Indonesia di Tahun 2045

JAYAKARTA NEWS –  Apa yang terjadi saat Indonesia memasuki tahun 2045? Generasi Z masih ada, dan apakah ada cinta seabad Indonesia? Dalam film ‘2045 – Apa Ada Cinta’ – 23 tahun mendatang – ternyata insan manusianya masih bercinta sama seperti di zaman kini.

Hanya Jakarta dan sekilas Ibukota baru di Kalimantan divisualisasikan sudah post modern dan serba cepat. Gedung-gedung jangkung semakin banyak menjulang dan penduduk miskin digambarkan tidak ada lagi.

Semua gerak cepat (gercep) dan masyarakatnya menggunakan teknologi CGI ala hologram, beromong dengan lawan bicaranya tampak di hadapan kita. Dan kita bisa menghapusnya sesuka hati kita. Semua serba super modern, super canggih dan super ke masa depan.

Indra Gunawan

“Film ini enggak hanya menyuguhkan kisah percintaan romansa anak muda yang penuh warna warni tapi juga mempertontonkan teknologi canggih yang akan hadir di Indonesia tahun 2045 mendatang. Dengan membawa tranformasi digital yang akan dicapai negara kita di masa mendatang. Menyajikan pesan teknologi dibalut kisah cinta khas anak muda,” kata sutradara Indra Gunawan.

Ditambahkan, film 2045 memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi terutama dalam hal penggambaran apa yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2045 nanti. “Butuh satu tahun lebih bagi kami menggarap cerita yang bertemakan cinta dan teknologi serta menghadirkan Computer Generated Imagery (CGI) yang hampir 80 % mewarnai film ini,” ujar Ody Mulya Hidayat selaku produser Max Pictures, pembuat 2045.

Ia memaparkan proses awal penggagasan dimulai dengan mengumpulkan ide-ide hasil kontribusi dari para Gen Z Millenials mengenai pandangan mereka terhadap Indonesia di tahun 2045 dan apa yang akan terjadi di Jakarta maupun Ibukota negara baru Nusantara nanti, dimana perkembangan teknologi akan jelas terlihat namun enggak akan pernah menggantikan semua sisi kehidupan manusia.

Penggagas ide film ini, Uki Utama mempercantik dengan desain dan artistik unik yang memamerkan berbagai perkembangan teknologi dan memvisualisasikan Indonesia yang semakin hijau 23 tahun mendatang yang menjadi harapan para pemimpin dan masyarakat Indonesia saat ini.

Sederet pelakon kita bermain gemilang di 2045 yaitu Yasmin Napper, Cinta Brian, Indah Kusuma, Roy Marten, Ira Maya Sopha, Ferry Salim, Nino Fernandez dan Jui Purwoto dan masih banyak lagi. Apakah Indonesia di tahun 2045 hanya mimpi ilusi ataukah menjadi realita? (pik)

FFWI Mendukung  Keragaman Festival Film

JAYAKARTA NEWS – Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2022 dalam rapat terakhirnya, Kamis malam, 24/11, menegaskan, mendukung penuh keragaman festival film yang belakangan banyak tumbuh di Indonesia.

“Semakin banyak festival, sesungguhnya bakal semakin baik,” ungkap Ketua FFWI 2022 Wina Armada Sukardi, dalam rapat terakhir Panitia FFWI sekaligus menandai pembubaran panitia di Jakarta.

Panitia FFWI XII Tahun 2022, secara resmi dinyatakan dibubarkan Kamis, 24/11. Sesuai dengan masa kerjanya, panitia FFWI terbentuk sejak Maret dan bekerja hingga November 2022. 

Menurut Wina, tentu dengan banyaknya festival film harus disertai dengan persyaratan, yakni tiap festival wajib memiliki ciri yang berbeda satu dengan lainnya. Dengan beragamnya festival film yang memiliki kekhasan masing-masing, tambah Wina, bagus untuk ekosistem perfilman Indonesia. 

“Dengan demikian lebih banyak batu uji dan sudut pandang, sehingga membantu pemahaman terhadap perfilman Indonesia dan karya-karya film Indonesia,” tegasnya.

Ari dari MD Pictures dan pialanya. (foto Humas FFWI)

Dalam kaitan ini, Wina mengungkapkan, FFWI juga mendukung pembiayaan dana dari negara terhadap berbagai festival film yang ada. ”Ini bagian dari strategi pemajuan kebudayaan bangsa,” kata Wina.

