AS Izinkan Tim Robotik Afghanistan Ikuti “FIRST Global Challenge”

Tim robotik Afghanistan yang beranggotakan para remaja putri, tiba di bandara Kabul pada hari Kamis untuk menerima visa A.S. mereka, untuk mengikuti kompetisi robotik “FIRST Global Challenge” di Washington, D.C. setelah sebelumnya pemerintah Amerika Serikat dua kali menolak permohonan visa mereka untuk masuk ke Amerika.

Tim robotik Afghanistan itu akan bersaing dengan kompetitor mereka dari berbagai belahan dunia lainnya. Mereka mendapat ijin untuk masuk ke Washington, setelah Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyetujui permintaan dari Departemen Luar Negeri untuk mengizinkan perjalanan mereka ke Washington, DC.

Pekan depan mereka akan ambil bagian dalam kompetisi robotika internasional yang bertajuk “FIRST Global Challenge” itu. Salah satu anggota tim robotik Afghanistan, Lida Azizi, remaja yang berusia 15 tahun itu, mengatakan bahwa mereka sangat bersemangat untuk mengikuti kompetisi itu setelah mendapatkan visa ke Amerika.
“Afghanistan adalah negara yang dilanda perang yang sulit bagi perempuan untuk meningkatkan diri, tapi sekarang ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk mengambil bagian dalam kompetisi ini dan juga sangat bagus untuk negara kita juga, ” kata Lida.

Sebelumnya kritikus berpendapat bahwa agen A.S. menolak kesempatan para gadis untuk tidak membiarkan mereka bersaing di A.S. melawan lebih dari 160 negara. Keputusan sebelumnya juga mengkritik Presiden A.S. Donald Trump, yang berusaha melarang orang-orang Muslim memasuki negara Amerika, walaupun Afghanistan saat ini tidak berada dalam daftar larangan perjalanan yang ditetapkan Trump. Tapi kini para gadis itu dalam perjalanan ke Amerika, dan siap menunjukkan kepada dunia apa yang bisa mereka lakukan.
[RTR]

Perang, Buta Huruf dan Harapan di Afghanistan

Program Mengajar bagi Afghanistan ingin memastikan anak-anak perempuan punya kesempatan yang sama dengan anak laki-laki untuk memperoleh pendidikan di sekolah.

 

DULU  Amerika dan Inggris mengajak lulusan-lulusan terbaik universitas menjadi guru di daerah-daerah terpencil dan miskin. Program ini dikenal dengan sebutan ‘Teach for America’ dan ‘Teach First’. Dan program ini sukses besar dan jadi salah satu penggerak modernitas Amerika dan Inggris masa itu.

Sekarang, ada sejumlah negara mencontoh gerakan mengajar ini, India salah satunya. Namun bagaimana model ini bisa diterapkan di negara yang sistem pendidikannya telah hancur lebur oleh empat puluh tahun perang dan konflik —- tepatnya di Afghanistan?

Jawaban pertanyaan ini diungkap di provinsi Nangarhar di Afghanistan timur. Sekarang, sekitar 80 lulusan universitas Afgan mengajar 23.000 anak-anak di 21 sekolah, yang menjadi bagian dari skema ‘Mengajar bagi Afghanistan’ dan baru diluncurkan tahun ini.

Program ini merupakan wujud nyata dari impian pendiri dan kepala program Rahmatullah Arman, yang pada usia 26 tahun menerima tantangan yang dihindari oleh aktivis sosial paling berani. Dia kembali ke Afghanistan tahun 2011 setelah lulus dari Universitas Pune di India —– dimana dia juga jadi relawan guru di program Mengajar India.

Dia sangat terkesan dengan kemajuan, yang disaksikannya, di sekolah-sekolah India. Dia memutuskan untuk melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Namun pertama-tama dia haruslah mengetahui apa saja yang tersisa dari sistem pendidikan di Afganistan dan situasi sosial seperti apa yang harus dia hadapi.

Dia syok sekaligus terinspirasi. Setelah rekonstruksi selama 14 tahun, yang didukung AS, Afghanistan masih jadi negara dimana 3,6 juta anak-anak tidak bersekolah, setengah dari semua guru tidak berkulifikasi, 75% anak-anak keluar dari sekolah pada usia 15 tahun, dan tingkat buta huruf warga dewasa tetap membandel pada angka 60%.

