilayah tersebut sama sekali.

Pada awal abad ke-18, berkat reformasi Peter Yang Pertama, Keharyapatihan Moskwa berkembang menjadi Kekaisaran Rusia, mendapatkan kekuatan dan menaklukkan negara-negara tetangga di Eropa.

Kekaisaran Rusia menaklukkan Estonia dan Latvia pada 1721, Lithuania, dan sebagian dari Polandia, termasuk Warsawa pada 1795, serta Finlandia pada 1809. Saat ini, semua negara tersebut merupakan negara-negara merdeka yang berdaulat, anggota PBB, Uni Eropa dan NATO (kecuali Finlandia). Tidak mungkin seseorang akan mencoba untuk mengeklaim bahwa mereka “selalu bagian Rusia”.

Khanate Krimea juga termasuk ke dalam daftar yang ditaklukkan oleh Moskow pada 1783, yang dari sudut pandang historis, relatif baru-baru ini. Dengan demikian, berbicara tentang kepemilikan primordial Rusia atas Krimea jelas merupakan absurditas. Krimea hanyalah salah satu negara, yang pada masa itu diperbudak oleh Kekaisaran Rusia dengan bantuan paksaan senjata.

Satu-satunya perbedaan antara Krimea dan negara-negara lain yang disebutkan di atas yaitu bahwa setelah runtuhnya Kekaisaran Rusia pada tahun 1917, Tatar gagal mempertahankan kemerdekaan mereka sendiri. Krimea, seperti halnya Ukraina, direbut oleh Bolshevik dan tetap berada di bawah struktur yang sama dengan Kekaisaran Rusia, namun atas nama Uni Soviet.

Namun, selama masa Uni Soviet Krimea bahkan lebih kurang “beruntung” dibandingkan Ukraina. Ukraina menjadi “republik persatuan” dengan ciri formal negara berdaulat, sementara pada tahun 1921 Moskow memberi Krimea hanya status otonomi saja, itupun di bawah Rusia, bukan di Republik Persatuan Ukraina.

Keputusan Kremlin tersebut jelas bertentangan dengan realitas objektif, karena secara geografis Semenanjung Krimea adalah bagian dari Ukraina, dan tidak memiliki hubungan teritorial dengan Rusia. Afiliasi administratif ke Rusia sementara keterikatan teritorial ke Ukraina sangat menyulitkan pengembangan ekonomi di wilayah tersebut, pasokan hampir sepenuhnya disalurkan dari Ukraina.

Situasi tersebut diralat sendiri oleh Moskow, yang akhirnya terpaksa untuk mengakui realitas geografis dan geo-ekonomi Krimea. Pada tahun 1954, Kremlin memprakarsai pemindahan Krimea dari Rusia ke Republik Ukraina. (Kremlin tidak membayangkan bahwa suatu hari Ukraina akan menjadi negara merdeka, jadi bagi otoritas Uni Soviet, mereka memandang Krimea dan juga keseluruhan Ukraina masih milik Rusia).

Saya ingin secara terpisah menekankan: pemindahan Krimea dilakukan dengan kepatuhan penuh terhadap hukum dan prosedur Uni Soviet. Mitos Rusia bahwa Krimea secara ilegal dipindahkan ke Ukraina oleh Khrushchev (mantan Pemimpin Uni Soviet) yang bodoh – merupakan fiksi yang tidak pantas. Pada tahun 1954, Khrushchev bahkan belum memiliki otoritas yang cukup untuk tindakan tersebut.

Kita sampai pada pemahaman tentang apa sebenarnya arti mitos “Krimea selalu bagian Rusia”. Pada kenyataannya, Krimea bahkan tidak sampai sekitar satu setengah abad dalam pendudukan Kekaisaran Rusia (1783-1917), karena dengan demikian klaim tersebut akan berlaku juga untuk negara bekas pendudukan lainnya yang sekarang menjadi negara merdeka. Yang menjadi penentu di sini yaitu Krimea berada di Republik Soviet Rusia dari tahun 1921 hingga 1954, yaitu hanya 33 tahun saja.

Nampaknya sejak Uni Soviet runtuh, para pemimpin Rusia sangat menyayangkan kenyataan bahwa jika bukan karena 1954, maka Krimea akan tetap milik Rusia. Pada saat yang sama, mereka tidak malu dengan kenyataan bahwa, jika bukan karena 1921, maka Krimea akan tetap milik Ukraina, dan jika bukan bukan karena 1783, maka Krimea akan menjadi negara merdeka dengan 0% populasi Rusia.

Lalu kini, pada tahun 2014, keangkuhan imperial terungkap – Kremlin secara blak-blakan melakukan pencaplokan terhadap Krimea, melanggar hukum internasional, logika sejarah dan keadilan.

