Bukan Hanya Manusia yang Menari

Oleh Jaya Suprana

JAYAKARTA NEWS – Dari kata benda tari lahirlah kata kerja menari, yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai gerak tubuh berirama, sering kali diiringi bunyi-bunyian. Pada hakikatnya, manusia mampu menari karena memiliki kecerdasan mengolah gerak tubuh agar selaras dengan irama pengiringnya.

Seni tari memang diciptakan oleh manusia. Namun, bukan berarti ia menjadi monopoli manusia semata. Di alam, cukup banyak makhluk hidup yang memperlihatkan perilaku menyerupai tarian gerak-gerak ritmis yang memiliki fungsi tertentu, terutama dalam komunikasi dan reproduksi.

Burung cenderawasih, misalnya. Burung jantan dari keluarga Paradisaeidae ini berkumpul di area tertentu dan menampilkan pertunjukan yang memukau: melompat, memutar tubuh, mengayunkan sayap, serta memamerkan bulu hiasnya. Gerakan tersebut menyerupai tarian ritual untuk menarik perhatian betina dalam proses seleksi seksual.

Hal serupa terlihat pada burung merak (Pavo cristatus). Sang jantan mengembangkan ekor panjangnya, menggoyangkannya, dan berputar di hadapan betina. Ritual kawin ini menjadi ajang pamer kejantanan, kesehatan, dan kualitas genetik.

Burung manakin (Pipridae) bahkan dikenal melakukan tarian kelompok di atas cabang pohon. Mereka melompat, berputar, dan menghasilkan bunyi “snap” dari sayapnya. Tarian ini berfungsi untuk menarik pasangan sekaligus mempertahankan wilayah.

Di laut, lumba-lumba memperlihatkan perilaku serupa. Mereka berenang melengkung, melompat tinggi, dan bermain di permukaan air, terutama saat musim kawin atau dalam interaksi sosial. Gerakan tersebut memperkuat ikatan sosial sekaligus menunjukkan vitalitas.

Beruang kutub pun tak ketinggalan. Pada musim kawin, jantan kerap melakukan gerakan menyerupai tarian di atas es, berputar, mengangkat kaki, dan mengayunkan tubuh, sebagai bentuk pamer dominasi kepada betina.

Kuda liar, seperti kuda Przewalski, juga mengekspresikan gerak ritmis melalui lari kencang dan angkatan kaki yang teratur. Gerakan ini menjadi simbol kekuatan dan kesiapan reproduksi. Bahkan serangga, seperti beberapa jenis lalat, melakukan “tarian udara” sebelum kawin, sering kali sambil membawa hadiah bagi betina.

Di bawah laut, kura-kura laut jantan berputar dan menggoyangkan cangkangnya untuk menarik perhatian pasangan. Lebah madu pun terkenal memiliki “bahasa tari” sebagai sistem komunikasi untuk memberi tahu sesamanya tentang sumber makanan.

Kesimpulannya, ketika satwa tampak “menari”, bukan berarti mereka memahami musik atau irama seperti manusia. Gerakan tersebut bersifat naluriah dan fungsional, dipicu oleh hormon, kebutuhan komunikasi, reproduksi, dan seleksi alam. Istilah menari kita gunakan secara antropomorfik untuk memudahkan pemahaman.

Alam, pada hakikatnya, telah menyediakan tarian unik bagi setiap makhluk hidup. Bahkan dalam dunia fiksi, seperti film Guardians of the Galaxy, sebatang kayu bernama Groot digambarkan gemar menari—terutama ketika manusia tidak melihatnya. Meminjam lirik Ebiet G. Ade, rumput pun bisa bergoyang seperti menari ketika ditiup angin sepoi-sepoi.

Karena sesungguhnya, menari adalah bahasa semesta, bahasa kehidupan itu sendiri.***

Era Baru Kekuatan Global: China Tantang Dominasi Teknologi Amerika

Oleh : Heri Mulyono

Awal tahun 2025 menandai momen bersejarah dalam persaingan teknologi global. Sebuah startup AI China bernama DeepSeek menghempaskan kepercayaan diri Silicon Valley, sementara senjata hipersonik canggih China terus mempertajam kemampuan militernya. Beijing kini bukan lagi sekadar pengikut—ia telah menjadi pesaing serius yang membuat Washington gelisah.

Dalam beberapa bulan terakhir, China telah mendemonstrasikan serangkaian terobosan yang mengkonfirmasi transformasinya dari “pabrik dunia” menjadi raksasa inovasi. Yang membuat Barat gelisah bukan sekadar kecepatan perkembangan, melainkan efisiensi luar biasa yang dicapai Beijing—sering kali dengan biaya jauh lebih rendah dibanding kompetitor Barat.

Kejutan DeepSeek: Gempa yang Mengguncang Silicon Valley

Pada 27 Januari 2025, sebuah kejadian yang disebut “momen Sputnik AI” mengguncang industri teknologi global. DeepSeek, startup AI China berusia satu tahun, meluncurkan model AI bernama R1 yang diklaim memiliki kemampuan setara dengan ChatGPT-o1 dari OpenAI—namun dengan biaya pelatihan hanya 5,6 juta dolar AS.

Bandingkan dengan ratusan juta hingga miliaran dolar yang dihabiskan perusahaan Amerika untuk model serupa. Pengumuman ini langsung memicu kepanikan pasar. Saham Nvidia anjlok 17 persen dalam sehari, kehilangan hampir 600 miliar dolar nilai pasar—kerugian terbesar dalam sehari yang pernah dialami perusahaan mana pun dalam sejarah.

Yang lebih mengejutkan, pencapaian ini terjadi di tengah sanksi ketat AS yang membatasi akses China terhadap chip AI canggih. DeepSeek mengklaim berhasil mengembangkan modelnya menggunakan chip Nvidia H800 dan A100 yang lebih tua—chip yang tidak termasuk dalam larangan ekspor. Ini menunjukkan China mampu mencapai terobosan dengan sumber daya lebih terbatas.

Dampak Strategis dan Kekhawatiran

DeepSeek menggunakan inovasi arsitektural seperti Mixture-of-Experts dan Multi-Head Latent Attention yang memungkinkan efisiensi luar biasa. Model mereka, yang dirilis sebagai open-source, telah mengungguli Meta’s Llama 3.1 dan Anthropic’s Claude 3.5 Sonnet pada berbagai benchmark.

Presiden Trump menyebut peluncuran DeepSeek sebagai “wake-up call” bagi perusahaan Amerika. Taiwan dan Australia dengan cepat melarang penggunaan aplikasi tersebut pada perangkat pemerintah karena kekhawatiran keamanan.

Keberhasilan DeepSeek menunjukkan kontrol ekspor AS mungkin tidak seefektif yang diharapkan. Pembatasan tersebut justru mendorong gelombang improvisasi dan inovasi efisiensi di seluruh sektor AI China. Namun, kekhawatiran terbesar adalah soal keamanan. Model-model China diuji untuk “nilai-nilai sosialis inti” oleh regulator dan membatasi output tertentu, seperti tentang pembantaian Tiananmen Square 1989 atau status politik Taiwan.

Komputasi Kuantum: Melompat Melampaui Batas

Pada Maret 2025, China mengumumkan komputer kuantum Zuchongzhi 3.0—tonggak besar dalam riset kuantum. Dikembangkan oleh tim fisikawan kuantum China yang dipimpin Pan Jianwei, Zuchongzhi 3.0 memiliki 105 qubit dan dapat memproses tugas quantum random circuit sampling dengan kecepatan satu kuadriliun kali lebih cepat dari superkomputer paling kuat di dunia, dan 1 juta kali lebih cepat dibanding hasil Google di Nature pada Oktober 2024.

Kemampuan kuantum China bukan hanya prestise ilmiah. Pada Oktober 2024, peneliti China menggunakan komputer kuantum untuk memecahkan komponen kunci dari standar enkripsi canggih yang digunakan militer.

