PON Jadi Ajang Pantau Bakat Para Atlet

JAYAKARTA NEWS— Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Zainudin Amali mengatakan bahwa ke depan Indonesia mempunyai harapan untuk sepak bola. Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Tahun 2021 di Papua merupakan tempat untuk pemantauan bakat dan talenta semua tim yang tampil di PON, khususnya cabang olahraga sepak bola, baik putra, maupun putri.

“Kita bisa melihat talenta-talenta yang baru untuk kita bisa kita dorong ke tim nasional. Tadi Sekjend PSSI hadir, Kapolda, bahkan Asprov dari Jawa Timur, Aceh dan Papua sendiri sudah menyaksikan semua,” kata Zainudin di Jayapura, Kamis malam (14/10/2021).

Dia berharap agar kesuksesan PON XX benar-benar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan olahraga meski digelar di tengah situasi pandemi COVID-19.

“Besok (Jumat) untuk yang tutup langsung Bapak Wakil Presiden dan beliau sudah ada di Papua dan sudah lakukan kerja ke beberapa daerah. Persiapannya sudah sedang ada gladi lagi. Muda-mudahan ini semua bisa lancar seperti pembukaan yang sudah kita lalui,” katanya.

Dia mengaku kaget karena banyak atlet-atlet berprestasi dan memecahkan banyak rekor meski PON ini dihelat di tengah situasi pandemi covid-19.

“Kalau sukses prestasi banyak rekor yang terpecahkan, saya juga kaget saya pikir melaksanakan kegiatan di tengah-tengah pandemi tidak ada pemecahan rekor yang terpecahkan. Ternyata 57 rekor yang dipecahkan di PON XX di Papua dari masing-masing kontingen, atlet dan pelatihnya sangat luar biasa dengan 57 rekor yang terpecahkan selama PON,” katanya.Selain itu, kesuksesan PON Papua, ujarnya, adalah sukses ekonomi, terutama di klaster-klaster.

“Jadi sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, ekonomi dan prokes yang dilakukan dengan disiplin bisa kita lakukan dengan baik. Ini sekalgus memupus kekhawatiran, ketakutan, bahkan orang ragu tentang apakah PON  ini bisa terlaksana atau tidak. Kita buktikan apa yang sudah menjadi tagline dari PON Papua ‘Torang Bisa’. Masyarakat Papua mampu dan masyarakat Papua membuktikan PON ini sukses,” katanya.***/ebn

Menpora Amali: DBON untuk Perluas Cabor Peraih Prestasi di Olimpiade

JAYAKARTA NEWS— Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Zainudin Amali mengatakan, dirinya tengah mengubah paradigma masyarakat Indonesia dengan menjadikan Olimpiade sebagai sasaran utama dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) karena itu adalah event olahraga paling bergengsi di di dunia, sementara Asian Games dan SEA Games hanya sasaran antara saja.

Menurutnya, hal itu dilakukan karena ingin memperluas cabang-cabang olahraga yang ditargetkan untuk meraih medali atau prestasi di ajang tertinggi olahraga dunia tersebut dan tidak bertumpu pada satu cabang olahraga saja.

“Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, mulai sekarang kita akan merubah cara berpikir kita yang tertumpu kepada cabang-cabang olahraga tertentu. Tetapi kita harus luaskan basis-basis prestasi kita untuk cabang-cabang olahraga yang kita sudah perkirakan memungkinkan untuk bisa berprestasi lebih baik di tingkat dunia,” ujar Menpora Amali saat menjadi narasumber secara live program Presisi Siang, Polri TV, sebagaimana dikutip dari laman kemenpora.go.id

Menpora Amali menjelaskan, dalam DBON yang merupakan tindaklanjut dari arahan presiden Joko Widodo tersebut, pemerintah tidak lagi menargetkan jumlah perolehan medali pada tiap-tiap cabang olahraga yang dipertandingkan. Melainkan menargetkan kenaikan peringkat olimpiade dunia setip mengikuti ajang tersebut. 