Sebagai anekdot, saya akan memberikan contoh mitos Rusia lain tentang Krimea, yang diluncurkan pada tahun 2014 secara pribadi oleh Presiden Rusia. Dia menyatakan bahwa “untuk Rusia, Krimea memiliki makna suci dan bahwa persis di sana ada sumber spiritual bangsa Rusia dan pembentukan negara”, karena Raja Volodymyr mengadopsi agama Kristen di Krimea dan kemudian membaptis semua bangsa Rus.

Raja Volodymyr memang dibaptis pada 988 di Krimea (setidaknya kronik mengatakan demikian) dan pada tahun yang sama ia membaptis negaranya. Namun, Volodymyr adalah seorang Kyivan (orang Kyiv), bukan raja Moskow, dan dia membaptis Kyivan Rus, bukan Rusia. Adapun Moskow, Rusia dan kelompok etnis Rusia sendiri, pada waktu itu mereka sama sekali belum ada. Hutan-hutan di wilayah Moskow masa kini didominasi oleh suku-suku Finno-Ugric, yang hanya setelah beberapa abad berasimilasi dengan bangsa Slavia dan menjadi inti dari bangsa Rusia modern.

Jadi sekali lagi, absurd! Namun demikian, bahkan kepalsuan sejarah seperti itu sekarang sedang disebarkan ke ruang informasi internasional. Perhitungannya, jelas, seperti biasa, dilakukan berdasarkan fakta bahwa tidak seorang pun akan mencari hal itu di Wikipedia.

Namun, mitos “Krimea Rusia” telah terbangun, sayangnya, tidak hanya melalui propaganda palsu dan distorsi yang tidak masuk akal dari sejarah. Pada bulan Mei 1944, Moskow melakukan operasi kriminal skala besar yang bertujuan untuk sepenuhnya membersihkan Krimea dari penduduk asli dan menggantikannya dengan etnis Rusia.

Rezim Stalin menyalahkan bangsa Tatar Krimea atas keterlibatannya dengan Nazi yang menduduki Krimea pada tahun 1941-1944. Seluruh orang Tatar Krimea sejumlah 191 ribu, termasuk anak-anak, dibawa ke wilayah Asia terpencil di Uni Soviet dalam waktu dua hari. Fakta adalah bahwa Kremlin hanya membutuhkan pembersihan etnis, dan tuduhan pengkhianatan hanyalah sebuah alasan. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa keluarga dari 9.000 Tatar Tentara Merah (militer Uni Soviet), yang pada waktu itu berperang di garis depan melawan Nazi, dikirim ke pengasingan, padahal mereka juga merupakan pahlawan. Selain Tatar, kelompok etnis lainnya juga diusir, yaitu orang-orang Yunani, Bulgaria dan Armenia, yang mendiami Krimea selama berabad-abad meskipun tidak dituduh melakukan pengkhianatan. Hanya tersisa bangsa Slavia di Semenanjung Krimea saat itu, yaitu masyarakat Rusia dan Ukraina.

Setelah itu, transmigrasi besar-besaran masyarakat dari pedesaan Rusia ke Krimea pun dimulai. Mereka bermukim di 80.000 rumah kosong yang ditinggalkan oleh pemiliknya. Kelompok keturunan dari koloni Rusia inilah yang kini membentuk bagian terbesar dari populasi Krimea. Mereka lah yang mendukung dilakukannya aneksasi Krimea.

Hingga akhir, Moskow mencegah Tatar Krimea untuk kembali ke tanah air. Pemulangan massal mereka sudah dimulai setelah Ukraina merdeka. Ukraina sendiri telah menanggung semua biaya dan mengurus penataan seluruh bangsa. Pada 2013, 266 ribu Tatar kembali ke rumah, yang merupakan 13,7 persen total populasi Semenanjung Krimea.

