Inilah video klip single terbaru Dhanurendra, vokalis Dirty Frank. Proses pengambilan gambar, antara lain dilakukan di Bukit Merah Putih, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
#dhanurendra#bukitmerahputih#musikindonesia
Inilah video klip single terbaru Dhanurendra, vokalis Dirty Frank. Proses pengambilan gambar, antara lain dilakukan di Bukit Merah Putih, Sentul, Bogor, Jawa Barat.
#dhanurendra#bukitmerahputih#musikindonesia
JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Namanya Levi. Singkat. Usia 20 tahun. Dari hobi nyanyi di kamar mandi dan karaoke, kini Levi bisa masuk dapur rekaman.
Single perdananya bertajuk ‘Cerita Manis’ benar-benar punya kenangan manis. Lagu ciptaan ayahnya, Lemmy R Ibrahim ini cukup singkat pengerjaannya. “Hanya 6 bulan, sampai release. Kemudian syuting video klip.
“Saya agak canggung. Grogi. Tapi semua kesulitan lewat. Apalagi papa menemani di studio. Alhamdullilah,” lontar Levi.
Selama proses rekaman, Levi menggandeng sejumlah musisi ternama, ada Dewa Budjana, Gilang Ramadhan, Happy Pretty, Iwang Noorsaid dan Shadu Rasjidi.
Debut single ini berkisah ihwal dunia remaja. “Tapi enggak ada related dengan pengalaman saya,” timpal Levi.
Senang tarik suara sejak kecil. Kelurganya juga punya hobi sama : menyanyi. Lalu, apakah hobi ini akan terus dilanjutkan ?
“Inshaa Allah ya. Bisa rekaman impian sejak lama. Bisa kolaborasi dengan musisi kondang saja enggak terpikir,” jawab Levi tegas.
Pendatang baru di industri musik ini boleh diberi punten dan semangat. Kita sorong dengan doa ya. (pik)

JAYAKARTA NEWS – Membaca judulnya, seperti adu tinju saja. Padahal acaranya konser musik. Konser duel meet yang tidak ada duelnya ini sering dipromosikan di tahun 70an dan 80an. Misalnya Duel Meet AKA vs God Bless. Atau Duel Meet Giant Step vs Ternchem.
Yang lucu, pernah terjadi konser musik bertajuk Duel Meet Favourites Group vs Koes Plus vs SAS di Semarang. Dua band pengusung genre sweet sound ditanding melawan band beraliran cadas (hard rock). Khalayak penuh, lalu siapa yang menang?

Enggak ada yang menang, karena enggak ada duel meet antara ketiga band itu. Bahkan jam session (main sama-sama sepanggung) pun, enggak terjadi. Ini cuma promosi oleh para promotor musik agar khalayak membludak menonton band-band favoritnya.
Mendadak sontak mencuat kalimat Konser Musik Duel Meet Makara vs Cockpit yang dihelat di Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (12/12). Penggagasnya Gideon Momongan (wartawan musik) dan Kadri Mohammad, musikus bertitel Sarjana Hukum (SH) yang acap digelari ‘singing lawyer’.
Acaranya malam hari, dari pukul 20.00 dan berakhir pukul 23.00 WIB. Yang datang opa oma dan bapak ibu berusia 60an tahun yang termasuk generasi bunga yang sedang marak di tahun 70an dan 80an.
Pertama band Makara yang diplesetkan sebagai ‘mahasiswa karatan’ alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini unjuk diri di panggung. Punggawanya ada tujuh personel, ada yang sudah senior dan ada yang junior.
Mereka adalah Kadri Mohammad (vokal), Adi Adrian (keyboard, juga memperkuat KLA Project), Budhy Haryono (drum), Noldy Benyamin (gitar), Soebroto Harry (bas), Jimmo (vokal) dan Eghay (additional keyboard) ditambah Rini dan Humi bertugas di suara latar (backing vocal).
Puluhan lagu digebrak dengan semangat tinggi. Pukulan keras drum berpadu harmonis dengan dentuman keyboard dan petikan gitar nan rancak. Nada dan irama progresive rock lawas yang menjadi hit Makara disenandungkan lewat lengkingan manis Kadri dan Jimmo.

