Cek Toko Sebelah-2, Film Ranah Wanita Akhir Tahun

JAYAKARTANEWS – Enam tahun berlalu, penonton banyak mempertanyakan kapan film ‘Cek Toko Sebelah’ (CTS) 2 dilanjutkan dan dibuat sekuelnya. “Dulu agak peduli lelaki, kini CTS 2 lebih condong ke ranah wanita,” ujar Meira Anastasia, penulis skenario kepada penulis, baru-baru ini.

“Sampai-sampai Ernest Prakasa (sutradara) pas syuting yang ada unsur komedinya, tanya ke saya. Ini sudah pas enggak ya bumbu komedinya,” sambung Anastasia, isteri Ernest Prakasa. CTS 2 memang dibuat bergenre drama komedi yang disemaraki sederet pemain senior yang tampil sebelumnya di CTS dan beberapa pemain anyar, seperti Maya Hasan (musikus harpa) dan Widuri Puteri.

Produksi Starvision kali ini bercerita tentang koh Afuk (Chew Kin Wah, aktor Malaysia) paska tokonya dibakar dalam kerusuhan Mei di Jakarta, kini menjadi pengangguran. Kali ini, koh Afuk akan mewariskan hartanya kepada dua anak lelakinya, Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa).

Dua masalah utama yang menjadi plot mencuat kali ini, yaitu  Yohan yang belum dikaruniai anak lantaran isterinya menerapkan ‘freechild’ (pasangan hidup setelah menikah tak ingin punya anak). Problem kedua ihwal lamaran Erwin kepada Natalie (Laura Basuki) yang terhambat.

Ibu Natalie membuat perjanjian pranikah karena keluarga koh Afuk enggak punya pekerjaan. “Ini bukan kampanye wanita ya. Tapi pandangan-pandangan dari sisi wanita ditampilkan,” kilah Ernest Prakasa.

Dikatakannya, feminin dan feminis itu beda. “CTS 2 lebih ke feminin. Pandangan dan gagasannya lebih ke perspektif wanita,” urai Erwin. Bagaimana ihwal pola asuh, pemikiran para orang tua, perjuangan membesarkan anak dan keinginan anak selalu memberikan yang terbaik buat orang tuanya.

“Bukan hal mudah mengangkat isu-isu kewanitaan. Beruntung isteri saya selaku memberikan masukan yang berharga buat pendalaman film ini,” beber Ernest lagi. Lalu ?

CTS 2 berakhir happy ending. Satu hal dari ciri diri Ernest Prakasa adalah cerita yang terus berkutat dalam keluarga peranakan Tionghoa. Keutuhan rumah tangga dan selalu menghormati omongan orang yang lebih tua adalah prinsip dasar dan kiat cespleng yang ingin ditampilkan Ernest Prakasa. “Sebenarnya prinsip ini juga berlaku untuk semua suku di Indonesia. Kita semua Bhineka Tunggal Ika.

Berbeda tapi tetap satu,” cetus Ernest Prakasa yang mengawali karirnya lewat Stand Up Comedy. Sebuah tontonan yang cerdas dan layak dipujikan. Cek ombak (periksa situasi) Cek Toko Sebelah 2. Kamis (22/12) bisa dicek di bioskop seluruh Indonesia. (pik)

Abidzar Al Ghifari – Ayah Ustad, Anak Pemain Film

JAYAKARTANEWS – Perawakannya tinggi, tegap dan berwajah tampan. Rambut gondrong, dan di telinga kiri bertengger anting-anting. Tiap hari berpakaian casual: kaos kutung, celana jeans belel dan sepatu sneakers. Sekali-sekali mengisap rokok.

Itulah Muhammad Abidzar Al Ghifari, berusia 21 tahun. Anak kedua ustad Jeffry Al Buchori (almarhum) dan Pipik Dian Irawati. Belakangan Abidzar ramai dibicarakan para netizen karena ulah tingkahnya. Abidzar berpacaran dan berangkulan dengan seorang cewek. Masak anak pendakwah agama begitu, tanya netizen.

“Gue kan Abidzar. Bokap bernama Jeffry Al Buchori. Jangan banding-bandingkan. Enggak mungkin gue jadi seperti bokap. Gue ingin jadi diri sendiri,” kata Abidzar yang telah 16 kali berumroh ke Tanah Suci.

Ternyata foto dan video mesra Abidzar berangkulan dengan cewek terjadi dalam film berjudul ‘Balada Si Roy’ yang disutradarai Fajar Nugros. Film remaja yang diangkat dari novel karya Gol A Gong ini akan tayang di bioskop awal tahun 2023.

