Umpatan Jancuk dan Hidden Story Reformasi

Warna-Warni Testimoni di Antara Orasi Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo

BEKASI, JAYAKARTA NEWS – Orasi Kebudayaan Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo kemarin, Selasa (25/7) di kampus Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) Bekasi, menjadi menarik. Sejumlah sahabat didaulat maju ke podium untuk menyampaikan testimoni.

Kikiek menyampaikan Orasi Kebudayaan berjudul: The Death of The Intellectuals, Nation-State, Saintek, dan Masa Depan Peradaban. Sedangkan testimoni para sahabat, cenderung warna-warni. Tidak sedikit yang mengundang tawa hadirin. Tak sedikit pula yang menguak serpihan sejarah penting.

Komjen Pol Purn Ahwil Luthan. (foto: firman h)

Kenangan Ahwil Luthan

Sebelum Prof Kikiek berorasi, MC mempersilakan sejumlah sahabat menyampaikan testimoninya. Diawali dengan testimoni Komjen. Pol. Purn Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM. Mantan Dubes RI untuk Meksiko, merangkap Panama, Honduras dan Costa Rica itu menyampaikan kenangannya bersama Prof Kikiek ke Jerman. Tentu saja ini hanya satu di antara sekian banyak kenangan.

Sekadar pengingat, Ahwil Luthan adalah lulusan Akpol 1968. Ia termasuk seorang polisi yang memiliki karier luar biasa. Sebelum purna tugas tahun 2002, ia pernah menjabat Sekretaris NCB-Interpol Indonesia, Gubernur PTIK, Kepala BNN, Irwasum Polri, hingga Sekretaris Jenderal Polri. Ahwil Luthan juga pernah menjadi calon kuat kapolri pada tahun 2001. Mantan Kepala BNN ini sekarang aktif membantu BNN sebagai Pimpinan Staf Ahli.

Persinggungan eratnya dengan Kikiek terjadi sekitar tahun 1998 saat ia menjabat Gubernur PTIK. Saat itu, Kikiek aktif di LSM RIDeP (Research Institute for Democracy and Peace). Kikiek mengajak “jalan-jalan” ke Jerman, pasca penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur.

Penyatuan kembali Jerman (Jerman Deutsche Wiedervereinigung) berlangsung tanggal 3 Oktober 1990, ketika eks kawasan Republik Demokratis Jerman (“Jerman Timur”) digabungkan ke dalam Republik Federal Jerman (“Jerman Barat”).

“Dalam kunjungan ke Jerman, ikut serta Bapak Suaidi Marasabessy, dan anggota Komisi III DPR RI,” kata Ahwil Luthan, sambil melempar pandang dan menunjuk Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy, yang ada di baris depan hadirin.

Di Jerman, mereka mengunjungi markas batalyon angkatan darat, juga markas kepolisian. Pasca unifikasi Jerman, banyak terjadi cerita unik. Sebagai contoh, tantara Jerman Timur yang berpangkat mayor, pasca penyatuan jerman, justru turun jadi Kapten.

Kikiek mengajak rombongan kecil ke Jerman itu, karena negara ini pernah mendapat julukan “negara polisi”. Jerman memiliki banyak satuan polisi. Di antaranya Polisi Pelindung Negara (Schutzpolizei des Reiches), Polisi Perlindungan Kota (Schutzpolizei der Gemeinden), Polisi Pedesaan Negeri (Gendarmerie), Polisi Lalu Lintas (Verkehrspolizei), Polisi Air (Wasserschutzpolizei), Polisi Api (Feuerschutzpolizei), dan sejumlah polisi pembantu.

Sebagai seorang polisi, Ahwil Luthan tentu sangat berkesan saat mengunjungi markas kepolisian Jerman. Di situ, Ahwil Luthan bertanya bagaimana cara mengatasi aksi demonstrasi. Sebab, saat itu di Jerman masih marak aksi demo pasca menyatunya dua Jerman yang sebelumnya beda ideologi.

Perwira polisi Jerman mengatakan, mereka menghadapi demonstran dengan mengerahkan anggota kepolisian. Luthan bertanya lagi, bagaimana jika aksi demo lebih besar dan melibatkan massa yang juga lebih besar. Dijawab, kepolisian Jerman akan mengerahkan lebih banyak lagi anggota kepolisian. Luthan masih mengejar, bagaimana kalau demonya jauh-jauh lebih besar bahkan berpotensi chaos. Dijawab lagi, “kami punya cadangan mantan polisi. Mereka akan kami kerahkan.”

Luthan pun menohok pada pertanyaan kunci, “Apakah tidak melibatkan tantara?” Dan perwira polisi Jerman menjawab, “Sama sekali tidak. Ini bukan perang. Ini soal HAM, dan tentara tidak dipersiapkan untuk menghadapi demo HAM. Kamilah (polisi) yang harus bertanggung jawab menghadapinya.”

Itulah, tambah Ahwil Luthan, cikal-bakal gagasan pemisahan Polri dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). “Pemisahan itu telah melalui banyak kajian, banyak tahapan, dan bersyukur akhirnya bisa berpisah dengan baik-baik. Peran mas Kikiek besar dalam proses pemisahan Polri dari ABRI,” kata Luthan.

