Banyak Rentenir di NTB

GUBERNUR NTB, Zainul Majdi menyambut baik pelatihan bagi warganya yang diinisiasi Kemenkop dan UKM. Warga NTB ingin menjadi pelaku usaha yang sukses. Karena itu, pelatihan dan pemahaman menjadi wirausaha yang baik dan tangguh sangat diminati. “Saya juga berharap, pelatihan ini bisa meningkatkan kualitas koperasi dan UKM di NTB,” kata Gubernur NTB saat menghadiri pembukaan pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia KUKM di Mataram, NTB, Senin (13/3/2017).

Menurutnya, agenda pengembangan ekonomi masyarakat NTB adalah memastikan proses pembangunan mampu menciptakan KUKM sebagai aktor utama. “Karena, saat ini ketika ritel modern masuk maka terjadi perubahan aktor ekonomi. Ekonomi memang tumbuh, konsumsi meningkat, tapi yang terjadi di bawah adalah perubahan aktor ekonomi, dari KUKM ke pemodal besar. Kita harus tetap memastikan bahwa aktor utama ekonomi tetap di tangan KUKM. Sehingga, mampu menciptakan pemerataan kesejahteraan,” tukas Zainul Majdi.

Wakil Ketua DPD RI Farouq Muhammad sepakat dengan Gubernur NTB bahwa pertumbuhan ekonomi di NTB memang meningkat, tapi transformasi tidak sampai ke bawah. “Oleh karena itu, pihak perbankan harus hadir untuk membantu permodalan KUKM di NTB. Pasalnya, di NTB masih banyak rentenir beroperasi,” ungkap Farouq.

Usai acara, Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM Prakoso BS menyatakan bahwa ada beberapa fokus yang dituju dari pelatihan ini. Diantaranya, kewirausahaan yang terkait dengan pariwisata, karena NTB (Lombok) merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. “Misalnya, pelatihan untuk mengelola desa wisata dan juga pemandu wisata yang ada di Lombok. Bukan kurang, tetapi akan kita tingkatkan kapasitas SDM-nya,” kata Prakoso.

Selain itu, lanjut Prakoso, pelatihan juga menyasar nelayan dan perempuan agar mereka bisa mengelola hasil laut hingga memiliki nilai tambah. “Sehingga, ketika terjadi angin Barat mereka tidak melaut, bisa melakukan kegiatan anyaman, kerajinan, souvenir, makanan, dan sebagainya. Pelatihan perkoperasian juga sangat diperlukan bagi mereka. Diharapkan, usaha mikro dan kecil yang sudah kuat agar bergabung dalam satu wadah koperasi. Karena, idealnya itu adalah anggota koperasi merupakan wirausaha agar koperasi cepat maju dan berkembang,” tandas Prakoso.

Pelatihan vocational di daerah tertinggal di NTB pun menjadi target strategis Kemenkop dan UKM. “TPKU-TPKU yang sudah ada di NTB juga jangan sekadar sebagai tempat latihan atau praktek saja, tapi juga harus mulai melihat dari segi bisnisnya. Misalnya, pelajar SMA dilatih di TPKU, kemudian ketika lulus SMA atau SMK bisa mengembangkannya di tengah masyarakat sebagai satu unit bisnis yang bisa menghasilkan ekonomi,” pungkas Prakoso. ***

Trans Pakuan Sekarat

BUS Trans Pakuan di Kota Bogor sudah sepuluh tahun beroperasi melayani masyarakat. Jenis angkutan masal ini dikenal sebagai angkutan murah, nyaman, dan aman. Tapi bagaimana nasib angkutan kebanggaan masyarakat itu sekarang?

Dalam kepemimpinan Direktur Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT)  Krisna Kuncahyo, ternyata tidak mampu memperbaiki kinerja perusahaan pelat merah itu.  Setelah dua tahun memimpin, tiga rekomendasi Tim Penyehatan Perusahaan yang dibentuk Walikota Bogor Bima Arya, tidak mampu dilaksanakan.  Padahal kucuran dana penyehatan dari APBD Kota Bogor 2016 sesuai rekomendasi sebesar Rp 5,5 miliar sudah diterima. “Rekomendasi sudah ada, tapi tidak dilaksanakan, ” jelas Mardinus Haji Tulis, Ketua Komisi B DPRD Kota Bogor kesal.

