Melirik Bisnis Barang Bekas Rp 32 Triliun

Pak Agung, yang membangun aplikasi market place ‘’TokoSodara’’.
Oleh: Joko Intarto

BISNIS barang bekas tak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, perputaran dananya bisa membuat mata terbelalak: Rp 32 triliun setahun.

Siapa sangka volume jual beli barang bekas di Indonesia luar biasa besarnya. Data dari lembaga riset pemasaran menyebutkan, penjualan barang bekas melalui sebuah situs market place mencapai Rp 32 triliun per tahun.

Menurut riset kementerian perdagangan, volume transaksi jual beli online pada tahun 2016 mencapai Rp 130 triliun. Adapun enjualan tahun lalu sebesar Rp 160 triliun. Dengan volume senilai Rp 32 triliun, perdagangan barang bekas mencapai 20 persen dari total penjualan barang secara online. Luar biasa!

Barang bekas bernilai tinggi itu, antara lain, berasal dari kategori properti, otomotif, perabot rumah tangga, perhiasan, komputer dan elektronika. Pakaian bekas impor tidak termasuk dalam kelompok ini.

Pak Agung

Besarnya volume perdagangan barang bekas, rupanya menginspirasi Pak Agung. Pria paruh baya yang energik itu kemudian membangun usaha jual beli barang bekas secara online. Aplikasi market place ‘’TokoSodara’’ diperkenalkan ke publik sejak dua pekan lalu.

Tapi ‘’TokoSodara’’ tidak head to head dengan market place yang sudah eksis lebih dulu. Meski prinsip kerjanya sama, filosofi bisnisnya sangat berbeda. ‘’TokoSodara’’ menjadi market place khusus barang bekas yang ditujukan untuk donasi, atau sumbangan sosial.

Dasar pemikiran Pak Agung sederhana: banyak orang yang memiliki barang bekas yang tak terpakai dalam kondisi berfungsi normal. Mungkin karena sudah punya barang baru yang lebih advance.

Barang tak terpakai itu mubazir karena hanya bikin penuh gudang. Sementara kalau dijual, harganya tak seberapa. Di situlah peran ‘’TokoSodara’’. Menjadi jembatan antara penjual barang bekas dengan pembeli barang bekas untuk tujuan donasi sosial.

Proses transaksinya juga simple. Pertama, penjual harus menentukan berapa persen dari harga jual barangnya yang akan didonasikan. Pilihan donasi mulai 1 persen hingga 100 persen. Selanjutnya, unggah data barangnya melalui ‘’TokoSodara’’ dengan foto dan keterangan pendukung seperlunya.

Pembeli yang tertarik dengan barang bekas yang ditawarkan akan bertransaksi melalui sistem yang disiapkan ‘’TokoSodara’’. Donasi sesuai keinginan penjual akan disalurkan melalui lembaga amil zakat nasional ‘’Lazismu’’ yang telah mendapat izin operasi resmi dari pemerintah.

Masyarakat ternyata merespon positif ide Pak Agung. ‘’TokoSodara’’ pun kebanjiran order. Untuk melayani pembeli dan penjual dengan lebih baik, Pak Agung sekarang membuka dua kantor. Satu di Bogor sebagai kantor pusat. Satu lagi di Jakarta sebagai kantor cabang.

Selain dua kantor tersebut, Pak Agung akan menambah kantor pelayanan di beberapa kota lain. Tentu saja waktunya disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan.

Anda ingin ‘’membuang’’ barang bekas dari gudang sekaligus berdonasi? Coba manfaatkan aplikasi ‘’TokoSodara’’. ***

Orasi Kebangsaan Sri Sultan HB X

TEPAT 1 Juni 1945, 73 tahun lalu, Bung Karno membidani “Lahirnja Pantja Sila”, tatkala bangsa ini dalam proses “Menjadi Indonesia”. Lalu, pada 18 Agustus 1945, Pancasila jadilah Rumah Kita, sejak dikukuhkan dalam UUD 1945 sebagai Dasar Negara.

Sebagai Rumah Kita, Pancasila bagai tempat berteduh, seperti lirik lagu Franky Sahilatua “untuk cinta sesama”. Rumah berbagi gagasan, membangun asa, guna merajut masa depan.

Tapi kini, Rumah Kita lagi diterjang petaka dari manca, paham yang tak kita kenal. Terus digoyang, agar lima tiang utamanya roboh menimpa kita semua.

Harmoni kehidupan, bak warna-warninya bunga di tamansari dunia, diinjak-semena demi selfie bagi egoisme diri. Sungguh, awal sebuah kesedihan menuju perpecahan! Ia menggores jiwa, meretakkan sayap-sayap Garuda Pancasila.

Kini, rakyat bertanya: Mengapa Bumi Nusantara ini terus diusik oleh mereka yang mendua hati? Kenapa Pancasila selalu disulut ancaman radikalisasi dan intoleransi? Bukankah kita dambakan harmoni, bukan antipati? Damai bukannya bertikai? Andaikan sejarah cermin rujukan, bukankah setiap kita, satu hati bagi NKRI?

Kini, Ibu Pertiwi tercenung, merana dan menangis seraya berdoa. Karena anak-anaknya larut dalam debat tak sehat. Terjebak pada greget-saut, bukannya suluk Ki Dalang yang menenteramkan hati dan menyejukkan nurani.

Boedi Oetomo penyemai cita-cita, Soempah Pemoeda penegas bingkainya, Proklamasi tonggak perwujudannya, dan Pancasila pengikat yang menyatukan kita.

