Pemerintah Umumkan Kebijakan THR dan Bonus Hari Raya untuk Pekerja dan Pengemudi Online

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah mengumumkan kebijakan terkait pemberian tunjungan hari raya (THR) dan bonus kepada para pekerja swasta, BUMN, dan BUMD. Dalam keterangannya di Istana Merdeka Jakarta, pada Senin, 10 Maret 2025, Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan para pekerja pada Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah.

Presiden Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan untuk memberikan THR kepada para pekerja paling lambat tujuh hari sebelum hari raya. Untuk mekanisme pemberian THR akan disampaikan secara lebih detail oleh Menteri Ketenagakerjaan.

“Saya minta agar pemberian THR bagi pekerja swasta, BUMN, BUMD diberi paling lambat tujuh hari sebelum hari raya Idulfitri. Dan besaran dan mekanismenya akan nanti disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan melalui surat edaran,” ucap Presiden.

Tidak hanya pekerja di sektor formal, pemerintah juga memberikan perhatian khusus kepada para pengemudi dan kurir online. Presiden menilai bahwa para pekerja tersebut telah memberikan kontribusi penting dalam mendukung layanan transportasi dan logistik di Indonesia.

“Untuk itu, pemerintah menghimbau kepada seluruh perusahaan layanan angkutan berbasis aplikasi untuk memberi bonus hari raya kepada pengemudi dan kurir online dalam bentuk uang tunai dengan mempertimbangkan keaktifan kerja,” katanya.

Lebih lanjut, Presiden mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 250 ribu pekerja pengemudi kurir online aktif dan 1-1,5 juta pekerja berstatus paruh waktu. Kepala Negara pun berharap kebijakan pemerintah ini dapat memberikan manfaat bagi pekerja dan pengemudi online, khususnya saat merayakan hari raya Idulfitri nanti.

“Semoga dengan kebijakan ini para pekerja dan para pengemudi online dapat merasakan libur dan mudik, dan Idulfitri dalam keadaan yang baik,” tambah Presiden.

Kepala Negara pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kebijakan ini, termasuk para menteri Kabinet Merah Putih dan pimpinan perusahaan transportasi daring.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Menteri Ketenagakerjaan, kemudian Menteri Perhubungan dan Menteri Sesneg, Seskab juga kepada pimpinan perusahaan Saudara Patrick Walujo dan Saudara Anthony Tan atas kerja sama yang baik ini. Juga saya ucapkan terima kasih kepada para pengemudi dan kurir online dimanapun engkau berada,” tandasnya.***/mel

Masjid dengan Arsitektur Indah di Dunia, Salah Satunya Disangga 1.096 Pilar Dibubuhi Kristal Swarovski

JAYAKARTA NEWS – Tanpa mengabaikan kesakralannya sebagai tempat ibadah, banyak masjid dunia dibangun megah dan indah.

Desain masjid memadukan antara unsur seni, budaya, dan sejarah negara atau bahkan kota tersebut.

Tak hanya jamaah yang beribadah, masjid juga hadirkan kekaguman orang dan turis dari negara lain.

Berikut masjid paling terindah di seluruh dunia, yang juga sudah menjadi tujuan wisata turis, dikutip dari Ragam BUMN, Rabu (5/3/2025).

1. Masjid Jama
Masjid di Delhi, India, ini termasuk tua karena didirikan tahun 1650-1656 oleh Kaisar Shah Janan.

Masjid megah ini mampu menampung 25.000 jemaah dan merupakan masjid sunni terbesar di India.

Dari kejauhan Masjid Jama lebih mirip rumah megah.

Di beberapa bagian masjid bahkan agak mirip dengan Taj Mahal.

Arsitekturnya perpaduan gaya India dan Islam dengan dinding dari batu merah dan marmer.

Di hall untuk sembahyang terdapat kaligrafi yang dituliskan dalam bahasa Persia.

2. Masjid Wazir Khan
Masjid yang dibangun atas perintah Kaisar India Shah Jahan ini ini berada di Lahore, Pakistan.

Saat itu Pakistan masih menjadi bagian dari India.

Didirikan tahun 1634-1641, Masjid Wazir Khan sangat luas dengan 5 kubah dan 4 minaret.

Masjid dihiasi kaligrafi.

Sementara seluruh dinding dan langit-langit dihiasi mozaik megah bergaya Persia.

Masjid didominasi warna khas Persia, yaitu biru cobalt, putih, hijau, orange, kuning, dan ungu.

Masjid Wazir Khan tidak sekadar tempat ibadah tetapi merupakan sebuah kompleks.

