BMKG Monitor Tiga Bibit Badai Tropis di Dekat Wilayah Indonesia

Ilustrasi–gambar BMKG

Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melanjutkan imbauan yang telah dikeluarkan sebelumnya, 16 Januari 2019 lalu, agar masyarakat tetap waspada dan siaga dalam menghadapi periode puncak musim hujan 2019.

“Khususnya akan dampak dari curah hujan tinggi yang akan memicu Bencana Hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan angin kencang yang meningkat pada akhir Januari 2019,” kata Deputi Bidang Metereologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, di Jakarta.

Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer Selasa (22/1), menurut Mulyoo, terpantau masih terdapat aliran massa udara basah dari Samudra Hindia yang masuk ke wilayah Jawa, Kalimantan, Bali, NTB hingga NTT. Bersamaan dengan itu, masih kuatnya Monsun Dingin Asia beserta hangatnya Suhu Muka Laut di wilayah perairan Indonesia menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi.

Dari pantauan pergerakan angin, BMKG mendeteksi adanya daerah pertemuan angin yang konsisten dalam beberapa hari terakhir memanjang dari wilayah Sumatra bagian Selatan, Laut Jawa, Jawa Timur, Bali, hingga NTB dan NTT.

Secara khusus, BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) di Jakarta tengah memonitor adanya tiga bibit badai tropis di dekat wilayah Indonesia. “Salah satu bibit siklon yang saat ini berada di Laut Timor (94S) berpotensi meningkat menjadi siklon tropis dalam 3 hari ke depan dan mengakibatkan potensi cuaca ekstrem berupa angin kencang yang dapat mencapai di atas 25 knot terjadi di wilayah Indonesia seperti Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung,  Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan,” papar Mulyono.

ilustrasi-gambar istimewa

Mulyono menyampaikan secara rinci wilayah-wilayah yang berpotensi hujan lebat untuk periode 23 – 26 Januari 2019, antara lain: 1. Aceh; 2. Lampung; 3. Banten; 4. DKI Jakarta; 5. Jawa Barat; 6. Jawa Tengah; 7. DI Yogyakarta; 8. Jawa Timur; 9. Bali; 10. NTB; 11. NTT; 12. Kalimantan Utara; 13. Sulawesi Selatan; 14. Sulawesi Tenggara; 15. Papua Barat; dan 16, Papua.

Sedangkan Wilayah-wilayah yang berpotensi hujan lebat untuk periode 27 – 30 Januari  2019, antara lain: 1. Sumatra Selatan; 2. Bangka Belitung; 3. Bengkulu; 4. Lampung; 5. Banten; 6. DKI Jakarta; 7. Jawa Barat; 8. Jawa Tengah; 9. DI Yogyakarta; 10. Jawa Timur; 11. Bali; 12. NTB; 13. NTT; 14. Kalimantan Timur; 15. Kalimantan Utara; 16. Sulawesi Selatan; 17. Sulawesi Tenggara; 18. Maluku; 19. Papua Barat; dan 20. Papua.

Gelombang Tinggi

Tidak hanya hujan lebat, menurut Deputi Metereologi BMKG ini, masyarakat nelayan dan pesisir juga perlu mewaspadai potensi gelombang tinggi 2.5 hingga 4.0 meter yang diperkirakan terjadi di Perairan Barat P. Simeulue Hingga Kep. Mentawai, Perairan P. Enggano Hingga Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten Hingga Jawa Tengah, Samudra Hindia Barat Sumatra hingga Jawa Tengah, Perairan Utara Kep. Anambas dan Laut Natuna, Laut Jawa bagian Tengah, Laut Bali, Perairan Selatan Baubau – Kep. Wakatobi, Laut Banda bagian Selatan, Perairan Kep. Sermata – Kep. Babar, Laut Arafuru bagian Barat.

