Maxstream Siapkan 4 Film Horor di Tahun 2023

JAYAKARTA NEWS – Mendadak horor. Secara kuantitas, tiba-tiba film horor meningkat drastis. Sejak ‘KKN di Desa Penari’ menggaet 9, 2 juta penonton di tahun 2022 mengalahkan genre drama, komedi dan laga, para sineas membuat film horor dan thriller.

Seketika, angka perolehan  penonton film horor naik tajam. Setelah KKN, disusul genre horor lain yang meramaikan gedung bioskop. Di antaranya ‘Pengabdi Setan 2 – Communion’, ‘Ivanna’, ‘The Dolls 3’, ‘Mumun’, ‘Qodrat’.

Di akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 banyak lagi film horor akan main. Di antaranya ‘Hidayah’, ‘KKN di Desa Penari: luwih dowo luwih medeni’ (lebih lebar lebih menegangkan) dan masih seabrek judul film horor lain akan syuting dan akan main di bioskop.

Mau tak mau, belakangan gedung bioskop dipenuhi teriakan, jeritan, ketakutan dan tawa berkepanjangan. Para pakar kesehatan dan psikolog pun ikut bersuara, menonton film horor bisa menyembuhkan trauma dan rasa takut menyendiri.

Adrenalin di sekujur tubuh mendadak lepas dari katup keterasingan dan kesendirian yang membahayakan jiwa. Awal tahun 2023, genre horor masih mengamuk dan menyerang. Termasuk Maxstream, konten original yang bernaung dibawah Telkomsel bakal menyuguhkan pengalaman digital lifestyle terbaiknya lewat empat film horor.

Ayu Laksmi (tengah) dan Dennis Adhiswara (kanan) siapkan film horor terbaru. (foto : Maxstream

Empat film tersebut adalah ‘Perjanjian Ghaib’ , ‘Tulah 6/13’, ‘Qorin’ dan ‘Anak Titipan Setan’. Sekeranjang artis tenar bermain dalam deretan empat film Maxstream ini, termasuk yang baru pertama kali terseret mencoba main, yaitu Gisela Anastasia dan Dennis Adhiswara.

Sedangkan Ayu Laksmi, mantan rocker dari Bali yang meroket lewat peran Ibu di film ‘Pengabdi Setan’ (dan Ayu Laksmi enggak dapat dialog, hanya tampil menakuti penonton) kali ini tampil lagi di film horor produksi Telkomsel ini.

“Ini upaya kami menghadirkan konten original guna memenuhi hiburan para fans film horor yang jumlahnya bejibun,” ujar Nirwan Lesmana selaku VP Digital Lifestyle Telkomsel kepada penulis dalam acara peluncuran empat film horor di kawasan Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Berkolaborasi dengan sineas-sineas lokal, Maxstream berusaha terus meningkatkan kreatifitas dan kapabilitas serta mencari terobosan baru dalam memberikan pengalaman digital lifestyle terbaik selain ikut mendukung perkembangan industri perfilman nasional.

“Kita membuat beragam konten produktif dengan teknologi digital terdepan. Dan sejujurnya kita bilang, Indonesia adalah negara dengan bermacam kreasi berkualitas,” beber Nirwan Lesmana girang. Nah, selamat datang horor di tahun 2023 ! (pik)

Indro Warkop jadi Orang Pikun

JAYAKARTA NEWS – Orang mengenal Indro Warkop sebagai komedian terkenal. Kali ini, Indro jadi penyandang demensia alias pikun.

“Ini peran menantang banget. Saya keluar dari zona nyaman. Saya berjalan tertatih dan ngangkang. Makan disuapin. Bicara, kalimatnya banyak yang pelo,” ujar Indro usai pemutaran film ‘Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti’ yang disutradarai Herwin Novianto.

Berperan sebagai Hardiman yang pikun, ia acap mengalami post power syndrome. Suatu saat, Hardiman menabuh gamelan dan menembang lagu berbahasa Jawa. Saat lain, mendadak sontak ia melakukan gerak tari sebagai sosok Gatotkaca yang diperankannya semasa muda dalam kelompok Wayang Orang Langen Budoyo.

“Saya belajar nembang dan menari Jawa sama mbak Endah Laras dan dua pembantunya. Sekitar dua mingguan saya giat berlatih, agar gerakan dan gesture saya enggak kaku,” aku Indro.