Benar kata Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Dan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah bangsa kita.

Maka, guna menguatkan pengikat sejarah perjuangan bangsa ke depan, camkanlah pesan ini, teriring Salam Lima Jari pengusir dengki:

 

Pancasila…

Janganlah kau puja

layaknya AZIMAT keramat

Tapi…

Jadikanlah ia,

KHIDMAD yang manfaat

 

Pancasila…

Janganlah kau simpan

bagai MONUMEN di keranda mati

Tapi…

Gunakanlah ia,

MOMEN gumregahnya aksi

 

Pancasila…

Janganlah kau teriakkan

dengan bahasa BASA-BASI

Tapi…

Gemakan suara,

bak GENTA REVOLUSI,

SATUKAN NEG’RI.

 

Semoga Tuhan menyertai kita semua. Selamat Hari Lahir Pancsila, 1 Juni 2018. Semoga hari ini menandai awal kebangkitan baru dari Yogya untuk Indonesia!

Sekian, terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Salam damai dalam kasih-Nya,

Semoga semua makhluk-Nya berbahagia,

Om Çanti, Çanti, Çanti, Om.

 

Kampus Universitas Pancasila UGM, 1 Juni 2018

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,

HAMENGKU BUWONO X

Maklumat Arek Suroboyo

BANGSA Indonesia terbelah sejak adanya Pemilihan Presiden tahun 2014, disusul dengan Pilkada DKI. Kondisi ini masih terus berlangsung hingga entah kapan. Padahal masa jabatan Presiden dan Kepala Daerah hanya sebatas lima tahun, dan maksimal hanya dua kali masa jabatan. Tetapi dampaknya ternyata sangat luar biasa dalam hubungan horizontal di masyarakat. Lebih-lebih dengan adanya media sosial, menjadikan polarisasi yang sangat tajam. Siapa lawan dan siapa kawan. Kondisi seperti ini sangat memprihatinkan justru Indonesia sudah 73 tahun merdeka. Sepantasnya persoalan-persoalan mendasar ini sudah diselesaikan ketika negeri ini baru merdeka.

Tahun 1998, rezim Orde Baru runtuh. Indonesia memasuki Orde Reformasi yang mengubah banyak hal dalam sistem pemerintahan dan politik kebangsaan. Reformasi telah banyak memberikan aspek positif perihal keberdayaan rakyat, kebebasan pers dan berekspresi, pembatasan masa jabatan kepala negara dan kepala daerah, pemilihan langsung oleh rakyat dan sebagainya.

Tetapi dalam perjalanannya reformasi sudah berjalan tidak semestinya. Banyak hal yang mengecewakan dan malah membuat apa yang semula dimusuhi justru bertumbuh subur. Pemilu 1999 adalah hasil para reformis, tetapi dalam perjalanannya semua partai telah mengecewakan.  Reformasi seolah-olah hanya menjadi Orde Baru yang ganti baju. Kita tentu tidak menginginkan  sampe Orba kembali lagi.  Banyak ketidak-puasan atas apa yang telah berjalan meski secara sistemik sudah bagus. Hal ini terjadi karena reformasi tidak tuntas dikawal. Negara ini sudah menjadi oligarki, hanya ditentukan oleh beberapa orang saja.

Hakekat partai sebagai alat perjuangan rakyat sudah tidak ada lagi. Partai menjadi milik pengusaha dan para pesohor. Partai ibarat perusahaan yang padat modal.  Partai malah menjadi beban bangsa. Alih-alih partai politik menjadi alat dan wahana untuk memperjuangkan kepentingan dan aspirasi rakyat; justru sebaliknya parpol menjadi beban dan benalu bangsa Indonesia dan menjadi bahaya yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Partai Politik memang dilematis, karena sistem politik dan hukum masih membutuhkan partai. Sistem demokrasi negeri ini masih memberi peluang keberadaan dan fungsi partai. Permasalahannya, selama ini kita terjebak dalam agenda partai politik.  Masyarakat menjadi ribut sendiri, konflik horizontal mudah tersulut. Kebhinekaan yang seharusnya menjadi modal dasar dan kebanggaan bangsa Indonesia sedang terancam.

Berbagai kesulitan, permasalahan dan tantangan adalah kesejarahan yang sangat panjang bagi rakyat, bangsa dan negara kita. Bukan kesulitan yang mengkhawatirkan, tetapi yang merisaukan dan berbahaya adalah kebuntuan yang dirasakan oleh rakyat kebanyakan, dan lebih membahayakan lagi rasa kebuntuan yang dialami oleh kalangan terdidik dan tercerahkan.

Situasi kebuntuan datang dari berbagai arah, baik pada aspek politik-pemerintahan, ekonomi, sosbud dan kamtibmas, dirasakan oleh segenap warga bangsa, baik intekektual atau jelata, tua-muda, kota-desa, pejabat hingga rakyat.

Kebuntuan menghasilkan pesimisme, apatisme dan dapat berujung pada tindakan dan perilaku ngawur. Dalam situasi yang sangat sensitif seperti hari-hari terakhir ini, kengawuran adalah titik api di padang ilalang. Merusak dan mematikan. Karena itu kebangkitan adalah pelepasan belenggu diri dan kemanusiaan dari ketidakberdayaan dalam bingkai kemanusiaan yang adil, beradab dan  bermartabat.