Menurut anggota dewan dari Partai Hanura ini, ada tiga rekomendasi tim. Perusahaan harus menutup defisit anggaran Rp 1,5 miliar, lantas melakukan perampingan karyawan 30 persen dengan membayar pesangon dan terakhir harus memperbaiki (servis besar) 30 bus Trans Pakuan yang dikelola PDJT.

Hanya defisit anggaran saja yang dilaksanakan Krisna. Dua rekom lain diabaikan. Padahal rekom itu hasil kajian tim konsultan bentukan walikota agar kinerja dan performa perusahaan jadi lebih baik. “Bagaimana dewan mau setuju permohonan anggaran baru,  kalau tanggung jawab kinerjanya jeblok, “ujar Mardinus.

Para penumpang Trans Pakuan terlantar.

Akibat kinerja buruk perusahaan, sebanyak 147 karyawan sudah tiga bulan tidak terima gaji. Bahkan karyawan sudah melakukan demo ke DPRD dan Balaikota. Walikota mengaku masih belum mendapatkan solusi yang tepat untuk mengatasi problem jangka pendek dari PDJT. Sementara dewan menolak memberi anggaran sebelum direksi mempertanggungjawabkan laporan penggunaan anggaran Penyertaan Modal Pemerintah Kota Bogor.

Akibat kondisi ini, pelayanan masyarakat di jasa angkutan umum terganggu. Jadwal kedatangan bus yang terlayani setiap 15 – 30 menit, sekarang sudah tidak menentu. Dari 30 bus bantuan hibah Kementerian Perhubungan RI tahun 2006,  tinggal 10 bus yang layak operasi. Lainnya rusak.

“Walikota harus menyelamatkan bus kebanggaan masyarakat ini. Ini angkutan murah dan nyaman, ” ungkap Reyhan Fadilah (23), karyawan pelanggan bus Trans Pakuan yang berharap Walikota bila harus memilih, lebih baik Angkutan Perkotaan (angkot) yang dikurangi. Sementara Direktur PDJT mengaku pasrah dan mengaku sudah melakukan berbagai upaya, termasuk upaya pinjam ke BUMD lain seperti Bank Pasar dan PDAM, namun gagal.

Diperoleh informasi, awal tahun 2017 ada tambahan 10 bus medium dari Kemenhub juga belum dioperasionalkan dan masih mangkrak di Dinas Perhubungan Kota Bogor. Investigasi di pool TP Bubulak,  bus hanya beroperasi pagi sampai jam 10.00. “Nanti siang jam 13.00 kemungkinan beroperasi lagi. Itu pun kalau ada sopir dan kondekturnya, ” cetus salah satu pengemudi yang lagi menjaga pool biar tidak kosong. ***

Pelatihan Menulis Feature

“GUS…, acara pelatihan bisa gagal kalau tidak ada Katmin,” begitu kurang lebih pesan yang ditulis Roso Daras, Pemimpin Redaksi Jayakartanews.com kepada Agus Sundayana melalui whatsapp, tadi malam (10/3).  Agus, aktivis Jayakarta dari divisi non redaksi ini pun berjanji akan berkirim sms ke Katmin, dan berharap yang dikirimi sms belum tidur. “Katmin besok siap di lokasi jam delapan,” lapor Agus. Jarum jam mennjuk pukul 23.15 WIB.

Begitulah sekelumit persiapan Pelatihan Menulis Feature yang diselenggarakan media online jayakartanews.com, hari ini dan besok (Sabtu – Minggu, 11 – 12 Maret). Pelatihan diselenggarakan di Rumah Internet Atmanto (RIAT), Jl. Pengadegan Utara No. 14, Jakarta Selatan. Selain mendapatkan materi teori yang disampaikan oleh Roso Daras, para peserta juga mendapat bimbingan reportase dari para jurnalis senior Jayakartanews.

