PULAU Dua adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Pulau ini terletak kurang lebih 90 km dari Kota Luwuk Sulawesi tengah.
Kota Luwuk sendiri merupakan ibukota dari Kabupaten Banggai. Perjalanan menuju Luwuk dapat ditempuh via udara dengan pesawat Garuda Indonesia dari Makassar selama 1,5 jam.
Pulau cantik ini terletak di Kecamatan Balantak, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah dan menjadi maskot pariwisata dari Kabupaten Banggai.
Memang belum banyak orang yang tahu tentang obyek wisata satu ini. Di sana ada gunung batu yang tumbuh dari bawah laut semakin menambah eksotisnya pulau ini. Belum lagi dengan suasana ketenangan dan kesejukan udaranya.
Pulau ini juga memiliki pantai yang ditumbuhi dengan banyaknya pepohonan hijau. Bagi pecinta snorkeling maupun diving, tempat ini sangat cocok. Air laut yang jernih ditambah dengan keanekaragaman hayati bawah lautnya merupakan kekayaan alam yang hebat.
Pulau ini memang tidak berpenghuni, maka tidak ada hotel, rumah makan maupun sinyal telepon seluler. Namun bila ingin menginap, disediakan beberapa penginapan sederhana yang bisa ditemukan di kota Kecamatan Balantak.
Untuk menuju pulau ini bila datang dari pusat kota Luwuk maka segeralah menuju ke arah timur hingga perbatasan Luwuk Timur lalu menuju ke kota Kecamatan Balantak.
Penyeberangan terdekat ke pulau ini ada di Desa Kampangar yang terletak di Kecamatan Balantak. Pengunjung bisa menyewa perahu untuk menuju pulau ini dan hanya membutuhkan waktu tempuh penyeberangan selama sekitar sepuluh hingga lima belas menit. ***
LIBURAN ke Jepang belum lengkap kalau belum wisata belanja. Salah satunya yang bisa kamu datangi, adalah Takeshita Street di kawasan Harajuku, Tokyo. Banyak kaos, tas dan sepatu yang harganya murah. Cocok untuk anak muda!
Jepang memang punya banyak tempat perbelanjaan yang bisa turis singgahi. Tempatnya pun beragam, dari yang menjual barang-barang branded sampai suvenir yang harganya miring.
Untuk menuju ke Harajuku, terdapat banyak pilihan. Kamu bisa naik taksi, subway hingga kereta JR (Japan Railways). Kalau ingin mengirit budget, lebih baik naik kereta saja karena kalau naik taksi harganya cukup mahal.
Salah satu tempat belanja di Harajuku yakni bernama Takeshita Street dan lokasinya persis di seberang Harajuku Station. Takeshita Street merupakan suatu jalan yang panjangnya mungkin mencapai 1 km lebih, dengan aneka toko di kiri dan kanan jalan.
Yang menjadi incaran turis, tentu saja kaos-kaos yang bertuliskan ‘I Love Tokyo’, bergambar ninja atau bertuliskan huruf kanji yang punya banyak arti. Harga kaosnya, mulai kisaran 900 Yen atau setara Rp 97 ribu.
Belum puas, bagi para wanita juga terdapat aneka barang fashion seperti jaket, rok sampai gaun. Kalau yang wanita, harganya dipatok dari 1.500 Yen atau setara Rp 162 ribu. Berbagai pilihannya, bisa dipilih sesuai selera.
Selanjutnya, berbagai aksesoris, tas dan sepatu pun bisa diburu di Takeshita Street. Untuk sepatu, harganya mulai 5.000 Yen atau setara Rp 541 ribu. Kualitasnya tak kalah dari sepatu-sepatu branded.
Harajuku sendiri sudah terkenal sebagai tempat gaul anak muda Tokyo. Aneka barang di sana pun, cocok untuk anak muda yang memang doyan belanja. Daiso yang merupakan toko dengan harga semua barang dari makanan sampai mainan yang seharga 100 Yen (Rp 10 ribu) juga terdapat di sana dan katanya paling lengkap yang ada di Tokyo.
Satu hal yang harus kamu ingat, khususnya bagi yang pergi bareng rombongan, lebih baik berpencar saja dan berkumpul di titik yang ditentukan. Sebabnya, suasana di Takeshita Street sangatlah ramai. Apalagi, jika saat weekend. Selamat belanja! ***
TEMPAT ini dinamai Sanghyang Heuleut. Artinya sebagai tempat yang suci, sedangkan Heuleut memiliki arti selang antara dua waktu. Menurut cerita tempat ini dinamai demikian karena tempat ini sering dikunjungi oleh para bidadari dari kayangan yang memiliki waktu beda dengan dunia manusia.
Warga sekitar di kawasan Saguling yang dekat dengan keberadaan Sanghyang Heuleut mempercayai bahwa tempat ini dahulu sering dikunjungi oleh para bidadari jika ingin mandi. Mereka turun dengan menggunakan pelangi yang warna warni.
