Brigjen Pol Eko Sudarto: Karate Kapolri Cup 2024 Perkuat Hubungan Polri dan Masyarakat

JAYAKARTA NEWS – Gelar Kejuaraan Karate Kapolri Cup (Piala Kapolri) 2024, memanggul harapan besar. Sebuah harapan terjadinya penguatan hubungan kepolisian dan masyarakat.

“Melalui Kapolri Cup diharapkan terjalin hubungan harmonis antara kepolisian dan masyarakat. Karenanya, selain kategori Polri, juga ada kategori open tournament untuk umum,” ujar Ketua Panitia Pelaksana, Brigjen Pol Eko Rudi Sudarto.

Tak hanya itu. Kegiatan ini juga memberi inspirasi bagi masyarakat untuk menjaga kebugaran fisik dan gaya hidup sehat. Sedangkan, bagi Polri, Kejuaraan Piala Kapolri menjadi ajang rekrutmen atlet karate Polri. “Yang tersaring, akan mewakili tim karate bhayangkara ke ajang karate nasional maupun internasional,” tambah Brigjen Eko yang menjabat Karojianstra Slog Polri.

Selain itu, menurut Eko yang mantan Wakapolda Papua, Kejuaraan Karate Kapolri Cup juga menjadi ajang seleksi untuk WPFG (World Police and Fire Games). “Ajang pesta olahraga polisi dan pemadam kebakaran se-dunia terdekat, berlangsung di Alabama, Amerika Serikat tahun 2025. Karateka Polri akan turun di ajang WPFG itu,” tandasnya.

Selama ini, Polri adalah anggota aktif (active member) WPFG. Tidak ada alasan untuk tidak ambil peran aktif dalam ajang karate prestasi kepolisian sedunia.

Dalam kaitan itu, khususnya pembinaan jangka panjang cabang olahraga sports karate, diperlukan kompetisi secara rutin dan berkesinambungan. Kejuaraan Karate Kapolri Cup menjadi yang pertama dan akan menjadi agenda rutin Polri ke depan.

“Kapolri Cup pertama akan berlangsung tanggal 26 sampai 28 Juli 2024 mendatang di GOR Laga Tangkas, Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor. “Ini sekaligus menjadi salah satu rangkaian kegiatan HUT Polri ke-78,” pungkas Brigjen Eko Sudarto. (*)

Gemerincing Medali Karate Bhayangkara Presisi di Thailand Open

JAYAKARTA NEWS— Tim Karate Bhayangkara Presisi yang belum sempat diresmikan berjaya di Negeri Gajah Putih, Thailand. Sebanyak 13 Karateka muda anggota Kepolisian Republik Indonesia sukses bersaing berebut medali dalam ajang Thailand Open Karate Championship 2023 yang dilaksanakan di Rangsit University Sport Institution, Pathum Thani, Thailand.

Sebanyak 13 Polisi hebat yang terdiri atas 3 polisi wanita dan 10 polisi laki berhasil meraih 2 emas 3 perak dan 4 perunggu serta bertengger di peringkat akhir perolehan medali.

Medali pertama Tim Karate Bhayangkara Presisi diraih oleh Briptu Ni Made Nada Dwimayanti. Polwan yang sehari-hari bertugas di Sat Brimobda Polda Bali berhasil meraih perunggu di nomor Kumite +68 kg setelah di babak semifinal dikalahkan oleh  Kewalin Songklin yang merupakan anggota Timnas Karate Asian Games Thailand dengan skor 5-3.

Perjuangan karateka polisi Indonesia berbuah manis saat Bripda Bagus Yuda Dwi Maulana sukses meraih emas di nomor kumite -67 Putra dengan menghempaskan perlawanan karateka tuan rumah proyeksi Asian Games 2023 Worakrit Chanchang dengan skor 11-6.

Bintara yang bertugas di Direktorat Samapta Polda Jatim yang juga peraih emas PON XX/2021 Papua ini, bermain sempurna sejak babak awal mengalahkan lawan-lawannya menunjukkan kelasnya sebagai karateka kelas dunia.

Emas Bripda Bagus disusul oleh IPDA Nora Septiana yang meraih emas di nomor Kumite -68 kg putri. Perwira Polwan yang sehari-hari bertugas Satuan Wanteror Gegana Korbrimob Polri mengalahkan karateka andalan tuan rumah, Namkhao Penpisut dengan skor 4-2.

Selain itu 3 perunggu lainnya dipersembahkan oleh  Bripda Mohammad Gibran. Bintara Polda Sulsel ini pada babak final bronze kumite -75 kg putra mengalahkan Sikkal Karransingh asal Afrika Selatan dengan skor telak 8-0.

Perunggu ketiga dipersembahkan oleh Bripda Masita Zahwa Purwanto, Polwan anggota Wanteror Gegana Korbrimob Polri di babak final bronze mengalahkan karate Tim PON Sumatra Utara, Trie Rantika dengan skor 2-0. Perunggu juga dipersembahkan Bripda Mohammad Fadillah. Bintara Direktorat Samapta Polda Metro Jaya ini mengalahkan Gogliardo Alfredo Gavarini asal Italia di babak perebutan perunggu kumite -84 kg putra.

Di hari terakhir kejuaraan internasional yang diikuti 18 Negara dan 754 peserta, Tim Karate Bhayangkara Presisi menurunkan 3 regu andalannya. Di Kumite Beregu Putra yang diawaki Bripda Bagus Yuda Dwi Maulana, Bripda Mohammad Gibran, Bripda Mohammad Fadillah, Bripda Dino Henry Tutu, Bripda Dicky Martuah Sipayung, Bripda Rifan dan Bripda Roberto Octo Karly, meraih medali perak setelah di babak final dikalahkan Regu tuan rumah  Thailand.

Begitu pula Tim Kumite Beregu Putri Polisi Wanita Indonesia yang diawaki oleh IPDA Nora Septiana, Briptu Ni Made Nada Dwimayanti dan Briptu Masita Zahwa Purwanto, meraih perak setelah dikalahkan tuan rumah Thailand.

