JAYAKARTA NEWS – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan edaran penyelenggaraan ibadah Ramadan dan Idulfitri 1445 H. Menag mengimbau umat tetap jaga ukhuwah dan toleransi dalam menyikapi potensi beda awal puasa.
Dikutip dari Rilis Kemenag, Rabu (6/3/2024), Pemerintah akan menggelar sidang isbat awal Ramadan 1445 H pada 10 Maret 2024. Sidang akan memutuskan apakah puasa Ramadan tahun ini akan dimulai pada 11 atau 12 Maret.
Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan bertepatan 11 Maret 2024. Ada juga sebagian jemaah tarekat yang akan mulai puasa pada 10 Maret 2024.
“Umat Islam diimbau untuk tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan toleransi dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan 1 Ramadan 1445 Hijriah/2024 Masehi,” sebut Gus Men di Jakarta, Rabu (6/3/2024).
Edaran yang ditandatangani Gus Men pada 26 Februari 2024 ini ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan.
Edaran juga disampaikan kepada pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, pengurus Badan Kesejahteraan Masjid, pengurus Majelis Dai Kebangsaan, pengurus dan pengelola masjid/musala, panitia Hari Besar Islam tingkat provinsi dan kabupaten/kota, serta masyarakat muslim di Indonesia.
“Umat Islam agar melaksanakan ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri sesuai dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi nilai toleransi,” sambung Gus Men.
Menag Yaqut juga berpesan agar umat Islam dalam syiar Ramadan tetap memedomani Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
Edaran pengeras suara terbit pada 18 Februari 2022. Edaran ini antaran lain mengatur volume pengeras suara diatur sesuai dengan kebutuhan, dan paling besar 100 dB (seratus desibel). Khusus terkait syiar Ramadan, edaran ini mengatur agar penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan baik dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam. Sementara untuk takbir Idulfitri di masjid/musala dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam.
Berikut ketentuan lengkap Edaran Menag No SE. 1 tahun 2024 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri Tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi:
1. Umat Islam diimbau untuk tetap menjaga ukhuwah islamiyah dan toleransi dalam menyikapi potensi perbedaan penetapan 1 Ramadan 1445 Hijriah/2024 Masehi.
2. Umat Islam melaksanakan ibadah Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri sesuai dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi nilai toleransi.
3. Umat Islam dianjurkan untuk mengisi dan meningkatkan syiar pada bulan Ramadan dengan tetap mempedomani Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
4. Umat Islam dimbau untuk melaksanakan berbagai kegiatan di masjid, musala, dan tempat lain dalam rangka syiar Ramadan dan menyampaikan pesan-pesan taqwa serta mempererat persaudaraan sesama anak bangsa.
5. Takbiran Idul Fitri dilaksanakan di masjid, musala, dan tempat lain dengan ketentuan mengikuti Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.
6. Takbir keliling dilakukan mengikuti ketentuan pemerintah setempat dan aparat keamanan dengan tetap menjaga ketertiban, menjunjung nilai-nilai toleransi, dan menjaga ukhuwah islamiyah.
7. Salat Idul Fitri 1 Syawal 1445 Hijriah/2024 Masehi dapat diadakan di masjid, musala, dan lapangan.
8. Materi ceramah Ramadan dan Khutbah Idul Fitri disampaikan dengan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah, mengutamakan nilai-nilai toleransi, persatuan dan kesatuan bangsa, serta tidak bermuatan politik praktis sesuai dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 09 Tahun 2023 tentang Pedoman Ceramah Keagamaan.
9. Mengimbau kepada umat Islam untuk lebih mengoptimalkan zakat, infak, wakaf, dan sedekah di bulan Ramadan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan umat.***/mel
Jayakarta News – Tanpa terasa empat bulan di tahun 2020 pun akan berlalu, yang mana dua bulan belakangan hari-hari kita lalui penuh dengan keresahan yang mencekam dan kuatir akibat wabah virus corana (Covid-19). Namun begitu seiring waktu masih di bulan April ini, Jumat (24/4) kita sudah memasuki hari pertama bulan suci Ramadhan.
Bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang dinanti
kedatangannya oleh umat Islam, maka diwajibkan berpuasa satu hari penuh menahan
hawa nafsu, lapar, dan dahaga. Semua itu dilakukan semata-mata untuk
menjalankan satu dari lima rukun Islam, dan itu merupakan bagian dari ibadah
yang mengharapkan keberkahan di bulan suci ini.
Untuk menjalankan ibadah puasa, maka terlebih dahulu kita
harus memiliki niat yang kuat sebelumnya. Karena hal itu penting, sebab akan
dapat berpengaruh pada tekad dan juga kemampuan di saat menjalankan puasa untuk
menahan godaan, seperti godaan haus, lapar, menahan amarah serta perbuatan lain
yang seharusnya tidak kita lakukan pada saat berpuasa.
Jadi bulan suci Ramadhan ini bukan hanya sekedar berpuasa
dan ibadah, tetapi melainkan ini momen bagi seseorang untuk dapat belajar
menahan diri dari godaan-godaan dan menempah ketakwaan serta memiliki dampak
baik bagi kesehatan bagi tubuh. Dan ini ada beberapa manfaat dari berpuasa.
Menurunkan Berat
Badan
Apabila berpuasa dilakukan secara benar dan teratur, itu
akan memberikan manfaat jangka panjang bagi tubuh, seperti membantu dalam
meningkatkan sistem pencernaan dan metabolisme secara keseluruhan.
Jika dilihat secara ilmiah, berpuasa dapat menurunkan berat badan, kenapa? karena
selama berpuasa,usus-usus dalam tubuh akan lebih bersih dari sisa-sisa endapan
makanan. Dan endapan makanan inilah bila
kelebihan akan menjadi lemak diperut.
Selain itu berpuasa juga memperbaiki sistem pencernaan kita,
sehingga sirkulasi makanan dan buang air menjadi lebih lancar, kemudian,
pembakaran lemak menjadi energi sehingga puasa dapat menurunkan berat badan.
Meningkatkan
Kekebalan Tubuh
Pada saat berpuasa tidak perlu khawatir karena merasa lemas,
sehingga jadi mudah sakit. Justru ketika berpuasa, didalam tubuh akan terjadi
peningkatan limfosit (sel darah putih) sampai dengan 10 kali lipat.
Hal ini memberikan pengaruh yang besar terhadap sistem
imunitas tubuh, sehingga puasa justru menghindarkan infeksi bakteri dan virus
pada tubuh yang datang dari lingkungan luar atau makanan yang tidak baik.
Mengingat saat ini wabah pandemi Covid-19 dengan mudah
menyerang tubuh manusia yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, maka
berpuasa merupakan salah tindakan pereventif dan berpuasa dengan baik maka
kesehatan tubuh dapat meningkatkan kekebalan tubuh.
Meningkatkan
Kesehatan Mental
Selain menahan lapar dan dahaga, berpuasa tidak hanya
memberikan manfaat untuk kesehatan fisik melainkan juga bermanfaat untuk
kesehatan mental. Karena dengan berpuasa kita dapat meningkatkan kesehatan
mental karena saat berpuasa tubuh dapat memproduksi banyak endorphin yaitu
hormon yang membuat bahagia.
Itu dapat meningkatkan mood, rasa bahagia, mencegah depresi
dan gangguan kecemasan dan efek tersebut biasanya akan terasa setelah 3-4 hari
berpuasa, itu dikarenakan tubuh mulai mengeluarkan hormon katekolamin yang
dapat membuat perasaan menjadi lebih baik.
Dan hal tersebut disebabkan karena tubuh harus beradaptasi
terlebih dahulu saat puasa. Jadi, kamu tidak perlu khawatir merasa gundah
karena menahan lapar dan haus saat berpuasa, justru berpuasa akan membuatmu
lebih bahagia.
Memperbaiki Pola
Makan
Dengan berpuasa otomatis pola makan pasti berubah mengarah teratur, sedangkan
jika tidak biasanya makan sehari tiga kali, bahkan bisa lebih. Dan makanan pasti kurang kontrol. Memang
merasa lapar. Tetapi, kita dapat berlatih dengan berpuasa,
sehingga mempunyai kesabaran untuk menahan lapar dan terbiasa menjalaninya.
