Kondisi Doni Monardo Stabil

JAYAKARTA NEWS—- Kabar sakit yang menimpa Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo memenuhi ratusan grup whatsapp di Tanah Air. Kabar itu seketika disusul doa berbagai kalangan untuk kesembuhan Doni Monardo.

Atas itu semua, Ogi Rulino, M.Eng, adik kandung Doni Monardo menyampaikan terima kasih atas perhatian yang sangat luar biasa, termasuk dari rekan-rekan media massa, baik cetak maupun online.

Dalam keterangan resminya, Ogi Rulino membenarkan ihwal kondisi Doni Monardo yang dalam keadaan sakit dan sedang menjalani perawatan secara intensif di suatu rumah sakit, di bawah pengawasan tim dokter. “Kondisi pak Doni dalam keadaan stabil,” ujar Ogi.

Dalam kesempatan itu, Ogi juga mengharapkan doa yang tulus dari seluruh masyarakat, rakyat Indonesia untuk kesembuhan Bapak Doni Monardo, sehingga beliau bisa kembali pulih, sehat seperti sedia kala. “Dan tentunya kepada rekan-rekan media, kami mengharapkan dukungan yang luar biasa, perhatian yang sangat-sangat luar biasa kepada abang kami,” ujar Ogi.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Egy Massadiah, staf khusus BNPB 2019-2021 saat Doni Monardo menjabat Kepala BNPB. ***

Jenderal Doni Monardo Kecam Penusukan Kolonel Purn Sugeng Waras

JAYAKARTA NEWS— Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo mengecam pelaku penusukan terhadap Kolonel Purn Sugeng Waras. Tidak hanya itu, Doni juga minta aparat kepolisian mengusut tuntas serangan terhadap Sugeng Waras.

Demi mengetahui peristiwa yang menimpa Kolonel Purn Sugeng Waras, kemarin (29/12), Doni langsung menghubungi Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol Drs Suntana. “Semoga kasusnya segera terungkap,” ujar Doni yang pernah menjabat Komandan Jenderal Kopassus itu.

Kapolda Suntana merespon cepat. Ia langsung melaksanakan penyelidikan untuk mengungkap perkara tersebut. Beberapa saksi sudah diperiksa. Termasuk pemeriksaan terhadap seluruh CCTV yang ada di sekitar TKP. “Terhadap korban, kami belum bisa mengambil keterangan, karena beliau kondisinya masih dalam perawatan,” ujar Irjen Suntana.

Polda Jawa Barat, tambahnya, sangat fokus mengungkap kasus tersebut, di bawah kendali Direktur Kriminal Umum Polda Jabar. Menurut Kapolda, Insya Allah dalam waktu dekat segera kami ungkap pelakunya.

Bukan hanya itu, Doni Monardo sebagai Ketua Umum PPPAD meminta sekjen PPAD Mayjen Purn Komaruddin Simanjuntak berkoordinasi Polda Jabar melalui Unit Samapta Polres Cimahi, juga telah membantu pengawalan proses pemindahan pasien dari RS Cibabat ke RS Dusitra Cimahi (TNI). Hari ini, Jumat, 30 Desember, diinformasikan kondisi Sugeng Waras membaik.

Kronologi

Peristiwa terjadi tanggal 29 Desember 2022. Diketahui, sebelum terjadinya musibah penusukan, Kolonel (Purn) Sugeng Waras melaksanakan pertemuan dengan kerabatnya di Alam Wisata Cimahi (AWC). Pukul 14.15 WIB, Sugeng Waras meninggalkan AWC.

Saat perjalanan pulang, tepatnya di depan pintu gerbang Perum. Gardenia, mobil Honda Jazz silver yang dikendarai korban tiba-tiba dipecah kaca belakangnya oleh durjana yang belum diketahui namanya. Kemudian korban berhenti dan turun dari mobil.

Saat Sugeng Waras turun dari kendaraan, pelaku langsung menusukan senjata tajam ke arah kedua kaki korban dan langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Tak lama setelah peristiwa itu, melintas satu warga di TKP dan melihat korban tersungkur berlumuran darah. Warga bernama Aditya Ramdani itu lalu menolong korban dengan membawanya ke RS. Cibabat, Kota Cimahi untuk mendapatkan pertolongan.

Korban mengalami luka tusuk di kaki kanan dan dua luka tusuk di kaki kiri. Poda Jabar masih mengusut motif kejahatan tersebut.***

Panglima TNI Terima Pengurus PP PPAD Bahas Silatnas 2022

JAYAKARTA NEWS— Panglima TNI, Jenderal TNI Andika Perkasa menerima Ketua Umum dan Pengurus Pusat Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD), di kantornya, hari ini Selasa (2/8). Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PPAD Letjen TNI Purn Doni Monardo didampingi antara lain, Mayjen TNI Purn Nono Suharsono, Mayjen TNI Pur Wuryanto, Brigjen TNI Purn Dr Joko Wibisono, Mayjen TNI Purn Irwan, Brigjen TNI Purn Edison.

Doni Monardo melaporkan ihwal rencana Silaturahmi Nasional (Silatnas) PPAD, pada tanggal 5 Agustus 2022, di SICC Sentul, Bogor. Direncanakan Presiden Joko Widodo, akan hadir membuka silatnas.  Doni juga mengundang Panglima TNI untuk hadir serta memberi pengarahan.

Ketua Panitia Silatnas PPAS 2022, Mayjen TNI Purn Nono Suharsono juga melaporkan, tak kurang dari 8.000 purnawirawan akan hadir dalam acara tersebut. Mereka purnawirawan perwira tinggi, bintara dan tamtama. Selain menjadi ajang kangen-kangenan antarpara purnawirawan, sekaligus untuk memantapkan program ekonomi kesejahteraan yang digulirkan kepengurusan PPAD 2021 – 2026.

“Mereka yang akan hadir antara lain, anggota dan pengurus PPAD, Purnawirawan Kowad, Warakawuri, pengurus PPAD Provinsi, dll. Juga, sejumlah Menteri, TNI, Polri, serta kalangan pejabat sipil,” ujar Nono.

Selaras dengan visi dan misi PPAD, maka dalam Silatnas juga akan ada pameran dan bazar UMKM para Purnawirawan juga Warakawuri. Bazar dan UMKM ini antara lain menyajikan pameran bibit sukun, makanan olahan dari sagu, daun kelor dan lain lain. Bazar dan pameran ini setidaknya melibatkan 30-an peserta both/stand. “Juga akan dihibur orchestra dengan penyanyi Edo Kondologit juga akan ikut,” tambahnya.