Berangkat dari permasalahan itulah maka kami, Arek-arek Suroboyo menyerukan Maklumat sebagai berikut:

  1. Kembali ke naskah asli UUD 1945 dengan catatan:
    • Tetap mempertahankan pembatasan masa jabatan Presiden dan Kepala Daerah hanya maksimal dua kali masa jabatan.
    •  Pembatasan jumlah partai dengan memperberat syarat-syarat pembentukannya.
  2. Hal-hal yang berkaitan dengan perubahan zaman dan lain-lain dijabarkan dalam penjelasan dari pasal-pasal UUD 1945.
  3. Diperlukan Politik Kewargaan, dimana setiap warga negara harus berpolitik tanpa harus masuk partai dan berpolitik partai. Jangan menjadi korban politik kepartaian. Tegakkan Pancasila sebagai way of live.
  4. Reformasi harus kembali ditegakkan kepada cita-cita semula. Partai-partai politik harus direformasi, dikembalikan sebagai sarana perjuangan rakyat dan bukan menjadi alat kekuasaan modal belaka. Peranan partai sebagai pilar dan pengamal serta pengawal demokrasi harus segera berbenah diri dan mengubah diri menjadi partai kader dan bukannya menjadi pelaku dan penikmat politik uang seperti selama ini.
  5. Reformasi di sektor birokrasi juga harus dituntaskan secara total agar dapat memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada rakyat sebagai pemegang sah kedaulatan bangsa.
  6. Diperlukan penuntasan pembentukan bangsa Indonesia dan pemerataan pendapatan dan kesejahteraan untuk mempersempit kesenjangan sosial ekonomi yang berpotensi meledak menjadi ontran-ontran dan anarki sosial.
  7. Diperlukan penguatan ketahanan nasional berlandaskan kebudayaan bangsa.
  8. Perlu perubahan mendasar sistem dan orientasi pendidikan dengan lebih memberikan ruang dan cakupan lokal dan daerah.
  9. Diperlukan Gerakan Hidup Baru bagi bangsa Indonesia dengan cara mengembangkan hidup hemat dan lebih mencintai lingkungan.

Surabaya, 1 Juni 2018

Tertanda: Tjuk K. Sukiadi, Henri Nurcahyo, Chrismanhadi, Wawan, Radian Jadid, Sulistianto Soejoso, Yusuf Mahdi, Esti Susanti Hudiono, Heri Purwanto,

Pengalaman Berwisata di Malaysia

Oleh Agung Suyono

Alhamdulillah akhirnya tahun 2017 saya mendapat kesempatan menjalankan ibadah Umrah ke Tanah Suci . Berangkat dengan pesawat Air Asia yang transit di Kuala Lumpur begitu juga dengan kembalinya dari Tanah Suci. Hanya saja sekembalinya dari Tanah Suci kita sempat menginap semalam di Kuala Lumpur.

Dengan semangat atau ghirah Islam yang masih kental karena baru selesai menjalankan ibadah umrah maka kelelahan fisik tidak kita rasakan. Walaupun setibanya di Bandara Kuala Lumpur sudah tengah malam dan setibanya di hotel lewat tengah malam tetapi istirahat yang hanya beberapa jam itu cukup memadai.

Seluruh jamaah umrah yang berjumlah 50 orang bangun pagi dengan semangat untuk shalat Subuh dikamar masing masing dan menikmati sarapan pagi di hotel. Berbagai menu makanan untuk sarapan kita temukan mulai dari telur dadar atau omelette dan sandwich yaitu roti lapis dengan isi burger daging sapi dan keju atau nasi goreng .

Berbagai minuman juga tersedia direstoran hotel itu seperti teh, kopi, jus dan susu kita tinggal memilihnya sesuai selera. Setelah semua jamaah selesai sarapan kita berkumpul di depan lobby dan berfoto selfie bersama. Semua tampak ceria dan bersemangat meskipun penat dan letih fisik masih terasa.

Sekitar pukul 08.00 pagi kita check out meninggalkan hotel Transit dan mulai mengikuti perjalanan wisata di Kuala lumpur dengan mengunjungi halaman Gedung Petronas. Gedung Petronas di Kuala Lumpur merupakan icon dari Kota Kuala Lumpur yang merupakan perkantoran milik perusahaan minyak nasional Malaysia.

Setelah berfoto selfieria di halaman Gedung Petronas perjalanan wisata kota Kuala Lumpur dilanjutkan ke pusat souvernir di sana. Terdapat berbagai makanan dan minuman khas Malaysia yang sangat menarik hati untuk kita beli dan bawa pulang sebagai cendera mata bagi keluarga.

Setelah mengunjungi pusat souvernir kemudian lanjut ke Chocolate Shop dan Factory di mana kita melihat bagaimana proses produksi dan pengolahan biji coklat sampai menjadi berbagai jenis makanan yg sangat nikmat rasanya. Sebagian anggota jamaah yg masih banyak bekal uangnya membeli berbagai cendera mata dan coklat untuk dibawa pulang.

Setelah diajak berkeliling kota Kuala Lumpur Tour Guide dan Bus Driver kita membawa jamaah ke Putra Jaya yang merupakan kawasan perkantoran Pemerintah Negara Malaysia yang sangat indah ditata dan dikelola secara baik. Ada danau dan sungai di antara Gedung Gedung Megah Pusat Pemerintahan itu dan juga Masjid Raya yang sangat indah.

Bangunan Mesjid Raya di komplek Putra Jaya itu berarsitektur campuran Turki, Melayu, dan Eropa terletak di pinggir danau yang sangat indah dipandang mata. Jamaah beribadah shalat dhuhur disana dan kemudian bermuhasabah saling mengungkapkan perasaan dan pengalaman mengikuti perjalanan ibadah Umrah plus Wisata di Malaysia.