Laporan China Pentagon 2024 menyoroti bahwa PLA dapat memanfaatkan jaringan kuantum terintegrasi untuk memperkuat sistem komando, kontrol, dan komunikasi. Defense Intelligence Agency menyebutkan bahwa teknologi kuantum kemungkinan akan memberi militer kemampuan lebih canggih dalam dekripsi, positioning, navigasi, intelijen, dan pengawasan.

China memandang teknologi kuantum sebagai penting dalam kompetisi global dan telah meningkatkan pengeluaran pemerintah menjadi sekitar 15 miliar dolar AS. China memimpin dalam komunikasi kuantum dengan jaringan komunikasi kuantum terbesar di dunia sepanjang 12.000 kilometer, yang mencakup dua satelit kuantum.

Senjata Hipersonik: Mengubah Kalkulasi Militer

Akhir Desember 2025 menjadi saksi demonstrasi terbaru kekuatan hipersonik China. Peluncuran rudal hipersonik YJ-20 yang baru diadakan di kapal perusak kelas Type 055. Media negara China mengklaim YJ-20 berhasil menghantam target maritim pada jarak yang tidak disebutkan.

Video menunjukkan apa yang disebut “finalization test”—istilah yang biasanya diterapkan pada uji coba terakhir sebelum sistem senjata bertransisi dari pengembangan ke produksi atau layanan aktif.

Yang lebih mengkhawatirkan, laporan China Military Pentagon 2025 mengonfirmasi bahwa China telah meluncurkan DF-27, ICBM konvensional pertama di dunia yang dirancang untuk menyerang kapal perang Angkatan Laut AS pada jarak hingga 8.000 mil. Pentagon menyatakan sistem ini memungkinkan China menyerang kapal Angkatan Laut AS pada jarak di luar rudal yang ada.

Laporan Washington Post 2023 berdasarkan dokumen Pentagon rahasia menyatakan kendaraan tersebut terbang selama 12 menit menempuh jarak 2.100 kilometer dan memiliki “probabilitas tinggi” menembus sistem pertahanan rudal balistik Amerika.

Rudal hipersonik China dapat terbang lebih dari Mach 5 dan bermanuver selama penerbangan, membuatnya hampir mustahil dicegat dengan sistem pertahanan konvensional. Ini mengubah keseimbangan kekuatan strategis, terutama dalam konteks Taiwan.

Respons Amerika yang Tertinggal

Amerika berusaha mengejar. Sistem hipersonik Dark Eagle Amerika memiliki jangkauan sekitar 3.500 kilometer, yang berarti dapat menjangkau daratan China dari Guam. Namun, Dark Eagle telah mengalami penundaan pengembangan. Seorang pejabat Angkatan Darat mengatakan produksi saat ini satu per bulan, dengan tujuan meningkatkan menjadi dua per bulan atau 24 per tahun.

Sebagai perbandingan, mantan pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa China telah melakukan 20 kali lebih banyak tes hipersonik dibanding Amerika Serikat.

Ekosistem AI dan Industri Pendukung

Di luar DeepSeek, ekosistem AI China berkembang pesat. Pada akhir 2024, jumlah perusahaan AI di China melampaui 4.500, mencerminkan ekspansi berkelanjutan industri ini. Zhipu AI mengamankan 341 juta dolar dalam pendanaan pada Mei 2024, menilai perusahaan tersebut sekitar 2,5 miliar dolar.

Industri AI China menikmati keuntungan signifikan dalam infrastruktur energi untuk pusat data, didorong oleh ekspansi daya yang menambahkan 429 GW kapasitas pembangkit listrik baru bersih pada 2024 saja—lebih dari 15 kali kapasitas yang ditambahkan di Amerika Serikat.

Dalam robotika, robo-dog China dihargai 3.000 dolar, kontras tajam dengan robo-dog 75.000 dolar dari Boston Dynamics. Unitree telah membentuk jalur perakitan produksi massal pertama di dunia untuk robot humanoid.

Made in China 2025: Strategi yang Berhasil

Pencapaian ini bukan kebetulan tetapi hasil strategi nasional terkoordinasi. Analisis Bloomberg Economics menyimpulkan bahwa inisiatif “Made in China 2025” telah “sebagian besar sukses”. Di antara 13 teknologi kritis yang dilacak, China telah mencapai kepemimpinan global dalam lima: kereta api berkecepatan tinggi, graphene, kendaraan udara tanpa awak, panel surya, dan kendaraan listrik serta baterai lithium.

Analisis South China Morning Post 2024 menemukan bahwa 86 persen dari lebih dari 260 tujuan dalam rencana tersebut telah tercapai.

Respons Amerika dan Fragmentasi Global

Terobosan China memicu respons belum pernah terjadi sebelumnya. Administrasi Trump memperluas kontrol ekspor sepanjang 2025. Pada April, Trump membatasi Nvidia mengirim chip H20-nya. Pangsa pasar China Nvidia runtuh dari 95 persen menjadi nol.

CHIPS Act mengalokasikan 52 miliar dolar untuk produksi chip di Amerika. Di tingkat aliansi, AS membentuk AUKUS dan Quad dengan komponen kerja sama teknologi untuk menyaingi China.

Perang AI 2025 menggambar ulang peta kekuatan global. Dua ekonomi terbesar dunia telah membagi technology stack menjadi kubu yang berperang, dari silikon hingga perangkat lunak hingga standar.

Risiko terbesar adalah fragmentasi ekosistem teknologi global menjadi dua sphere terpisah, memaksa negara-negara memilih sisi dan menghambat inovasi global yang bergantung pada kolaborasi lintas batas.

Inovasi di Tengah Tekanan

Paradoksnya, sanksi justru memacu inovasi China. Ekonom Jerman mengamati bahwa upaya AS memberlakukan pembatasan teknologi terbukti tidak efektif, justru memacu China untuk maju. Pendakian China dalam Global Innovation Index telah stabil—naik dari peringkat 34 pada 2012 ke peringkat 11 pada 2024.

Implikasi untuk Negara Berkembang

Bagi negara seperti Indonesia, persaingan AS-China menghadirkan dilema. Teknologi China lebih terjangkau—robot dengan harga sepersepuluh kompetitor Barat, model AI gratis, infrastruktur 5G lebih murah. Namun, adopsi teknologi China datang dengan pertimbangan geopolitik dan potensi tekanan dari Washington.

Kesimpulan: Era Multipolar

Tahun 2025 membuktikan kompetisi teknologi AS-China memasuki fase lebih intens. DeepSeek, Zuchongzhi 3.0, DF-27, YJ-20—ini simbol transformasi fundamental dalam tatanan global. Yang dipertaruhkan bukan hanya supremasi ekonomi tetapi juga keunggulan militer, pengaruh geopolitik, dan model tata kelola masa depan.

Mantan wakil gubernur PBOC Zhu Min memprediksi integrasi sektoral ini akan melepaskan lebih dari 100 terobosan seperti DeepSeek dalam 18 bulan mendatang yang “akan secara fundamental mengubah sifat dan sifat teknologi dari seluruh ekonomi China”.

Pertanyaan krusial bukan lagi apakah China akan menjadi kekuatan teknologi global—itu sudah terjadi—tetapi bagaimana dunia akan beradaptasi. Apakah persaingan ini akan mendorong inovasi yang mempercepat kemajuan manusia, atau justru memecah dunia menjadi blok-blok teknologi yang saling curiga?

Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, tantangannya adalah menavigasi dunia terpolarisasi ini dengan bijak—memanfaatkan teknologi terbaik dari kedua pihak sambil mempertahankan kedaulatan nasional. Masa depan mungkin bukan tentang memilih satu sisi, tetapi tentang membangun jembatan di dunia teknologi yang terfragmentasi. (*)

Kreativitas di Ujung Nyali: Karakter Didik Ompong di Balik Lahirnya Drumblek

Oleh: Bambang Hermawan (Jurnalis, Pemerhati Kota Salatiga)

​Ketika Pemerintah Kota Salatiga kini tengah “berjuang” agar Drumblek diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda, rasanya relevan—dan sangat penting—untuk menyebut satu nama: Didik Ompong. Tanpanya, narasi besar tentang identitas budaya kota ini mungkin tak pernah ada.

