Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, mengungkapkan kebahagiaannya setelah raihan medali emas kontingen Indonesia melebihi target Asian Games 2018.
Para atlet yang berlaga di Asian Games ke-18 pada mulanya ditarget 16 emas. Pada kenyataannya, hingga Senin (27/8/2018), selaku tuan rumah Indonesia mampu mengumpulkan 22 medali emas.
Tentu saja hasil tersebut disambut dengan sukacita oleh Imam. “Hari ini adem sekali, karena kami diberi nikmat luar biasa berupa medali yang diraih dari atlet-atlet,” ujarnya.
“Prestasi ini adalah pencapaian luar biasa. Totalitas para atlet harus diapresiasi,” katanya.
EMASS lagi ke-22 dari Panjat Tebing nomor Men's Speed Relay.
Kecepatan dan kekuatan serta dukungan LUAR BIASA membuat semua keinginan kita mempersembahkan yg terbaik terwujud nyata
Sebagaimana dimaklumi, bagi peraih medali emas perorangan pemerintah akan memberi bonus Rp 1,5 miliar. Untuk atlet yang berlaga di nomor ganda, masing-masing diberi Rp 1 miliar, sedangkan tim Rp 800-900 juta per personel.
Pada Asian Games 1962 yang berlangsung di Jakarta, saat Indonesia menjadi tuan rumah untuk kali pertamanya, para atlet meraih 11 emas.
Beberapa cabor masih berpeluang memberi tambahan medali emas bagi Indonesia, seperti bulutangkis, pencak silat dan cabor lainnya. ***
PESEPAKBOLA muda Indonesia Egy Maulana Vikri (18) didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi diterima oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Istana Merdeka, Jakarta (23/3) pagi.
Mengenakan baju batik berwarna hijau, Egy yang datang satu mobil dengan Menpora tiba di kompleks Istana sekitar pukul 09.30 WIB, dan langsung disambut hangat oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka. “Kaya orang Polandia sekarang,” kata Presiden Jokowi saat menyambut kedatangan Egy di Istana Merdeka.
Egy mengaku merasa senang dan bangga bisa bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka. Ia juga mengaku mendapat support dari Presiden supaya terus belajar lebih baik lagi agar tetap tidak pernah besar kepala, harus selalu bersyukur. “Ya harus terus belajar lagi, buat bangga Indonesia, agar orang tahu juga kalau kita bisa juga agar banyak pemain-pemain lain yang bisa menyusul saya nantinya,” kata pemain Tim Nasional Indonesia yang kini dikontrak klub Lechia Gdansk, Polandia itu.
Egy Maulana Fikri diantar Menpora Imam Nahrawi beraudiensi dengan Presiden Jokowi.
Terkait dengan klubnya di Polandia itu, Egy berjanji akan berusaha bisa main lebih bagus, lebih baik ke depannya, sehingga juga bisa buat Indonesia bangga. Ia juga berharap, kedatangannya di klub Lechia Gdansk akan menjadi pintu awal masuk supaya pemain-pemain lain bisa mengikuti jejak dirinya bermain di klub Eropa.
Mengenai posisinya sebagai pemain Tim Nasional Indonesia Usia 21 dan Usia 19, Egy menegaskan, dirinya wajib setiap saat untuk selalu siap membela Timnas meski sudah bermain di Polandia. “Kan harus ya kalau namanya Timnas manggil ya enggak mungkin enggak mau pasti selalu bela. Karena orang bilang saya akan pindah negara, saya bakal 100% Indonesia,” ujar Egy.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap keberhasilan pesepakbola nasional Egy Maulana Vikri menembus klub Eropa, dengan mendapatkan kontrak dari klub Lechia Gdansk, Polandia, akan disusul dengan pemain Tim Nasional Indonesia yang lainnya. “Bapak Presiden betul-betul ingin lebih banyak lagi Egy-Egy baru yang nyusul Egy nanti ke luar negeri. Jangan hanya 1, 2, 3, 4, 5, 6, tapi lebih banyak lagi,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi usai mendampingi Egy Maulana Vikri bertemu dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (23/3) pagi.