Dilihat dari segi geografis dan sejarahnya, Sanghyang Heuleut ini adalah danau yang mengalir pada arus Sungai Citarum Purba. Masih dalam satu rangkaian dengan Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek.
Maka bisa dikatakan Sanghyang Heuleut ini adalah sebuah danau purba yang masih bisa dikunjungi. Danau ini terselamatkan dengan hadirnya bendungan Saguling yang masih menjadi sumber air dari Danau Sanghyang Heuleut ini.
Danau ini letaknya yang tersembunyi di ujung sungai. Tidak banyak memang yang mengetahui mengenai keberadaan danau Sanghyang Heuleut ini. Rute untuk ke lokasi ini jika dari Bandung – Cimahi – Padalarang – Jalan Raya Padalarang – Raja Mandala – Pintu gerbang PLTA Saguling. Sampai ke lokasi PLTA Saguling dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah hutan dan berjalan melawan arus sungai.
Perjalanan kurang lebih sekitar satu kilometer dan akan menemukan sebuah gunung kecil yang terdapat gua Sanghyang Poek. Kemudian dilanjut perjalanan melawan arus sungai sekitar dua kilometer. Sanghyang Heuleut ini berada di ujung sungai Sanghyang Poek. ***
SATU lagi pantai yang memiliki keunikan dan keindahan. Namanya Pantai Lariti, Sape, yang lokasinya masih berada di wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Timur.
Daerah Sape ini posisinya di sebelah timur laut Kota Bima, dengan jarak sekitar 1,5 jam perjalanan darat menggunakan motor.
Pantai Lariti terletak di wilayah selatan Kabupaten Bima, tepatnya Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Lokasi pantai tidak jauh dari Pelabuhan Sape, gerbang laut yang menghubungkan Pulau Sumbawa dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur
Yang istimewa dan unik dari pantai ini adalah di saat surut akan terlihat jalan pasir yang menghubungkan pantai dengan Pulau Lariti. Jalan pasir itu seperti membelah lautan. Di jalur itulah banyak pengunjung yang bermain air laut, foto atau sekadar menikmati fenomena alam yang langka.
Dengan daya tarik tersebut maka tidak mengherankan kalau tempat ini memang ramai dengan pengunjung. Masyarakat Kabupaten Bima dan Kota Bima saat libur kerja dan libur sekolah Sabtu dan Minggu, dipastikan main ke sini untuk jalan-jalan di hamparan pasir putih, bermain bola, lari-lari selagi air surut.
Untuk ke pantai ini mudah dicapai. Ssudah melewati Pasar Sape akan ketemu perempata, dari perempatan ini kita mengambil arah kanan untuk menuju Lariti. Kalau lurus akan menuju Pelabuhan Sape, di Pelabuhan Sape ini biasanya wisatawan yang akan menuju Labuan Bajo menyeberang dengan tarif Rp60 ribu per orang.
Kapal penyeberangan menuju Labuan Bajo sehari ada dua kali yaitu jam 9 pagi dan jam 5 sore. Dari Kota Bima, pantai ini bisa ditempuh satu jam perjalanan mengendarai mobil. ***
SEJUMLAH destinasi wisata di Jakarta disiapkan untuk menyambut wisatawan saat Asian Games 2018 berlangsung. Salah satunya, Pulau Macan yang berada di Kepulauan Seribu. Paket wisata ke pulau ini siap dijual saat perhelatan Asian Games 2018. Mengapa Pulau Macan? Karena Pulau Macan menjadi andalan untuk menjaring wisatawan saat Asian Games. Pulau dengan konsep eco resort ini, relatif dekat dekat pusat Kota Jakarta, karena bias ditempuh hanya 90 menit. Pulau ini juga punya keunikan sendiri. Yaitu, penginapan di Pulau Macan ini terbuat dari bahan-bahan bekas.
Bukan hanya itu, berbagai konsep cottage juga tersedia. Pengunjung bisa bebas memilih, antara lain, Sunset Hut yang memiliki kamar yang menghadap langsung matahari untuk melihat sunset yang indah. Juga Island Hut, Driftwood Hut, Tropical Forest & Bamboo dan masih banyak lagi. Kelebihan lain yakni Pulau Macan juga terkenal memiliki banyak spot untuk diving dan snorkeling. Salah satu andalannya adalah banyak habitat ikan nemo dan juga terumbung karang yang cantik. Selain itu wisatawan juga bisa bermain kano di sini.