Di nomor kata (kerapihan jurus) Tim Kata Beregu Karate Bhayangkara Presisi harus puas meraih perak setelah dikalahkan Tim Kata Beregu Hongkong. Tim Kata Beregu yang terdiri atas Bripda Arnoldus Dewa Sare Ofong, Bripda Faisal Herwind dan Ashar Al Annas yang bertugas di Resimen Pelopor Korbrimob Polri, membukukan nilai 40.0 hanya berselisih 1 angka dengan Tim Hongkong yang meraih nilai 41.1

“Ini adalah bukti sukses rekrutmen anggota Polri melalui program pemanduan bakat Rekpro Polri yang dipadukan dengan pelatihan dari pelatih-pelatih hebat di negeri ini seperti Mursalim Bado’o, Tebing Hutapea, Danny Franky Nelson dan I Putu Deddy Mahardika,” ujar Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo sang manager Tim.

” Dengan hasil juara umum 4 di Kejuaraan Internasional Thailand Open 2023 Tim Karate Bhayangkara Presisi optimis merebut juara umum pada perhelatan Pesta Olahraga Kepolisian Dunia di cabang olahraga Karate yang akan diselenggarakan pada 2025 di New York, Amerika Serikat,” ujar Prof. Kikiek.***

Umpatan Jancuk dan Hidden Story Reformasi

Warna-Warni Testimoni di Antara Orasi Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo

BEKASI, JAYAKARTA NEWS – Orasi Kebudayaan Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo kemarin, Selasa (25/7) di kampus Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ) Bekasi, menjadi menarik. Sejumlah sahabat didaulat maju ke podium untuk menyampaikan testimoni.

Kikiek menyampaikan Orasi Kebudayaan berjudul: The Death of The Intellectuals, Nation-State, Saintek, dan Masa Depan Peradaban. Sedangkan testimoni para sahabat, cenderung warna-warni. Tidak sedikit yang mengundang tawa hadirin. Tak sedikit pula yang menguak serpihan sejarah penting.

Komjen Pol Purn Ahwil Luthan. (foto: firman h)

Kenangan Ahwil Luthan

Sebelum Prof Kikiek berorasi, MC mempersilakan sejumlah sahabat menyampaikan testimoninya. Diawali dengan testimoni Komjen. Pol. Purn Drs. Ahwil Luthan, SH, MBA, MM. Mantan Dubes RI untuk Meksiko, merangkap Panama, Honduras dan Costa Rica itu menyampaikan kenangannya bersama Prof Kikiek ke Jerman. Tentu saja ini hanya satu di antara sekian banyak kenangan.

Sekadar pengingat, Ahwil Luthan adalah lulusan Akpol 1968. Ia termasuk seorang polisi yang memiliki karier luar biasa. Sebelum purna tugas tahun 2002, ia pernah menjabat Sekretaris NCB-Interpol Indonesia, Gubernur PTIK, Kepala BNN, Irwasum Polri, hingga Sekretaris Jenderal Polri. Ahwil Luthan juga pernah menjadi calon kuat kapolri pada tahun 2001. Mantan Kepala BNN ini sekarang aktif membantu BNN sebagai Pimpinan Staf Ahli.

Persinggungan eratnya dengan Kikiek terjadi sekitar tahun 1998 saat ia menjabat Gubernur PTIK. Saat itu, Kikiek aktif di LSM RIDeP (Research Institute for Democracy and Peace). Kikiek mengajak “jalan-jalan” ke Jerman, pasca penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur.

Penyatuan kembali Jerman (Jerman Deutsche Wiedervereinigung) berlangsung tanggal 3 Oktober 1990, ketika eks kawasan Republik Demokratis Jerman (“Jerman Timur”) digabungkan ke dalam Republik Federal Jerman (“Jerman Barat”).

“Dalam kunjungan ke Jerman, ikut serta Bapak Suaidi Marasabessy, dan anggota Komisi III DPR RI,” kata Ahwil Luthan, sambil melempar pandang dan menunjuk Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy, yang ada di baris depan hadirin.

Di Jerman, mereka mengunjungi markas batalyon angkatan darat, juga markas kepolisian. Pasca unifikasi Jerman, banyak terjadi cerita unik. Sebagai contoh, tantara Jerman Timur yang berpangkat mayor, pasca penyatuan jerman, justru turun jadi Kapten.

Kikiek mengajak rombongan kecil ke Jerman itu, karena negara ini pernah mendapat julukan “negara polisi”. Jerman memiliki banyak satuan polisi. Di antaranya Polisi Pelindung Negara (Schutzpolizei des Reiches), Polisi Perlindungan Kota (Schutzpolizei der Gemeinden), Polisi Pedesaan Negeri (Gendarmerie), Polisi Lalu Lintas (Verkehrspolizei), Polisi Air (Wasserschutzpolizei), Polisi Api (Feuerschutzpolizei), dan sejumlah polisi pembantu.

Sebagai seorang polisi, Ahwil Luthan tentu sangat berkesan saat mengunjungi markas kepolisian Jerman. Di situ, Ahwil Luthan bertanya bagaimana cara mengatasi aksi demonstrasi. Sebab, saat itu di Jerman masih marak aksi demo pasca menyatunya dua Jerman yang sebelumnya beda ideologi.

Perwira polisi Jerman mengatakan, mereka menghadapi demonstran dengan mengerahkan anggota kepolisian. Luthan bertanya lagi, bagaimana jika aksi demo lebih besar dan melibatkan massa yang juga lebih besar. Dijawab, kepolisian Jerman akan mengerahkan lebih banyak lagi anggota kepolisian. Luthan masih mengejar, bagaimana kalau demonya jauh-jauh lebih besar bahkan berpotensi chaos. Dijawab lagi, “kami punya cadangan mantan polisi. Mereka akan kami kerahkan.”

Luthan pun menohok pada pertanyaan kunci, “Apakah tidak melibatkan tantara?” Dan perwira polisi Jerman menjawab, “Sama sekali tidak. Ini bukan perang. Ini soal HAM, dan tentara tidak dipersiapkan untuk menghadapi demo HAM. Kamilah (polisi) yang harus bertanggung jawab menghadapinya.”

Itulah, tambah Ahwil Luthan, cikal-bakal gagasan pemisahan Polri dari ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). “Pemisahan itu telah melalui banyak kajian, banyak tahapan, dan bersyukur akhirnya bisa berpisah dengan baik-baik. Peran mas Kikiek besar dalam proses pemisahan Polri dari ABRI,” kata Luthan.

Sejarah mencatat, pada 1 April 1999, Presiden B. J. Habibie mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1999 tentang Langkah-langkah Kebijakan dalam Rangka Pemisahan Kepolisian dari ABRI. Sejak diterbitkannya instruksi tersebut, Polri yang tadinya di bawah Mabes ABRI ditempatkan di bawah Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam).