Sejarah mencatat, pada 1 April 1999, Presiden B. J. Habibie mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan dalam Rangka Pemisahan Kepolisian dari ABRI. Sejak diterbitkannya instruksi tersebut, Polri yang tadinya di bawah Mabes ABRI ditempatkan di bawah Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam).

Seremoni serah terima dilakukan di Mabes ABRI, Cilangkap. Bentuknya berupa penyerahan panji-panji Polri dari Kasum ABRI, Letjen TNI Sugiyono, kepada Sekjen Departemen Hankam, Letjen TNI Fahrul Rozi. Kemudian panji-panji tersebut diserahkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Roesmanhadi. Momen ini sekaligus menandai perubahan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) menjadi Departemen Pertahanan (Dephan) pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan sekarang Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Sukardi Rinakit. (foto: firman h)

Ada Bom Ada Kikiek

Pemberi testimoni berikutnya adalah Sukardi Rinakit, Staf Khusus Presiden bidang Politik. Sebetulnya, namanya dipanggil pertama kali oleh MC, tetapi saat itu dia sedang meninggalkan aula. Karenanya ia mengawali testimoni dengan meminta maaf. “Maaf waktu dipanggil saya sedang ke toilet, lalu ada telepon yang harus saya angkat dari orang yang saya takuti. Ada dua orang yang saya takuti. Pertama pak Jokowi, yang kedua istri,” kata Sukardi, disambut tawa hadirin.

Bicara tentang sosok Hermawan Sulistyo, ia mengaku senang. “Sebab, orang yang kenal mas Kikiek, hanya ada dua ujungnya, sebel atau senang. Nah, saya kebetulan termasuk yang senang dan sayang sama dia,” katanya sambil terkekeh.

Kikiek adalah senior Sukardi Rinakit, sejak dari kampung yang sama di Madiun. “Beliau kuliah di UI, saya juga. Beliau jadi peneliti, saya juga. Beliau menulis, saya juga. Jadi, dalam banyak hal mas kikiek itu patron saya,” kata Kardi pula.

Ihwal karakternya yang sangat provokatif, Sukardi mengatakan, “Sudah lama itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia menunjuk-nunjuk jenderal aktif,” kata Sukardi sambil bercanda.

Dan yang sangat mengesankan Sukardi adalah, di mana ada peristiwa pengeboman, di situ muncul Kikiek. “Jadi bukan kebalik ya…. Bukan di mana ada mas Kikiek di situ ada bom,” kata Sukardi yang disambut gerrr hadirin.

Sukardi benar. Kikiek bisa dibilang orang pertama yang berada di lokasi Bom Bali 1. Ia kemudian terlibat dalam tim investigasi peristiwa 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang dan melukai 209 korban itu.

Kemudian pada kasus Bom Bali 2 (1 Oktober 2005), Kikiek juga hadir. Ia turut menginvestigasi rangkaian pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Tak hanya itu, nama Hermawan Sulistyo juga lekat dengan penyelidikan berbagai kasus bom lain, seperti Sri Rejeki Semarang dan Bom JW Marriott Jakarta tahun 2003. Keduanya saling berhubungan.

Prof Dr Jarnuzy Gunlazuardi. (foto: firman hidayatullah)

Selalu Ada “Jancuk”

Sahabat Kikiek lain yang memberikan testimoni adalah Prof Dr Jarnuzy Gunlazuardi. Pengajar MIPA UI itu adalah teman Kikiek sejak zaman kuliah tahun 1976 di UI. “Kami sama-sama di FMIPA. Waktu itu dia masih miskin. Kuliah di Salemba, makan combro berapa, bilangnya berapa….,” ujar Jarnuzy yang juga mengundang tawa hadirin.

Persahabatan mereka sempat terputus saat Kikiek melanjutkan pendidikan ke Amerika, sedangkan Jarnuzy ke Jepang dan Inggris. Memang benar. Hermawan Sulistyo sempat menimba ilmu di empat perguruan tinggi di Amerika Serikat. Masing-masing State University of New York (SUNY)-Buffalo, NY, Ohio University (OU)-Athens, OH, Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Il, dan Arizona State University (ASU), Tempe Az.

“Meski lama tidak ketemu, ciri khas beliau tidak pernah hilang. Di mana pun ketemu, kata ‘jancuk’ tidak pernah ketinggalan,” katanya disusul tawa. “Jancuk” adalah umpatan khas Surabaya (Jawa Timur). Jancuk juga merupakan ungkapan tanda keakraban yang sering diucapakan oleh orang Jawa Timur.

Terhadap sosok Kikiek, Prof Jarnuzy termasuk satu barisan dengan Sukardi Rinakit. “Benar kata mas Sukardi, sikap orang ke mas Kikiek kalau tidak sebel ya senang. Tapi saya termasuk yang senang. Senang dengan provokasi-provokasinya. Hari ini, membaca judul orasi kebudayaan beliau saja saya jadi terprovokasi,” kata Jarnuzy.

Mas Kikiek, begitu ia menyapa, diakui banyak berkontribusi bagi dunia keilmuan. Sejak menjadi wartawan majalah Gadis, kemudian di LIPI menggagas Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja (LKIR). “Saya senang sekarang masuk dunia perguruan tinggi. Semoga ilmu dan pengalamannya bisa diturunkan kepada generasi muda. Beliau di UBJ, saya di UI, mari berlomba-lomba dalam kebaikan membangun peradaban,” pungkasnya.