Pelatihan diikuti tak kurang dari 29 orang, yang terdiri dari awak non redaksi Jayakarta. “Niat semula, pelatihan ini saya tujukan untuk teman-teman non redaksi. Tujuannya agar makin banyak tenaga penulis yang mengisi website jayakartanews,” ujar Roso, seraya menambahkan, “tapi kemudian berkembang, ada yang mengajak teman, bahkan ada yang mengikutkan anak-anak mereka.”

Demi efektivitas jalannya pelatihan, Ketua Panitia Pelatihan, Ketty Saukoly membaginya ke dalam dua gelombang. Setiap gelombang, diikuti antara 14 – 15 orang. Gelombang pertama dimulai pukul 10.00 sampai 12.00. Usai makan siang, mereka langsung dibimbing para mentor terjun ke lapangan. Sedangkan gelombang kedua, dimulai pukul 13.00 – 15.00, dilanjutkan praktek liputan hingga pukul 17.00 WIB.

Selain mendapatkan materi teori dan praktek lapangan, para peserta juga diberikan sertifikat. Keesokan harinya, Minggu (12/3), seluruh peserta akan bergabung dalam satu sesi evaluasi dan tanya-jawab. Sebagai akhir rangkaian pelatihan, manajemen akan menggelar rapat pengembangan usaha. ***

Awalnya Berantem dan Jorok

BANYAK  hal telah dilakukan Sabrina dan Elena lewat Saab Shares baik di bidang pendidikan maupun kesehatan masyarakat. Di bidang pendidikan misalnya dengan membuka Rumah Belajar, memberi beasiswa pada anak tak mampu, dll. Sedang di bidang kesehatan, antara lain membantu anak ataupun masyarakat lewat pengobatan gratis, rutin mengundang  dokter untuk memberi penyuluhan kesehatan dan psikologi untuk para ibu juga anak.

“Kami juga punya program beasiswa untuk anak-anak dari keluarga pra sejahtera di seluruh Indonesia. Beasiswa ini diberikan bukan saja karena nilai akademis yang baik, tapi siswa bersangkutan harus mempunyai karakter dan akhlak yang baik. Karena kami percaya bahwa karakter yang baik sama pentingnya dengan prestasi akademik maupun non-akademik,” ucapnya.

“Saya berharap usaha kami ini bisa berkembang dan dapat menghasilkan lebih banyak lagi agar dapat membantu lebih banyak orang. Kami juga berharap agar nantinya alumni Saab Shares dapat menjadi  ‘agen perubahan’ di lingkungan masing-masing,” ucap Sabrina yang termasuk dalam 50 sosok inspiratif bertemu dengan Presiden Joko Widodo, belum lama ini.

Menurut Sabrina, perkembangan Rumah Belajar yang dirasakannya sangat positif. “Saya melihat banyak perubahan terjadi pada anak-anak ini. Misalnya, ketika mereka baru aktif di Rumah Belajar, sulit sekali untuk bisa tertib. Sering berantem, tidak mengerti kebersihan dan lain-lain. Namun setelah beberapa waktu, anak-anak menjadi tertib, sopan, bahkan bisa saling membantu di antara teman-temannya,” tuturnya.

Bahkan, kata Sabrina lagi, yang lebih membanggakan ada anak dari Rumah Belajar Saab Shares usianya baru 9 tahun, namun sudah mampu membuka kelas belajar di lingkungan tempat tinggalnya. “Anak ini membantu mendidik anak-anak kecil dari keluarga tak mampu. Luar biasa sekali,” ujar Sabrina.  Apa yang dilakukan anak tersebut, memang sejalan dengan harapannya bahwa kelak alumni Saab Shares dapat menjadi ‘agen perubahan’ di lingkungannya masing-masing.***

Tampak Elena dan teman-teman bersama anak-anak asuh Saab Shares.

Filosofi Saab Shares

APA yang dilakukan Sabrina Bensawan dan adiknya, Elena Bensawan, mungkin bisa jadi inspirasi bagi kalangan muda, ataupun siapa saja yang tergerak ingin membantu sesama yang berkekurangan secara ekonomi. Betapa tidak, Sabrina maupun Elena yang masih belasan tahun, tergerak untuk membantu sesama dari uang sendiri.