Seremoni serah terima dilakukan di Mabes ABRI, Cilangkap. Bentuknya berupa penyerahan panji-panji Polri dari Kasum ABRI, Letjen TNI Sugiyono, kepada Sekjen Departemen Hankam, Letjen TNI Fahrul Rozi. Kemudian panji-panji tersebut diserahkan kepada Kapolri Jenderal Polisi Roesmanhadi. Momen ini sekaligus menandai perubahan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) menjadi Departemen Pertahanan (Dephan) pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan sekarang Kementerian Pertahanan (Kemhan).

Sukardi Rinakit. (foto: firman h)

Ada Bom Ada Kikiek

Pemberi testimoni berikutnya adalah Sukardi Rinakit, Staf Khusus Presiden bidang Politik. Sebetulnya, namanya dipanggil pertama kali oleh MC, tetapi saat itu dia sedang meninggalkan aula. Karenanya ia mengawali testimoni dengan meminta maaf. “Maaf waktu dipanggil saya sedang ke toilet, lalu ada telepon yang harus saya angkat dari orang yang saya takuti. Ada dua orang yang saya takuti. Pertama pak Jokowi, yang kedua istri,” kata Sukardi, disambut tawa hadirin.

Bicara tentang sosok Hermawan Sulistyo, ia mengaku senang. “Sebab, orang yang kenal mas Kikiek, hanya ada dua ujungnya, sebel atau senang. Nah, saya kebetulan termasuk yang senang dan sayang sama dia,” katanya sambil terkekeh.

Kikiek adalah senior Sukardi Rinakit, sejak dari kampung yang sama di Madiun. “Beliau kuliah di UI, saya juga. Beliau jadi peneliti, saya juga. Beliau menulis, saya juga. Jadi, dalam banyak hal mas kikiek itu patron saya,” kata Kardi pula.

Ihwal karakternya yang sangat provokatif, Sukardi mengatakan, “Sudah lama itu. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ia menunjuk-nunjuk jenderal aktif,” kata Sukardi sambil bercanda.

Dan yang sangat mengesankan Sukardi adalah, di mana ada peristiwa pengeboman, di situ muncul Kikiek. “Jadi bukan kebalik ya…. Bukan di mana ada mas Kikiek di situ ada bom,” kata Sukardi yang disambut gerrr hadirin.

Sukardi benar. Kikiek bisa dibilang orang pertama yang berada di lokasi Bom Bali 1. Ia kemudian terlibat dalam tim investigasi peristiwa 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang dan melukai 209 korban itu.

Kemudian pada kasus Bom Bali 2 (1 Oktober 2005), Kikiek juga hadir. Ia turut menginvestigasi rangkaian pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran dengan sedikitnya 23 orang tewas dan 196 lainnya luka-luka.

Tak hanya itu, nama Hermawan Sulistyo juga lekat dengan penyelidikan berbagai kasus bom lain, seperti Sri Rejeki Semarang dan Bom JW Marriott Jakarta tahun 2003. Keduanya saling berhubungan.

Prof Dr Jarnuzy Gunlazuardi. (foto: firman hidayatullah)

Selalu Ada “Jancuk”

Sahabat Kikiek lain yang memberikan testimoni adalah Prof Dr Jarnuzy Gunlazuardi. Pengajar MIPA UI itu adalah teman Kikiek sejak zaman kuliah tahun 1976 di UI. “Kami sama-sama di FMIPA. Waktu itu dia masih miskin. Kuliah di Salemba, makan combro berapa, bilangnya berapa….,” ujar Jarnuzy yang juga mengundang tawa hadirin.

Persahabatan mereka sempat terputus saat Kikiek melanjutkan pendidikan ke Amerika, sedangkan Jarnuzy ke Jepang dan Inggris. Memang benar. Hermawan Sulistyo sempat menimba ilmu di empat perguruan tinggi di Amerika Serikat. Masing-masing State University of New York (SUNY)-Buffalo, NY, Ohio University (OU)-Athens, OH, Northern Illinois University (NIU), DeKalb, Il, dan Arizona State University (ASU), Tempe Az.

“Meski lama tidak ketemu, ciri khas beliau tidak pernah hilang. Di mana pun ketemu, kata ‘jancuk’ tidak pernah ketinggalan,” katanya disusul tawa. “Jancuk” adalah umpatan khas Surabaya (Jawa Timur). Jancuk juga merupakan ungkapan tanda keakraban yang sering diucapakan oleh orang Jawa Timur.

Terhadap sosok Kikiek, Prof Jarnuzy termasuk satu barisan dengan Sukardi Rinakit. “Benar kata mas Sukardi, sikap orang ke mas Kikiek kalau tidak sebel ya senang. Tapi saya termasuk yang senang. Senang dengan provokasi-provokasinya. Hari ini, membaca judul orasi kebudayaan beliau saja saya jadi terprovokasi,” kata Jarnuzy.

Mas Kikiek, begitu ia menyapa, diakui banyak berkontribusi bagi dunia keilmuan. Sejak menjadi wartawan majalah Gadis, kemudian di LIPI menggagas Lomba Karya Tulis Ilmiah Remaja (LKIR). “Saya senang sekarang masuk dunia perguruan tinggi. Semoga ilmu dan pengalamannya bisa diturunkan kepada generasi muda. Beliau di UBJ, saya di UI, mari berlomba-lomba dalam kebaikan membangun peradaban,” pungkasnya.

Prof Syamsuddin Haris. (foto: firman hidayatullah)

Jarang Masuk Kantor

Testimoni tak kalah menarik disampaikan Prof Syamsuddin Haris, sahabat Kikiek di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang sejak 2021 telah lebur ke badan baru, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) bersama BPPT, Lapan, dan Batan. Syamsuddin Haris sendiri sejak 2019 menjabat Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Mas Kikiek itu sebaya dengan saya, seumuran, lebih tua beliau dua bulan. Kami sama-sama di LIPI selama hampir 35 tahun. Dan yang saya ingat, beliau jarang masuk kantor,” ujar Haris disambut tawa hadirin.

Haris menambahkan, “Yang satu angkatan di LIPI itu mas Kikiek, saya, dan Ikrar Nusa Bakti. Kalau saya dengan Ikrar rajin ngantor, tapi kalau mas Kikiek jarang ngantor. Kadang di RIDep, kadang di kepolisian, pokoknya nggak jelas rimbanya.”