Prof Syamsuddin Haris. (foto: firman hidayatullah)

Jarang Masuk Kantor

Testimoni tak kalah menarik disampaikan Prof Syamsuddin Haris, sahabat Kikiek di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang sejak 2021 telah lebur ke badan baru, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) bersama BPPT, Lapan, dan Batan. Syamsuddin Haris sendiri sejak 2019 menjabat Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Mas Kikiek itu sebaya dengan saya, seumuran, lebih tua beliau dua bulan. Kami sama-sama di LIPI selama hampir 35 tahun. Dan yang saya ingat, beliau jarang masuk kantor,” ujar Haris disambut tawa hadirin.

Haris menambahkan, “Yang satu angkatan di LIPI itu mas Kikiek, saya, dan Ikrar Nusa Bakti. Kalau saya dengan Ikrar rajin ngantor, tapi kalau mas Kikiek jarang ngantor. Kadang di RIDep, kadang di kepolisian, pokoknya nggak jelas rimbanya.”

Toh, ia mengakui Kikiek sebagai intelektual aktivis yang multi talenta. Kontribusinya terhadap LIPI khususnya di Pusat Penelitian Politik, sangat besar. “Yang jelas, kalau dia nongol di kantor, pasti ‘geger’. Sebab, selalu saja ada bahan bully dan candaan yang bikin ramai,” kata Haris pula.

Tentang ide dan gagasan, Haris mengakui ada kalanya tidak sejalan dan beda pemikiran dengan Kikiek, sahabatnya. Tetapi dalam hal ‘pendidikan’, Syamsuddin Haris sangat sependapat dengan Kikiek. Bahwa yang namanya sekolah itu penting, mulai dari dasar, menengah, S1, S2, S3, dan harus menganggap sebagai ritual yang harus dijalani. “Terutama bagi akademisi. Termasuk peneliti,” katanya.

Hal terakhir yang disampaikan Syamsuddin Haris adalah soal jaringan. Prof Kikiek dinilai memiliki jaringan yang sangat luas, baik di lingkungan pemerintahan, masyarakat sipil, maupun militer dan Polri.

Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy. (foto: firman hidayatullah)

Diajak Rapat Pendemo

Momen Orasi Kebudayaan Prof Kikiek di Ghra Tanoto, UBJ Bekasi siang itu menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy. “Tak bisa disangkal, bahwa Prof Kikiek itu seorang provokator, tetapi juga inspirator,” ujar pria kelahiran Maluku, 76 tahun yang lalu.

Suaidi kenal Kikiek tahun 1987. “Waktu itu saya Asops Kasad. Anak buah saya pak Kiki Syahnakri, bagian intel. Dia datang ke ruangan saya, melaporkan adanya undangan rapat dari para aktivis. Sekilas saya dapat laporan tentang kegiatan para aktivis yang berniat melengserkan pak Harto,” kata Suaidi membuka kisah.

Kepada Kiki Syahnakri, Suadi bertanya, “siapa saja mereka?” Dan disebutlah sejumlah nama, di antaranya nama Hermawan Sulistyo.

Melalui sebuah pertimbangan dan pemikiran, Suaidi yang lulusan Akabari 1971 itu menyatakan siap hadir. Tujuannya ingin mengetahui lebih jauh rencana gerakan itu. Hanya dengan menghadiri rapat itu, ia bisa mendengar langsung rencana para aktivis tersebut. Datanglah Suaidi dan staf ke rapat di salah satu hotel di bilangagn Kemang, Jakarta Selatan. Di situlah, ia mengenal Kikiek.

Dalam rapat itulah Suaidi mengetahui dan mendengar langsung kebulatan tekad para aktivis untuk menurunkan pak Harto melalui gerakan reformasi. Nah, topik yang dibahas hari itu lebih kepada bagaimana cara meyakinkan pak Harto untuk mau mundur secara sukarela.

Mendadak Suaidi kaget ketika diberi kesempatan bicara. Sementara dia sadar posisinya sebagai anggota TNI aktif, dan masih dalam jabatan struktural di TNI-AD. Tak hanya itu, Kikiek malah menanyakan bagaimana kalimat yang baik untuk menyampaikan ke pak Harto agar mau turun secara sukarela.

Waktu berlalu, dan meletuslah aksi reformasi 1998 yang didahului krisis ekonomi. Agenda utama aksi adalah melengserkan Pak Harto dari kekuasaan 30 tahun. Suaidi mengikuti dengan sangat intensif hari demi hari, jam demi jam, bahkan menit demi menit. Termasuk saat peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998 yang disebut sebagai puncak reformasi.

Di tengah situasi genting, Suaidi dipindahtugaskan ke Makassar sebagai Pangdam VII/Wirabuana. Setiba di sana, suasana pun tak kalah panas. Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) turun ke jalan. Suaidi memberanikan diri masuk kampus, sekalipun harus melalui negosiasi alot dengan para aktivis kampus.

“Kepada para mahasiswa yang hendak demo saya tanya, untuk keperluan demo, kalian perlu apa?” Para mahasiswa di antaranya ada yang meminta tali rafia untuk membuat pagar pembatas, menghindari masuknya penyusup. Suaidi menyanggupi.