“Buat saya, inspirasi terbesar adalah ketika saya masuk sekolah-sekolah yang tidak ada bangku dan meja, sering juga tidak ada guru, tapi sekolah dipenuhi oleh murid,” ujar Arman di Kabul.

“Saya melihat ibu-ibu mengantar anak–anak mereka ke sekolah, kendati selalu ada ancaman ledakan bom, dengan segala masalah keamanan yang sangat mereka sadari, dan tetap saja sekarang ini ada sembilan juta anak-anak bersekolah.”

“Saya melihat mereka memiliki harapan  yang bernyala-nyala, semangat untuk tidak menyerah. Mereka telah kehilangan masa depan, tapi anak-anak mereka mungkin punya masa depan.”

Dia yakin dia bisa memberi masa depan itu kepada anak-anak. “Bukan hanya pendidikan, tapi pendidikan yang benar-benar bagus, bukan oleh orang lain tapi oleh orang Afghan sendiri.”

Karena itulah, sejak tahun 2013 dia memulai membanguan yang akhirnya menjadi Mengajar bagi Afghanistan dengan bantuan dari organisasi-organisasi pendidikan global, Mengjar untuk Semua, yang dibentuk bersama dengan Mengajar untuk Amerika (Teach for America) dan Mengajar Pertama (Teach First) pada tahun 2007).

 

Baca halaman selanjutnya

Usir Taliban, ISIS Kini Kuasai Pegunungan Tora Bora

Seorang tentara Afghanistan saat terjadi serangan oleh gerilyawan ISIS di Provinsi Nangarhar pada bulan Mei lalu. Dalam upaya mengusir Taliban dari Tora Bora, para petempur ISIS mendapatkan basis yang mudah dikuasai, kata seorang pejabat Afghanistan. Kredit Ghulamullah Habibi / European Pressphoto Agency

 

 

 

KAWASAN pegunungan “Red Mountains” yang pernah menjadi benteng pertahanan Osama bin Laden di Afghanistan, Tora Bora, jatuh ke tangan petempur ISIS, yang dapat dimaknai sebagai kemenangan strategis dan simbolis yang signifikan.

Pejuang Taliban yang sebelumnya menguasai kompleks goa dan terowongan yang luas tersebut, telah melarikan diri pada Selasa (13/6/2017) malam, setelah ISIS melakukan penyerangan, demikian kesaksian yang disampaikan oleh penduduk desa setempat yang melarikan diri dari wilayah tersebut pada hari Rabu (14/6/2017).
Hazrat Ali, seorang anggota Parlemen dan  panglima perang terkemuka dari daerah tersebut, yang pernah membantu Amerika dalan upayana menangkap Osama bin Laden di Tora Bora pada tahun 2001, mengatakan bahwa serangan tersebut tidak lepas dari langkah Amerika untuk menjatuhkan apa yang disebut sebagai “mother bomb” terhadap ISIS yang bertahan di terowongan di Achin pada April lalu. Bom seberat 20.000 pon itu, dianggap sebagai bom non-nuklir terbesar yang pernah dikerahkan.

ISIS kemudian memutuskan untuk mengalihkan pengungsiannya ke gua dan terowongan di Tora Bora, kata Ali. “Sekitar 1.000 militan ISIS berkumpul di dekat Tora Bora, untuk menguasai daerah tersebut,” kata Ali.
“Saya memberi tahu pasukan pemerintah agar menyerang mereka, dan saya katakan kepada mereka, bahwa mereka (ISIS) mencoba menguasai Tora Bora, tapi mereka (pihak pemerintah) tidak memperhatikannya,” tambah Ali.

Seorang pejabat kepolisian Afghanistan setempat, juga mengkonfirmasi bahwa benteng Tora Bora telah jatuh ke tangan ISIS. “ISIS telah menguasai Tora Bora dan daerah sekitarnya,” katanya. “Para sesepuh suku ada di kantor saya. Mereka semua menyelamatkan diri dari daerah tersebut tadi malam.” Pejabat itu bersedia memberikan keterangan, dengan syarat merahasiakan jati dirinya, dengan alasan dirinya tidak berwenang untuk berbicara dengan pers.

Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban di daerah itu, membantah bahwa Tora Bora telah jatuh ke tangan ISIS. “Pertarungan sedang berlangsung di daerah Tora Bora antara ISIS dan mujahidin kami,” kata Mujahid melalui layanan pesan Viber. “Ini adalah garis depan antara mujahidin dan ISIS. Tidak ada yang maju di daerah ini. ”
Dia menuduh Amerika Serikat telah melakukan serangan udara untuk mendukung negara ISIS tersebut, namun demikian pejabat dan warga setempat menolak mendengar hal ini.

Menurut kesaksian warga, Taliban telah melarikan diri dari kawasan Tora Bora. “Taliban melarikan diri dari daerah itu tadi malam, dan meninggalkan kami kepada ISIS bersama wanita dan anak-anak kami,” kata Juma Gul, seorang sesepuh suku dari Lembah Suleymankhel, dekat dengan Tora Bora. Juma menambahkan, dia berada di antara ratusan keluarga yang melarikan diri dari daerah tersebut setelah ISIS mengambil alih. “Tidak ada perlawanan dari Taliban terhadap ISIS, dan suku setempat tidak bisa melawan mereka lagi. Jadi, kami baru saja lolos (dari maut).”

Dengan penguasaan di Tora Bora, menurut Ali, militan kini memiliki basis yang mudah pertahankan di Tora Bora. Lokasi itu sangat strategis karena mudah untuk mengakses ke banyak wilayah lain di Provinsi Nangarhar melalui pegunungan Spin Ghar di sepanjang perbatasan Pakistan, tempat Tora Bora berada. “ISIS memiliki benteng pertahanan dan akan mengambil-alih daerah ini satu per satu,” katanya.

Ali memiliki pengalaman yang luas dalam memerangi Al Qaeda di daerah tersebut, namun juga telah dituduh membantu Bin Laden melarikan diri dari Tora Bora pada bulan Desember 2001, yang dilaporkan mengkhianati sekutu Amerika dan Afghanistan saat mereka bertemu dengan pemimpin Al Qaeda. Atas tuduhan tersebut, Ali membantah telah melakukannya.

ISIS di Khorasan, tidak memiliki hubungan langsung dengan Al Qaeda, yang sebagian besar merupakan kekuatan dri daerah tersebut. Pada awalnya, ISS dibentuk oleh elemen-elemen Al Qaeda, dimana kedua kelompok itu memiliki banyak kesamaan doktrinal.

Pasukan pemerintah Afghanistan dan sekutu koalisi mereka di wilayah Tora Bora, telah terlibat pertempuran baru-baru ini melawan Taliban, kelompok yang telah mengakar di sana, dengan didukung oleh suku-suku setempat di sepanjang perbatasan pegunungan dengan Pakistan tersebut. Namun sejak Maret lalu, pasukan Afghanistan yang didukung oleh pasukan Operasi Khusus Amerika, telah melakukan upaya perlawanan yang kuat terhadap ISIS di Distrik Achin, dan juga di daerah Spin Ghar, yang lokasinya berada sekitar 50 mil ke timur Tora Bora.

Dalam pertempuran di distrik tersebut pada tahun ini, sebanyak enam tentara Amerika telah tewas.
Militer Amerika mengatakan telah membunuh ratusan pejuang ISIS di daerah Distrik Achin, termasuk “emir” ISIS di Khorasan, Sheikh Abdul Hasib. Hasib adalah mantan komandan Taliban Pakistan, yang memisahkan diri untuk bergabung dengan negara ISIS. Kedua kekuatan tersebut, ISIS dan Taliban telah bersaing ketat dalam dominasi di daerah yang mereka kendalikan, namun pejuang ISIS yang lebih ekstrim telah mendominasi Distrik Achin serta beberapa wilayah lainnya di bagian selatan Provinsi Nangarhar.

Pejabat Taliban prihatin dengan seruan ISIS, yang umumnya adalah kalangan muda, karena tidak sabar dengan kemajuan yang dicapai dalam kurun 15 tahun terakhir ini.

Di daerah Tora Bora, warga marah kepada Taliban dan pemerintah, karena membiarkan ISIS mengambil alih wilayah tersebut. Malak Tor, seorang tetua suku dari Distrik Pachir Agam, di mana Tora Bora berada, mengeluh bahwa tuntutan warga terhadap pemerintah agar menyerang ISIS yang berlindung di Tora Bora diabaikan.
Dengan menguasai kawasan Tora Bora, ISIS telah mengambil alih penguasaan sebuah tambang marmer besar dan juga sebuah depo bahan bakar. “Sekarang mereka menemukan sumber keuangan untuk mereka sendiri, dan akan sangat sulit untuk mengusir mereka dari Tora Bora,” kata Tor.