Toh, ia mengakui Kikiek sebagai intelektual aktivis yang multi talenta. Kontribusinya terhadap LIPI khususnya di Pusat Penelitian Politik, sangat besar. “Yang jelas, kalau dia nongol di kantor, pasti ‘geger’. Sebab, selalu saja ada bahan bully dan candaan yang bikin ramai,” kata Haris pula.

Tentang ide dan gagasan, Haris mengakui ada kalanya tidak sejalan dan beda pemikiran dengan Kikiek, sahabatnya. Tetapi dalam hal ‘pendidikan’, Syamsuddin Haris sangat sependapat dengan Kikiek. Bahwa yang namanya sekolah itu penting, mulai dari dasar, menengah, S1, S2, S3, dan harus menganggap sebagai ritual yang harus dijalani. “Terutama bagi akademisi. Termasuk peneliti,” katanya.

Hal terakhir yang disampaikan Syamsuddin Haris adalah soal jaringan. Prof Kikiek dinilai memiliki jaringan yang sangat luas, baik di lingkungan pemerintahan, masyarakat sipil, maupun militer dan Polri.

Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy. (foto: firman hidayatullah)

Diajak Rapat Pendemo

Momen Orasi Kebudayaan Prof Kikiek di Ghra Tanoto, UBJ Bekasi siang itu menjadi lebih istimewa dengan kehadiran Letjen TNI Purn Suaidi Marasabessy. “Tak bisa disangkal, bahwa Prof Kikiek itu seorang provokator, tetapi juga inspirator,” ujar pria kelahiran Maluku, 76 tahun yang lalu.

Suaidi kenal Kikiek tahun 1987. “Waktu itu saya Asops Kasad. Anak buah saya pak Kiki Syahnakri, bagian intel. Dia datang ke ruangan saya, melaporkan adanya undangan rapat dari para aktivis. Sekilas saya dapat laporan tentang kegiatan para aktivis yang berniat melengserkan pak Harto,” kata Suaidi membuka kisah.

Kepada Kiki Syahnakri, Suadi bertanya, “siapa saja mereka?” Dan disebutlah sejumlah nama, di antaranya nama Hermawan Sulistyo.

Melalui sebuah pertimbangan dan pemikiran, Suaidi yang lulusan Akabari 1971 itu menyatakan siap hadir. Tujuannya ingin mengetahui lebih jauh rencana gerakan itu. Hanya dengan menghadiri rapat itu, ia bisa mendengar langsung rencana para aktivis tersebut. Datanglah Suaidi dan staf ke rapat di salah satu hotel di bilangagn Kemang, Jakarta Selatan. Di situlah, ia mengenal Kikiek.

Dalam rapat itulah Suaidi mengetahui dan mendengar langsung kebulatan tekad para aktivis untuk menurunkan pak Harto melalui gerakan reformasi. Nah, topik yang dibahas hari itu lebih kepada bagaimana cara meyakinkan pak Harto untuk mau mundur secara sukarela.

Mendadak Suaidi kaget ketika diberi kesempatan bicara. Sementara dia sadar posisinya sebagai anggota TNI aktif, dan masih dalam jabatan struktural di TNI-AD. Tak hanya itu, Kikiek malah menanyakan bagaimana kalimat yang baik untuk menyampaikan ke pak Harto agar mau turun secara sukarela.

Waktu berlalu, dan meletuslah aksi reformasi 1998 yang didahului krisis ekonomi. Agenda utama aksi adalah melengserkan Pak Harto dari kekuasaan 30 tahun. Suaidi mengikuti dengan sangat intensif hari demi hari, jam demi jam, bahkan menit demi menit. Termasuk saat peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti 12 Mei 1998 yang disebut sebagai puncak reformasi.

Di tengah situasi genting, Suaidi dipindahtugaskan ke Makassar sebagai Pangdam VII/Wirabuana. Setiba di sana, suasana pun tak kalah panas. Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) turun ke jalan. Suaidi memberanikan diri masuk kampus, sekalipun harus melalui negosiasi alot dengan para aktivis kampus.

“Kepada para mahasiswa yang hendak demo saya tanya, untuk keperluan demo, kalian perlu apa?” Para mahasiswa di antaranya ada yang meminta tali rafia untuk membuat pagar pembatas, menghindari masuknya penyusup. Suaidi menyanggupi.

Di hari H, Suaidi tak hanya menyiapkan tali rafia, tetapi mengeluarkan dua tank dari Batalyon Kavaleri 10/Mendagiri untuk mengawal aksi demo dari kampus Unhas dari Tamalanrea Indah ke lapangan Karebosi di pusat kota Makassar. Arak-arakan mahasiswa itu menempuh jarak hampir 10 km.

“Saya kontak Gubernur dan Kapolda untuk bersama-sama mengawal aksi demo anak-anak Unhas, tapi tidak ada yang berkenan. Ya sudah, akhirnya saya sendiri yang ikut turun mengawal long march mahasiswa Unhas ke Karebosi. Di lapangan Karebosi, tau-tau saya didaulat bicara, maka saya naik ke tank dan hanya bisa meneriakkan kalimat ‘hidup reformasi’…. ‘hidup reformasi’…. ,” ujar Suaidi mengenang.

Tak lama dari peristiwa itu, ia ditelepon Pangab Jenderal TNI Wiranto dan diminta segera ke Jakarta. Sebelum berangkat, Pangab perintahkan agar ia (selaku Pangdam) menghubungi semua rektor, dan meminta para mahasiswa menenangkan diri, sebab besok pagi pak Harto akan mengumumkan pengunduran dirinya.

Benar, tanggal 21 Mei 1998, pak Harto lengser keprabon. “Semua kisah di atas, erat sekali benang merahnya dengan peran Prof Kikiek,” kata Suaidi.

Lama setelah peristiwa tersebut, berjumpalah Suaidi dengan Kikiek. Usai bicara kian-kemari, mendadak Kikiek berucap, “Pak Suaidi tahu apa tidak? Pak Harto mau mundur itu setelah mendengar berita ada Pangdam mengawal demonstrasi mahasiswa. Ia mengira TNI ada di belakang aksi mahasiswa, makanya pak Harto langsung mundur.”