Dikatakannya, sebuah film jika dimainkan oleh seorang aktor watak yang mumpuni, pasti ansambel menjadi baik. Ditambah lagi chemistry dapat, meski karakter yang dimainkan sebagai orang tua yang pikun sekalipun.

“Ini peran kelima dimana saya keluar dari zona nyaman, enggak melawak lagi. Sebelumnya saya juga bermain di film drama ‘Miracle in Cell No 7’ produksi Falcon,”  beber Indro. Yang menarik dari film ‘Yang Patah…’ adalah adanya kejutan dan kelokan plot twist di ending.

Herwin Novianto, sutradara. (foto Ipik)

Pemain lain yang meneriahkan film ini adalah Clara Bernadeth, Donny Damara, Windarti, Endah Laras, Wina Marrini, Diva Ratu Alifia dan masih banyak lagi. Syuting seluruhnya di kota Solo khususnya di Laweyan yang dipenuhi jalan-jalan sempit.

“Sesungguhnya jalanan sempit ini menjadi jembar (lebar) yang sesuai dengan falsafah orang Jawa yaitu ‘alon-alon waton kelakon’. Karena itulah, irama film ini pelan dan tenang. Ojo kesusu (jangan terburu-buru), orang Jawa bilang,” urai sutradara Herwin Novianto.

‘Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti’ (diambil dari puisi karya Chairil Anwar dan dinyanyikan oleh band Banda Neira) menjadi penutup film dalam ajang ‘World Cinema Week’ (WCW) yang digelar di Jakarta, baru-baru ini. Event ini diikuti 39 negara dan sebanyak 71 film ditayangkan di CGV, Grand Indonesia, Jakarta.

Nama WCW dipilih sebagai representasi line-up film yang dikurasi, berasal atau pernah diputar di pelbagai festival film bergengsi dunia “Istilah World Cinema juga kerap digunakan untuk mendefinisikan film-film berkualitas. Baik secara artistik maupun nilai produksi buatan non-studio besar Hollywood. Ini sekaligus alternatif tontonan yang menarik,” timpal Shandy Gasella selaku director WCW. (pik)

Dewi Yull Come Back, Bintangi ‘Jomblo, Fi Sabilillah’

JAYAKARTA NEWS – Industri film di tanah air kembali menggeliat. Artis-artis lawas yang lama istirahat mendadak sontak bermain film lagi. Barry Prima, August Melasz, Titiek Puspa, Ayu Azhari, Herman Felani, Dewi Yull dan masih segerobak artis film lain muncul, baik di layar televisi maupun di layar bioskop.

Fans setia mereka pun menyambutnya dengan suka cita. Meski usia tak lagi muda seperti era keemasan mereka, toh seni peran aktor dan aktris nasional ‘still going strong’. Raden Ayu Dewi Pujiyati atau dikenal dengan nama Dewi Yull pasca pandemi come back ke dunia film.

Setelah bermain dalam film drama bertajuk ‘Elang’ karya sutradara Rizal Mantovani (belum beredar), menjelang tutup tahun 2022, Dewi Yull terlibat syuting di film berjudul ‘Jomblo Fi Sabillilah’ yang disutradarai Jastis Arimba dan diproduksi Warna Pictures. “Aku kangen menyapa penggemarku. Dunia seni musik dan film enggak bisa memisahkan aku,” lontar Dewi Yull yang sudah terjun selama empat dekade di ranah seni.

Pemeran beberapa film seperti ‘Gadis’, ‘Kembang Kertas’ dan ‘Penyesalan Seumur Hidup’ ini tertarik membaca skenario film bergenre komedi religi yang diangkat dari novel karya Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. “Ini film tentang persahabatan empat cowok jomblo padahal usia mereka sudah mendekati kepala tiga.

Salah seorang diantaranya mengalami gangguan mental yang menyebabkan panik jika bertemu lawan jenis,” beber Dewi Yull. Ketiga cowok sahabatnya berupaya agar si jomblo menemukan pasangan hidup. Beberapa cewek dengan latar unik dan mencengangkan dipertemukan kepada jomblo.