Misalnya, pada Olimpiade Tokyo 2020 ditargetkan berada di urutan 40 dan naik dari olimpiade sebelumnya di Rio De Jeneiro 2016 dengan urutan 46, dan seterusnya hingga olimpiade 2044.

“Insya Allah ini kalau ini konsisten kita lakukan dan tentu kalau kita sama dengan apa yang sudah digariskan dalam Desain Besar Olahraga Nasional, insya Allah capaian-capaian kita akan makin baik,” harapnya.

Hal itu sekaligus mengubah paradigma masyarakat yang selalu menjadikan jumlah perolehan medali sebagai ukuran. Menurut Menpora Amali, kalau diukur dari perolehan medali, apa yang dicapai kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 sudah memenuhi target karena berhasil meningkatkan jumlah perolehan medali dimana mendapatkan 1 emas, 1 perak dan 2 medali perunggu. Sementara olimpiade Rio De Jeneiro hanya mendapat 1 emas dan 2 perak saja.

“Karena ini kan perubahan paradigma ini baru ya, kalau kita masih tetap dengan target yang lama sudah tercapai yakni perolehan medali sudah tercapai bahkan melampaui. Tetapi sekarang kita mengubah cara kita mengukur. Kita harus konsisten menempatkan parameter yang hendak kita capai yakni kita ingin mencapai peringkat-peringkat olimpiade,” jelasnya.

Kemudian untuk regenerasi atlet, Menpora mengungkapkan bahwa dalam Desain Besar Olahraga Nasional pembinaan akan dilakukan sejak dari usia dini bahkan di tingkat anak-anak, SD, SMP dan SMA.

Pemerintah tidak ingin lagi memperoleh prestasi dengan cara-cara seperti yang ada saat ini yakni menemukan atlet tanpa didesain dan tidak ada generasi penerusnya.

“Jadi kami akan menerapkan pembinaan atlet secara terstruktur, kemudian sistematis dan masif di seluruh daerah untuk mendapatkan talenta. Karena talenta itu ada daerah bukan ada di Ibukota,” jelasnya.

Menpora mencontohkan, beberapa talenta yang mendapat medali di olimpiade baru-baru ini dating dari daerah seperti peraih medali perunggu angkat besi Windy Cantika Aisah dan peraih medali emas Bulutangkis, Apriani Rahayu. Dengan demikian, bakat-bakat lebih banyak lagi didapatkan dengan pembinaan.

“Dengan cara ini akan kita lebih pertajam lagi, sehingga kita bisa mendapatkan tim yang kuat dan siap untuk bisa bertanding di level olimpiade,” ungkapnya.

Meski begitu, Menpora memberikan apresiasi dan ucapan terimakasih kepada para atlet yang sudah bertanding di olimpiade 2020 terutama yang sudah meraih medali.

“Saya bersyukur dan berterima kasih serta apresiasi terhadap capaian dari kontingen Indonesia yang sudah mengharumkan nama bangsa di kancah olimpiade atau tempat pertandingan olahraga paling tinggi, paling bergengsi dan paling prestisius di dunia,” pungkasnya.***/ctr

PSSI harus Makin Gencar Benahi Permasalahan Sepakbola Nasional

Ilustrasi–Timnas Indonesia U-23 saat menghadapi Laos di matchday ketiga babak penyisihan Grup A cabang sepak bola Asian Games 2018. Foto: SINDOnews

Mundurnya Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI tidak akan menghentikan perang terhadap pengaturan skor dalam sepakbola Indonesia. Justru sebaliknya, PSSI harus semakin gencar dan serius dalam membenahi permasalahan sepakbola nasional.

“Pertama-tama, saya ingin menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pak Edy Rahmayadi atas kerja keras dan dedikasinya selama menjabat sebagai ketua umum PSSI,” ucap Menpora Imam Nahrawi, Senin (21/1) siang. Demikian dikutip dari laman kemenpora.go.id

Keputusan Edy Rahmayadi mundur sebagai ketua umum dalam Kongres PSSI 2019 di Bali pada 20 Januari 2019 berarti Joko Driyono, selaku anggota paling senior dalam tubuh PSSI, akan menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum hingga Kongres Luar Biasa digelar.