​Memang banyak pihak terlibat, dan berjasa, membawa Drumblek sampai ke posisi sekarang. Namun, fakta bahwa Didik Ompong adalah “penemu” sekaligus perintis bagi lahirnya grup Drumblek pertama tak bisa disanggah.

​Pada suatu hari di bulan Agustus 1986, di Kampung Pancuran, Didik didera keresahan yang menggigit: dengan dana cekak ia harus menyiapkan sebuah grup kesenian. Matanya—mata seorang pelukis yang terbiasa bergulat dengan abstraksi kanvas—menerawang jauh, menembus segala penghalang di depannya. Lalu, muncullah ide liar: membentuk grup drumband versinya sendiri. Sebuah kesenian yang akan menjadi “pernyataan diri” kampung Pancuran dalam karnaval tahunan HUT Kemerdekaan RI ke-41 tingkat Kota Salatiga.

​Drumblek, dengan demikian, lahir bukan karena kebetulan, apalagi hasil kerja laboratorium musik yang njlimet. Ia adalah produk imajinasi seorang pemuda dua puluh tahunan yang berhasil dieksekusi dengan sempurna. Di tangan seorang pelukis dekoratif ekspresif, barang loak tidak dilihat sebagai sampah. Ia direkayasa menjadi volume, warna, dan resonansi yang memiliki nilai estetika.

​Namun, kata kuncinya bukan sekadar imajinasi, melainkan nyali untuk mengeksekusi ide tersebut. Membentuk grup musik perkusi dari barang rongsok bukan hanya soal kreativitas artistik, melainkan kemampuan menggerakkan orang. Sebagai sosok yang disegani di lingkungannya, Didik memiliki daya persuasi untuk mengajak kawan-kawannya “ikut gila”. Seandainya Didik Ompong adalah pribadi yang lembek dan memble, mungkin Drumblek sudah mati saat masih bayi—atau bahkan tidak pernah lahir sama sekali.

​Penyokong utama grup Drumblek Pancuran di awal berdirinya adalah sekelompok remaja tanggung, anak-anak baru gede, yang tergabung dalam geng bernama Comor. Pada pertengahan tahun 80-an, nama geng yang dikomandoi Didik Ompong ini sangat populer di Salatiga. Nama itu muncul sebagai grafiti di tembok, dinding, dan jalanan.

​Didik berhasil membawa grup Drumblek-nya melewati “masa-masa sulit”, terutama di awal keberadaannya. Pernah suatu kali, spanduk dalam iring-iringan Drumblek “disita” aparat karena dianggap terlalu lantang dan kelewat kritis bagi penguasa saat itu. Namun,”tekanan” seperti itu tak menciutkan semangat warga.

Selanjutnya, bergabung dalam grup Drumblek menjadi kebanggaan kolektif bagi warga Pancuran. Pada 1995, dalam karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-50, grup Drumblek Pancuran memecahkan rekor: pesertanya tak kurang dari 500 orang dari berbagai usia.

​Lalu, kita tahu, dalam perjalanannya grup Drumblek tumbuh subur di berbagai sudut kota sebelum akhirnya menjadi ikon Salatiga.

​Didik Ompong sampai kini masih bermukim di Pancuran. Sebelumnya ia pernah meninggalkan Salatiga, berpindah-pindah, antara lain menetap di Yogyakarta, Bandung, dan Ubud, Bali, namun akhirnya kembali ke kampung kelahiran. Perkampungan padat penduduk yang ketika Drumblek lahir tahun 1986 masih “terbelakang”: banyak rumah tak memiliki jamban. Warga menggunakan kalen, saluran air peninggalan kolonial, untuk membuang hajat.

Di tengah lingkungan yang “kumuh” itulah, mata perupa Didik menangkap frekuensi seni yang tak terlihat orang lain.

​Kini badannya kerempeng—khas seniman yang akrab dengan asap tembakau dan doyan begadang. Sorot matanya sedikit redup, tak semenyala dulu saat ia masih menjadi pentolan geng remaja Comor.

​Ia tetap konsisten dan setia menjalani peran yang dipilihnya: perupa, pelukis abstrak. Peran yang memberi warna dalam keindahan Drumblek—ikon Salatiga yang kini siap mendunia.

Renungan Akhir Tahun 2025: Di Balik Luka, Kita Tetap Berdiri

Oleh : Heri Mulyono

Saat kalender menunjuk ke penghujung 2025, kita berdiri di persimpangan antara luka dan harapan. Tahun ini telah menguji kita dengan cara yang tak pernah terbayangkan. Bencana demi bencana datang silih berganti, meninggalkan jejak duka di berbagai pelosok negeri. Banjir bandang yang merenggut nyawa dan harta, gempa yang mengguncang tanah dan hati, tanah longsor yang mengubur impian, hingga kebakaran hutan yang melahap hijau bumi kita.

Ketika Alam Berbicara

Mungkin ini saatnya kita berhenti sejenak dan mendengarkan. Alam sedang berbicara dengan bahasa yang paling keras—bahasa kehilangan. Setiap bencana adalah pengingat bahwa kita bagian dari ekosistem yang rapuh, bukan penguasanya. Pembangunan yang rakus, penggundulan hutan yang tak terkendali, polusi yang mengabaikan masa depan—semua itu kini meminta pertanggungjawaban.

Namun di tengah kehancuran, kita menyaksikan keajaiban lain: kemanusiaan yang bangkit. Relawan yang berlarian ke lokasi bencana tanpa diminta, tetangga yang membagi makanan terakhir mereka, generasi muda yang rela berkorban untuk membantu yang lebih lemah. Inilah Indonesia yang sesungguhnya—negeri yang terluka namun tak pernah kehilangan jiwa gotong royongnya.

Merenungkan Tanggungjawab Bersama

Di penghujung tahun ini, pertanyaan terbesar bukan “Mengapa ini terjadi pada kita?” melainkan “Apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Setiap korban yang berjatuhan adalah pengingat bahwa kita tidak bisa lagi menunda perubahan. Mitigasi bencana bukan lagi wacana, tapi kebutuhan mendesak. Kesadaran lingkungan bukan lagi pilihan, tapi kewajiban setiap warga.

Pemerintah perlu lebih tanggap, sistem peringatan dini harus diperkuat, tata ruang harus ditaati. Namun kita sebagai individu juga tak bisa lepas tangan. Kebiasaan kecil—membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, mengurangi penggunaan plastik—adalah bentuk perlawanan kita terhadap bencana yang lebih besar.

Harapan yang Tetap Menyala

Meski tahun 2025 meninggalkan bekas luka yang dalam, ia juga mengajarkan kita tentang ketahanan. Kita belajar bahwa kehilangan mengajarkan kita menghargai. Kesedihan mengajarkan kita berempati. Dan bencana mengajarkan kita untuk bersatu.

Saat kita melangkah ke 2026, mari kita bawa pelajaran ini. Mari kita bangun negeri yang tidak hanya pulih, tapi juga lebih bijak. Negeri yang memperlakukan alam dengan hormat, yang melindungi warganya dengan serius, yang menempatkan kehidupan di atas segalanya.

Doa untuk Negeri

Untuk mereka yang telah pergi akibat bencana, semoga damai di sisi-Nya. Untuk mereka yang kehilangan, semoga kekuatan selalu menyertai. Untuk mereka yang berjuang memulihkan, semoga tidak pernah lelah. Dan untuk kita semua, semoga 2026 membawa pemulihan, kebijaksanaan, dan komitmen untuk menjaga negeri tercinta ini dengan lebih baik.

Indonesia, engkau terluka tapi tidak terpuruk. Engkau jatuh tapi tidak hancur. Di balik setiap bencana, ada jutaan tangan yang siap mengangkatmu kembali. Itulah kekuatanmu yang sejati. (*)

Selamat tinggal 2025, terima kasih atas pelajarannya. Selamat datang 2026, semoga engkau membawa pemulihan dan harapan baru.

