Gelombang Panas Ancam Piala Dunia: Suhu 43°C di Stadion, Trotoar Bisa 50°C, Ini Kota Terdampak

JAYAKARTA NEWS— Gelombang panas ekstrem diprediksi bakal menghantam sejumlah kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat dan Kanada. Suhu udara diperkirakan menembus 43°C di stadion, sementara trotoar di sekitar arena bisa mencapai 50°C.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius soal keselamatan penonton dan pemain, terutama di laga-laga babak gugur yang berlangsung pekan ini.

Otoritas kesehatan di Toronto, Kansas City, Miami, hingga Philadelphia sudah mengeluarkan peringatan panas ekstrem. Penyelenggara pun terpaksa menyesuaikan operasional Festival Penggemar, sementara para ahli meteorologi mengingatkan risiko perjalanan menuju stadion yang bisa lebih berbahaya dibandingkan pertandingan itu sendiri.

                                                             ***

Di tengah gemerlap Piala Dunia ada hal yang ‘mengkhawatirkan’ yakni cuaca ekstrem di bulan Juli yang diprediksi akan melanda sejumlah kota tempat event akbar itu. Amerika Utara dan Kanada, setidaknya dua negara itu yang disebut bakal ‘diserang’ gelombang panas.

Suhu diperkirakan akan melebihi 43 derajat Celcius (110 derajat Fahrenheit) di beberapa kota tuan rumah. Para peramal cuaca memperingatkan tentang potensi masalah keselamatan akibat panas untuk beberapa pertandingan babak gugur minggu ini.

Kekhawatiran tentang panas ekstrem di bulan Juli dan Piala Dunia telah beberapa bulan terakhir menjadi sorotan. Sepertinya, kekhawatiran itu akan menjadi kenyataan lantaran turnamen tersebut bertepatan dengan salah satu minggu terpanas dalam setahun.

Foto: Instagram fifaworldcup

Pertandingan Piala Dunia mana yang akan terpengaruh?

Dikutip dari Al Jazeera, otoritas kesehatan Toronto mendesak para penggemar yang menuju Stadion Toronto untuk pertandingan babak 32 besar Portugal melawan Kroasia pada hari Kamis untuk tetap terhidrasi dan membatasi asupan alkohol mereka setelah Environment Canada mengeluarkan peringatan panas.

Petugas kesehatan kota, Michelle Murti, mengatakan suhu bisa terasa seperti 40°C (104°F) karena kelembapan.

Pertandingan hari Jumat antara Kolombia dan Ghana di Kansas City akan dimainkan di bawah peringatan panas ekstrem, dengan suhu “terasa seperti” hingga 43°C (110°F). Miami, tempat Argentina menghadapi Tanjung Verde pada hari Jumat, juga diperkirakan akan mengalami risiko panas sedang hingga parah akhir pekan ini.

Pertandingan hari Sabtu antara Paraguay dan Prancis di Philadelphia dapat menghadapi kondisi serupa, dengan suhu yang diperkirakan mencapai 39°C (102°F) dan indeks panas hingga 43°C (110°F). FIFA telah mempersingkat jam operasional Festival Penggemar di kota tersebut karena panas.

Stadion mana yang paling terpapar panas?

Tidak semua stadion diciptakan sama.

Stadion di Atlanta, Dallas, dan Houston memiliki atap yang dapat dibuka tutup dan pendingin udara, melindungi pemain dan penggemar begitu mereka berada di dalam.

Namun di Toronto, di mana kapasitas stadion diperluas untuk Piala Dunia dengan atap yang terbatas, sekitar 43.000 penggemar akan terpapar sinar matahari selama pertandingan hari Kamis antara Portugal dan Kroasia.

Hal yang sama berlaku di Philadelphia dan Kansas City, dengan kapasitas masing-masing sekitar 68.000 dan 69.000. Penonton akan hampir sepenuhnya bergantung pada naungan, stasiun penyemprotan, dan zona pendingin yang disediakan oleh penyelenggara, daripada kontrol iklim bawaan.

Stadion Philadelphia, Pennsylvania, AS/Foto: fifa.com

Mengapa penggemar diperingatkan tentang perjalanan menuju stadion?

Namun, bahkan ketika pertandingan berlangsung di dalam ruangan, perjalanan menuju stadion dapat menimbulkan risiko tersendiri.

Di Dallas, ahli meteorologi memperingatkan bahwa meskipun suhu udara mungkin sekitar 32°C (90°F), trotoar di luar stadion dapat mencapai 50°C (122°F). Itu berarti penggemar yang berjalan dari tempat parkir mobil, stasiun kereta api, dan zona penggemar bisa jauh lebih panas daripada yang diperkirakan.