Kasudin Pariwisata Budaya (Parbud) Kepulauan Seribu Cucu Kurnia mengatakan, infrastruktur dan penduduk Kepulauan Seribu, khususnya Pulau Macan, sudah siap menerima wisatawan dari mancanegara. Saat ini, pihaknya menanti koordinasi dari Inasgoc, selaku panitia Asian Games. Cucu ingin memastikan berapa atlet dan ofisial yang diarahkan berkunjung ke sini. “Secara infrastruktur, bahkan masyarakat, Pulau Macan sudah siap menyambut tamu-tamu mancanegara. Tinggal dari Inasgoc saja koordinasinya bagaimana. Dan bisa diarahkan untuk penjualan paket yang ada di Kepulauan Seribu,” kata Cucu, di Jakarta, baru – baru ini.
Menurut Cucu, kapasitas penginapan di Pulau Macan maksimal hanya dapat menampung 40 turis atau sekitar 22 akomodasi kamar tersedia. Sedangkan minta turis ke tempat ini sangat tinggi. Saking tingginya minat turis asing, hampir setiap akhir pekan dan masa liburan, selalu tidak ada kamar penginapan yang kosong di sana. Peluang untuk bisa mendapatkan kamar hanya terbuka di hari kerja. Kalau memesan untuk libur akhir pekan jangan harap langsung mendapatkan tempat karena antreannya bisa berbulan-bulan. “Ya namanya itu tadi kapasitasnya terbatas, kita harus sabar,” paparnya.
Untuk menuju ke Pulau Macan pengunjung harus menyeberang dari Marina Ancol, Jakarta Utara. Tepatnya menggunakan speed boat. “Harus dari Marina Ancol pake speed boat. Kalau muara angke jarang,” katanya.
Saat perhelatan Asian Games, wisatawan mancanegara bisa menikmati paket untuk berwisata ke Pulau Macan. Paketnya terdiri dari 4 hari / 3 malam US$240 per pax. Harga tersebut sudah termasuk transfers dari/ke Ancol Marina dari hotel di Jakarta. Makanan dan snack selama di resort (sarapan, makan siang dan makan malam).
Wisatawan juga bisa menikmati seluruh perlengkapan yang ada di pulau. Seperti snorkelling gears, kayak, pool table, dan lainnya. Dan juga sudah termasuk perjalanan saat snorkelling. Beragam fasilitas seperti Natural Lan Cottages, White Sand Beach, Main Hut, The Club House, Bamboo Bar, The Deserted Island, The Equipment Hut and Store, bisa wisatawan nikmati di sini.
Turis yang datang juga bisa menyusuri dan mengitari Pulau Macan. Namun, yang tak boleh terlewatkan adalah menikmati indahnya matahari terbenam yang tentunya akan memanjakan mata. Mendengar hal tersebut Menteri Pariwisata Arief Yahya semakin confidence menyambut Asian Games 2018. Impact-nya diyakini bakal sangat dahsyat. Utamanya bagi pariwisata Indonesia. “Saya bulat-bulatkan saja ya, jumlah atlet dan ofisial sekitar 20 ribu. penonton proyeksinya 150 ribu. Jadi total 170 ribu dengan proyeksi devisa sekitar Rp 3 triliun. Potensinya sangat besar. Belum lagi media value-nya jauh lebih besar. Karena nama Indonesia akan diberitakan oleh media dunia,” kata Arief Yahya. ***
Alhamdulillah akhirnya tahun 2017 saya mendapat kesempatan menjalankan ibadah Umrah ke Tanah Suci . Berangkat dengan pesawat Air Asia yang transit di Kuala Lumpur begitu juga dengan kembalinya dari Tanah Suci. Hanya saja sekembalinya dari Tanah Suci kita sempat menginap semalam di Kuala Lumpur.
Dengan semangat atau ghirah Islam yang masih kental karena baru selesai menjalankan ibadah umrah maka kelelahan fisik tidak kita rasakan. Walaupun setibanya di Bandara Kuala Lumpur sudah tengah malam dan setibanya di hotel lewat tengah malam tetapi istirahat yang hanya beberapa jam itu cukup memadai.
Seluruh jamaah umrah yang berjumlah 50 orang bangun pagi dengan semangat untuk shalat Subuh dikamar masing masing dan menikmati sarapan pagi di hotel. Berbagai menu makanan untuk sarapan kita temukan mulai dari telur dadar atau omelette dan sandwich yaitu roti lapis dengan isi burger daging sapi dan keju atau nasi goreng .
Berbagai minuman juga tersedia direstoran hotel itu seperti teh, kopi, jus dan susu kita tinggal memilihnya sesuai selera. Setelah semua jamaah selesai sarapan kita berkumpul di depan lobby dan berfoto selfie bersama. Semua tampak ceria dan bersemangat meskipun penat dan letih fisik masih terasa.
Sekitar pukul 08.00 pagi kita check out meninggalkan hotel Transit dan mulai mengikuti perjalanan wisata di Kuala lumpur dengan mengunjungi halaman Gedung Petronas. Gedung Petronas di Kuala Lumpur merupakan icon dari Kota Kuala Lumpur yang merupakan perkantoran milik perusahaan minyak nasional Malaysia.