Di sini berdiri toko tradisional yang menjual karya kaligrafi, buku, dan toko keagamaan lain.

Masjid Sultan Ahmet di Turki ini salah satu warisan besar yang menggambarkan gaya arstitektur Ottoman. (Pexels/Alex P)

3. Masjid Sultan Ahmed
Ini salah satu masjid cantik yang paling banyak dikunjungi turis.

Masjid Sultan Ahmed dikenal juga dengan nama Masjid Biru karena didominasi warna biru.

Masjid di Turki ini salah satu warisan besar yang menggambarkan gaya arstitektur Ottoman.

Masjid didirikan tahun 1609 atas perintah Sultan Ahmed I untuk menandai masa pemerintahannya.

Sultan meninggal bersamaan dengan selesainya masjid pada tahun 1617.

Masjid Sultan Ahmed punya langit-langit berbentuk kubah dan setengah kubah.

Sementara dindingnya dihiasi keramik Iznik yang bermotif unik dengan gradasi warna biru.

4. Masjid Agung Sheikh Zayed
Masjid yang didirikan tahun 1996 ini berada di Abu Dhabi dan merupakan masjid modern yang sangat megah.

Masjid mengambil gaya arsitektur Islam modern.

Masjid Agung Sheikh Zayed dilengkapi 82 kubah putih yang disanggah 1.096 pilar.

Ada sekitar 96 pilar yang dipasangi kristal dan 7 lampu gantung dari emas berhiaskan kristal swarovski.

Di bagian aulanya, dipasangi karpet mahal.

Sementara dindingnya berhiaskan motif bunga-bunga cantik yang didesain seniman dari Inggris.***/mel

Fakta Unik tentang Hari Valentine: Dari Asal-usul yang Misterius hingga Tradisi Unik di Beberapa Negara

JAYAKARTA NEWS – Hari Valentine yang jatuh setiap 14 Februari selalu identik dengan cinta, bunga, dan cokelat.

Namun, di balik romantisme perayaan ini, ada berbagai fakta unik yang mungkin belum banyak diketahui.

Dari tradisi unik di berbagai negara hingga larangan perayaan di beberapa wilayah. Berikut adalah fakta menarik tentang Hari Valentine yang dikutip dari Laman BUMN, Rabu (12/2/2025).

1. Asal-usul Hari Valentine Masih Menjadi Misteri

Banyak yang percaya bahwa Hari Valentine berasal dari kisah Santo Valentinus, seorang pendeta yang menentang perintah Kaisar Romawi Claudius II dengan menikahkan pasangan secara diam-diam.

Namun, ada juga teori lain yang menyebutkan bahwa perayaan ini berasal dari festival Romawi kuno bernama Lupercalia, yang dirayakan pada pertengahan Februari sebagai bentuk penghormatan kepada dewa kesuburan.

2. 145 Juta Kartu Valentine Dikirim Setiap Tahun

Hari Valentine adalah salah satu hari terbesar dalam industri kartu ucapan.

Menurut statistik, sekitar 145 juta kartu Valentine dikirim setiap tahunnya di seluruh dunia, menjadikannya perayaan terbesar kedua setelah Natal dalam hal pengiriman kartu ucapan.

3. Jepang dan Korea Punya Tradisi Unik dengan Cokelat

Di Jepang, wanita yang memberikan cokelat kepada pria pada Hari Valentine adalah tradisi yang sudah berlangsung lama.

Ada dua jenis cokelat yang diberikan: “Giri-choco” (cokelat wajib untuk rekan kerja atau teman) dan “Honmei-choco” (cokelat spesial untuk orang yang disukai).

Sebaliknya, pada 14 Maret, yang disebut “White Day“, giliran para pria yang membalas hadiah dengan memberikan cokelat atau kado kepada wanita.

Tradisi ini juga diterapkan di Korea Selatan.

4. Hari Valentine Dilarang di Beberapa Negara

Meskipun dirayakan di banyak tempat, beberapa negara justru melarang perayaan Hari Valentine.

Di Arab Saudi, misalnya, perayaan ini dilarang karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada 2011, polisi agama di sana bahkan melarang penjualan barang-barang bertema Valentine, seperti bunga merah dan kartu cinta.

5. Verona, Kota Romeo dan Juliet, Menerima Ribuan Surat Setiap Tahun

Kisah cinta tragis Romeo dan Juliet karya William Shakespeare masih begitu melekat di Kota Verona, Italia.

Setiap tahun, lebih dari 1.000 surat cinta dikirim ke kota ini, khususnya ke alamat rumah fiktif Juliet.