“Beton sebenarnya dapat menyerap sebagian panas itu,” kata ahli meteorologi National Weather Service, Jennifer Dunn. “Itu akan menyerap dan memantulkan panas, dan itu dapat meningkatkan suhu lebih tinggi lagi pada permukaan tersebut.” (di/Sumber: Al Jazeera)

Jelang Piala Dunia 2026: Cuaca Ekstrem Termasuk Badai Tropis Ancam Mengacaukan Pertandingan Pembuka

JAYAKARTA NEWS— Informasi mengkhawatirkan menjelang digelarnya upacara sekaligus pertandingan pembukaan Piala Dunia yang dijadwalkan digelar di Estadio Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026) waktu setempat atau Jumat (12/6/2026) pukul 02.00 WIB, muncul dari pakar.

Dikabarkan pembukaan Piala Dunia yang akan menampilan pertandingan perdana antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan, terancam badai tropis yang berpotensi mengacaukan pertandingan pembukaan Piala Dunia.

Saat ini saja, para pemain sudah merasakan cuaca panas terik yang menyengat. Kabarnya, pekan depan kondisi cuaca ekstrem akan melanda Meksiko termasuk datangnya badai tropis.

Para ahli memperingatkan bahwa serangkaian hujan dan badai petir di lepas pantai Meksiko dan Amerika Tengah mengancam akan menimbulkan kekacauan pada beberapa pertandingan awal kompetisi.

“Ada peningkatan risiko hujan dan badai petir di sekitar Mexico City untuk pertandingan pembukaan Piala Dunia 2026,” kata ahli meteorologi jangka panjang AccuWeather, Alex Duffus, dilansir Daily Mail. “Gelombang kelembapan tropis ini mendapat perhatian penuh kami karena dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih signifikan.”

Hujan dengan suhu tertinggi 79 derajat diperkirakan akan turun di Mexico City saat Piala Dunia dimulai Kamis depan, yang dapat memengaruhi pertandingan pembukaan dan pertandingan Korea Selatan melawan Republik Ceko di Guadalajara malam harinya.

Badai ini diperkirakan akan menjadi badai kedua yang diberi nama pada musim badai Pasifik, setelah Badai Tropis Amanda terbentuk 1.500 mil barat daya Semenanjung Baja Meksiko awal pekan ini.

Piala Dunia Klub FIFA musim panas lalu juga terpengaruh oleh badai petir, menyebabkan pertandingan antara Benfica dan Chelsea ditunda sekitar dua jam karena ‘cuaca buruk’ di sekitar Charlotte, Carolina Utara. Pertandingan tersebut berlangsung lebih dari empat setengah jam secara total.

Para pemain Piala Dunia sudah mempersiapkan diri menghadapi panas ekstrem musim panas ini, dengan para ahli menyimpulkan bahwa 93 persen pertandingan kemungkinan akan dimainkan pada suhu melebihi 28°C (82,4°F).

Untuk menjaga keselamatan pemain, penggemar, dan staf, panitia turnamen beradaptasi dengan meningkatnya risiko panas dengan lebih banyak pertandingan malam di kota-kota yang lebih panas dan istirahat minum wajib di semua pertandingan. Pertandingan dapat ditunda jika suhu bola basah (WBGT) – pengukuran panas lembap – mencapai 32°C (89,6°F) untuk meminimalkan risiko stres panas.

Namun sebagian besar stadion terbuka, membuat pemain dan jutaan penggemar terpapar panas puncak musim panas. Hanya tiga di antaranya yang sepenuhnya ber-AC dengan atap yang dapat dibuka tutup – Atlanta, Dallas, dan Houston.

Jika terjadi badai petir, protokol menetapkan bahwa pertandingan yang sedang berlangsung di stadion harus segera dihentikan jika petir terdeteksi dalam radius delapan mil dari tempat tersebut.

Hal ini menyebabkan atlet, pelatih, dan ofisial dievakuasi dari lapangan dan penggemar dievakuasi ke area aman di dalam tempat tersebut.

Setelah petir terdeteksi, penghitung waktu mundur 30 menit dimulai. Jika 30 menit tersebut berlalu tanpa petir lagi, pertandingan akan dilanjutkan setelah periode pemanasan. Namun, jika petir terjadi lagi sebelum setengah jam tersebut berlalu, maka penghitung waktu akan dimulai kembali dari nol. (di/Sumber: Daily Mail)

Cuaca Ekstrem Masih Melanda Jawa Timur, OMC Diperpanjang hingga Akhir Januari

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Berdasarkan Imbauan kewaspadaan potensi cuaca ekstrem yang disampaikan BMKG Juanda untuk awal tahun 2026, pihak BOBD Jatim segwra menyikapi dengan memperpanjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem ini, rencananya akan dilangsungkan hingga akhir Januari 2026.

Keputusan memperpanjang OMC ini dilakukan atas arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, setelah melihat potensi cuaca ekstrem yang akan berlanjut hingga awal tahun 2026 ini.

Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan, berdasar rilis BMKG Juanda, musim hujan yang berpotensi menjadi cuaca ekstrem di Jawa Timur akan berlanjut pada Bulan Januari hingga Februari mendatang.

Diperkirakan, potensi curah hujan di Bulan Januari akan mencapai sekitar 58 persen dan di Bulan Februari akan sebanyak 22 persen.

Karena itulah, BPBD Jatim bersama BPBD Kabupaten/Kota dan sejumlah OPD di lingkungan Pemprov Jatim melakukan sejumlah upaya mitigasi, di antaranya, normalisasi dan bersih-bersih sungai, menyiagakan personel dan peralatan hingga melakukan sejumlah pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat.

“Atas arahan ibu Gubernur, kami juga  melanjutkan langkah strategis penanganan cuaca ekstrem, berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang akan berlangsung mulai tanggal 1 hingga 31 Januari nanti,” ujar Kalaksa Gatot Soebroto, Senin (5/1/2026).

Dikatakan, kegiatan yang telah dimulai sejak 1 Januari 2026 ini kini telah dilaksanakan sebanyak 7 sorti dengan sasaran wilayah di Selatan Jatim, Selatan Pulau Madura dan beberapa titik di wilayah barat Jatim.

Khusus untuk OMC sepanjang Desember 2025 lalu, jumlahnya mencapai 50 sorti dengan sasaran di berbagai wilayah di Jatim.

Dalam kesempatan ini, Gatot juga memaparkan laporan kejadian bencana di Jatim sepanjang tahun 2025 yang mencapai sebanyak 531 kejadian.

Dari jumlah itu, mayoritasnya didominasi kejadian bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, angin kencang hingga tanah longsor,  yang masing-masing mencapai sejumlah 149, 147 dan 21 kejadian.

Umumnya, bencana hidrometeorologi ini disebabkan karena cuaca ekstrem yang terjadi secara merata di Jawa Timur.***poedji

Hari Ketiga Lebaran, Ratusan Rumah Terendam Banjir di Kota Bandar Lampung

JAYAKARTA NEWS— Banjir merendam 789 rumah di Kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Jumat (12/4/2024).

Berdasarkan laporan Pusdalops BNPB banjir dipicu oleh intensitas curah hujan yang tinggi terjadi pukul 02:00 WIB yang menyebabkan sejumlah wilayah terdampak banjir meliputi Kelurahan Pesawahan di Kecamatan Teluk Betung. Kelurahan Gedung Pakuan dan Pesawahan di Kecamatan Teluk Betung Selatan. Kelurahan Bakung dan Olok Gading di KecamatanTeluk Betung Barat.

Dampak banjir sebanyak 789 KK terdampak, dilaporkan tidak ada korban jiwa akibat peristiwa ini.

Informasi dari BPBD Kota Bandar Lampung, Jumat (12/4/2024). Banjir di sejumlah wilayah kota Bandar Lampung berangsur surut. Penanganan banjir Tim Satgas BPBD Kota Bandar Lampung melakukan upaya evakuasi pada warga yang rumahnya terendam, dan pengeringan banjir dengan pompa.

Prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah Kota Bandar Lampung pada Sabtu (13/4) kondisi cuaca pada siang hari berawan dan sore hari hujan sedangkan pada Minggu (14/4) kondisi cuaca berawan siang harinya, pada sore cuaca hujan disertai petir.

Antisipasi terjadinya banjir akibat faktor cuaca. BNPB menghimbau Pemerintah daerah dan masyarakat agar waspada untuk warga yang mendiami wilayah lereng dan rawan banjir bila terjadi hujan dengan intensitas tinggi lebih dari satu jam agar segera evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman.***/din

Tantangan Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan Petugas Jaga Kelistrikan Andal Selama Ramadan

JAYAKARTA NEWS – Belakangan, cuaca ekstrem melanda beberapa daerah di Indonesia.

PT PLN (Persero) pun terus bersiaga dengan mengerahkan lebih dari 81 ribu petugas untuk menjaga kelistrikan di seluruh wilayah di Indonesia.

Saat ini, secara umum, sistem kelistrikan di Indonesia dalam kondisi normal dengan pasokan listrik yang cukup.

Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.

Meskipun demikian, pihaknya tetap menyiagakan personel di lapangan agar bisa gerak cepat dalam menghadapi cuaca ekstrem.

“Aktivitas masyarakat saat Ramadan ini meningkat, mulai dari sahur pada dini hari, hingga tarawih pada malam hari. Kami ingin semua masyarakat bisa menjalaninya dengan nyaman,” ucap Darmawan, dikutip dari Rilis BUMN, Minggu (17/3/2024).

PLN memproyeksikan beban puncak nasional pada Ramadan tumbuh sekitar 4,9% dibanding tahun lalu atau sebesar 31.640 Megawatt (MW).