Menteri Luar Negeri Ukraina H.E. Mr. Pavlo Klimkin

Pendudukan Krimea oleh Rusia pada tahun 2014 menjadi bencana nyata bagi Tatar Krimea. Mereka telah melarikan diri dari Gulag (penjara Uni Soviet), tetapi Gulag kembali mendatangi bahkan di tanah asal mereka. Oleh karena itu, hampir semua orang Tatar Krimea menentang pendudukan Rusia dan tetap loyal kepada Ukraina. Justru karena hal itulah, Tatar Krimea menjadi korban utama penganiayaan dan penindasan oleh Rusia sejak okupasi Krimea terjadi tahun 2014. Sebanyak 25 ribu Tatar terpaksa meninggalkan Krimea lagi dan beremigrasi ke bagian wilayah Ukraina. Kremlin telah melarang Mejlis (parlemen nasional Tatar Krimea), media serta pendidikan. Budaya dan agama Tatar dilecehkan. Puluhan patriot dijebloskan ke penjara. Pada Desember 2018, Rusia menangkap tokoh publik Tatar, Eden Bekirov ketika memasuki Krimea, yang ingin mengunjungi ibunya yang berusia 78 tahun. Bekirov adalah orang dengan kondisi lumpuh serius, dia menderita diabetes parah, kaki yang diamputasi, dan 4 aliran pirau pada jantung setelah mengalami infarktus di tahun sebelumnya. Tinggal di tahanan tanpa memperoleh pengobatan yang diperlukan dan perawatan medis baginya sama saja dengan hukuman mati. Namun demikian, “peradilan” Rusia tetap menahannya. Mereka menuduh Bekirov dengan dugaan melakukan upaya menyerahkan sekantong 15 kilogram bahan peledak kepada seseorang, meskipun kesehatannya bahkan tidak memungkinkannya mengangkat beban dua kilogram. Tuduhan absurd yang sesungguhnya, tirani hukum yang semena-mena, menunjukkan bahwa sistem represif Rusia sedang mencoba untuk mengintimidasi dan melemahkan moral Tatar Krimea.

Saya harus mencatat bahwa korban represi bukan hanya Tatar Krimea. Seluruh dunia sudah tahu nama sutradara film yang dipenjara secara ilegal, seorang etnis Rusia dan patriot sejati dari Ukraina Oleg Sentsov, yang secara terbuka memprotes pencaplokan Krimea. Volodymyr Baluch, seorang etnik Ukraina, menjadi simbol keberanian, dilemparkan ke balik jeruji karena menaikkan bendera Ukraina di atas rumahnya di Krimea yang diduduki. Seperti yang Anda lihat, orang-orang Krimea yang jujur dan berani memprotes dan berperang melawan perampasan tanah mereka oleh penjajah Rusia, terlepas dari kebangsaannya. Pelanggaran hak asasi manusia di Krimea oleh Moskow telah berulang kali dikutuk oleh PBB dan organisasi internasional lainnya. Tetapi saya yakin bahwa komunitas internasional harus melipatgandakan upaya untuk segera membebaskan tahanan politik.

Seperti yang kita lihat, saat ini kejahatan terhadap orang Tatar Krimea merupakan kelanjutan dari kejahatan tahun 1944, yang pada sejarah dunia disebut dengan nama “deportasi”. Definisi ini digunakan hari ini oleh para akademisi, politisi dan jurnalis. Namun, istilah “deportasi” itu sendiri merupakan bentuk eufemisme politik yang memberikan gambaran salah dan tidak sepadan dengan realitasnya. Fakta menunjukkan bahwa terdapat 46,2 persen Tatar Krimea meninggal selama 4 tahun pertama di pengasingan karena kondisi kehidupan yang sangat sulit. Ini bukanlah deportasi semata, melainkan bentuk genosida. Akibat pergeseran dari pengartian genosida Tatar Krimea tersebut, seperti halnya dengan Holodomor Ukraina, peristiwa ini terlepas dari ingatan sejarah manusia. Kita harus mengakui kedua pertistiwa tersebut sebagai bentuk kemenangan hitam lainnya dari propaganda Soviet-Rusia.

Akibatnya, mitos “Krimea selalu bagian Rusia” juga diperlukan di Moskow untuk mempertahankan hasil dari genosida Tatar Krimea dan digantinya mereka oleh kolonis Rusia. Itu juga merupakan salah satu tujuan utama pendudukan Krimea saat ini.

Dengan demikian, de-okupasi dan pengembalian Krimea ke kedaulatan Ukraina, di samping aspek politik dan hukum, juga memiliki keharusan moral yang kuat. Komunitas internasional tidak memiliki hak untuk mengizinkan satu pun genosida untuk “beruntung”, sehingga mereka yang telah melakukan itu dapat mencapai tujuan mereka bahkan setelah beberapa dekade berlalu. ***

Spa Bali Diminati Warga Ukraina

Kiri: Bali Spa di Provinsi Odessa, Ukraina. Kanan: Dubes Prof Dr Yuddy Chrisnandi bersama tiga orang terapis asal Indonesia. Foto: Ist

SEJATINYA, sangat banyak keunggulan Indonesia yang diakui dunia. Salah satunya adalah spa & massage. Tak tanggung-tanggung, bisnis spa diadopsi pengusaha asal Provinsi Odessa, Ukraina dengan cara membuka bisnis itu di sana.