Keduanya pun tertawa. (roso daras)

“Hidup Saya sudah Selesai,  tapi Terus Berkarya”

JAYAKARTA NEWS“Hidup saya sudah selesai.” Kalimat pendek, hanya empat kata. Ungkapan ini disampaikan  Prof Hermawan Sulistyo. Rekan-rekan Jayakarta News biasa memanggilnya mas Kikiek. Ia memang teman lama sejak di Harian Jayakarta tahun 1990-an sebelum  ia melanjutkan studi S2 dan S3-nya di Amerika           

Ungkapan di atas nampaknya telah kita dengar dua kali. Pertama, dikatakan mas Kikiek ketika ulang tahun Jayakarta News ke-6, 25 Februari lalu di Bukit Merah Putih, Sentul, Bogor.  Kedua, saat keluarga Jayakarta News halal bihalal, Rabu (24/5)  lalu di Lenteng Agung yang juga merupakan kantor pribadi mas Kikiek. Hadir pula Pemimpin Umum Jayakarta News Martin Hutabarat, dan Pemred Roso Daras.

 “Hidup saya sudah selesai.” Kiranya ini rangkaian kata menarik  untuk direnungkan. Pesan yang simpel, namun layak diurai bagi kita yang tak lagi  muda, atau memasuki usia tua dan jelang senja kala. Frase itu dikatakan di sore hari saat mas Kikiek   diminta Yonathan, wartawan senior Jayakarta News  untuk menyampaikan  tausiyah halal bihalal.

Mas Kikiek dalam tausiyahnya tak mengutarakan yang terkait langsung spiritual keagamaan, seperti bagaimana  agar kita tetap istiqomah, bagaimana berlaku sabar atau menyambung tali silaturahim sebagaimana acap menjadi materi ceramah singkat yang informal. Penasihat Ahli Kapolri ini menceritakan tentang dirinya sendiri, khususnya setelah lolos dari bayang-bayang maut. Namun, tentunya bias dari ucapannya bisa kita bawa dan kita rajut dengan pengalaman-pengalaman kita masing-masing.     

“Hidup saya sudah selesai”.  Agaknya kalimat tersebut mudah dimaknai, namun tentu tak  mudah diikuti. Kata-kata berikutnya kian memperjelas pesannya  bahwa putra-putrinya pun sudah “mentas” alias sudah tak memerlukan biaya studi atau support  materi dari dirinya.  Di sini, bisa dimaklumi, jika ungkapan “Hidup saya sudah selesai”  sebagai kewajaran saja.  Maka wajar pula  jika  spontan salah seorang teman menimpali tapi dengan berbisik ke telinga saya; “ (Kalau) kita masih mikirin uang  kuliah anak”.

Teman yang lain di samping saya berbisik pula;   “Aku suka dengar santapan batin begini.”

Itulah, setiap pesan menimbulkan respon berbeda, dan tentu tafsir berbeda pula.

Memang tak cuma, “Hidup saya sudah selesai.” Mas Kikiek pun mengaku sudah tak ada ikatan dengan materi.   Ia bercerita pula, bahwa  dirinya pernah sakit parah harus terbaring selama enam bulan di tempat tidur. Ia terkena stroke lalu tak sadarkan diri pula. Ia telah mati suri dua kali. Hilangnya kesadaran kedua akibat terserang malaria setelah berkunjung ke Papua.

Benar-benar tak ingat sesuatu apapun  ketika tidur panjang dan siuman. Di saat hidupnya koma, banyak dokter, termasuk anak-anaknya yang juga dokter tak punya harapan lagi  ia bisa hidup dan bahkan sehat kembali  serta melakukan aktivitas seperti sedia kala. Menjadi pembicara terkait masalah politik, dan juga kasus-kasus yang berhubungan dengan kepolisian. Pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 1957 ini aktif mengajar di lingkungan TNI/ Polri, seperti di Lemhannas, Sesko TNI, Sespimti Polri, Sespimmen Polri dan semua jenjang pendidikan Polri.  Bahkan kemudian bisa tetap rutin bermain karate. Olahraga yang ditekuni sekitar 40 tahun dari hidupnya.     

Tidur panjang berhari-hari, dan ruhnya  masih kembali  ke badan wadag, tentu ini  pun menjadi perjalanan  batin dan spiritual yang membekas, atau bahkan punya daya pagut yang tentunya luar biasa bagi yang bersangkutan.

Bayangkan, tak ingat apa-apa ketika koma. Jantung tentu berdetak, namun sukma entah dimana dan kembara kemana. Nalar kita acap tak menjangkau terkait orang-orang yang koma namun kemudian hidup normal lagi seperti semula.

Koma,  fase dimana seseorang  berada dalam dimensi antara hidup dan mati.  Fase ini bisa terjadi berjam-jam, berhari-hari, minggu, bulan bahkan  bertahun-tahun.

 Kata-kata yang disampaikan mas Kikiek,  “Hidup saya sudah selesai” , lalu “Saya sudah tidak ada keterikatan dengan materi”  yang tercetus setelah sakit  menimpanya dan mati suri, kiranya bertolak  dari pergulatan pasca kesadarannya pulih kembali.  Setelah tahu pula tentunya, bagaimana reaksi orang-orang terdekat, terutama keluarga.

Untuk lahirnya kata-kata yang mirip permata semacam itu, yang mengarah pada pencapaian maqom tertentu, dalam pandang orang-orang   tertentu pula, seseorang kadang harus dihadapkan atau mengalami  benturan-benturan. Baik menimpa secara fisik maupun batin atau keduanya. Dan dalam “hukum semesta” seorang insan   perlu mengalami benturan, atau layak “dibenturkan” guna menemukan nilai-nilai, atau untuk menapak tangga naik.  Karena setiap kejadian tak lepas dari hadirnya hikmah dan pelajaran-pelajaran. Dan semesta konon  senantiasa menghamparkan hal itu,  terutama bagi orang-orang yang  mau berpikir.    

Setelah merasa “hidup sudah selesai”, lantas apa yang  akan terus dilakukan?  

Sebagai ilmuwan, dan purna tugas dari LIPI yang lebur menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hermawan Sulistyo akan terus menulis buku. Terus berkarya melahirkan  buku-buku yang mencerminkan, memotret,  dan  menyuarakan gerak zaman,  semacam karya sebelumnya; Palu Arit di Ladang Tebu, Potret Transisi Reformasi,  Potret Akhir Orde Baru,   Bom Thamrin, dan  masih banyak lainnya, seperti Polri dalam Arsitektur Negara, Jenderal 600 .

Hidup pada esensinya tak pernah usai, lebih-lebih  bagi para pemikir. Yang berbatas adalah tugas rutin atau terkait dengan institusi, suatu lembaga. Tapi untuk negeri, dan pengabdian pada kemanusiaan berlangsung selamanya,  sampai Tuhan memanggilnya. Kematian !