Ekonomi Indonesia 2026: Ujian Perdana “Purbaya Effect”

Oleh : Heri Mulyono

Tahun 2026 menjadi tahun krusial bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam mengemudikan kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dilantik pada 8 September 2025 menggantikan Sri Mulyani Indrawati, Purbaya membawa pendekatan baru yang disebut sejumlah pengamat sebagai “Purbaya Effect”—pergeseran paradigma dari disiplin fiskal ketat menuju fiskal yang lebih ekspansif dan pro-pertumbuhan.

Pertanyaan besarnya: apakah pendekatan baru ini mampu mengakselerasi ekonomi Indonesia melampaui tren 5 persen yang telah menjadi “zona nyaman” selama satu dekade terakhir, atau justru menimbulkan risiko baru di tengah ketidakpastian global?

Target 6 Persen: Optimisme Versus Realitas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi Indonesia pada 2026 dapat tumbuh di kisaran 6 persen, melampaui target resmi pemerintah dalam APBN sebesar 5,4 persen. Untuk kuartal IV 2025, ia memproyeksikan pertumbuhan mencapai 5,6-5,7 persen, meningkat dari realisasi kuartal III sebesar 5,04 persen.

Namun, proyeksi lembaga internasional jauh lebih konservatif. Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4,8 persen pada 2025 dan 2026. Bank Dunia memproyeksikan 5 persen pada periode 2025-2026, sebelum meningkat ke 5,2 persen pada 2027.

Proyeksi domestik juga bervariasi. Tim ekonom BCA memperkirakan pertumbuhan PDB riil 2026 hanya di kisaran 5,1 persen, sementara Bank Syariah Indonesia memproyeksikan 5,28 persen. Institute for Economic and Social Research (LPEM) FEB UI bahkan lebih pesimis dengan proyeksi 4,9-5,0 persen, dengan catatan kritis tentang “kualitas pertumbuhan 5 persen yang suboptimal.”

German Trade & Invest (GTAI) dalam laporannya menyimpulkan bahwa prospek Indonesia untuk 2026 lebih didefinisikan oleh stabilitas daripada momentum, dengan pertumbuhan diperkirakan tetap di sekitar lima persen. “Ruang untuk akselerasi tampak terbatas,” tulis laporan tersebut.

Paradigma Baru: Fiskal Ekspansif Tanpa Pajak Baru

Kedatangan Purbaya membawa perubahan signifikan dalam pendekatan kebijakan fiskal. Berbeda dengan Sri Mulyani yang dikenal dengan disiplin fiskal ketat, Purbaya memiliki pendekatan yang lebih pro-pertumbuhan.

Langkah paling berani adalah penempatan dana menganggur 200 triliun rupiah ke lima bank BUMN (HIMBARA) untuk meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong ekonomi. Purbaya menegaskan ini bukan pencetakan uang baru, melainkan penempatan sementara yang tetap dalam kendali pemerintah.

Purbaya juga mengerek rencana defisit APBN 2026 dari semula 638,8 triliun rupiah (2,48% PDB) menjadi 689,1 triliun rupiah (2,68% PDB) untuk mengakomodasi program prioritas, khususnya program makan bergizi gratis yang mendapat alokasi 335 triliun rupiah. Namun, ia menegaskan defisit tetap di bawah batas 3 persen sesuai undang-undang.

Yang menarik, Purbaya berjanji tidak ada pajak baru sepanjang 2026. Kenaikan tarif pajak hanya akan dipertimbangkan jika pertumbuhan ekonomi melampaui 6 persen dengan peningkatan daya beli masyarakat. Ia juga memastikan tidak ada kenaikan PPN dan menunda pemberlakuan PPh e-commerce 0,5 persen sampai pertumbuhan ekonomi menembus 6 persen.

David Sumual, Chief Economist Bank Central Asia, menilai kebijakan Purbaya mencerminkan upaya untuk mendorong pertumbuhan melalui stimulus fiskal, namun perlu diwaspadai dampaknya terhadap defisit dan utang pemerintah jangka panjang.

Tantangan Eksternal: Perang Dagang dan Komoditas

Dinamika perdagangan global menjadi tantangan utama. Meskipun Indonesia telah melakukan negosiasi kesepakatan tarif dengan Amerika Serikat pada Juli 2025, delegasi Indonesia dijadwalkan kembali ke Washington D.C. dengan target penyelesaian akhir tahun. Ketidakpastian ini berdampak pada sentimen investasi.

IMF memperingatkan bahwa jika ketegangan perdagangan berlanjut, kenaikan tarif dan ketidakpastian yang menyertainya akan memperlambat pertumbuhan global secara signifikan. IMF telah menurunkan perkiraan pertumbuhan untuk emerging markets sebesar 0,5 poin persentase menjadi 3,7 persen.

Harga komoditas menghadirkan prospek beragam. Harga energi seperti batu bara dan minyak mentah menghadapi tekanan ke bawah di tengah peningkatan pasokan global dan permintaan moderat. Potensi tekanan ekspor juga akan terjadi akibat lemahnya ekonomi China, yang akan menekan harga komoditas andalan ekspor Indonesia.

Namun, ada juga peluang. Pada 2026 akan banyak kerja sama internasional seperti IEU-CEPA, ICA-CEPA, dan IEAEU-FTA yang akan menjadi katalis pendorong kinerja ekspor.

Bencana Sumatra: Ujian Fiskal Tak Terduga

Tantangan terbesar di awal kepemimpinan Purbaya adalah penanganan bencana banjir lumpur dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pemerintah telah menggelontorkan Dana Kemasyarakatan Presiden sebesar 268 miliar rupiah dan menyiapkan Transfer ke Daerah (TKD) tanpa syarat sebesar 43,8 triliun rupiah untuk tiga provinsi terdampak.

Center of Economic and Law Studies (Celios) memperkirakan nilai kerugian akibat bencana di Sumatra mencapai 68,67 triliun rupiah. Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menyatakan pemulihan dari bencana ini memerlukan dukungan keuangan substansial di tengah kondisi fiskal yang sudah ketat. “Ini akan menjadi ujian nyata kemampuan manajerial Purbaya dalam mengelola prioritas anggaran,” ujarnya.

Masalah Struktural: Ketenagakerjaan dan Daya Beli

Di balik angka pengangguran yang rendah, terdapat masalah struktural yang kompleks. Lambatnya pertumbuhan pendapatan masyarakat menjadi masalah yang terus membatasi momentum pertumbuhan berbasis konsumsi.

Carolyn Turk, Direktur World Bank untuk Indonesia, mengungkapkan bahwa meskipun ekonomi menciptakan lapangan kerja untuk sebagian besar pendatang baru, sebagian besar berada di sektor dengan nilai tambah rendah. Antara 2018 dan 2024, upah riil menurun 1,1 persen per tahun, menciptakan fenomena “working poor” yang semakin luas.

Nur Komaria, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menjelaskan bahwa sektor ketenagakerjaan Indonesia menghadapi kerentanan terkait jam kerja, struktur pendapatan, dan perlindungan sosial. “Banyak pekerja informal beroperasi dalam kondisi tidak stabil karena jam kerja panjang, upah rendah, dan dukungan minimal dari jaringan sosial,” ungkapnya.

Masalah ketidaksesuaian pekerjaan—ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan, keterampilan, dan minat dengan pekerjaan yang tersedia—juga terus memburuk. Indikator produktivitas pekerja menurun seiring berkurangnya jam kerja, yang berimplikasi pada upah yang juga menurun.

Investasi: Motor Baru Pertumbuhan?

Ada kabar baik dari sisi investasi. Total investasi Indonesia mencapai 491,4 triliun rupiah pada kuartal ketiga 2025, meningkat 13,9 persen tahun-ke-tahun. Yang menarik, investasi domestik melonjak 40,5 persen tahun-ke-tahun menjadi 279,4 triliun rupiah, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha domestik terhadap ekonomi Indonesia.

Untuk 2026, pemerintah menetapkan target investasi ambisius dengan pertumbuhan dua digit, didukung oleh belanja infrastruktur, industrialisasi hilir, dan program prioritas dalam ketahanan energi dan pangan. Hilirisasi dan pergeseran prioritas kebijakan diperkirakan akan menjadikan PMDN sebagai motor utama investasi.