Cukup beralasan, mengingat Odessa adalah kota pantai. Provinsi ini, memiliki 300 kilometer bentang pantai, dan tujuh pelabuhan laut. Karenanya, bisnis spa, salon, massage termasuk salah satu jenis bisnis yang menjanjikan. Hingga hari ini, di Odessa tercatat ada tiga griya perawatan, yaitu Sun City Bali, dan dua cabang spa salon Bali. Meski berbau Bali, tetapi pemiliknya adalah orang Ukraina.

Provinsi inilah yang baru-baru ini dikunjungi delegasi KBRI Kyiv, dan dipimpin langsung Dubes Prof Dr Yuddy Chrisnandi. Di provinsi Odessa, terdapat sedikitnya 15 orang WNI. Mereka sebagian besar bekerja sebagai terapis di tiga griya kebugaran tadi. Sebagian orang Indonesia lain bahkan menikah dengan penduduk setempat.

Dubes Yuddy menyampaikan bahwa keamanan dan keselamatan WNI di luar negeri adalah mutlak tanggung jawab KBRI. Oleh karena itu KBRI membuka pintu selebar-lebarnya bagi setiap WNI untuk menghubungi KBRI jika terjadi hal-hal yang memerlukan bantuan. Pada kesempatan yang sama Panitia Pemilu KBRI Kyiv juga melakukan pendataan WNI untuk faktualisasi jumlah pemilih di Pemilu 2019.

Dubes Prof DR Yuddy Chrisnandi dan Wakil Gubernur Odessa Svitlana Shatalova (tengah). Foto: Ist

Hari berikutnya, Selasa 15 Mei 2018, delegasi KBRI Kyiv berkunjung ke kantor gubernuran. Sedianya, menemui Gubernur Odessa. Apa boleh buat, Gubernur tidak ada di tempat, sehingga kehadiran Dubes diterima Wakil Gubernur Odessa Svitlana Shatalova. Pada kesempatan itu, Dubes Yuddy didampingi Pejabat Fungsi Penerangan Sosial & Budaya, Gatot Amrih Djemirin, Pejabat Fungsi Prokotol & Konsuler, Adi Bramasto, Staf Protokol & Konsuler Radi Rintarto, Staf Komunikasi Ludi Bianto, dan Penerjemah Marina Barabash.

Sedangkan, Wakil Gubernur Svitlana Shatalova, didampingi tiga pejabat lain yang semuanya wanita. Mereka adalah Olga Sickan , Acting Head of the Departement of Invesment, International and Interregional cooperation, Iryna Vakhrameeva, Head Of Regional Development Agency, dan Daria Antonenko, selaku Adviser to the head of Odesa Regional State Administraton.

Dubes Yuddy Chrisnandi di Kantor Gubernur Odessa., Ukraina. Foto: Ist

Dubes dan Wagub menyatakan sama-sama senang dengan pertemuan tersebut. Wakil Gubernur mengatakan ini pertemuan pertama dan langkah pertama untuk hubungan Indonesia dan Ukraina, khususnya dengan Provinsi Odessa. Ia berharap ini bukan pertemuan terakhir.

Odessa memiliki potensi investasi bidang pertanian dan pariwisata, karena Odessa mempunyai infrastruktur yang cukup bagus dan bentang pantai 300 km. Gubernur Odessa sudah melakukan inisiatif perbaikan jalan tol sepanjang 200 km, untuk membangun ekonomi. Odessa membuka tangan dan hati untuk kerjasama dengan Indonesia. Odessa juga mempunyai 7 pelabuhan yang dikelola oleh Administrasi Pelabuhan Ukraina (di bawah Kementerian Infrastruktur) bekerja sama dengan pemerintah provinsi Odessa.

Sedangkan, bagi Dubes Yuddy, kunjungan kali ini adalah yang ketiga. Yang pertama untuk berlibur, kedua mengantarkan Wakil Ketua DPR bidang Korpolkam Fadli Zon, dan yang ketiga sengaja untuk menemui gubernur Odessa.

Dalam kesempatan itu, Wagub Odessa juga menjelaskan pencapaian pembangunan di daerahnya. Seperti, peningkatan hasil produksi manufaktur sebanyak 12%, dan peningkatan inventasi mencapai 2 miliar Euro pada satu tahun terkakhir. Odessa mempunyai 4 Taman Nasional alam yang belum dikelola optimal untuk pariwisata. Kota ini tercata memiliki Gedung Teater paling banyak dibandingkan daerah lain di Ukraina. Tak heran jika di Odessa sering diadakan festival kebudayaan dan musik. Kunjungan wisatawan ke provinsi Odessa mencapai 6 juta orang tahun 2016, dan tahun 2017 naik 20%. ***