‘Balada Si Roy’ mengisahkan Roy, murid baru pemberontak yang harus beradaptasi dengan kehidupan barunya di kota pesisir bernama Serang. Karena ganteng, Roy disukai oleh banyak murid cewek di sekolahnya.

Tapi hanya Ani, gadis manis yang bisa merebut hatinya. Namun, Ani juga ditaksir Dullah, sang penguasa sekolah. Perseteruannya dengan Dullah yang merasa terancam akan kehadiran Roy, berujung pada kematian Joe.

Sepeninggal Joe, Roy memiliki dua sahabat bernama Andi dan Toni yang melawan kubu Dullah. Karena suatu muslbah Andi wafat dan Toni harus pindah ke kota lain untuk berobat. Kembali sendiri tanpa sahabat, Ani menjadi satu-satunya tempat ia berlabuh.

Karena ulah Dullah yang membeberkan aib keluarga Roy, orang tua Ani pun melarang hubungan mereka. Roy yang merasa terputus melarikan diri ke balap liar.

Menyerah dan kalah pada keadaan bukanlah pilihan bagi Roy. Ia bertekad untuk bangkit  dan berjuang menemukan jawaban atas segala pertanyaannya sendiri, Berpetualang seorang diri menjadi pillhannya.

Film ini bertabur sejumlah pemain muda antara lain Febby Rastanty, Bio One, Zulfa Maharani Sitha Marino, Jourdy Pranats, Yusuf Mahardika, Lulu Tobing, Dede Yusuf, Marthino Lio dan lain-lain.

Sebelumnya, film ini telah menjadi film pembuka gelaran Jakarta Film Week 2022, Balimakarya Film Festival 2022 dan Jogja Netpac Asian Film Festival 2022. Produksi IDN Media ini akan tayang di bioskop mulai 19 Januari 2023 mendatang. (pik)

Penyanyi Lawas ‘Tiada Seindah Hari Ini’, Retno Moerdani Tutup Usia

JAYAKARTA NEWS— Innalillahi, hari ini sepekan yang lalu penyanyi lawas era Tahun 1960 an, R.A. Retno ‘Tiada Seindah Hari Ini’ Moerdani, tutup usia di RSPP Jakarta. Almarhumah yang kelahiran 8 Agustus 1942 itu, meninggal dunia Ahad (11/12/2022) pukul 04.59 dalam usia lanjut, 80 tahun.

Adalah akun twitter: @ulinyusron yang pertama kali mengunggah berita duka tersebut tepat di hari kepergiannya, Ahad 11 Desember 2022.

Penyanyi Retno Moerdani/foto: istimewa

Twitter itu memberi ulasan narasi, telah berpulang ke Rahmatullah Ibu R.A. Retno Moerdani jam 04.59 di RSPP. Jenazah disemayamkan di (bilangan) Warung Jati Timur IIA No. 10. Dimakamkan Ba’da Dzuhur di Karet Bivak Swargaloka. Retno penyanyi lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” populer di era 60-an.

Tak lupa, akun tersebut menyematkan tautan video salah satu lagu hits almarhumah, ‘Berpisah di Sr. Carolus’.

Dua hari berikutnya, Selasa 13 Desember 2022, akun P’dhede Ciptamas61 mengunggah lagu dalam format video di saluran youtube. Lagu yang diunggah tetap yang top diwaktu itu, ‘Tiada Seindah Hari Ini’.

Kanal youtube tersebut ditanggapi puluhan penikmat lagu-lagu memorabilia. Tak sedikit yang kaget, lantaran sebelumnya tidak mendengar kabar sakit atau hal lain menyangkut kesehatan almarhumah.

Tak satupun media mainstream memberitakan tentang berita duka itu. Bahkan media sosial telah mampu mendahuluinya.

Ini membuktikan medsos ternyata lebih aktif. Lebih cermat, teliti dan jeli dalam mengeskplorasi lingkungan sosial di sekitarnya.

Padahal, Retno adalah aset negara. Kekayaan bangsa Indonesia. Ratusan juta masyarakat telah merasakan kenikmatan bathin, sejak dulu hingga sekarang.

Dikatakan karya lawas itu masih digemari sampai masa milenial ini, lantaran bukan cuma generasi lama, anak muda pun tak sedikit yang enjoy dengan lagu-lagu jadul.

Penampilan fisik almarhum yang berkaca mata minus tebal, dengan model rambut agogo wavy itu, senantiasa memukau para penggemarnya di saat-saat tenarnya.

Retno yang diusia sepuhnya mengenakan jilbab atau busana muslim itu, memiliki jenis suara soprano dramatik. Ekspresif dan bertenaga penuh.