Setelah berfoto selfieria di halaman Gedung Petronas perjalanan wisata kota Kuala Lumpur dilanjutkan ke pusat souvernir di sana. Terdapat berbagai makanan dan minuman khas Malaysia yang sangat menarik hati untuk kita beli dan bawa pulang sebagai cendera mata bagi keluarga.
Setelah mengunjungi pusat souvernir kemudian lanjut ke Chocolate Shop dan Factory di mana kita melihat bagaimana proses produksi dan pengolahan biji coklat sampai menjadi berbagai jenis makanan yg sangat nikmat rasanya. Sebagian anggota jamaah yg masih banyak bekal uangnya membeli berbagai cendera mata dan coklat untuk dibawa pulang.
Setelah diajak berkeliling kota Kuala Lumpur Tour Guide dan Bus Driver kita membawa jamaah ke Putra Jaya yang merupakan kawasan perkantoran Pemerintah Negara Malaysia yang sangat indah ditata dan dikelola secara baik. Ada danau dan sungai di antara Gedung Gedung Megah Pusat Pemerintahan itu dan juga Masjid Raya yang sangat indah.
Bangunan Mesjid Raya di komplek Putra Jaya itu berarsitektur campuran Turki, Melayu, dan Eropa terletak di pinggir danau yang sangat indah dipandang mata. Jamaah beribadah shalat dhuhur disana dan kemudian bermuhasabah saling mengungkapkan perasaan dan pengalaman mengikuti perjalanan ibadah Umrah plus Wisata di Malaysia.
Setelah selesai beribadah shalat dhuhur dan bermuhasabah serta tak lupa berfoto selfie di depan Mesjid Raya itu kita diajak menikmati makan siang di sebuah rumah makan Jawa di tengah kota Kuala Lumpur. Rumah makan Jawa itu terletak di pinggir jalan yang ramai serta padat lalu lintasnya, berbagai menu masakan Indonesia tersedia.
Makan siang disana begitu sangat mengobati rasa dan selera makan kita semua yang selama beribadah umrah di tanah suci maupun di dalam pesawat terbang tidak pernah puas dengan menu makanan yang tersedia. Setelah makan siang di rumah makan Jawa di tengah Kota Kuala Lumpur yang sangat memuaskan dan menyenangkan itu jamaah diantar ke Bandara Kuala Lumpur untuk kembali ke Jakarta .
Walaupun hanya semalam dan sehari di Kuala Lumpur tetapi pengalaman berwisata di negeri tetangga itu sungguh sangat memberikan kesan yang mendalam sehingga terbersit keinginan untuk suatu waktu nanti kembali lagi berwisata ke sana bersama keluarga. Insya Allah. ***
MENTERI Pariwisata Arief Yahya mengajak semua komponen bangsa ini, untuk membangun pariwisata Indonesia. Kesempatan acara buka puasa bersama (bukber) pun digunakan mantan DiruPT Telkom itu untuk menggenjot dunia pariwisata Indonesia. Dan, ketika bukber dengan Ikatan Alumni (IA) Institut Teknologi Bandung (ITB), Senin (28/5/2018), pun tak disiasiakan.
Dalam acara yang dihelat di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta itu, benar-benar dimanfaatkan Arief untuk menunjang tugas pokoknya di pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla.
Acara yang bertema Sinergi Alumni Untuk Negeri ini, dihadiri berbagai tokoh. Sebutlah Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifuddin, I Wayan Koster, M. Romahurmuziy, Sekjen Kementerian ATR/BPN Himawan Arief, Ketua Majelis Wali Amanat ITB Betti Alisjahbana, dan Ketua IA ITB Ridwan Djamaluddin berikut sekitar 500 alumni ITB dari berbagai angkatan.
Dalam kesempatan itu Menpar mengajak para peserta bukber agar berperan aktif memajukan pariwisata Indonesia.
“Ini merupakan momentum kita, untuk merapatkan barisan. Dimana kita sebagai civitas akademika, harus berbuat nyata demi pembangunan bangsa. Salah satunya membangun pariwisata Indonesia yang saat ini telah ditetapkan menjadi core ekonomi bangsa,” kata Arief Yahya.
Menpar mencatat, capaian yang telah diraih pariwisata Indonesia di antaranya, pada 2018 pariwisata Indonesia masuk Top-20 Growing Tourism Industry in The World. Pertumbuhan pariwisata kita pada tahun 2017 sebesar 22 persen.
Menurutnya, pertumbuhan itu jauh di atas pertumbuhan pariwisata regional ASEAN, sebesar tujuh persen. Dibandingkan dengan pariwisata dunia juga lebih besar yang tumbuh 6,4 persen.
Artinya, ada pertumbuhannya tiga kali lipat dibanding pertumbuhan pariwisata regional dan global. “Tentunya ini menguatkan keyakinan kita untuk meraih target pada 2018 sebesar 17 juta wisman. Torehan ini tentunya bukan sekedar jatuh dari langit. Tetapi merupakan kerja keras seluruh elemen bangsa,” kata Arief Yahya.
