Kepala BPPT: Sebelum Hotspot Sulit Dikendalikan, Laksanakan TMC

JAYAKARTA NEWS— Di saat semua wilayah tengah berjuang melawan Covid 19, sejumlah daerah malah ketambahan tugas berat lantaran terjadinya bencana lain di wilayahnya. Mulai dari banjir, longsor juga kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan juga Riau.

Sejak  pertengahan Maret 2020 sejumlah hot spot di wilayah Pulau Sumatera dan sebagian Pulau Kalimantan sudah bermunculan. Kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan baik agar pada puncak musim kemarau 2020 (Juni-September) tidak terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara masif.

Mengutip keterangan pers humas BPPT, upaya preventif menjadi penting dilakukan mengingat sejumlah model prediksi iklim mengindikasikan akan terjadi ENSO pada skala Netral menuju El Nino lemah hingga akhir tahun 2020.

Dan dengan memperhatikan kondisi hotspot saat ini serta prediksi kondisi atmosfir ke depan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan berbagai K/L lainnya termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berencana akan menerapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Pulau Sumatera, khususnya wilayah Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Kepala BPPT, Hammam Riza mengatakan,  Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan memiliki beberapa fungsi yakni memindahkan curah hujan demi mengantisipasi banjir serta dapat diterapkan pula untuk mencegah karhutla, seperti yang terjadi di Riau.

“Harapan saya sebelum terjadinya hotspot (titik panas) yang sulit terkendali di Provinsi Riau, TMC sudah dilaksanakan. “Melalui teknologi ini, awan hujan akan diturunkan pada titik-titik panas itu untuk menghindari meluasnya karhutla”, kata Hammam saat ditemui di ruang kerjanya, baru baru ini.

“TMC nantinya akan menambah volume air hujan sehingga akan membasahi lahan-lahan gambut dan hutan di sana, sekaligus mengurangi potensi munculnya titik api,” jelasnya.

Hammam menekankan, bahwa karhutla merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di sebagian wilayah Indonesia. Fenomena ini bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lainnya.

Sehingga menurutnya, sinergi semua pihak diperlukan upaya pencegahan bencana karhutla. “Sebagai bagian dari upaya membangun Indonesia sebagai negara yang tangguh bencana.

Hammam mengharapkan pemanfaatan TMC ini dapat didukung oleh semua pihak terkait sehingga pelaksanaanya menjadi optimal dalam mencegah terjadinya karhutla. “Kami usulkan pemanfaatan TMC ini dapat dioptimalkan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya karhutla di seluruh wilayah provinsi rawan karhutla.” ujarnya. ***/ebn

BPPT Tetap Gelar Operasi TMC Antisipasi Bencana Karhutla Riau

JAYAKARTA NEWS— Di saat hampir semua perhatian tertuju pada penyebaran virus corona, kebakaran hutan dan lahan masih melanda Riau. Pemerintah daerah setempat harus membagi perhatiannya dengan kebakaran hutan dan lahan yang masih melanda Riau.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan, pihaknya melalui BBTMC tetap melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisiapasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.

BBTMC tetap melaksanakan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisiapasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau–foto instagram bppt

“Sebagaimana kita ketahui, bahwa setiap tahun terjadi karhutla di Riau, itu terjadi sekitar Februari-Maret akibat adanya musim kemarau pertama di Riau”, dikatakan Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Teknolog (BBTMC-BPPT) Tri Handoko Seto, melalui pesan singkat (19/03).

Seto menambahkan, sejak awal maret lalu BBTMC- BPPT mulai terjunkan tim untuk melaksanakan operasi teknologi modifikasi cuaca di Riau. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya karhutla yang lebih luas tak terkendali.

TMC kali ini dilakukan untuk membasahi lahan gambut agar tidak mudah terbakar atau dibakar. Semoga TMC mampu mencegah bencana asap karhutla yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat terutama ISPA, ujar Seto. –

Pencegahan kahurtla yang memberikan dampak asap ini tentu mengganggu kesehatan, ditengah masyarakat Indonesia sedang melawan Covid 19 kita perlu mencegah bahaya lain yang diakibatkan oleh kahurtla, tambahnya.

Sebagai informasi Tim TMC BPPT sudah melakukan operasi sejak 11 Maret 2020 di Provinsi Riau dengan dukungan TNI AU. ***/ebn


Dengan “Bakar Tongkang”, Riau Menyapa Dunia

TAHUN 2017 ini merupakan tahun yang amat berarti bagi Pemerintah Provinsi Riau. Betapa tidak, tahun ini Provinsi Riau benar-benar bakal “menyapa dunia”. Tak tanggung-tanggung, tema besar tersebut menjadi tagline dalam launching Calender of Event yang dirilis di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kemenpar RI di Medan Merdeka Barat, Jakarta, baru-baru ini.

Aief Yahya, Menteri Pariwisata mengatakan, pastikan semua kalender kegiatan itu berjalan sesuai jadwal, karena akan menjadi patokan timeline-nya para travellers. Diingatkan  bahwa masing-masing negara mempunyai waktu yang berbeda-beda saat akan berlibur. Mereka akan searching, booking, sampai payment via online. Dapat dibayangkan, kalau berubah tanggal, mereka akan sangat kerepotan.

Tiga event besar pariwisata Pemerintah Provinsi Riau di tahun ini diantaranya, Festival Bekudo Bono, Bakar Tongkang, dan Pacu Jalur bakal digelar sebagai magnet untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus mempromosikan Riau sebagai destinasi pariwisata ungulan yang berbasis budaya Melayu .

Sementara itu, Arsyadjuliandi Rachman, Gubernur Riau, menjelaskan, Riau fokus mengusung Bono agar benar-benar tampil atas kekuatannya yang dinilai sebagai gelombang sungai terbaik di dunia. Sejumlah peselancar mancanegara sudah membuktikannya.

“Pariwisata merupakan upaya kolektif yang membutuhkan sinergitas termasuk publik yang menjadi subjek di objek pariwisata. Kita berharap ketika Bono sudah kuat, maka ia akan menjadi pintu masuk dalam memperkenalkan objek lain, termasuk pariwisata berbasis budaya sampai kuliner,” kata Andi Rachman. ***