Atas maksud tersebut, Panglima TNI Jenderal Andika menyambut positif, dan akan hadir memberi dukungannya. Dikatakan, purnawirawan dan prajurit aktif, sejatinya hanya berbeda secara administrative. Akan tetapi, tetap sama-sama punya kewajiban dalam membela nusa dan bangsa. Jika saat aktif concern-nya di bidang pertahanan dan keamanan, maka setelah purnawirawan, fokus pada kegiatan yang produktif seperti membangun entrepreneurship, dalam bingkai besar kesejahteraan bangsa. (dr)

Dari Istana ke Bukit Asam

Kisah Doni Monardo melakukan Pembibitan Pohon

TANJUNG ENIM, JAYAKARTA NEWS – Pagi itu adalah Jumat basah, sisa hujan semalam. Area bekas lahan tambang batubara PT Bukit Asam, Tanjung Enim, Sumatera Selatan menjadi saksi sejarah. Program besar Bukit Asam yang tidak saja menambang tetapi juga menanam.

Hari itu 10 Juni 2022, PTBA, beririsan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Lokasinya dinamai Botanical Garden Bukit Asam. Di lahan seluas 17 hektare ini kelak akan jadi destinasi wisata dari lahan bekas tambang. Ini sejalan dengan Noble Purpose MIND ID.

Hadir Komisaris Utama MIND ID, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo. Ia mengapresiasi keseriusan PTBA dalam usaha reklamasi bekas lahan tambang, serta bergiat di bidang konservasi serta pemulihan ekosistem.

Doni berpesan, di Botanical Garden PTBA nanti disediakan sarana yang cukup untuk anak-anak. “Sedari dini, anak-anak harus diberi wawasan mengenai ekosistem. Kita harus mencetak generasi yang menyayangi pohon dan menjaga ekosistem. Hal-hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghindari penggunaan kemasan plastik sekali pakai, adalah nilai-nilai yang wajib ditanamkan, agar ada perubahan perilaku menjaga dan merawat alam,” ujar Doni yang juga Ketua Umum PP Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) itu.

Pagi itu, Doni sangat antusias. Terlebih ketika meninjau langsung Nursery Park (kebun bibit) seluas 2,1 hektare, tak jauh dari lokasi Botanical Garden. Tak kurang dari 600.000 batang yang terdiri dari tanaman keras, tanaman buah, dan tanaman hias ada di sana.

Jenis-jenis bibit tanaman keras yang sudah ada, di antaranya angsana, bayur, beringin, glodokan, gaharu, johar, lonkida, mahoni, meranti, merbau, sengon buto, tanjong, dan trembesi. Sedangkan, pohon buah di antaranya asam, bisbul, cempedak, ceri, duku, durian, jambu biji, kayu putih, matoa, dan rambutan. Untuk jenis tanaman hias, di antaranya alamanda, asoka, bougenville, keladi, kemuning, Ketapang mini, mawar, palm, pinang dan pucuk merah.

Foto bersama usai acara penanaman pohon di Botanical Garden PTBA, Tanjung Enim, Sumsel/ Foto: Egy Massadiah)

Beringin Istana

Koleksi pembibitan PTBA dipastikan bakal bertambah. Sebab, Doni tidak hadir dengan tangan kosong. Ia membawa serta 150 bibit pohon aneka jenis. Beberapa di antaranya pohon langka. Adalah pohon beringin (25), pule (20), Afrika (15), Palaka (30), Sukun (15), Mahoni (20), Tarum (5), dan Kihonje (20).

“Bibit beringin itu saya semaikan sendiri. Asalnya bukan main-main, itu jenis beringin yang tumbuh di Istana Negara. Bijinya dikumpulkan Yonkawal Paspampres,” cerita Doni.

Ada juga biji ia pungut dari pohon beringin yang tumbuh di Jalan Gunawarman Jakarta Selatan dan beringin di kawasan Bumi Serpong Damai Tangerang. Keduanya termasuk jenis beringin yang sangat bagus. Bisa tumbuh sangat besar dan berusia ratusan tahun.

“Jadi masyarakat Tanjung Enim dan Sumatera Selatan umumnya, tidak perlu ke Jakarta, cukup datang ke sini untuk bisa melihat dari dekat beringin Istana,” kata Doni sambil tertawa.

Palaka juga jenis yang diberi catatan khusus Doni sebagai pohon langka. “Pohon itu saya datangkan dari Seram, Maluku. Menempuh perjalanan panjang dari Seram ke Ambon. Dari Ambon ke Jakarta. Dari Jakarta ke kebun bibit di Tigaraksa. Pohon ini bisa hidup ratusan tahun. Di Ambon ada satu palaka berusia ratusan tahun yang untuk melingkari diameternya, diperlukan 30 orang dewasa saling menggandengkan tangan,” kisah Doni.

Sedangkan, bibit pohon di Nursery Park yang dicermati Doni Monardo adalah pohon matoa. Doni berharap bibit matoa yang ada, adalah jenis matoa yang premium. Matoa ada tiga ragam dilihat dari warna kulit. Matoa merah (Emme Bhanggahe), matoa hijau (Emme Anokhong), dan matoa kuning (Emme Khabhelaw). Bahasa yang lain, biasa disebut matoa raja, matoa merah dan matoa papeda.

“Matoa raja, sampai seminggu setelah dipetik, buahnya tetap bagus,” kata Doni, fasih.

Doni bercerita, ia juga membudidayakan matoa di kebun bibitnya. Ia berharap kelak semakin banyak matoa ditanam di bumi Indonesia. “Ini benar-benar buah langka. Saya yakin, suatu hari buah matoa Indonesia akan dicicipi tamu tamu di Istana Buckingham, White House, dan tempat-tempat terhormat di dunia. Sebab, selain rasanya yang sangat enak, matoa adalah salah satu jenis buah purba yang masih bisa kita selamatkan,” katanya mantap.

Doni kemudian menyinggung pohon torem. Sebab, torem adalah salah satu pohon yang sangat langka dan terancam punah.