Setelah selesai beribadah shalat dhuhur dan bermuhasabah serta tak lupa berfoto selfie di depan Mesjid Raya itu kita diajak menikmati makan siang di sebuah rumah makan Jawa di tengah kota Kuala Lumpur. Rumah makan Jawa itu terletak di pinggir jalan yang ramai serta padat lalu lintasnya, berbagai menu masakan Indonesia tersedia.

Makan siang disana begitu sangat mengobati rasa dan selera makan kita semua yang selama beribadah umrah di tanah suci maupun di dalam pesawat terbang tidak pernah puas dengan menu makanan yang tersedia. Setelah makan siang di rumah makan Jawa di tengah Kota Kuala Lumpur yang sangat memuaskan dan menyenangkan itu jamaah diantar ke Bandara Kuala Lumpur untuk kembali ke Jakarta .

Walaupun hanya semalam dan sehari di Kuala Lumpur tetapi pengalaman berwisata di negeri tetangga itu sungguh sangat memberikan kesan yang mendalam sehingga terbersit keinginan untuk suatu waktu nanti kembali lagi berwisata ke sana bersama keluarga. Insya Allah. ***

*) Agung SuyonoTour Leader di Jakarta

Berpuasa: Senang atau Tidak?

Oleh Teguh Siswanto

MENDENGARKAN ceramah Cak Nun selalu saja menarik. Tampil khas dengan kelompok musik Kiai Kanjeng, intelektual muda Islam itu masuk ke berbagai kalangan. Penggemar Emha Ainun Nadjib bejibun. Yang tidak suka, barangkali tidak kalah banyaknya. Apa pun itu, perbedaan adalah rakhmat.

Demi menyimak ceramah yang bernada “provokasi”, bermalam-malam saya tidak bisa memejamkan mata. Terngiang-ngiang terus ceramah Cak Nun yang “jleb” itu. “Hayooo… sekarang jujur saja… siapa yang senang dengan datangnya Ramadhan?”

Pertanyaan aneh. Bukankah setiap muslim menanti-nantikan datangnya bulan suci Ramadhan? Bulan penuh ampunan? Bulan yang disebut sebagai “bulan seribu bulan” di mana semua perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya?

“Sudahlah… terus terang saja… kalian sejujurnya tidak suka berpuasa kan?” Audiens yang umumnya kawula muda pun mulai terdiam. Antara benar dan takut menjawab benar. “Sudahlaaah, jujur sajaaa…. Aslinya kalian tidak senang tidak makan. Kalau saja, ada firmat Tuhan, ‘berhubung satu dan lain hal… maka ramadhan tahun ini kalian dibebaskan dari kewajiban berpuasa…’, waah… pasti kalian bersorak kegiarangan kan? Hayooo… ngaku sajaa…. Pasti ada yang mengepalkan tinju dan berteriak kegirangan, ‘Hidup Tuhaaaan…..’”

Audiens pun tertawa. Sepertinya mulai kerasukan sugesti Cak Nun…. Ada sebersit perasaan “Benar juga ya?”

Tidak apa-apa…, lanjut Cak Nun. Jujur saja. Justru yang tidak suka dengan datangnya Ramadhan, tetapi dia menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas, nilainya jauh lebih tinggi dibanding yang merasa senang dengan datangnya Ramadhan, tapi puasanya malah bolong-bolong. “Gampangnya begini saja…. Orang suka pedas, disuruh makan pedas, biasa saja kan? Tapi orang tidak suka pedas disuruh makan pedas, dan dia tetap makan dengan ikhlas. Coba, nilainya tinggi yang mana?” ujar Cak Nun.

Kiranya, Cak Nun ingin mengajak kita semua untuk tidak “lebay” menyambut Ramadhan dengan perasaan seolah-olah sebagai orang yang paling ikhlas berpuasa. Rasa tidak senang karena harus menahan lapar setengah hari, boleh saja memunculkan rasa kurang suka. Akan tetapi, kewajiban adalah kewajiban. Dan sebaik-baiknya hamba Allah yang taat adalah melaksanakan kewajibannya dengan ikhlas. ***

Dunia Sulap Indonesia Krisis Karakter

Deddy Corbuzier dan Rommy Rafael.
Oleh Gde Mahesa

JIKA mau jujur, generasi persulapan di Indonesia belakangan ini, setelah ter-explore lewat kompetisi di salah satu stasiun TV para pesulap muda boleh dibilang krisis karakter. Kenapa bisa demikian? Era keemasan dimulai sekitar tahun 1997 dimana muncul seorang Deddy Corbuzier dengan identitas sebagai mentalist dengan penampilan serba hitam dan dandanan yang super unik. Ia berhasil menyejajarkan hiburan sulap dengan acara musik, hingga sebuah acara yang digelar tak akan lengkap jika tanpa ada keajaiban sulap.

Hal ini berdampak panen rezeki dengan adanya tanggapan manggung pada semua orang yang berprofesi sebagai pesulap. Bahkan banyak anak-anak muda dadakan pingin jadi dan bisa sulap. Toko perlengkapan sulap, sampai kursus kilat menjamur. Sungguh sebuah fenomena yang luar biasa dalam dunia pertunjukan, hingga puncaknya digelar kompetisi besar yang ditayangkan langsung lewat salah satu stasiun televisi yang melahirkan sosok Limbad, Jhoe Shandi, Rizuki, dan banyak lagi.

