Percepat 3T di Daerah, Mobile Lab BSL-2 Varian Bus Diluncurkan

JAYAKARTA NEWS—- Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Doni Monardo bersama Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza secara resmi melepas keberangkatan mobile laboratorium Biosafety Level 2 atau BSL-2 varian bus di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (16/12/2020).

Pelepasan bus laboratorium tersebut dilakukan secara simbolis dengan mengangkat bendera yang didahului pemotongan bunga peresmian. Dalam sambutannya, Ketua BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa peluncuran mobile lab BSL-2 tersebut kemudian akan membantu proses 3T atau tracing, testing dan treatment di beberapa daerah untuk mempercepat upaya penanganan dan memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

“Untuk, testing, tracing dan treating yang juga kita bisa mengimprovisasi dengan _tracking_ yang saat ini juga kita sedang upayakan pengembangan aplikasi,” jelas Hammam.
Selain itu, kehadiran mobile lab BSL-2 sebagai salah satu hasil inovasi dari Peneliti dan Perekayasa BPPT itu juga dapat membantu peningkatan kapasitas uji sampel spesimen COVID-19 di daerah sehingga prosesnya dapat lebih dipercepat, dipersingkat dan lebih akurat.
Sebagaimana diketahui bahwa hingga saat ini kapasitas pengujian sampel COVID-19 sudah mencapai 95 persen dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun ada beberapa wilayah yang mengalami kesulitan dalam pengujian sampel.

“Kapasitas pengujian di Indonesia saat ini telah mencapai 95 persen dari yang ditargetkan oleh WHO. Namun sebagian labolatorium masih terpusat di beberapa kota besar dan masih menunggu waktu di dalam pengujian spesimen tersebut,” ujar Hammmam.
Lebih lanjut, Hammam Riza juga merincikan bahwa mobile lab BSL-2 varian bus tersebut masih mengusung konsep yang sama, yaitu mobile, aman, dan akurat.

“Memiliki konsep yang sama dan dibangun dengan upaya penyempurnaan,” kata Hammam.
Adapun mobile lab BSL-2 varian bus ini memiliki beberapa kelebihan dibanding generasi mobile lab sebelumnya, antara lain; dibangun dengan platform bus, untuk memperkuat konsep mobilitas, sehingga dapat mudah dioperasikan di daerah yang membutuhkan.
Kemudian mobile lab terbaru ini juga terdapat penambahan fasilitas untuk ekstraksi RNA, sehingga dapat menggunakan reagen yang lebih bervariasi (metoda magnetic beads) untuk menjaga keberlanjutan pengujian.

“Penambahan fasilitas untuk ekstraksi RNA sehingga menggunakan reagen yang bervariasi,” jelas Hammam.

Selanjutnya ada juga beberapa pengembangan layout peralatan untuk meningkatkan akurasi data dan keamanan personil penguji.

Lebih lanjut, mobile lab tersebut terdapat penyempurnaan pada sistem mekanik pintu yang dapat dibuka tutup secara _touchless_, untuk menghindari adanya kontaminasi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo mengapresiasi atas hasil inovasi karya anak bangsa tersebut dalam rangka mempercepat penanganan COVID-19.

Menurut Doni, dengan hadirnya mobile lab BSL-2 dapat mengurangi ketergantungan terhadap jenis produk dari luar negeri, sehingga hal itu sekaligus dapat menjadi solusi yang lebih efektif dan efisien.

“Tentu kita harus mendukung program-program inovasi ini agar kita tidak selalu tergantung dari produk-produk yang didatangkan dari luar negeri,” kata Doni.


Di sisi lain, Doni juga menilai bahwa dengan adanya bus laboratorium tersebut, maka hal itu dapat mengurangi permasalahan yang ada di daerah, khususnya untuk pemenuhan kapasitas uji sampel sesuai standar Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

“Salah satu upaya untuk mengurangi kesulitan-kesulitan yang ada di daerah, karena tidak semua lab di daerah ini memiliki standar yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,” ujarnya.

Selanjutnya, dia juga berharap agar peluncuran mobile lab BSL-2 yang mengusung konsep bus tersebut dapat mempercepat upaya pemeriksaan spesimen, sehingga penanganan COVID-19 dapat lebih baik.