Doni teringat tahun 2015 – 2017, saat menjadi Pangdam XVI/Pattimura. Di sana ia mengembangkan program “emas hijau” dan “emas biru”. Emas hijau adalah hal-hal berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan. Nah, suatu hari di bulan Oktober 2017, tim Kodam XVI/Pattimura mengunjungi LIPI Pusat Konservasi Tuumbuhan Kebun Raya Bogor untuk menyerahkan sembilan bibit pohon Torem hasil budidaya Kodim 1507/Saumlaki.

Enam anak buah Doni Monardo, diterima oleh Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI Bogor Dr. Didik Widyatmoko, M.Sc di Ruang Rapat LIPI Bogor. Waktu itu, Didik menyampaikan apresiasinya kepada Kodam XVI/Pattimura yang telah melakukan pembudidayaan pohon endemik torem.

“Jika kelak kita melihat kembali pohon torem di persada Nusantara, itu dari Kodim Saumlaki,” ujar Doni, senang.

Jenis kayu berikut yang disoroti Doni Monardo adalah kayu putih. “Saat ini, bahan kayu putih kita, sebagian masih impor. Nilainya ratusan miliar rupiah. Nah, dengan membudidayakan pohon kayu putih, saya yakin kelak kita tidak saja memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga ekspor. Kayu putih sangat dibutuhkan untuk bahan kosmetik, obat herbal, aroma therapy, dan lain-lain,” tambahnya.

Doni sungguh mengapresiasi keseriusan PTBA dalam program konservasi. Award yang telah didapat, Doni harap dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan. “Momentum hari ini sangat penting untuk kita memperhatikan lingungan atau ekosistem. Ingat, bumi kita cuma satu. Sedangkan, usaha tambang dipastikan melukai kulit bumi. Tapi dengan pengelolaan yang profesional pasca tambang bisa kita reklamasi sehingga kulit bumi kembali pulih,” tambah Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

PTBA harus memilih jenis pohon yang tepat. Dengan begitu, PTBA telah meninggalkan legacy atau warisan kepada anak cucu kita kelak. Budaya konservasi harus terus digaungkan, baik melalui pendidikan maupun jalur keagamaan. Dalam banyak kesempatan Doni mengatakan, umat (Islam) tidak saja diwajibkan untuk menjalin hubungan baik dengan Tuhan (hablum minallah) dan menjaga hubungan baik dengan sesame manusia (hablum minannas), tetapi juga harus menjaga hubungan baik dengan alam (hablum minal alam).

Bicara kecintaan Doni terhadap pohon, bukanlah cinta sesaat, yang manis di awal lantas sepah dibuang. Banyak sekali cerita menarik terkait cinta Doni terhadap pohon.

Salah satunya ihwal kebiasaan unik mengumpulkan bjji-biji pohon yang unik, langka, dan spesifik.

Semasa bertugas di Paspampres, kebiasaan itu seperti menemukan jalan yang lurus. Sebagai Paspampres, dengan sendirinya sering mengikuti kunjungan kepala negara ke berbagai tempat, termasuk ke luar negeri.

Nah, saat acara jamuan makan, misalnya, ia akan fokus pada hidangan buah yang tersaji. Manakala ia mendapati buah yang eksotik, ia akan mengambil, memakan, dan… tidak membuang bijinya.

Biji dari buah yang ia makan, lalu disisihkan, dibungkus tisu, lalu disimpannya di dalam kantong jas yang ia kenakan.

Sekembali ke Tanah Air, ia akan semaikan di kebun rumah, atau di kebun bibit miliknya. Dari sekian banyak eksperimennya ada yang berhasil, ada yang gagal.

Kisah itu tertulis dalam buku Sepiring Sukun di Tepi Sungai karya Egy Massadiah halaman 317.

Destinasi Wisata

Kembali ke Botanical Garden PTBA, Doni mengapresiasi sebagai sebuah langkah yang benar, dan patut ditiru pihak lain. Di dalam Botanical Garden ini terdapat tanaman nusantara yang berasal dari Indonesia. Terdiri dari beberapa bioregion mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Jawa dan Bali, Maluku.

Pembangunan Botanical Garden ditandai dengan acara penanaman pohon yang dilakukan oleh jajaran Komisaris MIND ID, Komisaris PTBA, dan seluruh Direksi PTBA.

Turut hadir dalam acara ini, Komisaris MIND ID Ilyas Asaad, Komisaris MIND ID Nicolaus Teguh Budi Harjanto, Komisaris PTBA Piterdono HZ, Direktur Utama PTBA Arsal Ismail, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Farida Thamrin, Direktur Operasi dan Produksi PTBA Suhedi, Direktur SDM PTBA Suherman, dan Direktur Pengembangan Usaha PTBA Rafli Yandra.***roso daras

Sukses Vale Indonesia Jadi Contoh BUMN Tambang Lain

JAYAKARTA NEWS— Syahdan, tanggal 17 Desember 2021, Letjen TNI Purn Doni Monardo mendarat di Bandara Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Lalu menempuh jalan darat 6,2 km dalam waktu 12 menit menuju komplek tambang PT Vale Indonesia Tbk (PTVI).

Tak jauh dari bangunan “center point” tambang di tepi Danau Matano, Doni keluar jalur dan berjalan ke arah pohon trembesi. Rupanya, pohon itu berasal dari Brigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti, Kariango, Sulawesi Selatan, saat Doni menjabat Komandan di sana, 2006 -2008. Ia bukan trembesi satu-satunya. Hampir di seluruh wilayah Luwu Timur, telah tumbuh trembesi-trembesi menjulang menghijau.

Jejak-jejak Doni Monardo bahkan tertanam subur di Kariango, jauh sebelum ia menjabat Komisaris Utama Holding Industri Pertambangan MIND ID (Mining Industry Indonesia). Alhasil, kehadiran Doni ke Kariango seperti jalan di atas garisnya sejarah. Di lokasi tambang PTVI itu pula, Doni memastikan konsistensi PTVI melaksanakan program keberlanjutan dan good mining practice. Ia bahkan meminta keberhasilan program tersebut dapat diikuti oleh BUMN tambang lainnya.

PTVI merupakan perusahan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan dan berdiri sejak 25 Juli 1968. MIND ID memegang kepemilikan saham pada PTVI sebesar 20%. Holding tambang itu menuntaskan transaksi pembelian saham PTVI pada 7 Oktober 2020.
Dalam dua hari kunjungan, Doni mengapresiasi program reklamasi bekas tambang. Terlebih ketika ia melihat dari dekat kebun bibit yang ada di sana. Dua jenis pohon langka bahkan tersemai subur: Eboni dan biti.