Kemudian makan pada saat waktunya telah ditentukan. Dan Kita
juga dapat berlatih untuk makan dengan porsi yang jelas yaitu, tidak terlalu
banyak dan tidak terlalu sedikit. Dengan begitu puasa memperbaiki pola makan
orang yang berpuasa.
Mempercepat
Metabolisme
Bisa dibayangkan ketika tidak berpuasa, tubuh kita lebih
sering bekerja pencernaannya. Sedangkan dengan puasa akan memberi waktu istirahat
bagi sistem pencernaan. Sedangkan itu berguna bagi metabolisme dalam tubuh
untuk membakar kalori secara lebih efisien.
Jika pencernaan buruk, akan memengaruhi kemampuan tubuh
untuk memetabolisme makanan dan membakar lemak. Tetapi berpuasa dapat mengatur
proses pencernaan dan meningkatkan fungsi usus secara lebih baik, dan akan
meningkatkan fungsi metabolisme dalam tubuh. Dan kemungkinan masih ada lagi
manfaat dari berpuasa. (Monang Sitohang)
JAYAKARTA NEWS – Istri
aktor Baim Wong, Paula Verhoeven (31 tahun) kini tengah hamil satu bulan, setelah mengalami keguguran
sebelumnya.
“Puasa Ramadan di hari pertama (6/5/2019) lancer dan saya enggak mengalami apa-apa. Baru puasa di hari kedua, ketiga dan seterusnya, saya mengalami pusing-pusing dan mual. Mas Baim sarankan, saya ke dokter kandungan dan saya dianjurkan enggak usah puasa. Toh di hukum Islam, bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui anaknya, tidak diwajibkan berpuasa,” kata Paula di sela-sela acara peragaan busana merayakan ultah ke I Supermodels Project, di La Moda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta, Minggu (12/5).
Kini, setelah minum obat, Paula lebih tenang dan jalan kaki
pun, tidak perlu terburu-buru. “Kalau perlu, saya hanya mengenakan sepatu
kets, tidak boleh high heels (sepatu hak tinggi),” ujar Paula yang dalam dirinya mengalir darah
Belanda-Tionghoa dari ayah (Eddy Verhoeven) dan Jawa Semarang (Herlina).
Meski demikian, Paula tetap bangun pagi dan menamani Baim
Wong sahur. “Mas Baim paling suka makanan yang panas dan mengurangi
minuman dingin. Untungnya, dia juga enggak merokok dan minum kopi,” ungkap
Paula yang pernah membintangi film ‘Supernova’.
Alumnus London School of Public Relation jurusan Kehumasan
tahun 2005-2009 ini sebenarnya ingin berpuasa pol tahun ini. Tapi mengingat
dirinya sedang hamil, dia lebih memerhatikan kesehatan jabang bayinya.
“Nanti kalau anak saya sudah lahir dan sudah besar,
kalau dibolehkan, saya akan berpuasa lagi. Juga, saya akan mengajarkan salat
dan membaca kitab suci Al Quran kepada anak saya,” papar Paula yang rajin
beribadah lima waktu (ketika menanti acara, Paula aktif menjalankan salat ashar
dan salat magrib di lantai atas Plaza Indonesia).
Anda rajin
beribadah, siapa yang mengajarkan Anda ? “Sejak kecil, saya sudah salat
lima waktu sama ibu saya di Semarang. Bahkan, ayah memanggil guru mengaji ke
rumah. Setelah saya menikah dan hengkang ke Jakarta, saya tentunya salat sama
suami saya, mas Baim Wong. Belakangan, mas Baim Wong juga menyarankan agar saya
memakai jilbab. Tapi saya belum siap,” imbuhnya.
Mengingat namanya yang beraroma Belanda, banyak yang mengira
(termasuk penulis), Paula Verhoeven itu non-muslim. Bahkan, suaminya, Baim Wong
sejak awal akan dikenalkan lewat ‘comblang’ Teuku Zacky, menyangka Paula itu
bukan seorang muslimah.