Dengan daya mampu pasok sebesar 51.429 MW maka terdapat cadangan total sebesar 19.789 MW.

Darmawan menambahkan cuaca ekstrem seperti hujan disertai angin kencang dan banjir menjadi tantangan dalam menjaga keandalan listrik pada Ramadan kali ini.

Untuk itu, dirinya telah mengerahkan petugas di seluruh unit untuk melakukan siaga Ramadan dalam menjaga keandalan listrik.

“Memang ada tantangan cuaca ekstrem di beberapa daerah. Ada banjir di Jawa Tengah dan Kalimantan Timur, kemudian ada angin kencang di NTT dan NTB. Kami sudah siapkan petugas dan peralatan kerja di lapangan. Jadi ketika terjadi gangguan akibat cuaca ekstrem, petugas langsung gerak cepat menangani,” ucap Darmawan.

PLN juga menyiagakan peralatan pendukung dalam periode siaga berupa 1.731 Genset, 735 Uninterruptible Power Supply (UPS), 1.091 Unit Gardu Bergerak (UGB), 116 Unit Kabel Bergerak (UKB) dan 395 Crane.

Guna memudahkan mobilisasi petugas, PLN menyiagakan kendaraan operasional 3.756 Mobil dan 3.318 Motor.

Darmawan juga mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dalam mengoperasikan listrik di rumah, terutama ketika banjir sudah melanda.

Masyarakat perlu memindahkan peralatan listrik ke tempat yang aman dan segera mematikan listrik dari Miniature Circuite Breaker (MCB).

“Setelah itu segera hubungi PLN melalui PLN Mobile atau Kantor PLN terdekat untuk meminta pengamanan aliran listrik sementara waktu.

“Petugas PLN akan terus bersiaga sehingga ibadah yang dijalankan dapat berlangsung dengan nyaman,” pungkas Darmawan.***/mel

Perubahan Iklim Picu Peningkatan Kejadian Bencana Lebih Ekstrem

JAYAKARTA NEWS— Hal itu diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat memberikan sambutan pada Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) yang dihelat di Pondok Pesantren Alhamidiah, Depok, Jawa Barat pada Sabtu (3/6).

Suharyanto mengatakan, saat ini perubahan iklim yang terjadi di dunia secara nyata telah meningkatkan potensi kejadian bencana.

“Perubahan iklim terbukti meningkatkan frekuensi kejadian bencana dengan sangat drastis dan lebih ekstrim,” ujar Suharyanto.

“Jika kita melihat data bencana terkait iklim dengan dampak signifikan, di tingkat global khususnya sejak tahun 1961, tren kenaikan anomali suhu rata-rata global berbanding lurus dengan peningkatan frekuensi kejadian bencana. Hal yang sama dengan data bencana di Indonesia, tren kenaikan jumlah kejadian bencana alam dalam mengalami kenaikan hingga 82% jika dilihat dari tahun 2010 hingga 2022. Sehingga, benar adanya bahwa peningkatan anomali suhu rata-rata baik di tingkat global maupun nasional menyebabkan meningkatnya frekuensi kejadian bencana, terutama bencana hidrometeorologi,” tambahnya.

Suharyanto mengungkapkan, dari data yang dihimpun BNPB pada lima bulan di awal tahun 2023 ini, sudah terjadi 1.675 kejadian bencana.

“Berdasarkan data yang kami himpun dari 1 Januari hingga 31 Mei 2023 terdapat setidaknya 1.675 kejadian yang didominasi oleh bencana hidrometeorologi sebesar 99,1%, dengan rincian 92,5% adalah bencana hidrometeorologi basah dan 6,6% merupakan bencana hidrometeorologi kering, sisanya merupakan bencana geologi dan vulkanologi,” kata Suharyanto.

“Untuk bencana hidrometeorologi basah, akar permasalahan yang utama adalah urbanisasi yang memberikan tekanan pada lingkungan di hilir, dan alih fungsi lahan baik secara sistematis maupun ilegal, yang mengurangi kapasitas daya serap, baik karbon maupun air mulai dari hulu hingga hilir,” lanjutnya.

Adapun urbanisasi dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dalam bentuk pembuangan asap kendaraan, pabrik maupun lainnya, sehingga menjadikan kualitas udara tidak sehat. Sedangkan alih fungsi lahan biasanya menyebabkan pengurangan vegetasi yang menyebabkan berkurangannya kemampuan alam dalam menyerap karbon dan meningkatkan kerentanan banjir dan longsor karena air tidak terserap secara optimal.

Dampak dari adanya perubahan iklim tidak hanya terjadi di hulu, peningkatan suhu global memicu tren kenaikan tinggi muka laut.