Uniknya, surat-surat tersebut mendapat balasan dari relawan yang bekerja untuk “Juliet Club”, sebuah organisasi yang khusus mengelola surat-surat cinta dari seluruh dunia.

6. Di Filipina, Valentine Menjadi Hari Pernikahan Massal

Di Filipina, Hari Valentine sering dijadikan momen untuk menggelar pernikahan massal.

Ribuan pasangan menikah secara bersamaan dalam acara yang sering disponsori oleh pemerintah atau perusahaan lokal.

Hal ini tidak hanya menjadi cara romantis untuk merayakan cinta, tetapi juga membantu pasangan yang kesulitan mengadakan pesta pernikahan sendiri.

7. Finlandia dan Estonia Merayakan Hari Valentine Sebagai Hari Persahabatan

Berbeda dengan kebanyakan negara yang menjadikan Valentine sebagai hari penuh romantisme, Finlandia dan Estonia merayakan “Friend’s Day” atau Hari Persahabatan.

Pada hari ini, orang-orang lebih fokus menunjukkan kasih sayang kepada sahabat mereka daripada pasangan romantis.

Hari Valentine bukan hanya sekadar perayaan cinta, tetapi juga memiliki banyak tradisi unik di berbagai negara.

Dari kebiasaan mengirim surat ke Juliet di Italia hingga larangan perayaan di beberapa negara, Hari Valentine selalu menyimpan kisah menarik setiap tahunnya.***/mel

Sejarah Valentine: Mengapa Disebut sebagai Hari Kasih Sayang?

JAYAKARTA NEWS – Setiap tanggal 14 Februari, banyak orang di seluruh dunia merayakan Hari Valentine sebagai momen untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang terdekat.

Namun, tidak banyak yang tahu asal-usul sebenarnya dari perayaan ini dan mengapa hari ini begitu identik dengan cinta.

Sejarah Hari Valentine memiliki berbagai versi yang menarik dan berkembang dari waktu ke waktu hingga menjadi tradisi yang dikenal luas saat ini.

Asal Usul Nama Valentine: Kisah Santo Valentinus

Valentine berasal dari nama seorang santo dalam tradisi Kristen, yaitu Santo Valentinus. Menurut salah satu legenda, ia adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-3 Masehi di bawah pemerintahan Kaisar Claudius II.

Saat itu, Claudius melarang pernikahan bagi para prajurit karena ia percaya bahwa laki-laki lajang lebih baik dalam pertempuran.

Namun, Valentinus diam-diam menikahkan pasangan muda yang jatuh cinta, sehingga ia akhirnya ditangkap dan dihukum mati pada 14 Februari.

Karena tindakannya yang dianggap sebagai simbol pengorbanan demi cinta, ia dikenang sebagai pelindung kasih sayang.

Dari Festival Lupercalia ke Hari Kasih Sayang

Selain kisah tersebut, ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa Hari Valentine berasal dari festival Lupercalia yang dirayakan di Roma kuno setiap pertengahan Februari.

Lupercalia adalah festival kesuburan yang dipersembahkan kepada dewa Faunus serta pendiri Roma, Romulus dan Remus.

Dalam tradisi ini, laki-laki dan perempuan dipasangkan melalui undian, dan banyak di antara mereka yang akhirnya menikah.

Seiring berkembangnya agama Kristen di Eropa, festival ini dihapus oleh Paus Gelasius I pada akhir abad ke-5 dan digantikan dengan Hari Santo Valentinus.

Bagaimana Valentine Berkembang Menjadi Hari Cinta Romantis?

Pada abad pertengahan, Hari Valentine mulai dikaitkan dengan cinta romantis, terutama karena kepercayaan di Eropa bahwa pertengahan Februari adalah musim kawin bagi burung.

Hal ini menginspirasi penyair Inggris Geoffrey Chaucer untuk menulis puisi yang menghubungkan Valentine dengan asmara.

Sejak saat itu, kebiasaan memberikan surat cinta atau “valentine” mulai berkembang, dan pada abad ke-18, perayaan ini semakin populer di Inggris serta menyebar ke berbagai negara lainnya.

Hingga kini, Valentine tetap menjadi momen spesial bagi banyak orang untuk menyatakan perasaan kepada pasangan, sahabat, atau keluarga.*** /mel

Makna dan Filosofi Warna Merah dan Emas dalam Perayaan Imlek

JAYAKARTA NEWS – Tahun Baru Imlek merupakan salah satu perayaan terbesar bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Selain tradisi seperti angpao, barongsai, dan jamuan makan keluarga, ada satu elemen yang selalu identik dengan perayaan Imlek: warna merah dan emas.