Dengan bermain di luar negeri, menurut Menpora, bukan hanya agar pemain punya pengalaman, punya pengetahuan, dan punya kedisiplinan yang tinggi, tapi juga soal membawa nama baik bangsa bahwa Indonesia itu negara besar dengan talenta yang besar juga. “Bapak presiden menekankan pendidikan, olahraga pendidikan itu harus menjadi nomor satu,” sambung Menpora seraya menambahkan bahwa Egy Maulana Vikri ini berasal dari SKO (Sekolah Khusus Olahragawan) Ragunan, sehingga Presiden berharap sebisa mungkin SKO dan SSB nanti dimaksimalkan. ***
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengisyaratkan bonus bagi atlet peraih medali emas Asian Games (AG) 2018 naik 250 persen dibandingkan peraih medali yang sama pada Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.
Kenaikan bonus cukup tinggi tersebut disampaikan oleh Menpora Imam Nahrawi di sela Gala Dinner “Doa dan Dukungan Sukses Atlet Indonesia” di Wisma Kemenpora Jakarta, yang dihadiri oleh perwakilan 46 perusahaan dan komunitas otomotif.
“Ini adalah bentuk apresiasi dan menjadi prioritas nasional. Bonus adalah sebuah penghargaan. Yang jelas, kenaikan bonus masih kami hitung. Peraih emas AG dan Paragames 2018 besarannya sama,” kata Menpora Imam Nahrawi.
Jika didasarkan bonus AG 2014, peraih medali emas mendapatkan bonus 400 juta rupiah. Jika bonus diisyaratkan bakal naik 250 persen, maka peraih medali emas pada kejuaraan olahraga empat tahunan ini akan menembus Rp1,4 miliar.
Menurut Menpora, jika target yang dicanangkan terpenuhi tidak menutup kemungkinan semuanya akan berubah. Apalagi saat ini sudah mendapatkan lampu hijau dari Kementerian Keuangan. Target minimal raihan medali adalah 16 emas.
“Emas terlampaui semuanya mungkin terjadi. Anggaran akan disiapkan. Nantinya bonus tidak hanya untuk atlet, namun juga untuk pelatih hingga tim pendukungnya,” kata pria asal Bangkalan Madura itu.
Apresiasi pemerintah terhadap peraih medali emas memang cukup tinggi terutama untuk level Asian Games dan olimpiade. Bonus tertinggi sementara dipegang oleh atlet bulu tangkis pasangan Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir setelah meraih emas Olimpiade Brasil yang masing-masing mendapatkan Rp5 miliar.
AG dan olimpiade, kata Menpora, memang menjadi prioritas. Dengan demikian, pihaknya tidak segan-segan menggelontorkan bonus besar bagi yang meraih medali emas. Dengan kondisi tersebut, prestasi atlet Indonesia terus meningkat. ***
Menpora Imam Nahrawi mengapresiasi para sponsor yaitu PT. Suntory Garuda Baverage, Garuda Food Group Indonesia dan Indonesia Junior Soccer League (IJSL) yang telah bersinergi menyelenggarakan OSYSL 2018.
Seperti diketahui Okky Splash Youth Soccer League (OSYSL) 2018 kembali hadir meramaikan kompetisi sepak bola usia muda di Tanah Air. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya mencakup kawasan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang dan Bekasi), OSYSL 2018 bakal digelar di enam kota.
“Saya apresiasi acara ini, dalam olahraga tidak hanya melahirkan prestasi tetapi juga akan melahirkan generasi tangguh yang berkarakter yang cinta tanah air. Tanpa fasilitasi dari swasta dan industri tentu pemerintah belum maksimal, lewat OSYSL saya harap akan ada Egy-Egy baru,” kata Imam Nahrawi.
“Keterlibatan sponsor betul-betul dinantikan oleh kita semua, saya berharap ke depan pelaksanaan kompetisi ini tidak hanya di enam kota besar tetapi bisa di 514 kabupaten/kota di Indonesia sehingga seluruh potensi anak muda kita bisa merasakan kehadiran swasta dan industri untuk memfasilitasi mereka,” ujarnya.