Setelah ingar-bingar pergelaran kompetisi, alhasil banyak muncul pesulap generasi baru, tentunya dengan harapan ingin tenar dan bisa bertanding dalam acara tersebut. Hal ini tentulah sangat positif bagi dunia hiburan, namun tentu dampak ekonominya selalu ada. Semakin banyak dagangan yang ditawarkan maka akan semakin kecil harga yang ditawarkan, sangat logis bahkan penulis masih bisa dengar seorang pesulap mau dibayar sekadar pengganti transportasi, yang penting bisa tampil.

Dalam kurun lima tahun belakangan terasa seni pertunjukan sulap terasa melemah, walaupun ada beberapa pertunjukan besar atau kompetisi tingkat asia namun hasilnya seperti tak berdampak. Pesulap generasi baru tak ada yang muncul, dunia pertunjukan keajaiban hanya nampak ramai di media sosial. Kenapa bisa terjadi ?

Seseorang yang dianggap Bapak Sulap Indonesia mengatakan kepada penulis, bahwa rata-rata generasi baru inginnya instan. Mereka merasa mampu. Sebuah sikap yang justru menjebak dan menghambat keberhasilan.

Sebetulnya para pesulap harus lebih banyak membekali diri dengan ilmu panggung. Kalau orang teater menyebut dengan acting. Tidak hanya itu, pesulap harus mengerti benar tentang dirinya dan panggung itu sendiri. Semenrara yang tampak di permukaan, generasi sekarang hanya meniru karakter, atau mengubah sedikit dari karakter yang diidolakan, hingga terasa datar.

Karakter sulap Indonesia sudah warna-warni, butuh sosok baru lagi. Sebab sekarang masih bertahan karakter yang lama. Harus lebih kreatif dan tidak takut dikritik, tentunya juga berani membuat terobosan dalam bermain di atas panggung, berani melawan arus. Ini yang ditunggu sehingga muncul seseorang yang mampu membuat semarak dunia hiburan khususnya sulap.

Tantangan bagi generasi penerus sulap Indonesia, akankah lahir sosok baru dalam dunia hiburan persulapan? Semoga. ***

Kenangan  Bersama CZ

Chaeruddin Zaman (paling kanan), bersama jajaran redaktur Harian Jayakarta saat mengikuti kelas “Bahasa Jurnalistik” di Fakultas Sastra UI. Tampak jajaran redaktur lain: Yashinto Sembiring, Roso Daras, Heri Mulyono, dan Abbas Prabowo. Foto: Dok. Jayakarta

Oleh Iswati

SATU demi satu kawan kita pergi. Santhy Sibarani, Novi Nuryanti, dan kini Chaeruddin Zaman (CZ). Sabtu (19/5) lalu CZ menghadap Sang Pencipta. Dia menjadi kawan sekantor cukup lama. Sebagaimana pertemanan, apalagi dalam profesi jurnalistik, kawan sekantor ya…, teman diskusi, sekaligus lawan debat. Juga teman bercanda, dan kadang saling ejek, maka ketika menerima kabar berpulangnya, kita tentulah tersentak dan merayap rasa kehilangan.

“Begitu cepatnya waktu berlalu,”  igau Dini dalam komentarnya di whats app di grup mantan karyawan Jayakarta. Segalanya memang terasa cepat berlalu, Dini,  setelah sampai di ujung waktu, apalagi sudah tiada.

Berita duka ini kita terima dari kawan kita Kris Kaban, tapi dikatakan pula CZ sudah dimakamkan. Terlambat kita terima duka cita itu, sehingga tak punya  kesempatan mengantarnya ke rumah terakhir, menuju alam keabadian. Tempat dimana setiap yang bernyawa akan ke sana. Tinggal menunggu jadwal batas saja.

Mengenang almarhum CZ dengan ciri kumis baplang, sekilas memang tampak garang dan kasar. Namun kita tahu, dia tidak seperti itu. Di sisi lain ada beberapa  hal yang bisa dipetik dari sosok CZ yang “garang” ini. Setidaknya bagi saya yang mulai kenal CZ sejak di Kantor Jayakarta manajemen lama di Jl. Otista III, Jakarta Timur. Dia disiplin dalam beribadah, selalu ingin menyegerakan sholat. Sesibuk apa pun jangan tinggalkan sholat, katanya.

Ketika Jayakarta berkantor di Jalan Dewi Sartika, lalu pindah ke Jl. Arus (komplek Suara Pembaruan), saya makin tahu CZ, terutama ketika Redpelnya dijabat Albert Kuhon yang mana naskah yang diserahkan padanya kudu clean dan sesuai dengan style  bahasanya. Yang baru jadi reporter maupun yang sudah beberapa tahun pun, setelah diperiksa Kuhon selalu ada coretan lalu diberi catatan di sana-sini, termasuk naskah saya dan CZ.

Dari situasi seperti itu, menulis seolah-olah sangat susah, dan berbicara pun tidak  mudah –entah topik apa yang dibahas saat itu, tapi bincang-bincang kami para wartawan di ruang depan di Jl Dewi Sartika membahas tentang kemampuan seseorang dalam menulis dan berbicara/pidato atau ceramah – CZ  berkomentar begini, “Di Indonesia ini cuma ada satu orang yang bisa menulis dan bicaranya pun bagus yaitu Sukarno (Presiden RI pertama).”

Saya coba menyanggah dengan menyebut beberapa nama yang berkelebat di kepala yakni Bung Tomo, Pramudya Ananta Tur dan lainnya. CZ bergeming. Teman lain ada yang tetap asyik mengetik (sebagian besar masih pakai mesin ketik), yang lain lagi hanya senyum saja, mungkin maklum CZ suka “bombas” kalau bicara.