Meski membutuhkan waktu transisi, Menpora meminta PSSI untuk tidak membuang-buang waktu. Permasalahan sepakbola Indonesia sudah terlalu rumit karena dibiarkan selama puluhan tahun belakangan.

Apalagi, PSSI tidak berdiri sendiri. Ada Satgas Anti-Mafia Sepakbola dari pihak kepolisian yang telah bekerja dengan cepat dan luar biasa. Kemenpora pun selalu siap memberikan bantuan demi kemajuan sepakbola nasional.

“PSSI harus segera melakukan identifikasi permasalahan-permasalahan sepakbola Indonesia agar tidak berlarut-larut dan menjadi masalah sistemik yang menghambat perkembangan sepakbola di Indonesia,” tutur Menpora.

“Saya pikir kuncinya adalah keterbukaan. Sudah ada beberapa anggota PSSI yang ditetapkan sebagai tersangka pengaturan skor. Pembenahan ini harus semakin dikeraskan. Tidak perlu malu untuk mengajak pihak lain bekerja sama jika ingin benar-benar serius berbenah,” tambah dirinya.

Dalam kesempatan yang sama, menteri asal Bangkalan itu juga menyoroti catatan prestasi timnas Indonesia di berbagai level umur sepanjang 2018 lalu. Hanya sedikit target yang mampu tercapai.

Prestasi tim nasional sangat erat kaitannya dengan sistem kompetisi nasional. Menpora yakin, jika seluruh pemilik suara (voters) di PSSI mampu bersinergi dan mengenyampingkan kepentingan klub masing-masing, maka akan ditemukan sebuah visi terkait sepakbola Indonesia yang berlandaskan prestasi di masa mendatang. ***/ebn

 

Indonesia Terjunkan Atlet-atlet Junior pada SEA Games 2019, Atlet Senior Fokus Olimpiade 2020

Menpora Imam Nahrawi memastikan kekuatan tim Indonesia yang akan turun di SEA Games 2019 di Manila, Filipina November mendatang adalah mayoritas atlet yunior. Hal itu ia sampaikan usai Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi X DPR RI di ruang rapat Komisi X Gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu (16/1) sore. (foto:satria/kemenpora.go.id)

SEA Games 2019 yang akan berlangsung di Manila, Filipina merupakan momentum penting sebelum menuju tujuan lebih besar yakini Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022. Kontingen Indonesia nantinya akan diperkuat oleh mayoritas atlet yunior, sementara atlet-atlet senior difokuskan pada Olimpiade 2020.

“Ibarat sedang melakukan lompat jauh, SEA Games 2019 adalah sebuah batu loncatan. Bukannya disepelekan tapi justru jadi langkah penting untuk menuju tujuan lebih besar yakni Olimpiade 2020 dan Asian Games 2022. Itulah rangkuman paparan saya ke Komisi X DPR RI.  Indonesia akan mengirimkan atlet-atlet muda pada SEA Games 2019. Karena target kita sekarang memang harus sudah menuju ajang multievent yg lebih besar,” papar Menpora Imam Nahrawi lewat akun instagramnya.

Imam Nahrawi, Menpora, dan jajarannya saat Raker dengan Komisi X DPR RI, pekan lalu–instagram imamnahrawi

Hal tersebut juga disampaikan Nahrawi saat Rapat Kerja dengan Komisi X DPR, pekan lalu. Dalam kesempatan itu Menpora menegaskan bahwa mayoritas atlet Indonesia yang akan turun pada SEA Games 2019 Manila adalah atlet junior.

“Tanggal 7 Januari kemarin, kami sudah mengundang seluruh pimpinan cabang olahraga, KONI, KOI dan Deputi Peningkatan Prestasi kami untuk membicarakan tentang mayoritas atlet muda yang akan turun di SEA Games 2019 selain juga tentang penyampaikan pertanggungjawaban keuangan 2018 untuk menentukan reward and punishment Asian Games 2018,” kata Menpora sebagaimana dikutip dari laman kemenpora.go.id.  “Atlet-atlet senior kita fokuskan untuk Olimpiade 2020 termasuk event yang potensial medali di Olimpiade,” tambahnya.