Presiden Ashraf Ghani pada Rabu (14/6/2017) telah memerintahkan Korps Angkatan Darat Afghanistan ke-201 untuk bergerak melawan ISIS di distrik-distrik, termasuk di antaraya di daerah Tora Bora, demikian penjelasan Attaullah Khogyani, juru bicara gubernur provinsi Nangarhar. Alim Eshaqzai, wakil gubernur setempat mengatakan, sesegra mungkin para pejabat keamanan akan memulai operasi penyerangan baik dari kekuatan di darat, udara dan serta artileri.***

sumber: NYT, VOA

Masa Depan Suram Hantui Afghanistan

Tentara Amerika Serikat bertempur melawan kelompok ISIS di Distrik Khot Provinsi Nangarhar, Afghanistan, pada April 2017. [Foto: Ghulamullah Habibi/European Pressphoto Agency]

MASA depan Afghanistan kini menjadi sebuah tanda tanya, menyusul pernyataan sejumlah pejabat senior Amerika Serikat, akan kemungkinan memburuknya situasi di wilayah Asia Tengah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan di Washington, pada hari Selasa (13/6/2017) waktu setempat. Menteri Pertahanan AS Jim Mattis mengungkapkan, bagaimana situasi “yang dikuasai” Amerika dan sekutunya di Afghanistan dalam membantu menjaga keamanan. Berdasarkan data-data yang ada, aksi-aksi kekerasan dan terorisme masih terjadi di Afghanistan, dengan pelaku utama kelompok Taliban. Wajar kalau kemudian situasi ini membuat Amerika masih merasa “belum menang” dalam perang yang menyita waktu Amerika paling lama.

“Kita tidak menang di Afghanistan saat ini,” kata Mattis dalam satu acara dengar pendapat di Kongres. “Dan kita akan memperbaiki ini sesegera mungkin.”

Menang dalam perang di Afghanistan dalam kamus Pentagon dimaknai sebabgai situasi Pemerintah Afghanistan, yang dengan bantuan internasional, akan bisa menangani kerusuhan dan menurunkan tanggung jawabnya ke level pasukan keamanan lokal untuk dapat menanganinya.

“Mungkin perlu kekuatan tambahan yang melakukan dan memelihara pelatihan dan kemampuan yang baik,” kata Mattis.

“Ke depan akan ada era bentrokan kecil sering terjadi dan kita perlu perubahan dalam pendekatan.”

Jenazah seorang tentara Amerika Serikat tiba di tanah airnya. Jenazah Sersan Joshua Rodgers tiba di Central Illinois Regional Airport di Bloomington pada 5 Mei 2017 setelah tewas dalam pertempuran di Afghanistan pada sebulan sebelumnya. {Foto: David Proeber/The Pantagraph]

Sebelum Mattis, pernyataan senada juga disampaikan oleh pejabat senior dalam Pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan prospek suram bagi situasi keamanan di Afghanistan.

Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats, pada Mei mengungkapkan, situasi keamanan di Afghanistan sangat mungkin akan memburuk pada masa depan, sekalipun Amerika dan sekutunya memberi bantuan militer tambahan.

Peringatan tersebut disampaikan saat Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan apakah akan mengirim tambahan ratusan prajurit AS ke Afghanistan, atau tidak.

Presiden AS Barack Obama ketika itu pernah berencana mengurangi jumlah tentara AS saat ini, 9.800 personel, di Afghanistan menjadi sebanyak 5.500 personel sampai akhir 2015 dan menarik semua tentara AS pada akhir 2016, ketika masa jabatan presidennya berakhir. Namun, mengingat situasi keamanan yang memburuk di Afghanistan, Pemerintah Obama berulangkali menunda penarikan itu.

Saat ini, ada sebanyak 8.400 prajurit AS dan sebanyak 5.000 personel lagi dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di lapangan di Afghanistan untuk melatih dan membantu pasukan Afghanistan menghadapi Taliban, serta melakukan misi kontra-terorisme.

Xinhua, Reuters