“Ini adalah jawaban untuk menutupi kekuarangan yang ada di daerah. Mudah-mudahan kehadiran mobile lab BSL-2 ini dapat mempercepat proses pemeriksaan spesimen,” tutup Doni.

Usai diberangkatkan, mobile lab BSL-2 varian bus tersebut akan melakukan _roadshow_ ke Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Dinas Kesehatan Denpasar di Bali, dan Ponpes Darul Ulum Jombang di Jawa Timur untuk membantu pengujian sampel COVID-19, dan direncanakan kembali ke BPPT pada tanggal 29 Desember 2020.

Sebelumnya, BPPT telah meluncurkan inovasi mobile lab BSL-2 varian kontainer/trailer, yang dapat dipindah-operasikan ke berbagai daerah.

Mobile lab varian kontainer tersebut telah beroperasi di beberapa tempat di Indonesia, seperti di Jakarta Timur, Plaju Palembang dan Medan Sumatra Utara. ***

Ini Alasan Kenapa PCR Buatan Lokal Lebih Valid Dibanding Buatan Luar Negeri

JAYAKARTA NEWS— Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19) telah mengembangkan lima produk untuk membantu penanganan Covid 19.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPPT Hammam Riza saat pertemuan virtual bersama Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19) bersama Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo, baru-baru ini. Demikian dikutip dari keterangan pers dari Humas BPPT.

Menurut Hammam, BPPT sebagai lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (Litbangjirap) mengemban tugas utama dalam menghasilkan inovasi dan terus berusaha mendukung dengan inovasi teknologi terhadap penanganan Covid-19.

Saat ini, ucapnya, BPPT bersama TFRIC19 telah melakukan akselerasi dalam mengembangkan lima produk.  Yakni,  1) Non-PCR diagnostic test Covid-19 (dalam bentuk dip stick dan micro-chip), 2) PCR test kit, labo- ratorium uji PCR dan sequencing, 3) sistem informasi dan aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), 4) data whole genome Covid-19 origin orang Indonesia yang terinfeksi, serta 5) sarana dan prasarana deteksi, penyediaan logistik kesehatan seperti aplikasi covidtrack untuk dokter, Mobile Lab BSL-2 untuk swab test, ventilator, uji Hazmat serta produk lainnya.

 “Kami akan terus mendukung percepatan penanganan pandemik virus Covid-19, dengan pemanfaatan inovasi dan teknologi secara nasional,” ujarnya.

Sementara, Ketua TFRIC-19 Soni Solistia Wirawan menyampaikan bahwa TFRIC-19 dibentuk atas inisiasi BPPT yang ditunjuk sebagai koordinator percepatan pengembangan produk dalam negeri, guna mengatasi wabah Covid-19 yang menjadi pandemik dunia dan Indonesia.

Mengenai test kit, Soni menyebut PCR buatan lokal ini dinilai lebih tervalidasi lantaran langsung menggunakan sample darah orang Indonesia.

Dengan menggunakan sample Covid-19 orang Indonesia asli, maka sensitivitas alat tersebut dalam mendeteksi keberadaan virus penyebab Covid-19 di tubuh manusia Indonesia menjadi lebih tinggi dibanding alat tes lain yang diproduksi dari luar negeri yang menggunakan sample dari negara mereka sendiri, jelasnya.

Adapun menurutnya pendekatan yang digagas TFRIC-19 dalam menangani Covid-19 adalah dengan menghadirkan ekosistem riset dan inovasi teknologi yang bertujuan menghasilkan pendekatan holistik sebagai upaya mengatasi masalah pandemi secara terstruktur dan sistematik

Dikesempatan tersebut Ketua Gugus Tugas Doni Monardo menegaskan, dalam mengatasi pandemi Covid-19, bahwa dokter dan tenaga medis agar tidak dijadikan ujung tombak dalam menghadapi pandemi, melainkan sebagai benteng terakhir.

 Salah satu hal yang dikedepankan adalah bagaimana menjaga level imunitas di masyarakat serta kerja sama semua pihak agar virus Corona di Indonesia berakhir dan dapat segera hidup normal kembali, pungkasnya. ***/ebn

Kepala BPPT: Sebelum Hotspot Sulit Dikendalikan, Laksanakan TMC

JAYAKARTA NEWS— Di saat semua wilayah tengah berjuang melawan Covid 19, sejumlah daerah malah ketambahan tugas berat lantaran terjadinya bencana lain di wilayahnya. Mulai dari banjir, longsor juga kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan juga Riau.

