Dirjen Dukcapil : Kami Ganti Dokumen Kependudukan yang Hilang dan Rusak Akibat Banjir

JAYAKARTA NEWS— Salah satu dokumen penting yang harus dijaga keberadaannya bahkan senantiasa berada dekat dengan si empunya adalah dokumen kependudukan. Sebab, penerbitan dokumen kependudukan tak lain merupakan wujud pengakuan dan perlindungan negara terhadap status kependudukan setiap orang melalui pencatatan peristiwa penting dan peristiwa kependudukan. 

Saking pentingnya dokumen kependudukan ini, Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri selalu siap menerbitkan bahkan melayani penerbitan ulang atau mengganti apabila terjadi musibah sehingga banyak  dokumen kependudukan yang hilang dan rusak.

Terkait dengan musibah banjir di Jabodetabek, Direktur Jenderal Dukcapil Prof Zudan Arif Fakrulloh memerintahkan jajarannya di seluruh Indonesia, terutama para Kepala Dinas/Suku Dinas Dukcapil di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten agar bergerak aktif mendata dan mengganti dokumen yang hilang rusak tersebut dengan gratis.

“Berkenaan dengan musibah banjir ini, banyak  dokumen kependudukan yang hilang dan rusak. Sebagaimana langkah Dukcapil setiap ada bencana seperti gempa NTB, Tsunami di Banten dan Lampung, serta Sulteng, dan lainnya, kita langsung bergerak aktif mendata dan mengganti dokumen yang hilang rusak tersebut dengan gratis,” kata Prof. Zudan dari Jakarta, Jumat (3/1/2020). Demikian rilis dari Puspen Kemendagri.

Bagaimana dengan ketersediaan blanko KTP El?

“Jangan khawatir, untuk keperluan ini blanko lumayan tersedia cukup,” tegasnya.

“Kami dari Pusat akan memberikan pendampingan seperti biasanya. Tolong segera dilakukan mulai hari ini atau setelah banjir surut” demikian penegasan Zudan Arif Fakrulloh, Dirjen Dukcapil. Dukcapil***/ebn

BMKG: Indikasi Peningkatan Potensi Cuaca Ekstrem Dalam Sepekan ke Depan, Ini Daftar Daerahnya

JAYAKARTA NEWS— Potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia bahkan diindikasikan meningkat dalam sepekan ke depan. Karena itu BMKG mengingatkan masyarakat untuk waspada.

Menurut BMKG, kondisi tersebut dipicu oleh adanya fenomena atmosfer skala regional hingga lokal, yaitu: aktifnya Monsun Asia yang menyebabkan terjadinya peningkatan pasokan massa udara basah di wilayah Indonesia, terbentuknya pola konvergensi dan terjadinya perlambatan kecepatan angin di beberapa wilayah, suhu permukaan laut di sekitar wilayah perairan yang cukup hangat sehingga menambah pasokan uap air cukup tinggi untuk mendukung pembentukan awan hujan, serta diperkuat dengan adanya fenomena gelombang atmosfer (Equatorial Rossby Wave dan Kelvin Wave) yang signifikan di sekitar wilayah Indonesia.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan potensi cuaca ekstre, curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi di beberapa daerah berikut ini:


Periode 01 – 04 Januari 2020 :

Lampung
Banten
Jawa Barat
DKI Jakarta
Jawa Tengah
Jawa Timur
D.I. Yogyakarta
NTB
NTT
Kalimantan Timur
Kalimantan Tengah
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Papua

Periode 05 – 07 Januari 2020 :

Bengkulu
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur
D.I. Yogyakarta
NTB
NTT
Kalimantan Barat
Sulawesi Selatan
Maluku
Papua Barat
Papua

BMKG mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin.***/ebn

Waspadai Anak Gunung Krakatau Erupsi Lagi

JAYAKARTA NEWS—BNPB menerima laporan sejak Senin (30/12/2019) kemarin dan sampai hari ini (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa Anak Gunung Krakatau (AGK) mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 1.157 m di atas permukaan laut). Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level II (Waspada) dengan rekomendasi masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah. 

Diimbau bagi wisatawan yang akan berlibur ke pantai di sekitar Banten dan Lampung harap mematuhi anjuran PVMBG di atas. Wilayah sekitar pantai yang berjarak lebih dari 2 km dari AGK dinyatakan aman untuk dikunjungi. Namun tetap harus selalu waspada dan mengikuti informasi dari PVMBG, BMKG, BPBD dan BNPB.