Film ini selain dibintangi Dewi Yull, juga dimeriahkan pelakon-pelakon sohor, diantaranya Ricky Harun, Nabilah Ayu, Dayu Wijanto, Humaidi Abas, Mario Irwinsyah, Indah Nada Puspa, Andy Boim dan Adhin Abdul Hakim. ‘Jomblo Fi Sabillilah’ direncanakan tayang di bioskop tahun 2023. “Doakan ya, semoga syuting berjalan lancar dan filmnya dapat diterima masyarakat,” pinta Dewi Yull. (pik)

Marshanda “Gendut” Gaet Piala Gunungan FFWI XII 2022

JAYAKARTA NEWS – Berkat berat badan Marshanda bertambah 20 kg dalam film ‘Gendut Siapa Takut?!’, dia berhasil meraih sebagai Aktris Utama terbaik untuk kategori komedi di Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XII 2022. Peran wanita gendut bernama Moza dalam film tersebut benar-benar memukau 40 dewan juri FFWI XII yang seluruhnya wartawan.

“Terima kasih kepada Allah SWT atas anugerah ini. Saya benar-benar terkejut. Mengingat saya sudah lama enggak tampil di layar lebar dan televisi,” urai Marshanda yang juga hadir bersama anaknya, Sienna serta ibunya.

Dikatakan lebih lanjut, Marshanda menilai festival film yang dihelat oleh wartawan ini (panitia dan juri) sangat penting dan semoga bisa terus eksis di tahun-tahun mendatang. Sependapat dengan Vino Giovanni Bastian yang kali ini menggaet piala Gunungan untuk kedua kalinya.

Vino Giovanni Bastian, aktor utama drama terbaik. (foto FFW)

“Saya menghargai FFWI yang dua kali mendapatkan penghargaan ini. Tanpa wartawan, perjalanan karier saya enggak ada artinya,” cetus Vino yang kali ini menyabet penghargaan di kategori drama dalam film ‘Miracle in Cell No 7’ yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Aktor berdarah Minang ini berperan sebagai Dodo Rozak yang berperilaku seperti anak-anak. “Dodo Rozak itu cerdas tapi terbatas. Dan saya lama memerhatikan beberapa orang yang kecerdasannya seperti anak-anak,” ucap Vino.

Peraih penghargaan lain adalah Tissa Biani aktris utama terbaik kategori horor dan Endy Arfian aktor utana terbaik kategori horor. Di kubu kategori drama, secara mengejutkan Shenina Cinnamon berhasil mengungguli pesaingnya di film ‘Penyalin Cahaya’ dan di kubu komedi, Bio One dinobatkan sebagai aktor utama komedi lewat film ‘Srimulat – Hil yang Mustahal’.

Wina Armada Sukardi, peraih penghargaan pengabdian seumur hidup FFWI dan Ketua PWI Pusat, Atal Sembiring Depari. (foto FFWI)

Dalam FFWI tahun ini, terjadi kejutan yang mengagetkan, yaitu adanya penghargaan baru yaitu ‘best of the best’ (terbaik dari yang terbaik) yang disabet film ‘Ngeri Ngeri Sedap’ yang disutradarai Bene Dion Rajagukguk. Bene memperoleh piala Gunungan Emas (‘Ngeri Ngeri Sedap’ juga sukses memperoleh delapan piala Gunungan).

Penghargaan ‘lifetime achievement award’ (pengabdian seumur hidup) untuk artis film disabet Deddy Mizwar. Dan Wina Armada Sukardi memperoleh penghargaan pengabdian seumur hidup sebagai wartawan dan kritikus film. Sampai jumpa di FFWI XIII 2023 ! (pik)

SLANK Rayakan Ultah ke-39 di Lima Kota

JAYAKARTA NEWS – Band papan atas Slank merayakan ultah ke-39 dengan menggelar kota di lima kota di Indonesia. Bertajuk ‘Beautiful Smile Indonesia Tour’, Slank menggebrak Palembang (6/11), Makassar (10/11), Banjar Baru/Kalimantan Selatan (24/11), Surabaya (4/12) dan kota penutup adalah Jogjakarta (11/12).

Konser megah yang difasilitasi oleh Peace Enterprise (milik Ivanka Skank) dan BOS Production (milik Ketua MPR, Bambang Soesatyo) ini juga dimeriahkan sederet biduan/biduanita dan band’ terkenal tanah air, antara lain Pamungkas, Kunto Aji, Tipe X, Stars & Rabbit, Endank Soekamti dan penampil lainnya. “Akan ada kejutan menarik tepat di ultah Slank dalam konser di Jogjakarta, 11 Desember 2022 mendatang,” ujar Bim Bim, drumer Slank kepada penulis di Backstone Garage, Jaksel, baru-baru ini.