Kendati begitu, Wina mengingatkan, tidak semua festival patut dibantu pendanaannya dari negara. Festival-festival film asing dan festival eksklusif yang tidak melibatkan masyarakat luas, tidak perlu diberikan pendanaan dari negara.

Dalam acara itu, diserahkan pula Piala Gunungan kepada para pemenang yang tidak sempat hadir dalam acara Puncak Malam Anugerah FFWI 2022, Oktober silam di Pusat Perfilman Usmar Ismail.

Ke depan, FFWI akan melakukan serangkaian perubahan besar-besaran, baik terhadap bentuk acara, sistem penjurian maupun struktur kepanitiannya.

”Rencananya akan lebih banyak wartawan perempuan dilibatkan sebagai penyelenggara FFWI,” ungkap Wina.  Susunan Panitia FFWI XIII Tahun 2023 akan diumumkan pertengahan Desember 2022 atau awal Januari 2023.

Sedangkan dalam sistem penjurian para wartawan senior dari film dan kebudayaan akan diminta pula untuk menjadi juri. “Selebihnya, tunggu waktunya,” ujar Wina. 

Berbeda dengan penyelenggaran festival film lain, pada FFWI film dinilai berdasarkan genre. Lantas setiap pemenang genre, diadu lagi untuk memperoleh Piala Gunungan khusus film Best of The Best atau yang Terbaik dari yang Terbaik. 

Tahun 2022 piala Best of The Best dimenangkan oleh film “Ngeri-Ngeri Sedap.” Sedangkan dua piala Live Time Achievement Award diberikan kepada Deddy Mizwar dari kalangan perfilman dan Wina Armada Sukardi dari unsur sebagai wartawan. (pik)

Tegar, Penyandang Difabel Main Film

JAYAKARTA NEWS – Menjadi seorang aktor adalah mimpi besar bagi Tegarajasa, 11 tahun. M. Aldifi Tegarajasa, nama lengkapnya, anak kelas V SD di Bandung diberi ruang oleh sutradara Anggi Frisca sebagai pemeran utama dalam film bertajuk ‘Tegar”.

Film yang dikurasi untuk semua umur ini dibuat dengan pendekatan inklusif dan memberikan kesempatan bagi orang-orang berkebutuhan khusus untuk berkarya. “Persiapan dan latihan yang cukup intens dilakukan dengan pelatih khusus keaktoran dari Rumah Teater Huma Ark pimpinan aktris Sha Ine Febriyanti yang juga ikut bermain sebagai ibunya Tegar dalam film ini.

“Saya ingin menjadikan film Tegar sebagai laboratorium mimpi bersama bagi pihak-pihak yang mendukung terwujudnya ruang untuk masyarakat inklusi Indonesia dan dunia,” ujar Anggi Frisca kepada penulis usai menonton film Tegar, baru-baru ini.

Rumah produksi Bumi Langit yang membuat film Tegar mengajak dan melibatkan penyandang disabilitas dalam ptoduksi film ini. Tidak hanya menjadi peran penyerta alias cameo tetapi berupaya lewat pelibatan penuh. Ada Anton JC yang berperan sebagai aktor pendukung, almarhum Dzoel sebagai kru still photographer, Wawa Gunawan sebagai tim artistik, Ibe Ibrahim selaku BTS Crew dan Yuktiasih Proborini sebagai konsultan pengembangan naskah.

Kepala Staf Presiden, Moeldoko memeluk Tegar. (foto: anggi)

Diperkuat lagi oleh Chandra Sembiring dan Yudi Datau sebagai produser Alim Sudio penulis naskah, Galang Galih sinematografer dan Andi Rianto yang dipercaya menata musik. Penampilan Deddy Mizwar (sebagai kakek Tegar) dan Sha Ine Febriyanti (ibu Tegar) memperkuat nilai tambah bagi film ini.

Lihatlah bagaimana perjuangan seorang difabel bernama Tegar menuntut ilmu dan belajar di Sekolah Dasar. Suatu ketika  karena pembantunya kelamaan ke pasar, Tegar jalan kaki keluar rumah. Menyeberang jalan sampai berenang, Tegar melakukannya sendiri tanpa dibantu orang lain.