Artikulasinya saat bernyanyi jelas dan padat. Mirip suara rekan seangkatannya, yang juga sudah almarhumah setahun lalu, Lilis Soerjani. Penyanyi ‘Gang Kelinci’ itu.

Retno belum pernah tergabung dalam sebuah grup musik, kecuali sebagai penyanyi single. Setiap lagu-lagunya diiringi kelompok musik Zaenal Combo atau Band 4 Nada.

Keluwesannya dalam bergaul disesama artis olah suara saat itu, menjadikan Retno tak pernah terlibat isu cekcok di antara sesama seniman musik.

Dalam blantika musik era sepur klutuk itu, Retno termasuk seangkatan dengan deretan penyanyi lainnya. Di antaranya, Christine Maria Setyowati (almarhumah) yang tenar dengan lagu ‘Air Mata Kekasih’.

Satu letting juga dengan penyanyi asal Malang, Jawa Timur, (almarhum) Laily Dimjati, yang kondang lewat lagu ‘ Bunga Flamboyan’, Tuty Subardjo, Diah Iskandar dan lainnya.

Dengan penyanyi pria, Retno juga seangkatan dengan Alfian (almarhum/lagu ‘Sebiduk di Sungai Musi’), S Warno (almarhum/lagu ‘Hadiah Ulang Tahun’), Harry Noerdi (almarhun/lagu ‘Andaikan’), Onny Soerjono serta sederet penyanyi lawas lainnya.

Sementara Tety Kadi, Ernie Djohan, Titiek Sandhora tergolong setingkat sebagai penyanyi lebih muda. Atau generasi kedua deretan para penyanyi jaman dulu.

Tak banyak yang dapat digali tentang almarhumah Retno. Lantaran memang tidak cukup literasi yang tersedia.

Siapa suaminya, berapa putra putrinya, berapa cucunya, bagaimana kondisi ekonomi keluarganya, bagaimana aktivitasnya di usia senja? Tidak ada ulasan. Buntu.

Lepas dari semuanya itu, yang pasti saat ini Retno telah berpulang ke Rahmatullah. Meninggalkan sejumlah kenangan dalam lagu.

Mendengarkan suara Retno dalam setiap lagu-lagunya, akan sanggup menyeret dalam sebuah bingkai masa kanak-kanak yang indah menyenangkan.

Selamat jalan R.A. Retno ‘Tiada Seindah Hari Ini’ Moerdani. Mudah-mudahan Allah Swt memberi sejuk terang dikeabadian……..(fin)

‘Argantara’ – Akibat Pernikahan Dini

JAYAKARTA NEWS – Banyak alasan, sebab dan alasan pernikahan dini. Sesuai UU Perkawinan yang baru yang telah disahkan Mahkamah Agung tahun 1979, usia laki-laki dan wanita sama yaitu 19 tahun. Namun, masih banyak didapati perkawinan dini, baik cowok maupun ceweknya berusia di bawah 19 tahun, terutama di desa-desa.

Dalam film ‘Argantara’ besutan sutradara Guntur Soeharyanto, ceritanya bertokus pada pasangan pelajar SMA Merpati yang berusia 16 tahun yang terdapat di Jakarta. Argantara alias Arga dinikahkan dengan Syere ketika keduanya masih duduk di bangku SMA oleh kedua orang tua mereka.

Pernikahan dini ini menjadi heboh di sekolah, apalagi diketahui Syere hamil. Pihak sekolah harus mengeluarkan kedua murid bandel ini, sesuai peraturan sekolah.

Namun, ada dispensasi ketika Arga dan Syere harus mengikuti ulangan sekolah. Sebuah film yang dipenuhi konfllik remaja yang menyeret ke konflik orang tua ini cukup menghibur dan santai diikuti dan ditonton, tanpa perlu mengernyitkan kening.

Produser, sutradara dan pemain ‘Argantara’. (foto Didang)

Khas anak muda, film ini diwarnai adegan perkelahian dan kebut-kebutan motor di jalan raya. Bahkan, adegan cium pun tak haram juga dilakukan oleh Arga dan Syere. Makanya film produksi Hitmaker Studios ini dikurasi LSF untuk 13 tahun ke atas.

“Saya enggak melakukan adegan cium dengan Aliando Syarief (pemeran Arga). Itu diperankan oleh body doble (pemeran pengganti),” kilah Natasha Wilona yang berperan sebagai Syere kepada penulis baru-baru ini.

Natasha Wilona

“Seks dan cinta itu batasannya tipis,” lanjut Natasha tanpa menjelaskan musabab enggak mau beradegan cium dengan lawan mainnya.

