• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026

Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026

October 31, 2026
A.A. Maramis, Bapak Keuangan Indonesia

A.A. Maramis, Bapak Keuangan Indonesia

October 31, 2026
Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah Membuat Partai Lebih Sehat, Hapus Ambang Batas Parlemen

Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah Membuat Partai Lebih Sehat, Hapus Ambang Batas Parlemen

October 31, 2026
Bencana Naik Jadi 2.247 Kejadian, BNPB Imbau Warga Siaga Banjir, Angin Kencang dan Tanah Longsor

Bencana Naik Jadi 2.247 Kejadian, BNPB Imbau Warga Siaga Banjir, Angin Kencang dan Tanah Longsor

October 30, 2026
Sumpah Pemuda ke-98, KAJ Ajak OMK Belajar Kepemimpinan Empat Paus

Sumpah Pemuda ke-98, KAJ Ajak OMK Belajar Kepemimpinan Empat Paus

October 30, 2026
Conggo Meliala Dipilih Kembali Jadi Ketua Umum EMAKA BAN 2026-2031

Conggo Meliala Dipilih Kembali Jadi Ketua Umum EMAKA BAN 2026-2031

October 30, 2026
Conggo Meliala: Alumni Karo Bandung EMAKA BAN Siap Berkolaborasi Demi Kemajuan Karo

Conggo Meliala: Alumni Karo Bandung EMAKA BAN Siap Berkolaborasi Demi Kemajuan Karo

October 30, 2026
Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

Kasus Penyalahgunaan Beras SPHP: BULOG Nonaktifkan 6 Karyawannya dan Bentuk Satgas Khusus

October 30, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

Kiki Syahnakri Urai Sejarah PPAD, Organisasi Purnawirawan TNI AD yang Lahir Pascareformasi 1998

October 29, 2026
PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

PPAD Tegaskan Komitmen pada Kesejahteraan dan Pengabdian Purnawirawan TNI AD

October 29, 2026
Update Pembunuhan Sadis di Madiun! Terungkap Ibu-Anak Dimutilasi dan Dibakar

Update Pembunuhan Sadis di Madiun! Terungkap Ibu-Anak Dimutilasi dan Dibakar

October 29, 2026
Garin Nugroho Sebut TIFF 2026 Bagian Penting dalam Karirnya

Garin Nugroho Sebut TIFF 2026 Bagian Penting dalam Karirnya

October 29, 2026
Geger! 600 Ton Beras SPHP Dioplos Jadi Premium, Mentan Ngamuk: Ini Berpotensi Ganggu Tata Niaga Beras

Geger! 600 Ton Beras SPHP Dioplos Jadi Premium, Mentan Ngamuk: Ini Berpotensi Ganggu Tata Niaga Beras

October 28, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Saturday, October 31, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel
    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Babe Koko dan 70 Motor Tua: Merawat Sejarah, Merawat Investasi

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Feature

Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026

by admin
October 31, 2026
in Feature
0
Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026
491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Heri Mulyono, Malang

Data per 22 Oktober 2026 · Bacaan sekitar 9 menit

Majapahit tidak runtuh dalam semalam. Ia lapuk perlahan: dinasti terbelah, laut berpindah tangan, panen gagal. Pada 1478 orang Jawa menuliskannya dalam teka-teki angka. Lebih dari lima abad kemudian, teka-teki itu terasa seperti cermin.

Poin Kunci • Majapahit tidak jatuh karena satu sebab: perang saudara (Regreg, 1404–1406), suksesi berantai, hilangnya kendali atas laut, dan kekeringan menumpuk selama lebih dari seabad. • Sejarawan menekankan kemunduran perlahan, bukan satu serangan Demak. Daha, sisa kerajaan itu, baru jatuh pada 1527. • Joseph Tainter dan Ibn Khaldun sama-sama menunjuk melemahnya daya koreksi negara sebelum guncangan datang. • Indonesia Oktober 2026: rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS, IHSG anjlok ke kisaran 5.000, dan asap karhutla menyeberang ke Malaysia dan Singapura. Paralelnya sebuah lensa, bukan ramalan.