Di hari H, Suaidi tak hanya menyiapkan tali rafia, tetapi mengeluarkan dua tank dari Batalyon Kavaleri 10/Mendagiri untuk mengawal aksi demo dari kampus Unhas dari Tamalanrea Indah ke lapangan Karebosi di pusat kota Makassar. Arak-arakan mahasiswa itu menempuh jarak hampir 10 km.

“Saya kontak Gubernur dan Kapolda untuk bersama-sama mengawal aksi demo anak-anak Unhas, tapi tidak ada yang berkenan. Ya sudah, akhirnya saya sendiri yang ikut turun mengawal long march mahasiswa Unhas ke Karebosi. Di lapangan Karebosi, tau-tau saya didaulat bicara, maka saya naik ke tank dan hanya bisa meneriakkan kalimat ‘hidup reformasi’…. ‘hidup reformasi’…. ,” ujar Suaidi mengenang.

Tak lama dari peristiwa itu, ia ditelepon Pangab Jenderal TNI Wiranto dan diminta segera ke Jakarta. Sebelum berangkat, Pangab perintahkan agar ia (selaku Pangdam) menghubungi semua rektor, dan meminta para mahasiswa menenangkan diri, sebab besok pagi pak Harto akan mengumumkan pengunduran dirinya.

Benar, tanggal 21 Mei 1998, pak Harto lengser keprabon. “Semua kisah di atas, erat sekali benang merahnya dengan peran Prof Kikiek,” kata Suaidi.

Lama setelah peristiwa tersebut, berjumpalah Suaidi dengan Kikiek. Usai bicara kian-kemari, mendadak Kikiek berucap, “Pak Suaidi tahu apa tidak? Pak Harto mau mundur itu setelah mendengar berita ada Pangdam mengawal demonstrasi mahasiswa. Ia mengira TNI ada di belakang aksi mahasiswa, makanya pak Harto langsung mundur.”

Keduanya pun tertawa. (roso daras)

UBJ Gelar Research Day Hasil Hibah Internal Penelitian & Abdimas 2021

JAYAKARTA NEWS – Lembaga Penelitian, Pengabdian Kepada Masyakarat dan Publikasi (LPPMP) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) menggelar Research Day Hasil Hibah Internal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) Tahun 2021 selama dua hari pada 27-28 Januari 2022.

Rektor UBJ Dr Bambang Karsono berharap dengan adanya pameran ini, segenap civitas akademika di kampus tersebut dapat mempelajari bagaimana para dosen UBJ melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat. “Semoga ini dapat menjadi aspirasi bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian untuk skripsi dan thesis di masa yang akan datang,” kata Rektor.

Menurut Bambang, melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat adalah rangkaian tugas dosen yang tidak hanya berhenti pada pelaporan kegiatan semata. Setiap hasil yang diperoleh melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, juga harus di diseminasikan dan disebarluaskan agar diketahui oleh khalayak luas.

Rektor mengingatkan bahwa reputasi sebuah universitas ditentukan oleh seberapa banyak hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang di publikasikan. “Semua universitas berlomba–lomba membangun reputasi melalui diseminasi ilmu pengetahuan terkini yang bisa diaplikasikan dan membantu memecahkan masalah di masyarakat,” papar Bambang. Perlu digarisbawahi bahwa perkembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pada perguruan tinggi, akan membentuk ekosistem akademik yang sehat dan produktif.

“Kewajiban dosen untuk selalu meng-update ilmu pengetahuannya dengan melakukan penelitian,” tandas Rektor yang purnawirawan Polri berbintang dua itu.

Selanjutnya hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat perlu disebar luaskan ke publik, baik melalui tulisan dalam jurnal berkala, didesiminasikan melalui seminar atau dibagikan dalam event seperti research day. Hasil-hasil penelitian dan pengabdian kepada masyakarat ditampilkan dalam bentuk poster.

Menurut Rektor, keterlibatan dosen dalam publikasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, menunjukkan partisipasi aktif mereka dalam bidang keilmuannya, sehingga menghasilkan pengetahuan yang mutakhir.

Sebagai pengelola penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta hibah internal, maka LPPMP berkewajiban melayani dan membuka peluang kepada seluruh dosen UBJ. Hibah internal dilakukan dalam bentuk kompetisi. Tujuannya agar setiap periode hibah terjadi peningkatan kualitas proposal yang diseleksi dalam mendapatkan hibah internal, yang kegiatannya dilakukan sekali dalam dua semester berjalan.

“hibah internal menjadi media bagi para dosen untuk mempersiapkan diri menuju jenjang hibah yang lebih tinggi yaitu hibah Dikti, LPDP maupun hibah eksternal lainnya. Menurut Rektor, pelaksanaan hibah kompetisi untuk penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di UBJ, merupakan investasi jangka panjang kampus kepada para dosennya.

“Melalui hibah internal maka peningkatan kapasitas dan kapabilitas dosen akan berkorelasi dengan tujuan UBJ untuk menjadi research university,” katanya.Setiap hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, diharapkan dapat menghasilkan output – outcome yang mengarah kepada teknologi termutakhir, produk komersial dan pengembangan industri yang memiliki dampak signifikan kepada ekonomi.