Usai menyaksikan film ini, banyak penonton terutama kalangan ibu meneteskan air mata. Termasuk Kepala KSP Moeldoko dan Direktur PMK Kemdikbud Ristek, Ahmad Mahendra yang menonton di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta.

Ĺast but not least, Tegar adalah lebih dari sekedar film. Tegar adalah sebuah gerakan, sebuah visi  dan laboratorium mimpi bagi orang-orang yang terlibat dan berusaha mewujudkan ruang untuk masyarakat inklusi di Indonesia. (pik)

“Pria Impoten” Raih Aktor Terbaik di FFI 2022

JAYAKARTA NEWS – Gara-gara memerankan pria impoten di film ‘Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas’ (SDRHDT) karya sutradara Edwin, Rafael Giulliano Marthino Lio meraih piala Citra kategori aktor utama terbaik dalam perhelatan FFI 2022 di Jakarta. “Gue enggak menyangka. Alhamdullilah banget,” lontar Marthino Lio usai menerima penghargaan didampingi isterinya.

“Arti piala Citra adalah bentuk apresiasi. Gue menghargai ini. Ada beban lepas,” beber Marthino Lio. Mantan penyanyi latar Melly Goeslaw ini berharap aktingnya bisa lebih baik lagi.

“Gue bekerja buat keluarga, perform, deliver cerita, skenario,” imbuh Marthino Lio. Dalam film SDRHDT yang diangkat dari novel karya Eka Kurniawan ini, Marthino Lio didapuk menjadi sosok Ajo Kawir, jawara yang enggak takut mati.

Ajo Kawir berhasrat besar bertarung sebagai pejantan tangguh didukung rahasianya yang gelap yaitu ‘burungnya enggak bisa berdiri’ jika berhadapan dengan lawan jenis. Marthino Lio mengungkapkan ingin mencoba berperan dalam berbagai profesi, baik protagonis maupun antagonis. Di kubu aktris utama wanita, pemenangnya adalah Ladya Cheryl sebagai Iteung dalam SDRHDT.

Malam itu Ladya Cheryl tak hadir dan diwakilkan saudaranya. Sama halnya di kategori sutradara terbaik, Edwin jufa tak hadir. Edwin berhasil mengungguli lawan-lawannya lewat tangan dinginnya menggarap film SDRHDT. Sedangkan Slamet Rahardjo Djarot untuk kesekian kalinya dinobatkan sebagai aktor pendamping terbaik lewat aktingnya yang menawan di film ‘Cinta Pertama, Kedua dan Ketiga.

Dan Putri Marino keluar sebagai aktris pendamping terbaik’ melalui seni perannya di film ‘Losmen Bu Broto’. Siapakah ‘gong’ FFI 2022 sebagai film panjang terbaik ? Tak salah lagi, film ‘Before Now and Then’ (Nana) ditahbiskan sebagai film panjang terbaik tahun ini.

“Film ini aku persembahkan untuk leluhurku di Tanah Sunda. Terima kasih,” ucap sutradaranya, Kamila Andini optimistis. FFI 2022 yang dihelat di Plenary Hall, JCC, Jakarta, dihadiri tiga Menteri, yaitu Mendikbud Ristek Nadiem Makarim, Menteri BUMN Erick Thohir dan Menkeu Sri Mulyani. Mengusung tema ‘Perempuan, Citra Karya Karsa’, tahun ini ‘Lebarannya insan film’ ini dipenuhi wajah-wajah baru di industri perfilman dan kaum wanita yang mengenakan kain kebaya dan tenun ikat. (pik)

Kamila Andini, Happy Salma dan wanita-wanita lain dalam film ‘Nana’. ( foto Nazira )

Maudy Ayunda dan Aeris Beaute, Tawarkan Produk Kecantikan

JAYAKARTA NEWS – Satu lagi kiprah aktris multi talenta, Maudy Ayunda yang menarik perhatian publik. Kali ini, ia bersinergi dengan alat kecantikan Aeris Beaute. Kebetulan Maudy dan Aeris Beaute memiliki visi dan misi sama yaitu memprioritaskan diri sendiri secara lebih baik.

“Kami menawarkan langsung produk kecantikan khusus kepada wanita Indonesia,” kata Maudy yang dikenal sebagai artis musik dan film ini.