Bupati Pandeglang dan Serang juga sudah menginformasikan hal tersebut kepada media agar diketahui oleh masyarakat luas “Warga harus selalu waspada dan hati-hati, ikuti informasi dari otoritas resmi”.  

Seluruh jajaran seperti BPBD, Camat, Kepala Desa / Lurah dan petugas lapangan diminta selalu siaga juga. Disiagakan Pos Lapangan Kabupaten Serang di Pantai Anyer, Pos Lapangan Kabupaten Pandeglang di Shelter Labuan, dan Pos Lapangan Kabupaten Lebak di Pantai Bagedur.

Daryono dari BMKG menyampaikan bahwa di Selat Sunda, kini BMKG sudah mengoperasikan 12 sensor seismik demi cepatnya info gempa dan warning tsunami, mengoperasikan 4 radar tsunami dan 7 water level untuk deteksi tsunami, selain itu ditambah 8 tide gauge oleh BIG, 2 waterlevel ISDL oleh KKP dan 1 Buoy oleh BPPT.

Untuk setingkat kawasan “lokal” Selat Sunda, sistem mitigasi yang dibangun ini adalah yang paling lengkap; tidak saja di Indonesia, tetapi bahkan dunia. Semua ini diupayakan demi keamanan dan keselamatan masyarakat di Banten dan Lampung, khususnya mereka yang tinggal dan memiliki usaha, serta pariwisarta di sepanjang tepian pesisir Selat Sunda. 

Jadi diimbau kepada masyarakat yang akan berlibur ke kawasan Pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang dan selalu siaga serta mengikuti informasi dari otoritas resmi. Ayo tingkatkan kapasitas diri dan pahami potensi bencana yang ada disekelilingmu, dengan aplikasi InaRISK yang dapat kamu unduh di Android atau IPhone. Kenali ancamannya, siapkan strateginya, dan temukan solusinya. Kita budayakan mengecek potensi bencana dimanapun kita berada, agar kita selalu siap untuk selamat dan menjadi budaya sadar bencana. ***/bnpb/jpp/ebn

Kepala BNPB: Masyarakat di Wilayah Potensi Gempa harus Waspada

JAYAKARTA NEWS—Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta masyarakat yang tinggal di wilayah yang memiliki potensi gempa untuk waspada dan menyiapkan mitigasi bencana yang diperlukan.

“Gempa bumi di Halmahera Selatan dengan magnitudo 7,2 bisa menjadi pelajaran. Dengan kekuatan gempa cukup besar tetapi korban jiwa relatif sedikit,” katanya dalam Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook Bencana 2020 yang diadakan di Ruang Serba Guna Sutopo Purwo Nugroho Graha BNPB, Jakarta, Senin (30/12/2019).

Ia mengatakan gempa tersebut hanya menyebabkan 14 orang korban jiwa karena masyarakat setempat segera melakukan evakuasi dan penyelamatan diri saat gempa terjadi. Hanya dalam hitungan lima detik setelah gempa, masyarakat sudah keluar dari rumah sehingga korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan sangat sedikit.

“Catatan Belanda terhadap kejadian gempa magnitudo 6,5 di Ambon pada 1899 yang menyebabkan 41 orang korban jiwa juga bisa menjadi pelajaran. Setelah gempa tersebut, tidak boleh ada lagi rumah dari batu karena pasti rusak akibat gempa. Yang ada adalah kearifan lokal berupa rumah bakancing (berkancing),” katanya.

Ia mengatakan gempa dan tsunami adalah bencana yang berulang. Karena itu, wilayah-wilayah yang memiliki potensi gempa tetapi belum melepaskan energinya dengan kejadian gempa harus diwaspadai.

Kejadian gempa di Sendai, Jepang juga bisa menjadi pelajaran.Wilayah tersebut pernah diguncang gempa pada 1933 sehingga pemerintah setempat kemudian membangun infrastruktur mitigasi gempa.

“Namun, seorang ahli Jepang menyatakan generasi muda Jepang banyak yang lupa dengan kejadian bencana. Akibatnya, saat Sendai dilanda gempa lagi pada 2011, di tempat yang sama, masyarakat yang menjadi korban cukup banyak,” katanya.

Meskipun menyebut gempa dan tsunami adalah bencana yang berulang, Doni Monardo mengatakanh hingga saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang bisa memperkirakan kapan akan terjadi gempa. “Karena itu, kita harus waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan serta mitigasi bencana,” katanya.