Patut dicatata, hibah internal UBJ meloloskan 70 proposal penelitian dan 50 proposal pengabdian kepada masyarakat. Capaian tersebut secara bertahap bermanfaat untuk meniti jenjang UBJ menjadi kampus yang unggul. Rektor menggarisbawahi, semua luaran penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, diarahkan untuk menjadi artikel yang siap terpublikasi. Skema pendanaan hibah internal mendapatkan 100 lebih artikel ilmiah karya dosen UBJ yang akan terpublikasi pada jurnal nasional maupun internasional terakreditasi.

Research day selain sebagai ajang diseminasi, juga berfungsi sebagai pertanggung jawaban akademik dari setiap dosen atas kegiatan yang telah dilakukan,” tandas Bambang. (sm)

50% Wisudawan Ubhara Jaya Kantongi Sertifikat Profesi

JAYAKARTA NEWS – Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) mewisuda 363 sarjana dan magister baru yang dihelat melalui off line to on line pada Selasa (25/4/2021) dengan menerapkan prosedur kesehatan (prokes) ketat.

Wisuda dilaksanakan secara terpusat di Auditorium Grha Tanoto, Kampus II Ubhara Jaya di Jl. Raya Perjuangan Kota Bekasi. Mereka yang diwisuda terdiri dari 339 orang lulusan Sarjana (S-1) dan 24 orang lulusan Magister (S-2). Sebanyak 180 diantara lulusan tersebut, berhasil memperoleh sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi yang diselenggarakan oleh LSP P1 Ubhara Jaya.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Pembina Yayasan Brata Bhakti, Jenderal Polisi (Purn) Prof. Dr. Chairuddin Ismail, Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol. Prof. Dr. H. Ryko Amelza Dahniel (secara online), Kepala LLDIKTI Wilayah III Prof. Dr. Agus Setyo Budi, Ketua Pengurus YBB Irjen Pol (Purn) Dr. E. Winarto Hadi, Ketua BPH Ubhara Jaya Brigjen Pol (Purn) Drs. J. Srijono, M.M, para anggota Senat Akademik, para Wakil Rektor, Staf Ahli, Dekan, Kepala Lembaga, Kepala Biro dan Direktur di lingkungan Ubhara Jaya.

Rektor Ubhara Jaya Irjen Pol (Pur) Dr Bambang Karsono, dalam sambutannya menegaskan bahwa pelaksanaan atau pengelolaan kampus yang berbasis sekuriti tersebut akan terus ditingkatkan, dengan semangat mentaati prinsip-prinsip akademik yang berlaku.

“Telah menyelenggarakan proses pendidikan tinggi dengan taat azaz, konsisten dan persisten dalam mempertahankan kualitas pendidikan. hasilnya, dengan bangga dapat mempersembahkan lulusan generasi unggul yang kreatif dan inovatif. sekalipun pelaksanaan perkuliahan dan wisuda kali ini masih berada di tengah gelombang Pandemi Covid-19,” kata Bambang .

Dia menambahkan, sebagai perguruan tinggi yang sedang berkembang, Ubhara Jaya berupaya meningkatkan mutu dan jumlah penelitian, serta kajian ilmiah yang dapat memberikan substansi pada visi dan misi yang hendak dicapai, yakni menjadi universitas unggul.

Keunggulan Ubhara Jaya ditandai dengan alumni yang memiliki wawasan kebangsaan dan berbasis sekuriti. Dengan dasar tersebut, Ubhara Jaya dapat menghasilkan sumberdaya manusia yang mampu bersaing dan berprilaku baik. “Upaya tersebut ditopang oleh Pusat Kajian Keamanan Nasional serta Pusat Kajian Ilmu Kepolisian dan Anti Korupsi,” tandas Bambang.

Bambang berharap, dengan dukungan kedua pusat kajian tersebut, maka pendidikan di Ubhara Jaya berorientasi pada upaya meningkatkan harkat dan derajat hidup manusia.Pendidikan di Ubhara Jaya membebaskan dan menghindarkan mahasiswa dari ancaman intoleransi, terorism, penyalahgunaan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta meningkatkan pengayoman pada kemanusiaan.

Bambang menandaskan, Ubhara Jaya telah membenahi hal yang fundamental yakni dengan mencanangkan paradigma baru melalui budaya organisasi, membangun budaya kerja profesional, budaya mutu unggul, penelitian dan pengabdian berbasis pada budi pekerti, wawasan kebangsaan dan nilai-nilai luhur bangsa.

“Sistem ini telah memacu terbangunnya kreatifitas, menjalin interaksi dan komunikasi antar berbagai pihak sehingga kegiatan perkuliahan, penelitian, pengabdian masyarakat dan seminar baik nasional, regional dan internasional, relatif dapat diselenggarakan,” ujar Bambang.

Bambang juga menyampaikan, Ubhara Jaya pada tahun 2021 dalam pemeringkatan perguruan tinggi dari Kemenristek Dikti, mendapat peringkat 175 dari 4631 PTN dan PTS seluruh indonesia. Sedangkan pemeringkatan berdasarkan online website 4icu atau 4 International Colleges and Universities yang meneliti 12.358 Colleges and Universities Ranked by Web Popularity in 200 Countries pada tahun 2021 Ubhara Jaya menempati peringkat 175, serta peringkat 142 untuk 4icu kategori instagram university ranking (medsos). [sm]

Mahasiswa Penting Dalami Keamanan Lingkungan

JAYAKARTA NEWS –  Mahasiswa Teknik Lingkungan jangan hanya mempelajari  tentang upaya bagaimana mengeksplorasi dan eksploitasi lingkungan, tetapi juga harus mendalami secara bersungguh-sungguh upaya keamanan bagi lingkungan.