Berkat konsistensi PTVI dalam melaksanakan program keberlanjutan dan good mining practice, MIND ID mendukung rencana perubahan status kontrak karya PTVI menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).
Perubahan status tersebut diyakini akan memperkuat sinergi MIND ID dan PTVI dalam peningkatan nilai tambah komoditas nikel Indonesia di masa yang akan datang.

Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID, Dany Amrul Ichdan mengatakan keberadaan saham MIND ID dalam PTVI dalam rangka mengelola sumberdaya strategis Indonesia. “Kepemilikan saham MIND ID pada PTVI juga menambah portofolio serta hilirisasi komoditas nikel Perushaaan,” kata Dany.

Kinerja Optimal

Sejauh ini, PTVI menunjukkan kinerja yang optimal. Data terakhir, kuartal 1 tahun 2022, membukukan laba bersih 67,7 juta dollar AS, atau tumbuh 100,77 persen year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 33,7 juta. Laba itu dibukukan dari pendapatan sebesar 235,08 juta dollar AS atau tumbuh 13,8% dibandingkan kuartal 1 tahun 2021 yang senilai 206,6 juta dollar AS.

Pada kesempatan terpisah, Presiden Direktur PTVI, Febriany Eddy mengatakan PTVI terus berkomitmen melaksanakan tata kelola dan praktik operasional yang baik. “Komitmen perusahaan terhadap environment, social dan governance (ESG) juga ditunjukkan dengan pemenuhan prinsip ICMM (International Council on Mining and Metals)”. tutur Febriany.

Sejauh ini, PT Vale Indonesia memiliki cadangan nikel yang cukup besar dan telah melakukan hilirisasi nikel di Sorowako, Sulawesi Selatan. PTVI juga sedang menginisiasi proyek pengembangan hilirisasi nikel di Bahodopi dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Komitmen keberlanjutan PTVI ditunjukkan dengan deklarasi Perusahaan terhadap komitmen untuk mencapai Net Zero Emission dari scope 1 dan scope 2 pada tahun 2050 atau lebih awal, selaras dengan ambisi Paris Agreement.
Bukan hanya itu. PT Vale Indonesia juga terus berkomitmen menyerap tenaga kerja lokal sebagai bentuk nilai tambah keberadaan perusahaan untuk masyarakat di sekitar wilayah operasional. Hingga saat ini PTVI sudah memperkerjakan 2.966 karyawan dengan presentase 86,6 persen (dari Luwu Timur), dan 99,7 persen karyawan di lingkungan perusahaan adalah putra-putri terbaik Indonesia.

PTVI melaksanakan program-program pengembangan masyarakat dengan mengedepankan kemitraan 3 pilar yakni, Pemerintah, Masyarakat, dan Perusahaan. “Rencana Induk Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM) menggunakan 3 Skema yaitu Pembangunan Kawasan Pedesaan Mandiri (PKPM), Kemitraan Strategis & Kontribusi Strategis,” tutur Febriany.

Program PKPM yang dikembangan perusahaan meliputi, penguatan 10 kawasan dengan target minimal 7 konsolidasi, 2 mandiri dan 1 berdaya saing, 10 Badan Kerjasama Antara Desa (BKAD), terciptanya 6 Bumdesma dan 4 Pusat Pertanian, fasilitas produksi pertanian, dibentuknya 2 desa wisata, serta dilakukannya konservasi pesisir laut.
PTVI bersama pemerintah daerah juga sepakat menunjang industri agro-bisnis dan pariwisata. Hal ini diperkuat dengan hibah Bandara Sorowako kepada pemerintah dengan tujuan untuk pemberdayaan ekonomi lokal, khususnya pariwisata.

Di bidang lingkungan, PTVI secara aktif menjaga kualitas air danau di komplek Danau Malili yang berdekatan dengan areal tambang. Danau Komplek Malili terdiri dari tiga danau yang berada di Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Tiga danau tersebut antara lain, Danau Matano, Mahalona, dan Danau Towuti.

PTVI juga melakukan reklamasi lahan bekas tambang secara progresif. Targetnya, 70 persen lahan akan direklamasi di tahun 2025. Perusahaan juga fokus pada penanaman pohon. Sebanyak 3,7 juta pohon telah ditanam, di antaranya endemik Ebony (Diospyros celebica), Dengen (Dillenia serata), Kaloju (Caralia braciata), Mata kucing (Hopea celebica) dan jenis unggulan lokal. Total Rehabilitasi PTVI seluas 10.280 hektare dengan rincian 10.000 hektare di luar daerah operasional dan 280 hektare di dalam daerah operasional.***ebn

Doni Monardo Bicara Blue Economy dan Intelijen Perikanan

JAYAKARTA NEWS – Ketua Umum PP PPAD, LetjenTNI Purn Dr (HC) Doni Monardo bicara tentang blue economy dan intelijen perikanan di hadapan para siswa Program Pendidikan Reguler (PPRA) 62 Lemhannas, Senin (4/4/2022).

Pengalaman menggulirkan program emas biru semasa menjabat Pangdam XVI/Pattimura (2015-2017) menyedot perhatian para siswa PPRA 62 yang berkunjung ke markas PPAD, di Jl. Matraman, Jakarta Timur.

“Tujuh-puluh persen wilayah kita adalah laut. Negara kita juga memiliki bentang pantai yang bisa jadi salah satu yang terpanjang di dunia. Bayangkan, kita punya 17.000 pulau, berapa panjang bentang pantai kalau semua pulau diukur,” kata Doni.

Fakta, bahwa sebagian besar masyarakat pesisir hidupnya di bawah garis kemiskinan. Ini ironis. Karena itu, kebijakan “bue economy” harus menyentuh sektor aquakultur, mengingat besarnya potensi perikanan Tanah Air.

Mengutip data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Doni mengatakan bahwa potensi perikanan Indonesia adalah 12 juta ton per tahun. Tapi kemampuan mengelolanya sangat kecil. Indikasinya tampak pada data kontribusi perikanan global. Dengan potensi sebesar itu, ternyata Indonesia hanya memberi kontribusi 3,5 persen produksi perikanan global.