Sejak  pertengahan Maret 2020 sejumlah hot spot di wilayah Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan sudah bermunculan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan baik agar pada puncak musim kemarau 2020 (Juni-September) tidak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif.

Mengutip keterangan pers humas BPPT, upaya preventif menjadi penting dilakukan mengingat sejumlah model prediksi iklim mengindikasikan akan terjadi ENSO pada skala Netral menuju El Nino lemah hingga akhir tahun 2020.

Dan dengan memperhatikan kondisi hotspot saat ini serta prediksi kondisi atmosfir ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan berbagai K/L lainnya termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana akan menerapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera, khususnya wilayah Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan,  Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan memiliki beberapa fungsi yakni memindahkan curah hujan demi mengantisipasi banjir serta dapat diterapkan pula untuk mencegah karhutla, seperti yang terjadi di Riau.

“Harapan saya sebelum terjadinya hotspot (titik panas) yang sulit terkendali di Provinsi Riau, TMC sudah dilaksanakan. “Melalui teknologi ini, awan hujan akan diturunkan pada titik-titik panas itu untuk menghindari meluasnya karhutla”, kata Hammam saat ditemui di ruang kerjanya, baru baru ini.

“TMC nantinya akan menambah volume air hujan sehingga akan membasahi lahan-lahan gambut dan hutan di sana, sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api,” jelasnya.

Hammam menekankan, bahwa karhutla merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di sebagian wilayah Indonesia. Fenomena ini bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lainnya.

Sehingga menurutnya, sinergi semua pihak diperlukan upaya pencegahan bencana karhutla. “Sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia sebagai negara yang tangguh bencana.

Hammam mengharapkan pemanfaatan TMC ini dapat didukung oleh semua pihak terkait sehingga pelaksanaanya menjadi optimal dalam mencegah terjadinya karhutla. “Kami usulkan pemanfaatan TMC ini dapat dioptimalkan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya karhutla di seluruh wilayah provinsi rawan karhutla.” ujarnya. ***/ebn

BPPT Siap Produksi 1.200 Ventilator per Bulan

Jayakarta News – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan ventilator portabel untuk membantu pasien terinfeksi virus Corona (Covid-19) yang mengalami gangguan pernapasan. Akhir bulan April 2020, alat ini sudah bisa diproduksi secara massal.

Kerjasama antara BUMN dan swasta, diperkirakan mampu memproduksi 1.200 unit ventilator setiap bulannya. Demikian disampaikan Kepala BPPT Hammam Riza, dalam konferensi pers di Graha BNPB beberapa waktu lalu.

“Kebutuhan ventilator saat ini menjadi krusial lantaran banyak pasien COVID-19 yang membutuhkan. Kami di BPPT mengembangkan ventilator portabel untuk membantu jumlah alat yang dibutuhkan di tiap rumah sakit rujukan COVID-19,” terang Hammam.

Hammam pun menjelaskan ventilator portabel ini berbasis bagging bag atau yang umum dikenal dengan ambu bag. Ventilator ini mengadopsi desain open source ventilator yang dikembangkan di Eropa dengan modifikasi menyesuaikan material dan komponen yang ada di lokal.

“Kita mengadopsi model yang ada di Eropa, namun kita sesuaikan dengan bahan yang ada di Indonesia sehingga Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hampir mencapai 100 persen,” tegasnya.

Dirinya pun mengungkapkan tim di BPPT juga menambahkan inovasi dan modifikasi untuk memaksimalkan fungsi dari ventilator portabel ini. Diantaranya, penambahan pengamanan (over pressure relief valve), penambahan kapasitas tekanan PEEP sekitar 10-20cm H2O, hingga penambahan penganturan fraksi gas oksigen (FIO2) yang mendukung sistem multi ventilator.

“Ventilator ini telah dilengkapi sensor dan sistem kontrol untuk memenuhi fungsi dan keamanan dalam pengoperasiannya. Ditambah ventilator ini telah mendukung sistem multi ventilator yang memungkinkan untuk dipakai lebih dari satu pasien,” urai Hammam.