Arahan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), Dr. Drs. Bambang Karsono, S.H., M.M.,   saat membuka Rapat Kerja Nasional Mahasiswa Teknik Lingkungan, yang berlangsung pada Jumat (30/4/2021). UBJ bertindak sebagai host (tuan rumah) pada kegiatan yang diikuti  lebih dari  350 Mahasiswa Teknik Lingkungan dari 58 Perguruan Tinggi se-Indonesia tersebut.

Bambang menggarisbawahi dua hal penting yang harus  diperhatikan oleh para peserta Rekernas. Kedua hal pokok itu menurutnya sangat berkaitan dengan isu lingkungan terkini.

“Pertama isu perdebatan perubahan iklim dan  kedua peran peran strategis mahasiswa Teknik Lingkungan dalam proses pembangunan bangsa, termasuk penanganan perubahan iklim, sehingga dapat menjamin pembangunan yang berkelanjutan,”  papar  purnawirawan Polri berbintang dua itu.

Lebih lanjut doktor di bidang politik itu  mengatakan,  perubahan iklim (climate change) kini menjadi isu substansial yang  menjadi perdebatan internasional dan berdampak  luas. Isu tersebut  melibatkan multipihak, seperti pemerintah, swasta, NGO, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan hidup. Mereka  mencoa untuk mencari solusi atas fenomena pemanasan global, yang ditandai dengan  peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer yang  berlangsung untuk jangka waktu tertentu.

Merujuk pada dapat riset,  Bambang menjelaskan ada beberapa faktor penyebab perubahan iklim tersebut. Faktor-faktor itu  antara lain, efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol dan gas buang industri.

“Perubahan iklim tersebut telah mendorong terjadinya perubahan pola curah hujan, angin dan kemarau yang berkepanjangan, peningkatan volume air (laut) akibat mencairnya es di kutup sehingga peluang hilangnya sebuah pulau bisa terjadi, terjadinya bencana alam berupa hilangnya sumber air, kebakaran hutan, angin puting beliung, terjangan badai seperti yang terjadi beberapa minggu lalu di NTT,” katanya. 

Disinilah  Bambang menekankan pentingnya  para mahasiswa  Teknik Lingkungan untuk  bersunggung-sungguh mempelajari upaya keamanan lingkungan. “Bagaimana lingkungan dapat dikelola secara berkelanjutan,” katanya.

Dengan demikian,  mahasiswa Teknik LIngkungan diharapkan dapat memberikan alternatif sumbangan bagi pembangunan yang bersahabat dengan alam dan dinikmati oleh generasi mendatang. Rektor UBJ yakin, dengan dukungan teknologi lingkungan, maka pembangunan dapat dijalankan tanpa merusak  bumi.  “Sebaliknya justru pembangunan dapat memberikan efek restorasi pada alam,” kata  Bambang. (sm).

Mahasiwa Ubhara Jaya Juarai Lomba Karya Ilmiah

JAYAKARTA NEWS – Mahasiswa Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) berhasil mengukir prestasi di tengah situasi sulit pada masa pandemic Covid-19 seperti sekarang ini. Dalam lomba tulis ilmiah tingkat nasional, dua kelompok penelitian mahasiswa UBJ menyabet Juara II dan Juara III.

Capaian itu diperoleh dalam ajang  kompetisi Rektor Cup Universitas Kristen Indonesia Toraja Tahun 2020. Lomba  karya ilmiah yang  diikuti oleh lebih dari 50 mahasiswa dari seluruh Indonesia itu, mengangkat tema “gagasan pemberantasan Pandemi Covid-19 berasal dari Tana Toraja.

Juara II diraih oleh tim Ubhara Jaya yang terdiri dari  Krishnantia Arnos Putri dan Anisa Feby Yana (mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis) dengan dosen pembimbing  Hasanuddin. Karya tulis mereka berjudul  “Pemanfaatan QR-Code untuk Tanda Tangan  dalam Rangka Memutus Rantai Covid-19″.

Sedangkan tim penulis dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang terdiri dari  Mita Setiani, Nuuri Asysyifa Mugnianingsih, dan Sylvia Agnes Ratna Ramadhan, dengan dibimbing  Sani Aryanto meraih Juara III. Judul karya mereka  adalah “Sekolah Alam Berbasis Kearifan Lokal sebagai Langkah Konkret dalam Menghadapi Kesenjangan Digital selama Pandemi Covid 19”.

Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, Bambang Karsono, mengaku sangat bahagia dan bersyukur atas prestasi yang diraih para mahasiswa UBJ, dan ia bebertekad untuk terus menggerakkan potensi  mahasiswa dan dosen  UBJ untuk lebih kreatif  dalam melakukan penelitian dalam pemenuhan Tridarma Perguruan Tinggi.