“Bayangkan, bentang laut kita mencapai 8.500 km dari Sabang ke Merauke. Sementara lebar negara kita dari Miangas hingga Rote hampir menyentuh panjang 2.000 km. Tak hanya itu, Indonesia juga memiliki hutan mangrove yang cukup luas,” ujar Kepala BNPB 2019 – 2021 itu.

Bicara blue economy, Doni juga mengapresiasi langkah Kementerian KKP yang sudah memetakan zona wilayah penangkapan ikan. Mulai dari bagian barat Sumatera dan selatan Jawa, kemudian wilayah Natuna, utara Manado, Sulawesi sampai Biak dan Jayapura bagian utara, lalu zona antara Sulawesi dan Maluku, kemudian Kepulauan Aru dan satu lagi Laut Banda.

Dan khusus Laut Banda, tidak diberikan kepada pihak asing, sebab wilayah itu adalah wilayah pemijahan ikan tuna. “Bayangkan, ikan tuna yang begitu mahal dan diminati banyak negara, tempat pemijahannya di wilayah negara kita. Tapi tuna adalah salah satu jenis ikan yang penyebarannya bisa mengelilingi bola dunia. Tapi untuk pemijahan, ada di Laut Banda,” kata Doni Monardo.

PPAD melalui Ketua Bidang Ekonomi, Mayjen TNI Purn Wiyarto telah bekerjasama dengan “Fish On”, sebuah jasa aplikasi yang memanfaatkan fasilitas NASA untuk mengetahui di mana ada ikan, termasuk jenis ikan apa. Sehingga, kata Doni, ke depan nelayan melaut bukan mencari ikan, tetapi “menangkap ikan”. “Jadi tidak seperti sekarang, banyak nelayan yang menghabiskan BBM dan pulang tanpa hasil tangkapan yang memadai” ujarnya.

Jadi, jika sektor perikanan termasuk dalam ragam blue economy, maka Doni menegaskan bahwa dibutuhkan “intelijen” untuk mendukung suksesnya “operasi perikanan” di seluruh wilayah perairan kita. “Nah, aplikasi Fish On ini seperti fungsi intelijen yang akan memberi tahu di mana sasaran nelayan untuk menangkap ikan,” tambahnya.

Dengan hadirnya intelijen perikanan, maka nelayan terpencil pun bisa memanfaatkan kecanggihan informasi tersebut. Tinggal bagaimana kita mendayagunakan. Jangan seperti era 2003 – 2005, saat banyak sekali nelayan Filipina masuk perairan Indonesia, utamanya di Maluku dan Maluku Utara. Bahkan, kata Doni, mereka sampai berani membunuh aparat kepolisian RI yang berpatroli.

Mereka menguasai wilayah-wilayah yang diketahui banyai ikan, teripang, penyu, dan lain-lain. Celakanya, kata Doni, dalam menangkap tadi mereka menggunakan bahan peledak. “Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dua kapal mereka sudah penuh dengan ikan-ikan dan hasil laut kita,” kata Doni.

Indonesia juga terikat pada kesepakatan Swiss tahun 2017 mengenai strategi penangkapan ikan. Bahwa penangkapan ikan di alam harus memperhatikan aspek penjagaan populasi. Jika tidak, maka cepat atau lambat ikan-ikan di laut juga bisa berkurang bahkan habis. “Jangan dipikir ikan di laut tidak bisa habis,” ujar Doni Monardo seraya menyebutkan sebuah tayangan YouTube tentang praktik menangkap ikan dari sebuah “mother ship” yang mampu menyedot ratusan ton ikan laut dalam hitungan jam.

Bukan itu saja. Seminar tadi juga mengingatkan kepada seluruh pemimpin dunia, bahwa ikan di laut luas bukan milik satu negara, tetapi juga milik seluruh negara yang memiliki teritori laut. Sebab, ikan itu bermigrasi, berbeda dengan ikan yang ada di danau atau sungai.

Karena itu, aspek pemeliharaan lingkungan juga menjadi hal penting. Jangan sampai, pencemaran di daerat kemudian mencemari laut yang bisa mencemarik ikan. Contoh, logam berbahaya seperti mercuri. Jika itu terjadi, cepa atau lambat akan ketahuan, dan ini bisa berdampak jatuhnya sanksi.

Terlebih, Indonesia telah meratifikasi Undang-undang (UU) No 11 tahun 2017 tentang Pengesahan Minamata Convention On Mercury (Konvensi Minamata Mengenai Merkuri). Pengalaman bertugas di Paspampres, Doni menjadi paham, bahwa banyak ikan dari perairan Indonesia yang tercemar mercuri.

“Semua penggunaan merkuri harus menjadi perhatian pemerintah untuk ditindak. Di Kabupaten Mandailing Natal, sejumlah bayi lahir tidak normal. Ada yang kepalanya besar, bagian dalam perut ada di luar, dan banyak kisah tragis lain. Itu karena ibu-ibunya banyak bekerja di pertambangan illegal yang mengandung mercuri serta mengonsumsi makanan dan minuman yang tercemar mercuri,” kata Doni Monardo.

Kita tidak bisa bicara blue economi kalau tidak dibarengi penataan lingkungan. Termasuk Doni menyebut kerang yang ditangkap di Teluk Jakarta sebagai kerang yang tidak baik untuk dikonsumsi, karena sudah tercemar limbah berat.

Lebih jauh, Doni juga menyinggung sekilas mengenai Program Citarum Harum, bagaimana ia memulihkan kondisi Sungai Citarum dari status sungai terkotor di dunia menjadi tercemar ringan, serta tercemar sedang di beberapa bagian.

Sementara Citarum mengaliri tiga waduk, Saguling, Jatiluhur, dan Cirata. Selain itu, ia juga mengalir ke Kalimalang, yang sebagian besar menjadi bahan baku PDAM. “Jadi PDAM itu tidak pernah berani men-declare airnya bisa diminum. Karena itu, saya pernah bergurau, PDAM bukan perusahaan daerah air minum, tapi perusahaan daerah air mandi,” kata Doni sambil tertawa.

Sukses Emas Biru

Sebelum melanjutkan paparannya di depan para siswa PPRA 62 baik yang hadir di markas PPAD maupun hadir secara daring, Doni Monardo menampilkan kisah sukses Emas Biru yang iagulirkan di Maluku, saat menjadi Pangdam di sana. Dua narasumber diundang, dan diminta berbicara.