Head Group of Cup Suntory Garuda Beverage, Martinus Rezal mengaku senang dan bangga karena OSYSL mendapat sambutan positif dari komunitas sepak bola usia muda di Indonesia. Karena itu, pihaknya terdorong untuk memperluas cakupan wilayah dari semula hanya di Jabodetabek kemudian diperluas menjadi enam kota. Keenam kota itu adalah Surabaya, Bandung, Malang, Yogyakarta, Semarang dan Jakarta.
“Setiap kota pelaksanaan OSYSL 2018 akan melibatkan 30 tim sepakbola usia dini. Jadi akan ada 3.780 anak terlibat dan 210 tim peserta. OSYSL juga akan hadir di sekokah-sekolah dasar berupa coaching, edukasi dan fun game,” terang Martinus Rezal.
Para juara dari setiap kota berhak tampil di Okky Splash National Championship pada September 2018. Selanjutnya para pemain terbaik akan masuk dalam Okky Splash Soccer Team mewakili Indenesia di ajang Singa Cup 2018.
“Kami sangat bersyukur atas dukungan Kemenpora dan IJSL atas terselenggaranya even ini kami berkomitmen akan selalu mendukung pengembangan generasi anak Indonesia agar tumbuh akti dengan meningkatkan animo olahraga sepakbola di kalangan anak-anak dan remaja,” tandasnya. ***
Para atlet berprestasi yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Foto: Ist
GUNA memberikan kepastian masa depan para atlet, pemerintah, Rabu (17/1) mengangkat 137 atlet berprestasi yang pernah mengangkat nama Indonesia di forum dunia menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) melalui formasi khusus. Pengangkatan para atlet menjadi PNS ini digelar dalam upacara di Halaman Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga, Jakarta.
Di antara 137 atlet yang diangkat menjadi PNS, antara lain, Ni Nengah Widiasih (peraih emas Angkat Berat, ASEAN Para Games 2017), Eki Febri Ekawati (peraih emas Tolak Peluru, SEA Games 2017), Tontowi Ahmad (peraih emas Bulutangkis Ganda Campuran, Olimpiade Rio 2016), Liliyana Natsir (peraih emas Bulutangkis Ganda Campuran, Olimpiade Rio 2016), Kevin Sanjaya (peraih emas Ganda Putra, All England 2017), dan Marcus Ferinaldi (peraih emas Ganda Putra, All England 2017).
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB) Asman Abnur menyatakan, prioritas pengangkatan PNS formasi khusus dari kalangan atlet berprestasi berdasarkan capaian prestasinya mulai dari tingkat dunia maupun Asean. “Kita berharap dengan adanya motivasi baru ini, para atlet tidak memikirkan lagi hal-hal terkait dengan apa pekerjaan mereka di masa depann, jadi formasi khusus PNS ini mereka telah ada kepastian di masa depannya,” Asman.
PNS formasi khusus ini, tambah Menteri PANRB, adalah langkah konsisten di tahun – tahun mendatang. Berbeda dengan formasi umum yang memakai tes dan lain sebagainya formasi khusus ini hanya tes TKB (Tes Kompetisi Bidang). “Formasi khusus ini tidak seperti tes PNS biasa, meskipun tetap ada proses yang berjalan sepertinya pra-jabatan dan sebagainya hingga penempatannya setelah pra-jabatan, Insha Allah ini konsisten di tahun-tahun berikutnya sebagai suntikan motivasi di bidang atlet/olahragawan,” papar Asman.
Tentang penempatan PNS atlet ini, menurut Menteri PANRB, menyerahkan sepenuhnya kepada Kemenpora. “Sementara menjadi atlet tentu juga menjadi pegawai di Kemenpora setelah dia tidak jadi atlet lagi maka bisa didistribusikan sebagai pelatih di seluruh kementeria/lembaga atau dispora yang membutuhkan,” cetusnya.