Tidak hanya sekadar estetika, kedua warna ini memiliki arti dan filosofi mendalam yang berakar pada budaya dan kepercayaan masyarakat Tionghoa.

Warna Merah: Simbol Keberanian dan Kebahagiaan

Warna merah adalah elemen yang paling dominan selama perayaan Imlek.

Mulai dari dekorasi rumah, pakaian, hingga amplop angpao, semuanya didominasi oleh warna merah yang cerah.

Dalam budaya Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan semangat hidup.

Menurut legenda, warna merah dipercaya mampu mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan.

Hal ini berkaitan dengan cerita tentang Nian, makhluk mitologi yang kerap mengganggu desa-desa saat pergantian tahun.

Penduduk desa menemukan bahwa makhluk ini takut pada warna merah, sehingga mereka menghias rumah dan menyalakan petasan untuk mengusirnya.

Hingga kini, warna merah tidak hanya menjadi simbol kebahagiaan tetapi juga keberanian dan perlindungan.

Itulah sebabnya banyak keluarga Tionghoa menggunakan warna ini untuk menarik energi positif selama tahun baru.

Warna Emas: Lambang Kekayaan dan Kemakmuran

Warna emas menjadi pelengkap sempurna bagi merah dalam perayaan Imlek.

Dalam kepercayaan Tionghoa, emas melambangkan kekayaan, kemakmuran, dan kemuliaan.

Warna ini sering terlihat pada ornamen dekorasi, pernak-pernik, hingga cetakan pada angpao.

Emas juga dianggap sebagai simbol keberhasilan dan prestasi.

Kombinasi antara warna merah dan emas menciptakan harmoni yang merepresentasikan keseimbangan antara kebahagiaan dan kemakmuran dalam hidup.

Makna Kombinasi Merah dan Emas

Ketika merah dan emas dipadukan, keduanya menciptakan energi yang melambangkan harapan akan kehidupan yang sejahtera dan penuh kebahagiaan.

Filosofi ini tercermin dalam berbagai tradisi Imlek, mulai dari dekorasi rumah hingga pakaian yang dikenakan saat perayaan.

Menurut Feng Shui, kombinasi merah dan emas dipercaya dapat menarik keberuntungan dan kekayaan sepanjang tahun.

Oleh karena itu, masyarakat Tionghoa sering menggunakan warna-warna ini untuk menciptakan suasana yang penuh harapan dan optimisme.

Pengaruh Warna Merah dan Emas dalam Kehidupan Modern

Di era modern, warna merah dan emas tidak hanya terbatas pada tradisi Imlek tetapi juga menjadi elemen penting dalam berbagai aspek kehidupan, seperti desain interior, mode, dan bisnis.

Banyak restoran, toko, atau perusahaan menggunakan kombinasi warna ini untuk menciptakan kesan keberuntungan dan menarik pelanggan.

Sebagai contoh, logo perusahaan besar sering menggunakan warna merah untuk menciptakan kesan dinamis, sementara aksen emas menambah kesan mewah dan profesional.

Filosofi ini tetap relevan dan terus diadaptasi dalam konteks modern.

Warna merah dan emas dalam perayaan Imlek bukan sekadar dekorasi, tetapi juga cerminan nilai-nilai budaya yang mendalam.

Merah mewakili keberanian dan kebahagiaan, sementara emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran.

Kombinasi keduanya menciptakan harmoni yang merepresentasikan harapan akan kehidupan yang seimbang dan sejahtera.

Jadi, saat Anda merayakan Imlek tahun ini, cobalah memahami filosofi di balik warna-warna tersebut.

Selain mempercantik suasana, warna merah dan emas membawa doa dan harapan yang mendalam untuk tahun yang lebih baik. Selamat Tahun Baru Imlek!***/mel

Jejak Freemason di Malang: Sebuah Pandangan dari Masa Kolonial Hindia Belanda

JAYAKARTA NEWS— Freemasonry, organisasi persaudaraan dengan akar di Eropa yang berasal dari abad pertengahan, memiliki jejak yang kaya di Malang, Indonesia, terutama selama era kolonial Hindia Belanda. Freemason pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 1762 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher, dan sejak saat itu, organisasi ini berkembang di seluruh jajahan, termasuk Malang.

Pendirian dan Pengembangan di Hindia Belanda

Freemasonry di Hindia Belanda menjadi tempat berkumpul bagi elit Eropa untuk berdiskusi tentang berbagai isu, seperti yang dicatat dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” oleh Dr. Th. Stevens. Pada 1922, Grand Orient of the Netherlands di Weltevreden (Batavia) mengendalikan 20 loji, termasuk beberapa di Jawa seperti Malang.