Maklum, kala itu Baim Wong usianya sudah 37 tahun dan belum
menikah (malah Baim Wong dijuluki Raja Jomblo). Dengan Marshanda, hubungannya
putus dan Marshanda menikah dengan pria lain. Ini kok Teuku Zacky mau
mengenalkan dirinya dengan wanita non-muslim ?
Namun, sahabat-sahabatnya seperti Zaskia Sungkar dan Raditya
Dika memberi semangat dan kepercayaan bahwa Paula Verhoeven itu beragama Islam.
Kalau tidak percaya, Baim Wong boleh buka Google.
“Lalu, saya googlingan. Ternyata, dugaan saya salah dan
omongan teman-teman saya benar. Ada foto Paula Verhoeven sedang pakai jilbab
dan menjalankan ibadah umroh ke tanah suci bersama teman-temannya. Yahhh….
menyesal deh saya… kemudian saya mengadakan ‘pdkt’ lebih atraktif ke Paula.
Yang lucu, Paula juga cari informasi lewat Google. Dikatakan, Baim Wong itu
gonta ganti pacar dan playboy, walau orangnya baik. Pokoknya, peristiwa saling
cek dan ricek ini akhirnya gol.
Persahabatan terjadi dan Paula dilamar, dan puncaknya, Baim Wong menikahi Paula
Verhoeven tahun 2018.
Paula yang tingginya 1.82 meter ini, mengukir prestasi
melalui jenjang paling bawah : juara II Abang None Jakarta Barat (2006), juara
harapan 3 Abang None Jakarta tingkat Nasional (2006), juara I Voice of Asia
(2012), berkarir menjadi peragawati di Singapura (2014) dan dikontrak agency di
Milan-Italia selama tiga bulan dan terjun ke dunia film.
Mantan model Elite Look Model sejak usia 16 tahun ini
terakhir membuka usaha Sekolah Model Supermodels Project bersama Kelly
Tandiono, Dominique Diyose, dan Laura Mulyadi tahun 2018 di Melawai, Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan. Puluhan anak didiknya kini sudah banyak yang menjadi
model terkenal dan mengisi acara-acara peragaan busana di Jakarta dan kota
lain. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Dalam pandangan Mentari Putri Novel, gadis remaja berusia 20 tahun ini, Ramadan adalah bulan penuh berkah, bulan yang perlu disambut dengan ibadah. Ini adalah bulan yang penuh karunia tiada terhingga,
“Saya selalu menjalani ibadah shaum (puasa) tiada henti, kecuali lagi datang bulan. Kalau enggak ada acara syuting atau jumpa fans di luar Jakarta, saya selalu mengontak teman-teman untuk mengajak berbuka puasa bareng. Tempatnya kita tentukan kemudian, bisa di rumah makan atau dimana saja,” kata Mentari saat bukber film ‘Single 2’ di Restoran Cerita Rasa, Ampera Raya, Jaksel, baru-baru ini.
Di film produksi Soraya Film ini, Mentari berperan sebagai Alika, seorang gadis milenial dan cheerfull. “Ini bertolak belakang banget dengan karakter saya sehari-hari,” tutur Mentari yang pernah dinobatkan sebagai Miss Grand Jawa Barat 2018.
Gadis yang suka mengcover lagu di YouTube ini mengaku suatu hari dirinya pernah dikontrak komika Raditya Dika, untuk menjalani test dan reading film komedi.
“Awalnya deg-degan, kan abang Raditya orang terkenal. Alhamdullilah, saya dinyatakan lulus dan bisa bermain di film karya abang. Ini film pertama saya,” kata gadis pemurah senyum ini. Saking dekatnya dengan keluarga Raditya itulah, Mentari pun ikut menemani istri Radit di Rumah Sakit ketika melahirkan anak pertamanya.
“Lucu juga sih… saya kan masih lajang, tapi istrinya abang selalu tanya soal-soal yang berkaitan dengan kehamilan. Untung bisa saya jawab, karena sebelumnya saya baca baca buku-buku tentang kesehatan ibu yang hamil dan melahirkan,” ujarnya sambil tersenyum manis sekali. (pik)
SEBUAH masjid di kota Granada, Andalusia, terletak di kawasan Spanyol selatan. Masjid yang menghadap ke Istana Alhambra yang terkenal tersebut, manerik banyak Muslim untuk berziarah selama bulan Ramadhan.
