Maron Mangrove Edupark, Tempat Wisata Hits di Semarang

DESTINASI wisata berbasis mangrove atau tanaman bakau di Semarang bermunculan, salah satunya Maroon Mangrove Edupark di kawasan Pantai Maron Semarang. “Di Semarang masih kurang tempat wisata makanya kami berinisiatif mengembangkan hutan mangrove,” kata pengelola Maroon Mangrove Edupark Semarang Rusmadi di Semarang, Kamis.

Destinasi wisata hutan mangrove seluas lima hektare itu terletak di sekitar Pantai Maron Semarang, dengan akses masuk yang sama tak jauh dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

Sejak dibuka Maret 2016, kata dia, sampai saat ini sudah banyak pengunjung yang mendatangi destinasi wisata itu dengan kisaran 50-100 orang/hari, dan bisa 500 orang saat akhir pekan. “Para pengunjung akan mendapatkan pengalaman baru selain berwisata. Mereka bisa belajar bagaimana mengenal, menanam, dan merawat mangrove,” kata Ketua Kelompok Mekartani Lindung tersebut.

Ia menjelaskan tanaman mangrove sebenarnya bukan hanya berfungsi sebagai pelindung daratan dari ancaman abrasi atau pengikisan, melainkan bisa dimanfaatkan untuk bahan makanan dan sebagainya.

Khususnya, sebut dia, tanaman mangrove jenis Bruguiera dan Avicennia yang bisa diolah menjadi bahan makanan yang lezat dan selama ini masyarakat setempat juga sudah memanfaatkannya. “Hutan mangrove ini merupakan hasil swadaya masyarakat setempat dibantu mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN). Dari PT Phapros juga sudah membantu dari CSR (corporate social responsibility),” katanya.

Untuk lebih membuat pengunjung nyaman, Rusmadi mengatakan pengelola berencana menambah fasilitas, seperti perahu yang nantinya bisa mengangkut pengunjung dari hutan mangrove menuju Maerokoco.

Sementara itu, Winarno pengunjung yang berasal dari Pati mengakui keindahan hutan mangrove di Maroon Mangrove Edupark itu, namun akses menuju lokasi itu masih tergolong sulit, apalagi selepas hujan. “Kalau fasilitas di sini sudah bagus. Ya, cuma perlu ditambah lagi, seperti gazebo untuk istirahat. Saya berharapnya bisa diperluas. Jadi, lebih puas tracking mangrove,” harapnya.

Selain Maroon Mangrove Edupark, ada beberapa destinasi mangrove di Semarang, seperti hutan mangrove di Taman Maerokoco, Ekowisata Mangrove di Desa Tapak, kemudian Pantai Trimulyo, Semarang. ***

Menuntun Malaikat Singgah

Suasana malam Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat memasuki tradisi “7 Likur”. Foto: Destiara

ADA yang unik di 10 hari terakhir berpuasa yang dirayakan masyarakat Bangka Belitung, utamanya Kabupaten Bangka Barat. Sudah turun-temurun masyarakat mengadakan tradisi “tujuh likur”. Di 10 hari jelang Idul Fitri, masyarakat menyalakan lampu minyak. Bagi anak-anak, tradisi “tujuh likur” artinya sebentar lagi Lebaran.

Makna lain malam “tujuh likur” adalah menyongsong lailatul qadar, malam ke-27 di bulan Ramadhan, saat para malaikat turun ke bumi. Orang dulu percaya, dengan menyalakan pelita di depan rumah, akan menuntun malaikat singgah. Tradisi itu pun kemudian berlanjut hingga hari ini.

Perayaan “tujuh likur” biasanya dilaksanakan setelah shalat tarawih. Seperti yang tampak kemarin malam di Desa Mancung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Di sini, tradisi “tujuh likur” bahkan dilombakan antar-RT. Masing-masing RT membuat gerbang yang dihiasi lampu minyak.