Namun omongan CZ itu tidak terlupakan hingga kini. Boleh jadi pendapatnya itu tepat, atau mendekati kebenaran. Karena dia mematok dengan kriteria puncak. Bahwa karya-karya atau tulisan Bung Karno seakan terus beresonansi sesuai nafas zaman. Dan orasinya punya daya pukau kuat. Acap menggetarkan dan sanggup membangkitkan semangat nasionalisme bangsanya.

Meski saya tidak pernah mendengar CZ bicara tentang Sukarno tapi seiring perjalanan saya mencoba tahu lebih jauh tentang Sukarno, tampaknya omongan CZ itu tidak berlebihan. Bahkan sampai kini belum muncul sosok yang bakatnya mirip Sukarno, yang karya tulisnya monumental, dan orasi-orasinya mengagumkan.

Tapi kita tentu harus optimis, di zaman milenia ini, akan hadir generasi yang handal. Tidak hanya cerdas, tapi juga berwawasan luas, punya pemikiran dalam, sepenuh hati cinta tanah air dan luhur pula kepribadiannya. Insya  Allah!

Jadi nanti bukan hanya satu, atau Sukarno saja di Indonesia ini, seperti yang dikatakan CZ. Mudah-mudahsan! Kita semua tak pernah henti berharap. Selamat jalan, kawan. Semoga husnul khotimah dan pintu-pintu jannah terbuka untukmu. ***

Tujuh Kebijakan Semar

Oleh Bambang Asrini Widjanarko

 

DALAM filosofi orang-orang Jawa konsep utama manusia hidup adalah memahami diri. Dengan menghayati dirinya sendiri, diharapkan manifestasinya adalah lelaku penghormatan kepada sang liyan. Yakni, memuliakan sesama manusia, alam, dan seluruh isinya.

Manusia Jawa kemudian dituntut untuk menjadi manusia yang reflektif. Menjadi pemimpin dirinya sendiri sekaligus selalu eling dan waspada agar terhindar dari malapetaka; yang selanjutnya berpasrah kembali pada-Nya: Sangkan Paraning Dumadi.

Tema pameran solo Sohieb Toyaroja adalah manusia yang mematut ke dalam dirinya: Ke-Diri. Sosok Semar kemudian menjadi rujukan penting, bagaimana seseorang harus mencari kesejatian, dalam kosmologi besar maupun kecil. Semar adalah tauladan ideal sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai illahiah. Semar dalam pandangan yang sama disebut Gusti Allah yang Katon, Tuhan yang terlihat atau manusia adikodrati. Dalam beberapa peradaban dunia konsep seperti ini disebut Ubermanch (Jerman), dan kita mengenalnya di keyakinan Islam dengan konsep Insan Kamil.

Pameran Solo Pelukis Sohieb Toyaroja dengan demikian mengeksplorasi sosok manusia unggul berjuluk Semar. Perwujudan dari Dewata Ismaya dalam diongeng Mahabharata versi Jawa (bukan India) yang menjadi penasihat anak-anak Prabu Pandu; Pandawa. Semar menjadi abdi sekaligus penasihat keluarga Pandawa.

Kemudian muncul pertanyaan, kenapa justru kebaikan wajib didampingi, dinasihati? Bukankah keluarga Kurawa yang jelas-jelas wakil dari si angkara murka? Konsep Jawa yang unik memberi pesan, justru yang menampak baik seringkali lebih sulit diraba. Kejahatan yang telanjang jelas-jelas terlihat. Acapkali kejahatan menyaru dalam kebaikan, Semar hadir mengingatkan,

Sohieb mempresentasikan berbagai ajaran Semar dengan membawanya dalam konteks kekinian dalam tujuh lukisan-lukisannya. Yang menarik Sohieb tak harus menarasikan Semar-Semar hari ini yang sakral, merenung, dan sublim. Semar dihadirkan dengan cara yang bahkan kontradiktif dan saling bertolak belakang dalam pemahaman logika benar-salah.

Ia samar-samar bertutur dengan pesan-pesan yang mengendap. Semar di tujuh lukisan disimbolkan melalui peristiwa, kronik, tuturan yang transenden dari titisan Batara Ismaya itu menjadi satiris, reflektif, bahkan komikal. Karena Semar lebih dekat karakternya dengan masyarakat kecil, wong cilik. Ia digambarkan seperti dalam manusia-manusia keseharian yang lemah namun tabah, kuat, usil serta tak lupa membawa pasemon, sindiran halus khas orang Jawa.

Sohieb menciptakan Semar untuk direnungkan, ditertawakan sampai sesekali mengolok-olok drinya sendiri. Olok-olok atau pasemon itu sebenarnya sebuah sindiran tajam tentang para pamong, pemimpin atau orang-orang yang berkuasa yang lupa amanahnya.

Panggilan utama untuk eling, mengaca pada dirinya sendiri, jangan terlalu jumawa terhadap segala hal, yang di Jawa disebut sebagai ngumangsani daripada rumongso.

***

TENTANG TUJUH LUKISAN

Lukisan pertama berjuluk Highway to Heaven, yang menggambarkan sang Semar bertelanjang diri menuju cahaya di langit melewati jalan setapak dengan bayang-bayang gelap di belakangnya. Atmosfer lukisan beraura muram. Ada kotak kecil berwarna oranye, dengan teks flight recorder, do not open. Sohieb ingin berteka-teki, sekaligus menafsir konsep paling sulit pun paling esensial di Jawa, Sangkan Paraning Dumadi yang dihubungkan pada ilustrasi black box di dunia penerbangan.