Masjid ini bernama “Mezquita Mayor de Granada” (Masjid Agung Granada). Di sini pas banget untuk menjadi pilihan saat Anda berada di Granada dan tengah menjalankan puasa Ramadhan seperti sekarang ini. Pengurus masjid ini menyediakan hidangan untuk berbuka puasa dengan berupa kurma dan sup Harira Maroko.
Sekretaris Jenderal Masjid, Zacarias Lopez Rejon mengatakan bahwa mereka menyediakan hidangan untuk puasa hari Minggu kemarin dengan hidangan susu dan kurma, sementara sup Harira disajikan setelah sholat Tarawih.
“Setelah sholat isya, kami melakukan sholat Tarawih. Selama sebulan penuh, Quran dibaca dari awal hingga akhir dua kali,” kata Rejon.
Menurut Rejon, masjid ini dibangun oleh komunitas Muslim di Granada 30 tahun yang lalu ketika ayahnya masuk Islam.
“Kami mengalami kesulitan dalam pembangunan masjid. Prosesnya memakan waktu lama karena alasan keuangan dan politik. Akhirnya masjid itu diresmikan untuk ibadah pada tahun 2003,” kata Rejon.
Rejon menambahkan, bahwa mereka membutuhkan bantuan keuangan dari seluruh dunia untuk tetap memelihara masjid.
Muhammed Ibrahim Perez, seorang pengunjung masjid yang berusia 60-an, mengatakan Muslim di Granada memiliki tempat penting dalam hal aspek lokal, nasional dan internasional.
Perez mengatakan bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik dan ditunggu tahun ini.
Kota di selatan Granada dikenal sebagai tanah Umayyah Andalusia, selama delapan abad hingga Perang Granada pada 1492, ketika kaum Muslim kehilangan semua kekuasaan mereka di Spanyol.
Setelah kemenangan Spanyol, Granada dianeksasi ke Kastilia, sebuah kerajaan di Semenanjung Iberia selama Abad Pertengahan.
Perang ini adalah bagian dari “Reconquista”, yang berarti merebut kembali.***
KETIKA saya masih kuliah dulu, teman sekamar kos saya di Yogyakarta yang kini menjadi Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Akhmad Minhaji Moekti, mengambil sikap berbeda dari orang-orang lain dalam hal makan sahur saat berpuasa.
Kalau orang-orang lain segera berhenti makan sahur begitu mendengar sirene atau beduk atau pemberitahuan masuknya waktu Imsak, teman saya ini justru segera memulai makan sahur begitu mendengar seruan imsak. Begitu ada seruan ”Imsaak, qad aana waktul imsaak” (imsak, kini sudah masuk waktu imsak), Minhaji ini langsung makan sahur dan baru berhenti kalau sudah berkumandang azan subuh.
Kalau sudah melewati separuh bulan Ramadan biasanya sejak pukul 2.30 dini hari Minhaji sudah berada di Masjid Almustaqiem untuk melanjutkan salat malam atau membaca Quran, tapi begitu ada seruan imsak dia segera pulang dulu untuk makan sahur.
Teman-teman pada berteriak, ”Eh, Min, ini sudah imsak, kok, masih makan?” Dia enteng menjawab, ”Mengapa? Kan, belum azan subuh?” Bagi banyak orang sikap dan jawaban Minhaji ini aneh, sebab biasanya begitu mendengar tanda imsak orang yang berpuasa segera berhenti makan.
Banyak orang tua langsung meminta anak-anaknya berhenti makan begitu mendengar tanda imsak, tak peduli makannya baru mulai atau sudah lama. ”Ini sudah imsak, berhenti makan minum, puasa dimulai,” kata mereka. Sebenarnya dari sudut fikih, apa yang dilakukan Minhaji itulah yang benar. Di dalam ibadah puasa yang dituntunkan oleh Rasulullah tidak dikenal adanya imsak seperti yang kita kenal di Indonesia.