Dikatakan, kini saatnyalah untuk alumni ITB bersinergi dalam membangun Indonesia. Dengan kebersamaan, semua usaha akan dapat menjadi lebih mudah.**
Tempat menikmati keindahan alam dari Bukit Parangtritis. Foto: Gde Mahesa
ALKISAH, Bukit Parangtritis pernah menjadi lokasi antah berantah. Sekalipun manusia lalu-lalang di dekat bukit itu, tetapi tak satu pun sudi menjamah. Bak pertapa turun dari puncak gunung, Mbah Boy mendatangi Bukit Parangtritis yang terletak di Kretek Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta lalu mengubah daerah wingit itu menjadi sebuah bukit penuh makna.
Mohamad Boy Rifai alias Mbah Boy. Foto: Gde Mahesa
Kini, Bukit Parangtritis itu dinamakan Kampung Edukasi Watu Lumbung. “Lurah”-nya Mohamad Boy Rifai, yang akrab disapa Mbah Boy. Kepada Jayakarta News, Mbah Boy mengisahkan drama babat alas yang ia lakukan di Bukit Parangtritis, hingga menjadi destinasi wisata yang diminati banyak pengunjung saat ini. “Sebelumnya saya cukup lama hidup di keglamoran dunia film dan media massa terkenal di Ibu Kota. Puncaknya saya reguk antara tahun 1977 sampai 1985,” ujar Mbah Boy mengawali kisah.
Bersamaan surutnya dunia perfilman di Tanah Air, surut pula aktivitas Mbah Boy di Jakarta. Meski tanpa ikrar suci, tetapi teguh pendirian di hati, ia ingin mengubur keglamoran kehidupan masa lalu, dan bertekad madheg pandito. Pergi meninggalkan ingar-bingar Jakarta, dan menyepi di bukit sunyi. “Bukan kok ingin menjadi tokoh spiritual, tetapi ingin berbuat sesuatu untuk masyarakat, alam, dan Tuhan semesta alam,” ujar lelaki murah senyum itu.
Bak kata bijak: “niat baik akan mengalir menemukan jalannya”, maka Boy pun demikian. Seseorang yang sangat berpengaruh pada zamannya, menunjuk dan mempersilakan Bukit Parangtritis miliknya sebagai tempat “pertapaan” Boy. Seperti pepatah Jawa “tumbu ketemu tutup”, klop.
Untuk terakhir kalinya, Boy sempat menatap langit Jakarta dan mengucap selamat tinggal. Tarikh mencatat kejadian itu tahun 2003. Mantap hati melangkah menuju Yogya Kota Istimewa. Bukan di kota tepatnya. Melainkan 25 kilometer pajalanan darat ke arah pantai selatan.
Sebelum menyentuh bibir pantai Parangtritis, tepatnya di simpang Kretek (setelah jembatan), belok kiri. Anda tahu? Jalan ini sejatinya diapit oleh panorama indah. Sebelah kiri, terbujur Sungai Opak yang legendaris. Sisi sebelah kanan, sebuah bukit pegunungan yang menjulang. Boy pun mengarah ke kanan, mendaki bukit Parangtritis, tempat ia akan memulai kehidupannya yang baru sebagai Mbah Boy.
Seperti dikatakan sebelumnya, tahun 2003, belum ada yang menjamah apalagi mengelola bukit itu. Selain dikenal wingit alias angker, juga sekilas tampak tidak menjanjikan apa pun. Terbayang, betapa sulit bercocok tanam di bukit berbatu. Terbayang pula, betapa sulit menggali air bersih. Tapi bukan Boy yang punya bayangan seperti itu. Boy justru memandang bukit itu penuh cinta. “Inilah pesanggrahanku,” gumam Boy ketika itu.
Mendaki dan terus mendaki, hingga akhirnya Boy sampai di puncak bukit. Berbagai rintangan akibat tidak adanya jalur pendakian, sulitnya medan, banyaknya semak belukar, dan lain-lain, terbayar lunas ketika Boy berada di puncak sana. Dengan sekali berdiri, dua-tiga keindahan tersaji.
“Di selatan, kita memandang Pantai Parangtritis menghampar dengan deburan ombak yang luar biasa. Memandang ke utara, tampak Sungai Opak dengan air tenang yang berlimpah. Menghadap ke timur jika pagi hari, kita akan songsong terbitnya sang matahari. Menghadap ke barat jika sore hari, akan kita saksikan matahari berangkat ke peraduan,” papar Boy antusias seraya menambahkan, “jika cuaca cerah, kita dapat bonus pemandangan sangat indah dua gunung di utara sana, gunung Merapi dan Merbabu.”