Sedangkan potensi gelombang tinggi 4.0 hingga 6.0 meter diperkirakan terjadi di Laut Cina Selatan dan Laut Natuna Utara, Perairan Utara Kep. Natuna, Laut Jawa Bagian Timur Hingga Laut Sumbawa, Selat Makassar Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa Timur Hingga P. Rote, Selat Bali – Selat, Lombok – Selat Alas Bagian Selatan, Samudra Hindia Selatan Jawa Timur Hingga NTT, Perairan Utara Flores, Perairan Kep. Sabalana – Kep. Selayar, Laut Flores, Laut Sawu dan Laut Timor Selatan NTT.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari curah hujan tinggi dan angin kencang yang akan terjadi pada akhir Januari 2019 ini,” kata Mulyono seraya menambahkan, dampak dimaksud meliputi potensi banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin. (gun)

 

Takdir Mengikat Doni Monardo dengan Alam

Doni Monardo saat menjabat Danjen Kopassus. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Letnan Jenderal TNI Doni Monardo adalah salah satu perwira tinggi TNI-AD yang moncer. Sungguh tak terbantahkan. Di saat karier militernya belum lagi di titik akhir, ia mendapat kepercayaan tugas menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sebuah badan penting yang setara kementerian.

Sayang, manakala masyarakat hendak menelisik rekam-jejak seorang Doni Monardo, sungguh tidak mudah. Kecuali data kering Wikipedia, yang ada hanya pemberitaan seputar pelantikan Doni Monardo sebagai Kepala BNPB.

Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (foto: ist)

Alhasil, tulisan berupa kesaksian sahabat menjadi tambahan catatan tentang sosok jenderal kelahiran Cimahi, 55 tahun yang lalu itu. Ini adalah salah satunya. Kesaksian dari Egy Massadiah, seorang jurnalis, tokoh muda, pegiat teater, kader Golkar, dan berbagai aktivitas lain. Kebetulan, pria kelahiran Sengkang, Sulawesi Selatan ini, memiliki riwayat panjang menjalin persahabatan dengan Doni.

Egy berjumpa Doni tahun 1997 saat Doni masih berpangkat Mayor, dan menjabat Komandan Batalyon Grup I/Kopassus, Serang – Banten. Bagi Egy, Doni yang lulusan Akabri 1985 tersebut adalah perajurit komando berbaret merah dengan pengalaman yang komplet.

“Yang menarik, dari kacamata saya sebagai jurnalis, sosok Doni Monardo itu sangat colorful. Sangat banyak angle yang bisa ditulis dari ayah tiga orang anak itu,” ujar Egy Massadiah.

Di mana pun Doni ditugaskan, selalu ada hal lain yang ditonjolkan. Terutama saat memegang jabatan territorial. Seperti saat menjabat Pangdam XVI/Pattimura, ia melahirkan istilah “emas hijau” dan “emas biru”. Sebagai penguasa militer wilayah Maluku dan Maluku Utara, dia benar-benar mendalami potensi kekayaan alam Maluku.

Emas hijau itu bukanlah logam mulia berwarna hijau, melainkan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi. Sedangkan emas biru bukan pula permata, melainkan hasil budidaya perikanan. Kedua hal itu benar-benar dijadikan program Kodam Pattimura, dalam peran sertanya melakukan bina territorial.

Di Ambon pula, Doni melestarikan tumbuhan langka seperti ada masoya, lingua, palaka, pahara, gaharu, dan ebony. Selain itu, Doni juga mengembangkan dan membudidayakan tanaman buah khas, seperti buah sukun, durian, pala, cengkih, kenari, dan lain-lain.

Dari Ambon, Doni ditugaskan sebagai Pangdam III/Siliwaangi yang berkedudukan di Bandung. Bisa dibilang, Doni pulang kampung. Salah satu perhatiannya adalah Sungai Ciliwung. Ia begitu geram melihat Ciliwung kotor dan cemar. Sekaligus, ia begitu getol untuk turun tangan mengatasi problematika Ciliwung.