Menurutnya, fokus prestasi olahraga Indonesia saat ini adalah Asian Games dan Olimpiade. “Kelas kita saat ini sudah kelas Asian Games dan Olimpiade, karena kita telah berhasil menjadi tuan rumah dengan prestasi membanggakan untuk itu kita menjadikan SEA Games hanya sebagai batu loncatan bagi atlet-atlet junior kita,” tegasnya.

Sementara untuk cabor yang tidak mencapai targetnya di Asian Games 2018 lalu, pihak Kemenpora akan tetap menerapkan reward and punishmentnya. “Tentu akan kita kurangi nanti anggarannya hingga akan ada pendampingan dari jabatan fungsional pelatih maupun atlet yang kita miliki dan itu menjadi titik krusial bahwa pemerintah tidak hanya mengganggarkan tapi pemerintah ikut campur untuk menaikkan target itu,” tegas Imam Nahrawi.***/ebn

Menpora Minta Peralihan Aset INASGOC ke INAPGOC Dipercepat

Menpora-memimpin-rapat-pengalihan-pengelolaan-aset-dari-Inasgoc-ke-Inapgoc-foto-humas-kemenpora–foto humas Kemenpora

Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi meminta agar peralihan aset dari INASGOC kepada INAPGOC dipercepat mengingat Asian Para Games akan berlangsung tak lama lagi. Hal itu disampaikan Menpora dalam rapat pembahasan peralihan aset INASGOC kepada INAPGOC di ruang rapat Lt.10, Kemenpora.

Gelaran Asian Games dan Asian Para Games merupakan hajat negara yang anggarannya dari negara, dan sekaligus Kemenpora selaku pengguna anggaran di kedua event besar ini. “Sekarang ini, tinggal peralihan aset dari INASGOC kepada INAPGOC. Peralihan ini harus dilakukan secara cepat mengingat Asian Para Games ini tinggal sebentar lagi. Saya kira antara keduanya sudah memahami dimana letak koordinasinya. Kalau nanti ada revisi juknis harus segera dilaksanakan,” jelasnya sebagaimana dikutip dari rilis  Kemenpora.

Sementara Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari menyampaikan bahwa sudah melakukan koordinasi dengan semua kementerian/lembaga utamanya dengan INASGOC.Ia menyampaikan bahwa telah berusaha untuk bisa memaksimalkan sinkronisasi dari peralatan yang digunakan saat Asian Games.

“Hari ini kami memohon pada Menpora untuk melaksanakan sinkronisasi akhir dengan INASGOC sehingga beberapa peralatan yang digunakan di Asian Games bisa dilanjutkan di Asian Para Games,” ujarnya.

Sedangkan Sekjen INASGOC Eris Herryanto mengatakan bahwa arahan Ketua INASGOC untuk meminta membantu INAPGOC. “Kami dari INASGOC akan membantu terkait penyelenggaraan Asian Para Games. Pada waktu pembukaan Asian Games saya bertemu dengan Okto, dan saya mohon untuk diberikan list barang yang akan digunakan di Asian Para Games dan sudah kami rapatkan antara INASGOC, INAPGOC, dan instansi terkait.

“Hasil dari rapat yang lalu bisa kami laporkan saat ini, ada tiga permintaan dari INAPGOC akan mengunkan peralatan untuk opening ceremony, menggunakan tenda dining hall serta kitchen dan pengunaan barang milik negara. Namun setelah cek ada 20 item yang terikat dengan kontrak. Namun ita akan segera menyelesaikan dengan vendornya secepat mungkin,” jelasnya.