Menpora Imam Nahrawi menjelaskan, pengangkatan 137 atlet berprestasi menjadi PNS itu merupakan komitmen besar dari Presiden Joko Widodo bahwa ujungnya para atlet harus diberikan penghargaan tidak hanya bonus tetapi masa depan mereka yang berkelanjutan seperti menjadi Aparatur Sipil Negara.
“Sesuai arahan MenPANRB sejumlah atlet ini diangkat di Kemenpora dan aktif juga sebagai atlet dan pelatih tetapi pada saatnya mereka butuh pulang kampung misalnya, maka di situ kita akan mendistribusikan mereka di Dispora setempat maupun klub-klub sebagai pelatih,” kata Menpora.
Ke-137 atlet yang diangkat menjadi PNS itu adalah mereka yang meraih medali di olimpiade dan paralympiade (medali emas, perak, perunggu) atau kejuaraan tingkat dunia lainnya, peraih medali di ajang Asian Games (medali emas dan perak) dan peraih medali emas pada SEA Games (2015 hingga 2017), sesuai dengan janji Presiden Jokowi bahwa atlet normal dan disabilitas mendapatkan penghargaan yang sama. ***
Menpora Imam Nahrawi dalam acara pengangkatan 137 atlet berprestasi menjadi pegawai negeri sipil. Foto: Ist
KOMITE Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) perlu merangkul dunia industri. Hal ini menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, dilakukan untuk memajukan olahraga nasional.
Tak hanya merangkul dunia industri, KONI dan KOI juga harus membuat semacam penelitian kuantitif agar bisa tahu apa olahraga yang digemari masyarakat Indonesia. “Kalau mau olahraga nasional maju, ayo KONI dan KOI duduk bersama. Bicarakan bersama solusinya, tidak hanya soal pencapaian prestasi. Kalau dari dua organisasi itu tidak cukup, harus ada dukungan juga dari dunia industri,” kata Imam.
Hal itu dikatakan Menpora Imam Nahrawi saat membuka Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) dan Rapat Anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun 2017, Selasa (21/2) di Gedung Dwi Warna, Lemhanas, Jakarta Pusat.
Masyarakat Indonesia, kata Menpora, sangat cinta dengan beberapa cabang olahraga, salah satunya sepakbola. “Saya ingin ke depannya, KONI dapat melihat kecenderungan masyarakat Indonesia pada cabang-cabang olahraga tersebut. Saya percaya KONI akan melakukan itu. Lebih dari itu, konsentrasi pemerintah hari ini adalah memperbaiki infrastruktur. Pada tahun ini pemerintah akan merevitalisasi sarana prasarana olahraga di desa-desa. Selebihnya baru kita fasilitasi dukungan stadion,” jelas Imam.
Sementara itu, Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman mengatakan bahwa Musornaslub ini digelar untuk menghimpun pemikiran, selaras misi pemerintah dalam memajukan olahraga. “Harapan kami Musornaslub ini dapat menghasilkan keputusan yang bermuara pada semakin fokusnya pembinaan dalam meningkatkan prestasi olahraga nasional,” ucap Tono Suratman. ***
PASANG surut prestasi olahraga masional harus dipikirkan secara matang, dan dicarikan jalan keluar terbaik. Masa kejayaan jangan sampai berlalu, dan harus kembali direbut dan dipertahankan sebagai kebanggaan bangsa Indonesia.
Untuk itulah, Menpora Imam Nahrawi berharap Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) dan Rapat Anggota Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun 2017 di Gedung Dwi Warna, Lemhanas, Jakarta Pusat, Selasa (21/2). bisa menciptakan iklim baru di tubuh olahraga nasional.
Bahkan dia berharap, Musornaslub ini dapat membawa KONI dan olahraga Indonesia ke arah yang lebih baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi olahraga nasional. “Untuk itu, saya mengajak agar KONI, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia (Formi) berbagi peran dan bersinergi untuk membangun prestasi olahraga nasional,” tegasnya.