Guru Besar Universitas Bhayangkara Jaya ini begitu enteng dan santai bicara kematian, bahkan beberapa kali ia mengatakan tak ingin mati terlalu tua. “Ga ada yang menangisi. Ga ada yang layat, “ ujarnya sembari tertawa.  *** iswati

Prof Kikiek Diperiksa Polisi

JAYAKARTA NEWS— Hari ini lima penyidik Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya memeriksa Prof Hermawan Sulistyo selama lebih dari dua jam. Kikiek, nama panggilan Prof Hermawan Sulistyo diperiksa terkait laporannya ke PMJ tentang kasus dugaan penggelapan dana pembagunan Dojo Inkai Pusat oleh Pimpro AB.

Prof Kikiek memenuhi panggilan penyidik PMJ dengan membawa segepok barang bukti yang diperlukan. Kikiek didampingi pengacara Sonny Warsito SH dan enam anggota KPI (Komite Penyelamat Inkai).

Menurut Kikiek usai diperiksa, penyidik menelusuri aliran dana masuk dan keluar ke mana saja serta untuk apa. “Penyidik menelusuri semua kemungkinan,” ujar Kikiek.

Usai diperiksa, rombongan KPI langsung menuju Direktorat Tindak Pidana Umum (Tipidum) Bareskrim Mabes Polri untuk kasus terkait yang ditangani PMJ. Di Tipidum Bareskrim Mabes Polri KPI melaporkan Irwan Arief dari Sulsel dan Ulul Azmi dari Lampung. Tapi Kikiek belum bersedia mengungkapkan isi laporan polisi yang ke Mabes. “Nanti saja. Biarkan polisi menangani dulu,” ujar Kikiek.

Sebegaimana diketahui, pada 9 Maret 2023 lalu, Ketua Komite Penyelamat INKAI Prof Hermawan Sulistyo resmi melaporkan Wakil Sekjen PP INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) LM Arya Bima Yudiantara ke Polda Metro Jaya dalam perkara Penggelapan Jabatan. Tercatat kerugian yang dilaporkan terkait perkara tersebut sekitar Rp2 Miliar.

Sedang para korbannya, sebagaimana Laporan Hermawan Sulistyo teregistrasi dengan nomor: LP/B/1276/III/2023/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 09 Maret 2023, adalah Anggota INKAI Seluruh Indonesia. “Jabatannya Wakil Sekjen Pengurus Pusat INKAI tapi dalam kasus ini dia Ketua Pelaksana Pembangunan Dojo INKAI. Saya juga baru tahu bahwa nama saya dipakai sebagai Pengawas. Padahal tidak pernah diajak rapat, tidak pernah diberi tahu, tdk pernah dimintakan izin, itu tidak pernah,” ungkap Prof Kikiek, sapaan akrab Hermawan Sulistyo kepada wartawan di Polda Metro Jaya seusai pelaporan, Kamis (9/3/2023).***/ebn

Komite Penyelamat Inkai Resmikan Sekretariat Perjuangan

JAYAKARTA NEWS— Ketua Komiite Penyelamat Inkai (KPI) Profesor Hermawan ‘Kikiek’ Sulistyo, MA,PhD,APU mempertegas perlawanannya atas hasil Musyawarah Keluarga Besar (MKB) Institut Karatedo Indonesia (Inkai) yang digelar di Bogor 17-19 Februari lalu dengan meresmikan Sekretariat bersama Renzo di Kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (15/3) petang.

Sekretariat itu tepatnya dijadikan Markas Komando  pejuangan bagi KPI selanjutnya. Tampak hadir atlet-atlet karate binaan Dojo Renzo United, senior dan dewan guru Inkai, Ketua Pengurus Provinsi Inkai DKI Jakarta Mayjend TNI Heriyanto Syahputra MM serta tokoh pers dan politisi Dr. Martin Hutabarat, SH. 

Setelah diawali dengan arahan Ketua KPI dan sambutan dari salah satu kandidat MKB Inkai di Bogor Jenderal Heriyanto, puncak acara peresmian kantor bersama sebagai markas penyelamatan Inkai agar kembali pada marwah sejatinya itu ditandai dengan pemotongan kue tart bersegi empat. Istimewanya pemotongan kue dilakukan secara bersama antara Ketua KPI Kikiek Sulistyo dengan atlet yunior peraih medali emas Kejuaraan dunia  karate  “silent knight” di Malaysia awal Tahun 2023, karateka Sausan Aulia Sesi, juara pertama Komite yunior wanita minus 59 kg.

Tentu saja suasana istimewa dan suprise bagi Oca (17) sapaan akrab Sausan. Dia mendapat banyak aplaus dari rekan-rekan karateka yang hadir. Acara jadi  tambah meriah sekaligus haru bagi siswi kelas XI SMAN 12 Tangerang Selatan ini.  “Kamu harus bisa jadi atlet dunia dan jawara Asia komite putri. Jangan takut muka bonyok,”  Kikiek berseloroh memberi semangat sambil menjabat tangan  atlet yang lincah dan sedikit tomboy itu.

Dalam arahannya, Ketua KPI menceritakan kisah perjalanan Inkai setidaknya dalam 20 tahun terakhir. Banyak suka duka merawat organisasi karateka tertua ini. Namun diakui, upaya yang paling sulit dilakukan adalah mengubah paradigma karate sebagai seni bela diri yang kini sudah mulai bergeser sebagai organisasi olahraga prestasi.  Karena itu, marwah organisasi  karate menegakan  disiplin dengan integritas kepribadian yang tinggi serta  taat pada kejujuran, harus terus dijaga.

Salah satunya adalah taat  serta jujur  pada landasan berorganisasi  yaitu patuh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Inkai. ”Ini yang tidak diperlihatkan dalam MKB Inkai di Bogor. Makanya kita buat gerakan pelurusan marwah Inkai” tegas karateka yang pernah kuliah dan khusus berlatih karate di tempat asalnya Jepang.

Pada kesempatan sambutan lain,  Ketua Inkai DKI Jakarta Mayjend Heriyanto mengajak rekan-rekan karateka yang tergabung dalam KPI  untuk tetap semangat dan merawat kebersamaan dalam perjuangan meluruskan nilai-nilai luhur karateka.  Dia berharap sembilan Pimpinan Propinsi Inkai yang mendukung dirinya mencalonkan diri pada MKB  bisa bersatu  dalam  rumah KPI.