Nomor ‘Rajawali’ dilantunkan sebagai lagu pembuka. ‘Semusim’ milik Chrisye – yang acap disebut mirip suara Phil Collins dari Genesis – dibawakan oleh Kadri secara ciamik dan liat. Kemudian ada lagu ‘Ronta Jiwa’ dan ‘Laron Laron’ yang menjadi hit Makara, disusul ‘Legenda Masa Depan’ ‘Sangkakala’, ‘Dunia Angan Angan’ dan ditutup nomor ‘Indonesia Maharddhika’ ciptaan Guruh SP yang dicomot dari album fenomenal Guruh Gipsy.
Lagu pamungkas yang liriknya berbahasa Sansekerta ini memperoleh keplok riuh khalayak yang memenuhi area Hard Rock Cafe seperti Triawan Munaf (eks Kepala Badan Ekonomi Kreatif, keyboardis Giant Step), Romulo Rajadin (KLA), aktris Aura Kasih, Tonny Wenas (Direktur Freeport, eks Solid 80) dll.

Sesi kedua giliran Cockpit unjuk kemampuan. Grup beraliran prog rock yang acap disebut ‘copy paste’ Genesis dari Britania Raya ini juga menurunkan 7 personel : Raidy Noor (bass), Krisna Prameswara (keyboard), Nada Noor (gitar), Jimmo (vokal), Denni Chaplin (vokal) plus featuring double drum yaitu Fajar Satritama (God Bless) dan Rama Moektio (yang menggantikan ayahnya, Yaya Moektio).
Hampir 16 nomor lagu bernuansa prog rock dari Genesis (semasa era Peter Gabriel) maupun di era vokalis Phil Collins dibawakan secara apik dan kompak. Hiruk pikuk nada-nada cadas plus dentuman gitar elektrik Nada Noor dan gitar bas Raidy Noor sangat beraturan. Juga, gebrakan drum – yang acap disebut bedug londo – dari Fajar Satritama begitu dominan dan memberikan nilai tambah pada Cockpit.
Hampir lebih selusin nomor cadas dilantunkan secara nonstop : Mama, Take a look at Me now, Duke’s Travel, I don’t Care Anymore, Firth of Fifth, In the Air To Night, Dancing with The Moonlit Tonight, Follow you Follow Me dan Take Me Home sebagai lagu pamungkas dimana Romulo Rajadin alias Lilo ikut tampil bersenandung.
Keutuhan dan kesolidan Cockpit sebagai grup lawas ini perlu dicontoh oleh band-band baru di era kiwari. Meski tiga personelnya yaitu Freddy Tamaela, Ary Syaff dan Odink Nasution tutup usia, namun kharisma dan ciri diri Cockpit tetap utuh enggak tergerus zaman. O ya, sound oleh DSS pimpinan Donny Hardono malam itu yang menyuguhkan suara yang jernih dan pas benar-benar patut diberi punten. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Tak ada batasan usia dalam berkarya. Karena kemauan dan keyakinan dirilah yang dapat mendobrak semua batasan. Demikian musikus senior Tono Supartono percaya akan hal tersebut.
Meski usianya sudah tak muda lagi, dan sudah lama menerjuni sebagai pebisnis dan pelaku usaha, Tono baru-baru ini mengambil keputusan merekam lagu secara duet berkolaborasi bersama Andi Rianto. Dan hasilnya sebuah lagu bertajuk ‘Sang Bidadari’ dirilis ke publik.
Selain penyanyi, Tono juga mencipta lagu. Sedangkan arrangernya Andi Rianto. “Ini ide spontan. Saya jenuh. Selama pandemi, saya vakum. Saya terbiasa mengisi waktu luang dengan musik dan menulis lagu,” kata Tono. Lagu ‘Sang Bidadari’ tercipta dalam hitungan jam.
“Saya bel Andi Rianto minta tolong dibuatkan aransemen bernuansa orkestra. Andi menyanggupi,” tutur Tono. Kemudian Andi mengontak Budapest Scoring Orchestra dan semua oke. “Jadi, kita rekaman jarak jauh. Andi kirim video partitur secara digital ke Hungaria. Ini semua jadi acuan didalam proses pembuatan lagu,” cerita Tono.