Baik itu dari uang jajan pemberian orangtua maupun dari hasil keuntungan online shop yang ia jalankan sejak SMP. Bisnis online shop-nya berkembang, bahkan kini  ia telah mempunyai  ‘@Haritage-by Sabrina’ khusus batik. Elena pun demikian, telah memiliki online shop ‘8Couture’ sejak usia 13 tahun. Jika dana kurang, maka barulah ia meminta bantuan orangtua.

Agar misi kemanusiaannya bisa lebih fokus maka kakak beradik ini mendirikan Komunitas Saab Shares. “Seluruh hasil penjualannya untuk Saab Shares dan juga support ibu-ibu di rumah belajar agar bisa memanik di batik,” tambahnya. Seiring perjalanan waktu, banyak bantuan  berdatangan. Bantuan para donatur ini sangat membantu dalam kelancaran program.

Terkait Saab Shares yang didirikan, Sabrina menjelaskan baru resmi berdiri pada 2016. Inspirasi muncul di tengah keprihatinan terhadap banyaknya anak yang tidak mampu bersekolah dan juga sakit berat.

“Filosofi Saab Shares adalah membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Tidak memandang suku, etnis atapun agama apa pun. Kami memiliki visi membangun generasi muda yang sehat dan berpendidikan agar dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan keluarganya,” ungkap Sabrina yang kini menempuh pendidikan di Raffles Institute of Higher Education.

Aktivitas Saab Shares

Menurutnya, program Saab Shares bukan hanya tertuju untuk anak-anak tapi juga pemberdayaan wanita. Misalnya tentang Rumah Belajar Saab Shares yang terletak di Cengkareng, Jakarta Barat

“Rumah belajar ini sudah berjalan enam bulan. Di sini, kami mengajarkan mereka pelajaran sekolah, ketrampilan, dan tak ketinggalan juga pendidikan karakter. Tujuannya adalah membangun anak bukan hanya dari sisi prestasi tapi juga bertanggung jawab, baik, jujur, pekerja keras juga toleran terhadap perbedaan yang ada di Indonesia,” tutur Sabrina yang memiliki segudang prestasi akademik maupun non-akademik.

Umumnya anak-anak yang datang ke Rumah Belajar Saab Shares didampingi para ibu mereka. Kesempatan tersebut tidak dibiarkan begitu saja oleh Sabrina. “Di tempat kami, para ibu yang menunggu anaknya belajar, bukan duduk-duduk saja tapi mereka juga melakukan aktivitas yang bermanfaat. “

“Misalnya, mengikuti pelatihan membuat kue, aksesoris dan memayet di atas batik. Hasil karya ibu-ibu ini kami pasarkan lewat online shop juga reseller.Dengan begitu akan membantu meningkatkan penghasilan keluarga dan pada gilirannya menaikkan taraf hidup keluarga mereka,” jelasnya. ***

Salut untuk Sabrina dan Elena

ANGGAPAN bahwa anak muda sekarang cenderung cuek, egois dan kurang perhatian pada lingkungan dan yang kurang beruntung, tidak sepenuhnya benar. Faktanya tidak sedikit anak muda yang memiliki empati mendalam pada orang-orang yang kurang beruntung, bahkan tak segan terjun langsung membantu mereka.

Sebut saja kakak beradik ini, Sabrina Bensawan (19) dan adiknya Elena Bensawan (17). Sejak remaja aktif membantu masyarakat tidak mampu. Untuk lebih fokus, keduanya bahkan mendirikan komunitas Saab Shares yang bergerak bidang pendidikan, kesehatan serta masalah sosial lainnya.

“Sejak kecil kami didik dan diberi contoh oleh orangtua untuk selalu peduli terhadap sesama. Saat saya 16 tahun dan adik 14 tahun, kami mulai ke panti asuhan dan daerah-daerah kumuh untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kegiatan itu berlanjut hingga sekarang,” papar Sabrina yang masuk jajaran  ‘Youngest Nominee of Kick Andy Young Heroes’ .

Elena dan Sabina

Proses yang dilalui untuk bisa mencapai itu,  tidak semudah yang tampak. Proses meyakinkan para orangtua agar anak-anaknya  dapat memperoleh pendidikan, bukan pekerjaan mudah.