“Jika dirunut, tampak satu benang merah yang saya sebut konsistensi. Beliau pada saat menjabat Danjen Kopassus pun pernah turun ke Sungai Ciliwung. Bahkan, ketika sudah menjabat Wantanas pun, pak Doni masih urun rembug mengenai persoalan Ciliwung,” ujar Egy seraya menambahkan, “beliau salah satu jenderal yang paling peduli terhadap lingkungan hidup.”

Karenanya, menurut Egy, bukan suatu kebetulan jika garis takdirnya mendudukkan Doni Monardo menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana. “Ingat, beliau pernah betugas sebagai Danyon di Singaraja Bali. Beliau paham benar konsep tentang keseimbangan alam. Di Bali dikenal dengan tri hita karana. Keselarasan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam semesta. Bukankah bencana selalu terkait dengan ketiga hal itu?,” papar Egy.

Egy pun berkeyakinan, Doni Monardo adalah sosok yang tepat mengepalai BNPB. “Saya ucapkan selamat. Salam komando!” tegas Egy. (rr)

Egy Massadiah dan “Mayor” Doni Monardo. (foto: dok pri)

 

Egy Massadiah (dua dari kiri), dan Mayor Doni Monardo (paling kanan). (foto: dok pri)

Ma’ruf Amin Berangkatkan Relawan Medis Bantu Korban Tsunami Banten

KH. Ma’ruf Amin Berangkatkan Relawan Medis Bantu Korban Tsunami Banten–foto istimewa

Calon Wakil Presiden (Cawapres) Nomor Urut 01, KH. Ma’ruf Amin memberangkatkan tim medis dan SAR dari Relawan Jokowi (Rejo) untuk membantu korban bencana tsunami Banten.

Para relawan itu berasal dari berbagai daerah, seperti Aceh, Sumbar, Banten, Jakarta, Jabar, Jateng dan dari Papua. Tidak lupa mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu memberi piagam penghargaan kepada mereka sebagai apresiasi yang tinggi atas pengabdian kemanusiaan mereka kepada masyarakat.

“Dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim, saya lepas keberangkatan tim medis Rejo menuju Pandeglang, Banten,” kata KH. Ma’ruf Amin di depan kediamannya di Jalan Situbondo, Jakarta Pusat, Jumat (4/1).

Setelah dari Banten, para relawan ini kemudian akan diberangkatkan ke Sukabumi yang tengah mengalami musibah longsor.

“Untuk membantu korban tsunami, kemudian nanti akan dilanjutkan ke Sukabumi, dan terus melakukan gerakan-gerakan untuk mensosialisasikan Capres menuju kemenangan Pilpres 2019,” kata Kiai Ma’ruf menambahkan.

Ketua Umum Relawan Jokowi (Rejo), Muhammad Darmizal mengamini apa yang dikatakan Kiai Ma’ruf mengenai tujuan kehadiran Rejo ke Banten. Darmizal bersama timnya akan memprioritaskan daerah yang sangat membutuhkan bantuan medis.

“Pertama tujuannya melakukan pengobatan massal secara gratis, bertempat di pasca bencana di Pandeglang, terutama di wilayah yang masih sangat perlu sentuhan dari dokter yang dapat memberikan pelayanan recovery kesehatan bagi masyarakat,” ujarnya.***/ebn

 

Update Longsor Sukabumi: Longsor Susulan dan Medan yang Berat Sulitkan Evakuasi Para Korban

Evakuasi korban longsor Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi–gambar sutopo twitter/BNPB

Pencarian korban yang hilang serta evakuasi masih terus dilakukan oleh Tim SAR gabungan penanganan longsor di Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Data yang dihimpun hingga 2 Januari 2019 adalah  32 KK/101 jiwa tertimbun longsor, 15 orang meninggal dunia, 3 orang luka-luka, 30 rumah rusak berat , 63 orang selamat, dan 20 orang masih dicari.