Ada yang berbeda, jika dulu penerangan menggunakan obor, sekarang menggunakan botol beling kecil diisi minyak tanah. Kerlap-kerlip nyala api, tampak indah dari sumbu pelita. Nah, setiap RT mengkreasikan bentuk gerbang. Perlu diketahui, di Desa Mancung memiliki 6 RT. Tentu saja semua mendapat juara, karena kategori pemenang adalah juara 1 sampai juara harapan 3.

Ini adalah upaya mengangkat kembali tradisi “tujuh likur” yang mulai memudar. Karenanya, selain lomba gerbang lampu minyak, setiap penduduk juga memasang sebaris lampu minyak di depan rumahnya.

Tak pelak, Desa Mancung Bangka Barat menjadi berbinar-binar di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Pendar nyala pelita di seantero kampung, benar-benar membuat suasana yang berbeda. Masyarakat makin bergairah beribadah, mengharap berkah Allah SWT. ***

Kerlap-kerlip lampu minyak yang membentuk objek. Foto-foto: Destiara Andini

Air Terjun Ibun Majalengka yang Menggoda

 

CURUG Embun Pelangi atau warga sekitar biasa menyebutnya Curug Ibun terletak di Desa Sukadana Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka. Menuju lokasinya sangat mudah, jalurnya sama dengan jalur menuJu Argalingga atau Curug Muara Jaya/Apuy, atau kurang lebih 3 KM dari Kota Kecamatan Maja.

Menuju lokasi baraya harus berjalan dari jalan penghubung Maja-Apuy, melewati ladang sayur-mayur milik warga kemudian harus menuruni tangga, harap berhati hati dikarenakan cukup curam lebih baik berpegangan ke pagar bambu yang sudah dibuat oleh warga sekitar. Tangga menuju dasar sungai masih terbuat dari tanah dan juga bambu.

Air terjun ini dinamakan air terjun ubin pelangi yang ada di Desa Sukadana, Kecamatan Argapura. Letaknya, sekira 17 kilometer dari pusat Kabupaten Majalengka bisa menjadi obyek wisata yang wajib dinikmati.

“Air ini mengalir dari arus air Muara Jaya sama Santapura, lalu untuk ibun itu diambil dari kata embun karena turunnya air terjun menimbulkan uap atau embun,”

Menurutnya, kehadiran pelangi di sini bisa dilihat dari dua waktu. Waktu pertama muncul dari jam 08.00 hingga 10.00 WIB, sementara yang kedua dari jam 12.00 hingga 17.00 WIB. “Kemunculan pelangi di sini bisa dilihat oleh kasat mata, semakin derasnya air terjun maka pelangi semakin terlihat terang dan jelas,” paparnya.

Selain bisa menikmati pelangi, wisatawan semakin dimanjakan dengan suguhan goa serta tebing yang menyerupai Grand Canyon di kawasan Pangandaran, Jawa Barat.

Untuk bisa melihat goa serta tebing, maka wisatawan harus melalui jalur penurunan yang cukup curam dengan kemiringan sekira 85 derajat.

Tak itu saja, jalur yang harus dilalui belum begitu sempurna. Pasalnya, kondisi jalan tanah liat mengharuskan wisatawan harus berhati-hati dalam melangkah. Untuk pegangannya, wisatawan bisa memanfaatkan batang pohon yang ada di sekelilingnya. Ketika tiba di tempat tujuan, rasa khawatir terhilangkan. Derasnya air terjun serta, dinginnya air yang mengalir semakin membuat pesona libur lebaran jadi terpuaskan.

Dinamakan Curug Embun Pelangi dikarenakan embun akibat jatuhnya air sungai tersebut terkena cahaya matahari sehingga muncul pelangi disekitar curug, akan tetapi pelangi ini hanya muncul ketika hari cerah.