Selanjutnya, proses mixing digarap Tommy Utomo dan mastering dikerjakan oleh Don Bartley dari Sydney. Dan video klip disutradarai Wahyu Taufani Prialangga. “Semua gercep (gerak cepat), tapi terarah, terukur dan disiplin,” urai Tono yang pernah mendirikan Magenta Orkestra bersama Indra U Bakrie dan Andi Rianto tahun 2004 yang lalu.
Tono Supartono terukir namanya tatkala sebuah lagu ciptaannya berjudul ‘Keagungan Tuhan’ yang dibawakan Eddy Silitonga masuk dalam ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors tahun 1978 yang lalu. Kemudian, Tono pernah mendirikan ‘Tono & Trust Band’ serta merekam lagu ‘Moving On’ bersama Magenta Singers, sebuah kumpulan rekaman terbaik Tono.
Ia menggaet Nania Yusuf, Samy Simorangkir, Be3, Wisha Sofia Dewi, dan almarhum Dendy Mikes. Karir Tono Supartono memang tidak ujug-ujug atau menggosok lampu Aladin terus flup… jadi. Ia memulainya dari bawah sekali. Setapak demi setapak. Dan tahun 2021, meski sudah berjaya di dunia bisnis,Tono tak melupakan musik. Semoga ‘come back’ nya menjad catatan sejarah penting buat perkembangan dunia musik Indonesia. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ayahnya, Armand Maulana, vokalis band Gigi. Sedangkan ibunya, Dewi Gita, penyanyi terkenal. Anak semata wayang mereka bernama Naja Dewi Maulana.
Baru-baru ini, Naja merilis lagu debutnya yang berbahasa Inggris berjudul ‘Hung Up’. “Menulis lirik lagunya pukul 3 pagi. Selesai hari itu juga,” kata Naja yang kini sedang menempuh studi di Leeds Arts University, Inggris.
Dara kelahiran 8 Agustus 2001 ini mengatakan, lagu ini bertema cinta bertepuk sebelah tangan. “Dari semua lagu ini paling mudah. Prosesnya lancar,” cerita Naja lagi.
Naja mengaku tak terpikir bisa masuk studio rekaman. “Ini pengalaman baru bagi saya,” imbuhnya. Masuk studio rekaman sesuatu yang menyenangkan sekaligus menegangkan. “Apalagi ibu saya, Dewi Gita sebagai produser eksekutif di DG Production,” urai Naja.
Lagu ‘Hung Up’ ditulis liriknya tanpa bantuan komposer kenamaan. Aransemen musiknya beralur kekinian. Boleh dikata penggabungan antara musik dan seni. Soal promosinya, semua diserahkan ke ibunya.
“Saya enggak peduli viral atau enggak. Tujuan saya merekam lagu ini agar orang-orang enggak tersendiri di dunia ini,” ucapnya. “Saya bukan clout chaser, pemburu popularitas dan ketenaran,” sambung Naja. (pik)

JAYAKARTA NEWS – Ramadan sekejap lagi tiba. Bulan penuh berkah, menghapus benci dan dendam yang dirindukan umat Islam se dunia. Dan di Indonesia, penyanyi Aunur Rofiq Lil Firdaus atau akrab disapa Opick, 47 tahun, sudah ‘curi start’ merilis mini album rohani. Berjudul ‘Wahai Pemilik Jiwa” berisi 6 lagu.
Album yang dikeluarkan oleh Forte Record ini dikatakan Opick terinspirasi dari pandemi. “Hampir setahun aku berkarya di rumah. Kita takut. Waspada sama pandemi. Jujur, segala sesuatu yang kita banggakan bukan apa-apa tanpa Mu. Ya Allah, aku hilang, aku jatuh, aku rapuh…,” ujar Opick yang kelahiran Jember ini.
Lagu-lagu tersebut bertemakan tentang keindahan Ramadan, bulan yang paling ditunggu umat Islam. “Selama WFH (work from home), aku tulis lirik lagu beberapa. Tapi yang lolos ada 6 nomor. Dalam Ramadan yang lalu-lalu biasanya sebulan aku dapat job nyanyi usai tarawih 40 sampai 60 jadwal. Tahun ini, sepi…,” urai Opick.
Penyanyi mantan rocker ini tak putus asa dan mengeluh. “Ini sinyal langsung dari Allah SWT. Aku lebih rajin beribadah. Mulai latihan salat malam yang banyak dan dibagusin lagi. Dan hadapkan hari-hari dengan sunah. Kitab suci Al Quran yang lama jadi hiasan di lemari kini dipegang lagi. Alhamdulillah, aku bisa menemukan energi luar biasa,” tutur Opick.
Dalam menyongsong bulan Ramadan, Anda adalah ‘single fighter’ untuk album rohani. Opick tidak takabur, ia merendah menjawab “Bersyukur. Di genre lagu religi Islam, enggak ada pesaing. Semua bernyanyi memuliakan asma Allah SWT,” jawab penyanyi yang pertama melepas lagu ‘Tombo Ati’ yang konon liriknya ditulis oleh Sunan Kalijaga untuk syiar Islam yang penuh damai dan kesejukan ini.
Dalam mini album ini, terdapat 6 nomor tembang baru yaitu ‘Tanpa Mu’, ‘Wahai Pemilik Jiwa’, ‘Indahnya Ramadan’, ‘Sang Cahaya Kehidupan’ (salawat), ‘Allahu Ya Karim’ dan Jangan Tangisi’. Seluruh lagunya bisa didengarkan secara digital di beberapa platform musik, termasuk TouTube miliknya. Cekak aos : dendangan dan curhat Opick ini memang asyik didengarkan dan dinyanyikan bareng saat berkumpulnya orang-orang soleh. Yang bersama menyembah ke satu titik. Satu Zat. Allah SWT. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Musikus asal Bali dan gitaris band Gigi, I Gusti Dewa Budjana merilis single bertajuk ‘Swarna Jingga’. Nomor ini merupakan single ke 3 dari album ‘Naurora’ yang melengkapi 2 album sebelumnya, yaitu ‘Blue Mansion’ dan ‘Kmalasana’.
Diproduksi oleh Mehsada yang bagian dari Kakiatna Indonesia, komposisi lagu ini dibantu 3 musisi jazz bule yaitu Dave Weckl (drum, dari Amerika, pernah membantu Chick Corea), Jimmy Johnson (bas, dari Amerika) dan Mateus Asato (gitar, dari Brasil).
“Saya melibatkan musisi bule yang punya warna dan kemampuan,” lontar Budjana dari studio Lemmon yang menghadirkan sobat-sobat Budjana, seperti Mira Lesmana (sineas), Bre Redana (penulis) dan Echa Soemantri (drumer).
Diuraikannya, single ini adalah benang merah dari album-album terdahulu. Harus ada instrumen drum? “Drum itu fondasi di musik, khususnya jazz,” jawab Budjana cepat. Single ini adalah refleksi dirinya saat menghadapi kondisi saat ini pasca pandemi.