Maklum saja, mereka dari keluarga tak mampu, di mana bukan hanya para orangtua yang bekerja tapi anak-anak pun terpaksa mencari uang dengan berbagai cara seperti  mengamen, dll, untuk membantu perekonomian keluarga. Kerasnya kehidupan mereka membuat para orangtua abai terhadap pendidikan anak.

Nah Sabrina dan Elena datang  dan berupaya meyakinkan para orangtua itu bahwa pendidikan adalah suatu yang penting untuk masa depan anak-anak mereka. “Kendala terberat adalah meyakinkan ibu-ibu bahwa pendidikan adalah penting. Karena pendidikan dapat memutus rantai kemiskinan. Kami meminta mereka mendukung anak-anaknya bersekolah, tidak mengamen, dll. Tapi mengubah mindset kan tidak mudah,” ujarnya. Salut untuk mereka. ***

Semen Rembang Jangan Di-IPTN-kan

SEBAGAI perusahaan pelat merah (BUMN), PT Semen Indonesia nasibnya seperti anak tiri di negeri sendiri. Sukses mengembangkan sayap bisnisnya di Vietnam dengan mengakuisisi Semen Than Long di Vietnam, kepak usaha di negeri sendiri malah seperti tersandera. Keberadaan pabrik barunya di  Rembang, nyaris tak pernah senyap dari kicauan yang berusaha meniadakan.

“Aneh, dari aspek AMDAL, teknis dan lainnya tidak ada masalah, tetapi informasi yang keluar selalu menyerang Semen Rembang,” kata Budi Sulistijo. Kegusaran pakar geologi dari ITB  itu disampaikan dalam diskusi yang digelar wartawan DPR, Jumat [10/3] di Jakarta. Dia heran, mengapa informasi salah yang dibenarkan, sebaliknya informasi dan fakta benar, dibelokkan. Dua media besar yang selama ini dianggap kredibel, juga menderita “mental block” khusus untuk isu Semen Rembang.

Peneliti Concern Strategic Think Tank, Juni Thamrin, kuat menduga ada kekutan modal asing yang bermain untuk mengeroyok BUMN Semen. Semen swasta dengan pemodal asing itu, ternyata saat ditelisik, grup media besar tersebut diduga kuat punya share di pabrik semen yang jadi kompetitor PT Semen Indonesia itu.

Dengan setengah bercanda, Budi menambahkan, jangan-jangan Semen Rembang selalu diganggu ini karena “kesalahan” dalam memilih lokasi di Kecamatan Gunem. “Gunem dalam bahasa Jawa maknanya pergunjingan yang negatif,” tuturnya. Banyak lokasi pabrik semen di Jawa Tengah, tetapi mengapa hanya Semen Rembang yang selalu digoyang.

Budi mengkhawatirkan atas kemungkinan adanya skenario besar yang ingin merobohkan BUMN. Semen Indonesia disasar seperti PT IPTN Bandung. “Ada pihak-pihak yang mau menjual BUMN dengan harga murah, seperti kasus IPTN,” kata Budi. Ketika IPTN ambruk, lantas SDM-nya yang baik disedot industri penerbangan asing. Menurutnya, kalau dibiarkan nasib yang sama bukan tidak mungkin akan dialami PT Semen Indonesia, dengan menggerogoti melalui Semen Rembang.

Budi menambahkan, Semen Rembang disiapkan dan dibangun oleh SDM dalam negeri, dan didesan sangat ramah lingkungan. Aneh, hasil kerja anak negeri yang hebat, malah diganggu  terus sehingga nasibnya terancam seperti IPTN. “Inilah yang diingatkan Bung Karno tahun 1957 saat meresmikan Semen Gresik, agar bangsa menjaga aset seperti Semen Gresik ini agar tak dicaplok penjajah ekonomi,” timpal Juni Thamrin. ***

Istana Panggung Musik

MENDADAK Istana Negara bertransformasi menjadi panggung musisi nasional. Untuk pertama kali, peringatan Hari Musik Nasional digelar di Istana Negara. Hadir sejumlah musisi Tanah Air lintas generasi yang tergabung dalam Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI). “Saya senang sekali hari ini karena hadir artis-artis, seniman-seniman musik, dan penyanyi yang saat saya kecil, yang waktu saya muda, hampir semuanya saya kenal,” ujar Presiden Jokowi saat mengawali sambutannya.