Yang pertama diminta berbicara adalah tokoh emas biru budidaya ikan laut, Jefri Slampta. Ia adalah seorang PNS di Kodam XVI/Pattimura. Doni mengatakan, berkat budidaya emas biru, Jefri bisa menyekolahkan anak sampai kuliah di fakultas kedokteran di Unpati, sebentar lagi bakal jadi dokter. Ia juga memiliki usaha kontrakan. Ekonomi keluarga jauh membaik.

“Saya masih pertahankan emas biru warisan bapak jenderal Doni Monardo. Sudah selama ini banyak melatih dan mendidik kawan-kawan nelayan budidaya di Maluku dan Maluku Utara,” katanya.

Jefri bukanlah contoh sukses instan. Ia mengawali tahun 2009 melalui perjuangan ekstra keras. Dimulai dari memulung botol-botol plastik yang ada di teluk Ambon. Selama empat bulan ia berhasil mengumpulkan 32.000 botol air kemasan. Botol-botol itulah yang ia jadikan keramba jaring apung.

Dalam perkembangannya, ia bisa meningkatkan kondisi keramba dengan membeli keramba bekas. Dan saat ini, ia sudah bisa memperluas keramba miliknya dengan jaringan keramba yang baru. Bukti bahwa usaha budidaya emas biru-nya berhasil. “Restoran apung ini juga semakin viral dan mendatangkan penghasilan tambahan,” katanya senang.

Resto apung di keramba itu dibangun tanggal 28 Maret 2021. Belakangan, makin viral setelah seseorang menayangkan di youtube. Mereka secara khusus datang ke kerambanya dan membuat konten yang viral. Belum lagi para pengunjung resto apung yang lain. “Mereka ada yang datang dari Jakarta, Bandung, bahkan Surabaya,” kata Jefri bangga.

Mereka secara khusus datang ke Teluk Ambon untuk bisa makan di resto apung keramba milik Jefri karena aneka ikan seperti ikan kerapu, kakap, bobara, udang, cumi, kepiting, lobster yang segar. “Makan seafood di sini sangat segar, karena langsung kami ambilkan dari keramba, bukan seafood yang disimpan di freezer berminggu-minggu,” katanya.

Untuk memberi suasana lain, Jefri yang mengikuti pertemuan melalui zoom, diminta Doni menunjukkan keramba dengan kamera HP-nya. Jefri juga diminta memperlihatkan ikan-ikan yang ada di kerambanya, serta koleksi lobster yang ada. “Siapa tahu nanti para peserta PPRA 62 ke Ambon, bisa mampir dan makan di keramba jaring apung milik Jefri,” kata Doni sambil tertawa.

Sosok lain yang diminta Doni berbicara di hadapan para siswa Lemhannas adalah Achmad Jais, Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah, Waiheru, Ambon. “Hingga hari ini, kampus kami tetaplah bernama kampus emas biru. Sebab, sejak pak Doni datang, teluk Ambon menjadi ujung tombak emas biru. SUPM ini adalah sekolah gratis yang sudah secara nyata meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Jais bangga, sebab SUPM pernah didatangi Presiden, Wakil Presiden dan sedikitnya 17 orang menteri. Itu semua karena program “emas biru”. Ada aktivitas budidaya keramba jaring apung, pembibitan yang disumbang kementerian KKP untuk diteruskan kepada masyarakat, serta aktivitas pemberdayaan masyarakat. “Sungguh contoh yang baik tentang kolaborasi antara institusi pendidikan dengan instansi pemerintah daerah dan pemerintah pusat,” katanya.

Jais menambahkan, saat Presiden Joko Widodo datang, ia mengatakan, “Tentara sekarang sistemnya bukan senjata yang bisa membunuh, tapi senjata sosial, atau senjata kesejahteraan. Pak Doni adalah warga kehormatan kota Ambon. Pak Doni adalah warga kebanggaan Ambon. Program beliau emas hijau, emas biru lalu emas putih perdamaian, sungguh tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Maluku,” kata Achmad Jais, khidmat.

Jais berjanji dan bertekad akan melanjutkan semua program Doni Monardo. “Ijin pak Doni, jembatan warisan bapak yang menghubungkan kampus ke keramba sampai sekarang masih ada. Itu kenangan yang tidak boleh hilang. Emas biru yang bapak gulirkan sudah melahirkan banyak Jefry yang lain. Jefry-jefry di Seram, di Buru, dan lain-lain,” papar Jais.

Berkas emas biru pula masyarakat meningkat ekonominya sehingga bisa menyekolahkan anak. Ada yang sudah menjadi sarjana, ada yang sudah bekerja di Korea, Jepang, Spanyol, semua terjadi berkat emas biru.

Atas dua testimoni tadi, Doni Monardo mengucapkan terima kasih. Tak lupa ia menyampaikan rasa kagumnya, saat baru-baru ini mengunjungi Ambon. Kondisinya jauh lebih meriah dibanding saat ia bertugas di sana. Saat ini sangat banyak resto seafood yang ikan-ikannya disuplai oleh para nelayan tambak. “Sungguh, ikan yang segar tidak perlu bumbu yang macam-macam, sudah sangat enak,” katanya.

Doni menyebutkan, salah satu kunjungan Presiden Joko Widodo ke Ambon. Salah satunya adalah menebar 1.000 ekor ikan barramundi. Ikan yang kualitasnya tidak kalah denan salmon. “Seribu ekor ditebar, kesemuanya hidup. Ini ikan mahal. Baramundi itu kakap putih. Di Maluku, kakap putih sangat banyak,” kata Doni.

Tidak berhenti di situ, Doni bahkan menguak potensi kepiting bakau dikaitkan dengan potensi hutan bakau yang ada di seluruh pesisir Nusantara. Indonesia memiliki 3 juta hektare mangrove, dari sebelumnya 4 juta. “Yang sejuta hektare hilang untuk pembangunan atau perambahan. Saya sering dapat laporan, bakau dirambah untuk dijadikan arang, dan diekspor ke luar negeri,” kata Doni.

Doni tidak ingin luas bakau terus menyusut. Ia mendukung tekad Presiden Joko Widodo yang mencanangkan pengembalian fungsi pesisir dengan penanaman kembali mangrove. “Meski praktiknya masih banyak pencuri mangrove, seperti yang terjdi di Segara Anakan, Cilacap,” ujar Doni.