“Saya coba hadirkan spektrum warna-warna yang setelahnya berlalu, ke kehidupan menjadi terang lagi. Warna jingga menguatkan kehidupan menjadi emas dan berharga,” beber Budjana. Ditambahkan, album solo ini adalah proses panjang dan pencapaian cita-cita. “Atau katakanlah perjalanan. Enggak jalan di tempat,” imbuhnya.
Melelahkan atau kecapaian? “Kalau capai berarti sudah berhenti atau sudah enggak ada. Perjalanan masih jauh,” pungkas Budjana diselipi kata-kata penuh filsafat dan spiritualisme. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Bintang baru di dunia musik telah lahir. Difki Khalif, biduan berparas tampan ini bernama Difki Khalif. Ia baru saja melepas single perdananya bertajuk ‘Ilusi Setelah Kau Pergi’.
Menjalani suatu hubungan yang sempurna, bukan hal mudah. Kita harus bisa menerima kenyataan, tapi apa yang terjadi tak selalu berjalan sesuai keinginan. Demikian Difki Khalif mencetuskan sekelumit pengalaman pribadinya, lewat lagu.
“Lagu ini berkisah tentang pengalaman pribadi gue ketika ditinggal seseorang yang disayangi. Gue enggak bisa terima kenyataan. Gue coba buat ilusi seolah-olah dia enggak ninggalin gue. Tujuannya cuma ingin menghibur diri sekaligus menutupi kesedihan dan kenyataan yang harus gue alami saat itu,” tutur Difki Khalif polos.
Dikatakannya, lagu ini tercipta seminggu sebelum gue ulang tahun tanpa memberitahukan ulang tahun yang ke berapa. “Kejadian putus hanya satu candaan untuk kejutan. Hanya ilusi yang sedang gue buat sendiri,” terang Difki Khalif yang sepupu Ariel Noah ini.
Adapun prosesnya, baik lirik maupun nada dibuatnya sendiri. Aransemen lagu dibantu Kang Capung. “Kita workshop di Bandung. Hampir setahun garap lagu. Karena ada pandemi Covid, kala itu berhenti total. Alhamdullilah, kita bisa menyelesaikan rekaman,” cerita Difki Khalif.
Hikmahnya, ada ide yang bisa ditambahkan, baik cerita maupun di aransemennya. Klop dengan curhat biduan pendatang lain yaitu Segara. Singlenya yang baru diluncurkan bertitel ‘Terlambat Mencintaimu’ juga berisi penyesalan dalam hubungan berpacaran. Lagunya berkisah ihwal seseorang yang dalam hidupnya penuh rasa sesal.
“Ia telat melakukan hal untuk seseorang yang dicintainya. Karena itu, sesal selalu datang dan membuat jadi lemah. Hanya pasrah dan mengakui salah,” lontar Segara. Lagu ini membawa pesan ‘menampar’ muka kita untuk tulus menyintai orang yang kita kasihi.
Secara jujur, Segara memaparkan bahwa waktu adalah kemewahan yang tak bisa kita genggam selamanya. “Sisihkan waktu untuk menyampaikan sayang untuk keluarga, teman, kerabat dan mereka yang memiliki nilai dalam kehidupan kita. Karena kita enggak bisa menambah ulang dan memutarbalikkan waktu. Kalau telat, yang tersisa hanya rasa rindu dan sesal,” tutup Segara yang
memperkuat rekaman single ini dengan menambah instrumen strings asli yang bukan dibuat synthesizer atau digital (strings aslinya adalah violin, biola dan cello yang dimainkan para musisi). Alhasil, dengan mendengarkan lagu ini, dapat membawa dampak positif kepada fans yaitu menghindari penyesalan dan kesalahan. Bermakna positif, meski datang terakhir, penyesalan itu harus disetip dan dihapus. (pik)