Selain melihat air terjun, baraya bisa panorama tebing batu cadas yang mengapit sungai Cilongkrang. Berbeda pada saat Curug Ibun Pelangi ramai pada awal kemunculannya, kini Curug ini menjadi sepi kembali seperti semula, hanya beberapa pengunjung saja yang datang kembali.

Hal ini dikarenakan musibah air bah di Goa Lalay yang menimbulkan korban jiwa sekitar bulan Januari 2015. Jadi Ada baiknya juga Baraya akan berkunjung ke Air Terjun ini pada saat kondisi cuaca cerah atau bahkan musim kemarau, karena bila cuaca hujan dikhawatirkan datangnya air bah. ***

Tradisi Seba Baduy di Serang Banten

MASYARAKAT adat Baduy Luar dan Baduy Dalam memiliki tradisi unik yang digelar setiap tahun. Tradisi itu, bernama Seba Baduy.

Dalam tradisi tersebut  warga Baduy Dalam dan Baduy Luar, akan menempuh perjalanan jauh. Mereka akan berjalan kaki menempuh jarak sekitar 115 kilometer dengan membawa berbagai hasil bumi.

Semuanya, akan disampaikan kepada kepala pemerintah daerah yang kerap disebut Bapak Gede. Ini bukanlah upeti, melainkan bentuk ketulusan dan keikhlasan semata yang diungkapkan setiap tahun.

Tahun 2016 sebanyak 1.839 warga akan mengikuti tradisi yang diawali dengan mendatangi Kantor Bupati Lebak dan Kantor Gubernur Banten sebagai ‘Bapak Gede’ . Masyarakat Baduy akan menyerahkan hasil komoditas pertanian kepada kepala pemerintah daerah di upacara tersebut.

Ritual tahunan masyarakat adat Badui menjadi salah satu objek wisata budaya di Banten, yang sudah terkenal tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai mancanegara.

Perayaan Seba Baduy  sampai sekarang masih dipertahankan secara turun-temurun oleh masyarakat Baduy Dalam yang berpakaian khas putih-putih dan masyarakat Baduy Luar yang berpakaian hitam-hitam.

Perjalanan saat upacara ditempuh lebih kurang 12 jam. Tidak kenal panas dan hujan. Segala cuaca akan tetap diterabas. Warga Baduy yang ikut dalam Seba, semuanya laki-laki. Kaum hawa dilarang ikut.

Perayaan Seba Badui, biasanya dilakukan setelah warga baduy menjalani Ritual Kawalu selama tiga bulan. Kawasan masyarakat Baduy dalam yang tersebar di tiga kampung, yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikawartana, saat Ritual Kawalu biasanya tertutup bagi wisatawan atau pengunjung. ***

Melongok Desa Wisata Kandri Gunungpati

DESA wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Selain itu, beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial turut mewarnai sebuah kawasan desa wisata.

Di luar faktor-faktor tersebut, alam dan lingkungan yang masih asli dan terjaga. Saat ini, Kota Semarang memiliki tiga buah kawasan desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah Gunung Pati dan Mijen Kota Semarang. Desa-desa wisata tersebut adalah desa wisata Kandri, Wonolopo, dan Nongkosuwit.

Desa Kandri berada di Kecamatan Gunung Pati  Kotamadia Semarang dan merupakan desa yang masih alami dengan pemandangan alam serta keindahannya.

Desa ini merupakan desa wisata karena mempunyai banyak potensi mulai dari alam sampai dengan budaya aslinya yang masih dilestarikan. Terdapat juga kerajinan batik, sulam, serta budidaya belut. Selain itu, ada juga beberapa tempat wisata terkenal di Desa kandri salah satunya adalah Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.

Letaknya yang berada di dataran tinggi, mempunyai hawa yang sejuk karena berada di dekat gunung Ungaran. Desa Wisata Kandri terbagi menjadi 4 RW dan total ada 26 jumlah RT. Dari keempat RW tersebut mempunyai ciri khas nya masing-masing. Seperti ada yang namanya wisata edukasi yang akan dijadikan sebagai kampung Inggris dan pendidikan alam.