Ventilator portabel yang pertama sudah diuji oleh dokter dan Kementerian Kesehatan. Selanjutnya, akan diuji coba di rumah sakit (RS). Saat ini, BPPT sedang menyelesaikan purwarupa ventilator portabel sebelum usulan sertifikasinya diajukan pada Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan. Setelah mendapat sertifikasi, ventilator portabel ini akan diproduksi massal oleh industri nasional untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit. (*/pon)

Vertikal Parking Karya BPPT Solusi Lahan Terbatas

JAYAKARTA NEWS— Keterbatasan lahan menjadi tantangan untuk mengembangkan sistem perparkiran pada area penumpukan kendaraan seperti stasiun kereta api, bus feeder, sekolah, perkantoran , area bisnis, rumah sakit dan sebagainya. Salah satu cara meningkatkan kapasitas parkir adalah dengan membangun sistem parkir vertikal yang berupa sistem parkir bertingkat yang dioperasikan secara otomatis.

Terkait dengan itu BPPT bekerjasama dengan PT. Pabrik Kreativitas Indonesia (PATASINDO) melakukan reverse engineering. Ide ini berkembang lagi untuk penambahan feature baru seperti penambahan sistem fast charging mobil listrik dan penerapan internet of think untuk aplikasi pesan parkir, pada kegiatan mendatang.

Foto–instagram BPPT

“Dengan sistem parkir pintar ini dapat meningkatkan kapasitas kendaraan hingga 500% – 800%. Penggunaan lahan yang semula hanya digunakan 2 mobil dapat meningkat menjadi 10 – 16 mobil,“ kata Kepala BPPT Hammam Riza, sebagaimana dikutip dari laman bppt.go.id

Salah satu yang sudah mempraktikkannya adalah di Puspiptek, Tangerang Selatan, Desember 2019 lalu.

Sistem parkir pintar menggunakan peranti lunak canggih yang mudah digunakan. Perangkat lunak ini memungkinkan pengelola untuk dengan mudah mengontrol sistem parkir vertikal otomatis, yang melakukan pengangkatan berat dengan menumpuk kendaraan secara vertikal di atas satu sama lain. Ini dapat meningkatkan ruang parkir Anda hingga delapan kali lipat dari kapasitas aslinya. ***/ebn

BPPT Tetap Gelar Operasi TMC Antisipasi Bencana Karhutla Riau

JAYAKARTA NEWS— Di saat hampir semua perhatian tertuju pada penyebaran virus corona, kebakaran hutan dan lahan masih melanda Riau. Pemerintah daerah setempat harus membagi perhatiannya dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih melanda Riau.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan, pihaknya melalui BBTMC tetap melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisiapasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.

BBTMC tetap melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisiapasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau–foto instagram bppt

“Sebagaimana kita ketahui, bahwa setiap tahun terjadi karhutla di Riau, itu terjadi sekitar Februari-Maret akibat adanya musim kemarau pertama di Riau”, dikatakan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Teknolog (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto, melalui pesan singkat (19/03).

Seto menambahkan, sejak awal maret lalu BBTMC- BPPT mulai terjunkan tim untuk melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca di Riau. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas tak terkendali.

TMC kali ini dilakukan untuk membasahi lahan gambut agar tidak mudah terbakar atau dibakar. Semoga TMC mampu mencegah bencana asap karhutla yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama ISPA, ujar Seto. –

Pencegahan kahurtla yang memberikan dampak asap ini tentu mengganggu kesehatan, ditengah masyarakat Indonesia sedang melawan Covid 19 kita perlu mencegah bahaya lain yang diakibatkan oleh kahurtla, tambahnya.

Sebagai informasi Tim TMC BPPT sudah melakukan operasi sejak 11 Maret 2020 di Provinsi Riau dengan dukungan TNI AU. ***/ebn


BPTT Jalin Kerjasama Internasional Penguatan Operasi Peringatan Dini Tsunami

JAYAKARTA NEWS— BPPT lakukan kerja sama internasional melalui United Nations ITU/WMO/UNESCO IOC Joint Task Force (Satuan Gabungan ITU-WMO-UNESCO PBB) untuk mengimplementasikan pemanfaatan Smart Cable Technology dalam upaya penguatan operasi peringatan dini tsunami di gedung BPPT Jakarta pada Senin (13/1).