Namun, IMF memperingatkan bahwa investasi asing langsung tetap terkonsentrasi pada pengolahan logam hilir, yang membatasi penciptaan lapangan kerja dan peningkatan industri yang lebih luas. “Indonesia perlu mendiversifikasi basis investasinya untuk menciptakan dampak yang lebih merata,” kata Maria Gonzalez, pemimpin tim IMF untuk Indonesia.

Peluang: Digital dan Reformasi Struktural

Di tengah tantangan, ada peluang signifikan. Bank Dunia meyakini Indonesia dapat mendorong pertumbuhan produktivitas lebih cepat dengan memperkuat kualitas dan jangkauan infrastruktur digital. Ekonomi digital Indonesia tetap terbesar di ASEAN pada 2025.

Mahesh Uttamchandani, Direktur Praktik Regional World Bank untuk Digital dan AI di Asia Timur dan Pasifik, menyatakan bahwa ambisi digital Indonesia sesuai dengan peluang besar di depan. “Komitmen pemerintah terhadap transformasi digital layanan publik dan ekonomi menghasilkan momentum kuat, dengan ruang untuk pergi lebih jauh lagi,” ujarnya.

Ekonomi dan keuangan syariah juga diyakini menjadi bagian integral dari dorongan pertumbahan nasional. Pemerintah mendorong aktivitas ekonomi dalam negeri melalui program stimulan akhir tahun dengan target transaksi EPIC Sale 56 triliun rupiah, Harbolnas 34 triliun rupiah, dan program BINA 30 triliun rupiah.

Penilaian Analis: Ketahanan, Bukan Akselerasi

Kesimpulan dari berbagai analis cenderung konvergen: Indonesia memasuki 2026 dengan prospek yang lebih didefinisikan oleh ketahanan daripada akselerasi.

Tim ekonom BCA menyatakan prospek makroekonomi Indonesia diperkirakan mengalami perbaikan moderat pada 2026, didukung kebijakan fiskal ekspansif dan suku bunga lebih rendah, meskipun masalah struktural di sektor rumah tangga akan terus membatasi momentum.

Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, lebih optimis dengan menyatakan keyakinan bahwa prospek ekonomi Indonesia di 2026 dan 2027 akan lebih baik di tengah perlambatan ekonomi global, didukung inflasi yang terjaga dalam kisaran target 1,5-3,5 persen.

Namun, LPEM FEB UI menekankan perhatian pada “kualitas pertumbuhan yang suboptimal,” dengan distribusi manfaat pertumbuhan yang tetap tidak merata. “Pertumbuhan 5 persen tidak cukup jika sebagian besar rakyat tidak merasakan perbaikan kesejahteraan riil,” kata peneliti LPEM.

Kesimpulan: Era Baru, Tantangan Lama

Tahun 2026 menandai era baru kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa. Dengan pendekatan yang lebih ekspansif dibandingkan pendahulunya, Purbaya membawa harapan bahwa Indonesia dapat keluar dari “zona nyaman” pertumbuhan 5 persen.

Target pertumbuhan 6 persen mencerminkan ambisi tinggi. Namun, proyeksi sebagian besar lembaga keuangan menunjukkan skeptisisme, dengan perkiraan pertumbuhan tetap di kisaran 5,0-5,3 persen. Kesenjangan antara target dan proyeksi ini menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi.

Peluang untuk transformasi ekonomi sangat nyata melalui program makan bergizi gratis, industrialisasi hilir, transformasi digital, dan penguatan ekonomi syariah. Penempatan dana 200 triliun rupiah ke perbankan menunjukkan keberanian dalam menggunakan instrumen fiskal tidak konvensional.

Namun, ancaman juga sama nyatanya: ketegangan perdagangan global, penurunan harga komoditas, bencana ekologis di Sumatra, masalah ketenagakerjaan struktural, dan upah riil yang menurun. Masalah-masalah ini memerlukan reformasi struktural yang lebih dalam, bukan hanya stimulus fiskal jangka pendek.

Keberhasilan “Purbaya Effect” akan bergantung pada kemampuan pemerintah menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan disiplin fiskal, program populis dengan efisiensi belanja, serta mendorong konsumsi sambil meningkatkan produktivitas. Yang paling krusial adalah memastikan pertumbuhan ekonomi diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang lebih luas dan merata.

Dunia akan mengamati apakah Purbaya dapat membuktikan bahwa pendekatannya yang berbeda membawa Indonesia ke level pertumbuhan lebih tinggi, atau negara ini tetap di jalur pertumbuhan stabil namun moderat. Tahun 2026 akan menjadi ujian penting bagi visi ekonomi baru Indonesia—antara optimisme dan realitas, antara ambisi dan kehati-hatian, antara perubahan dan kesinambungan. (*)

Urap, Masakan Warisan Abad X

Gde Mahesa

Urap berasal dari bahasa Jawa yang artinya urip atau hidup, dimana hidup bukan hanya sekadar mengacu pada raga, namun juga batin (cipta, rasa, dan karsa). Kesempurnaan orang hidup harus menggunakan akal-budi dalam mencapai tujuan mulia yang dibutuhkan raga.
Namun juga tidak boleh mengesampingkan kebutuhan batin yang harus dipenuhi.

Urap atau gudangan juga disebut kuluban ini merupakan masakan Jawa yang terkenal lezat, sebab merupakan salah satu kliner Nusantara yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Medang atau pada tahun 929 Masehi, yang konon sejarahnya tertulis pada Prasasti Linggasuntan dengan kalimat “wrak-wrak” yang diartikan urap. 

Prasasti yang konon ditemukan di wilayah Jawa Timur, merupakan bukti penting kehidupan sosial, budaya, dan kuliner masyarakat era Kerajaan Medang, dan mencatat berbagai aktivitas agraris masyarakat, termasuk penggunaan sayuran dan kelapa dalam makanan sehari-hari. 

Makna kandungan filosofi urap :

  • Simbol Harmoni dan Persatuan: Urap melambangkan kehidupan yang terdiri dari berbagai macam status, sifat, dan perbedaan manusia di masyarakat. Kelapa parut berbumbu bertindak sebagai pengikat atau penyatu berbagai macam sayuran yang berbeda.
  • Simbol Kemakmuran dan Syukur: Urap sering menjadi bagian dari sajian tumpeng. Bentuk tumpeng sendiri melambangkan gunung, yang dalam mitologi Jawa dan Hindu dianggap suci (sebagai tempat bersemayam dewa) dan simbol hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta. Urap yang mendampingi tumpeng melambangkan rezeki dari bumi yang berlimpah.

Urap sama sekali tidak mengandung daging, dan dapat dimakan begitu saja sebagai makanan vegetarian atau sebagai sayuran teman nasi sebagai bagian dari hidangan lengkap. Urap biasanya merupakan syarat atau hidangan penting sebagi sayur pengiring  yang disatukan dengan kelapa parut berbumbu, dan merupakan pelengkap tumpeng Jawa. Tampil dengan kesederhanaan, namun penuh daya pikat.

Dalam budaya masyarakat Jawa, urap mengandung filosofi mendalam yang melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada alam. Kombinasi berbagai jenis sayuran dalam satu hidangan mencerminkan harmoni dan kebersamaan, sementara bumbu kelapa yang menyatukan seluruh elemen melambangkan persatuan.

Rasa urap yang gurih dan bikin nagih ini juga mencerminkan prinsip keseimbangan hidup antara alam dan manusia, di mana manusia diajarkan untuk selalu hidup harmonis dengan alam dan sesama. 

Sayuran yang harus ada dalam urap adalah kangkung, bayam, taoge, dan kacang panjang. Setiap sayur, memiliki makna filosofis sendiri-sendiri.

Kangkung, misalnya, adalah sayuran yang bisa tumbuh di air dan di darat. Filosofinya, diharapkan hal itu juga bisa berlaku pada manusia yang harus bisa adaptif alias sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apapun.

Bayam adalah sayur yang melambangkan kehidupan yang ayem tentrem (aman dan damai).