“Terjadi peningkatan frekuensi kejadian banjir dari laut (rob). Diperparah oleh kerusakan ekosistem pesisir, catatan BNPB dalam tiga tahun terakhir saja, jumlah kejadian bencana banjir rob meningkat 46% dari 35 kali kejadian di tahun 2020 menjadi 75 kejadian di 2022,” ungkap Suharyanto

Selain hidrometeorologi basah, bencana hidrometeorologi kering sudah mulai terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

“Terjadi kenaikan frekuensi kejadian kebakaran hutan dari minggu ke minggu, sehingga beberapa daerah sudah menetapkan status siaga darurat. Data dari KLHK menunjukkan bahwa luas lahan terdampak karhutla khususnya lahan gambut berbanding lurus dengan emisi karbon yang dilepaskan. Pada tahun 2019 contohnya, dari 1.64 juta Ha lahan terbakar melepaskan 624 juta ton emisi karbon ke udara. ” ucap Suharyanto

“Ini semua menjadi menjadi tantangan kita bersama. Bagaimana fenomena global dan regional telah nyata berdampak pada peningkatan intensitas kejadian dan dampak bencana di tingkat lokal,” imbuh Suharyanto.

Suharyanto mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk saling bahu membahu untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

“Maka dari itu, saya mengajak semua elemen pentahelix. Bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk memutus lingkaran proses ini supaya kita bisa mengurangi dampak perubahan iklim,” paparnya.

Di akhir sambutan, dirinya mengapresiasi keterlibatan berbagai elemen pentahelix dalam penanggulangan bencana.

“Mengatasi dampak perubahan iklim harus sama-sama kita dukung, karena Pemerintah tidak akan bisa bekerja secara optimal tanpa adanya dukungan dari berbagai elemen bangsa termasuk LPBI NU sebagai komunitas penanggulangan bencana,” tuturnya.

“Saya mengucapkan terima kasih untuk kontribusi yang telah dilakukan oleh LPBI-NU selama ini, baik yang sifatnya intervensi langsung ke masyarakat maupun dalam bentuk kerjasama-kerjasama peningkatan kapasitas masyarakat melalui program-program bersama BNPB,” pungkas Suharyanto.

Pada kesempatan ini dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara BNPB dengan LPBI NU untuk memperkuat kerjasama yang telah berjalan dengan baik antara BNPB dan LPBI NU.

Hadir bersama Kepala BNPB, Plt. Sekretaris Utama BNPB, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Kepala Biro Hukum Organisasi dan Kerjasama BNPB dan Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. (ebn)

BMKG: Suhu Panas di Indonesia bukan lah Gelombang Panas

JAYAKARTA NEWS— Suhu panas yang terjadi di Indonesia  akhir-akhir ini ternyata tidak termasuk dalam kategori gelombang panas sebagaimana dialami oleh negara lain di Asia seperti, Myanmar, India, China, Thailand. Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Demikian disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika melalui rilisnya.

“Fenomena udara panas yang terjadi di Indonesia belakangan, jika ditinjau secara lebih mendalam, tidak termasuk kedalam kategori gelombang panas, karena tidak memenuhi kondisi-kondisi tersebut,” tulis BMKG.

Secara karakteristik fenomena, suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia merupakan fenomena akibat dari adanya gerak semu matahari yang merupakan suatu siklus yang biasa dan terjadi setiap tahun, sehingga potensi suhu udara panas seperti ini juga dapat berulang pada periode yang sama setiap tahunnya.

Sedangkan secara indikator statistik suhu kejadian, lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2°C melalui pengamatan stasiun BMKG di Ciputat pada pekan lalu hanya terjadi satu hari tepatnya pada tanggal 17 April 2023. Suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam kisaran 34 hingga 36°C di beberapa lokasi. Variasi suhu maksimum 34°C

– 36°C untuk wilayah Indonesia masih dalam kisaran normal klimatologi dibandingkan tahun- tahun sebelumnya. Secara klimatologis, dalam hal ini untuk Jakarta, bulan April-Mei-Juni adalah bulan-bulan di mana suhu maksimum mencapai puncaknya, selain Oktober-November.

Sebagaimana diketahui, senjak pekan lalu hingga hari ini, hampir sebagian besar negara-negara di Asia Selatan masih terdampak gelombang panas atau “heatwave”. Badan Meteorologi di negara-negara Asia seperti Bangladesh, Myanmar, India, China, Thailand dan Laos telah melaporkan kejadian suhu panas lebih dari 40°C yang telah berlangsung beberapa hari belakangan dengan rekor-rekor baru suhu maksimum di wilayahnya.

Badan Meteorologi Cina (CMA) melaporkan lebih dari 100 stasiun cuaca di Cina mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan instrumen untuk bulan April ini. Di Jepang “panas yang luar biasa” juga teramati dalam beberapa hari terakhir. Kumarkhali, kota di distrik Kusthia, Bangladesh menjadi daerah terpanas dengan suhu maksimum harian yang tercatat sebesar 51,2 C pada 17 April 2023. Sedangkan 10 kota terpanas di Asia lainnya terjadi sebagian besarnya berada di Myanmar dan India.