Satuan gabungan tersebut terdiri dari pemerintah, swasta serta universitas yang telah melakukan penelitian dalam 10 tahun terakhir dan menyimpulkan bahwa Smart Cable (Science Monitoring And ReliableTelecommunications) merupakan solusi yang layak secara ekonomis untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kepala BPPT Hammam Riza menyambut positif kerja sama Indonesia dengan Pemerintah AS dalam menghadirkan solusi penguatan operasi peringatan dini tsunami. Teknologi ini akan memperkuat sistem deteksi dan peringatan dini tsunami, karakterisasi sumber dan prakiraan gelombang tsunami, dimana BPPT terus berinovasi menciptakan sistem deteksi dini tsunami yang lebih ideal, dengan mengembangkan teknologi Cable Base Tsunameter (CBT) berbasis kabel optik sejak 2012 silam.

Harapannya, kerja sama ini mampu mendorong Indonesia menjadi negara yang mandiri dalam penanganan bencana, khususnya terkait sistem peringatan dini tsunami.***/bppt/ebn

Inovasi BPPT: Alat Pendeteksi Dini Demam Berdarah Diluncurkan

JAYAKARTA NEWS—Setelah meresmikan InaBuoy di atas Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III di Pelabuhan Benoa Bali, Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro kemudian menyaksikan Serah Terima hasil inovasi lain dari BPPT kepada PT. Kimia Farma, yaitu Kit Rapid Test Dengue, yang dapat mendeteksi penyakit demam berdarah dengue (DBD) dalam waktu satu hari.

“Biasanya kalau ke dokter, dokter meminta dua tiga hari untuk melihat bagaimana perkembangan demamnya, sedangkan ini kita berupaya untuk dalam sehari sudah ketahuan bahwa ini demam berdarah atau bukan,” ungkap Bambang, sebagaimana dikutip dari siaran pers Kemenristek/BRIN.

Alat ini bisa menjadi solusi supaya treatment yang diberikan kepada penderita bisa menjadi cepat dan tepat sasaran. Menristek/Kepala BRIN berharap masyarakat dapat menggunakan kit atau alat pendeteksi demam berdarah ini ketika terjadi demam tinggi, mengingat kebanyakan korban meninggal dunia dari DBD terjadi karena trombosit dalam darah menurun secara drastis tanpa diberi perawatan yang sesuai.

“Jangka waktu terkena demam berdarah itu menjadi sangat krusial. Selama ini fatalitasnya terjadi gara-gara keterlambatan. Dengan alat ini dalam waktu singkat, satu hari dapat dideteksi apakah demam yang dirasakan itu demam biasa atau demam berdarah,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Kit Rapid Test Dengue ini sudah dihilirkan oleh BPPT dan akan dikomersialkan oleh PT. Kimia Farma. Menristek/Kepala BRIN berharap PT. Kimia Farma dapat menyebarluaskan kit tersebut sehingga jumlah korban DBD berkurang dengan adanya alat deteksi dini penyakit tersebut.

“Penemuan ini sudah dihilirkan dan akan diproduksi dalam skala luas oleh perusahaan, dalam hal ini PT Kimia Farma. Ini inovasi yang bisa dikomersialkan atau diperluas dalam bentuk produksi, akan menjadi upaya kita seterusnya,” ungkap Menristek/Kepala BRIN.

Turut hadir dalam kesempatan ini Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza serta para deputi BPPT, Deputi Bidang Koordinasi Kerawanan Sosial dan Dampak Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Dody Usodo Hargo Suseno, perwakilan direksi PT Kimia Farma, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT (operator Kapal Riset Baruna Jaya milik BPPT) Muhammad Ilyas, Balai Teknologi Industri Kreatif Keramik (BTIKK) BPPT Bali, Tjahjo Juwono Djatmiko Adi, dan serta para pegawai BPPT.***/ebn

Bamsoet Dukung Pengembangan Techno Park Pelalawan

JAYAKARTA NEWS – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menyambut baik pengembangan kawasan Techno Park di Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.

Menurutnya, selain berfungsi sebagai pusat keunggulan kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah dengan swasta dan perguruan tinggi, pengembangan techno park juga bisa meningkatkan daya saing Indonesia di kancah dunia.