Lalu taoge atau kecambah, merupakan sayur kecil yang mengandung makna kreativitas tinggi. Hanya seseorang yang kreativitasnya tinggi, bisa berhasil dalam hidupnya.

Adapun kacang panjang, ia wajib hadir utuh, tanpa dipotong. Maksudnya agar manusia pun selalu berpikir panjang sebelum bertindak, selain sebagai perlambang umur panjang. Kacang panjang utuh umumnya tidak dibuat hidangan, tetapi hadir sebagai hiasan yang mengelilingi tumpeng.

Sedangkan bumbu urap yang terbuat dari parutan kelapa  bermakna urip atau hidup dalam artian bahwa selama orang itu hidup dapat menghidupi atau menafkahi seluruh keluarga.

Pada masyarakat Jawa, urap ikut memainkan peran penting dalam berbagai tradisi dan upacara adat, sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Dalam konteks ini, urap melambangkan keseimbangan antara elemen duniawi (sayuran) dan spiritual (bumbu kelapa).

Sruputtt kopi pahitnya…. bullll bullll klepussss…..

Menaklukkan Waktu, Memimpin Peradaban

Catatan Akhir Tahun dari Tepi Ciliwung

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol
Jakarta, 31 Desember 2025

_____

Beberapa jam lagi, tahun akan berganti.
Jarum jam akan melewati angka dua belas.
Kembang api akan menyala di langit Jakarta.

Namun ada pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan:
apa yang sebenarnya kita rayakan ketika waktu berganti?

Di Cijantung, dari tepi Sungai Ciliwung, air mengalir seperti biasa.
Ia tidak tahu bahwa manusia menyebut malam ini “akhir tahun”.
Sungai tidak mengenal kalender.
Kitalah yang mengenalnya—dan menyepakatinya.

Ketika Manusia Belum Mengenal Waktu

Pada awal sejarah, manusia hidup tanpa jam dan tanggal.
Waktu tidak dihitung, hanya dirasakan.

Pagi ketika matahari terbit.
Siang saat panas memuncak.
Malam ketika gelap memaksa berhenti.

Berburu, berpindah, dan beristirahat mengikuti naluri dan musim.

Cara hidup ini cukup untuk bertahan, tetapi tidak cukup untuk membangun keteraturan hidup bersama.

Tanpa ukuran waktu, janji tidak bisa dipastikan, pekerjaan tidak bisa diselaraskan, dan kepemimpinan sulit dijalankan.

Di titik itulah manusia mulai memahami bahwa hidup bersama membutuhkan aturan yang disepakati, bukan sekadar insting.

Langit sebagai Penunjuk Jalan

Manusia lalu belajar dari langit.
Bukan untuk mencari makna simbolik, melainkan untuk bertahan hidup.

Matahari terbit dan terbenam dengan pola yang tetap.

Bulan berubah bentuk secara teratur.

Musim datang dan pergi.
Di Mesir kuno, banjir Sungai Nil yang datang hampir bersamaan setiap tahun memaksa manusia menghitung satu siklus matahari sekitar 365 hari. Tahun lahir bukan dari filsafat, melainkan dari kebutuhan rakyat untuk menanam dan panen.

Jam dan Disiplin Hidup Bersama

Ketika manusia hidup dalam kota dan jumlahnya semakin banyak, waktu tidak lagi bisa dibiarkan mengalir bebas
.
Aktivitas harus diatur, pekerjaan harus diselaraskan.
Jam matahari, jam air, dan jam pasir digunakan.

Kemudian lahir jam mekanik, yang memungkinkan manusia bekerja, beribadah, dan memerintah dalam irama yang sama.

Pembagian satu hari menjadi 24 jam, satu jam menjadi 60 menit, dan satu menit menjadi 60 detik berasal dari tradisi Mesir dan Babilonia yang memilih sistem hitung praktis dan mudah dibagi. Keputusan teknis ini menjadi fondasi ketertiban dunia hingga hari ini.

Nusantara dan Kesadaran Waktu

Di Nusantara, masyarakat telah lama mengenal waktu melalui kalender Bali, Batak, Jawa, dan tradisi lokal lainnya.

Kalender-kalender ini mengatur tanam, hajatan, upacara, dan laku hidup.

Namun ketika Indonesia menjadi sebuah bangsa, kita membutuhkan satu kesepakatan waktu nasional, agar kehidupan bersama tidak berjalan sendiri-sendiri. Kalender Masehi dipakai sebagai alat bersama, tanpa meniadakan kearifan lokal.

Contoh Aktual:

Jakarta dan Ketepatan Waktu

Setiap pagi di Jakarta, jutaan orang bergantung pada KRL Commuter Line Jabodetabek

Kereta harus datang dalam hitungan menit. Sedikit saja jadwal meleset, stasiun akan padat, pekerjaan terganggu, dan emosi publik meningkat.

KRL bisa berjalan bukan semata karena listrik dan rel, tetapi karena waktu yang disepakati dan ditaati bersama—dari masinis, petugas stasiun, hingga penumpang. Di sinilah terlihat jelas bahwa disiplin waktu bukan teori, melainkan kebutuhan hidup sehari-hari.

Tanpa kesepakatan waktu, kota sebesar Jakarta akan lumpuh.

Pelajaran dari Sejarah Kekuasaan
Roma pernah kacau bukan karena kekurangan tentara, tetapi karena kalender yang tidak selaras dengan musim. Julius Caesar menertibkan waktu dengan mengadopsi kalender matahari Mesir. Kalender Julian menjadi fondasi kalender modern.

Pelajarannya sederhana:
mengatur waktu adalah bagian dari mengatur negara.

Sebelum dan Sesudah Masehi

Pembagian waktu Sebelum Masehi (SM) dan Sesudah Masehi (M) adalah kesepakatan global yang menjadikan kelahiran Yesus Kristus sebagai titik acuan kronologi. SM menghitung mundur menuju titik itu, M menghitung maju setelahnya.

Ini bukan sekadar soal iman, tetapi alat agar sejarah umat manusia dapat dibaca dalam satu garis waktu yang sama.

Waktu, Teknologi, dan Kita

Hari ini, teknologi justru semakin bergantung pada waktu.

Satelit, GPS, penerbangan, perbankan, hingga jaringan listrik hanya bekerja karena waktu dihitung dengan presisi tinggi.

Tanpa kesepakatan waktu, dunia modern akan berhenti dalam hitungan jam.

Catatan Akhir Tahun
Malam ini, ketika kita mengucapkan selamat tinggal pada 2025 dan menyambut 2026, sesungguhnya kita sedang memperbarui satu janji sunyi:
janji untuk hidup tertib dalam waktu yang kita sepakati bersama.

Sungai Ciliwung akan tetap mengalir.
Matahari tetap terbit esok pagi.

Tetapi arah hidup manusia ditentukan oleh caranya menghormati waktu.

Selamat Tahun Baru 2026.
Semoga kita tidak hanya menambah usia kalender,
tetapi juga menambah kedewasaan dalam mengelola waktu—
sebagai pribadi, sebagai bangsa, dan sebagai peradaban.

Janji Manusia Memudar, Janji Alam Semesta Tetap Setia

Di tengah gemerlap negeri yang tampak megah,
kita menyaksikan wajah lain dari kehidupan:
janji-janji yang diingkari,
kekuasaan yang menindas,
dan kebaikan yang sering dikalahkan oleh kepentingan.

Namun, alam semesta punya hukum sendiri —
ia berpihak kepada ketulusan hati dan kejujuran niat.
Yang menabur kebaikan akan menuai kekuatan,
yang bertahan dalam kesendirian akan menemukan cahaya penuntun.

✨ Bagi pribadi yang berjuang sendirian:
Tetaplah melangkah, meski berat.
Yang benar kadang tak populer,
namun di sanalah harga diri dan makna hidup diuji.

🏡 Bagi keluarga yang terhimpit keadaan:
Jangan padamkan kasih dan saling pengertian.
Kesetiaan di tengah kekurangan adalah energi murni
yang akan menarik pertolongan dari arah tak terduga.