Suhu panas bulan April di wilayah Asia secara klimatologis dipengaruhi oleh gerak semu matahari, namun lonjakan panas di wilayah sub-kontinen Asia Selatan, kawasan Indochina dan Asia Timur pada tahun 2023 ini termasuk yang paling signifikan lonjakannya. Para pakar iklim menyimpulkan bahwa tren pemanasan global dan perubahan iklim yang terus terjadi hingga saat ini berkontribusi menjadikan gelombang panas semakin berpeluang terjadi lebih sering.

Kapan suatu kondisi dikatakan terjadi Gelombang Panas?

Gelombang Panas dapat dijelaskan melalui dua penjelasan yang saling melengkapi, yaitu penjelasan secara karakteristik fenomena dan penjelasan secara indikator statistik suhu kejadian.

Yang pertama, secara karakteristik fenomena, Gelombang Panas umumnya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah hingga lintang tinggi, di belahan Bumi Bagian Utara maupun di belahan Bumi Bagian Selatan, pada wilayah geografis yang memiliki atau berdekatan dengan massa daratan dengan luasan yang besar, atau wilayah kontinental atau sub-kontinental. Sementara wilayah Indonesia terletak di wilayah ekuator, dengan kondisi geografis kepulauan yang dikelilingi perairan yang luas.

Gelombang panas biasanya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area dengan luasan yang besar secara persisten dalam beberapa hari, yang berkaitan dengan aktifitas gelombang Rossby di troposfer  bagian atas. Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menekan udara permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhu permukaan meningkat karena umpan balik positif antara massa daratan dan atmosfer.

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain mengalilr masuk ke area tersebut. Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area karena umpan balik positif antara daratan dan atmosfer, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

Yang kedua, secara indikator statistik suhu kejadian, “Heat Wave” atau Gelombang Panas dalam ilmu cuaca dan iklim didefinisikan sebagai periode cuaca dengan kenaikan suhu panas yang tidak biasa yang berlangsung setidaknya lima hari berturut-turut atau lebih (sesuai batasan Badan Meteorologi Dunia atau WMO). Selain itu untuk fenomena cuaca termasuk sebagai kategori gelombang panas, suatu lokasi harus mencatat suhu maksimum harian melebihi ambang batas statistik, misalnya 5 derajat celcius lebih panas, dari rata-rata klimatologis suhu maksimum. Apabila suhu maksimum tersebut terjadi dalam rentang rata-ratanya dan tidak berlangsung lama maka tidak dikategorikan sebagai gelombang panas.

Gelombang Panas dan Radiasi Ultraviolet

Belakangan pada berbagai media, informasi kondisi suhu udara yang panas juga dikaitkan dengan fluktuasi radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari. Besar kecilnya radiasi UV yang mencapai permukaan bumi memiliki indikator nilai indeks UV.

Indeks ini dibagi menjadi beberapa kategori: 0-2 (Low), 3-5 (Moderate), 6-7 (High), 8-10 (Very high), dan 11 ke atas (Extreme). Secara umum, pola harian indeks ultraviolet berada pada kategori “Low” di pagi hari; mencapai puncaknya di kategori “High”, “Very high”, sampai dengan “Extreme” ketika intensitas radiasi matahari paling tinggi di siang hari antara pukul 12:00 s.d. 15:00 waktu setempat; dan bergerak turun kembali ke kategori “Low” di sore hari. Pola ini bergantung pada lokasi geografis dan elevasi suatu tempat, posisi matahari, jenis permukaan, dan tutupan awan.

Tinggi rendahnya indeks UV tidak memberikan pengaruh langsung pada kondisi suhu udara di suatu wilayah. Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, pola harian seperti disampaikan di atas secara rutin dapat teramati dari hari ke hari meskipun tidak ada fenomena Gelombang Panas. Faktor cuaca lainnya seperti berkurangnya tutupan awan dan kelembapan udara dapat memberikan kontribusi lebih terhadap nilai indeks UV. Untuk lokasi dengan kondisi umum cuacanya diprakirakan cerah-berawan pada pagi sampai dengan siang hari dapat berpotensi menyebabkan indeks UV pada kategori “Very high” dan “Extreme” di siang hari.

Masyarakat disarankan agar tidak perlu panik menyikapi informasi UV harian tersebut, serta mengikuti dan melaksanakan himbauan respon bersesuaian yang dapat dilakukan untuk masing- masing kategori index UV, seperti menggunakan perangkat pelindung atau tabir surya apabila melakukan aktifitas di luar ruangan.***/din

Dampak Cuaca Ekstrem, Dataran Tinggi Magetan Longsor

MAGETAN, JAYAKARTA NEWS – Deraan hujan yang berlangsung terus menerus semalam mengakibatkan dataran tinggi di wilayah Kabupaten Magetan, Jawa Timur, longsor, Sabtu (11/2/2023). Longsornya bukit setinggi antara 10 sampai 15 meter itu, terjadi di tiga titik di kecamatan Poncol.