Freemason di Malang

Loji Freemason nomor 89 di Malang, didirikan pada 1901, menjadi pusat elite Eropa dan pribumi berpendidikan Barat. Gedung yang kini menjadi The Shalimar Boutique Hotel di Jalan Cerme No. 16, asalnya adalah Macconieke Lodge dari tahun 1930-an, menjadi bukti fisik kehadiran Freemason di kota ini. Freemason dikenal dengan semboyan “liberty, egality, dan fraternity” dan berperan dalam modernitas dan pencerahan.

Peninggalan Fisik dan Kontribusi Sosial

Beberapa bangunan bersejarah di Malang yang berhubungan dengan Freemason termasuk:

  • Lavalette Kliniek, sekarang IHC RS Lavalette, dikelola oleh Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, anggota Freemason.
  • Gedung Macconieke Lodge, kini The Shalimar Boutique Hotel, menunjukkan arsitektur dan sejarah Masonic.
  • Perpustakaan Kota, Saat itu dikenal sebagai ‘Lodegebouw” pernah memiliki koleksi buku terlengkap di Hindia Belanda. sekarang telah berubah menjadi Malang Tea Gallery bernama Cafe POP (Piece of Peace) Mason 52.

Freemason juga aktif dalam filantropi, mendukung pendidikan dan amal, terutama untuk anak-anak dan masyarakat miskin.

Literatur Belanda dan Eropa

Literatur dari Belanda dan Eropa memberikan wawasan mendalam tentang Freemason di Indonesia. Buku-buku seperti “Vrijmet selarij: Geschiedenis, Maatschapelijke Beteekenis en Doel” oleh Dr. Dirk de Visser Smith, dan “Geschiedenis van de Orde der Vrijmetselaren In Nederland Onderhoorige Kolonien en Londen” oleh H. Maarschalk, membahas pengaruh dan operasi Freemasonry di Hindia Belanda, termasuk Malang.

Pengaruh dan Kontroversi

Meskipun Freemason memberikan kontribusi positif, mereka juga tidak luput dari kontroversi dan teori konspirasi, terutama karena sifat tertutup dan ritual mereka. Namun, banyak literatur menyoroti peran mereka dalam pembangunan intelektual dan sosial.

Sejarah Freemason di Malang adalah bagian dari cerita kolonialisme dan interaksi budaya di Indonesia. Meskipun tidak lagi aktif setelah larangan pada 1961, jejak mereka masih terlihat melalui bangunan-bangunan dan makam-makam yang berisi simbol Freemasonry. Makam di Sukun, misalnya, adalah saksi dari kehadiran Freemason di Malang, dengan tokoh-tokoh seperti Dr. P.A.A.F. Eyken dan Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette dimakamkan di sana.

Jejak ini tidak hanya memberikan gambaran tentang masa lalu tetapi juga mencerminkan dinamika sosio-politik dan budaya pada zaman kolonial di Malang. (Heri)

Danau Purba Malang dan Bukti Arkeologisnya

JAYAKARTA NEWS – Malang, yang terletak di Jawa Timur, dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan alam dan sejarah geologis yang menarik. Topografi Malang yang berbentuk cekungan dikelilingi pegunungan, seperti Gunung Bromo, Gunung Semeru, dan Gunung Kawi, memberikan indikasi adanya fenomena geologis besar di masa lampau, termasuk keberadaan danau purba. Penelitian tentang danau purba di Malang tidak hanya memberikan gambaran tentang sejarah geologis wilayah ini tetapi juga bagaimana ekosistem, flora, fauna, dan manusia purba beradaptasi dengan lingkungan tersebut.

Asal-Usul Danau Purba di Malang

Danau purba di Malang terbentuk akibat aktivitas vulkanik dan tektonik yang terjadi jutaan tahun lalu. Wilayah Malang dulunya merupakan bagian dari sistem vulkanik aktif yang menghasilkan cekungan besar. Cekungan ini kemudian diisi oleh air hujan dan mata air bawah tanah, membentuk danau besar yang diperkirakan menutupi sebagian besar wilayah dataran tinggi Malang.

Studi geologi menunjukkan bahwa danau ini kemungkinan terbentuk selama periode Kuarter awal hingga pertengahan, sekitar 2,6 juta hingga 10.000 tahun lalu. Aktivitas vulkanik dari Gunung Semeru, yang merupakan salah satu gunung berapi tertua di Jawa, berperan penting dalam pembentukan cekungan ini. Endapan sedimen yang ditemukan di sekitar Malang menunjukkan lapisan-lapisan tanah yang kaya akan mineral vulkanik dan sisa-sisa organik, yang menjadi bukti keberadaan ekosistem danau purba.