Turut hadir dalam rapat tersebut, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto, Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari, Sekjen INASGOC Eris Herryanto, Direktur Advokasi dan Penyelesaian Sanggah Wilayah I LKPP Yulianto Prihandoyo, Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Raden Isnanta, Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga, Mulyana dan Staf Khusus Kepemudaan Anggia Ermarini, serta beberapa pejabat lembaga terkait. ***eben

 

Menpora: Persiapan Asian Para Games 2018 Hampir 90%

foto: istimewa/asian para games

Rapat pleno koordinasi panitia Asian Para Games 2018 (INAPGOC) digelar di ruang sidang lantai 3 Kemenpora, Kamis (13/9) pagi. Dalam pertemuan yang berlangsung tiga jam tersebut, kesiapan teknis penyelenggaraan disebut sudah maksimal. Menpora Imam Nahrawi memimpin langsung rapat tersebut.

Tampak hadir ketua pelaksana INAPGOC Raja Sapta Oktohari, Chef de Mission (CdM) Asian Para Games Arminsyah, dan seluruh pemangku kepentingan Asian Para Games 2018.

Menurut Imam, dalam laporan yang dipaparkan di rapat pleno, persiapan sudah mencapai 90 persen. Bukan sekadar di kesiapan venue, tapi juga seluruh hal teknis yang berkaitan dengan games time.

“Sudah hampir 90 persen, baik venue, volunteer, sistem, dan yang lebih penting bagaimana temanteman turut mempublikasikan logo, semangat Asian Para Games, serta figur dan para atlet ke penjuru tanah air,” ungkap Imam seperti dikuti dari siaran pers INAPGOC.

Imam memastikan, Asian Para Games adalah langkah untuk menjaga harkat dan martabat bangsa yang betul-betul dipersiapkan dengan matang oleh INAPGOC. Tak hanya itu, kesiapan secara prestasi juga sudah diupayakan dengan maksimal oleh pimpinan kontingen Tim Merah Putih.

“Pak Okto dan CdM terus mengawal. Tentu sukses penyelenggaraan, prestasi akan kita berikan kepada Indonesia dan semuanya sudah dilaksanakan dengan baik,” lanjut Imam.

Sementara itu, Okto menyebut bahwa khusus untuk venue, sesuai rencana akan beres seluruhnya pada 25 September. Tapi, karena ada permintaan percepatan, pihak INAPGOC pun langsung bergerak cepat untuk menyelesaikan kesiapan venue lebih awal dari yang direncanakan.

“Kalau dalam perencanaan kami tanggal 25, tapi hari ini ada permintaan beberapa venue mungkin kita akan lakukan percepatan dan bisa selesai sebelum 25 September. Perencanaan sudah kita mulai dari enam bulan lalu, ini membutuhkan support dari semua pihak agar waktu ini kita bisa jaga dengan baik,” tegas pria yang juga Ketua PB ISSI (Ikatan Sport Sepeda Indonesia) tersebut.

Di sisi lain, CdM Arminsyah memastikan kesiapan atlet untuk meraih prestasi sejalan dengan kesiapan INAPGOC menyukseskan pelaksanaan Asian Para Games. “Atlet sudah delapan bulan berlatih di Solo dan sudah dua cabor yang ke Jakarta, lawn ball dan menembak, selebihnya masih di Solo sambil menunggu kesiapan venue dan juga kesiapan wisma. Kami tegaskan, setiap cabor siap untuk meaih prestasi tinggi,” tandasnya.

Begini Komentar Menpora Setelah Raihan Medali Emas Lampaui Target

 

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, mengungkapkan kebahagiaannya setelah  raihan medali emas kontingen Indonesia melebihi target Asian Games 2018.

Para atlet yang berlaga di Asian Games ke-18 pada mulanya  ditarget 16 emas. Pada kenyataannya, hingga Senin  (27/8/2018), selaku tuan rumah Indonesia mampu mengumpulkan 22 medali  emas.

Tentu saja hasil  tersebut disambut dengan sukacita oleh  Imam. “Hari ini adem sekali, karena kami diberi nikmat luar biasa berupa medali yang diraih dari atlet-atlet,” ujarnya.

“Prestasi ini adalah pencapaian luar biasa. Totalitas para atlet harus diapresiasi,” katanya.

Sebagaimana dimaklumi,  bagi peraih medali emas perorangan pemerintah akan memberi  bonus Rp 1,5 miliar. Untuk  atlet yang berlaga di nomor ganda, masing-masing diberi Rp 1 miliar, sedangkan tim Rp 800-900 juta per personel.