Semar sebagai manusia yang linuwih sangat menyadari eksistensi dirinya di dunia hanya sebentar, bagi para pejalan jauh yang istirah meneguk minum usai itu melanjutkan perjalanannya ke sang Khaliq. Kotak oranye adalah representasi kerahasiaan, sesuatu yang disembunyikan, namun ia ada dan layak ditinggal, atau diungkap kelak secara tuntas? Apakah itu harta, keluarga bahkan jabatan-jabatan mentereng yang sempat disandang dan membawa beban kembali padaNya?

Lukisan ke-2 adalah tujuh panel lukisan yang satu dan lainnya berkesinambungan. Lukisan berjudul Semar Evolution dengan narasi sebuah transformasi dari konstruksi bertubuh wayang kulit menjadi manusia. Panel demi panel dalam lukisan berubah secara dimensional dari perspektif pipih menjadi menubuh seperti manusia dengan atribut yang merujuk pada profesi dan peran yang disandang seperti: ulama, pegawai negeri, hakim, polisi/TNI sampai pengusaha dengan simbol-simbol yang tertera.

Ada satire pahit dan kejenakaan terlihat bersama, sebelum Semar benar-benar menjadi “manusia paripurna”. Yakni, upaya Semar dengan identitas pengusaha (bersimbol Semar memakai dasi warna merah) menyogok uang pada sang Semar sejati di panel ketujuh.

Semar yang telah utuh menjadi manusia menasihati Semar lainnya dalam gestur tangan dan ekspresi muka. Kita segera mengingat isu-isu suap dan korupsi di Tanah Air; dan Sohieb membawa kita soal itu dengan mengaitkan tentang konsep evolusi menusia berikhwal dari kera (Darwinisme), sebelum mencapai bentuknya yang paling ideal: Homo Sapiens. Manusia utuh yang bernalar dan bernurani.

Lukisan ke-3, Semar meminjam dalam konteksnya dengan sejarah seni rupa serta mengapropriasi lukisan fenomenal Basoeki Abdullah, Pertempuran Gatotkaca dan Antasena (1933). Sebagai pelukis potret dan figur-figur yang realis pada masa lalunya, Sohieb tergelitik untuk meminjam imej tersebut dari pendahulunya. Yang diplesetkan imejnya dengan judul Pertempuran Semar versus Togog.

Dalam dongeng, Semar perwujudan dari Batara Ismaya dan Togog dari Batara Antaga saling berebut menelan gunung Mahameru. Untuk membuktikan siapa paling sakti di antara mereka dalam sebuah sayembara. Mereka, terutama Semar, masih dinarasikan para dewa di kahyangan yang belum sepenuhnya lepas dari ego, ingin memenangkan dirinya mengalahkan liyan. Semar seperti menjadi tauladan bahwa masa lalunya tdak lepas dari sifat-sifat kemanusiaan: kerakusan terhadap kekuasaan atau tafsir lain tentang kompetisi sengit hari ini antar manusia yang mengancam kelangsungan eksistensi semesta.

Lukisan ke-4 judulnya Mbegegeg Ugeg-ugeg: Flowing and Flying. Lukisan itu menggambarkan Semar-semar bertelanjang dada dalam tiga panel lukisan. Dalam konsepsi Jawa, pengertian itu adalah upaya manusia yang tak diam saja, bekerja dan berbuat, jika mendapatkan rezeki selayaknya menerima dengan ikhlas.

Semar-semar telanjang adalah perwujudan manusia-manusia yang bersiap untuk sebuah lari marathon. Sebuah aktivitas yang melelahkan dengan persiapan jasmani dan fisik prima yang mengantar pada keyakinan untuk terus berbuat. Bertindak dan bekerja, dan tidak berorientasi pada hasil namun dalam proses. Kita mengenalnya dalam konsep air yang terus mengalir sementara benak terbang dalam harapan terbaik di masa depan.

Lukisan ke-5, yang dekat dengan konsep vox populi vox dei, yakni suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan judul Game of Throne, lukisan Sohieb menerjemahkan kekuasaan yang diwujudkan oleh sebuah kursi ada di ujung jari telunjuk sang Semar. Uniknya, posisi Semar tampak sangat relaks, yang digambarkan sedang merebahkan diri di sebuah balai-balai. Seakan ia abai pada sekelilingnya dengan tangan kiri menyedot sebotol susu. Semar adalah kanak-kanak, apa adanya, jujur, sekaligus naif.

Dengan karakter itu, Semar sungguh tak ada ambisi untuk melengserkan kekuasaan, berpesan bahwa mereka yang berambisi menjadi pemimpin hendaklah mendengar dan memahami suara wong cilik. Bukan janji-janji dalam kampanye politik kemudian dikhianati. Rakyat yang bermanifestasi menjadi Semar akan dengan mudah melengserkan kekuasaan seseorang jka ia mau. Tuhan dan Rakyat menyebadan dalam sosok Semar dalam versi lukisan ini.

Di lukisan ke-6, Semar melanglang buana ke angkasa. Dalam judul Semar’s Universe, Sohieb ingin mengeksplorasi tafsir tentang konsep Jawa: Jagat besar dan kecil dalam diri manusia. Seperti juga dalam Islam pada tassawuf, manusia sejatinya adalah pancaran energi Tuhan, sebuah proses emanasi dengna para penghuni langit. Mengejawantah dalam diri manusia yang memahami jagat kecilnya yang adalah perwujudan juga kosmos besar.

Sel-sel dlaam tubuh, proses berkehidupan dalam perspektif ilmu biologi sejalan dengan hukum-hukum alam semesta. Kematian sebuah bintang, sebuah tata surya, sepaham dengan sirnanya atau matinya sel-sel dalam tubuh manusia, semuanya ada awal dan akhir. Tentunya dengan merujuk kaidah-kaidah tertentu dalam ilmu pengetahuan dan kalam illahiah di kitab-kitab suci. Demikian pula karakter-karakter yang imanen dalam diri kemanusiaan kita. Gambaran semar yang “terjun bebas” dari daratan bulan ke atau sebaliknya menjadi king maker. Ia hanya bertutur jelas bahwa baginya kekuasaan adalah sesuatu yang remeh-temeh. Ekspresi mukanya tersenyum menikmati, ia ingin bumi, sengaja hendak mengawasi hidup di sana dalam waktu sama berefleksi di dalam dirinya sendiri.

Lukisan ke-7, dengan judul United Color of Semar, lukisan-lukisan Sohieb berpendar-pendar warnanya dengan latar belakang kotak-kotak berisi sosok dari Che Guevara, Bung Karno, sampaii komedian Rowan Atkinson. Di sana terpapar samar-samar ada sosok “sesat” Hitler sampai legenda bandit Al Capone selain tokoh-tokoh mulia seperti Budha, Theresa, dan Sidarta Gautama denggan figur kepala di arca candi sampai ikon pornografi Jepang, Miyabi.

Semar dalam lukisan ini, seperti biasa, berlagak cuek, bergestur semaunya, jenaka, sampai membuat gerakan skipping, seakan Semar berbisik, “segala apa yang manusia perbuat di dunia, seringkali tak memberi makna hakiki. Mereka seperti bidak dan pion-pion di permainan catur”.

Semar beralih rupa menjadi dzat yang melampaui segala, yang digambarkan di latar belakang lukisan. Dari tokoh sesat, mulia, komedian, bahkan bintang porno adalah sebentuk permainan belaka; dari beragamnya polah dan tingkah manusia di jagat fana. Semar melampuai identitas-identitas dalam asumsi pikiran manusia: keyakinan reliji, etnisitas, ideologi, atribut-atribut dan jabatan-jabatan serta semua kemajemukan yang bersandar atas nama-nama itu.

Segala yang melekat dalam diri kembali ke asal. Kekosongan berhulu pada keketiadaan yang berarti kekekalan. Hidup sejatinya bermuatan mati. Semar di lukisan ini menyampaikan ujaran yang cukup mengena bahwa ia adalah manusia sekaligus sosok berenergi transenden, tak pernah terpikat seuatu yang dianggap paling besar maupun hal yang paling sepele dalam perspektif hidup manusia. Ia senyatanya di atas warna-warna terang, gelap, abu-abu, dan lain-lain.

Semata Semar hidup sejengkal di dunia, kemudian sirna menjemput kesejatian dalam perjalanan menuju ke kematian.

***

SOSOK SEMAR SENI KONTEMPORER

Lukisan dan karya-karya Sohieb dengan menggali ide-ide dasar akar lokalitas adalah keniscayaan. Sebab, seni rupa kontemporer hari ini mengapresiasi datangnya era yang sejak 30-tahun terakhir dengan sebutan Glocali: Global sekaligus Local. Sejarah seni Barat dan eksistensi estetika Barat, dengan cara pemahaman dan penyampaiannya pada publik telah lama menghegemoni kesadaran seni sejagat lambat laun berubah.

Kita mengingat seniman China seperti Ai Wei-Wei atau Anish Kapoor dari India sebagai misal. Yang mengeksplorasi elemen-elemen tertentu kultural Timur. Demikian juga, tatkala seniman dunia dari Thailand Rikrit Tiravanija yang mengusung seni dengan estetika relasi: seni yang terhubung dengan orang banyak. Yang sejatinya, bukanlah jenis karakter demikian adalah berakar dari seni rakyat, dalam konteks tradisi dahulu di teritori Timur?

Pada waktu yang sama, seniman Indonesia dengan seni kontemporer yang paling diapresiasi oleh dunia internasional adalah Heri Dono yang terilhami Wayang Jawa dan Komik. Maka, idiom-idiom Semar, sebagai subject matter dari pelukis-pelukis kita adalah sudah menjadi kelumrahan atau sebagai kekuatan baru usainya generasi seniman yang lebih senior di Indonesia seperit Heri Dono.

Tentu saja Sohieb bukanlah Heri Dono, ia tdak hendak menyalin siapa saja yang menggali ide-ide dasar kultur kita yang demikian majemuk. Sohieb dengan caranya sendiri, lahir dari Kediri, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang membuka kesadaran baru. Dari kota itu, tentang sosok manusia Semar, yang Sohieb membawanya terhubung dengan konsep besar bahwa sudah waktunya kita berkaca dalam diri.

Sohieb ingin memberi sumbangsih pada keindonesiaan kita, melampaui sebuah teritori kota kuno bernama Kediri, yang terus hari demi hari tumbuh bertambah besar dan semoga memberi dampak pula dalam peta besar seni rupa Indonesia yang kita cintai bersama.

*) Bambang Asrini Widjanarko, Kurator


Pameran diselenggarakan di Galeri Kunskring Paleis, Jl Teuku Umar 1, Jakarta tanggal 29 April- 29 Mei 2018.