Bukti Arkeologis

Penelitian arkeologis dan geologis di wilayah Malang telah menemukan berbagai bukti keberadaan danau purba, antara lain:

Fosil Flora dan Fauna

Fosil tumbuhan air, seperti ganggang purba dan tumbuhan rawa, ditemukan di lapisan sedimen di sekitar wilayah Malang. Temuan ini menunjukkan bahwa danau purba tersebut mendukung kehidupan berbagai spesies flora. Selain itu, fosil fauna seperti ikan air tawar, kerang, dan hewan darat yang bergantung pada lingkungan air juga ditemukan. Beberapa fosil ini diidentifikasi berasal dari spesies yang sudah punah.

Alat-Alat Prasejarah

Alat batu dan artefak lainnya ditemukan di beberapa situs arkeologis di Malang, termasuk di daerah Songgoriti dan Dau. Artefak ini menunjukkan bahwa manusia purba yang hidup di sekitar danau purba telah memanfaatkan sumber daya alam dari danau, seperti ikan dan tumbuhan air. Alat-alat seperti kapak batu, alat pemotong, dan pecahan keramik menunjukkan aktivitas manusia purba yang berhubungan dengan kehidupan di dekat danau.

Lapisan Sedimen dan Analisis Geologi

Penelitian sedimen menunjukkan adanya lapisan kaya mineral yang hanya bisa terbentuk di lingkungan danau. Lapisan ini mengandung diatom (fosil mikroorganisme air tawar) dan karbon organik yang memberikan bukti keberadaan air dalam jumlah besar di masa lampau. Analisis isotop oksigen dan karbon dalam sedimen membantu memperkirakan usia danau dan perubahan iklim yang terjadi di sekitarnya.

Penelitian Paleoklimatologi

Bukti arkeologis lain mencakup analisis iklim purba yang menunjukkan bahwa wilayah Malang pada masa danau purba memiliki iklim yang lebih basah dibandingkan saat ini. Hal ini mendukung teori bahwa danau purba terbentuk dan bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Transformasi Danau Purba

Seiring waktu, danau purba di Malang mulai mengering akibat kombinasi aktivitas vulkanik, perubahan iklim, dan pengendapan sedimen. Aktivitas Gunung Semeru dan gunung lainnya di sekitarnya menghasilkan aliran lava dan abu vulkanik yang mengisi cekungan danau, menyebabkan penyempitan dan akhirnya pengeringan danau.
Selain itu, perubahan iklim global selama akhir periode Pleistosen menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah Jawa Timur, mempercepat proses pengeringan. Danau yang dulunya besar berubah menjadi rawa-rawa dan akhirnya menjadi dataran tinggi seperti yang terlihat saat ini. Proses ini juga berdampak pada migrasi manusia purba, yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Warisan Danau Purba di Masa Kini

Warisan dari danau purba masih terlihat di berbagai aspek geografis dan budaya Malang.

Geografis: Cekungan Malang yang subur merupakan hasil langsung dari sedimentasi danau purba, yang menghasilkan tanah yang kaya akan mineral. Hal ini menjadikan Malang salah satu wilayah agraris terbaik di Jawa Timur.

Budaya Lokal: Masyarakat setempat memiliki cerita rakyat dan mitos tentang danau purba yang hilang, yang sering dikaitkan dengan fenomena alam atau bencana besar di masa lalu. Cerita ini menjadi bagian dari identitas budaya Malang.

Situs Penting: Beberapa tempat di Malang, seperti situs Songgoriti, memiliki nilai historis dan arkeologis yang terkait dengan danau purba. Situs ini terus menjadi fokus penelitian arkeologis dan geologis.

Sejarah danau purba di Malang memberikan wawasan mendalam tentang evolusi geologis dan kehidupan di wilayah ini. Bukti-bukti arkeologis dan geologis, seperti fosil flora dan fauna, alat prasejarah, dan lapisan sedimen, membuktikan keberadaan danau besar di masa lampau. Transformasi danau ini menjadi dataran tinggi menunjukkan bagaimana alam berevolusi melalui interaksi antara aktivitas vulkanik dan perubahan iklim.

Warisan danau purba ini tidak hanya membentuk lanskap geografis Malang, tetapi juga memengaruhi kehidupan budaya dan sejarah masyarakat setempat. (Heri)

Kisah di Balik Angpao: Mengapa Selalu Berwarna Merah dan Apa Artinya?