Pada Asian Games  1962 yang berlangsung di Jakarta, saat  Indonesia menjadi tuan rumah untuk kali pertamanya, para atlet  meraih 11 emas.

Beberapa cabor masih berpeluang memberi tambahan medali emas bagi Indonesia, seperti bulutangkis, pencak silat dan cabor lainnya. ***

Kemenpora Gelar Diskusi Penangkal Aksi Teror

SELAIN bidang olahraga, adalah aksi pemuda yang dapat mencegah dan menangkal aski teroriseme lewat teror bom dan penyerangan yang dilakukan terorisme.

Dua komponen itu menjadi pilar pihak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sehubungan dengan hal itu Kemenpora terus mengajak pemuda Indonesia untuk bangkit melawan aksi radikalisme.

Demikian ditegaskan Deputi Bidang Pengembangan Pemuda, Asrorun Niam yang juga sebagai nara sumber dalam Diskusi Forum Kepemudaan ke-2. Asruron menyampaikan bahwa akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang terusik keyamanannya dengan aksi terorisme.

Saat ini rasa aman menjadi hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi, para pelaku terorisme saat ini banyak yang masih berusia muda.

“Dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional, karakter pemuda adalah peletak tonggak perubahan. Spirit dan semangat mengoreksi itulah jika tidak pada arah dan pemahaman yang tepat menjadi sumber permasalahan,” kata Niam, di Media Center Kemenpora, Selasa.

Menurutnya momentum Kebangkitan Nasional ini harus dimaknai sebagai semangat perjuangan untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan sebagaimana diwariskan Boedi Oetomo 1908 dan Sumpah Pemuda 1928.

Sisi lainnya katanya, kemajuan teknologi harus mampu dipakai untuk merajut kebhinekaan menjadi kesamaan pandang tentang Indonesia yang sama-sama kita cintai.

“Di era digital, internet, dan media sosial perlu disadari bahwa jika tidak dimanfaatkan dengan baik justru menjadi sumer-sumber informasi yang digemari anak muda yang didalamnya ada hal-hal radikalisme dan terorisme,” tegasya. ***

JOKOWI BERHARAP MUNCUL EGY-EGY LAIN

PESEPAKBOLA  muda Indonesia Egy Maulana Vikri (18) didampingi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi diterima oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Istana Merdeka, Jakarta (23/3) pagi.

Mengenakan baju batik berwarna hijau, Egy yang datang satu mobil dengan Menpora tiba di kompleks Istana sekitar pukul 09.30 WIB, dan langsung disambut hangat oleh Presiden Jokowi di Istana Merdeka.  “Kaya orang Polandia sekarang,” kata Presiden Jokowi saat menyambut kedatangan Egy di Istana Merdeka.

Egy mengaku merasa senang dan bangga  bisa bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka. Ia juga mengaku mendapat support dari Presiden supaya terus belajar lebih baik lagi agar tetap tidak pernah besar kepala, harus selalu bersyukur.  “Ya harus terus belajar lagi, buat bangga Indonesia, agar orang tahu juga kalau kita bisa juga agar banyak pemain-pemain lain yang bisa menyusul saya nantinya,” kata pemain Tim Nasional Indonesia yang kini dikontrak klub Lechia Gdansk, Polandia itu.

Egy Maulana Fikri diantar Menpora Imam Nahrawi beraudiensi dengan Presiden Jokowi.

Terkait dengan klubnya di Polandia itu, Egy berjanji akan berusaha bisa main lebih bagus, lebih baik ke depannya, sehingga juga bisa buat Indonesia bangga. Ia juga berharap, kedatangannya di klub Lechia Gdansk akan menjadi pintu awal masuk supaya pemain-pemain lain bisa mengikuti jejak dirinya bermain di klub Eropa.