Ada RW untuk area perkebunan yang dilengkapi dengan aneka buah. Dimana juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk outbond. Kemudian Rw berikutnya sebagai kawasan budaya, sebelumnya untuk pementasan kesenian berupa wayang kulit, wayang suket, ketoprak, jathilan, dan kesenian lesung.

Ada RW yang banyak warung makanan khas sebagai wisata kuliner. Jalur ke sini bila dari pusat Kota Semarang langsung saja menuju arah barat sampai di bundaran Kalibanteng belok ke kiri. Ikuti terus saja jalannya ambil arah ke daerah Gunung Pati, lihat petunjuk arah yang tersedia di sepanjang jalan. Dengan kendaraan pribadi kurang lebih 30-45 menit dari pusat Kota Semarang. ***

Wana Wisata Gunung Panten Majalengka

WANA Wisata Gunung Panten terletak di Kelurahan Munjul Kecamatan Majalengka Kabupaten Majalengka. Objek wisata ini dirintis sejak tahun 2010. Tercatat sudah dua kali diselenggarakan kejuaraan nasional paralayang dan satu kejuaran nasional Gantolle di tempat ini.

Di tempat ini pengunjung bisa menikmati panorama Kota Majalengka dari ketinggian. Yang terbaik untuk melihat pemadangan Kota Majalengka adalah sore hari pada saat musim kemarau, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan daratan Majalengka dan Gunung  Ciremai.

Yang berani bisa menikmati terbang tandem dengan paralayang.  Di sana tersedia fasilitas terbang tandem bagi pengunjung yang ingin mencoba terbang di ketinggian dengan paralayang.

Di sini ada  wisata sejarah karena di selatan wisata paralayang terdapat situs petilasan Prabu Siliwangi dan juga sesepuh desa pada jaman dahulu. Tempat ini berada di tengah hutan lindung, sehingga pengunjung dapat menikmati kesejukannya.

Berkunjung ke Hutan Lindung Gunung Panten, pengunjung juga bisa beli oleh-oleh berupa Mangga Gedong Gincu yang memang di daerah sekitar Sidamukti merupakan daerah penghasil mangga gedong gincu.

Tempat ini jaraknya  sekitar  tujuh kilometer dari pusat Kota Majalengka. Jalur yang bisa ditempuh dengan melewati Bundaran Munjul Indah kemudian mengarah ke selatan menuju Desa Sidamukti. ***

Benteng Pendem Ngawi Jawa Timur

LIBURAN di Kota Ngawi Jawa Timur, akan mendapatkan banyak tempat wisata yang menarik. Salah satunya adalah Benteng Pendem yang jadi wisata sejarah paling terkenal di sana.

Benteng Van den Bosch, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem adalah benteng yang terletak di Kelurahan Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi Jawa Timur.

Letak benteng ini sangat strategis karena berada di sudut pertemuan sungai Bengawan Solo dan Sungai Madiun. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi sehingga terlihat seperti  terpendam.

Benteng ini dibangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 dengan nama Font Van Den Bosch, pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Font Van Den Bosch.

Menempati lahan seluas satu hektar, bangunan benteng ini bertingkat yang terdiri dari pintu gerbang utama, ratusan kamar untuk para tentara, ruangan untuk seorang kolonel dan ruang komando dan beberapa ruangan sebagai kandang kuda.

Pada abad 19, Kota Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pelayaran di Jawa Timur dan dijadikan pusat pertahanan para pejuang di Kabupaten Madiun, Ngawi, dan sekitarnya.

Perlawanan melawan Belanda yang berkorbar di daerah, dipimpin oleh kepala daerah setempat. Di daerah Ngawi dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirontani pada tahun 1825, Kota Ngawi berhasil direbut dan diduduki.