“Inti ceritanya oke banget. Konfliknya kena,” papar Natasha yang mantan pacar aktor Varrel Bramastya ini.

Cerita ditulis Felatiyana dan plot mengalir lancar tanpa diruwet-ruwetkan. Seni peran pemain juga cukup diberi punten, terutama akting Natasha Wilona yang bermain cemerlang.

Para pelakon lain seperti Aliando Syarief (pemeran utama pria), Teuku Rassya, Samudra Taylor, Fattah Syah dll sangat pas bermain sesuai porsinya.

“Pernikahan dini menjadi problem utama dibuatnya film Argantara yang akan beredar di bioskop di pengujung tahun. Saya mengemasnya dengan halus. Yang sangat saya garis bawahi, pemeran bisa diajak bekerja sama tanpa kenal lelah,” timpal Guntur Soeharyanto, sutradara. Senada dengan Rocky Soraya selaku produser.

“Problem utamanya lagi trending. Kita suguhkan dengan melakukan riset di beberapa sekolah di Jakarta. Kita carikan solusi terbaiknya bagaimana memecahkan ihwal pernikahan dini ini,” tutup Rocky Soraya. (pik)

Elvira Natali – Anak Bangsa Berani Berkarya

JAYAKARTA NEWS – Ingat film ‘Janji Hati’ (2015) yang diproduseri Rudy Soedjarwo? Film remaja yang diangkat dari novel laris karya Elvira Natali ini disutradarai oleh Otoy Witoyo dan Elvira Natali sekaligus dipercaya sebagai pemain utama wanitanya.

Elvira (Amanda) yang baru pertama bermain film ini dipasangkan dengan Aliando Syarief (Dafa) yang didapuk sebagai pelakon utama pria. “Film ini boleh dikata cukup sukses dan bioskop setiap hari dipenuhi penonton remaja,” ucap Elvira Natali dalam acara talk show “best selling books turned in to Movies’ – Charity Christmas Festival (CCF) 2022 di Atrium Belezza, Permata Hijau, Jakarta, baru-baru ini.

Elvira Natali. (foto Yan)

Karena nama Elvira Natali tak asing di telinga kalangan remaja, maka acara malam dana (charity night) ini disesaki pengunjung. “Acara talk show ini diselenggarakan Yayasan Anugrah guna menambah 150 murid program Adikku Sayang untuk beasiswa pendidikan anak-anak kurang mampu di tahun 2023,” urai Elvira Natali yang dinobatkan Ambassador Adikku Sayang.

“Dalam hal ini, saya sebagai pengarang novel ditugaskan memberikan motivasi, dorongan dan semangat untuk generasi muda bagaimana cara menerbitkan buku novel di publisher. Nanti mereka pulang membawa ide di masa mendatang,” tutur Elvira Natali yang akan menerbitkan novel barunya bertajuk ‘Raga dan Sukma’.

Apa pesan untuk pengunjung? “Fun-fun saja. Anak bangsa harus berani dan terus berkarya. Jangan putus asa dan berhenti di tengah jalan,” demikian kiat  Elvira Natali yang tengah mencoba menulis skenario film ini. (pik)

Konser Duel Meet Makara vs Cockpit

JAYAKARTA NEWS – Membaca judulnya, seperti adu tinju saja. Padahal acaranya konser musik. Konser duel meet yang tidak ada duelnya ini sering dipromosikan di tahun 70an dan 80an. Misalnya Duel Meet AKA vs God Bless. Atau Duel Meet Giant Step vs Ternchem.

Yang lucu, pernah terjadi konser musik bertajuk Duel Meet Favourites Group vs Koes Plus vs SAS di Semarang. Dua band pengusung genre sweet sound ditanding melawan band beraliran cadas (hard rock). Khalayak penuh, lalu siapa yang menang?

Enggak ada yang menang, karena enggak ada duel meet antara ketiga band itu. Bahkan jam session (main sama-sama sepanggung) pun, enggak terjadi. Ini cuma promosi oleh para promotor musik agar khalayak membludak menonton band-band favoritnya.

Mendadak sontak mencuat kalimat Konser Musik Duel Meet Makara vs Cockpit yang dihelat di Hard Rock Cafe Jakarta, Senin (12/12). Penggagasnya Gideon Momongan (wartawan musik) dan Kadri Mohammad, musikus bertitel Sarjana Hukum (SH) yang acap digelari ‘singing lawyer’.