BNPB mengadakan Kaleidoskop Bencana 2019 dan Outlook Bencana 2020 dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai kementerian/lembaga. Selain Doni Monardo, narasumber lain dalam acara tersebut adalah Kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Dwikorita Karnawati, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kasbani, Staf Ahli Menteri Bidang Keterpaduan Pembangunan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Achmad Gani Ghazaly Akman, dan Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Imran Agus Nurali. ***/bnpb/jpp/ebn

Siaga Bencana Alam, Stok Bantuan Aman

JAYAKARTA NEWS— Stok bantuan untuk penanganan korban bencana alam menghadapi musim penghujan, aman. Hal tersebut ditegaskan Menteri Sosial Juliari  P Batubara, Senin (30/12/2019).

“Kesiapsiagaan terhadap bencana alam akan terus ditingkatkan. Kita pastikan bahwa stok bantuan bahan makanan, tenda dan lainnya dalam level yang aman,” tegasnya. Selain itu, tambah Juliari,  seluruh relawan sosial terutama Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga digerakkan untuk membantu masyarakat yang menjadi korban.

Kementerian Sosial menyiapkan sebanyak 306.139 kilogram beras reguler untuk pemenuhan kebutuhan bagi korban dalam upaya penanggulangan bencana menghadapi musim penghujan.

Selain itu juga disiapkan bufferstock (stok penyangga) yang ada di tiga gudang regional Kemensos yaitu di Palembang, Bekasi dan Makassar serta di gudang-gudang logistik provinsi dan kabupaten/kota.

Stok penyangga yang disiapkan yaitu permakanan berupa lauk pauk, mie instan, makanan anak dan makanan siap saji. Selain itu juga disiapkan peralatan evakuasi seperti tenda serbaguna keluarga, velbed, rompi pelampung, dapur umum lapangan, tenda gulung, kasur, matras, dan tenda psikososial.

Serta paket keluarga yang terdiri dari kids ware, family kit, peralatan makan, paket alat dapur, sandang dan selimut juga perlengkapan Tagana.

Sejak sebulan terakhir sejumlah daerah di Tanah Air mengalami berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor akibat curah hujan yang tinggi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada Bulan Januari dan Februari 2020.***jpp/ebn

70 Ton Sampah Sumbat Sungai CBL dan Benung Koja Jatiasih Bekasi

JAYAKARTA NEWS— Musim penghujan telah tiba, ancaman banjir pun mengintai. Masyarakat diminta waspada juga tidak membuang sampah sembarang khususnya ke selokan maupun sungai yang menjadi tempat aliran air. Karena jika peringatan ini tidak diindahkan masyarakat sendiri yang akan menanggung kerugiannya.

Ketika hujan deras, debit air tinggi, namun tumpukan sampah menyumbat aliran. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi.

Sebagaimana informasi yang dikutip dari laman bnpb.go.id, tampak sejumlah gambar puluhan ton sampah menyumbat aliran Sungai Muara Cikeas Bekasi Laut (CBL) dan Benung Koja, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (29/12).


Sumber foto bnpb.go.id

Menurut laporan BPBD Kota Bekasi, tumpukan ton sampah tersebut bisa mencapai total 60-70 ton atau sekitar 10 truk sampah.”Jumlahnya sekitar 60-70 ton. Bisa (diangkut) 10 truk sampah,” ujar Edy Kasie RR BPBD Kota Bekasi.

Adapun jenis sampah tersebut meliputi batang-batang kayu, bambu, sampah rumah tangga dan jenis sampah lainnya yang terbawa arus sungai karena intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu. Menurut Edy, permasalahan tumpukan sampah tersebut memang kerap terjadi pada puncak musim hujan tiba.

Tim gabungan dari unsur TNI, Polri, BPBD Kabupaten/Kota Bekasi, Dinas PUPR dan Dinas terkait lainnya bergerak cepat untuk melakukan pembersihan manual guna mengantisipasi terjadinya banjir sebagai dampak dari penyumbatan sampah tersebut.

Kegiatan pembersihan tersebut dipimpin oleh Dandim 0507 Kolonel Infanteri Rama Ramadhani yang dimulai pada pukul 08.12 WIB.