Doni menceritakan tekadnya memulihkan hutan bakau, serta budidaya kepiting bakau. Selain di Aru (Maluku), Doni baru pulang dari Puau Enggano, Bengkulu. Di sana, selain bakaunya masih sangat terjaga, Doni juga sedia mengembangkan buidaya kepiting. “Mereka sangat hebat menjaga bakau. Dan itu sangat bagus, karena letak pulau itu termasuk di wilayah yang rawan gempa dan tsunami, seperti Aceh,” tambah Doni.

Doni juga memberi gambaran tentang budidaya udang oleh PT Parigi Aquakultur Prima di Desa Desa Sejoli, Kec Moutong, Kabupaten Parigi, Sulawesi Tengah. Perusahaan ini juga telah melibatkan masyarakat dalam mengelola budidaya udang vaname. Ekonomi masyarakat di sekitar tambak udang, berkembang pesat.

Terakhir, Doni menyebut ikan nemo, si ikan pintar. Ia adalah salah satu jenis ikan hias yang mahal harganya.  “Ikan hias dari perairan laut kita jauh lebih bagus dibanding ikan koi. Kenapa kita harus impor ikan luar, sementara laut kita punya banyak sekali ikan hias yang indah,” kata Doni.

Masih ada lagi gagasan Doni Monardo terkait blue economy. Ia menyebut arus deras yang ada di antara dua pulau. Potensi arus deras tadi bisa dimanfaatkan sebagai pengungkit tenaga listrik. Jika itu dilakukan, maka akan menghasilkan energi. Dari energi tadi, bisa digunakan untuk menghidupi cold storage. “Dengan cold storage, nelayan kita di pedalaman tidak harus jual murah hasil tangkapannya,” ujar Doni.

Usai paparan, Sekjen PPAD Mayjen TNI Purn Komaruddin Simanjuntak yang memoderatori acara mengakhiri seminar dengan kelakar, “Perlu para siswa ketahui, Pak Doni Monardo juga Lulusan PPSA XVIII,” kata Komar, disambut tepuk tangan hadirin. (Egy/Roso)

Ingat Menembak, Ingat Putu Danny

JAYAKARTA NEWS— Letjen TNI (Purn) Doni Monardo merasa sangat terhormat, diundang peresmian Lapangan tembak di lingkungan markas Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Cijantung, Jakarta Timur. Acara yang berlangsung Selasa (29/6/2021) siang, dipimpin langsung Danjen Kopassus, Mayjen TNI Mohamad Hasan.

Hari itu menjadi spesial, karena bersamaan dengan pengabadian Mayjen TNI Anumerta I Gusti Putu Danny Karya Nugraha sebagai nama yang bakal terpatri abadi di fasilitas Lapangan Tembak Kopassus, Cijantung. Benar, lapangan tembak Kopassus mulai hari ini telah resmi bernama Lapangan Tembak IGP Danny Nugraha Karya.

Putu Danny adalah salah satu prajurit terbaik Kopassus. Terakhir, ia berpangkat Brigadir Jenderal TNI dan menjabat Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) Daerah (Kabinda) Papua. Ia gugur di sana setelah terlibat kontak tembak dengan KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Kampung Dambet, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua, Minggu (25/4/2021).

Satgas BIN bersama Satgas TNI dan Polri saat itu tengah melakukan perjalanan menuju Kampung Dambet. Sekitar pukul 15.50 WIT, rombongan dihadang KKB sehingga terjadi aksi saling tembak di sekitar gereja Kampung Dambet.

Doni Monardo sangat terpukul mendengar berita tersebut. Pada tahun 2014-2015, saat Letjen Doni Monardo menjabat Danjen Kopassus, IG Putu Danny sebagai Asintel Kopassus. Tentu saja interaksi keduanya sangat intens.

Saat kabar duka datang, Doni Monardo yang ketika itu masih menjabat Kepala BNPB/Ketua Satgas Covid-19, spontan menghambur ke Markas Kopassus untuk memberi penghormatan terakhir kepada Mayjen TNI Anumerta Putu Danny di Balai Komando, Cijantung, hari Selasa tanggal 26 April 2021. “I Gusti Putu Danny adalah seorang prajurit sejati, pemberani dan berjiwa ksatria,” ujar Doni Monardo saat itu.

Dan hari ini, Selasa (29/6/2021) Doni Monardo kembali ke Cijantung, menghadiri acara pengabadian nama Putu Danny menjadi nama di lapangan tembak Kopassus.

Selain Doni, undangan lain di antaranya Mayjen TNI Purn Wisnu Bawa Tenaya, Perwakilan Alumni Akademi Militer 93, dan istri serta anak almarhum Mayjen TNI Anumerta IGP Danny Nugraha Karya. Semua undangan diwajibkan mengenakan masker dan mengikuti protokol Kesehatan.

Jalannya acara di lapangan tembak IGP Danny Nugraha Karya pun dibuat sederhana. Setelah pembukaan dan pembacaan doa, dilanjutkan pembacaan Riwayat hidup singkat almarhum Mayjen TNI Anumerta IGP Danny Nugraha Karya dan sambutan sesepuh Kopassus oleh Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya. Acara dilanjutkan sambutan Danjen Kopasus dan pemotongan pita. Setelah itu ramah tamah dan selesai.

Warisan Kejuangan

Danjen Kopassus, Mayjen TNI Mohamad Hasan dalam sambutan mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada dua senior yang hadir: Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya (Danjen Kopassus 2011-2012) dan Letjen TNI (Purn) Doni Monardo (Danjen Kopassus (2014-2015). “Gagasan mengganti nama lapangan tembak dari nama sebelumnya Rama-Shinta menjadi Mayjen TNI Anumerta IGP Danny Karya Nugraha pun setelah berkonsultasi dengan beliau-beliau,” ujar Hasan.

Melalui penamaan lapangan tembak dengan nama almarhum Putu Danny dimaksudkan Hasan sebagai upaya memberi kenangan keteladanan almarhum khususnya bagi keluarga besar Kopassus. “Tidak banyak yang tahu, Sebagian besar hidup almarhum dihabiskan di palagan tugas operasi, baik di Timtim, Aceh, Poso, Papua, dan lain-lain. Banyak prestasi ditorehkan. Almarhum Putu Danny tidak banyak bicara, tetapi terus berkarya untuk keutuhan bangsa dan negara,” ujar Danjen Kopassus.