Acaranya malam hari, dari pukul 20.00 dan berakhir pukul 23.00 WIB. Yang datang opa oma dan bapak ibu berusia 60an tahun yang termasuk generasi bunga yang sedang marak di tahun 70an dan 80an.

Pertama band Makara yang diplesetkan sebagai ‘mahasiswa karatan’ alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini unjuk diri di panggung. Punggawanya ada tujuh personel, ada yang sudah senior dan ada yang  junior.

Mereka adalah Kadri Mohammad (vokal), Adi Adrian (keyboard, juga memperkuat KLA Project), Budhy Haryono (drum), Noldy Benyamin (gitar), Soebroto Harry (bas), Jimmo (vokal) dan Eghay (additional keyboard) ditambah Rini dan Humi bertugas di suara latar (backing vocal).

Puluhan lagu digebrak dengan semangat tinggi. Pukulan keras drum berpadu harmonis dengan dentuman keyboard dan petikan gitar nan rancak. Nada dan irama progresive rock lawas yang menjadi hit Makara disenandungkan lewat lengkingan manis Kadri dan Jimmo.

Denni Chaplin, vokalis Cockpit. (foto ipik).

Nomor ‘Rajawali’ dilantunkan sebagai lagu pembuka. ‘Semusim’ milik Chrisye – yang acap disebut mirip suara Phil Collins dari Genesis – dibawakan oleh Kadri secara ciamik dan liat. Kemudian ada lagu ‘Ronta Jiwa’ dan ‘Laron Laron’ yang menjadi hit Makara, disusul ‘Legenda Masa Depan’  ‘Sangkakala’, ‘Dunia Angan Angan’ dan ditutup nomor ‘Indonesia Maharddhika’ ciptaan Guruh SP yang dicomot dari album fenomenal Guruh Gipsy.

Lagu pamungkas yang liriknya berbahasa Sansekerta ini memperoleh keplok riuh khalayak yang memenuhi area Hard Rock Cafe seperti Triawan Munaf (eks Kepala Badan Ekonomi Kreatif, keyboardis Giant Step), Romulo Rajadin (KLA), aktris Aura Kasih, Tonny Wenas (Direktur Freeport, eks Solid 80) dll.

Tonny Wenas dari Solid 80 (kini Presdir Freeport, ikut tarik suara. (foto ipik)

Sesi kedua giliran Cockpit unjuk kemampuan. Grup beraliran prog rock yang acap disebut ‘copy paste’ Genesis dari Britania Raya ini juga menurunkan 7 personel : Raidy Noor (bass), Krisna Prameswara (keyboard), Nada Noor (gitar), Jimmo (vokal), Denni Chaplin (vokal) plus featuring double drum yaitu Fajar Satritama (God Bless) dan Rama Moektio (yang menggantikan ayahnya, Yaya Moektio).

Hampir 16 nomor lagu bernuansa prog rock dari Genesis (semasa era Peter Gabriel) maupun di era vokalis Phil Collins  dibawakan secara apik dan kompak. Hiruk pikuk nada-nada cadas plus dentuman gitar elektrik Nada Noor dan gitar bas Raidy Noor sangat beraturan. Juga, gebrakan drum – yang acap disebut bedug londo – dari Fajar Satritama begitu dominan dan memberikan nilai tambah pada Cockpit.

Hampir lebih selusin nomor cadas dilantunkan secara nonstop : Mama, Take a look  at Me now, Duke’s Travel, I don’t Care Anymore, Firth of Fifth, In the Air To Night, Dancing with The Moonlit Tonight, Follow you Follow Me dan Take Me Home sebagai lagu pamungkas dimana Romulo Rajadin alias Lilo ikut tampil bersenandung.

Keutuhan dan kesolidan Cockpit sebagai grup lawas ini perlu dicontoh oleh band-band baru di era kiwari. Meski tiga personelnya yaitu Freddy Tamaela, Ary Syaff dan Odink Nasution tutup usia, namun kharisma dan ciri diri Cockpit tetap utuh enggak tergerus zaman. O ya, sound oleh DSS pimpinan Donny Hardono malam itu yang menyuguhkan suara yang jernih dan pas benar-benar patut diberi punten. (pik)

Konser Amal Gitaris Kumpulkan Donasi Rp 4, 6 Miliar

JAYAKARTA NEWS – Konser amal Gitaris untuk Negeri dalam membantu gempa Cianjur yang dihelat di Bentara Budaya, Kompas, jalan  Palmerah Selatan, baru-baru ini telah berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 4, 6 Miliar. “Ini masih akan bertambah lagi,” ujar Antonius Tommy Trinugroho selaku Ketua Dana Kemanusiaan Kompas (DKK).