JAYAKARTA NEWS – Angpao, amplop merah berisi uang, adalah salah satu tradisi yang paling ditunggu dalam perayaan Tahun Baru Imlek.

Namun, apakah Anda tahu mengapa angpao selalu berwarna merah? Apa makna di balik pemberian amplop ini?

Mari kita jelajahi sejarah dan filosofi di balik angpao, simbol keberuntungan yang kaya akan makna budaya.

Sejarah Angpao

Tradisi angpao berasal dari Tiongkok kuno, di mana masyarakat percaya bahwa uang yang dibungkus dalam amplop merah dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan.

Legenda mengatakan, pada zaman dahulu, ada roh jahat bernama “Sui” yang suka mengganggu anak-anak di malam Tahun Baru.

Orang tua membungkus koin dalam kain merah dan meletakkannya di bawah bantal anak-anak untuk melindungi mereka.

Dari sinilah lahir tradisi memberikan uang keberuntungan dalam amplop merah.

Mengapa Selalu Merah?

Warna merah memiliki makna mendalam dalam budaya Tionghoa.

Merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan energi positif.

Dalam tradisi Imlek, merah juga diyakini dapat mengusir energi buruk dan membawa perlindungan.

Karena itu, amplop angpao hampir selalu berwarna merah dengan hiasan emas yang melambangkan kemakmuran.

Makna dan Etika Memberikan Angpao

Pemberian angpao bukan sekadar membagi uang, tetapi juga merupakan simbol doa dan harapan untuk keberuntungan, kesehatan, dan kebahagiaan.

Angpao biasanya diberikan oleh orang yang sudah menikah kepada anak-anak, remaja, atau orang yang belum menikah.

Beberapa etika dalam memberikan dan menerima angpao:

1. Gunakan Amplop Merah

Jangan pernah memberikan uang tanpa amplop, karena dianggap kurang sopan.

2. Nominal Angka Baik

Hindari angka empat (四/sì) yang memiliki pelafalan mirip dengan kata “kematian” (死/sǐ).

Sebaliknya, angka delapan (八/bā) sering dipilih karena melambangkan keberuntungan.

3. Terima dengan Kedua Tangan

Saat menerima angpao, pastikan Anda menerimanya dengan kedua tangan sebagai tanda hormat.

Peran Angpao di Era Modern

Dengan perkembangan teknologi, tradisi angpao juga mengalami perubahan.

Kini, banyak orang menggunakan angpao digital melalui aplikasi pembayaran.

Meski begitu, amplop merah fisik tetap menjadi bagian penting dari perayaan Imlek, terutama bagi generasi yang lebih tua.

Angpao bukan hanya sekadar tradisi, melainkan simbol cinta, doa, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Warna merah yang melambangkan keberuntungan dan keberanian menjadi inti dari makna pemberian ini.

Dengan memahami kisah di balik angpao, kita tidak hanya menghormati tradisi, tetapi juga merayakan kekayaan budaya yang telah diwariskan selama ribuan tahun.

Jadi, saat Anda menerima atau memberikan angpao tahun ini, ingatlah bahwa setiap amplop merah tersebut membawa pesan keberuntungan yang mendalam. Gong Xi Fa Cai!***/mel

Sejarah Kue Keranjang Selalu Hadir dan Disajikan Setiap Perayaan Imlek

JAYAKARTA NEWS – Di antara hidangan khas Imlek, satu yang tidak pernah ketinggalan adalah kehadiran kue keranjang atau kue bakul.

Kue keranjang awalnya ditujukan untuk persembahan sembayang umat Konghucu.

Dalam perkembangannya, masyarakat Tiongkok selalu menyajikan kua keranjang di perayaan imlek.

Berikut fakta dan sejarah menarik kue yang mirip dodol ini.

Simbol keberuntungan
Kue keranjang atau dalam bahasa Mandarin, Nian Go, hanya disajikan setahun sekali, yakni di perayaan Imlek.

Nian artinya tahun dan gao artinya kue yang kadang terdengar seperti kata tinggi.

Karena itu kue keranjang selalu disusun bertumpuk untuk menyimbolkan bertambahnya rejeki atau kemakmuran.

Dulu semakin tinggi tingkat dari kue keranjangnya, semakin makmur pula keluarga tersebut.

Sebagai sesaji
Pada awalnya dipercaya kue keranjang dibuat untuk menyenangkan Dewa Tungku atau Cau Kung Kong.

Diharapkan dewa ini akan memberikan laporan yang baik pada Raja Surga atau Giok Hong Siang Teng.