Upaya pengabadian nama Putu Danny juga sebagai simbol penghormatan sikap heroik dan dedikasi yang ditunjukkan almarhum sebagai patriot bayangkari negara. Ia mengabdikan jiwa raganya bagi bangsa dan negara, demi keutuhan NKRI.

“Tekad dan semangat beliau dalam menumpas KKB di Papua menunjukkan jiwa dan semangat nasionalisme, patriotisme, dan heroisme, rela berkorban jiwa dan raga. Saya harap, nilai-nilai kejuangan almarhum bisa terwariskan kepada generasi muda korps baret merah, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang,” tegas Mayjen Hasan.

Salam Tembakan

Siang itu, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya turut memberi kata sambutan. Ia menyampaikan karakternya yang sama dengan Doni Monardo, yakni selalu turun ke lapangan tanpa basa-basi. “Saya selalu mengingatkan tujuh huruf yang ada pada kata KOMANDO. Maknanya harus terus ditanamkan kepada setiap jiwa prajurit Kopassus,” ujar lulusan Akmil 1981 itu.

Wisnu juga menegaskan, bahwa tidak ada yang hebat di muka bumi, kecuali prajurit yang terus berlatih. Di medan tugas, Kopassus tidak kenal menyerah. Bahkan ketika yang lain tidak mampu, Kopassus harus mampu. Untuk itulah setiap prajurit wajib berlatih dan terus berlatih. “Bahkan sampai sekarang, saya dan Pak Doni siap menjadi komandan cadangan jika diperlukan harus terjun ke palagan Papua,” ujar Wisnu bersemangat.

Kepada Danjen Kopassus Mayjen Mohamad Hasan, tak lupa Wisnu menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih. “Kita bangga dan berdoa, semoga tempat ini menjadi tempat berlatih untuk meningkatkan kualitas prajurit dalam keterampilan menembak. Semua jenis menembak,” tambahnya.

Wisnu bahkan punya kenangan khusus dengan almarhum Putu Danny. Jika keduanya berkomunikasi lewat telepon, salam yang mereka ucapkan sangat khas. Bukan selamat pagi, selamat siang, selamat malam atau om swastiastu, melainkan dengan suara tembakan. Benar, mereka saling menyuarakan suara tembakan dari mulutnya sebagai salam.

Inspirasi Putu Danny

Sementara itu, Letjen TNI (Purn) Doni Monardo dalam sambutannya menyebut almarhum Putu Danny sebagai prajurit teladan yang sangat menginspirasi. Pemberian nama Putu Danny pada lapangan tembak Kopassus dinilai Doni sebagai bentuk penghargaan kepada yang berjasa.

Pola ini harus mengakar di kesatuan baret merah. Bahwa prestasi, dedikasi, dan semua pengorbanan oleh prajurit harus bisa diingat sepanjang waktu. Pergantian nama lapangan tembak dari Rama-Sinta menjadi Putu Danny, akan menginspirasi seluruh prajurit untuk memberi pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.

Putu Danny, di mata Doni merupakan prajurit yang sudah menjejakkan kakinya di semua palagan penugasan operasi di Tanah Air. Bahkan Doni memuji almarhum sebagai prajurit dengan nyali yang sangat tinggi. “Terus terang, tidak banyak perwira yang punya keberanian seperti almarhum,” kata Doni, lulusan Akmil 1985.

Tak lupa Doni mengapresiasi langkah cepat Danjen Kopassus Mayjen Mohamad Hasan dalam pemberian nama pada lapangan tembak. Terlebih lapangan tembak itu terbilang legendaris. Sejak diresmikan di era Mayjen Wisnu, lalu direnovasi di era Doni Monardo, dan selama itu pula, Putu Danny siang-malam terlibat langsung penanganan setiap jengkal area lapangan tembak.

Selain sebagai prajurit, tak bisa disangkal ihwal kemampuan Putu Danny sebagai seorang arsitek. Ia paham betul bagaimana membangun sebuah lapangan tembak. “Kalau yang mengerjakan bukan almarhum, kita tidak akan bisa memiliki lapangan tembak yang sebagus ini,” kata Doni.

Sekilas Putu Danny

Mungkin sedikit yang tahu, Putu Danny adalah “anak Kopassus” asli. Betapa tidak, ia lahir dari seorang ayah yang tentara Kopassus dan berdinas di Pusdikpassus Batujajar, Bandung. Ia pun lahir di Batujajar tanggal 7 Desember 1969. Ia pun menjadi sosok yang unik, karena meski berdarah Bali, tapi ada kalanya lebih Sunda dari urang Sunda.

Jenjang Pendidikan SD hingga SMA ditempuh di Batujajar. Karena itu, ia pun masuk Akmil setelah lulus SMA. Jadilah Putu Danny lulus Akmil tahun 1993, dilanjutkan Pendidikan Komando Angkatan 66 tahun 1996.

Putu Danny mengawali karier berdinas di Kopassus sebagai Dan Unit 2, Batalyon 21 di Grup 2 Kopassus, hingga memuncaki karier di satuan baret merah sebagai Asintel Danjen Kopassus, semasa Danjen Kopassus dijabat Doni Monardo.

Adapun ide dan gagasan merintis pembangunan lapangan tembak (yang sekarang diberi nama Lapangan Tembak IGP Danny Nugraha Karya) itu ia cetuskan tahun 2011, dan diresmikan Danjen Kopassus waktu itu, Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya.

Atas prestasi dan kemampuan di bidang intelijen, almarhum Putu Danny dipercaya negara dan dilantik menjadi Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua, tanggal 18 Juli 2020 dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI.

Berbagai jenjang Pendidikan telah dilalui Putu Danny, antara lain, Selapa, Seskoad, dan Lemhanas tahun 2019. Atas prestasi dan pengabdiannya, ia mendapatkan Satya Lencana (SL) Seroja, SL kesetiaan 8 tahun, 16 tahun, dan 24 tahun, SL Dharma Nusa, SL Ksatria Yudha, SL Kebaktian Sosial. Juga mendapatkan Bindang Kartika Eka paksi Nararya serta Bintang Yudya Dharma Nararya.

Komando!!!

(Egy Massadiah)

Penulis seorang wartawan senior dan Ketua Yayasan Kita Jaga Alam