Dalam pergelaran secara gratis yang disesaki khalayak yang berdiri selama 3 jam itu, dilelang juga 10 lukisan dan 3 gitar milik Kaka dan Ridho Hafieds dari Slank ditambah gitar sumbangan dari Yamaha. Dipandu artis Olga Lydia n Cynthia Rompis dari Kompas TV, Said Abdullah, anggota dari DPR menyumbang Rp 50 juta untuk lelang gitar.

Dewa Budjana, inisiator dan gitaris Gigi dari Paguyuban Gitaris merasa terharu melihat aksi cepat tanggap dari para gitaris membantu korban bencana Cianjur. “Nantinya semua sumbangan akan diserahkan kepada yang menjadi korban bencana,  membeli alat-alat kesehatan dan selimut serta mendirikan sekolah yang ambruk,” ujar Budjana.

Acara amal gitaris ini dimeriahkan 38 gitaris, 9 musisi pendamping, 12 penyanyi dan 2 band (D’Masive dan Cokelat). Bahkan, di tengah acara, diseling pembacaan puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri sebagai Presiden Penyair Indonesia dan Joko Pinurbo.

Barisan gitaris yang unjuk diri adalah Ian Antono, Dewa Budjana, Totok Tewel, Jubing Kristianto, Agam Hamzah, Adit (Element), Andra Ramadhan, Ridho Hafiedz, Boris Simanjuntak, Chiko, Denny Chasmala, Edi Kemput, Edwin, Ernest, Gugun,  Endah Widiastuti, Josephine Alexandra, Gerald Situmorang, John Paul Ivan, Rama, Rully Worotikan, Tohpati, Sonny (J Rock) dan seabreg gitaris lain.

Deretan biduan dan biduanita yang tampil memukau antara lain Candil (eks Seurieus), Ubay (Nidji, pengganti Giring yang terjun ke politik) Kikan, Ipang Lazuardi, Tompi, Sheryl Sheinafia, Ryan D’Masiv dan beberapa penyanyi dadakan lain. Perlu dicatat konser gitaris ini digelar untuk keempat kalinya dan baru sekali ini khalayak full hingga memenuhi jalan. (pik)

Ultah DFI IX Anugerahkan Dua Award

JAYAKARTA NEWS – Menjelang akhir tahun 2022, DFI sudah berusia 9 tahun dengan legal standing yayasan, selalu berkutat pada apresiasi dan kampanye Film Nasional. “Menjadikan film Indonesia tuan rumah di negeri sendiri dan tamu terhormat di negeri tetangga. DFI mengajak menonton film Indonesia setiap Kamis di hari dan show pertama,” ucap Yan Widjaya selaku Ketua Umum DFI.

Dijelaskan pada tahun 2022 ada dua awards bertajuk DFI Cinema Achievement Award 2022 Kategori Government Support yang diberikan kepada Bapak Ahmad Mahendra – Dit. PMM KemendikbudRistek RI.

Atas dasar 3 hal;

1. Serapan anggaran efektif untuk lebih dari 20 Festival Film yang digelar dari 2021-2022 seperti FFI, FFWI, FFB, JFW, Eagle Award, BaliMakarya Film Festival Indonesia-BFFI, Balinale Film Festival, Festival Film Pendek Banyuwangi, Festival Film Tegal, Festival Film Pendek Berbahasa Daerah, Festival Film Pendek Etnik Nusantara, Madani Internasional Film Festival, Aceh Film Festival, Jogja Netpac dan masih banyak lagi lainnya.

2. Pemenuhan amanat UU Perfilman dengan Kampanye FiLM Nasional dengan Rilis Pengumuman Film dan Angka Penonton (LOKet – Laporan TiKet) di podcast DemiFilm TV.

3. Nobar  1-2 judul setiap bulan sebagai apresiasi dan pemicu tradisi menonton bagi perfilman nasional.

Selain itu kehadiran KCM – Kota Cinema Mall sebagai salah satu Ekshibitors yang SETIA menayangkan FILM NASIONAL menjadi Sahabat DFI diberikan award kategori “Bioskop Dengan Gedung Sendiri”.

KCM menjadi etalase Film anak negeri untuk ditonton di daerah dan jauh dari jangkauan Kota Besar tapi menjadi KOTA tersendiri yang membanggakan.

Selain itu pihak PFN- Perum Film Nasional memperkenalkan Studio XR Extended Reality dengan mempersembahkan kolaborasi film yang akan tayang 12 Januari 2023 dibesut Erwin Arnada.

Yoen K menjelaskan sebagai owner dan produser KCM setelah menerima award dari DFI.