Menikmati debur ombak Parangtritis dari atas bukit. Foto: Ist
Syahdan, hari ini, 15 tahun kemudian, Bukit Parangtritis berubah total di tangah Mbah Boy. Sebagai pelopor, Boy menempati bukit paling atas. Ia sudah membangun rumah kayu, dapur, dan beberapa rumah panggung lengkap dengan fasilias MCK untuk menginap para tamu. Bagian tanaman hutan, ia biarkan. “Sebab di atas sana, ada cekungan. Kalau musim hujan, berfungsi sebagai penampung air alami. Area sekeliling, juga baik untuk wisata alam, jogging track menuju puncak bukit. Saya sudah buatkan rute jalan melingkar dengan titik start dan finish yang berbeda,” urai Boy.
Di lahan yang cukup produktif, ia tanam aneka jenis sayuran dan buah-buahan serta pohon penghijauan lain. Sedang di tanah yang tandus dan tidak produktif, ia pilihkan jenis tanaman yang sesuai, di antaranya sorgum. Tanaman jenis rumput-rumputan yang masih satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Biji sorgum, mengandung karbohidrat yang sangat tinggi. Biji sorgum, bisa juga dibuat seperti pop corn dengan cita rasa yang sangat gurih.
Di Kampung Edukasi Watu Lumbung, semua makanan nyaris tidak ada yang diimpor dari luar kawasan. Dimasak di pawon tradisional khas masyarakat zaman old. “Konsepnya, sama-sama belajar tentang alam, kearifan lokal, dan budaya tradisi. Di sini semua serba sederhana dan alami,” ujar Boy.
Dari pawon tradisional, terolah menu makanan tradisional. Semua serba alami. Lezatnya tak terkira. Foto: Gde MahesaBuah cipluk, aneka umbi-umbian, jagung…. semua dipanen dari lahan sendiri. Foto: Gde Mahesa
Boy juga menyiapkan banyak gimmick bagi pengunjung. Baik pengunjung temporer maupun yang berniat menginap. Salah satunya, kegiatan menamam pohon di lokasi mana pun yang disuka. Untuk kegiatan itu, Boy akan membalasnya dengan kejutan yang menyenangkan sebagai bentuk apresiasi. “Ini salah satu upaya konservasi alam, agar burung-burung tak jemu berkicau sepanjang hari,” tambahnya.
Boy tidak mengelola Kampung Edukasi Watu Lumbung ala tempat wisata modern. Di sini, serba alamiah, tidak ada layanan khusus, melainkan melibatkan pengunjung secara aktif. Boleh ikut masuk dapur dan memasak. Anggap di rumah sendiri. Makan apa pun yang ada. Masak, apa pun bahan yang tersedia. “Konsep ini banyak yang suka, termasuk turis asing. Mereka mengaku senang, seolah menemukan peradaban lain yang begitu familiar, akrab satu sama lain tanpa embel-embel status sosial,” ujar Mbah Boy.
Bubu atau wuwu
Bagaimana ihwal tarif? Ah… ini pun unik. Jangan harap datang bill payment atau kuitansi tagihan. Pengunjung dipersilakan memasukkan sendiri uang ke dalam bubu atau wuwu. Bubu adalah alat penangkap sekaligus perangkap ikan (trap fish) tradisional. Nah, di lokasi Watu Lumbung, Boy menggantungkan bubu di beberapa titik dan anjungan.
Sesuai namanya Kampung Edukasi Watu Lumbung, di sini juga mengenalkan permainan tempo doeloe, mengajarkan survive di dalam hutan, menyediakan kuliner ndeso dengan wedang sereh tentunya juga makanan daerah seperti thiwul, sawut dan makanan ndeso lainnya. Buat cemilan, ada kalanya Boy menghidangkan peyek kacang, pop corn sorgum, dan lain-lain, yang semua dihasilkan dari area Watu Lumbung.
“Saya akan sangat menghargai siapa pun yang datang kemari dan menyumbang buku bekas. Bukan buku baru, sebab kalau baru pasti belum dibaca. Saya ingin buku yang sudah dibaca oleh pemiliknya. Saya akan mengapresiasi dengan memberinya kejutan,” kata Mbah Boy.
Begitulah sekilas Kampung Edukasi Watu Lumbung, selayang pandang. Saat ini, sudah cukup banyak berdiri tempat kuliner di sekitar Bukit Parangtritis. Ada yang membuatnya ala rumah pohon, ada yang membuat rumah panggung, rumah bambu, dan lain-lain. Kalau malam Minggu, tempat ini sangat ramai. Kafe-kafe tradisional di atas bukit, menjadi tempat yang sangat eksotik sekaligus romantis.