⚖️ Bagi para pemimpin dan penentu kebijakan:
Dengarkan suara nurani rakyatmu.
Bangsa tidak akan runtuh karena kemiskinan,
tetapi karena hilangnya keadilan dan kejujuran.

Pada akhirnya, kekuasaan dan jabatan hanyalah bayangan.
Yang abadi adalah jejak kebaikan yang kita tinggalkan.
Ketika manusia lupa menepati janji,
Alam — dan Sang Pencipta di baliknya —
tetap menegakkan keseimbangan.

Salam Damai ..
MJP Hutagaol ‘86

Rambut Simbol Kekuatan

Gde Mahesa

Apa pandangan Anda tentang rambut panjang, cepak, gimbal, dan punK ? Tentunya tak semua bisa diterjemahkan secara verbal, sebab yang “tampak” belum tentu sebenarnya.

Rambut manusia dalam mitologi berkaitan dengan kekuatan, kecantikan, atau kutukan.
Seperti halnya sosok legenda Medusa dalam mitologi Yunani yang rambutnya berubah menjadi ular berbisa setelah dikutuk oleh Dewi Athena, dan mampu mengubah siapa pun yang menatapnya menjadi batu.

Contoh lain cerita tentang Samson dan Delilah. Dalam Alkitab disebutkan kekuatan Samson terletak pada rambutnya yang panjang.

Dalam tradisi Hindu, rambut panjang sering dianggap sebagai saluran energi spiritual.

Di Nusantara mitologi rambut manusia memandang rambut lebih dari sekadar bagian tubuh, melainkan simbol kekuatan spiritual, identitas budaya, hingga penghubung dengan energi alam semesta. Rambut sering dianggap menyimpan kenangan, emosi, dan kekuatan magis seseorang. 

Lain daripada itu, rambut dipercaya menyimpan kebijaksanaan leluhur dan berkah dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, dengan merawat rambut tanpa memotongnya, berarti memelihara hubungan suci dengan warisan spiritual.

Rambut juga ibarat “antena spiritual” untuk konektivitas universal. Setiap helai dapat menyerap dan memancarkan energi, karena rambut tersusun dari struktur kristal.

Rambut di kepala dapat menarik energi menuju cakra mahkota, yang memperkuat hubungan dengan Alam Semesta.

Dari zaman ke zaman, manusia menata rambut dengan berbagai macam cara yang simbolis, memiliki potongan dan warna tertentu yang merepresentasikan suatu hal.

Sistem kepercayaan dan cerita rakyat telah lama menentukan bagaimana rambut harus ditangani: diikat, ditutupi, ditumbuhkan panjang, dipotong pendek, dicukur, dikeriting, diwarnai dan dilingkarkan, didekorasi, dipilin, dikepang, dan banyak lagi.

Apakah rambut  berfungsi sebagai penunjang penampilan atau menunjukkan simbol tertentu ? Tentunya tergantung pada waktu dan tempat di bumi tempat seseorang hidup, rambut di kepala seseorang memiliki makna yang kuat.

Rambut adalah mahkota, mencintai rambut berarti mencintai kepala, yang merupakan bagian tubuh paling dihormati dan disucikan. Dengan memotong rambut dimaknai simbol pengorbanan, oleh sebab itu, tidak bisa dilakukan sembarangan dan selayaknya dilakukan dengan ritual khusus.

Rambut juga sebagai bahasa tubuh setiap orang, siapapun bisa mengubah model rambut sesuka hati layaknya gaya bahasa dalam keseharian, serta identitas seseorang untuk mengekspresikan diri.

Tak heran jika sering terdengar berbagai kisah mistis tentang rambut. Salah satunya mitos soal wanita rambut panjang tak boleh mengurai rambut di malam hari.

Menurut kepercayaan masyarakat tradisional, rambut wanita yang tergerai di malam hari dianggap memiliki daya tarik magis tersendiri bagi makhluk halus. Rambut panjang yang bergoyang-goyang lalu terurai dipercaya dapat menjadi semacam “magnet” yang mengundang kehadiran makhluk gaib.

Beberapa orang tua bahkan meyakini bahwa rambut yang panjang tidak terikat bisa menjadi media komunikasi atau “jembatan” antara dunia nyata dan dunia spiritual. Selain hal tersebut juga dianggap sebagai sinyal yang dapat diinterpretasikan oleh makhluk halus sebagai bentuk ajakan berinteraksi.

Masyarakat percaya bahwa roh-roh penasaran akan tertarik dengan energi maupun aura yang dipancarkan oleh rambut wanita yang tidak diikat.

Tak jarang ada anggapan, rambut wanita yang terurai di malam hari dianggap dapat menurunkan tingkat kehormatan diri. Kepercayaan ini erat kaitannya dengan norma-norma sosial yang mengutamakan kesopanan dan sikap terpelihara.

Rambut yang dibiarkan tergerai dipandang sebagai simbol kurangnya kontrol diri maupun profesionalitas seseorang, terutama dalam konteks masyarakat tradisional.

Rambut yang dibiarkan lepas dipandang sebagai undangan bagi makhluk halus untuk melakukan interaksi bahkan gangguan yang tidak diinginkan.

Pada konsep spiritual beberapa tradisi, rambut wanita yang tergerai di malam hari dapat mengganggu keseimbangan energi di sekitarnya. Kepercayaan ini berakar dari pemahaman bahwa setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi dan energi spiritual tersendiri.

Membiarkan rambut terurai dianggap dapat menciptakan ketidakseimbangan energi yang berpotensi mendatangkan hal-hal negatif.

Filosofi rambut memang kaya makna, mencakup lambang kekuatan, identitas, spiritualitas, pemberontakan, kecantikan, dan transformasi, yang diwujudkan melalui berbagai gaya, merefleksikan budaya, keyakinan, dan pribadi seperti simbolisme rambut panjang yang melambangkan kekuatan atau kebijaksanaan.

Sruputtt kopi pahitnya…. bullll bullll klepussss….

Gunungan Wayang Purwa: Simbol Kehidupan dan Tata Semesta

Oleh : Heri Mulyono

Dalam setiap pertunjukan wayang kulit purwa, terdapat satu elemen yang selalu hadir sejak awal hingga akhir pementasan, namun bukan tokoh pewayangan dalam pengertian konvensional. Elemen tersebut adalah Gunungan atau Kayon, sebuah wayang berbentuk gunung yang menyimpan makna filosofis mendalam tentang kehidupan, alam semesta, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Gunungan merupakan unsur penting dalam pergelaran wayang kulit purwa yang bentuknya menyerupai gunung. Meski tidak mewakili tokoh seperti wayang lainnya, Gunungan memiliki posisi sentral karena mengandung simbolisme yang sangat kaya dan multidimensional.

Asal-Usul dan Jenis Gunungan

Sejarah Penciptaan

Gunungan Blumbangan diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada era Kerajaan Demak, kemudian pada era Kartasura diciptakan kembali Gunungan Gapuran.

Dua Jenis Gunungan

Ada dua jenis gunungan yang dikenal dalam tradisi wayang purwa:

1. Gunungan Blumbangan (Kayon Wadon/Perempuan)

Kayon blumbangan diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada zaman Kerajaan Demak dan di dalamnya terdapat ragam motif kolam berisi air dan ikannya. Sebagai simpingan, kayon blumbangan biasanya diletakkan di sisi kiri layar.

2. Gunungan Gapuran (Kayon Lanang/Laki-laki)

Kayon gapuran diciptakan oleh Pakubuwono II di era Keraton Kartasura, awalnya untuk wayang klithik, kemudian dipinjam untuk wayang purwa dan sampai sekarang tetap dipakai.

Fungsi Gunungan dalam Pertunjukan

Gunungan memiliki beragam fungsi penting dalam pagelaran wayang kulit:

1. Penanda Awal dan Akhir Pertunjukan

Sebelum pertunjukan dimulai, gunungan ditancapkan di tengah layar dengan condong ke kanan, menandakan dunia yang belum diceritakan. Setelah pertunjukan selesai, gunungan kembali ditancapkan di tengah layar sebagai tanda berakhirnya cerita.