“Kota adalah singkatan KOolmunitas kiTA. Tujuan didirikan memang bukan hanya sebagai tempat menonton film biasa, tetapi juga sebagai tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Misalkan komunitas pencinta musik, olahraga, dan hobi lainnya. Selain itu KCM juga menyediakan sarana kuliner lengkap untuk keluarga. Positioning KCM sebagai alternatif tempat hiburan dengan harga terjangkau, yang memang tidak banyak ditawarkan untuk tingkat Kabupaten saat ini. Dalam bahasa sederhananya, KCM menjadi Alun-Alun di setiap Kabupaten atau sebagai Taman Hiburan Rakyat (THR) yang menjadi destinasi keluarga,” paparnya lugas.

Sebagai produser film lebih dari 15 tahun, Yoen K menyadari distribusi film masih terfokus di kota-kota besar saja. Perlu sebuah upaya besar untuk memulai penyebaran bioskop di tingkat Kabupaten secara terarah dan profesional. Menggandeng pengusaha muda Larry Wijaya, dan dibantu Sudiadi yang juga memiliki banyak pengalaman di dalam bisnis film nasional, KCM mulai didirikan tahun 2017, dengan lokasi pertama di Kabupaten Bekasi. Dan terus berlanjut di kabupaten lainnya di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Dari kiri ke kanan: Yan, Wina, Mahendra dan Djonny. (foto Yan/Dudut)

KCM akan tetap fokus dengan positioningnya sebagai sarana hiburan lengkap untuk keluarga, dengan gerbang terdepannya adalah bioskop. Prioritas KCM tetap Kabupaten yang masih belum memiliki bioskop.

Sementara itu Ahmad Mahendra mengapresiasi dFI sebagai sentra sinergi. “Lanjutkan saja dan sangat membantu pemerintah, apalagi dFI ingin 2023 mendatang memanfaatkan Videotron kementerian dan lembaga negara untuk ikut memutar trailer film-film baru, saya dukung,” ucapnya disambut riuh para produser seperti Harry (Makelar Doa), Sumi Muin-Main Pictures, Hartawan (Imperial Pictures), Toto Sugriwo (Lantai 4) dan lainnya.

MiLad tahun ke-9 sebagai kelaziman atau tradisi dengan memutar trailer film-film baru yang akan tayang pada awal 2023 dan juga menghadirkan talentnya seperti Ingrid Widjanarko dan lainnya.

Yan menyampaikan film-film baru tersebut antara lain adalah; #AnakTitipanSetan, #JombloFiSabilillah, #MakelarDoa, #Mangkujiwo2, #AnakPenangkapHantu, Assalamu Alaikum Beijing 2, dan Cakar Monyet. #TanpaAmpun.

Selain menayangkan trailer juga dihadiri filmmaker masing-masing seperti Jastis Arimba, Erwin Arnada, Farid Ongky dan lainnya.

Acara juga menghadirkan Badan  Perfilman Indonesia, FFWI, stakeholder BPI lainnya, TasNoJaR – Komunitas Nonton Jakarta bersama puluhan media ibukota. (pik).

Pandemi (Masih) Mengamuk, Pianis Rudy Octave Jual Jamu

JAYAKARTA NEWS – Masa pandemi Covid 19 masih mengamuk, bidang penunjang kesehatan masyarakat mendominasi bisnis usaha kecil menengah ini. Banyak kalangan artis musik dan film banting setir ke usaha kuliner ini.

Di antara yang digemari dan menjadi pilihan utama adalah bisnis minuman keseharian masyarakat yaitu jamu. “Saya bersama dua teman, Nawangwulan dan Andri menerjuni bisnis jamu dengan trade mark Stasiun Jamu. Modalnya kita patungan bertiga sekitar 100 juta rupiah,” kata pianis Rudy Octave kepada penulis, baru-baru ini.

Kenapa jamu? “Jamu adalah minuman tradisional masyarakat. Semua orang kenal dan pernah minum jamu. Bahan dasarnya yaitu rempah-rempah juga enggak sulit diperoleh,” urai Rudy Octave yang pernah mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pianis yang memainkan piano terlama (14 jam) di Mal Grand Indonesia, tahun 2008.

Ada lima macam jamu yang diproduksi dan dijual di gerai Stasiun Jamu miliknya: kunyit asam, jahe jeruk, rosella sereh, serta bir pletok. Masing-masing jenis jamu dijual Rp 30 ribu rupiah.