Sambutan Kepala Negara tak seperti biasanya. Obrolan ringan diiringi candaan untuk para musisi penyegar suasana. Meski demikian, Presiden Jokowi mengutarakan pandangannya soal musik. Baginya, musik adalah seni bercerita. Musik pula yang terkadang membuat suasana menjadi lebih optimis. “Melalui musik kebenaran bisa disampaikan secara apa adanya. Ini yang saya senang. Masuk ke dalam hati dan pikiran kita semuanya,” Jokowi menambahkan.

Jokowi menginginkan musik-musik lokal mampu mendominasi di negeri sendiri. “Kita semua ingin, pemerintah ingin, agar musik Indonesia mendominasi semua tempat, semua ruang, semua kalangan yang ada di Tanah Air kita. Bukan musik-musik dari Barat atau negara lain. Inilah yang terus kita upayakan agar betul-betul menjadi tuan rumah dan mendominasi di negara sendiri,” papar Presiden.

Saat melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah, biasanya Presiden Joko Widodo menyempatkan diri bercengkerama dengan anak-anak dan masyarakat dengan memberikan kuis. Siang ini pun Kepala Negara memberikan sejumlah pertanyaan kepada para musisi yang hadir. “Tapi kan biasanya yang saya kasih sepeda, tapi tadi Istana belum siap. Ya sudah kalau tidak ada tidak apa, tapi nanti ini ditukar dengan sepeda. Saya bawa kartu nama, nanti ditukar dengan sepeda di Istana,” ujar Presiden sembari menunjukkan kartu nama yang dimaksud.

Pertanyaan pertama dari Presiden ialah mengenai lagu daerah. Ia meminta seseorang maju ke depan dan menyebutkan lima lagu daerah. Ita Diah Purnamasari, musisi kelahiran Surabaya, maju ke hadapan Presiden dan berhasil menyebut lima lagu daerah. “Sebelum kembali ke tempat, nyanyi lagu daerah satu. Masa hanya menyebutkan aja,” ujar Presiden setelah memberikan kartu namanya.

Mendengar hal tersebut, personel grup vokal Tiga Dara pun menyanyikan lagu Lir Ilir dari Jawa Tengah. Istana pun berubah menjadi panggung unjuk kebolehan para musisi. Selain Ita, beberapa musisi lain yang diminta maju ke hadapan Presiden ialah Andre Hehanussa dan juga grup musik Bimbo. Khusus untuk grup musik asal Bandung yang terdiri atas tiga bersaudara Sam Bimbo, Acil Bimbo, dan juga Jaka Bimbo itu, Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi atas karya-karya mereka yang terhitung sudah 50 tahun mereka berkarya di dunia musik Tanah Air. Kepada mereka bertiga, Kepala Negara memintanya untuk menyanyikan lagu Sajadah Panjang yang kemudian membuat seisi ruangan terbawa suasana olehnya. ***

Rest Area Perupa Indonesia

PAMERAN Seni Rupa Nusantara 2017 kembali digelar. Tahun ini, mengusung tema “Rest Area” Perupa Membaca Indonesia, Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang menjadi tempat penyelenggaraan ajang biennial (dua tahunan) ini akan menampilkan berbagai karya dari perupa yang berasal dari seluruh nusantara.

“Saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang sangat luar biasa ini, sebagai wadah yang memungkinkan para perupa, pelukis, dan seniman lain dari berbagai provinsi di Indonesia untuk menampilkan kebolehannya,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat membuka pameran di GNI, Jakarta beberapa waktu lalu.

Mendikbud Muhadjir Effendy, melihat-lihat lukisan pasca pembukaan.

Ia pun menyampaikan pameran seperti ini merupakan salah satu penanda kebangkitan pendidikan di Indonesia. Di mana dalam pendidikan, kita perlu memperhatikan tiga aspek, yaitu etik, estetik, dan kinestetik.