Walau diakui dia kecewa dengan produk MKB. Upaya-upaya komunikasi dengan para Dewan Guru Inkai dan pengurus sudah dilakukan. Sayangnya tidak berbuah positif.  “Makanya jangan berusaha cari uang di organisasi. Mari kita satu semangat sama-sama membangun prestasi, mengembangkan dojo dan membina atlit untuk raih prestasi dunia,” ajak Ketua Pengprop Inkai DKI Jakarta itu serius. (nat)

Ketua KPI Prof Hermawan Sulistyo: Kami Siap Hadapi Gugatan Balik Arya Bima

JAYAKARTA NEWS— Ketua Komite Penyelamat INKAI Prof Hermawan Sulistyo menegaskan, pihaknya siap menghadapi kemungkinan gugatan balik dari pihak Arya Bima Yudiantara, Wakil Sekjen PP INKAI, jika yang bersangkutan tidak terima atas laporan polisi yang dibuatnya pada Kamis (9/3/2023).

“Ya, itu saya tunggu! Kalau saya bisa membuktikan bahwa itu adalah penggelapan, trus apa?” Tegas Prof Hermawan Sulistyo saat ditanya wartawan apakah siap jika pihak tergugat (Arya Bima Yudiantara) melakukan gugatan balik.

Sebagaimana diketahui, Kamis (9/3/2023) Ketua KPI Hermawan Sulistyo didampingi kuasa hukumnya Sonny Warsito  dan beberapa anggota KPI, resmi melaporkan Wakil Sekjen PP INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) LM Arya Bima Yudiantara ke Polda Metro Jaya dalam perkara Penggelapan Jabatan.

Tercatat kerugian yang dilaporkan terkait perkara tersebut sekitar Rp2 Miliar. Sedang para korbannya, sebagaimana Laporan Hermawan Sulistyo teregistrasi dengan nomor: LP/B/1276/III/2023/SPKT/Polda Metro Jaya tertanggal 09 Maret 2023, adalah Anggota INKAI Seluruh Indonesia.

Untuk mendukung laporan tersebut, pihak KPI juga menyertakan sejumlah dokumen untuk memperkuat laporannya. Di antaranya adalah laporan pertanggung jawaban keuangan pada saat Musyawarah Keluarga Besar (MKB) INKAI pada Februari 2023 lalu. “Dalam laporan pertanggung jawaban saat MKB tidak dicantumkan pembangunan dojo. Selain itu, kita juga menyertakan donasi-donasi dari para donator juga iuran anggota INKAI,” kata kuasa hukum Sonny Warsito.

Bicara tentang langkah KPI selanjutnya, Prof Kikiek, sapaan akrab Hermawan Sulistyo, pihaknya akan terus mengumpulkan data-data. “Kami jalan terus sampai ada MKB (Musyawarah Keluarga Besar) Luar Biasa. Itu adalah target paling dekat. Setelah itu, kita akan perbaiki,” ujarnya.

Sekjen PP INKAI dua periode ini juga menegaskan bahwa bukan soal kekekuasaan, atau keinginannya menjadi Ketua. Namun yang diinginkan adalah perbaikan.

Lalu dia pun menyinggung bahwa penyalahgunaan kewenangan telah berdampak serius pada prestasi atlet INKAI. Kalau sebelumnya atlet INKAI berada pada ranking satu nasional, kini melorot bahkan sampai-hanya- rangking 4. “INKAI melorot dari ranking satu kini jadi ranking empat dalam Kejurnas Forki. Itu adalah salah satu dampak. Uang dipakai bukan untuk membangun prestasi,” tandasnya.

Karenanya, lanjut Kikiek, pihaknya ingin ada MKB Luar Biasa.***din

Hebat! Renzo United Juara Umum 2 di Malaysia

KUALA LUMPUR, JAYAKARTA NEWS – Prestasi gemilang ditunjukkan 12 karateka belia Renzo United di Malaysia. Mereka berhasil menyabet gelar Juara Umum 2 pada 12th Silent Knight International Karate Cup di Titiwangsa Indoor Stadium, Kuala Lumpur Malaysia, 3-5 Maret 2023.

“Sejak hari pertama, mereka sudah menggila. Di nomor anak-anak usia 10 – 11 tahun, langsung menyabet emas,” ujar Manajer Tim merangkap Pelatih Kepala Tim Renzo United, I Putu Deddy Mahardika.

Ditambahkan, pada pertandingan hari kedua dan ketiga, anak-anak di bawah asuhan Prof. Dr. Hermawan Sulistyo (Prof. Kikiek) menunjukkan kelasnya sebagai karateka muda pilih tanding.

Alhasil, tim yang hanya beranggotakan 12 karateka ini berhasil meraih 8 emas 1 perak dan 1 perunggu dan menduduki posisi juara umum 2 di bawah Persatuan Karate-do Negeri Selangor dengan perolehan emas sama (8 emas), 13 perak dan 14 perunggu.

Aquila (sabuk merah) menendang kepala lawan

Ajang 12th Silent Knight International Karate Cup 2023 kali ini diikuti oleh 1.200 atlet dan 67 kontingen dari 7 negara di antaranya Indonesia, tuan rumah Malaysia, Bangladesh, Singapura, India, dan Nepal.

Putu Deddy Mahardika mengatakan, 12 karateka terpilih mewakili Renzo United dengan berbagai kriteria. Di antaranya juara Best of the Best pada Kejuaraan Renzo International Open Karate Championship Mendagri Cup yang diselenggarakan tahun lalu di GOR Ciracas.

Kriteria lainnya adalah rekam jejak prestasi untuk para peraih medali emas bagi Tim Renzo United pada 3 Kejuaraan Nasional Terbuka yang diikuti Tim Renzo United, seperti Piala Raja di Yogyakarta, Piala Walikota Surabaya, dan Piala KSAL 2 di Yogyakarta. Sedangkan kriteria lainnya adalah hasil pantauan tim pemandu bakat Renzo United.

Karateka binaan Renzo United bukan hanya yang ada di Depok dan sekitarnya tempat home base Dojo Renzo, namun juga tersebar di Bali, Madura, Bengkulu dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Gung Ami, menyarangkan pukulan ke wajah lawan

Sebagai komandan tim Renzo United, Putu Deddy Maharrdika dibantu pelatih Donaldo Wowor serta dua official, Richard Ucok Manalu dan Firman Hidayatullah.