“Kami sudah diminta membuka gerai dalam pameran Jamsostek di JCC,”  ungkap Rudy Octave. Biasanya, dia sendiri yang meracik jamu di hadapan pengunjung. “Anak-anak muda milenial paling doyan minum Bir Pletok, ‘wine’ nya orang Betawi.

Sekalipun namanya bir, tapi tidak memabukkan dan halal diminum. Kata pletok dari bunyi yang jika dikonsumsi menimbulkan bunyi pletok-pletok,” cerita Rudy tertawa.

Rudy Octave (kiri), menjajakan jamu. (foto : Stasiun Jamu)

Dijelaskan, semua minuman jamu yang dijual tidak bikin mabuk, karena sudah didaftarkan di MUI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kemenkes. Stasiun Jamu juga tidak menjual kopi dan teh. “Kopi manfaatnya 3, mudaratnya 5. Demikian pula teh, ada yang suka ada yang enggak boleh minum teh. Ada orang diharuskan dokter wajib minum air putih seumur hidup, ini yang paling aman,” beber Rudy lagi.

“Meski saya alih profesi menjadi penjual jamu, tapi dunia musik tidak saya tinggalkan,” imbuh Rudy yang selama dua bulan pernah bermain musik di Belanda, Jerman, Prancis, Belgia dan negara-negara Uni Eropa lainnya.

Anda sudah go internasional via musik rap dan musik tradisi ke Eropa, lalu kapan mengusung jamu ke sana ?

“Ada passion ke sana, tapi belum kesampaian. Terlebih lagi, di beberapa negara Asia mulai terjangkit lagi pandemi dengan nama turunannya yang lain. Doakan saja semoga saya berhasil menembus pandemi dan mempromosikan jamu ke benua Asia dan Eropa,” timpal Rudy Octave optimistis.

“Kami coba mengubah pandangan dan kerangka berpikir kaum muda ihwal rasa jamu dengan panggilan JAMU ENAK. “Target kami, semoga kami bisa break event point tahun depan,” pungkas Rudy Octave berharap. (pik)

Stand “Stasiun Jamu”. (foto: stasiun jamu)

“Kembaran” Jokowi Main Film

JAYAKARTANEWS – Suara dan tawanya persis sama seperti Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Tapi ini suara dan tawa Muhammad Syafrudin atau akrab dipanggil Jokodin.

Berusia 35 tahun, Jokodin belakangan mendadak sontak membetot perhatian masyarakat. Ia main film. Film yang dibintanginya yang berjudul ‘Nagih Janji Cinta’ beredar di bioskop, Kamis (1 Desember 2022).

“Ini film kedua saya. Film pertama saya adalah ‘Rafathar’ yang didanai Raffi Ahmad dan tayang lima tahun silam,” ujar Jokodin kepada penulis di XXI Epicentrum, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.

Pria humble dan ramah ini sangat bangga bisa bermain dengan sederet bintang terkenal, seperti Hadi Sujiwo Tedjo, Marsha Aruan, Wanda Hamidah dll. Ia duduk berdampingan dengan Agustinus Sitorus, produser dari PIM Pictures.

Muhammad Syafrudin atau akrab dipanggil Jokodin. (foto: ipik)

Setamat SMA, Jokodin bekerja selaku kepala gudang perusahaan distributor alat elektronik di Pontianak. Kemudian mencoba mengadu nasib setelah hijrah ke Jakarta.

Apa komentar pak Jokowi melihat Anda yang mirip dengan beliau? “Sewaktu saya kenal pak Jokowi sebagai Gubernur Jakarta. Beliau kaget mendengar suara saya, kamu kok bisa persis seperti saya sih?,” cerita Jokodin yang menambahkan, suara dan tawanya asli, sejak dulu sampai sekarang ya seperti ini. Enggak dibuat-buat.

Profesi pemain film akan diteruskan? “Kalau ceritanya menarik dan ada unsur pendidikannya, iya. Saya senang bisa tampil di dunia film. Enggak soal jadi cameo (pemeran sekejap di depan kamera) atau dapat adegan banyak,” urai Jokodin yang enggak mengalami kesulitan jika syuting berhari-hari dan menghafal dialog lumayan panjang.

Maklum, Jokodin sebelumnya pernah bermain dalam sinetron bertajuk ‘Sukowi, Ketua RT’ (2013) dan ‘Kawin Gantung’ (2014) dan pernah unjuk diri di acara ‘Apa Kabar Indonesia’ di TVOne sebagai kembaran Jokowi.

Tahun depan, syuting film apa lagi? “Belum ada. Saya enggak milih peran kok. Asal cocok dan pas, oke. Honor bisa dimusyawarahkan,” pungkas Jokowi tergelak. Mirip Jokowi. (pik)