“Tidak selamanya perekonomian bergantung kepada eksplorasi sumber daya alam. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) juga harus diselaraskan, agar pembangunan berbasis sumber daya alam juga fokus kepada keberlanjutan,” ujar Bamsoet saat menerima Bupati Kabupaten Pelalawan, H.M. Harris dan jajaran pemerintah daerah Kabupaten Pelalawan, di ruang kerja Ketua DPR RI, Jakarta, awal pekan ini, Senin (18/03/19).

Beberapa pejabat pemerintah daerah Kabupaten Pelalawan yang hadir antara lain Kepala BAPPEDA Syahrul Syarif Kepala Dishub Syafruddin Plt Kepala Dinas Kominfo Hendry Gunawan, Kepala Dinas PUPR Hasan Tua Tanjung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Syamsul Anwar dan Kepala Dinas KUKM dan Perindag Fakhrizal.

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Pelalawan menjelaskan keberadaan Pelalawan Techno Park seluas 3.574 Ha, sebagai 1 dari 5 techno park percontohan dan terluas di Indonesia.  Kawasan tersebut dibangun oleh Pemerintah Daerah Pelalawan bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pelalawan Techno Park akan fokus pada hilirisasi kelapa sawit Indonesia. Artinya, kawasan itu diarahkan untuk menjadi Palm Oil Valley Indonesia.

“Semangat ini juga sebagai bagian mengembangkan industri berbasis berkelanjutan. Besarnya potensi kelapa sawit di Indonesia dengan turunannya yang diperkirakan mencapai 305 lebih produk, bisa dikembangkan lebih lanjut di Pelalawan Techo Park. Seperti pengolahan limbah cair sawit menjadi alga, sehingga bisa memberikan dampak ganda bagi perekonomian lokal dan petani sawit,” tutur Harris.

Lebih lanjut Bupati Pelalawan menuturkan, dari 7 zona yang direncanakan terdapat di Pelalawan Techno Park, tiga zona di antaranya sudah berjalan. Pertama, zona pendidikan berupa Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan (ST2P) yang nantinya akan diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknologi Kelapa Sawit Indonesia (STT KSI).

Kedua, zona riset dengan Pusat Edukasi Entrepreneurship Kelapa Sawit oleh PPKS Medan. Ketiga, zona industri dengan berlangsungnya aktivitas penumbuhan Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) melalui kegiatan inkubasi teknologi dan bisnis.

Legislator Partai Golkar Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini mendukung adanya pengambangan turunan olahan dari kelapa sawit, terutama untuk dijadikan bahan bakar ramah lingkungan dan berkelanjutan . Dengan demikian bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil yang sulit diperbaharui.

“Sejak September 2018, pemerintah terus memperluas mandatori biodiesel 20 persen (B20) kepada non public service obligation. Trennya cenderung meningkat. Di awal tahun 2019 sudah mencapai 552 ribu ton atau naik 9 persen dibanding Desember 2018. Setelah B20, Pelalawan Techno Park harus bergegas bisa menghasilkan B30. Memang benar, potensi turunan kelapa sawit sangat besar sekali dan prospek ekonomi bagi masyarakat juga sangat besar,” kata Bamsoet.

Selain sebagai sarana kolaborasi teknologi antara pemerintah dengan swasta dan perguruan tinggi, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga mendorong dijadikannya Pelalawan Techno Park sebagai kawasan wisata edukasi terpadu. Sehingga bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, dari mulai jasa transportasi, penginapan, aksesoris, sampai dengan makanan dan minuman. 

“Apalagi di Kabupaten Pelalawan sudah ada Wisata Bono berupa fenomena alam yang terjadi karena pertemuan arus pasang air laut dengan arus sungai dari hulu menuju hilir. Di dunia, fenomena ini ada di 6 negara, salah satunya di Kabupaten Pelalawan, Indonesia. Walaupun di sungai, namun bisa digunakan untuk berselancar. Sayang sekali jika tidak dipromosikan secara besar-besaran,” jelas Bamsoet.

Atas berbagai potensi yang dimiliki Kabupaten Pelalawan, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini mendorong pemerintah pusat memberikan perhatian lebih. Terutama menyangkut pembangunan infrastruktur jalan yang memudahkan akses menuju ke berbagai lokasi tersebut. 