Sehingga Raja Surga memberikan banyak kemakmuran pada keluarga yang merayakan Imlek.

Kue keranjang diletakkan pada altar persembahan saat upacara sembayang leluhur.

Kemudian di tujuh hari sebelum imlek dan puncak malam perayaan imlek.

Kue keranjang tidak akan dimakan sampai perayaan Cap Go Meh atau malam ke 15 setelah tahun baru Imlek.

Makanan cadangan perang
Ada versi lain sejarah kue keranjang ini.

Dipercaya kue ini dari daerah Suzhuo sejak 2.500 tahun lalu di mana Tiongkok masih berupa beberapa kerjaan.

Suzhou yang merupakan ibu kota kerajaan Wu membuat benteng untuk melindungi dari musuh.

Di saat itu juga dikhawatirkan akan terjadi erang besar.

Salah satu perdana menterinya, Wu Sizu, memberi pesan yang sangat mengejutkan.

Yakni, bila terjadi sesuatu dan kota kehabisan pasokan makan, agar menggali lubang di bawah tembok benteng.

Dan, benar saja ketika negara kehabisan makanan karena dikepung, mereka menggali tembok.

Di situ ada banyak tumpukan kue keranjang yang sengaja disimpan sebagai cadangan makanan.

Sejak saat itu setiap tahunnya orang-orang membuat kue keranjang untuk mengenang jasa Wu Sizu.

Industri lokal
Kue keranjang terbuat dari tepung ketan dicampur gula. Teksturnya kenyal dan lengket, mirip dodol.

Untuk membuat kue ini membutuhkan ketekunan dan waktu yang lama.

Sejak Imlek dirayakan secara nasional, produksi kue keranjang semakin meningkat.

Di Indonesia sendiri kue keranjang menjadi sebuah industri lokal.

Beberapa daerah produsen kue kerangjang, yakni Tangerang, Bogor, Sukabumi, Pontianak, Semarang, dan Yogyakarta.***/mel

Pemerintah akan Lanjutkan Kajian Situs Megalit Gunung Padang

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah akan melanjutkan riset dan kajian terhadap situs megalitik Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Penelitian sejarah ini akan menjadi prioritas untuk mengungkap peradaban.

“Gunung Padang juga kita akan meneruskan riset dan kajiannya, karena itu sempat lama terhenti,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Rabu (8/1/2025).

Fadli menuturkan, penelitian situs sejarah yang sempat terhenti akan menjadi prioritas pemerintah untuk mengkaji lebih jauh mengungkap peradaban bangsa.

Menurut Fadli, Gunung Padang sebagai salah satu situs megalitik terbesar di Asia Tenggara karena memiliki nilai historis yang tinggi. Bahkan berpotensi menjadi salah satu simbol kebesaran peradaban Indonesia.

Kelanjutan riset ini, kata Fadli, bukan hanya untuk kepentingan ilmiah. Riset Gunung Padang juga untuk mengangkat kebudayaan nasional di mata dunia.

Fadli tak menampik bahwa selama ini terdapat perbedaan pandangan di kalangan arkeolog menyangkut Gunung Padang. “Ini adalah bagian dari dinamika ilmiah yang wajar,” tukasnya.

Untuk itu, Fadli menekankan pentingnya forum dialog antar ilmuwan untuk mencari solusi terbaik terkait langkah penelitian dan pelestarian situs tersebut.

“Perlu kita pertemukan dalam sebuah diskusi. Kelompok-kelompok yang ada, mazhab-mazhab yang ada di dalam arkeologi kita. Ini perlu kita kumpulkan, biar para ilmuwan ini berdebat, dan nanti kita cari yang terbaik, apa yang harus kita lakukan,” jelas Fadli.

Fadli Zon mengatakan, rencana strategis Kementerian Kebudayaan untuk tahun 2025, yang berfokus pada pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya nasional.

Fadli menjelaskan, pentingnya kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bangsa sekaligus identitas nasional di tengah persaingan global.

Menurut Fadli, salah satu prioritas utama adalah pelestarian dan perlindungan cagar budaya yang hingga kini banyak belum terdata secara menyeluruh.

Kementerian Kebudayaan akan melakukan inventarisasi koleksi-koleksi museum, mulai dari museum nasional hingga daerah, guna mencatat dan mengapresiasi nilai-nilai budaya sebagai aset nasional.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi kebudayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, kata Fadli, pengembangan museum juga menjadi perhatian utama. Museum harus mampu bertransformasi menjadi pusat studi, literasi, narasi, edukasi, hingga hiburan. (yr)