Diakuinya, jika ketiga organisasi di sektor olahraga tersebut menjalankan tugas dan fungsi dengan baik, maka beban pemerintah dalam memajukan olahraga bisa terbantu. “Harapan saya segera membagi tugas dengan baik. KOI, KONI dan Formi harus fokus sama anggotanya masing-masing. Karena pemerintah ingin menjadi olimpiade sebagai misi untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesiadi mata internasional,” kata Imam.
Dengan didampingi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tono Suratman,Wakil Ketua KOI Muddai Madang, Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) Ahmad Sutjipto, Menpora melakukan pemukulan gong. Menpora mengharapkan forum ini dapat mendorong olahraga dapat berprestasi lebih kuat lagi dalam konteks perencanaan anggaran maupun perencanaan pembinaan sampai berujung pada prestasi di olimpiade. “Dan ini harus dilakukan secara lebih baik, terukur dan terencana,” tegas Menpora.
Musornaslub KONI yang diikuti wakil dari 34 KONI Provinsi dan 65 perwakilan Pengurus Besar/Pengurus Pusat induk organisasi cabang olahraga tersebut mengambil tema “Pembangunan Olahraga untuk Meningkatkan Persatuan dan Kesatuan Bangsa”. ***
KETIGA kalinya, PT Nestle menyelenggarakan Milo Football Championship sebagai pendukung fondasi pembinaan usia dini. Kompetisi Sepakbola U-12 antar Sekolah Dasar ini untuk mencari bibit pesepakbola berbakat di Indonesia, untuk 2017 diselenggarakan di empat kota besar (Jakarta, Medan, Bandung, Makassar) diikuti sedikitnya 8.000 siswa dari 512 Sekolah Dasar.
Menpora merasa senang dan bangga kepada PT Nestle yang telah menyelenggarakan Milo Football Championship sebagai pendukung fondasi pembinaan usia dini. “Terima kasih Nestle ke depan kami mengajak untuk diperluas lagi cakupan kota-kotanya hingga seluruh kabupaten di tanah air karena pembinaan usia dini sangat penting menjadi fondasi tidak hanya teknik dan skill tetapi belajar berkompetisi sehingga bertemu dengan sahabatnya di seluruh Indonesia,” ucap Menpora.
Jika pembinaan usia dini semuanya berjalan, maka Menpora janji, pemerintah tidak akan memberikan izin untuk naturalisasi pemain sepakbola. “Naturalisasi hanya cukup untuk terobosan instan sedangkan jumlah penduduk Indonesia sangat besar, maka kita semua wajib melahirkan pesepakbola handal dengan penguatan pembinaan usia dini, dari usia muda inilah akan terbentuk jiwa sportivitas, menghargai, respect terhadap siapa pun,” papar Nahrawi.
Bisnis Executive Officer PT Nestle Indonesia Prawitya Soemadijo menyampaikan, tahun sebelumnya Milo telah mengajak lebih dari 1500 siswa SD untuk mengembangkan bakatnya di bidang sepakbola dan mendorong mereka berlatih dan mengejar mimpi menjadi atlet kebanggaan Indonesia yang memiliki mental juara.
Ia menambahkan Milo telah menjalin kerjasama dengan FC Barcelona selama empat tahun ke depan. “Kerjasama dengan FC Barcelona bertujuan untuk mendorong gaya hidup sehat dan mensosialisasikan pentingnya aktivitas fisik pada generasi muda, dalam kerjasama ini membuka kesempatan kepada peserta Milo Football Championship 2017 untuk dilatih oleh pelatih FC Barcelona di Barcelona,” tuturnya.
Direktur Kompetisi dan Usia Dini PSSI Yusuf Kurniawan mengatakan, PSSI saat ini fokus pada pembinaan sepakbola usia muda. “Peran swasta dalam hal ini PT. Nestle untuk mendukung perkembangan sepakbola usia sejalan dengan visi misi PSSI, kami terus dukung setiap peran semua pihak dan pemerintah dalam membangun sepakbola usia dini,” ujar Yusuf. ***