Sebagaimana diketahui longsor terjadi menjelang pergantian tahun yakni pada sore 31 Desember 2018. Cuaca yang terus menerus hujan serta medan yang berlumpur, cukup menyulitkan Tim SAR gabungan dalam melakukan evakuasi juga pencarian orang yang hilang.

Berdasarkan paparan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, daerah  longsor di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi cukup luas, tanah tebal dan berlumpur. “Longsoran susulan sering terjadi. Akses cukup sulit dijangkau dan cuaca sering hujan menyebabkan evakuasi korban cukup sulit dilakukan,” ujar Sutopo.***/ebn

Alhamdulillah! Aktivitas Anak Krakatau Turun, Potensi Tsunami Kecil

Ilustrasi—Anak Gunung Krakatau –foto BNPB

Aktivitas letusan Anak Gunung Krakatau menurun, risiko letusan besar hampir tidak ada. Namun begitu status Gunung Anak Krakatau belum diturunkan, masih tetap Siaga (Level III) dengan rekomendasi untuk tidak memasuki area dalam radius 5 kim.

Berdasarkan hasil evaluasi seismik dan data visual yang dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM terhadap Anak Gunung Krakatau, hingga tanggal 30 Desember 2018 teramati terjadinya letusan Surtseyan dengan frekuensi sangat minim (2 jam sekali), dan catatan kegempaan yang menunjukkan penurunan, sehingga potensi untuk timbulnya tsunami dari aktivitas Gunung Anak Krakatau sangat kecil.

“Aktivitas letusan menurun sehingga resiko juga menurun, resiko letusan besar hampir tidak ada. Status Gunung Anak Krakatau masih Siaga (Level III) dengan rekomendasi untuk tidak memasuki area dalam radius 5 km dari Kawah. Masuk mendekat ke Komplek Krakatau tidak direkomendasikan,” ungkap Sekretaris Badan Geologi, Antonius Rardomopurbo (Purbo) dalam keterangan persnya di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (31/12). Demikian dikutip dari rilis Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi.

Purbo mengungkapkan, meskipun ancaman tsunami dari proses longsor sangat kecil, direkomendasikan kepada BMKG dan BNPB untuk memasang instalasi peringatan dini mitigasi bencana di Pulau Rakata. “Pilihan Pulau Rakata ini didasarkan pertimbangan dari sebaran struktur geologi yang ada di Selat Sunda,” ujarnya.

Menurut Purbo, aktivitas erupsi dengan laju besar pada tanggal 26-27 Desember 2018 telah menyebabkan puncak Gunung Anak Krakatau yang terbangun sejak 1950 telah hilang, sebagian ikut terletuskan dan sebagian dilongsorkan. Puncak aktivitas letusan sudah terjadi mulai tgl 26 Des dan selesai tgl 27 Desember pukul 23.00.

Saat ini bagian Gunung Anak Krakatau yang tersisa mempunyai ketinggian 110 m dpi (semula 338 m dpi). Karena kawah berada di bawah permukaan air laut, saat ini letusan bertipe Surtseyan. Posisi kawah yang berada di permukaan atau sedikit dibawah permukaan air laut menjadikan tipe letusan berubah dari Strombolian ke Surtseyan. Letusan jenis ini tidak akan menimbulkan tsunami karena terjadi dipermukaan air dan material cenderung terlempar ke udara secara total.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau dipantai dengan beberapa pemasangan stasiun seismik di lereng Gunung Anak Krakatau (KRA) dan juga di lokasi di Pulau Sertung (SRT), baratdaya G.Anak Krakatau. Stasiun seismik yang dipasang di tubuh G.Anak Krakatau akan terdampak langsung letusan apabila terjadi erupsi. Namun demikian, stasiun seismik di Anak Krakatau penting untuk mendeteksi perubahan fase tenang dan fase erupsi, karena di awal akan tercatat gempa-gempa vulkanik yang berukuran kecil yang sulit tercatat di stasiun seismik yang lebih jauh. Namun demikian, pada saat aktivitas pada level tinggi, stasiun di Pulau Sertung akan mengambil alih karena pada saat aktivitas tinggi, amplitudo kegempaan cukup besar sehingga tercatat di Pulau Sertung dengan jeias.