Malah ada anjuran untuk mempercepat berbuka begitu berkumandang azan magrib dan memperlambat waktu sahur sampai berkumandang azan subuh. Maksudnya biar orang berpuasa tak terlalu lama menahan lapar dan haus. Baik menurut kitab suci Alquran maupun yang dipraktikkan oleh Rasulullah waktu dimulainya berpuasasetiaphari adalah saat masuk waktu subuh, bukan saat dibunyikan sirene atau dikumandangkan seruan imsak.
Di dalam Alquran Surat Albaqarah ayat 187 difirmankan, ”…. dan makan dan minumlah kamu hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam (yang menunjukkan terbitnya) fajar.” Ayat ini sudah menegaskan bahwa kita boleh makan dan minum sampai terbitnya fajar, yakni sampai masuk waktu untuk salat subuh. Terbitnya fajar itu menandai masuknya waktu subuh. Praktik Rasulullah pun dalam melaksanakan ibadah puasa seperti itu.
Di dalam sebuah hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Hakim yang ditashih (dinyatakan sahih) oleh Adzdzahaby disebutkan bahwa Nabi bersabda, ”Jika salah seorang dari kamu mendengar azan sedangkan ia masih memegang piring (sedang makan sahur), maka janganlah ia meletakkan piring itu hingga selesai makan.”
Jadi, mendengar azan subuh pun orang yang berpuasa tak harus langsung berhenti makan dan minum, melainkan harus menyelesaikannya dengan tertib dan tenang, tak usah dilakukan terburu-buru seperti dikejar-kejar sesuatu yang menakutkan.
Dalam hadis lain yang oleh Syekh Al-Abany dinyatakan sebagai hadis hasan, Ibnu Umar meriwayatkan bahwa pada suatu hari saat sahabat Alqamah ibn Alaatsah makan sahur bersama Rasulullah, datang Bilal yang akan mengumandangkan azan subuh, tetapi Nabi meminta Bilal untuk menunda azan sebentar dengan sabdanya, ”Wahai Bilal, tunggu sebentar azannya, Alqamah sedang makan sahur.”
Nash-nash tersebut menunjukkan bahwa melaksanakan ibadah puasa itu yang wajar-wajar saja. Berbuka puasa, ya, harus disegerakan begitu terdengar azan magrib, tak usah sok kuat menunda berbuka sampai isya. Yang penting kalau tinggal di Jakarta, ya, mengikuti waktu azan Jakarta, bukan mengikuti azan magrib Makassar.
Bersahur pun, ya, dianjurkan agar diakhirkan sampai masuk waktu (azan) subuh, tak usah terlalu takut batal sehingga terburu-buru mengakhiri makan dan minum padahal belum fajar, apalagi mengopyak-opyak anak-anak yang masih enak-enak menikmati makan sahur. Bagi yang pernah berpuasa Ramadan di Tanah Suci Mekkah dan Madinah, misalnya, pasti tahu bahwa di sana tidak ada titik waktu imsak yang terlepas dari azan subuh.
Di Mekkah dan Madinah, waktu imsak dalam arti menahan dan menghentikan makan dan minum, ya, berhimpit dengan saat azan subuh. Bahkan banyak terlihat di Masjidil haram orang yang segera mulai makan lagi begitu berkumandang azan subuh sebagai makanan terakhir penutup sahur. Penentuan imsak (mulai menahan) 10 menit sebelum azan subuh tampaknya hanya kreasi kaum muslimin di kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia dan Malaysia.
Itu tentu baik saja sebagai informasi bahwa waktu bersahur tersisa 10 menit lagi sehingga orang-orang yang belum selesai makan sahur dapat segera menyesuaikan diri. Tapi jangan dihukumkan bahwa imsak adalah titik waktu harus berhentinya makan dan minum.
Pada saat masuk waktu subuh itulah kita mulai berhenti makan dengan tenang dan mengakhiri dengan menyikat gigi untuk mulai berpuasa. Jadi tenang-tenang saja, tak usah tergopoh-gopoh, apalagi sambil panik berkejaran dengan bunyi beduk, sirene, atau suara azan.
Beribadah dalam Islam itu enak kok, tak memberatkan kita. Islam itu memberi ruang luas bagi kita untuk hidup dan beribadah dengan enak, tetapi bukan seenaknya.