Kecuali itu, cuaca ekstrem hingga munculnya bencana hidrometeorologi tersebut juga menimbulkan ablasi tanggul sungai. Terpantau, erosi aliran sungai itu merusak salah satu sisi di areal jembatan yang berada Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan.

Dua pejabat di lingkup pemerintah daerah setempat, langsung turun menilik wilayah bencana ablasi di Desa Tulung. Kepala Dinas Perhubungan, Drs. Welly Kristanto dan Kepala Dinas PUPR, Muktar Wakid, S.ST, melakukan pemeriksaan di sekitar jembatan yang tererosi.

Kepada jurnalis yang meminta konfirmasi, Drs. Welly Kristanto mengatakan, pihaknya telah mengambil langkah strategi guna pengamanan darurat.

Disebutnya, pihaknya segera memasang rambu peringatan berupa lampu rotary. Itu dimaksudkan agar setiap pengendara yang melintas, segera mengetahui adanya kedaruratan di depannya.

“Kecuali lampu rotary, kami upayakan juga memasang lampu penerang, utamanya di titik perkara. Agar setiap pengendara segera tahu bahaya di depannya,” jelas Drs. Welly Kristanto.

Selain itu, lanjut Welly Kristanto, pihaknya juga secepatnya menjajagi kemungkinan adanya jalur alternatif. Jika ditemukan jalur alternatif, demi aman dan lancar, pemerintah setempat akan mengalihkan ke jalur lain.

“Namun jika tidak ditemukan jalur lain, maka terpaksa menggunakan jalur ini. Tapi, arus lalu lintas dibuka hanya satu jalur, yakni buka tutup,” imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas PUPR setempat, Muktar Wakid, S.ST, mengaku segera melakukan koordinasi dengan bupati dan pihak terkait lainnya, guna secepatnya mengatasi kerusakan tanggung sungai itu.

“Areal yang ambrol itu sangat berbahaya bagi pengendara. Terlebih pengaman juga sudah rusak. Maka ini mendesak untuk diperbaiki,” kata Muktar Wakid.

Secara darurat, pihak keamanan setempat memasang barrier dan rambu-rambu lain di sekitar jembatan. Pengguna jalan dari dua arah di lokasi itu diberlakukan alur buka tutup.

Terkait bencana alam yang terjadi di Kecamatan Poncol, terdapat dua titik tanah longsor dan sebuah ruas jembatan yang berlobang. Longsor terjadi di Desa Gonggang sedangkan kerusakan jembatan terjadi di Desa Plangkrongan.

Sumber di Pusdalops BPBD Magetan menerangkan, pekarangan rumah milik Yatno di Desa Gonggang longsor, hingga menimpa rumah yang didiami Supri yang berada di bawahnya.

Di desa yang sama, bagian dapur rumah milik Pandi tiba-tiba ambrol dan langsung menghantam rumah milik Parmin. Rumah milik Supri dan milik Parmin yang keduanya tertimpa material longsor itu mengalami kerusakan lumayan parah.

“Saat ini semua pihak terkait yang menangani kebencanaan telah berada di lokasi kejadian. Mereka langsung kerja bakti memperbaiki rumah warga terdampak, dan apa pun yang perlu penanganan,” sebut sumber Pusdalops Magetan.

Tim penanganan kebencanaan yang terkonsentrasi kerja bakti antara lain BPBD, Tagana, PMI, TNI, Polri, relawan dan masyarakat setempat.

Tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun terluka dalam insiden tersebut. Juga tidak disebutkan adanya fasilitas umum berupa masjid, Puskesmas dan jaringan listrik yang terdampak bencana alam.

Otoritas setempat menghimbau, semua pihak diminta tetap berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaannya. Mengingat, sesuai rilis Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, bahwa Kabupaten Magetan menunjukkan salah satu wilayah yang saat ini masih terjangkau cuaca ekstrem. (fin)

Cuaca Ekstrem, Kendal Dilanda Bencana Hidrometeorologi Bertubi-tubi

JAYAKARTA NEWS— Wilayah Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, dilanda bencana hidrometeorolgi secara bertubi-tubi, setelah cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang menerjang pada hari Jumat (21/10) sejak pukul 15.00 WIB.

Berdasarkan laporan yang dirangkum Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana mulai dari banjir, tanah longsor dan angin kencang telah berdampak di 11 kelurahan dan 22 desa yang tersebar di 10 kecamatan.

Berdasarkan laporan visual, banjir masih merendam permukiman warga dengan tinggi muka air 20-60 sentimeter. Beberapa pohon tumbang menimpa atap rumah dan infrastruktur lainnya, termasuk menghalangi jalan raya. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal bersama unsur gabungan segera bertindak cepat untuk membersihkan batang pohon tersebut.