Puncak Gunung Anak Krakatau hilang (diletuskan dan runtuh) yaitu seluruh kerucut yang berada di atas dan terjadi sesudah ‘somma’ Anak Krakatau. Dari posisi ‘somma ‘ yang berada di pelataran yang relatif stabil, dan tidak pernahlongsor sejak lahir Anak Krakatau, potensi terjadi longsor-besar sangatlah kecil atau hampir tidak ada. Tidak ada potensi tsunami dari proses longsoran. Namun demikian perlu diingat bahwa struktur geologi di Selat Sunda merupakan strukturaktif dengan sebagian berupa sesar sesar normal. Sehingga reaktivitasi sesar-sesar ini tetap harus diwaspadai.***/ebn

 

 

 

Update Longsor di Sukabumi: 107 Jiwa Tertimbun, 9 Meninggal Dunia

sumber foto twitter sutopo/BNPB

Jumlah korban akibat longsor yang menimbun puluhan rumah di Kampung Cimapag Desa Sirnaresmi Kec Cisolok Kab Sukabumi, terus bertambah. Sekitar 9 orang meninggal dunia dan 34 orang masih dalam pencarian.

“Data per 1/1/2019 pukul 11.45 WIB: 32 KK / 107 Jiwa tertimbun: 60 orang selamat, 4 orang luka-luka, 9 Orang meninggal dunia  dan 34 orang dalam pencarian,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, (1/1/2019).***/ebn

Update Longsor di Sukabumi: 4 Orang Meninggal Dunia

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

Di saat sebagian besar penduduk bersuka cita menyambut tahun baru 2019, bencana longsor justru terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Longsor yang menimbun puluhan rumah di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi setidaknya menyebabkan empat orang meninggal dunia.

Data dari BNPB menyebutkan, hujan deras yang mengguyur sekitar Desa Sirnaresmi menyebabkan aliran permukaan di areal hutan dan persawahan. Jenuhnya air menyebankan longsor perbukitan dan materialnya meluncur menuruni lereng kemudian menimbun sekitar 34 rumah kampung adat bagian bawahnya yaitu di Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi pada 31/12/2018 pukul 17.00 WIB.

“Data sementara diperkirakan 8 orang tertimbun longsor, dimana 4 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia. 4 korban lainnya dalam upaya evakuasi namun terkendala cuaca hujan dan gelap karena malam. Selain itu listrik padam dan komunikasi seluler juga sulit. Upaya evakuasi akan dilanjutkan besok pagi,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.

BPBD Kabupaten bersama TNI, Polri, Basarnas, aparat setempat, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban. Pendataan masih dilakukan. Pendataan untuk memastikan jumlah korban dan rumah tertimbun longsor.
Akses jalan menuju lokasi longsor jalanan yang terjal, berbatu dan ditambah cuaca hujan rintik menyulitkan tim untuk melakukan evakuasi. Posko BNPB terus memantau penanganan bencana dan berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sukabumi dan BPBD Provinsi Jawa Barat.***/ebn

Kabar Duka! Puluhan Rumah Kampung Adat di Sukabumi Tertimbun Longsor

Puluhan rumah di Kampung Adat, Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi tertimbun longsor, 31 Desember 2018–info/gambar sutopo twitter BNBP

Bencana sepertinya terus-menerus mendera Indonesia. Di penghujung tahun 2018, bencana alam kembali terjadi. Tepatnya di Kampung Adat, Kampung Cimapag, Desa Sinaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, sebanyak 34 rumah tertimbun longsor perbukitan yang meluncur mengikuti lereng pada 31 Desember 2018.