2. Pergantian Adegan

Gunungan berfungsi sebagai pembuka dan penutup pertunjukan, juga sebagai tanda pergantian jejeran atau adegan. Saat pergantian adegan, gunungan ditancapkan di tengah dengan condong ke kiri.

3. Simbol Elemen Alam

Gunungan digunakan untuk menyimbolkan api atau angin dengan cara membalik sisinya yang berwarna merah, warna yang melambangkan api. Gunungan juga dapat mewakili daratan, hutan, jalan, dan elemen alam lainnya sesuai dialog dalang.

Struktur dan Simbolisme Gunungan

Gunungan memiliki struktur tiga lapis yang mencerminkan konsep Tribuwana (tiga dunia) dalam kosmologi Jawa:

Dunia Bawah (Palemahan)

Dunia bawah atau Palemahan digambarkan berupa garis tipis memanjang berwarna merah di bagian bawah gunungan, tanpa hiasan atau simbol. Ini melambangkan dunia tempat manusia hidup, yang jika hanya berhenti di tahap ini, berarti manusia hanya menjalani kehidupan duniawi dan ragawi tanpa mengembangkan aspek rohani.

Dunia Tengah (Genukan dan Lengkeh)

Di dunia tengah terdapat rumah (gedong) yang tertutup pintunya rapat, dan di kedua sisi atap gedong terdapat gambar kepala raksasa bersayap sebagai simbol perpindahan dari dunia tengah ke dunia atas.

Bangunan Rumah (Gedong): Melambangkan tempat tinggal manusia yang menyatu dengan alam.

Dua Raksasa Penjaga: Cingkarabala dan Balaupata adalah saudara kembar berwujud raksasa yang ditugasi Bathara Guru untuk menjaga Selamatangkep, gerbang masuk menuju Kahyangan Suralaya. Meski bentuknya menyeramkan, mereka bertabiat jujur dan baik hati, dan hanya yang berniat baik yang dapat melewati mereka.

Burung Setengah Naga dan Hewan Lainnya: Dalam gunungan terdapat berbagai binatang seperti harimau, banteng, monyet, ayam hutan, dan burung, yang masing-masing melambangkan sifat dan karakter manusia.

Ular Melilit Pohon: Simbol godaan dan cobaan yang menghadang manusia dalam perjalanan hidupnya.

Dunia Atas (Pucuk)

Dunia atas atau Pucuk digambarkan sebatang pohon yang menjulang sampai ke puncak gunungan, disebut pohon hayat. Pohon kehidupan ini menjadi simbol sentral yang memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk.

Pohon Hayat (Tree of Life): Gunungan sebagai simbol kayon (pohon kehidupan) memberi kehidupan bagi makhluk hidup.

Banaspati (Kepala Raksasa di Puncak): Melambangkan godaan, cobaan, tantangan, dan bahaya yang setiap saat mengancam keselamatan manusia.

Bunga-bunga di Puncak: Melambangkan kesempurnaan spiritual yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup manusia.

Makna Filosofis

Konsep Manunggaling Kawula Gusti

Secara filosofis, gunungan menjadi ungkapan persatuan manusia dengan Tuhan (manunggaling kawula Gusti). Bentuk segitiga yang mengerucut ke atas melambangkan perjalanan hidup manusia menuju kesempurnaan spiritual dan penyatuan dengan Sang Pencipta.

Trilogi Kehidupan

Gunungan mengandung konsep trilogi yang terungkap dalam penancapan gunungan (pathet nem, pathet sanga, pathet manyura), gambaran siklus kehidupan manusia dari anak-dewasa-tua.

Pathet Nem: Melambangkan masa kanak-kanak dan remaja (jam 19.00-24.00)

Pathet Sanga: Melambangkan masa dewasa dan puncak kehidupan (jam 24.00-03.00)

Pathet Manyura: Melambangkan masa tua dan persiapan kembali ke alam baka (jam 03.00-selesai)

Empat Dimensi Relasi

Secara antropologis, gunungan mengandung makna relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan sesama, dan manusia dengan dirinya sendiri. Relasi ini mengantar manusia untuk senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan.

Panca Dharma

Gunungan menjadi panca dharma (lima prinsip) bagi kehidupan orang Jawa dan memberikan pendidikan moral serta spiritual. Lima ajaran kebijaksanaan yang terkandung dalam gunungan mencakup:

1. Keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat

2. Harmoni antara manusia dengan alam

3. Keadilan dalam hubungan sesama manusia

4. Pengendalian nafsu dan sifat buruk

5. Pencapaian kesempurnaan spiritual

Simbolisme Warna dan Bentuk

Bentuk Segitiga/Segi Lima: Bentuk segi lima melambangkan lima waktu yang harus dilakukan dalam agama, adapun bentuk meruncing ke atas melambangkan bahwa kehidupan manusia menuju yang di atas yaitu Allah SWT.

Kombinasi Warna: Penggunaan warna emas, merah, hitam, dan hijau memiliki makna tersendiri. Merah melambangkan semangat dan api kehidupan, hitam melambangkan kebijaksanaan dan misteri, hijau melambangkan kesuburan dan kehidupan, sementara emas melambangkan kesucian dan kemurnian.

Gunungan sebagai Makrokosmos

Gunungan melambangkan makrokosmos dan fondasi spiritual dari materi, dengan Pohon Kahuripan atau Pohon Kehidupan Jawa sebagai figur sentralnya. Pohon ini didukung oleh sayap yang menandakan sifatnya yang mistis dan transenden.

Dimensi Pendidikan dan Moral

Gunungan mengandung ajaran filosofis tinggi, yaitu ajaran kebijaksanaan, yang mengimplikasikan bahwa pertunjukan wayang mengandung pelajaran bernilai tinggi.

Melalui simbol-simbol dalam gunungan, masyarakat Jawa diajari tentang:

Kebijaksanaan hidup: Bagaimana menjalani kehidupan dengan seimbang

Pengendalian diri: Menghadapi godaan dan nafsu seperti yang disimbolkan oleh berbagai binatang

Tujuan hidup: Mencapai kesempurnaan spiritual yang dilambangkan oleh puncak gunung

Harmoni kosmis: Keselarasan antara mikrokosmos (diri manusia) dengan makrokosmos (alam semesta)

Gunungan dalam Konteks Kontemporer

Nilai-nilai yang terkandung dalam Gunungan masih sangat relevan di era modern:

1. Keseimbangan Ekologis: Gunungan mengajarkan harmoni manusia dengan alam

2. Spiritualitas: Pentingnya menjaga hubungan vertikal dengan Sang Pencipta

3. Etika Sosial: Hubungan horizontal yang baik dengan sesama

4. Pengembangan Diri: Perjalanan spiritual menuju kesempurnaan

Gunungan bahkan digunakan sebagai logo resmi untuk KTT G20 Bali 2022, menunjukkan pengakuan global terhadap nilai filosofisnya.

Catatan Akhir

Gunungan identik dengan gunung sehingga menggambarkan tata semesta, dan unsur-unsurnya menunjukkan kedekatan orang Jawa dengan Sang Pencipta dan alam.

Gunungan bukan sekadar properti dalam pertunjukan wayang, melainkan representasi visual dari worldview Jawa yang holistik. Ia menjadi jembatan antara dunia nyata dan spiritual, antara manusia dan Tuhan, serta antara individu dan alam semesta.

Relasi gunungan dengan orang Jawa tidak terpisahkan, gunungan menjadi identitas khas milik orang Jawa. Memahami gunungan berarti memahami filosofi hidup Jawa yang menekankan keseimbangan, harmoni, dan pencarian makna spiritual dalam setiap aspek kehidupan.

Melalui simbolisme yang kaya dan mendalam, Gunungan mengajarkan bahwa kehidupan adalah perjalanan bertingkat dari yang material menuju spiritual, dari yang profan menuju sakral, dan dari ketidaksempurnaan menuju kesempurnaan. Inilah warisan kebijaksanaan leluhur yang tetap relevan dan perlu dilestarikan untuk generasi mendatang. (*)