“Saya ucapkan selamat pada mahasiswa dan dosen pembimbing peraih juara II dan III lomba tulis ilmiah tingkat nasional ini.  Saya sangat bersyukur dan bahagia sekali setelah mendengar ada pengumuman bahwa peserta dari Ubhara Jaya meraih juara II dan III pada lomba tersebut, tentu ini anugerah,” ungkap Bambang,.

Ia pun menjelaskan, bahwa UBJ terus bebenah diri untuk menjadi universitas swasta unggul, dimana semua dimensi mulai dari pengajaran, penelitian dan abdi masyarakat harus juga meningkat ke arah unggul. Lomba seperti ini dapat menjadi ajang bagi mahasiswa dan dosennya untuk meningkatkan semua potensi akademik sehingga dapat menghantarkan pencapaian menjadi universitas unggul.

“Sejak awal saya selalu menekankan agar pembenahan kehidupan akademik di kampus UBJ menjadi prioritas disamping dengan pemenuhan sarana dan prasarananya. Saya minta semua jajaran dekan dan lembaga penelitian untuk mulai membangun basis pengajaran berdasarkan Tridarma dan mulai memfasilitasi mahasiswa melakukan penelitian bersama, sekalipun kita masih dalam situasi pandemi. Mahasiswa dan dosen adalah aset utama bagi UBJ.  Saya sangat mendorong agar semua kesempatan untuk mengembangkan diri dan prestasi dapat diiikuti sebagai ajang latihan. Dan,  Alhamdulilah mulai membuahkan hasil,” kata Rektor yang doktor dalam ilmu pemerintahan tersebut.  

Ia pun berharap, prestasi tersebut dapat memotivasi mahasiswa yang lain untuk dapat berprestasi di ajang nasional dan internasional terutama untuk kegiatan akademik. Kegiatan kemahasiswaan di bidang lain seperti olah raga angkat besi sudah pernah dihasilkan sampai ke tingkat ASEAN.  Ini adalah menunjang cita-cita Universitas Bhayangkara Jakarta yang termasuk dalam keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia.

“Jangan berhenti disini, prestasi lain harus diraih termasuk perbaikan manajemen internal kampus hari demi hari harus semakin baik, kita perlu mewujudkan cita-cita para pendiri kampus ini yang  berasal dari kalangan kepolisian Indonesia yang  juga  peduli akan pendidikan anak bangsa,” jelas Bambang menutup pembicaraan ini.

“Persiapan sangat mepet sekitar 5 hari, tapi anak-anak (mahasiswa sangat semangat) ikut lomba ini. Kami diskusi apa saja yg perlu dilakukan agar tetap dapat ikut lomba…saya meminta mereka mengumpulkan dan membaca literatur yg relevan dengan tema lomba dan terus melakukan uji coba penggunaan QR-Code untuk tanda tangan. Sambil menyusun draft proposal yg akan disubmit,” kata Hasanudin, dosen pembimbing dari FEB.

Menurutnya, beberapa saat sebelum karya tulis mahasiswa akan di submit, pihaknya masih berkomunikasi via Whatsapp untuk melakukan  perubahan judul dan beberapa isi yang cukup substansial. Yang menarik dari persiapan yang sangat singkat ini adalah semangat kedua mahasiswi tersebut  pantang menyerah

“Sebagai pembimbing mereka, saya sampaikan apapun hasilnya karya tulis kalian ini harus tetap di submit agar kita tahu kemampuan kita sampai dimana sekaligus utk mengetahui kelemahan kita dimana utk dijadikan bahan evaluasi memperbaiki diri  dan pelajaran dimasa dating,”kata Hadsanudin.

Dia menambahkan,  keberhasilan kedua mahasiswi FEB  tersebut tidak terlepas dari dukungan banyak pihak, dosen, Dekanat dan tentu saja Rektor yang memberi ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk terus mengembangkan diri.(sm)

Pengurus DPC Khusus Granat UBJ Dilantik

JAYAKARTA NEWS – Ketua Umum DPP Gerakan Anti Narkotika (Granat) Dr Henry Yosodiningrat SH, MH, melantik Pengurus Dewan Pimpinan Cabang Khusus Granat Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ). Pelantikan ini sekaligus menandai peningkatan status dari Rayon menjadi Cabang khusus.


Rektor UBJ Irjen Pol (P) Dr Drs Bambang Karsono, SH, MM, menyebutkan sejak 2014 UBJ telah menjalin menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan DPP Granat yang menandai kerjasama pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkoba.


Dalam kesempatan tersebut, Rektor UBJ memberikan apresiasi atas kerja dan pengabdian pengurus Rayon Granat UBJ. Selama kepengurusan lama, UBJ bekerjasama dengan BNN melakukan pencegahan masuknya narkoba di kampus dengan melakukan tes urin kepada seluiruh mahasiswa baru.


Dijelaskan, untuk mahasiswa baru yang diketahui positif tes urinenya mengandung narkoba, masih dilakukan tes ulang. Namun, jika pada tes urin kedua tetap positif, maka yang bersangkutan dipersilahkan untuk mengikuti program rehabilitasi di BNN.