Dikatakannya, Aeris Beaute sangat membumi, kualitas tinggi dan terjangkau serta ramah lingkungan. “Produk terbaru kami terdiri atas Premium Set, Dreamy Sweater dan Dreamy Headbad. Produk terbaru kami terdiri atas On the Go Premium Set, Dreamy Sweater dan Dreamy Headband,” tuturnya.

Ini, menurutnya, merupakan pilihan tepat bagi pengguna wanita Indonesia. “Dan kami terus mengikuti perkembangan industri make up dan perawatan kulit dengan menghadirkan produk mumpumi. Boleh dikata, kami sebagai pionirnya,” kali ini yang bicara Patricia dan Teresa dua sahabat pencipta alat make up kecantikan.

Jujur, kita akui, produk Aeris Beaute tak kalah kualitas dengan produk luar negeri. “Kami telah memastikan produk kami 100 persen vegan dan bebas dari kekejaman pengguna bahan dasar hewan serta produk sampingan apa pun dalam formula,” tambahh Maudy Ayunda.

Adapun perusahaan yang dibangun Patricia dan Teresa sejak 2018 telah menjadi berkat bagi semua orang yang kurang beruntung. Selain itu, juga bermitra nirlaba dengan World Harvest dan Liberty Society mendayakan pengungsi Afganistan, Somalia, Irak dan Yaman.

“Kami juga membantu dan mensupport secara sosial mereka yang perlu dibantu ekonominya,” timpal Patricia optimistis. (Pik)

Wagub Emil Ajak Masyarakat Nonton Film “Tegar”

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS- Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menghadiri Special Screening Film ‘Tegar’ di XXI TP 3, Rabu (16/11) sore. Film besutan Anggi Frisca ini mengangkat kisah seorang anak berkebutuhan khusus dengan usia 10 tahun yang ingin sekolah dan merasakan dunia luar bersama teman-temannya.

Film garapan Rumah Produksi Aksa Bumi ini melibatkan aktor kawakan Deddy Mizwar, Sha Ine Febrianti dan M. Aldifi Tegarajasa, pendatang baru di dunia film sebagai pemeran utama.

Dalam sambutannya, Wagub Emil berpesan kepada seluruh pencinta film agar tidak mengejar tontonan semata tetapi film yang di dalamnya mengandung unsur tuntunan. “Kita masyarakat Indonesia, Jawa Timur tidak terkecuali ini jangan hanya mengejar tontonan istilahnya, tapi tuntunan, apa yang ditampilkan ini adalah suatu hal yang menginspirasi kita semua,” kata Emil.

Emil Dardak meyakini bahwa Film Tegar mampu memberikan inspirasi bagi para penontonnya. Secara khusus, Emil menyebut bahwa ia datang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas inisiatif para sineas Indonesia untuk memproduksi film ini.

“Kepada mba Anggi friska selamat, jadi saya hadir disini sebagai rasa hormat dan salut saya kepada inisiatif ini,” sebutnya.

Mantan Bupati Trenggalek ini menjelaskan saat ini adalah masa dimana sesuatu yang viral akan menjadi perhatian banyak orang. Maka, lanjutnya, memproduksi film yang mengandung nilai moral tinggi menjadi tantangan tersendiri di tengah ramainya sensasi untuk menjadi viral.

“Tidak gampang di tengah realita hari ini, kita merasa hari ini orang berlomba-lomba menciptakan sensasi, sensasi inilah yang viral, hari ini eranya viral dan sensasi,” jelasnya.

Emil mengatakan Film Tegar akan banyak memberikan inspirasi dan memotivasi kita untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. Tak hanya itu, ia menambahkan bahwa akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini. “Apa yang ditampilkan ini adalah suatu hal yang menginspirasi kita semua membuat kita lebih bersyukur atas anugerah hidup yang kita terima,” imbuhnya.

Selain itu, Emil Dardak juga menyampaikan apresiasi bahwa dalam road show special screening Film Tegar ini dilakukan di dua Kota di Jawa Timur, Surabaya dan Malang. Surabaya sendiri menjadi kota terakhir special screening dari Film Tegar.

“Ini menunjukkan satu optimisme bahwa memang masyarakat Jawa Timur juga akan merespon baik inisiatif dan inspirasi seperti ini,” ucapnya.

Di akhir, Emil Dardak berharap penikmat film khususnya yang menonton Film Tegar akan banyak mendapatkan banyak inspirasi, motivasi dan mampu menyemainya di lingkungan dan komunitas terdekatnya.