Retakan yang tak tertulis

Tahun 1365, seorang pendeta Buddha bernama Prapanca menulis puisi untuk rajanya. Di dalamnya, ibu kota Majapahit tampil seperti lukisan: tembok bata merah yang tebal dan tinggi, pendapa berukir, atap yang ditaburi kelopak bunga gugur tertiup angin. Kitab itu kita kenal sebagai Nagarakretagama, atau Deśavarṇana, dan hingga kini menjadi sumber primer utama (catatan sezaman) tentang zaman keemasan Jawa.

Naskah Nagarakretagama dalam aksara Jawa Kuno, koleksi Perpustakaan Nasional RI. Sumber: SejarahNasional.org.

Namun sejarawan membacanya dengan alis terangkat. Wayan Jarrah Sastrawan, peneliti di École française d’Extrême-Orient, menilai teks itu campuran kronik, propaganda kerajaan, dan memoar pribadi.

Tetapi kitab itu bungkam tentang Ādityavarman, pangeran yang sejak 1347 menobatkan diri sebagai maharaja di Sumatra tengah tanpa tunduk pada Jawa. Pujian di puncak kejayaan, rupanya, sering menyembunyikan retakan yang sudah mulai menjalar.

“Pujian di puncak kejayaan, rupanya, sering menyembunyikan retakan yang sudah mulai menjalar.”

Citra udara dan satelit kemudian menyingkap jaringan kanal yang menyilang kota Majapahit di Trowulan, kawasan sekitar seratus kilometer persegi yang diduga ibu kota itu. Nagarakretagama juga mencatat Hayam Wuruk lahir pada 1256 Saka (1334 M), tahun yang sama dengan letusan Gunung Kelud. Sang raja besar lahir di bawah abu, seolah alam sudah menandai bahwa kejayaan di tanah ini selalu berdiri di atas bumi yang bergolak.

Gapura Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto — sisa arsitektur bata era Majapahit. Sumber: Kompas.com.

Retakan dari dalam: perang saudara dan suksesi berantai

Kejayaan itu dibangun dengan ambisi. Menurut Pararaton, Gajah Mada bersumpah pada 1331 untuk menaklukkan pulau-pulau seberang: Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik. Sastrawan mengingatkan bahwa Sumpah Palapa sering diparafrasekan sebagai tekad “menyatukan Nusantara”, padahal teks Jawa Kuno-nya hanya menyatakan bahwa pulau-pulau seberang telah dikalahkan.

Pararaton juga mengisahkan peristiwa Bubat 1357, ketika rombongan keluarga raja Sunda yang datang untuk pernikahan dibantai karena salah paham: Sunda mengira putrinya akan menjadi permaisuri, Jawa mengira ia upeti, yakni persembahan tanda tunduk. Kisah itu tak ada dalam Nagarakretagama maupun prasasti abad ke-14, sehingga sebagian sejarawan meragukan detailnya. Tetapi satu hal terang: hegemoni (dominasi) Majapahit tak pernah diterima begitu saja dan terus memicu konflik sepanjang abad ke-14.

Hayam Wuruk wafat pada 1389. Sesudahnya, takhta menjadi arena perebutan keluarga. Puncaknya Perang Regreg (1404–1406), yang lazim disebut Paregreg, istilah yang menurut para peneliti lahir dari salah paham bahasa.

Bhre Wirabhumi, penguasa wilayah timur, kalah dan dipenggal. Kas negara terkuras, perhatian istana tersedot ke dalam, dan para peneliti menyebut perang saudara ini sebagai salah satu sebab kemunduran Majapahit pada tahun-tahun berikutnya.