“Saat ini tim SAR Gabungan masih menuju lokasi bencana. Evakuasi terkendala cuaca hujan, gelap dan komunikasi,” ungkap Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Senin (31/12). Menurut Sutopo, longsoran itu menerjang Kampung Cimapag pada sore hari di saat cuaca hujan. BPBD dan aparat, tuturnya, langsung menuju lokasi longsor untuk emlakukan evakuasi korban dan penanganan darurat.

Sementara itu, Sutopo juga menyampaikan informasi terkait bencana tsunami di Selat Sunda. Saat ini, hingga H+9 (31/12) tercatat 437 orang meninggal dunia – 14.059 orang luka-luka – 16 orang hilang – 33.719 orang mengungsi – 2.752 rumah rusak – 510 kapal dan perahu rusak – Dll.***/ebn

Tinggi Gunung Anak Krakatau Tinggal 110 Meter

Gunung Anak Krakatau

Pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan, secara visual, 28 Desember 2018, pukul 00.00-12.00 WIB, teramati letusan dengan tinggi asap maksimum 200-3000 meter di atas puncak kawah Gunung Anak Krakatau.  Letusan  dengan abu vulkanik bergerak ke arah timur-timurlaut, sedangkan cuaca teramati berawan-hujan dengan arah angin dominan ke timur-timur laut.

Selanjutnya, pukul 14.18 WIB, cuaca cerah dan terlihat asap letusan tidak berlanjut. Terlihat tipe letusan surtseyan, terjadi karena magma yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau bersentuhan dengan air laut. Pada saat tidak ada letusan, teramati puncak Gunung Anak Krakatau tidak terlihat lagi. Berdasarkan hasil analisis visual, terkonfirmasi  Gunung Anak Krakatau yang tingginya semula 338 meter, sekarang tingginya tinggal 110 meter.
Sebelumnya, PVMBG mencatat terjadi perubahan pola letusan pada jam 23.00, tertanggal 27 Desember 2018 yaitu terjadinya letusan-letusan dengan onset yang tajam. Letusan Surtseyan terjadi di sekitar permukaan air laut.  Dari Pos PGA Pasauran, posisi puncak Gunung Anak Krakatau saat ini lebih rendah di banding Pulau Sertung yang menjadi latar belakangnya. Sebagai catatan, Pulau Sertung tingginya 182 meter sedangkan Pulau Panjang 132 meter.
Volume Anak Krakatau yang hilang diperkirakan sekitar antara 150-180 juta m3, sementara volume yang tersisa saat ini diperkirakan antara 40-70 juta m3. Berkurangnya volume tubuh gunung Anak Krakatau ini diperkirakan karena adanya proses rayapan tubuh gunungapi yang disertai oleh laju erupsi yang tinggi dari 24-27 Desember 2018.
Proses pengamatan visual terus dilakukan untuk mendapatkan hasil perhitungan yang lebih presisi. Saat ini letusan bersifat impulsif, sesaat sesudah meletus tidak tampak lagi asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau. Terdapat dua tipe letusan, yaitu letusan Strombolian dan Surtseyan.
Potensi bahaya dari aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau dengan kondisi saat ini yang paling memungkinkan adalah terjadinya letusan-letusan Surtseyan. Letusan jenis ini karena terjadi di permukaan air laut, meskipun bisa banyak menghasilkan abu, tapi tidak akan menjadi pemicu tsunami. Potensi bahaya lontaran material lava pijar masih ada.
Dengan jumlah volume yang tersisa tidak terlalu besar, maka potensi terjadinya tsunami relatif kecil, kecuali ada reaktivasi struktur patahan/sesar yang ada di Selat Sunda. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data visual maupun instrumental hingga tanggal 28 Desember 2018, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih tetap Level III (Siaga).
Sehubungan dengan status Level III (Siaga) tersebut, direkomendasikan kepada masyarakat untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 km dari kawah, menyiapkan masker untuk mengantisipasi jika terjadi hujan abu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang serta jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
Gunungapi Anak Krakatau, terletak di Selat Sunda adalah gunungapi strato tipe A dan merupakan gunungapi muda yang muncul dalam kaldera, pasca erupsi paroksimal tahun 1883 dari Kompleks Vulkanik Krakatau.
Aktivitas erupsi pasca pembentukan dimulai sejak tahun 1927, pada saat tubuh gunungapi masih di bawah permukaan laut. Tubuh Anak Krakatau muncul ke permukaan laut sejak tahun 1929. Sejak saat itu hingga kini Gunung Anak Krakatau berada dalam fasa konstruksi (membangun tubuhnya hingga besar).
Pada tahun 2016 letusan terjadi tanggal 20 Juni 2016, sedangkan pada tahun 2017 letusan terjadi tanggal 19 Februari 2017 berupa letusan strombolian. Tahun 2018, kembali meletus sejak tanggal 29 Juni 2018 sampai saat ini berupa letusan strombolian. (gun)