“Jadi kalau ada yang bilang infrastruktur tidak penting, itu sama sekali tidak benar. Justru infrastrukturlah yang bisa meningkatkan berbagai potensi daerah agar bisa mendatangkan kemakmuran bagi masyarakatnya. Sebagaimana yang terjadi di Kabupaten Pelalawan. Walaupun punya banyak potensi, namun pengembangannya terkendala infrastruktur jalan yang belum memadai. Pemerintah pusat harus segera bisa merespon hal ini,” pungkas Bamsoet. (pr/hr)

BPPT Luncurkan Stasiun Pengisian Daya Mobil Listrik

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus melakukan kliring teknologi terhadap inovasi pengembangan kendaraan listrik dan infrastrukturnya. Hal ini ditujukan untuk mendorong terwujudnya kendaraan listrik dan infrastrukturnya karya anak bangsa. Rekayasa teknologi terbarunya yakni menciptakan Stasiun Pengisian Listrik atau Electric Vehicle Charging Station (EVCS).

Dituturkan Deputi BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) Eniya Listiani Dewi Stasiun Pengisian Listrik ini, sama halnya dengan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada kendaraan konvensional.  “Sejalan dengan program percepatan mobil listrik nasional, pada tahun 2018, BPPT menyiapkan 2 sistem charging station yaitu Fast charging station 50 kW di BPPT Jakarta dan smart charging station 20 kW di B2TKE-BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan,” kata Eniya Listiani di Kantor BPPT, Jakarta, kemarin.

Mobil ramah lingkungan saat ini disebut Deputi Eniya, sedang mengalami perkembangan pesat di sejumlah negara. Salah satunya yakni mobil listrik. Mobil listrik kali ini memanfaatkan batere untuk menyimpan energi yang akan digunakan untuk memutar motor listrik.

“Pengisian battery mobil listrik dilakukan di tempat pengisian energi listrik (Charging Station). Agar energi listrik bukan hanya berasal dari fossil, maka perlu di lakukan inovasi dan kajian dengan memanfaatkan energi surya. Namun demikian karena karaktersitik matahari tidak dapat diprediksi, maka tetap dikombinasikan dengan energi listrik dari grid PLN,” paparnya.

Teknologi Charging Station

Sejalan dengan program percepatan mobil listrik nasional, pada tahun 2018, BPPT menyiapkan 2 sistem charging station yaitu Fast charging station 50 kW di BPPT Jakarta dan smart charging station 20 kW di B2TKE-BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan. Penyiapan infrastruktur charging station ini juga dalam rangka melakukan uji coba mobil listrik untuk ioperasional kantor sehari-hari dari Tangsel ke Jakarta dan sebaliknya. Di samping itu, juga dapat digunakan oleh pengguna mobil listrik dari kalangan masyarakat sebagai langkah sosialisasi. Sebagai uji coba fasilitas di atas disiapkan 3 bahan sampel uji kendaraan, berupa kendaraan listrik roda dua, micro car, dan city car.

Saat ini kata Eniya, durasi waktu untuk melakukan charging baterai mobil menjadi kendala di Indonesia. Untuk mengisi baterai mobil listrik hingga full membutuhkan waktu 4-5 jam sehingga kebanyakan orang masih berfikir dua kali untuk pindah ke mobil listrik.

“Pilot Project fast charging station BPPT dengan kapasitas 50 kW ini mempunyai kelebihan mampu melakukan charging baterai mobil listrik sampai penuh hanya dengan waktu 30 menit. Diharapkan dengan adanya fasilitas fast charging station pertama kali di Indonesia ini, mampu mendorong masyarakat untuk beralih dari mobil biasa ke mobil listrik,” katanya.

Eniya menambahkan, BPPT akan melakukan uji coba mobil listrik untuk operasional kantor sehari-hari dari Tangsel ke Jakarta dan sebaliknya.  Selainitu, juga dapat digunakan oleh pengguna mobil listrik dari kalangan masyarakat sebagai langkah sosialisasi. Sebagai uji coba fasilitas di atas disiapkan 3 bahan sampel uji kendaraan, berupa kendaraan listrik roda dua, micro car, dan city car.

“Road trip kendaraan listrik dan peluncuran charging station kendaraan listrik ini akan kami lakukan mulai dari kantor BPPT Thamrin menuju Puspiptek, Tangsel. Doakan lancar ya,” ungkapnya sembari mengemudi mobil listrik besutan Tesla. (gun)