Luka itu tak pernah sembuh. Sepeninggal Kertawijaya pada 1451, takhta berpindah dari tangan ke tangan: Rajasawarddhana naik pada 1451, Hyang Purwawisesa pada 1456, dan kemudian, setelah Singhawikramawarddhana wafat, Bhre Kertabhumi mengangkat dirinya sendiri sebagai maharaja. Negara yang terus mengulang krisis suksesi menghabiskan tenaganya untuk menjaga kursi, bukan menjaga rakyat.

Pinggiran merasakannya lebih dulu. Tomé Pires, apoteker Portugis yang menulis Suma Oriental di Malaka pada 1512–1515, mencatat tutur lisan bahwa Jawa pernah menguasai hampir seluruh Sumatra sampai kekuasaannya menyusut sekitar seabad sebelumnya. Putra raja Palembang yang menikah ke keluarga raja Jawa justru membangkang, lari ke Singapura, dan akhirnya mendirikan Malaka.

Sastrawan menyimpulkan bahwa bukti hegemoni Jawa menipis sepanjang abad ke-15. Para raja masih memakai gelar “raja di atas raja” dalam prasasti 1447, 1473, dan 1486, tetapi tak lagi menyebut pulau-pulau seberang.

Laut berpindah tangan: pesisir utara bangkit

Yang paling menentukan terjadi di laut. Pada paruh kedua abad ke-15, pelayaran Jawa perlahan lepas dari kendali pusat dan jatuh ke tangan kota-kota pantai utara yang otonom, dihuni saudagar Muslim.

Demak, Tuban, dan Gresik tumbuh. Kertabhumi, demi mempertahankan kepentingan ekonomi, bahkan memberi hak dagang kepada pedagang Muslim di pesisir, langkah yang justru menguatkan Demak.

Pires, yang datang ketika semua itu sudah menjadi kenyataan, menggambarkan keraton yang berwibawa di atas kertas. Raja-raja Jawa, tulisnya, tidak benar-benar memerintah; yang berkuasa adalah wakil raja dan panglima bernama Guste Pate. Negara masih punya mahkota, tetapi pengambilan keputusan sudah berpindah tempat.

Gapura Wringin Lawang di kompleks Trowulan, salah satu gerbang tersisa dari kota Majapahit. Sumber: Kompasiana.

Ketika alam mengetuk: kekeringan dan teori Tainter

Lalu datang alam. Sebuah kajian paleoklimat, rekonstruksi iklim masa lalu, berbasis data PHYDA menemukan bahwa kondisi kekeringan pada episode-episode krusial Majapahit, yakni Perang Regreg, kelaparan besar sekitar 1426, dan tahun 1478, berbeda signifikan dari rata-rata seluruh era kerajaan itu. Temuan ini masih awal dan perlu diuji.

Tetapi maknanya jelas: kekeringan tidak meruntuhkan Majapahit. Ia menguji sebuah sistem yang sudah kehilangan daya tahan.

Itulah yang dirumuskan antropolog Joseph Tainter dalam The Collapse of Complex Societies (1988). Masyarakat runtuh bukan karena satu bencana, melainkan karena investasi pada kompleksitas, yaitu birokrasi, perang, dan pemeliharaan status, akhirnya mencapai titik hasil yang menurun.

Pada titik itu, negara kehilangan kelenturan untuk menghadapi guncangan biasa seperti perang, bencana, atau wabah. Satu pukulan yang cukup keras, dan sistem itu patah.

Di titik ini, pandangan populer yang menyalahkan “hancurnya moral penguasa” perlu dihaluskan. Tainter menolak penjelasan tunggal yang bersifat moral atau kosmis, seperti kutukan atau degenerasi budaya, dan memilih faktor sistemik yang dapat diuji. Korupsi nyata dan merusak, tetapi lebih tepat dibaca sebagai gejala sistem yang kehilangan daya koreksi daripada akar tunggal keruntuhan.

Sirna Ilang Kertaning Bumi: 1478 dan sesudahnya

Menjelang 1478 Majapahit terbelah menjadi dua pusat kekuasaan. Bhre Kertabhumi bertakhta di Wilwatikta, sementara Dyah Ranawijaya Girindrawarddhana berkuasa di Daha. Tahun itu Ranawijaya mengerahkan pasukan besar, dan tradisi Serat Kandha menempatkan kehancuran ibu kota pada tahun 1400 Saka, penanggalan Hindu-Jawa yang bila ditambah 78 menjadi tahun Masehi.

Orang Jawa menyimpannya dalam sengkalan: sirna (0), ilang (0), kerta (4), bumi (1). Dibaca dari belakang, angkanya 1400 Saka atau 1478 Masehi. Artinya, lenyaplah kemakmuran bumi.

Tetapi bukan Demak yang menghabisi Majapahit pada tahun itu, dan bukan pula dalam sekali pukul. Daha, sisa kerajaan itu, baru jatuh pada 1527.

Britannica merumuskannya dengan jernih: kaum Muslim tidak menggulingkan Majapahit. Kerajaan itu, yang melemah oleh perselisihan keluarga dan tersingkir dari perdagangan laut, layu dengan sendirinya lalu menghilang.

Linimasa: dari puncak ke senja 1331: Sumpah Palapa Gajah Mada, menurut Pararaton (sumber yang disusun belakangan) 1365: Prapanca menulis Nagarakretagama 1389: Hayam Wuruk wafat 1404–1406: Perang Regreg 1451: Kertawijaya wafat; takhta berpindah dari tangan ke tangan 1478: Majapahit terbelah antara Kertabhumi dan Ranawijaya; sengkalan sirna ilang kertaning bumi 1527: Daha, sisa kerajaan, jatuh

Pola yang berulang: Ibn Khaldun dan tiga benang merah

Bila semua keping itu ditarik, tampak tiga benang merah. Pertama, pusat yang sibuk dengan dirinya sendiri: Regreg, suksesi berantai, dua istana. Kedua, hilangnya kendali atas arus ekonomi: pelayaran dan pelabuhan berpindah ke pesisir.

Ketiga, guncangan alam yang jatuh pada sistem yang daya lentingnya kian tipis. Tak satu pun cukup untuk menjatuhkan kerajaan. Bersama-sama, mereka melakukannya selama lebih dari seabad, dari Regreg 1404 hingga jatuhnya Daha 1527.

Pada 1377, ketika Hayam Wuruk masih bertakhta, di Afrika Utara Ibn Khaldun menyelesaikan draf Muqaddimah. Ia mengamati bahwa dinasti punya umur alami dan jarang melampaui tiga generasi. Solidaritas kelompok, asabiyyah, menipis ketika penguasa terbiasa pada kemewahan.

Di awal dinasti, katanya, pajak kecil menghasilkan banyak; di akhir dinasti, pajak besar menghasilkan sedikit. Dua pemikir dari dua benua dan enam abad berbeda sampai pada kesimpulan yang beririsan: negara besar jarang tumbang oleh satu faktor.

Cermin untuk Indonesia 2026: lima indikator

Apakah Indonesia hari ini berjalan di lorong yang sama? Negara modern bukan kerajaan Jawa abad ke-15.

Ada konstitusi, pemilu, pers, pasar obligasi, dan jutaan warga terdidik yang tak dimiliki Wilwatikta. Namun pola yang diuraikan para ahli bisa dipakai sebagai daftar periksa, bukan ramalan.

Tainter sendiri enggan menerapkan teorinya pada peristiwa kontemporer, dan ia mengingatkan bahwa masyarakat modern saling terhubung: kompleksitas di sekelilingnya cenderung menyerap atau mencegah keruntuhan mendadak. Maka yang ditawarkan di sini hanyalah lensa.

Angka Kunci, Oktober 2026 Indeks Persepsi Korupsi 2025: skor 34, peringkat 109 dari 182 IHSG, 16 Oktober 2026: turun sekitar 11,6% ke 5.185 Rupiah, 22 Oktober 2026: ditutup Rp18.060 per dolar AS Bunga utang pemerintah 2026: sekitar Rp582 triliun Asap karhutla: Malaysia dan Singapura terdampak sejak akhir September

1. Tata kelola

Indeks Persepsi Korupsi 2025 dari Transparency International (TI), lembaga antikorupsi global, memakai skala 0 (sangat korup) sampai 100 (sangat bersih). Indonesia meraih skor 34 dan peringkat 109 dari 182 negara, turun sepuluh peringkat dari 99 setahun sebelumnya.

Peneliti TI Indonesia menunjuk meningkatnya kasus suap, lemahnya pengawasan masyarakat sipil, dan nepotisme yang dinilai masih lazim oleh pelaku usaha. Skor itu mengukur persepsi, bukan jumlah kasus, tetapi arah penurunannya patut dicermati.

2. Kepercayaan pasar

Pada 16 Oktober 2026 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), cermin seluruh saham di Bursa Efek Indonesia, anjlok sekitar 11,6 persen ke 5.185 dan perdagangan sempat dihentikan otomatis (trading halt); tiga hari kemudian indeks dibuka di bawah 5.000. Indeks sempat memantul ke 5.328 pada 21 Oktober, lalu dibuka turun 2,5 persen keesokan harinya. Pemicunya rencana MSCI, penyusun indeks saham global yang menjadi acuan dana-dana besar, menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi standalone, kategori di luar indeks utama yang cenderung membuat dana global mengurangi porsinya.

Alasannya: investabilitas (kemudahan berinvestasi), transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan lemahnya penegakan aturan. Keputusan final paling lambat 30 Juni 2027, tetapi modal asing sudah bergerak. Seperti pelabuhan pantai utara yang menarik kapal dari Wilwatikta, modal selalu mencari tempat yang dipercaya.

3. Nilai tukar

Rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS pada 16 Oktober dan ditutup di Rp18.060 pada 22 Oktober, setelah Bank Indonesia menahan BI Rate, suku bunga acuannya, di 5,75 persen. Analis mengaitkannya dengan derasnya arus keluar modal asing dan harga minyak yang naik akibat eskalasi Timur Tengah. Titik terlemah tahun ini, sekitar Rp18.088, tercatat pada 5 Juni.

4. Ruang fiskal

Pemerintah menargetkan pembiayaan utang Rp832,2 triliun pada 2026, dengan pembayaran bunga diperkirakan sekitar Rp582 triliun. Pada 2027, bunga dan subsidi diproyeksikan menyerap sekitar seperempat belanja negara. Logika Tainter di sini terang: makin besar porsi anggaran untuk menopang beban yang ada, makin kecil ruang menjawab masalah baru.

Keadilan menuntut sisi sebaliknya dicatat. Lembaga pemeringkat utang S&P pada Juli 2026, sebelum gejolak Oktober, mempertahankan peringkat BBB (layak investasi) dengan prospek stabil dan memperkirakan defisit anggaran di bawah 3 persen PDB, ukuran seluruh produksi ekonomi.

5. Alam: banjir dan karhutla

Banjir Sumatra akhir 2025 menewaskan lebih dari seribu dua ratus orang, dan pencabutan izin 28 perusahaan yang dituduh ikut berkontribusi, menurut TI, berlangsung tanpa audit atau peninjauan peradilan. Kini giliran api.

Sejak akhir September 2026, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan membekap Malaysia dan Singapura. Pada 7 Oktober Singapura sempat menjadi kota berudara terburuk di dunia versi IQAir, platform pemantau kualitas udara, sekolah di sejumlah wilayah Malaysia ditutup sejak 9 Oktober, dan penerbangan terganggu.

Singapura mempertimbangkan memakai Transboundary Haze Pollution Act, undang-undangnya yang dapat menjerat perusahaan penyebab asap lintas batas, sementara Malaysia menawarkan bantuan pemadaman dan menunggu pembahasan teknis rampung. Pemerintah Indonesia, lewat Badan Komunikasi Pemerintah, menyebutnya fenomena alam, bukan kelalaian manusia. Pusat pemantau asap ASEAN (ASMC) memperkirakan El Niño, pemanasan laut Pasifik yang memicu kemarau di Indonesia, menguat pada Oktober–November.

Kajian PHYDA mengaitkan kemungkinan penyebab kekeringan era Majapahit dengan fase ENSO, siklus El Niño dan La Niña. Alamnya berulang, yang diuji adalah kesiapan negara.

“Alamnya berulang, yang diuji adalah kesiapan negara.”

Bukan ramalan, melainkan peringatan

Pelajaran Majapahit bukanlah bahwa Indonesia pasti runtuh. Pelajarannya, kemunduran jarang terlihat dari dalam.

Prapanca menulis puisi indah ketika Ādityavarman sudah membangkang. Raja-raja abad ke-15 masih bergelar “raja di atas raja” ketika kapal-kapal telah berlayar ke pelabuhan lain.

Barangkali pertanyaan yang layak diajukan bukan kapan sebuah negara runtuh, melainkan siapa yang berani membawa kabar buruk kepada pusat. Prapanca menulis untuk rajanya, dan Nagarakretagama tak memuat Ādityavarman. Negara yang kehilangan saluran kabar buruk kehilangan alarm terakhirnya.

“Negara yang kehilangan saluran kabar buruk kehilangan alarm terakhirnya.”

Yang membedakan peradaban yang bertahan dari yang layu mungkin bukan ketiadaan krisis, melainkan kesediaan mengakui retakan selagi masih bisa ditambal: suksesi yang tertib, pengawasan yang dibiarkan hidup, pinggiran yang didengar, laut dan hutan yang dijaga. Majapahit tidak diberi kesempatan kedua.

Sengkalan itu ditulis oleh mereka yang sudah kehilangan. Kita masih bisa membacanya sebagai peringatan.

Istilah Singkat untuk Pembaca

Nagarakretagama (Deśavarṇana): puisi pujian untuk Hayam Wuruk karya Mpu Prapanca, bertarikh 1365; sumber sezaman terpenting tentang Majapahit.

Pararaton: kronik Jawa berbahasa Kawi yang disusun awal abad ke-16, jadi ditulis jauh sesudah peristiwanya.

Sengkalan: teka-teki angka tahun Jawa: tiap kata bernilai angka dan dibaca dari belakang. Sirna-ilang-kerta-bumi (0-0-4-1) berarti 1400 Saka.

Asabiyyah: istilah Ibn Khaldun untuk solidaritas kelompok yang menjadi tenaga pendirian sebuah dinasti.

Hasil menurun (Tainter): setiap tambahan beban birokrasi, perang, atau pemeliharaan status memberi manfaat makin kecil, hingga negara kehilangan kelenturan.

Paleoklimat dan PHYDA: paleoklimat adalah iklim masa lampau; PHYDA basis data rekonstruksinya dari jejak alam seperti cincin pohon dan inti es.

ENSO dan El Niño: ENSO ialah siklus suhu laut Pasifik; fase El Niño biasanya membuat kemarau di Indonesia lebih kering dan api lebih mudah menyebar.

Karhutla dan asap lintas batas: kebakaran hutan dan lahan yang asapnya terbawa angin melewati batas negara.

Trading halt: penghentian sementara perdagangan saham secara otomatis ketika indeks turun terlalu dalam.

Pasar berkembang dan standalone: dua kategori klasifikasi pasar saham MSCI; standalone berada di luar indeks utama sehingga lebih sedikit dana global yang mengikutinya.

BI Rate: suku bunga acuan Bank Indonesia yang memengaruhi bunga kredit dan daya tarik aset rupiah.

Peringkat BBB: penilaian kemampuan membayar utang; BBB termasuk kategori layak investasi.

Defisit anggaran dan PDB: defisit ialah selisih belanja yang melebihi penerimaan negara; PDB ialah nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi dalam setahun.

Referensi

  • Wayan Jarrah Sastrawan, Was Majapahit really an empire? (New Mandala, 2020): https://www.newmandala.org/was-majapahit-really-an-empire/
  • Britannica, History of Indonesia: Islamic influence: https://www.britannica.com/topic/history-of-Indonesia/Islamic-influence-in-Indonesia
  • Demak–Majapahit conflicts (Wikipedia): https://en.wikipedia.org/wiki/Demak%E2%80%93Majapahit_conflicts
  • Regreg War (Wikipedia): https://en.wikipedia.org/wiki/Regreg_War
  • Kajian PHYDA, Majapahit in the fifteenth century: https://www.researchgate.net/publication/41018009_Majapahit_in_the_fifteenth_century
  • Joseph Tainter, The Collapse of Complex Societies (ringkasan): https://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Tainter
  • Ibn Khaldun, Muqaddimah dan asabiyyah: https://en.wikipedia.org/wiki/Asabiyyah
  • Tomé Pires, Suma Oriental (arsip): https://archive.org/details/McGillLibrary-136385-182
  • IPK 2025 Indonesia (Kompas/Tempo via indoleft.org): https://www.indoleft.org/news/2026-02-11/corruption-perception-index-declines-global-ranking-drops-by-10-places.html
  • IHSG dan MSCI, 16 Oktober 2026 (CNBC Indonesia): https://www.cnbcindonesia.com/market/20261016092937-17-776724/ihsg-anjlok-11-rupiah-tembus-rp-18000-us–ini-penyebabnya
  • Rupiah, 22 Oktober 2026 (Bisnis.com): https://market.bisnis.com/read/20261022/93/2014685/nilai-tukar-rupiah-terhadap-dolar-as-hari-ini-kamis-22-oktober-2026
  • Rupiah menembus 18.000 (Liputan6): https://www.liputan6.com/bisnis/read/8314456/rupiah-tembus-18000-hari-ini-16-oktober-2026
  • Bunga utang 2027 dan outlook 2026 (Indonesia Business Post): https://indonesiabusinesspost.com/7193/markets-and-finance/indonesia-s-debt-interest-bill-rises-11-7-to-rp650t-in-2027
  • Pembiayaan utang APBN 2026 (IDN Financials): https://www.idnfinancials.com/news/62568/kemenkeu-utang-lagi-meski-yield-meroket-hingga-7-125
  • Peringkat S&P, 13 Juli 2026 (Bisnis.com): https://ekonomi.bisnis.com/read/20260713/10/1987719/sp-ramal-defisit-apbn-2026-di-bawah-3-beban-utang-tetap-tinggi
  • Banjir Sumatra dan izin perusahaan (StratNews Global): https://stratnewsglobal.com/world-news/indonesia-falls-10-places-in-2025-global-corruption-ranking/
  • Asap karhutla, 14 Oktober 2026 (Liputan6): https://www.liputan6.com/amp/8312703/asap-karhutla-masih-selimuti-singapura-malaysia-udara-sangat-tidak-sehat
  • Asap karhutla dan risiko hingga akhir Oktober (detik): https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8701611/asap-karhutla-kalimantan-sampai-malaysia-singapura-risiko-masih-tinggi
  • Tanggapan pemerintah soal asap (Kompas): https://nasional.kompas.com/read/2026/10/10/16222141/malaysia-singapura-dikepung-asap-karhutla-bakom-di-luar-human-error-ini

Tags: runtuhnya dinasti majapahitruntuhnya majapahit
Share196Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
A.A. Maramis, Bapak Keuangan Indonesia

A.A. Maramis, Bapak Keuangan Indonesia

October 31, 2026
Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026

Runtuhnya Majapahit dan Cermin untuk Indonesia 2026

October 31, 2026
Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah Membuat Partai Lebih Sehat, Hapus Ambang Batas Parlemen

Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah Membuat Partai Lebih Sehat, Hapus Ambang Batas Parlemen

October 31, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version