Waspadalah! Gunung Anak Krakatau Masih Erupsi

Gunung Anak Krakatau terpantau (26/12) masih erupsi–gambar copy dari sutopo twitter

Kondisi Gunung Anak Krakatau yang divideokan dari KRI Teluk Cirebon 543 pads 26/12/2018, 16.33 WIB. Erupsi masih berlangsung. Tipe erupsi Gunung Anak Krakatau strombolian yang mengeluarkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar terus menerus. Status Waspada (level 2).

“Kondisi Gunung Anak Krakatau yang divideokan dari KRI Teluk Cirebon 543 pads 26/12/2018, 16.33 WIB. Erupsi masih berlangsung. Tipe erupsi Gunung Anak Krakatau strombolian yang mengeluarkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar terus menerus. Status Waspada (level 2),” kata Sutopo.

Kondisi Anak Gunung Krakatau  sampai kini (26/12) masih erupsi. Tipe erupsi Gunung Anak Krakatau, sebagaimana disampaikan Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNBP, strombolian yang mengeluarkan abu vulkanik dan lontaran batu pijar terus menerus. Status Waspada (level 2).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengimbau masyarakat untuk menghindari lokasi pesisir pantai di Selat Sunda dalam radius 500 m sampai 1 km.

“Kami meminta masyarakat yang tinggal dan berada di lokasi kejadian bencana tsunami, agar tetap waspada dan mengantisipasi dengan menghindari lokasi pesisir / pantai dalam radius 500 m sd 1 km. Masyarakat pun dihimbau untuk tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang menyesatkan, tutur Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat kegiatan konferensi pers bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang diwakili oleh Ridwan Djamaluddin selaku Deputi Bidang Infrastruktur, kemarin (25/12).

Dwikorita menjelaskan bahwa saat ini BMKG bersama Badan Geologi terus melakukan pemantauan kondisi aktifitas tremor Anak Gunung Krakatau.

“BMKG pun terus memantau kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi, karena seluruh kondisi tersebut dapat mengakibatkan longsor tebing kawah ke laut dan berpotensi memicu tsunami seperti hipotesa yang telah disampaikan pada tanggal 22 Desember 2018 yang lalu”. lanjutnya

Silahkan, lanjutnya untuk terus memantau perkembangan informasi dari BMKG melalui situs www.bmkg.go.id , media sosial ataupun aplikasi mobile “InfoBMKG” serta aplikasi mobile Magma Indonesia dari Badan Geologi.

Dwikorita menjelaskan saat ini BMKG telah mengembangkan aplikasi sistem pemantauan yang memfokuskan pada aktivitas kegempaan vulkanik G.Anak Krakatau, sehingga diharapkan agar dapat memberikan peringatan dini yang lebih cepat.

Sementara kondisi cuaca di sekitar Anak Gunung Krakatau diprakirakan hujan ringan hingga sedang pada malam hingga dini hari nanti. Angin permukaan umumnya bertiup dari arah barat daya hingga barat dengan kecepatan antara 5-35 km/jam.***/ebn