Untuk mempertahankan kedudukan dari fungsi strategis Kota Ngawi serta menguasai jalur-jalur perdagangan, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membangun benteng Van Den Bosch, yang dihuni oleh tentara Belanda sebanyak 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api, dan 60 orang kavaleri yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Defensieljn Van Den Bosch.

Tujuan di bangunnya benteng tersebut yaitu untuk menghambat atau menangkal pasukan penyerang diponegoro terhadap belanda. Di dalam benteng tersebut terdapat salah satu bukti yaitu terdapat makam salah satu anak buah diponegoro yang bernama KH. Muhammad Nursalim.

Ia adalah tokoh pejuang yang ditangkap Belanda dan di bawa ke Benteng tersebut, karena kesaktiannya beliau tidak mempan ditembak, akhirnya tentara Belanda mengubur hidup-hidup KH. Muhammad Nursalim didalam benteng tersebut pada tanggal 17 Agustus 1592.

Beliau juga di yakini sebagai penyebar agama islam pertama kali di wilayah Ngawi. Untuk ke sini  cukup mudah dijangkau. dari Kantor Pemerintah Kabupaten Ngawi ke arah timur laut yang berjarak sekitar kurang lebih  satu kilometer. ***

Bukit Jaddih di Madura

LIBURAN panjang kali ini berbagai tempat wisata di seluruh penjuru Nusantara diserbu. Salah satu yang sliweran di media sosial adalah Bukit Jaddih Madura.

Belakangan ini Madura memiliki tempat wisata menjadi perbincangan dikalangan anak muda yang hobi melakukan wisata perjalanan.

Bukit Kapur Jaddih namanya, lokasi yang sebelumnya merupakan tempat penambangan ini sekarang menjadi salah satu obyek wisata baru yang cukup ramai dikujungi.

Terletak di Kecamatan Socah, Desa Jaddih Kabupaten Bangkalan Madura-Jawa Timur. Sekitar 10 kilometer dari pusat kota kabupaten Bangkalan.

Terdapat bongkahan buit kapur putih yang berukuran raksasa. Terbentuk  akibat pahatan para penambang kapur yang mengais rejeki ditempat ini selama bertahun-tahun.

Keindahan pulau Madura bisa dilihat  secara keseluruhan dari puncak bukit.  Sisi utara bukit terdapat sebuah pemandian alami yang berada di tengah-tengah bukit kapur, biasa disebut   Aeng Goweh Pote dalam bahasa Madura, yang berarti Air Gua Putih.

Tadinya kolam renang ini merupakan bekas lubang galian tambang kapur yang kemudian memancarkan mata air secara alami. Lalu oleh pemerintah daerah setempat  dijadikan  sebuah kolam renang.

Daerah ini keren dijadikan sebagai latar belkang foto. Tidak heran banyak pemotretan pre wedding atau fashion di sini.

Kalau ke lokasi tersebut dari jembatan Suramadu dan mengambil jalur jalan raya Labang. Melewati Bangkalan hingga sampai di pertigaan desa Jaddih, kemudian mengambil arah kanan. Tidak jauh dari pertigaan lokasi Bukit Jaddih sudah terlihat. ***

Burung Kokoan di Desa Petulu – Ubud

BALI bukan hanya wisata pantai yang menawan, tapi ada satu tempat unik dimana bersarang banyak burung Kokoan. Memasuki desa Petulu kecamatan Ubud, Gianyar akan terlihat sebuah plang di atas jalan bertuliskan “Anda tiba di objek wisata kokokan”.

Di desa ini menjadi satu-satunya habitat tetap burung bangau atau disebut juga kokoan. Mereka membangun koloni dengan damai, mulai dari bersarang di pohon-pohon sepanjang desa kemudian bertelur, menetas sampai akhirnya mereka tumbuh menjadi dewasa.