Mengenai posisinya sebagai pemain Tim Nasional Indonesia Usia 21 dan Usia 19, Egy menegaskan, dirinya wajib setiap saat untuk selalu siap membela Timnas meski sudah bermain di Polandia. “Kan harus ya kalau namanya Timnas manggil ya enggak mungkin enggak mau pasti selalu bela. Karena orang bilang saya akan pindah negara, saya bakal 100% Indonesia,” ujar Egy.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap keberhasilan pesepakbola nasional Egy Maulana Vikri menembus klub Eropa, dengan mendapatkan kontrak dari klub Lechia Gdansk, Polandia, akan disusul dengan pemain Tim Nasional Indonesia yang lainnya. “Bapak Presiden betul-betul ingin lebih banyak lagi Egy-Egy baru yang nyusul Egy nanti ke luar negeri. Jangan hanya 1, 2, 3, 4, 5, 6, tapi lebih banyak lagi,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi usai mendampingi Egy Maulana Vikri bertemu dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (23/3) pagi.

Dengan bermain di luar negeri, menurut Menpora, bukan hanya  agar pemain punya pengalaman, punya pengetahuan, dan punya kedisiplinan yang tinggi, tapi juga soal membawa nama baik bangsa bahwa Indonesia itu negara besar dengan talenta yang besar juga.  “Bapak presiden menekankan pendidikan, olahraga pendidikan itu harus menjadi nomor satu,” sambung Menpora seraya menambahkan bahwa Egy Maulana Vikri ini berasal dari SKO (Sekolah Khusus Olahragawan) Ragunan, sehingga Presiden berharap sebisa mungkin SKO dan SSB nanti dimaksimalkan. ***

PSSI Gagal Mereformasi Tata Kelola Sepak Bola

KARUT-MARUT persepakbolaan nasional masih mengintai olahraga yang amat digemari masyarakat di tanah air ini. Walau Gojek Traveloka Liga 1 siap kick-off pada 15 April 2017, namun langkah PSSI tidak menggambarkan reformasi tata kelola sepak bola nasional. PSSI ditengarai banyak menabrak sejumlah peraturan yang seharusnya dijunjung.

Koordinator Save Our Soccer #SOS, Akmal Marhali mencatat, PSSI telah melanggar beberapa peraturan, seperti Statuta FIFA, Statuta PSSI, Regulasi Lisensi Klub Profesional FIFA, Law of The Game IFAB. Tragisnya, Regulasi Kompetisi Liga 1 yang disiapkan sendiri pun, dilanggar. Menurut Akmal, PSSI tampaknya tak sungguh-sungguh menegakkan syarat kriteria aspek legal pada lisensi klub profesional yang ditetapkan FIFA/AFC. PT Liga Indonesia Baru (LIB) pun tak tegas mengawal jalannya regulasi kompetisi.

Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), yang bertindak sebagai lembaga pembinaan, pengawasan dan pengendalian olahraga profesional, sebagaimana diatur Undang Undang Nomor 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional (SKN) dan PP Nomor 16 Tahun 2007, juga tidak menjalankan tugas dengan baik dan benar. Akmal menilai, verifikasi yang dilakukan BOPI hanya formalitas belaka. Kesannya, BOPI cuma bertugas bikin rekomendasi supaya kompetisi berjalan.

Akmal Marhali

Melihat sejumlah fakta tersebut, #SOS menilai, reformasi tata kelola persepakbolaan nasional, gagal. Sanksi FIFA dengan membekukan PSSI setahun lalu, tak membawa hikmah. Perpanjangan waktu yang diisi dengan turnamen, pun tak memberi nilai pada agenda agenda reformasi sepak bola nasional.

Akmal berpendapat, kebijakan PSSI tidak lebih baik dibandingkan dengan ketika dibekukan dua tahun lalu. “Padahal, PSSI isinya para pakar sepak bola yang sudah karatan, karena mereka lama berkecimpung mengurus bal-balan,” tutur Akmal.

Dia mengingatkan, peraturan yang dibuat oleh para stake holder sepak bola tersebut, untuk dilaksanakan dan ditegakkan, bukan malah dilanggar. Akmal pun mempertanyakan, siapa kini yang bertugas menegakkan aturan. “Sangat disayangkan, reformasi tata kelola sepak bola nasional kini gagal total!”***