Laporan visual lainnya juga diketahui dua jembatan rusak berat akibat diterjang banjir dari sungai yang meluap. Beberapa lereng sungai juga mengalami longsor dan retak-retak. Tim BPBD Kabupaten Kendal bersama unsur terkait telah melakukan kaji cepat dan memberikan imbauan kepada warga agar menjauhi lokasi tersebut.

Hasil asesmen sementara, ada sebanyak 2.772 KK terdampak, 8 warga yang tinggal di lereng tanggul yang kritis telah dievakuasi di masjid, 2 rumah rusak sedang, 1 rumah rusak ringan dan 2.772 rumah terendam banjir.

Sebagai upaya penanganan darurat, BPBD Kabupaten Kendal telah mendirikan dua dapur umum di Kecamatan Weleri dan Kecamatan Patebon. Adapun kondisi mutakhir saat ini sebagian besar banjr berangsur-angsur surut, warga sudah mulai membersihkan rumahnya dari lumpur dan material yang terbawa banjir dan jalur yang tertutup batang pohon telah dapat dilewati kembali.

Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang telah mengeluarkan informasi peringatan dini cuaca yang menyatakan bahwa hujan dengan intesitas sedang hingga tinggi masih berpotensi terjadi di wilayah Kabupaten Kendal dan sekitarnya hingga Senin (24/10).

Menyikapi adanya informasi tersebut, maka BNPB mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah setempat agar tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca.

Sesuai dengan arahan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M., pada puncak Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) tahun 2022 di Balipapan, Kalimantan Timur, Jumat (14/10), Pemerintah Daerah agar memastikan kesiapan alat, perangkat dan personel untuk menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem.

Di samping itu, Suharyanto juga meminta agar seluruh unsur Forkopimda melakukan perbaikan lingkungan sehingga bencana seperti banjir, banjir bandang hingga tanah longsor tidak terjadi ke dua kalinya.

Upaya seperti monitoring bantaran sungai dengan susur sungai, normalisasi sungai dan kanal serta pembersihan drainase permukiman agar dilakukan secara berkala untuk memininalisir potensi bencana susulan yang juga dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan.

Khusus bagi masyarakat, apabila terjadi hujan lebat dalam durasi lebih dari satu jam, maka masyarakat yang tinggal di bantaran sungai maupun di lereng tebing agar mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.

Pastikan memperoleh perkembangan informasi terkait peringatan dini cuaca dari BMKG dan informasi mengenai penanggulangan bencana dari BNPB, BPBD, TNI, Polri dan lintas instansi lainnya. (ebn)

Pemotor Terseret Arus Banjir di Bangli Ditemukan Tewas

JAYAKARTA NEWS— Satu warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir yang terjadi di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Senin (17/10). Hasil kaji cepat sementara, peristiwa ini terjadi ketika korban mengendarai sepeda motor dan terseret arus banjir yang berasal dari luapan saluran air.

Tim BPBD Kabupaten Bangli bersama tim gabungan segera melakukan penyisiran saluran air dari depan lapangan Kilobar Tamanbali menuju saluran irigasi Guliang Kangin. Saat ini korban sudah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Umum terdekat untuk dilakukan outopsi.

Banjir yang melanda Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli ini terjadi setelah hujan deras sekitar pukul 13.20 WITA. Kondisi curah hujan yang tinggi juga memicu longsor yang terjadi di Kecamatan Susut. Aktivitas warga ikut terganggu akibat longsor yang menutup akses jalan.

Upaya pengerahan alat berat dari Dinas PU juga telah diinisiasi guna membuka akses jalan. Selain itu upaya penyemprotan oleh tim Damkar juga dilakukan guna membersihkan material lumpur agar warga sekitar dapat melintas kembali.

BPBD bersama tim gabungan juga terus melakukan koordinasi lanjutan dalam hal pendataan. Hingga kini semua tim terus berjibaku dilapangan guna melakukan upaya percepatan penanganan darurat.

Merujuk informasi peringatan dini BMKG menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang ditandai curah hujan tinggi hingga Oktober 2022.

Langkah-langkah antisipatif perlu dipersiapkan sebagaimana arahan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letjen TNI Suharyanto, S.Sos, M.M,. dalam mengantisipasi dampak cuaca ekstrem.

“Upaya jangka pendek, pastikan kesiapan alat, perangkat dan personel untuk menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem,”

“upaya jangka panjang lakukan perbaikan lingkungan jangan sampai banjir selalu berulang di tempat yang sama,” jelas Suharyanto.

Merujuk informasi tersebut, BNPB menghimbau kepada masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Salah satunya dengan mempersiapkan mitigasi awal dengan menjaga dan membersihkan saluran air secara rutin mulai dari lingkup terdekat yakni disekitar tempat tinggal.***/ebn