“Sekali saya ucapkan selamat dan semoga tentunya akan semakin banyak masyarakat Surabaya dan Jawa Timur yang akan menonton film tegar dan mendapatkan inspirasi dan kita tebar ke sesama,” tutupnya. (poedji)

FFI 2022 – Genderang Perang Telah Ditabuh

JAYAKARTA NEWS – Menyongsong Festival Film Indonesia (FFI) 2022, ‘genderang perang” telah ditabuh. Para nomine dan pendukung kuat para sutradara, produser, pemeran utama dan pendukung, bahkan penata musik, penata suara sampai penata kostum pun ikutan mempopulerkan artis dan insan filmnya.

Di kubu pemeran utama pria, terjadi persaingan antara Vino Giovanni Bastian, Marthino Lio, Oka Antara, Kevin Ardhilova dan Bio One. Tak kalah seru di kubu pemeran utama wanita, bertengger nama-nama unggulannya, yaitu Happy Salma, Ladya Cheryl, Martha Timothy, Maudy Koesnaedy dan Tika Panggabean.

Persaingan sengit juga terjadi di kubu pemeran pendamping pria yaitu Arswendy Bening Suara, Elang El Gibran, Reza Rahadian, Rukman Rosadi dan Slamet Rahardjo Djarot.

Logo tema FFI 2022. (foto : Humas FFI )

Bagaimana kans para nomine di kubu pemeran pendamping wanita ? Siapakah yang bakal menang menggondol piala Citra diantara Laura Basuki, Maudy Ayunda, Putri Marino, Ratu Felisha atau Sheila Dara? Kemudian, di antara sederet unggulan film terbaik, siapa yang akan keluar sebagai ‘the best’ di antara Autobiography, Noktah Merah Perkawinan, Rindu Dendam Harus Dibayar Tuntas atau Before Now and Then (Nana)? 

Semuanya akan terjawab nanti tanggal 22 November 2022 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC) dan kanal YouTube FFI, Budaya Saya dan Kemdikbudristek RI. Mengusung tema ‘Perempuan, Citra Karya Karsa’, Dewan Juri FFI 2022 akan menilai 20 film dokumenter, 7 film dokumenter panjang, 30 film cerita pendek, 20 film cerita panjang dan 15 kritik film.

“FFI bukan hanya milik insan film. Tahun ini, kita juga melibatkan publik untuk kategori pilihan penonton yaitu aktor dan aktris pilihan serta film favorit,” kata Ketua Komite FFI 2022, Reza Rahadian Matulessy.

Sedangkan Ketua Bidang Penjurian FFI 2022, Garin Nugroho menilai, beragam tema ada di FFI tahun ini, meliputi politik, cinta, keluarga, sampai pencurian lukisan. “Hal ini menjadi akses dan keunikan adanya dinamika film di Tanah Air. Lihatlah mencuatnya beragam tema, genre, cara bertutur hingga kritik film yang berkembang di banyak platform,” beber Garin Nugroho.

Ditambahkan juga oleh Garin, ada pergeseran gaya hidup penonton belakangan ini, dengan bertabraknya batas-batas seni dan hiburan. Penonton kelas menengah saat ini banyak yang coba menonton film genre horor yang meraih jutaan khalayak.

Tahun ini, orang gedongan enggak risih lagi melihat film horor seperti ‘KKN di Desa Penari’ dan ‘Pengabdi Setan 2 – Communion’. Dan semuanya melebur menjadi satu,” imbuh Garin. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemdikbudristek, Hilmar Farid menyampaikan harapannya untuk Malam Anugerah FFI 2022 yang sebentar lagi akan dihelat.

“Film Indonesia memang sudah mulai menemukan jati dirinya dan beberapa karya anak bangsa pun berhasil mendapat  simpati masyarakat, bahkan meraih apresiasi tinggi hingga ke luar negeri, sejajar dengan film internasional,” pungkas Hilmar Farid. (pik)

International Ethnic Music Festival, Menyediakan Ruang Apresiasi Baru dan Dialog Antar Musisi

JAYAKARTA NEWS – Musik etnik adalah musik yang dimiliki, dikembangkan, dikenal secara baik dan lazim dipakai oleh etnis tertentu untuk kepentingan tertentu. Secara turun temurun dalam keberagaman, selain sebagai hiburan, musik etnik juga acap digunakan untuk kepentingan keagamaan, peribadatan, misalnya menyangkut kelahiran, pernikahan dan kematian.