Jumlahnya sekarangnya ratusan, bahkan sampai ribuan, setiap harinya terlihat akktifitas burung tersebut keluar masuk desa, lalu pada sore harinya mereka berkumpul kembali ke desa Petulu. Walaupun desa-desa di sekitarnya memungkinkan untuk mereka bermigrasi, mereka tetap bertahan di desa ini, pada siang harinya mereka biasa ke luar-masuk desa, namun pada saat sore harinya mereka semua berkumpul lagi di sini.

Oleh sebab itu sore hari jadi waktu yang tepat untuk melihat  kokoan kembali ke sarangnya. Karena keberhasilan desa setempat melestarikan habitat kawanan bangau ini, maka pemerintah menganugrahkan penghargaan piala Kalpataru.

Desa Petulu terletak di sebelah Utara Ubud. Kalau ingin menyaksikan populasi kokoan ini yaitu pada saat bulan Oktober – Maret. Awal perkembangan burung kokokan di desa ini, di tahun 1965, menurut penuturan penduduk setempat, mereka yang bersarang hanya ada sekitar 5 ekor saja, setelah berjalan beberapa bulan, populasi mereka bertambah banyak.

Warga tertarik untuk memelihara bahkan berniat untuk memotongnya dan diambil dagingnya untuk dikonsumsi. Namun setiap orang yang menangkapnya mereka akan datang kembali untuk mengembalikannya, karena menurut mereka tidak kuat didatangai makhluk menyeramkan baik dalam mimpi maupun kenyataan, ini terjadi hampir pada 50 orang yang pernah mencoba untuk melakukannya.

Setelah dicari tahu dalam pendekatan spiritual, maka diketahuilah bahwa kokoan ini sebagai pengawal (rencang) Ida Bhatara di Pura setempat. Burung-burung ini adalah penjaga desa dari gangguan hama persawahan mereka baik secara skala maupun niskala. ***

Danau Cinta di Pulau Makalehi

MENCARI danau berbentuk hati di kepulauan Indonesia saat ini bukan hal yang sulit. Coba saja datang ke Pulau Makalehi. Pulau ini masuk dalam daftar 92 gugusan pulau terluar di Indonesia, karena letaknya yang berada di garis laut terluar dan berbatasan langsung dengan Filipina.

Danau yang berbentuk seperti hati itu sendiri terdapat di Pulau Makalehi.Pulau Makalehi adalah Pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (SITARO), Sulawesi Utara. Pulau ini merupakan Pulau terluar dari Kabupaten Sitaro dan juga Pulau terluar dari Negara Republik Indonesia.

Pada posisinya yang berada di arah Timur dari Pulau Siau, Pulau Makalehi berhadapan langsung dengan negara tetangga, yaitu Malaysia Timur. Di tengah pulau inilah  danau yang bentuknya menyerupai bentuk hati berada.

Untuk melihat bentuk Danau Makalehi secara keseluruhan, harus mendaki ke puncak gunung yang paling tinggi di Pulau Makalehi. Dari puncak tersebut bisa juga menyaksikan panorama eksotis dari lingkunagn pulau.

Untuk mencapai pulau Makalehi dari Pelabuhan Manado dapat menumpang dengan Kapal Motor yang berangkat sore hari jam 17.00 WITA dan waktu tempuh 6 jam perjalanan atau dengan Kapal Cepat berangkat jam 10.00 WITA dengan waktu tempuh sampai di Pelabuhan Ulu Siau sekitar  3 jam.

Dari Pelabuhan Ulu Siau, lanjutkan perjalanan ke Kec. Siau Barat dengan menggunakan mobil atau motor selama 30 menit. Sampai di Kec. Siau Barat lanjut naik perahu motor dengan menempuh jarak sekitar 14 mil laut dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan.

Yang penting harus diperhatikan jika kita hendak pergi ke sana tidak setiap hari ada jasa penyeberangan perahu dari siau ke makalehi. Penyeberangan hanya ada ketika hari pasar yaitu Senin,  Rabu dan Jumat. ***