Di kesempatan terpisah, patron Dojo Renzo, Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo menyatakan rasa terima kasih dan bangganya kepada delegasi yang baru pulang dari Malaysia. Prestasi ini ia dedikasikan bagi Komite Penyelamatan INKAI (KPI). “Di saat yang mengaku pengurus pusat INKAI tidak ada prestasinya, saya ingin menunjukkan bagaimana pembinaan prestasi karate yang benar,” ujar Kikiek, yang juga Ketua KPI Inkai itu.

Bahkan, di saat PP Inkai ingkar atas janjinya mengikuti turnamen karate internasional, Renzo United justru rutin mengikuti berbagai ajang kejuaraan atau turnamen karate, di dalam dan luar negeri, serta meraih prestasi yang mengharumkan bangsa dan negara.***din

PP Inkai Harus Dijebol dan Dibangun Tatanan Baru

JAYAKARTA NEWS— Sejatinya, INKAI (Institute Karate-Do Indonesia) adalah perguruan karate tertua dan terbanyak di Indonesia. Sayang, dalam perjalanannya banyak oknum pengurus yang melenceng. Akibatnya, terjadi degradasi, baik di bidang prestasi maupun moral.

Pernyataan tegas itu disampaikan Prof Hermawan Sulistyo, sosok senior yang sudah puluhan tahun malang-melintang di dunia karate, termasuk di kepengurusan INKAI. “Per Desember 2022, saya mundur dari kepengurusan INKAI. Mundur bukan berarti apatis, tetapi mundur untuk maju menjebol dan membangun tatanan baru di tubuh organisasi INKAI pusat,” ujar Kikiek, di kantornya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Laiknya “king maker”, ia menemukan sosok “jago” yang dinilai pantas menduduki kursi tertinggi di Pengurus Pusat INKAI. Sosok itulah yang sekarang ia dukung. “Saya akan fight hingga dia terpilih sebagai Ketua Umum PP INKAI dalam MKB mendatang. Setelah itu, saya fokus mengurus dojo saya. Dojo Renzo,” ujar doktor lulusan Arizona State University, Amerika Serikat, itu.

Sosok yang dimaksud Prof Kikiek adalah Mayor Jenderal TNI Herianto Syahputra, S.I.P., M.Si. Sebagai perwira tinggi TNI-AD, ia menjabat Koordinator Staf Ahli Panglima TNI. Sedangkan, di INKAI, Heri adalah Ketua Pengprov Inkai DKI Jakarta 2019-2023.

Prof Kikiek tampil di barisan paling depan sebagai pendukung Mayjen Herianto memuncaki kepengurusan INKAI. “Visinya sangat bagus. ‘INKAI Prestasi Mendunia, Baik Prestasi Olahraga Maupun Prestasi Moral’,” tegas Kikiek.

Problem utama INKAI saat itu memang dua hal itu. Tidak ada prestasi yang mendunia, dan moral yang buruk.

“Sejak MKB tahun 2017, sudah menjalankan praktik kotor untuk meraih dukungan. Dalam perjalanan, juga banyak melanggar norma-norma karate. Ada banyak. Satu saja saya sebut sebagai contoh. Sejak tahun 2015 PP INKAI tidak pernah ada laporan pertanggungjawaban keuangan yang jelas,” tambahnya.

Sampai pada tahap tertentu, Kikiek masih berharap ada perubahan, dan bertahan. Akan tetapi, ketika pengurus pusat INKAI mulai menginjak-injak aturan dan etika, nalar sehatnya berontak. Ditambah, praktik-praktik intimidatif terhadap atlet karateka. “Begitu mereka mulai menginjak anak-anak (karateka), naik darah saya!” tandas Prof Hermawan Sulistyo.***din

Pluto Telah Wafat

Orasi Kebudayaan Hermawan Sulistyo

JAYAKARTA NEWS – Tanggal 4 Juli bukan hanya Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Tanggal 4 Juli adalah hari kemerdekaan Hermawan Sulistyo. Merdeka dari rahim ibunya. Merdeka merayakan hari lahirnya, seperti yang terjadi di auditorium Grha Tanoto Kampus Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), Bekasi, Senin (4/7/2022).

Peringatan hari lahir Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo diwarnai orasi kebudayaan yang diberinya judul “Collective Violence dalam Trajektori Peradaban”. Sejak pagi, para tamu-undangan sudah hadir di komplek Ubhara Jaya, Jl. Raya Perjuangan, Bekasi Utara.

Sebagian undangan menyaksikan orasi kebudayaan dari tenda ber-AC di area terbuka depan Masjid Ulul Albab Ubhara Jaya. Sebagian yang lain, utamanya tamu VIP dan VVIP langsung diarahkan menuju Auditorium Tanoto. Tampak di antara mereka Mantan Kapolri Jenderal Pol Purn Prof Dr Chairuddin Ismail yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Brata Bhakti. Yayasan yang menaungi Ubhara Jaya.

Tamu penting lain Ketua Pengurus Yayasan Brata Bhakti Irjen Pol Purn Dr Winarto Hadi, Komisioner Kompolnas Poengki Indarti SH, LLM, Duta Besar RI untuk Tunisia, Prof Ikrar Nusa Bhakti, PhD, dan lain-lain. Duduk di sebelah Prof Hermawan Sulistyo adalah Rektor Ubhara Jaya, Irjen Pol Purn Dr Bambang Karsono.

Yang menarik, setiap tamu dan undangan mendapatkan dua buah buku tipis. Satu buku berjudul Pluto Telah Wafat, Collective Violence dalam Trajektori Peradaban, naskah orasi kebudayaan Hermawan Sulistyo. Buku kedua, Curriculum Vitae (Agak Lengkap, Minus Karya Tulis) Prof (Ris) Hermawan Sulistyo (demonstran provokator). Keduanya terbitan Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya.

Orasi kebudayaan Prof Kikiek menjadi berbeda dari kebanyakan acara serupa. Setelah didahului lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya oleh Firman “K” Hidayatullah, dilanjutkan atraksi seni bela diri karate, baik kata maupun kumite oleh Renzo United. Termasuk penampilan karateka Ubhara Jaya, peraih medali perak PON XX Papua 2022, Nadine Rizki Athira (mahasiswa Fakultas Psikologi).

Setelah itu, lantunan testimoni dari sahabat dan kerabat dekat Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo. Orasi lengkap Prof Kikiek bisa disimak di YouTube Ubhara Jaya berikut ini: