Ambisi Trump untuk Amerika: Kebijakan Ekstrem yang Mengguncang Tatanan Global

Oleh : Heri Mulyono

Pada 3 Januari 2026, dunia terbangun dengan berita yang mengejutkan: pasukan khusus Amerika Serikat berhasil menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas dan membawanya ke New York untuk menghadapi tuduhan kejahatan narkotika. Operasi militer spektakuler ini, dikombinasikan dengan perang tarif agresif dan ambisi ekspansionis terhadap Greenland dan Panama, menandai perubahan radikal dalam kebijakan luar negeri AS yang mengguncang fondasi tatanan global

Penculikan Maduro: Momen Watershed dalam Hukum Internasional

Operasi penculikan Maduro terjadi pada 3 Januari 2026 ketika pasukan khusus AS menyerang beberapa lokasi di Venezuela utara, termasuk pangkalan militer utama di Caracas, dan berhasil menangkap Maduro beserta istrinya Cilia Flores. Trump mengumumkan AS akan “menjalankan negara itu” hingga transisi yang aman dapat dilakukan.

Operasi ini muncul setelah bulan-bulan serbuan militer yang dimulai September 2025, dengan Trump akhirnya mengadopsi pendekatan yang lebih ekstrem dari kebijakan “tekanan maksimum” masa jabatan pertamanya. Yang paling kontroversial, Trump secara terbuka menyatakan motivasi utamanya adalah “mengambil minyak” Venezuela, mengklaim negara tersebut “mencuri” cadangan di bawah tanahnya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan sangat prihatin bahwa operasi ini menciptakan “preseden berbahaya” dan aturan hukum internasional tidak dihormati. Pakar hukum internasional sepakat ini adalah pertama kalinya dalam sejarah modern satu negara menculik kepala negara yang menjabat tanpa mandat PBB atau deklarasi perang.

Venezuela Pascamaduro: Kekacauan dan Kontrol Jarak Jauh

Trump mengumumkan AS akan “menjalankan” Venezuela melalui Wakil Presiden Delcy Rodriguez, yang kini menjabat sebagai presiden sementara, dengan Trump menyatakan “Jangan tanya siapa yang bertanggung jawab, karena saya akan memberi jawaban yang sangat kontroversial”. Strategi ini bukan penggantian rezim klasik, melainkan “dekapitasi rezim” yang berkembang menjadi pemaksaan terhadap pejabat yang ditinggalkan Maduro.

Trump mengejutkan banyak pengamat dengan menyatakan pemimpin oposisi Maria Corina Machado tidak memiliki dukungan yang diperlukan untuk memerintah, meskipun ia pemenang Nobel Perdamaian. Ini menandakan AS lebih memilih mengendalikan rezim Maduro yang tersisa daripada transisi demokratis sejati.

Trump mengumumkan telah “membentuk kesepakatan” dengan eksekutif perusahaan minyak besar untuk berinvestasi di industri minyak Venezuela yang hancur, meskipun ketentuan kesepakatan tidak jelas. Sementara itu, krisis kemanusiaan memburuk dengan kekerasan di jalanan dan jutaan warga berusaha melarikan diri.

Perang Tarif: Volatilitas Ekstrem dan Kesepakatan Terbatas

Dari Januari hingga April 2025, rata-rata tarif efektif AS meningkat dari 2,5% menjadi setinggi 27%—tingkat tertinggi dalam lebih dari satu abad. Trump mengumumkan “Liberation Day” tarifs pada 2 April 2025, memberlakukan tarif “resiprokal” pada sekitar 90 mitra dagang, termasuk tarif 34% pada China di atas tarif fentanyl 20%.

Namun, kebijakan ini memicu volatilitas ekstrem. Pada April 2025, Trump menaikkan tarif pada China dari 84% menjadi 125%, memicu reaksi keras dari Beijing. Pasar keuangan global guncang, dan konsumen Amerika mulai merasakan dampak inflasi.

Setelah eskalasi yang merusak, AS dan China mencapai kesepakatan pada Mei 2025 untuk menurunkan tarif resiprokal menjadi 10% selama 90 hari. Kesepakatan diperpanjang beberapa kali, dan setelah pertemuan antara Trump dan Xi Jinping akhir Oktober 2025, kedua pihak sepakat memperpanjang tarif yang diturunkan hingga 10 November 2026.

Meskipun ada tarif agresif, China mengakhiri 2025 dengan surplus perdagangan triliunan dolar—kemenangan ekonomi dan politik. Beijing menyerap guncangan dengan kontrol ekspor elemen tanah jarang yang presisi dan gesekan regulasi yang terukur.

Tarif Trump mencapai kenaikan pajak rata-rata $1.100 per rumah tangga AS pada 2025 dan $1.400 pada 2026. Lebih dari separuh orang Amerika menyalahkan pemerintahan Trump atas meningkatnya biaya hidup.

Ambisi Ekspansionis: Greenland dan Panama

Trump terus mengancam akan mengambil alih Greenland dan Kanal Panama dengan kekerasan jika perlu. Dalam pidato di Kongres 4 Maret 2025, Trump menyatakan “Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional” dan “administrasi saya akan merebut kembali Kanal Panama, dan kami sudah mulai melakukannya”.

Pemerintahan Trump mendiskusikan “berbagai opsi” untuk mengakuisisi Greenland, termasuk menggunakan kekerasan militer. Wakil Presiden JD Vance mengunjungi Greenland pada Maret 2025 dan menyatakan ekspektasi bahwa penduduk Greenland akan memilih kemerdekaan dari Denmark melalui penentuan nasib sendiri, kemudian AS akan “melakukan percakapan” dengan mereka.

Presiden Panama Jose Raul Mulino menolak klaim Trump, menyatakan “Presiden Trump berbohong” dan “Kanal Panama adalah milik Panama dan akan terus menjadi milik Panama”. China membantah mencoba mengklaim kontrol atas kanal.

Perdana Menteri Denmark dan Greenland berulang kali menyatakan wilayah tersebut tidak dijual. Perdana Menteri Denmark mengatakan langkah AS terhadap Greenland akan berarti akhir dari NATO.

Reaksi Global: Dunia Terpolarisasi

Amerika Latin Marah

Presiden Brasil Lula da Silva mengutuk serangan AS terhadap Venezuela, menyebutnya “melewati batas yang tidak dapat diterima” dan menciptakan “preseden berbahaya”. Brasil menarik dubesnya dari Washington. Meksiko, Kolombia, Chile, dan Argentina mengeluarkan kutukan serupa.

Presiden Kolombia Gustavo Petro menyebut operasi ini sebagai “agresi terhadap kedaulatan Venezuela dan Amerika Latin” dan menyatakan konflik internal harus diselesaikan oleh rakyat itu sendiri dalam damai.

China dan Rusia Bereaksi Keras

Kementerian Luar Negeri China menyatakan “sangat terkejut” dan mengutuk “penggunaan kekuatan terang-terangan terhadap negara berdaulat”, menyebutnya perilaku hegemonik yang melanggar hukum internasional.

Rusia mengutuk serangan dan menyerukan pembebasan segera Maduro, menggambarkan operasi AS sebagai “agresi bersenjata” yang memerlukan kecaman. Moskow menegaskan solidaritas dengan rakyat Venezuela.

Eropa Terbelah

Pejabat tinggi kebijakan luar negeri UE Kaja Kallas menyatakan UE berulang kali menyatakan Maduro tidak memiliki legitimasi, namun menekankan “prinsip hukum internasional dan Piagam PBB harus dihormati” dan menyerukan pengekangan.

Menteri Luar Negeri Prancis menyatakan operasi militer melanggar prinsip tidak menggunakan kekerasan yang mendasari hukum internasional dan tidak ada solusi politik yang bertahan lama dapat dipaksakan dari luar.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan negaranya tidak terlibat dalam operasi dan menekankan pentingnya menegakkan hukum internasional, meskipun mengakui tidak ada air mata untuk rezim Maduro.

Iran dan Korea Utara

Iran mengeluarkan pernyataan yang sangat mengutuk serangan AS pada Venezuela, menyebutnya pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan integritas teritorial.

Korea Utara mengutuk penculikan Maduro sebagai “pelanggaran serius terhadap kedaulatan” dan contoh yang menegaskan “sifat jahat dan brutal AS”.

PBB: Tidak Berdaya Menghadapi Realitas

Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang darurat di mana Rusia dan China mengajukan resolusi yang mengutuk penculikan dan menuntut pembebasan Maduro, namun diveto oleh AS dan Inggris.

Sekretaris Jenderal PBB menekankan pentingnya penghormatan penuh terhadap hukum internasional dan sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional tidak dihormati.

Resolusi Majelis Umum yang mengutuk tindakan AS dan menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan disahkan dengan dukungan luas, tetapi tidak memiliki kekuatan mengikat. PBB terbukti tidak relevan dalam menghadapi kekuatan militer Amerika yang digunakan secara sepihak.

Implikasi Global: Tatanan Baru yang Tidak Stabil

Sinyal untuk Rusia dan China

Operasi Venezuela kemungkinan akan memberi keberanian pada Rusia dengan Trump menyebut ekstraksi Maduro sebagai “operasi militer luar biasa”—menggemakan deskripsi Putin tentang invasi Ukraina sebagai “operasi militer khusus”. Ini menunjukkan bahwa kadang-kadang kekuatan besar mungkin dibenarkan dalam intervensi militer terhadap negara kecil.

China tidak memerlukan pengambilalihan Venezuela oleh Trump untuk membenarkan kampanye militer terhadap Taiwan, namun preseden ini mempermudah penciptaan dalih.

Eropa Menghadapi Dilema Eksistensial

Ancaman Trump terhadap Greenland saja telah mempercepat pembongkaran kredibilitas, otoritas, aliansi AS, dan tatanan pasca-Perang Dunia II . Eropa dipaksa untuk mempercepat “otonomi strategis” dengan komando militer independen dan industri pertahanan bersama.

Proliferasi Nuklir dan Fragmentasi Perdagangan

Jika kedaulatan tidak lagi dilindungi hukum internasional, negara-negara menengah akan mencari keamanan mandiri. Banyak negara mencari mitra perdagangan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada AS, dengan perdagangan terfragmentasi menjadi blok-blok regional.

“Doktrin Donroe”: Dominasi Hemisfer Barat

“Korolari Trump” pada Doktrin Monroe, sebagaimana diuraikan dalam Strategi Keamanan Nasional 2025, secara resmi berlaku, mendemonstrasikan komitmen yang sudah lama tertunda terhadap keamanan hemisferik.

Namun Trump puas dengan Venezuela yang terus dijalankan oleh rezim represif yang sama, selama setuju melakukan perintahnya—ia memilih pengaturan ini daripada pemerintahan yang dipimpin oposisi. Ini bukan tentang demokrasi, tetapi tentang dominasi.

Kesimpulan: Amerika Membongkar Tatanan yang Dibangunnya Sendiri

Negara paling kuat di dunia, yang sama yang membangun dan memimpin tatanan global pascaperang, kini secara aktif membongkarnya, dipimpin oleh presiden yang lebih berkomitmen dan lebih mampu membentuk kembali peran Amerika di dunia daripada siapapun dalam sejarah modern.

Trump telah menunjukkan bahwa ketika Amerika menginginkan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya—bukan hukum internasional, bukan PBB, bukan sekutu. Maduro tidak memiliki sekutu yang bersedia bertindak, tidak ada militer yang mampu membalas, tidak ada pengaruh atas apapun yang dipedulikan Trump.

Namun kemenangan taktis ini datang dengan biaya strategis yang besar. Kredibilitas Amerika di mata dunia hancur. Sekutu tidak lagi mempercayai komitmen Washington. Musuh merasa dibenarkan untuk menggunakan logika kekuatan yang sama. Tatanan berbasis aturan yang melindungi kepentingan Amerika selama 80 tahun digantikan oleh hukum rimba di mana hanya kekuatan militer yang penting.

Dunia tidak akan kembali ke status quo. Yang muncul adalah tatanan multipolar yang kacau di mana konflik adalah norma, hukum adalah opsional, dan setiap negara dengan kekuatan militer merasa berhak melakukan apa yang dilakukan Trump. Januari 2026 mungkin akan diingat sebagai momen ketika Amerika, dalam usahanya membuktikan kehebatannya, justru mempercepat penurunan relatif yang ingin dihindarinya. (*)

Dari Keraton sampai Kawula, Mengenal Minyak Klentik

Gde Mahesa

Minyak kelapa (jw: klentik) bagi penulis merupakan salah satu jenis minyak yang sangat istimewa. Bagi sementara orang, aroma minyak klentik menusuk hidung, Padahal, dengan menambahkan bunga melati atau kenanga (dan direndam), menjadikan wangi.

Minyak Kelapa merupakan salah satu minyak khas Indonesia yang sudah terkenal luas di seluruh dunia akan manfaat dan khasiatnya. Pohon kelapa sendiri sangat banyak tumbuh di wilayah tropis.

Dari daging kelapa inilah minyak klentik didapat, melalui teknik pengolahan tertentu. Kehadirannya terbilang sangat tua di negeri kita. Sejak zaman dulu nenek moyang kita telah menggunakan minyak klentik untuk perawatan rambut agar hitam berkilau.

Jika minyak kelapa dibalurkan pada kulit setiap hari setelah mandi dapat menjadi pelembap.

Penggunaan minyak kelapa pada kulit telah berlangsung sejak zaman kuno yang dilakukan oleh para leluhur kita.

Sedangkan tradisi mengonsumsi minyak kelapa, juga sudah dikenal luas oleh masyarakat. Bahkan bagi ibu hamil yang akan melahirkan sangat dianjurkan untuk mengonsumsi minyak kelapa setengah gelas sebelum melahirkan, agar proses persalinannya menjadi lancar dan mudah.

Lain daripada itu, beberapa manfaat lainnya adalah:

Media Diet, caranya bisa dicampurkan dengan menu makanan tertentu pada program diet, dimana dapat membantu menstimulasi metabolisme, yang bisa membuat rasa kenyang.

Menghapus riasan atau make-up, yang mana minyak kelapa dapat dipakai sebagai pengganti cleansing oil untuk menghapus riasan wajah yang sifatnya ringan, dan membantu menghilangkan semua kotoran tanpa menghilangkan minyak alami pada wajah.

Pelembab kulit dengan cara mengoleskan minyak kelapa ke kulit wajah agar kulit tetap lembap dan terhidrasi. Selain itu, juga dapat membantu mengobati penyakit kulit seperti eksim.

Mengobati jerawat, kandungan  senyawa pada minyak kelapa berperan sebagai antiinflamasi dan dapat mengurangi peradangan pada kulit, termasuk jerawat.

Mencegah penuaan dini, dimana minyak ini dapat menjadi penghalang terhadap debu dan polutan lingkungan lain.

Membantu penyembuhan luka, konon minyak kelapa dapat membantu proses penyembuhan luka. Tak hanya itu, antimikroba yang ada pada minyak kelapa juga mampu mencegah infeksi.

Sedangkan dalam ritual Jawa, minyak kelapa ( inyak klentik) memiliki peran penting untuk membersihkan, merawat, dan memberi makna spiritual. Biasanya digunakan untuk jamasan pusaka agar awet dan berkilau, atau sebagai campuran obat tradisional, serta simbol kemakmuran dan kehidupan, hal ini menunjukkan warisan budaya yang mendalam sejak zaman raja-raja.

Dalam ilmu mistis, minyak kelapa yang diolah khusus seperti menjadi minyak Mamala (Maluku) atau minyak Bintang (Dayak) dianggap memiliki energi spiritual untuk perlindungan gaib, pengasihan, juga media ritual.

Secara singkat, penggunaan minyak kelapa dalam mistis sangat bergantung pada keyakinan budaya dan tradisi lokal.

Minyak kelapa murni bukan sekadar bahan masakan, tetapi representasi keselarasan, kesehatan holistik, dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.

Jangan mengoplos minyak kelapa saat sruputtt kopi pahit… bullll …. bullll klepussss….

Ngelmu Titen

Pengajaran Mpu Nusantara

Ngelmu Titen adalah ilmu pengamatan dan laku batin yang mendalam, diwariskan oleh para Mpu Nusantara, menggabungkan pengalaman, kesadaran, dan moralitas. Ilmu ini bukan sekadar observasi biasa, tetapi proses titen—cermat menandai setiap fenomena dengan mata batin dan lahiriah.

Lapisan Ilmu Titen

Dasar – Pengamatan Lahir (Laku Pangripta):
Mengamati alam, manusia, dan peristiwa secara detail. Cipta (akal) digunakan untuk menafsirkan tanda-tanda yang terlihat. Contohnya, Mpu Tantular mengamati perubahan sosial di Majapahit untuk memberikan nasihat kepada raja.

Reflektif – Pengolahan Batin (Laku Rasa):

Mengolah pengamatan menjadi kesadaran batin (rasa), membaca makna halus di balik peristiwa.

Di sini ilmu menjadi pradnya (penglihatan batin). Mpu Gandring, misalnya, membaca perilaku prajurit dan raja, menafsirkan simbol alam, lalu menyesuaikan strategi agar harmonis.
Transformasi – Laku Nyata (Laku Karsa):
Mengintegrasikan pengamatan dan refleksi ke dalam tindakan nyata (karsa). Ilmu Titen menjadi pedoman moral dan strategi hidup.

Contoh: Mpu Ranggawarsita menulis ramalan dan wejangan (Serat Kalatidha), menyiapkan pedoman bagi generasi selanjutnya, bukan sekadar meramal.

Energi dan Koneksi Spiritual (Laku Prana):

Tingkat tinggi ilmu Titen melibatkan energi batin (prana) dan kesadaran kosmis. Para Mpu Nusantara memanfaatkan ini untuk menjaga keseimbangan diri, mempengaruhi lingkungan secara harmonis, dan menebarkan kebijaksanaan.

Integrasi Tindakan dan Pembelajaran Luhur (Laku Sejati / ISQ Nusantara):
Semua lapisan diintegrasikan: pengamatan (titen), refleksi batin, tindakan nyata, dan energi spiritual. Tujuannya bukan sekadar ilmu, tetapi kebijaksanaan hidup yang mencerahkan diri dan masyarakat.

Prinsip dan Posisi Para Mpu Nusantara

Para Mpu menempatkan diri sebagai pengamat, penasehat, dan pelaksana kebijaksanaan.

Mereka tidak bertindak reaktif, tetapi mengikuti pola: titen → rasa → karsa → prana → laku sejati.

Contoh riil:

Mpu Tantular memadukan observasi sosial dan politik dengan moral untuk menasehati raja.

Mpu Gandring mengarahkan strategi prajurit dan raja, memanfaatkan tanda-tanda alam dan perilaku manusia.
Mpu Ranggawarsita meramalkan zaman dan menulis wejangan (serat) untuk generasi berikutnya.

Contoh Aplikatif Masa Kini

Mengamati dinamika organisasi, keluarga, atau masyarakat: catat tanda-tanda kecil, pola perilaku, dan hasil yang muncul.

Refleksi batin: pahami makna dan dampak keputusan, bukan sekadar reaksi.

Laku nyata: ambil tindakan sesuai prinsip moral, keseimbangan, dan kebijaksanaan.
Energi batin: jaga keseimbangan emosional dan spiritual agar keputusan harmonis, selaras dengan lingkungan.

Kesimpulan

Ngelmu Titen adalah ilmu pengamatan, refleksi, dan transformasi batin yang utuh. Dari pengamatan lahir hingga energi batin, setiap lapisan membimbing praktisi untuk menjadi bijaksana, cermat, dan harmonis.

Para Mpu Nusantara mencontohkan penerapan prinsip ini secara nyata di masanya, dan prinsip itu tetap relevan untuk kehidupan modern: mengamati, merenung, bertindak, dan menjaga keseimbangan diri serta masyarakat.

Cijantung, Januari 2026
MJP. Hutagaol 86

Madilog, Akal Sehat, dan Bhinneka Tunggal Ika

Oleh: Mjp Hutagaol

Nama Madilog kerap memicu kecurigaan. Bukan karena isinya, melainkan karena bayang-bayang ideologi yang melekat pada sosok Tan Malaka.

Akibatnya, sebuah disiplin berpikir sering ditolak sebelum sempat dipahami.

Padahal, persoalan paling mendasar bangsa ini bukanlah perbedaan ideologi, melainkan kerapuhan cara berpikir.

Emosi mudah mengalahkan nalar.

Keyakinan cepat berubah menjadi klaim kebenaran tunggal. Dan ruang publik dipenuhi kebisingan tanpa kejernihan.

Di titik inilah Madilog layak dibaca ulang—bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai latihan akal sehat.

Madilog: Disiplin Berpikir, Bukan Doktrin Politik

Madilog. Materialisme, Dialektika, Logika—pada dasarnya adalah ajakan untuk berpikir berbasis fakta, berani melihat pertentangan secara jujur, dan menyimpulkan dengan logika yang tertib. Ia tidak memerintahkan orang mengganti iman, ideologi, atau identitas kebangsaan.

Madilog tidak berbicara tentang apa yang harus dipercaya, tetapi bagaimana cara berpikir sebelum percaya.

Kesalahpahaman muncul ketika Madilog dibaca sebagai “ajaran kiri”, bukan sebagai metodologi berpikir.

Padahal, berpikir logis dan kritis tidak pernah menjadi milik satu ideologi. Ia adalah fondasi semua peradaban yang bertahan.

Plato menyebutnya pembebasan dari ilusi.

Aristoteles menyebutnya phronesis —kebijaksanaan praktis.
Filsafat modern menyebutnya rasionalitas publik.

Nama boleh berbeda, intinya sama: akal sehat adalah syarat martabat manusia.

Madilog dan Kebijaksanaan Nusantara

Yang sering dilupakan, tradisi Nusantara justru sangat akrab dengan dialektika. Para mpu tidak mengajarkan kebenaran tunggal yang mematikan perbedaan.
Mereka mengajarkan keseimbangan.

Bhinneka Tunggal Ika bukan slogan politik, melainkan hasil olah pikir peradaban. Berbeda tanpa saling meniadakan. Satu tanpa menyingkirkan yang banyak.

Dalam konteks ini, Madilog tidak bertentangan dengan nilai Nusantara. Justru sebaliknya: ia dapat menjadi alat untuk menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik, dan keyakinan tidak menjelma fanatisme.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang menutup buku karena takut label, melainkan bangsa yang mampu menyaring makna dengan kebijaksanaan.

Bahaya Tanpa Disiplin Berpikir

Tanpa logika, iman mudah diperalat.

Tanpa dialektika, perbedaan menjadi ancaman.

Tanpa pijakan pada realitas, kebijakan berubah menjadi retorika.

Di era media sosial, kita menyaksikan bagaimana emosi kolektif sering lebih cepat daripada nalar. Hoaks lebih dipercaya daripada data. Amarah lebih laku daripada argumen.
Dalam situasi seperti ini, Madilog—dibaca secara dewasa—bukan ancaman ideologis, melainkan penawar kebingungan publik.

Ia mengingatkan bahwa berpikir jernih adalah tanggung jawab moral, bukan kemewahan intelektual.

Membaca Tan Malaka dengan Dewasa

Tan Malaka adalah tokoh sejarah dengan konteks zamannya. Ia bukan nabi yang harus diikuti, juga bukan hantu yang harus dihindari. Ia adalah bagian dari perjalanan intelektual bangsa.

Membaca Madilog tidak berarti menjadi Tan Malaka. Sama seperti membaca Plato tidak menjadikan kita Yunani, dan membaca Aristoteles tidak menjadikan kita Athena.
Yang berbahaya bukanlah membaca, melainkan berhenti berpikir.

Penutup

Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang sering kurang adalah kejernihan.

Tidak kekurangan keyakinan, tetapi sering kekurangan kedalaman berpikir.

Madilog—jika dipahami sebagai disiplin akal, bukan doktrin politik—dapat menjadi salah satu alat untuk merawat Bhinneka Tunggal Ika agar tetap hidup, bukan sebagai semboyan, melainkan sebagai kebijaksanaan yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ideologi boleh berbeda.
Tetapi akal sehat harus tetap kita bagi bersama.

Negara tanpa Rem

Ketika Kedaulatan
Digerus Tanpa Deklarasi Perang

Oleh: Brigjen (Purn) MJP Hutagaol
Cijantung – Jakarta, Januari 2026

Pendahuluan

Mengapa “Negara Tanpa Rem”

“Negara Tanpa Rem” bukan slogan, melainkan kerangka berpikir strategis. Rem adalah seluruh mekanisme pengendali agar kekuasaan, konflik, dan ambisi geopolitik tidak meluncur liar: hukum internasional, legitimasi, etika perang, dan rasionalitas publik.

Ketika rem-rem ini melemah, negara tidak perlu diserang frontal; ia cukup didorong perlahan melalui tekanan ekonomi, narasi, dan persepsi hingga meluncur sendiri ke jurang krisis.

Hiruk-pikuk soal Venezuela—pernyataan keras pejabat, video viral, dan klaim yang saling bertabrakan—justru menutupi pertanyaan kunci: apa arti semua ini bagi cara dunia berperang dan memperlakukan kedaulatan?

  1. Koreksi Fakta sebagai Fondasi Strategi

Tulisan strategis wajib memisahkan fakta terverifikasi dari operasi informasi. Hingga bukti hukum dan pengakuan resmi yang kokoh tersedia, klaim ekstrem (termasuk “penculikan kepala negara”) harus diperlakukan sebagai narasi yang beredar, bukan kesimpulan final.

Justru di sinilah analisis bekerja: mengapa narasi itu muncul, siapa diuntungkan bila dipercaya sekarang, dan dampaknya bila dunia membiarkannya?

  1. Mandala Yudha: Teori Lama, Medan Baru

Dalam tradisi strategi Timur (Rajamandala/Mandala Yudha), kemenangan diraih melalui lingkar tekanan—ekonomi, legitimasi, diplomasi, psikologi, dan informasi—bukan satu hantaman. Barat menyebutnya hybrid warfare. Prinsipnya sama: rem negara dilemahkan lebih dulu.

Aplikatif pada Venezuela:

Sanksi ekonomi → melemahkan daya tahan sosial.

Isolasi diplomatik → menyempitkan ruang hukum.

Narasi kriminalisasi → menggerus legitimasi.

Operasi informasi → membentuk “kebenaran emosional”.

  1. Pelajaran Perang Besar (Ringkas tapi Tajam)

PD I: negara runtuh ketika legitimasi internal ambruk.

PD II: ekonomi perang menentukan daya tahan.

Perang Enam Hari: dominasi informasi & udara mendahului hasil.

Panama–Irak–Libya: delegitimasi mendahului intervensi.

Benang merah: kemenangan sering ditentukan sebelum tembakan terakhir—bahkan tanpa deklarasi perang.

  1. “Halaman Belakang” dan Logika Kekhawatiran

Dalam kalkulus geopolitik Amerika, Amerika Latin kerap dibaca sebagai lingkar pengaruh dekat.

Kedekatan Venezuela dengan Rusia–Cina–Iran dipersepsikan sebagai ancaman proksimitas.

Namun kekhawatiran strategis bukan mandat hukum. Ketika tindakan sepihak dinormalisasi tanpa payung hukum internasional, preseden berbahaya tercipta.

  1. Mengapa Narasi Ekstrem Muncul?

Ada tiga fungsi strategis (bukan klaim kejadian):

Uji reaksi global:
seberapa jauh norma dilanggar tanpa sanksi.

Tekanan psikologis internal: memecah loyalitas elite & publik.

Penguncian opsi: memaksa lawan bereaksi defensif.

Jika dipercaya, legitimasi negara melemah meski fakta belum final.

  1. Dunia Menerima atau Terbelah?

Tidak ada bukti dunia bulat-bulat menerima agresi tanpa mandat.

Yang tampak adalah keterbelahan: sebagian mengecam, sebagian diam menghitung biaya, sebagian menunggu kepastian.

Diam bukan persetujuan—sering kali itu tanda ketidakpastian dan kalkulasi.

  1. Skenario Dampak (Hipotetis, Bukan Pernyataan Kejadian)

Jika eskalasi berlanjut: polarisasi global mengeras, sanksi berbalas, blok menguat.

Jika de-eskalasi: kemenangan naratif bagi pihak yang mengendalikan krisis.

Jika jalur hukum ditempuh: tarik-menarik legitimasi politik vs hukum.
Intinya: dampak terbesar bukan pada individu, melainkan norma kedaulatan.

  1. Posisi Indonesia (BRICS) — Rem yang Harus Dijaga

Indonesia berada di simpang kepentingan. Sikap paling aman dan bermartabat adalah konsistensi pada hukum internasional dan non-blok aktif: menolak preseden yang kelak bisa berbalik, tanpa terjebak narasi viral.

Penutup

Tulisan ini bukan menambah panas, melainkan menurunkan tensi dengan menaikkan level diskusi. Ketika rem hukum, legitimasi, etika, dan rasionalitas dilepas, negara mana pun bisa meluncur tanpa perang diumumkan.

Venezuela adalah cermin zaman: bukan soal siapa benar–salah, melainkan bagaimana dunia sedang mengubah cara berperang dan mendefinisikan kedaulatan.

Terasi, Digemari Manusia dan Makhluk Ghaib

Gde Mahesa

Berbau khas, dengan warna merah atau coklat kehitaman, terasi dapat menciptakan rasa khas. Apalagi sambal terasi. Kata terasi konon berasal dari kata terasih atau yang terkasih. Ungkapan tersebut dibuat karena “jasa besarnya” memperenak masakan.

Yang jelas, bumbu daput khas Indonesia ini dibuat dari fermentasi udang kecil (rebon) atau ikan. Ciri khas terasi adalah aroma dan rasa umami menyengat. Tak heran jika ada sebagian orang kurang suka terasi.

Sejarah, terasi (atau acan) sudah ada sejak abad ke-14. Catatan sejarah menyebutkan, bahwa terasi dibuat khusus untuk keraton atau menjadi bekal pelaut karena praktis dan awet, serta dibawa oleh pedagang Tiongkok. 

Bagi masyarakat Jawa, terasi bukan hanya bumbu dapur pelengkap masakan. Aroma khasnya seringkali dikaitkan dengan berbagai mitos. Kepercayaan masyarakat mengaitkan bau terasi dengan hal mistis, seperti pertanda kehadiran makhluk halus (kuntilanak, jin), serta dianggap bisa menjadi pengantar untuk membuka dimensi lain.

Dengan kata lain, terasi bisa menjadi media interaksi manusia dengan makhluk tak kasat mata. Hal ini membuat sebagian sesepuh dan “orang pintar” acap memakai terasi dalam ritual tolak bala.

Di tengah masyarakat (yang makin modern dan realistis), mitos bau terasi di malam hari penanda hadirnya makhluk halus, masih tetap ada. Terutama masyarakat Jawa. Lebih terutama lagi, masyararkat pedesaan.

Sementara, bagi sebagian masyarakat lain, mitos di atas sudah tak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan menjadi bagian dari identitas budaya yang unik. Ini sekaligus mengingatkan manusia akan kekayaan khasanah kepercayaan lokal yang masih hidup berdampingan dengan peradaban modern.

Bahkan, masih ada yang mempercayai mitos bahwa membakar terasi bisa mengundang arwah seseorang yang sudah di alam kubur, bahkan arwah tadi nempel atau merasuk ke raga si pembakar terasi.

Ada juga yang percaya, jika ingin melihat –dan berkenalan– dengan makhluk halus, bakarlah terasi di tempat-tempat angker dan sepi serta jauh dari keramaian. Bakarlah terasi, dan tunggulah kehadiran makhluk-makhluk astral.

Akan tetapi, apakah benar dan pasti? Silakan saja dicoba. (Jika mendapati pengalaman menarik, bagikan di Jayakarta News…)

Dalam beberapa ritual adat atau tradisi sesajen (uborampe) di Jawa, terasi terkadang disertakan sebagai bagian dari persembahan kepada roh halus atau penunggu tempat tertentu. Terasi dalam sesajen, memiliki makna seperti :

Simbol Bumi/Tanah: Terasi yang berwarna gelap dan beraroma kuat sering melambangkan unsur bumi atau tanah.

Penyeimbang Unsur: Bersama bahan lain seperti gula jawa, terasi melambangkan keseimbangan antara bumi dan langit. 

Sruputtt kopi pahitnya, ….bullll bullll bullll….

Bukan Operasi Penangkapan Biasa: Strategi Perang AS Berbasis Pusat Gravitasi

JAYAKARTA NEWS – Upaya Amerika Serikat untuk menekan dan melumpuhkan rezim Venezuela, termasuk berbagai operasi hukum, intelijen, dan dugaan rencana penangkapan Presiden Nicolas Maduro, memperlihatkan bagaimana perang modern dijalankan saat ini. Meski tidak selalu berbentuk invasi militer terbuka, strategi yang digunakan menunjukkan pola klasik: menargetkan pusat gravitasi (center of gravity/CoG) kekuatan lawan.

Kasus Venezuela menegaskan bahwa dalam konflik kontemporer, perang tidak selalu dimulai dengan tembakan, melainkan dengan tekanan terkoordinasi terhadap simpul kekuasaan paling menentukan dalam sebuah negara—yakni kepemimpinan nasional.

Venezuela dan Logika Pusat Gravitasi

Sejak beberapa tahun terakhir, AS secara terbuka menetapkan Presiden Maduro sebagai aktor kriminal internasional, memberlakukan sanksi ekonomi ekstrem, mengisolasi Venezuela secara diplomatik, serta mendukung oposisi politik. Langkah-langkah ini tidak berdiri sendiri. Semuanya mengarah pada satu tujuan strategis: melemahkan dan, jika mungkin, menghilangkan kepemimpinan nasional sebagai penopang utama rezim kiri Venezuela yang telah berkuasa 27 tahun. Hugo Chavez berkuasa selama 1999-2013, dilanjutkan Nicolas Maduro 2013-2026.

Dalam perspektif center of gravity, kepemimpinan nasional merupakan sumber legitimasi, kendali politik, dan loyalitas institusi—terutama militer. Jika kepemimpinan ini runtuh, maka sistem negara diharapkan ikut goyah tanpa harus melalui perang konvensional berskala besar. Inilah mengapa figur presiden menjadi sasaran utama, bukan sekadar kebijakan atau kekuatan militer di lapangan.

Strategi Lama, Bukan Temuan Baru

Meski tampak modern, strategi perang berbasis pusat gravitasi sesungguhnya bukan hal baru. Konsep ini pertama kali dirumuskan secara sistematis oleh Carl von Clausewitz pada awal abad ke-19. Dalam On War, Clausewitz menyebut bahwa setiap musuh memiliki “pusat kekuatan dan gerak” yang jika dihantam, akan melumpuhkan keseluruhan kemampuan perlawanan.

Pada abad ke-20, konsep ini berkembang pesat, terutama dalam doktrin militer Amerika Serikat. Kolonel John Warden III memperkenalkan Five Rings Model yang membagi sistem negara menjadi lima lapisan: kepemimpinan, sistem vital, infrastruktur, populasi, dan kekuatan militer. Menurut Warden, kepemimpinan berada di lapisan terdalam dan merupakan pusat gravitasi paling menentukan.

Pola ini terlihat jelas dalam Perang Teluk 1991, operasi NATO di Yugoslavia (1999), invasi Irak (2003), hingga berbagai operasi decapitation strike dalam perang melawan teror. Dalam setiap konflik tersebut, kepemimpinan nasional dan militer menjadi sasaran utama—baik melalui serangan militer, tekanan ekonomi, maupun perang informasi. AS bahkan pernah melakukan beberapa kali operasi militer berbasis CoG kepemimpinan nasional, yaitu saat memburu Presiden Panama, Manuel Noriega (1989); Presiden Irak, Saddam Hussein (2003); Presiden Libya, Muammar Gaddafi (2011); Presiden Guatemala, Alfonso Portillo (2013); Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandes (2022); dan sekarang Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Bagaimana Merumuskan CoG

Menentukan pusat gravitasi bukanlah pekerjaan sederhana. Ia menuntut pemahaman menyeluruh terhadap sistem negara lawan: bagaimana kekuasaan dijalankan, apa sumber legitimasi politik, siapa aktor kunci, dan sejauh mana kohesi elite terjaga.

Dalam perencanaan strategis modern, CoG dirumuskan melalui identifikasi critical capabilities (kemampuan utama), critical requirements (syarat pendukung), dan critical vulnerabilities (kerentanan utama). Dalam banyak kasus, kepemimpinan nasional dan kepemimpinan militer memang berada pada CoG terdalam—nomor satu—karena merekalah yang mengendalikan keputusan strategis dan loyalitas kekuatan negara.

Berikutnya, menyerang CoG terdalam juga berisiko tinggi. Kesalahan identifikasi dapat memperkuat perlawanan dan solidaritas nasional lawan. Oleh karena itu, perumusan dan pemilihan CoG melibatkan  pimpinan nasional tertinggi. Strategi ini juga hampir selalu dikombinasikan dengan tekanan multidomain: ekonomi, diplomasi, siber, dan informasi.

Implikasi Strategis bagi Indonesia

Bagi Indonesia, fenomena ini mengandung pelajaran penting. Di tengah persaingan kekuatan besar dan dinamika geopolitik Indo-Pasifik, ancaman terhadap kedaulatan tidak selalu datang dalam bentuk agresi militer. Justru yang lebih berbahaya adalah perang hibrida yang menargetkan pusat gravitasi nasional.
Dalam konteks Indonesia, pusat gravitasi tidak hanya terletak pada kekuatan militer, tetapi juga pada legitimasi kepemimpinan nasional, persatuan elite, stabilitas politik, serta kepercayaan publik. Polarisasi politik, disinformasi, tekanan ekonomi eksternal, dan fragmentasi elite berpotensi dimanfaatkan pihak luar untuk melemahkan CoG Indonesia tanpa satu pun peluru ditembakkan.
Oleh karena itu, kesiapan kemampuan Indonesia untuk menghadapi agresi asing ke depan harus bersifat menyeluruh. 

Beberapa rekomendasi kebijakan sebagai berikut:

Pertama, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, termasuk para elite dan lembaga pemerintah untuk terus membangun postur BKRI yang kokoh dan berdaya tangkal di panggung global.

Kedua, memperkuat legitimasi kepemimpinan nasional melalui tata kelola pemerintahan yang semakin baik dan  mendapatkan dukungan nyata dari seluruh komponen masyarakat dan bangsa.

Ketiga, meningkatkan ketahanan informasi dan literasi strategis elite serta masyarakat terhadap maraknya perang kognitif dan operasi pengaruh asing terhadap konstruksi kebangsaan NKRI.

Keempat, mengembangkan doktrin pertahanan yang memandang perang sebagai spektrum multidomain, bukan semata konflik bersenjata.

Kelima, membangun kemampuan industri pertahanan lokal agar mandiri dalam memenuhi kebutuhan Alpalhankam TNI.

Keenam, memperkuat sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta agar mampu menangkal infiltrasi asing melalui operasi multi dimensi.

Pada akhirnya, kasus Venezuela menunjukkan bahwa strategi perang berbasis pusat gravitasi tetap relevan di abad ke-21. Amerika Serikat dan kekuatan besar lainnya terus mengadaptasi pemikiran Clausewitz dalam bentuk perang modern yang semakin kompleks dan sering kali tidak kasat mata. Bagi Indonesia, memahami strategi ini adalah landasan awal untuk memastikan bahwa pusat gravitasi nasional kita tetap kokoh dan tidak runtuh pada saat menghadapi serangan dari dalam dan dari luar.***

Marsda TNI Budhi Achmadi,
Asisten Strategi Panglima TNI

Dana Desa untuk Pengembangan Angkutan Perdesaan

Oleh Djoko Setijowarno

Desa yang memiliki angkutan perdesaan, sebagian besar (59,56 persen) terletak di daerah tertinggal. Kurang dari 5 persen angkutan perdesaan aktif. Tanpa transportasi perdesaan yang memadai, melimpahnya hasil panen justru akan menjadi musibah.

Pada tahun 2025, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas mencatat lebih dari 10.000 desa, terutama di Kawasan Indonesia Timur, masih tertinggal dan sangat tertinggal. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan akses, kurang dari 5 persen angkutan perdesaan yang aktif melayani masyarakat.

Kondisi angkutan perdesaan saat ini memprihatinkan karena sulit sekali ditemukan armada baru. Kebanyakan kendaraan yang melayani masyarakat telah berusia di atas 10 tahun. Selain itu, sering ditemukan armada angkutan barang (pick-up bak terbuka) yang dimodifikasi dan dipaksakan untuk digunakan sebagai pengangkut orang.

Transportasi perdesaan punya peran dalam mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC), yaitu pertama, menjamin distribusi program pemerintah ke wilayah desa dan  daerah tertinggal, terdepan, terisolasi dan perpatasan -3TP. Transportasi perdesaan memastikan PHTC (gizi, kesehatan, pendidikan, bansos) menjangkau wilayah sulit akses secara tepat waktu dan berkelanjutan.

Kedua, menurunkan biaya logistik last mile dan menjaga keterjangkauan layanan. Konektivitas desa menekan biaya distribusi sehingga manfaat PHTC tidak tergerus ongkos transportasi. Ketiga, mendukung akses masyarakat desa terhadap layanan publik utama. Transportasi perdesaan memungkinkan mobilitas masyarakat ke sekolah, fasilitas kesehatan, dan pusat layanan kabupaten. Keempat, memperlancar arus input dan output ekonomi desa. Transportasi perdesaan menghubungkan desa dengan pasar, mendukung produktivitas pertanian dan usaha rakyat yang menjadi sasaran PHTC.

Data dari Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Desember 2025) menunjukkan bahwa total pendanaan pemerintah selama 11 tahun (2015–2025) telah mencapai Rp 681,75 triliun. Program ini dimulai pada tahun 2015 dengan alokasi Rp 20,67 triliun untuk 74.953 desa, dengan rata-rata sekitar Rp 280,3 juta per desa. Anggaran terus meningkat signifikan pada tahun-tahun berikutnya. Sebagai contoh, pada tahun 2017, dana mencapai Rp 60 triliun (sekitar Rp 800,4 juta per desa), dan mencapai puncaknya pada tahun 2021 sebesar Rp 72 triliun (Rp 960,6 juta per desa). Anggaran tetap stabil tinggi di akhir periode, dengan alokasi sekitar Rp 71 triliun pada tahun 2024 dan 2025, yang mencakup lebih dari 75.000 desa di seluruh Indonesia.

Komitmen pemerintah terhadap pembangunan desa sangatlah besar. Total pendanaan Pemerintah yang dikucurkan selama 11 tahun, dari tahun 2015 hingga 2025, telah mencapai angka fantastis, yaitu sebesar Rp 681,75 triliun. Peningkatan alokasi dana per desa menunjukkan fokus yang berkelanjutan dalam memperkuat otonomi dan pembangunan di tingkat desa

Dari tahun 2015 hingga 2025, rata-rata dana yang diterima desa melonjak drastis, dari hanya Rp 280,3 juta menjadi sekitar Rp 943,22 juta per desa. Peningkatan ini mencerminkan upaya konsisten Pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui transfer fiskal yang signifikan.

Meningkatkan transportasi desa adalah kunci untuk membuka peluang ekonomi yang lebih baik dan pembangunan yang menyeluruh di perdesaan. Jaringan transportasi yang baik memungkinkan penduduk desa untuk mengangkut hasil pertanian, kerajinan tangan, dan barang-barang lainnya ke pasar dengan lebih efisien dan hemat biaya.

Jalan dan pilihan transportasi yang lebih baik memudahkan penduduk desa untuk bepergian ke tempat kerja di kota-kota terdekat atau kawasan industri. Hal ini memperluas kesempatan kerja mereka di luar desa itu sendiri, mendiversifikasi sumber pendapatan dan berpotensi menghasilkan upah yang lebih tinggi.

Konektivitas yang lebih baik dapat menarik bisnis dan investasi baru ke desa. Akses yang lebih mudah bagi pemasok dan pelanggan dapat menjadikan desa lokasi yang lebih layak bagi usaha kecil, menciptakan lapangan kerja lokal, dan meningkatkan perekonomian lokal.

Meskipun tidak secara langsung berdampak ekonomi, transportasi yang lebih baik memfasilitasi akses ke layanan kesehatan, pendidikan, dan layanan esensial lainnya, yang mengarah pada populasi yang lebih sehat dan lebih terampil, yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan produktivitas jangka panjang.

Untuk desa-desa dengan potensi pariwisata (mungkin keindahan alam atau warisan budaya), infrastruktur transportasi yang lebih baik dapat membuatnya lebih mudah diakses oleh wisatawan, menghasilkan pendapatan bagi masyarakat lokal melalui akomodasi, makanan, dan layanan lainnya.

Kondisi Angkutan Perdesaan

Transportasi umum berfungsi meningkatkan akses mobilitas warga dan mampu meningkatkan produktivitas ekonomi. Data dari Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Desember 2025), secara nasional terdapat 55.193 desa (73,71 persen) yang memiliki transportasi umum perdesaan (trayek tetap dan tidak tetap). Masih terdapat 19.680 desa (26,28 persen) yang tidak memiliki transportasi umum perdesaan. Keberadaan transportasi umum perdesaan masih terpusat di Regional Kepulauan Jawa. Di Indonesia, mobilitas wilayah masih menjadi privilese penduduk yang memiliki kendaraan pribadi. Pemerintah harus hadir untuk meratakan akses mobilisasi warga.

Secara nasional, hanya 29.532 desa (39,44 persen) yang memiliki transportasi umum dengan trayek tetap. Keberadaan transportasi umum dengan rute tetap sangat penting bagi penduduk desa untuk mendukung mobilitas mereka secara teratur. Sisanya, 45.341 desa (60,55 persen) masih kekurangan transportasi umum dengan rute tetap. Sebanyak 25.661 desa (34,27 persen) yang memiliki transportasi umum tanpa rute berpotensi untuk dikembangkan menjadi sistem transportasi umum pedesaan lokal yang terpadu.

Transportasi umum perdesaan berdasarkan hari operasionalnya, hanya 45.325 desa (27,67 persen) transportasi umum perdesaan yang melayani warga desa setiap hari (6 sampai 7 hari dalam seminggu). Sedangkan 29.548 desa (46.03 persen) transportasi umum perdesaan hanya melayani pada hari tertentu saja (kurang dari 6 hari dalam seminggu). Hampir 90 persen transportasi umum perdesaan tidak memiliki jadwal hari operasional tetap. Transportasi perdesaan harus ditingkatkan agar dapat melayani warga desa setiap hari.

Transportasi umum perdesaan berdasarkan waktu operasionalnya, hanya 20.722 desa (27,67 persen) transportasi umum perdesaan yang melayani warga desa sepanjang hari (siang dan malam). Sedangkan 34.471 desa (46.03 persen) transportasi umum perdesaan hanya melayani setengah hari (siang hari saja atau malam hari saja). Masih terdapat 14.515 desa (26,35 persen) yang memiliki transportasi umum, namun tidak ada waktu operasional tetap.

Keberadaan transportasi umum perdesaan berdasarkan jenis jalur utamanya

Desa yang bisa dilalui jalur darat, sebanyak 77,83 persen desa yang bisa dilalui jalur darat sudah memiliki transportasi umum perdesaan.  Desa yang bisa dilalui jalur darat dan air, sebanyak 8,84 persen desa yang bisa dilalui jalur darat dan air sudah memiliki transportasi umum perdesaan.

Desa yang hanya bisa dilalui jalur air, sebanyak 56,5 persen desa yang hanya bisa dilalui jalur air tidak memiliki transporatasi umum perdesaan. Jalur air sangat penting untuk menghubungkan mereka ke pusat kecamatan atau kabupaten.

Desa yang hanya bisa dilalui jalur udara, sebanyak 76,2 persen desa yang hanya bisa dilalui jalur udara tidak memiliki transporatasi umum perdesaan. Biasanya desa ini terletak di pegunungan, Sebagian besar berada di Regional Kepulauan Papua.

Penutup

Tanpa transportasi perdesaan yang memadai, melimpahnya hasil panen justru menjadi musibah. Petani akan merugi besar karena hasil pangan membusuk di ladang. Sementara itu, konsumen di perkotaan menghadapi kelangkaan, yang lantas memicu kenaikan harga dan inflasi.

Pada akhirnya, kesenjangan antara produksi dan konsumsi ini memperparah kemiskinan di wilayah penghasil pangan sekaligus mengancam stabilitas harga di pasar. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa keberadaan transportasi perdesaan bukan hanya fasilitas, melainkan urat nadi vital yang menentukan hidup matinya ekonomi pertanian. Sistem transportasi yang efisien menurunkan biaya pengangkutan barang dan orang.

Berkat dana desa yang telah digulirkan selama 10 tahun terakhir, banyak pembangunan di desa tercapai. Untuk langkah selanjutnya, dana desa sudah saatnya difokuskan untuk membeli dan mengoperasikan sarana angkutan perdesaan demi kepentingan mobilisasi warga, baik untuk penumpang maupun barang. Oleh karena itu, program angkutan perdesaan yang didanai dari dana desa perlu segera diwujudkan sebagai fasilitas penunjang utama bagi mobilitas masyarakat perdesaan. ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Kuku Setan hingga Pertapa

Gde Mahesa

Dari kuku, bisa tersirat pribadi seseorang, bahkan status sosial juga terpancar. Apalagi untuk seorang wanita.

Ada kisah menarik dari negeri tirai bambu, konon entah dimulai dari kapan tidak jelas tepatnya orang Tionghoa memiliki kebiasaan memanjangkan kuku. Syahdan cerita tentang pentingnya kuku sejak periode zaman peperangan (475 – 221 Sebelum Masehi).

Dikutip dari National Geography, dalam satu kisah yang tercatat di Hanfeizi, sebuah teks politik dan hukum Dinasti Qin, penguasa negara Han, Zhao, menguji kejujuran bawahannya.
Sang penguasa mengeklaim bahwa ia kehilangan salah satu kukunya dan berusaha untuk dapat menemukan.

Melihat ekspresi kecemasan di wajah pemimpinnya, banyak bawahannya memotong kuku mereka dan menyerahkannya kepada penguasa. Semua mengatakan bahwa mereka telah menemukan kuku Zhao.

Hal ini membuktikan bahwa mereka akan menggunakan cara yang tidak jujur ​​untuk mendapatkan bantuan politik, namun yang terjadi justru Zhao menghindari untuk memiliki bawahan seperti mereka di masa depan.

Terlepas dari cerita per-kuku-an negeri tirai bambu, ternyata ada hal menarik dari sebuah mitos adanya tanda putih dikuku.

Konon, tanda putih di kuku tangan kanan berbeda dengan tanda putih di kuku tangan kiri. Lantas makna apa tanda putih di kuku tersebut ?

Ada yang naksir dan merindukan, walaupun tanda putih di kuku sebenarnya bermacam-macam bentuknya seperti titik atau garis pendek. Tapi, juga ada yang agak melengkung mirip seperti bulan sabit. Akan tetapi, makna mitos tersebut hanya berlaku jika tanda putih muncul di kuku tangan kanan. Selain itu, juga diyakini sebagai tanda keberuntungan atau datangnya kabar baik.

Ada seseorang yang tidak suka, dimana tanda putih muncul di kuku tangan kiri. Nah hal ini perlu diwaspadai. Makna mitos ini kebalikan dari mitos tanda putih di kuku kanan. Maknanya kurang baik sehingga kadang bikin kepikiran.

Mitos memang kadang sering kali membuat bikin garuk-garuk kepala. Walaupun mitos ini sudah sejak lama diyakini banyak orang, namun tentunya tidak mempercayai juga ada baiknya, sebab kuku yg mempunyai tanda putih bisa dijelaskan secara medical.

    Membahas per-kukuan tak akan lepas dari pemeliharaan alias
    memotong kuku, selain menjaga kebersihan, juga merupakan amalan yang dianjurkan untuk menghindari segala bentuk kotoran yang mungkin menempel pada kuku.

    Namun, beberapa pandangan masyarakat, ada yang menganggap kuku sebagai tempat berkumpulnya “setan”, jika tidak dirawat.


    Maka tidaklah salah jika ada cerita mitos hewan Kunang-kunang, berasal dari kuku orang yang telah meninggal.


    Sebagai hewan jenis serangga yang indah dengan sinar alami kerlap kerlip yang terdapat pada tubuhnya, tidak sedikit orang takjub dan kagum akan serangga satu ini.
    Meskipun buntuknya terlihat jelas sebagai serangga, tidak sedikit masyarakat Indonesia masih mempercayainya.

    Seiring berkembangnya zaman, keberadaan kunang-kunang semakin langka dan berkurang. Penyebab utamanya selain karena faktor geografis dan iklim yang tak karuan, telah menyumbang kelangkaan atau punahnya hewan mungil ini.

    Dalam dunia supranatural dan kepercayaan tradisional, kuku manusia sering dianggap memiliki ikatan energi yang kuat dengan pemiliknya, menjadikannya benda yang rentan disalahgunakan dalam ilmu hitam atau ritual mistis.

    Kuku juga dianggap sebagai sarang energi negatif jika dibiarkan panjang dan tidak terawat. Sehingga kuku (terutama potongan kuku) merupakan  yang sering digunakan dalam praktik sihir, seperti santet, untuk mengirimkan energi negatif, penyakit, atau membuat target celaka.

    Lain daripada itu kuku ( dicampur dengan rambut) digunakan dalam ritual ilmu hitam untuk memikat atau mengikat hati seseorang. Tujuannya agar target menjadi tunduk, jatuh cinta, atau bahkan untuk menguras harta pasangan. Tak hanya hal itu kuku juga digunakan dalam ritual perjanjian pesugihan untuk mendatangkan kekayaan.

    Di sisi lain, membiarkan kuku tumbuh sangat panjang bagi sebagian pertapa (sadhu/yogi) melambangkan pelepasan dari keinginan duniawi dan dedikasi spiritual. 
    Dari bermacam jenis kuku yang paling populer adalah kuku yg dimiliki tokoh dalam pewayangan bernama ” Kuku Pancanaka “.

    Ternyata Kuku Pancanaka bukan sekadar nama belaka. Ia memiliki arti yang begitu mendalam. ‘Kuku’ bermakna kukuh atau teguh pendirian. ‘Panca’ bermakna lima sedangkan ‘Naka’ bermakna emas atau tujuan.  Dalam makna lain mengartikan bahwa kukuh dalam salat lima waktu dapat menjadikan kekuatan bagi seseorang.

    Terlepas dari status dan kepribadian, fungsi kuku yg berhias ataupun tidak, akan bisa sama dengan semua orang jika bagian tubuh terasa gatal, secara reflek tangan yg berkuku akan menggaruknya. Hal kecil. Namun bisa menumbuhkan kepuasan.
    Sruputtt kopi pahitnya…. bullll bullll klepussss ….

    Kepemimpinan yang Membangun Peradaban

    Pelajaran Nusantara dan Dunia untuk Indonesia Hari ini

    Bangsa tidak runtuh karena kekurangan sumber daya.

    Bangsa runtuh karena kehilangan kepemimpinan yang berani menanggung akibat.

    Sejarah—baik Nusantara maupun dunia—berulang kali memberi pesan yang sama:
    negara kuat lahir ketika pemimpinnya menempatkan hukum, disiplin, dan pengorbanan di atas kepentingan pribadi.

    Teladan dari Nusantara

    Sultan Babullah (Ternate):
    Konsistensi Strategis
    Sultan Babullah tidak mengalahkan Portugis dengan satu pertempuran besar.
    Ia memilih jalan memutus logistik, menutup jalur suplai, dan mengepung secara ekonomi.
    Ia bersabar.
    Ia konsisten.
    Ia tidak tergoda kompromi jangka pendek.

    Hasilnya:
    Portugis lumpuh dan akhirnya angkat kaki dari Ternate.

    Pelajaran:
    kemenangan besar lahir dari keteguhan arah dan kesabaran strategis, bukan emosi sesaat.

    Sultan Iskandar Muda (Aceh):
    Hukum di Atas Darah
    Sultan Iskandar Muda menegakkan hukum hingga kepada putranya sendiri.

    Tidak ada kekebalan bangsawan. Tidak ada tawar-menawar.

    Hasilnya:

    Aceh menjelma menjadi kekuatan maritim dan politik yang disegani.

    Pelajaran:

    negara kuat lahir ketika hukum lebih tinggi daripada kasih pribadi.

    Dr. Kariadi (Semarang):

    Pengorbanan Ilmu dan Nyawa
    Dalam Perang Lima Hari Semarang, Jepang meracuni sumber air minum kota
    untuk melumpuhkan perlawanan rakyat.

    Dr. Kariadi—seorang dokter, bukan prajurit—turun langsung
    untuk memastikan kebenaran racun air demi keselamatan warga.
    Ia tahu risikonya.
    Ia tetap berangkat.
    Ia gugur.

    Kematian Dr. Kariadi membangkitkan amarah pemuda dan rakyat Semarang,
    menjadi pemantik perlawanan terbuka.

    Pelajaran:
    pengorbanan moral sering menjadi api kesadaran kolektif sebuah bangsa.

    Nyi Ageng Serang:
    Jiwa Panglima di Usia Senja
    Di usia lebih dari 70 tahun, fisiknya renta

    Namun pengalaman, kejernihan batin, dan kecerdikan strategisnya matang.

    Ia menjadi panglima dan penasihat Pangeran Diponegoro.

    Ia memimpin dengan akal dan kesadaran, bukan kekuatan fisik.

    Pelajaran:
    kepemimpinan sejati tidak tunduk pada usia,
    melainkan pada kedalaman jiwa dan tanggung jawab.

    Ratu Shima (Kalingga):

    Hukum sebagai Fondasi Negara

    Ratu Shima menegakkan hukum tanpa pandang bulu,
    bahkan terhadap keluarganya sendiri.

    Hasilnya:
    kejujuran menjadi budaya,
    hukum dipercaya,
    negara stabil.
    Pelajaran:
    keadilan hanya hidup jika elite pertama kali tunduk pada hukum.

    Tribhuwana Tunggadewi.

    Ketegasan Arah Kekuasaan
    Kebangkitan Majapahit lahir dari keputusan politik yang tegas dan konsisten,
    bukan dari keraguan atau kompromi setengah hati

    Pelajaran:
    negara besar lahir dari arah yang jelas dan dijaga lintas waktu.
    Pelajaran dari Dunia

    Cina:
    Kepemimpinan Berbasis Hasil
    Cina maju bukan karena sempurna,
    melainkan karena pemimpin dinilai dari hasil nyata.
    Target jelas.
    Gagal dicopot.
    Korupsi elite dihukum.

    Makna:
    negara besar berjalan dengan disiplin dan sanksi, bukan pidato.
    Jepang: Malu sebagai Sistem Kepemimpinan

    Di Jepang:
    menteri mundur karena salah ucap,
    CEO mundur karena produk cacat,
    pemimpin menunduk sebelum dipaksa hukum.

    Makna:
    ketika rasa malu hidup, hukum tidak perlu bekerja keras.

    Korea Selatan:
    Hukum di Atas Presiden
    Presiden bisa dipenjara.
    Negara tetap berjalan.

    Makna:
    institusi lebih penting daripada individu.

    Singapura:
    Integritas Tanpa Tawar
    Pejabat kecil atau besar, melanggar hukum—selesai.

    Makna:
    kepercayaan publik dibangun dari ketegasan, bukan slogan.

    Selandia Baru:

    Kepemimpinan sebagai Tanggung Jawab Moral
    Pemimpin hadir saat krisis, transparan, dan berani mengakui kesalahan.
    Makna:
    legitimasi lahir dari kejujuran dan empati, bukan pencitraan.

    Benang Merah Nusantara dan Dunia

    Berbeda budaya, satu kesimpulan:
    pemimpin tidak kebal,
    kegagalan punya harga,
    arah negara dijaga konsisten,
    elite bersedia berkorban.

    Inilah benang yang sama antara
    Babullah, Iskandar Muda, Ratu Shima
    dan Jepang, Cina, Korea, Singapura.
    Cermin bagi Indonesia

    Hari Ini
    Indonesia tidak kekurangan teladan.

    Indonesia kekurangan keberanian elite untuk meneladani.

    Selama:
    hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas,
    kegagalan dibungkus narasi,
    jabatan dipertahankan meski amanah hilang,
    maka sejarah akan terus berbicara,
    namun tidak didengar.

    Penutup

    Indonesia tidak butuh pemimpin sakti.

    Indonesia butuh pemimpin yang berani kehilangan jabatan demi menyelamatkan bangsa.

    Jika putra Sultan Aceh bisa dihukum,

    jika dokter gugur demi air rakyat,

    jika presiden Korea bisa dipenjara,

    jika menteri Jepang mundur karena malu,
    maka ukuran kepemimpinan Indonesia sebenarnya sudah sangat jelas

    Pertanyaannya tinggal satu:

    siapa yang benar-benar siap membayar harga kepemimpinan itu?

    — Brigjen Purn. MJP Hutagaol