Mereka, para pengelola, adalah termasuk binaan Mbah Boy. “Saya tidak mungkin mengelola seuruh bukit ini sendirian. Saya persilakan yang ingin bergabung membangun Bukit Parangtritis ini sebagai destinasi wisata alam. Terhadap mereka, tidak saya bebani biaya sewa yang memberatkan. Konsepnya tetap kekeluargaan, tapi sepanjang memakai lahan yang berada di bawah pengawasan saya, maka saya menetapkan rambu-rambu, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Orientasinya satu, pelestarian alam dan kearifan lokal,” ujar Mbah Boy menutup perbincangan dengan Jayakarta News sambil menikmati wayah Candikolo. ***
Istana Raja (Grand Palace) dilihat dari Sungai Chao Phraya. Foto: Ist
MENGUNJUNGI Bangkok, belum sah kalau belum mengunjungi Grand Palace (GP), Istana Raja Thailand. Kompleks Raja Thailand ini berada di jantung kota Bangkok, Na Phra Lan Road, Old City. Istana yang dalam bahasa Thailand, Pra Barom Maha Ratcha Wang dibangun tahun 1782, atas perintah Raja Rama I.
GP berada di atas area seluas 218.400 M2 dikelilingi tembok tinggi sepanjang 1,9 Km, dekat sungai Chao Phraya. Sejak abad ke-18, berfungsi sebagai kediaman resmi raja Thailand. Namun sejak pemerintahan Raja Bhumibol Adulyadej, tidak lagi digunakan sebagai tempat tinggal raja. Raja Bhumibol mendiami Istana Chitralada. Demikian pula raja Maha Vajiralongkorn, penggantinya.
Begitu ramainya turis menuju gerbang utama The Phimanchaisri Gate. Foto: S. Resti HandiniSalah satu sudut bagunan di Grand Palace. Foto: S. Resti Handini
Meski kini tidak lagi dihuni oleh raja, tiap tahun istana ini masih menjadi tempat menggelar upacara dan ritual kerajaan. Seperti penobatan raja, jamuan kerajaan, pernikahan dan seremoni kerajaan lainnya. Di kompleks istana juga terdapat kantor pemerintah seperti kantor sekretaris pribadi Raja dan Institut Kerajaaan Thailand.
Arsitektur yang indah dan dekorasinya sangat rumit. Foto: Resti Handini
Di kompleks ini ada pula terletak kuil paling suci di Thailand, yaitu Wat Phra Kaew atau Temple of Emerald Buddha. Tidak heran jika kompleks kerajaan ini tetap menjadi pusat spiritual kerajaan Thailand.
Karena Grand Palace merupakan situs Thailand paling suci, pengunjung harus berpakaian sopan. Pengunjung pria tidak diizinkan menggunakan celana pendek dan kaos oblong serta tidak boleh menggunakan sandal. Demikian pula wanita, tidak diizinkan memakai tanktop dan baju transparan. Kalaupun sudah terlanjur begitu, diharuskan sewa sarung atau pasmina untuk menutupi bagian yang terlihat atau transparan.
Ukiran ukiran warna keemasan pada pilar membingkai lukisan beragam warna. Foto: Resti Handini
Kembali ke Istana Grand Palace. Desain bangunannya didominasi warna keemasan dengan arsitektur yang indah serta detil yang rumit. Semua pahatan, jelas dihasilkan dari pemahat dengan tingkat keterampilan seni yang sangat tinggi. Macam ragam lukisan, ukiran serta tempelan bebatuan pada sebagian bangunan, juga sangat indah dan rumit. Kesemuanya ini tentu memberikan rasa hormat dan bangga orang Thai akan kreativitas dan keahlian nenek moyang mereka.
Tentu, para turis pun ketika menyaksikan bangunan di GP yang terdiri dari 35 bangunan, mendecakkan mulut setidaknya dalam hati mengaguminya. Dari awal memasuki gerbang utama GP, The Phimanchaisri Gate, kemudian Kuil Wat Phra Kaew yang merupakan tempat ibadah umat beragama budha Thailand.
Bangunan kuil yang dibangun tahun 1785 dari awal sudah menarik perhatian karena silaunya mata memandang kuil yang bersalut emas, semakin indah karena terpaan cahaya matahari. Teriknya matahari dan keterbatasan waktu kami tidak dapat melihat, mengelilingi puluhan bangunan indah dan menarik lainnya. Tetapi setidaknya kami bisa melihat enam bagian penting dari GP. Kami pun digiring ke Balairung Chakri Mahaprasud. Bangunan yang dipengaruhi gaya Renaisans Itali, berada di middle court.
Sebagian kecil dekorasi mural tentang sejarah pembangunan Grand Palace, Thailand. Foto: S. Resti HandiniRaksasa (Yak). Foto: Ist
Lanjut melihat Prasat Phra Thap Bidon, Phra Si Raattana Chaedi, Batu Sema Ganda, Raksasa (Yak), dan Kinnon (merupakan makhluk mitologi, separuh bagian atas burung dan separuh manusia). Dekorasinya sangat rumit dan indah. Dekorasi tidak hanya ukiran berwarna emas, ada sejumlah bangunan berdekorasi mural tentang sejarah pembangunan GP Thailand.