Hampir setiap tahun sejak kepergian penyanyi ‘Lilin-Lilin Kecil’ pada 30 Maret 2007 lalu, Ferry Mursyidan Baldan yang akrab dipangil Bang Ferry ini melakukan beragam aktivitas baik rutin pergi ziarah ke makamnya atau sambil melakukan aktivitas lainnya.
Tahun ini, dengan mengusung tema “11 Tahun Setelah Chrisye Pergi”, Bang Ferry bersama Komunitas Kangen Chrisye (#K2C) kembali menggaet awak media untuk berpartisipasi ikut mengapresiasi kepergian Chrisye dalam bentuk tulisan yang dipublish antara tanggal 29 Maret – 5 April 2018, di medianya masing-masing.
Alhasil ada 29 jurnalis yang ikut mengapresiasi ide dan gagasan Bang Ferry ini yang seluruhnya berupa tulisan baik menyangkut tentang karir sang legenda, tentang album yang diproduksi, lagu-lagunya , film atau apapun yang berkaitan dengan sisi humanis Chrisye.
“Prestasi seorang legenda pada zamannya meskipun kini telah pergi, tetap harus terpelihara”, tambah Bang Ferry.
Bang Ferry juga pernah menjabat sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang / Ketua Badan Pertanahan Nasional di Kabinet Kerja pada 2014-2016.
Selanjutnya, Bang Ferry ingin membukukan 29 judul artikel menjadi buku yang berjudul ’11 Tahun Kangen Chrisye’ dari berbagai media yang telah ikut berpartisipasi.
“Penghargaan dan apresiasi kami berikan tidak hanya untuk Chrisye, tapi juga legenda lainnya seperti Nike Ardila dan juga Koes Plus”, ungkap Bang Ferry yang telah mempersiapkan proyek untuk dua nama tersebut. (pik)

Era boyband dan girlband di Indonesia telah usai. Boyband dan girlband ternama seperti Smash, Cherrybelle dan lainnya pun menghilang termakan zaman seperti membubarkan diri atau vakum untuk sementara waktu. Mencoba peruntungan, Smash yang digawangi oleh Rafael Tan, Rangga, Bisma, Dicky, Reza dan Ilham kembali hadir di industri musik. Smash memutuskan comeback dengan menyuguhkan single Fenomena.
“Kami memutuskan untuk comeback. Kami tahu kapan Smash akan kembali. Apakah satu frekuensi lagi. Hal-hal seperti itu yang timbul dari diri kami masing-masing untuk bersinergi bareng. Mungkin bulan ini pas. Dulu, kami sempat mau come back tapi merasa energinya belum sama. Mudah-mudahan bisa memeriahkan industri musik yang sekarang lagi. Kita pengin ketika genre edm masih naik dan jadi genre yang pop boy band punya peluang yang sangat besar,” jelas Bisma saat jumpa pers di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Tak mudah di situasi seperti ini bisa bersama-sama. Masing-masing personel pun harus bisa saling mengerti dan adaptasi jadwal. Maklum, masing-masing personel Smash kini sibuk dengan karier pribadi sebagai entertainer.
Single Fenomena sendiri ditulis oleh musisi asal Malaysia bernama Audi Mok yang juga pernah berkolaborasi dengan Smash beberapa waktu lalu. Fenomenan merupakan lagu yang bercerita tentang lelaki tampan yang melakukan pendekatan dengan seorang perempuan. Fenomena bertema ceria, colourfull dan energik. Smash sendiri kini berada di bawah naungan 401 Records.***