Kegiatan pembersihan dihentikan sementara mengingat terus bertambahnya sampah yang terbawa arus sungai dan tim membutuhkan bantuan alat berat guna membantu percepatan proses pengerukan sampah tersebut. Kegiatan akan dilanjutkan esok hari dengan bantuan eskavator milik Dinas PUPR Bekasi.***/ebn

Status Waspada, Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup

JAYAKARTA NEWS— Bagi yang berniat mendaki Gunung Merapi, sebaiknya mengurungkan niatnya. Lantaran status Gunung Merapi ‘Waspada’ sampai kini belum diturunkan. Status ‘Waspada’ itu sejak sepanjang Mei 2018 hingga Desember 2019 ini.

Sekalipun begitu masih saja banyak pendaki yang penasaran dan bertanya kapan pendakian Gunung Merapi diizinkan kembali.

Sebagaimana diketahui, Gunung Merapi selama ini merupakan salah satu destinasi pendakian yang tinggi peminatnya, terlebih di musim liburan akhir tahun maupun pergantian tahun baru.  Hingga saat ini ada 2 jalur pendakian, yaitu Selo, Boyolali dan Sapuangin, Klaten.  Namun dengan status Gunung Merapi yang Waspada (level 2), maka sepanjang Mei 2018 hingga Desember 2019 pendakian masih ditutup.

Ilustrasi– Pendaki asing berniat untuk mendaki Gunung Merapi–foto sumber kementerian LHK

Melalui akun sosial media, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) maupun pengumuman yang terpasang di sekitar lokasi titik awal pendakian, pihak BTNGM selalu mensosialisasikan bahwa penutupan pendakian ini dikarenakan status Gunung Merapi yang masih waspada, dan akan membahayakan jika tetap diizinkan adanya pendakian.

Kemudian untuk menjaga adanya pendaki yang nekat melakukan pendakian Gunung Merapi, dilakukan penjagaan extra di titik awal pendakian, yaitu Basecamp Pendakian Selo dan Basecamp Pendakian Sapuangin.  Penjagaan ini dilakukan oleh petugas BTNGM bekerjasama dengan pihak Basecamp selama libur akhir tahun mulai tanggal 24 hingga 31 Desember 2019.  Untuk penjagaan pada malam pergantian tahun baru, pihak BTNGM juga telah berkoordinasi dengan danramil dan kapolsek serta aparat desa setempat.

Sebagai informasi, bahwa letusan freatik Gunung Merapi terjadi pada tanggal 11 Mei 2018 silam, dan kemudian pada tanggal 21 Mei 2018, Balai Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menaikkan status dari normal (level 1) menjadi waspada (level 2), juga melarang adanya aktifitas di dalam radius 3 kilometer.  

Pendakian Gunung Merapi pun dinyatakan ditutup, karena lokasi pasar bubrah sebagai akhir pendakian, berada sekitar 1 kilometer dari puncak Gunung Merapi.  Hal ini diperkuat dengan Surat Edaran Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) Nomor SE.04/BTNGM/TU/Ren/05/2018  tanggal 22 Mei 2018 tentang Penutupan Obyek Wisata di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.   Selama kurun waktu hingga Desember 2019, Gunung Merapi masih aktif, hal ini secara berkala dilaporkan oleh BPPTKG setiap 6 jam sekali, melalui akun sosial media BPPTKG.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pendaki yang nekat melakukan pendakian Gunung Merapi, karena petugas telah mengingatkan bahaya pendakian ketika Gunung Merapi berstatus waspada (level 2).   Pihak BTNGM menghaturkan banyak terima kasih kepada para pendaki yang masih menaati larangan pendakian ini.   Mari sama-sama kita berdoa agar Gunung Merapi lekas normal.***klhk/ebn

Tiru NTB, Pembangunan Rumah Korban Gempa Maluku Agar Segera Dilakukan

Presiden Joko Widodo menjawab wartawan seusai mengunjungi korban terdampak gempa Maluku di Universitas Darussalam Maluku Tengah, Selasa (29/10/2019) — foto setkab

JAYAKARTA NEWS— Pembangunan rumah tahan gempa untuk korban terdampak gempa di Nusa Tenggara Barat hampir selesai. Cepatnya pengerjaan pembangunan rumah-rumah anti gempa itu selain karena dukungan dari pemerintah pusat juga karena pemerintah daerah yang didukung intansi-instansi terkait melakukan gerak cepat pemulihan pemukiman masyarakat.

Presiden Joko Widodo berharap hal yang sama juga dilaksanakan di Ambon, Maluku. Pembangunan kembali rumah warga terdampak gempa agar bisa segera dikerjakan oleh masyarakat karena sistemnya memang nanti swakelola, sebagaimana dilakukan pemeritah di Nusa Tenggara Barat (NTB).