Setelah mengelilingi sebagian bangunan indah yang sangat spektakuler, tentu saja kami harus menyempatkan diri berfoto. Di tengah keramaian pengunjung, tetap berusaha mencari momen yang sedikit sepi untuk ambil foto. ***
Di salah satu bagian Grand Palace, dengan latar belakang 2 Kinon sdg berjaga. Foto: S. Resti HandiniTidak melewatkan kesempatan berfoto di komplek Grand Palace. Foto: S. Resti Handini
TEMPAT wisata dengan mengedepankan tebing sebagai obyeknya memang sedang hits. Salah satunya adalah Tebing Breksi yang berlokasi di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta.
Letaknya berdekatan dengan lokasi Candi Ijo. Tebing breksi memang disukai penikmat wisata petualangan. Memang bagian dari tempat ini cukup indah untuk dijadikan sebagai obyek foto fashion, pre wedding atau acara bersama komunitas.
Tebing ini adalah sebongkah batu raksasa yang sejak tahun 1980-an ditambang oleh masyarakat sekitar. Hasilnya dimanfaatkan sebagai fondasi rumah, mendirikan dinding, membangun sumur, dan lain sebagainya.
Namun kemudian tim konservasi pemerintah daerah Yogyakarta dan para ilmuwan UPN Veteran Yogyakarta dalam laporan penelitian mereka menyatakan Tebing Breksi adalah endapan abu vulkanik letusan Gunung Api Purba Nglanggeran di Gunung Kidul.
Dinilai penting bagi keilmuan, pendidikan, budaya, dan estetika, Tebing Breksi lalu dimasukkan dalam daftar situs warisan geologi. Pada Mei 2015, Tebing Breksi dialihfungsikan menjadi objek geowisata. Kemegahan Tebing Breksi membuatnya jadi lokasi foto favorit pelancong. Bahkan tak jarang ada calon pengantin yang menjadikannya lokasi foto pranikah.
Pengunjung dapat menaiki tangga tinggi untuk mencapai puncak tebing. Dari atas, Anda akan disuguhi pemandangan memesona. Panorama Candi Ijo, Candi Ratu Boko, dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu akan memanjakan mata.
Selain menikmati pemandangan, Tebing Breksi juga memiliki panggung terbuka atau amphitheatre di kaki tebing. Namanya Tlatar Seneng.
Melihatnya, Anda mungkin akan teringat panggung Teater Dionysus di Yunani. Walau jika dibandingkan dengan teater terbuka berkapasitas 17 ribu orang tersebut, Tlatar Seneng bisa dibilang berukuran mini.
Deretan kursi melingkar dan berundak, dengan panggung di bagian tengah. Latarnya langit luas dan tebing menjulang. Dengan dukungan tata cahaya, pertunjukan di Tlatar Seneng tampak memukau.
Taman Tebing Breksi yang memiliki luas sekitar empat hektare ini dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata Tlatar Seneng. Diresmikan Mei 2015, mereka juga lah yang mengatur jadwal pentas di teater terbuka.
Setelah dijadikan objek wisata, Tebing Breksi menarik banyak wisatawan. Pada hari Senin sampai Jumat pengunjung bisa mencapai 500 orang. Jumlah pengunjung melonjak hingga 1.500-an orang pada Sabtu-Minggu sejak Januari 2016. Saat berkunjung ke Indonesia pada Juni 2017, Barack Obama juga sempat bertandang ke Tebing Breksi.
Waktu paling tepat untuk melancong ke Tebing Breksi adalah sore hari menjelang malam. Karena pengunjung dapat menikmati senja dan indahnya Matahari terbenam dari puncak tebing.
Mengingat lokasinya yang cukup terjal dan terbuka, pastikan Anda mengenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman. Bawa serta juga topi untuk melindungi dari teriknya matahari.
Tebing Breksi berjarak sekitar 10 kilometer dari Bandara Adisucipto. Dengan kendaraan roda empat, jarak ini bisa ditempuh dengan waktu kira-kira 30 menit. Sebaiknya pastikan kendaraan dalam kondisi prima, mengingat kondisi jalan yang menanjak dan tidak mulus.
Rute termudah menuju Tebing Breksi adalah melalui Candi Prambanan. Dari sini, jarak yang harus ditempuh sekitar tujuh kilometer. Setibanya di kawasan Pasar Prambanan, silakan pilih arah kanan menuju Piyungan. Dari sini, tiga kilometer lagi akan sampai ke tujuan. Anda dapat mengambil jalur kiri pada pertigaan, dan melaju satu kilometer lagi hingga tiba di Tebing Breksi.
Untuk melancong ke sini, Anda cukup membayar biaya parkir beberapa ribu rupiah saja. Di sekitar Tebing Breksi, pelancong dapat menengok beberapa objek wisata Candi. Beberapa di antaranya Candi Ijo, Candi Banyunibo, dan Candi Ratu Boko. ***