“Tahun depan, boleh masuk tanpa bayar lagi, cukup dengan membawa surat bebas narkoba dari BNN. Yang tidak bersih, terpaksa kita DO,” tandasnya.
Rektor juga mengeluarkan kebijakan dengan menerapkan tes anti narkoba kepada seluruh calon pegawai harian lepas. “Ketika akan diangkat menjadi pegawai tetap, juga wajib tes ulang anti narkoba,” tandas Bambang. [sm]

Jurnal Keamanan Nasional Raih Akreditasi Peringkat III

JURNAL Keamanan Nasional terbitan Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), kini menempati peringkat tiga dalam akreditasi yang dilakukan oleh tim akreditasi LIPI dan Kemenristekdikti.

Rektor Ubhara Jaya Inspektur Jenderal Polisi (P) Dr (c) Drs. H. Bambang Karsono, SH., MM bersyukur atas capaian akreditasi Jurnal Keamanan Nasional yang terbit perdana pada tahun 2015 itu. “Ini membanggakan, tetapi tentu saja tidak cukup sampai di sini. Kita harus terus bekerja keras untuk mencapai peringkat yang lebih baik lagi,” katanya saat ditemui di Kampus II Bekasi, Jumat (27/7/2018).

Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, belum lama ini mengumumkan hasil Akreditasi Jurnal Ilmiah Elektronik Periode I Tahun 2018. Berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek No 21/E/KPT/2018 tertanggal 9 Juli 2018, akreditasi tersebut berlaku lima tahun.

Kepala Puskamnas Prof (Ris.) Hermawan Sulistyo berharap, akreditasi yang diperoleh Jurnal Keamanan Nasional dapat berkontribusi bagi akreditasi institusi Ubhara Jaya yang ditargetkan meraih akreditasi unggul. Dia sepakat dengan Rektor, bahwa Jurnal ini harus ditingkatkan lagi mutunya, baik dari aspek subtasi/materi maupun tampilannya. “Dari yang terkecil, jangan sampai ada typo error,” tandas pemegang gelar setingkat doktor untuk editor naskah.

Jurnal Keamanan Nasional terbit setahun dua kali, sejak terbit dengan menggunakan Opening Journal System (OJS) telah menggunakan full online sebagaimana disyaratkan oleh Kemenristekdikti dalam pengelolaan jurnal ilmiah. Setiap artikel yang dimuat Jural Keamanan Nasional telah melalui seleksi ketat.

Untuk membaca Jurnal Keamanan Nasional  edisi terbaru SILAHKAN KLIK DI SINI ***

Kampus Harus Aktif Cegah Radikalisme

KALANGAN perguruan tinggi perlu mewaspadai terhadap usaha-usaha menyusupkan paham radikalisme dengan menyasar kaum terpelajar (intelektual). Hal itu disampaikan Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), Irjen Pol (Purn) Bambang Karsono, dalam rangkaian Commencement (wisuda) Sekolah Keamanan Nasional Angkatan II yang dibarengi dengan seminar bertema Perkembangan Terorisme dan Kontra Terorisme di Indonesia, Rabu (10/5/2017).

Bambang mengungkapkan ada kecenderungan menyebarkan paham radikal ke kalangan kampus antara lain dengan mencampur-adukkan mengenai politik dan berita bohong. Rektor menyambut baik ajakan Menteri Riset-Dikti Muhammad Nasir, agar dunia kampus ikut memainkan peran penting dalam mencegah berkembangnya paham radikal di kampus,.

Menurut Bambang, seminer bertema terorisme yang diselenggarakan UBJ, antara lain sebagai respon positif atas apa yang diingatkan oleh Menristekdikti.

 

Rektor UBJ Irjen Pol (Purn) Bambang Karsono

Koordinator Kopertis III, Dr Illah Sailah, menggarisbawahi pentinnya peran kampus dalam mencegah berkembangnya radikalisme. Kampus juga perlu membumikan dan menghidupkan Pancasila dalam perilaku sehari-hari.

Menurutnya, upaya meningkatkan pemahaman Pancasila dan pengamalannya, memang tidak harus secara khusus diakomodasi dalam bentuk mata kuliah. Apabila setiap dosen bisa menyampaikan 4-5 menit dalam setiap perkuliahnnya mengenai Pancasila, maka kepahaman akan Pancasila untuk generasi mendatang, akan terjaga.

“Selain itu, kita punya budaya gotong royong yang sekarang ini makin hilang di masyarakat yang diikuti dengan munculnya persaingan. Iklim persaingan ini juga terjadi di kalangan perguruan tinggi,” katanya. Dia yakin, jika para dosen ikut memperhatikan hal ini, maka gotong royong bisa dihidupkan kembali dalam dunia kampus dan masyarakat luas.

Rektor UBJ mengungkapkan, untuk menjaga dan menumbuhkembangkan rasa kebangsaan di kalangan civitas akademika di lingkungannya, pihaknya secara rutin menyelanggarakan upacara bendera menanamkan wawasan mahasiswa, setiap tanggal 17 tiap bulannya, UBJ melaksanakan upacara bendera.

National Security Studies Sekolah Kamnas Angkatan II UBJ, pada kesempatan acara commencement (wisuda) kali ini melepas 31 peserta  yang telah menyelesaikan program. Para peserta berasal dari berbagai kalangan, seperti dari BNN, Kementrian Dalam Negeri, Pertamina, Polri dll, dengan latar pendidikan rata S2 dan S3. ***