“Ini amat sangat bermakna bagi kami karena ini menandai kebangkitan pendidikan kita yang memberikan ruangan yang cukup di tiga bidang yang selama ini terabaikan di dalam kehidupan kita, meliputi etik, berkaitan dengan norma baik dan buruk; estetik, berkaitan dengan norma indah dan tak indah; dan kinestetik, berkaitan dengan norma mampu dan tidak mampu.” tutur Muhadjir. “Padahal mestinya (ketiga hal tersebut) seperti kedua sisi mata uang yang saling melengkapi dan memberi makna dalam sistem pendidikan kita,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana menuturkan bahwa dalam setiap penyelenggaraan telah mampu merangsang pertumbuhan minat berkesenian atau berkarya seni rupa dan memacu kompetisi para perupa di seluruh tanah air. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah karya yang masuk pada saat masa seleksi.

Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 digelar pada 8 – 27 Maret 2017 pukul 10.00 – 19.00 WIB. Di sini dipamerkan 100 karya seni rupa dari 100 perupa yang berasal dari 26 provinsi. Jumlah tersebut adalah hasil seleksi dari hampir 1.000 karya dari 729 perupa. ***

Jam Lima Pagi di Puncak Candi

MELAKUKAN apa yang dicintai, itulah yang dikerjakan wanita satu ini. Dia, Galuh Larasati, lahir di Borobudur dan tinggal di Yogyakarta. Belasan tahun menggeluti bidang pariwisata khusus di wilayah Candi Borobudur dan sekitarnya. Bukan sekadar mencari rezeki tapi yang terpenting baginya mengabdikan diri menjaga dan melestarikan kebudayaan tanah kelahirannya, tanah Jawa.

Galuh Larasati

Galuh Larasati yang akrab disapa Atik, membawa turis baik lokal maupun manca untuk menikmati, mengenal dan mempelajari sejarah Candi Borobudur dan kebudayaan serta kehidupan di “kampung-kampung” sekitar candi. Ia menamakannya, Kaleidoscope of Java Tour. Program yang ditawarkannya adalah paket tur satu hari di Borobudur sejak subuh, yaitu Private Borobudur Sunrise Tour.

“Paket wisata satu hari ini sangat disukai turis asing. Mereka, dapat menikmati keindahan candi Borobudur saat matahari terbit,” cerita Atik kepada Jayakarta News di Guest House Rumah Eyang Yogyakarta, mengenai Paket Wisata yang dijalaninya itu.

Untuk melihat matahari terbit, Atik akan memulai perjalanannya sejak pukul 04.00 dari hotel di  mana tamu menginap dan dijemput. “Kami akan menjemput tamu dan memulai perjalanan jam 4 pagi dan harus ada di puncak candi jam 5 untuk menunggu matahari terbit. Saya akan memulainya dengan menceritakan sejarah candi yang dibangun abad ke-9 itu serta filosofinya, juga kisah hidup Buddha seperti yang ditunjukkan pada relief ukiran di candi,” ujar Atik yang pernah bekerja sebagai Public Relations Manager di Hyatt Regency Yogyakarta.

Turis pun bersentuhan dengan masyarakat di sekitar Candi Borobudur.

Dari candi, Atik akan membawa para turis mengunjungi desa dan lingkungan alam radius lima kilometer dari candi. Di situ para turis bisa berhubungan dengan masyarakat setempat. “Para turis nanti  bisa belanja di pasar tradisional, bahkan bisa masuk ke dapur dan melihat-lihat kehidupan masyarakat setempat,” ujarnya antusias.

Kecintaan Atik pada tanah Jawa, tidak membuat dia membatasi peserta. Sekalipun hanya dua orang peserta, Atik tetap membawa mereka. Dengan biaya Rp 300.000, peserta bisa dijemput dan diantar kembali ke hotel, plus mendapat makan siang. “Biaya itu tidak termasuk tiket ke candi,” kata Atik. Jika tertarik mengikuti paket wisata khusus Borobudur ini, klik saja Kaleidoscope of Java Tour. ***