”Yang jelas konstruksinya akan diarahkan oleh Kementerian PU konstruksi yang tahan gempa, ya,” ujarnya.

Menurut Jokowi,, dirinya  sudah mendapatkan laporan komplet dari Gubernur Maluku, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai jumlah rumah dan fasilitas umum yang rusak yang akibat gempa di provinsi Maluku.

“Kurang lebih 12.300an rumah yang rusak dan rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan, ini yang telah teridentifikasi,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan usai berdialog dengan pengungsi warga terdampak gempa di Provinsi Maluku, Universitas Darussalam, Maluku Tengah, Selasa (29/10) pagi.

Mengenai transfer dana bantuan bagi warga terdampak gempa, Presiden Jokowi meyakinkan akan segera dilakukan. Namun seperti yang dilakukan pemerintah di NTB, Presiden Jokowi mengingatkan tahapan-tahapannya. “Memang tidak mudah dalam pengerjaan di lapangan tetapi model seperti di Nusa Tenggara Barat saya kira bisa kita pakai di sini,” pungkasnya. ***setkab/ebn

Gempa Megathrust tidak Bisa Diprediksi

Ilustrasi–istimewa

JAYAKARTA NEWS— Gempa besar berkekuatan Magnitute 9,0 Skala Richter (SR) atau yang disebut dengan Megathrust hingga saat ini belum dapat diprediksi oleh siapapun: kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.

Pernyataan ini kembali ditegaskan olehBadan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) seraya mengimbau agar masyarakat tetap tenang menanggapi berkembangnya berita yang viral di media sosial bahwa akan terjadi gempa besar berkekuatan Magnitute 9,0 pasca terjadinya gempa Banten Magnitue 6,9 SR.

“Masyarakat diimbau agar tetap tenang namun waspada dan tidak percaya kepada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya,” Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, dalam siaran persnya kemarin.

Menurut Triyono, gempa bumi terjadi akibat deformasi batuan yang terjadi secara tiba-tiba pada sumber gempa yang sebelumnya mengalami akumulasi medan tegangan (stress) di zona tersebut, pengaruh penjalaran stress untuk proses selanjutnya secara kuantitatif masih sulit untuk diketahui.

“Teori yang berkembang saat ini baru dapat menjelaskan bahwa sebuah gempa bumi utama dapat membangkitkan atau memicu aftershocks dan masih sulit untuk memperkirakan gempa besar rentetannya seperti beberapa kasus gempa bumi doublet, triplet (dua atau tiga kejadian gempa bumi tektonik dalam waktu dan lokasi yang relatif berdekatan), dan seterusnya,” terang Triyono.

Yang lebih penting dan urgent, lanjut Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG itu, adalah melakukan langkah-langkah mitigasi terkait kesiapan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi.

“Siapkan bangunan rumah Anda sesuai dengan konstruksi aman gempa, siapkan perabotan-perabotan yang kuat dan dapat menjadi tempat perlindungan sementara saat terjadi gempa, siapkan jalur evakuasi yang aman di lingkungan tempat tinggal anda, selanjutnya agar terus berlatih untuk evakuasi mandiri, dan terus monitor “Info BMKG” baik melalui sosial media, mobile apps, website, ataupun kanal-kanal resmi BMKG,” pungkas Triyono.***/bmkg/ebn

BNPB Ingatkan Masyarakat Waspadai Adanya Letusan Tiba-tiba tanpa Didahului Gejala Vulkanik

Foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penangulangan Bencana meminta masyarakat sekitar Gunung Tangkuban Perahu, pedagang, wisatawan, pendaki maupun pengelola wisata di sekitar Gunung Tangkuban Perahu meningkatkan kewaspadaannya terkait terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba tanpa didahului gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Selain itu, masyarakat juga dilarang menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks gunung Tangkuban Perahu. Dikarenakan terdapat gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Saat ini, demikian dilansir dari twitter BNPB,  Gunung Tangkuban Parahu berada pada Status Level I (Normal) dengan rekomendasi Masyarakat di sekitar G. Tangkuban Parahu dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas.

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur laut dan selatan. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 38 mm dan durasi ± 5 menit 30 detik.

Sebagaimana diketahui, telah terjadi erupsi G. Tangkuban Parahu, Jawa Barat pada tanggal 26 Juli 2019 pukul 15:48 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 200 m di atas puncak (± 2.284 m di atas permukaan laut). ***/ebn