“Musik etnik atau musik tradisi punya peluang yang luas untuk bisa dikembangkan dan dikolaborasikan dengan musik apun. Inilah kedahsyatan musik tradisi Indonesia,” ujar Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang seorang musikus, Adra Karim, kepada penulis di Teater Wahyu Sihombing, Taman Ismail Marzuki (TIM), baru-baru ini.

Karena itulah, Komite Musik DKJ tahun ini menghelat International Ethnic Music Festival III (IEMF, dulu bernama Etno Musik Festival) selama dua hari di TIM yang diikuti musisi tradisi dari Betawi, Aceh, Riau, Ternate, Tangerang dan Bali, serta dari Meksiko dan Ekuador. Dikatakannya, tujuan IEMF adalah menyediakan ruang apresiasi baru bagi para musisi etnik di daerah.

“Selain itu, melalui festival ini juga mendorong terjadinya dialog antar musisi tradisional di tengah zaman yang terus berubah sehingga memunculkan gagasan-gagasan yang inovatif dalam pelestarian dan pengembangan musik tradisi, terutama di kalangan kaum muda,” ucap Adra Karim yang lama studi musik jazz di Belanda.

“Agar musik etnik warisan leluhur ini enggak punah tergerus zaman. Kemunculan generasi baru yang hidup dalam peradaban digital memberikan peluang terciptanya pemetaan kembali musik tradisional melalui media-media baru,” imbuh Adra Karim yang anak aktris teater dan film, Niniek L Karim.

Senada dengan Cholil Mahmud yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris Efek Rumah Kaca.yang jufa anggota Komite Musik DKJ. “Banyak banget bisa kita gali dari musik tradisi.  Para musisinya bisa memainkan dan hidup dari musik tradisi. Penontonnya juga merasa punya kebanggaan, senang dan kangen dengerin musik tradisi,” beber Cholil Mahmud.

Sebagaimana genre musik lain, klasik atau jazz misalnya, musik etnik juga memiliki estetika sendiri yang dihasilkan dari alat musik, permainan nada, ritme dan tempo. Musik tradisi enggak sekedar bebunyian, tapi memberikan keindahan bunyi kepada pendengarnya agar masuk ke kedalaman penjiwaan. “Jelas, musik etnik adalah musik yang enggak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, dan bentuk pengungkapan diri yang mewujud menjadi identitas,” urai Adra Karim lagi.

Musik tradisi bisa dikolaborasikan dan ber ‘jam session’ dengan musik modern, pop,  rock atau musik Melayu yang kaya dengan ritme yang meliuk. What next ? Tergantung dari para musisi tradisi dan pemerintah yang bisa memfasilitasi warisan budaya ini. Sudah saatnya memasyarakatkan musik tradisi dan memusik tradisikan masyarakat, sebagaimana bidang olahraga dan ekonomi. (pik)

“Koko Cici Indonesia 2022” Diharapkan Jadi Duta Pariwisata, Cerminkan Kebhinekaan Budaya Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf) Angela Tanoesoedibjo mengapresiasi pemilihan “Koko Cici Indonesia 2022” dan mendorong para pemenang menjadi duta pariwisata yang mencerminkan keragaman dan kebhinekaan bangsa Indonesia.

Wamenparekraf Angela saat menghadiri malam pemilihan “Koko Cici Indonesia 2022” di Nafiri Baywalk Mall Pluit, Jakarta Utara, Jumat (11/11/2022), mengatakan Koko Cici Indonesia hadir sebagai ruang bagi generasi muda untuk melestarikan budaya Tionghoa yang telah berakulturasi dengan budaya lokal sehingga menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia.

Koko Cici Indonesia juga berperan aktif melibatkan lebih banyak pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) di berbagai kesempatan, agar ekonomi pulih cepat dan bangkit lebih kuat.

“Semoga pemenang Koko Cici Indonesia bisa menjadi contoh positif bagi generasi muda untuk terus berkarya dan mengasah kemampuan diri. Koko Cici Indonesia ini tidak hanya sekadar penyematan gelar, tetapi juga mengemban tanggung jawab sebagai duta budaya tionghoa, duta sosial serta duta pariwisata yang mencerminkan keragaman dan kebhinekaan bangsa Indonesia,” tutur Wamenparekraf dikutip dari Siaran Pers Kemenparekraf, Sabtu (12/11).

Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (Ketum PSMTI), Wilianto Tanta mengatakan kehadiran Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo pada malam pemilihan Koko Cici Indonesia 2022 merupakan bukti nyata bahwa ajang ini mendapat perhatian dari pemerintah dalam hal ini Kemenparekraf.

“Ini suatu kebanggaan buat kita semua bahwa kehadiran Wamenparekraf berarti pemilihan Koko Cici Indonesia ini sudah positif sekali di mata pemerintah,” kata Wiliantato.

Ketua Umum Ikatan Koko Cici Indonesia, Cici Ellen Theodora mengungkapkan kegiatan positif ini dapat terus berkembang dengan Koko Cici yang tidak hanya memiliki behavior, brain, beauty, dan juga talenta yang beragam. Namun juga dapat berperan aktif dimanapun Koko Cici berada.

“Di samping itu, saya juga berharap agar Koko Cici Indonesia dimanapun mereka berada dapat memahami lebih lanjut mengenai budaya dan pariwisata yang ada di Indonesia,” kata Cici Ellen.

Koko Alfincent Aprilino asal D.I. Yogyakarta dan Cici Nathania asal Provinsi DKI Jakarta keluar sebagai juara pertama dalam pemilihan Koko Cici Indonesia 2022.***/mel

Maxy Gold, Menjawab Tantangan Tempat Kongkow Anak Muda Madiun

MADIUN, JAYAKARTA NEWS – Sebuah lounge and resto segera membuka diri dan mengajak enjoy bareng para muda wilayah Kota Madiun, Jawa Timur, dan sekitarnya. Namanya begitu bergaya muda dan mileneal, Maxy Gold Madiun.

Tempat Kongkow anak muda itu mengambil lokasi begitu strategis dan luas. Di bekas pabrik es jaman Hindia Belanda, persis perempatan antara Jl. Mayjen Sungkono dengan Jl. Kolonel Marhadi.

Para entrepreneur muda yang bernaung di bawah PT. Lisa Sukses Abadi Kediri, Antok, Ilham dan Wagiyanto, merupakan bidan dibalik kelahiran Maxy Gold Madiun tersebut.

“Awalnya kami merasa kebingungan menjawab pertanyaan tamu domestik dan manca negara yang berkunjung ke Madiun. Mereka tanya, dimana tempat ngobrol dan ngopi yang nyaman?”, ungkap Antok, didampingi Ilham dan Wagiyanto, kepada jurnalis.

Ungkapan tersebut disampaikan Antok saat pihaknya melakukan brand launching Maxy Gold Madiun, yang berlangsung di Rumah Makan Srasadesa, Jl. Jawa, Madiun, Kamis (10/11/2022).

Maxy Gold Madiun, lanjut Antok, mengusung konsep resto mileneal dan eksklusif dengan dekoratif modern style. Sehingga begitu masuk areal tersebut, anak muda akan merasa bagai ‘di atas awan’.

PT. Lisa Sukses Abadi Kediri sebagai managemen Maxy Gold Madiun, tambah Antok, juga memperkenalkan konsep bisnis ‘sama rata, sama rasa’. Konsep tersebut menekankan pada perlunya menjaga keseimbangan produk, pelayanan dan sistem.

“Jadi kami tidak menjual nasi pecel. Agar penjual makanan yang sama di luar tetap berkembang,” papar Antok.

Disampaikan pula, pihaknya juga tidak mengenakan tarif untuk es batu sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan.

Sementara menyangkut sistem bisnis dilakukan  dengan mengajak bekerja sama berbagai pihak yang berada di sekitar lokasi.

Menurut Antok, tenaga lokal diberdayakan sebagai tenaga parkir, juru masak bahkan makanan ringan diambil dari produk rumahan setempat.

Selain live music yang digelar tiap hari mulai pukul 21.00 hingga 24.00, Maxy Gold Madiun juga mempersilahkan publik yang ingin menggelar berbagai acara untuk keperluan pribadi, ulang tahun, pernikahan, arisan, korporat, kelompok, komunitas dan lainnya.

“Maxy Gold Madiun ini merupakan pengembangan yang ke lima. Sebelumnya sudah berdiri Maxy Gold di Kediri, Surabaya, Malang, Tulung Agung,” pungkas Antok. (fin)