Pemetik bas Ivan Kurniawan Arifin alias Ivanka menuturkan, Slank sudah lama enggak menghelat konser ultah karena amukan pandemi Covid 19. “Kini kami bisa rayakan ultah bareng-bareng. Kami imbau kepada Slankers (fans setia Slank) dan masyarakat agar tertib dan beli tiketnya di lokasi yang sudah ditentukan, dan yuk bareng-bareng tebar senyuman di konser Slank menjelang tutup tahun 2022,” imbuh Ivanka lagi.

Ketua MPR Bambang Soesatyo dan personel Slank ( foto Bayu )

Menanggapi tahun politik 2023 yang suasananya semakin panas, Bim Bim menegaskan, agar ketertiban dan saling bertoleransi terus dijaga. “Empat Pilar Kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, bendera Merah Putih dan NKRI terus dirawat dan dicamkan dalam hati setiap warganegara Indonesia,” beber Bim Bim.

Ivanka menambahkan, kita sudah mengalami pecah belah sepanjang tahun politik 2019. “Karena itulah, Slank merangkul semua etnis dan penganut agama dalam konser ini. Memang enggak mudah meramu kesempatan tersebut. Makanya kami buat konser Beautiful Smile Indonesia,” urai Ivanka.

Kali ini, Slank menggandeng Ketua MPR, Bambang Soesatyo guna mensosialisasikan semangat gotong royong. “Kami dan Slank banyak kesamaan. Inshaa Allah konser ini menjadi sejuk dalam menyatukan Indonesia.

Kita harus segera memiliki dan menyongsong semangat baru di era disrupsi ini,” kali ini Ketua MPR, Bambang Soesatyo ikut bicara. Dalam acara bincang-bincang tersebut, hadir tiga personel Slank yaitu Bim Bim, Kaka dan Ivanka. Dua personel lain yaitu Abdee Negara dan  Ridho Hafied enggak datang. (pik)

Vino Giovanni Bastian Diunggulkan di FFWI XII 2022

JAYAKARTA NEWS – Aktor utama pria Vino Giovanni Bastian diprediksi banyak pengamat mempunyai peluang bakal menjadi pemenang untuk dua kategori dalam Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XII tahun 2022.

Seperti diketahui, Vino diunggulkan di kategori drama (‘Miracle in Cell No 7’) dan komedi (‘Baby Blues’).  Hal tersebut merupakan keputusan juri FFWI XII yang keseluruhannya terdiri atas 40 wartawan. Prestasi menonjol dari Vino ini berarti memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yang dihelat oleh Panitia FFWI.

Vino pernah menggaet gelar sebagai Aktor Utama Komedi Terbaik dalam FFWI XI tahun 2021 lewat film ‘Sabar Ini Ujian’ yang disutradarai Anggy Umbara. “Saya berterima kasih kepada dewan juri FFWI XII yang telah mengunggulkan saya tahun ini. Tentu saya sangat bangga dan senang dan ini satu kehormatan buat saya,” ujar Vino dalam video pendek di Instagram festival film wartawan.

“Saya berharap FFWI akan ada dan eksis terus di masa mendatang,” imbuh Vino yang mengenakan kaos bertuliskan ‘Qodrat’, judul film terbarunya yang siap beredar di bioskop akhir Oktober tahun ini.

Unggulan FFWI XII tahun 2022 telah diumumkan secara daring melalui live streaming YouTube Wartakota Live dan BudayaSaya FFWI secara serentak tanggal 20 Oktober 2022 yang lalu. Sedangkan penganugerahan piala Gunungan FFWI XII akan digelar di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. (pik)

Bedog Arts Festival #12

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS-— Bedog Arts Festival (BAF) merupakan “ruang temu kreatif” dengan format festival seni pertunjukan yang dinaungi oleh Yayasan Banjarmili. Festival ini menjadi tempat bertemunya kreator seni, pemerhati kebudayaan, pelaku bisnis, masyarakat, dan para pemangku kepentingan. Pertemuan ini terwujud melalui berbagai kegiatan kreatif yang berkaitan dengan masalah lingkungan,  seni/budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Terselenggara pertama kali pada tahun 2007 dan hingga saat ini terselenggara yang ke 12 kali.

Pada akhir tahun lalu, Bedog Arts Festival kehilangan pendiri sekaligus Direktur, bapak Martinus Miroto yang meninggal pada 31 Desember 2021 dalam usia 63 tahun. Beliau tidak hanya meninggalkan istri dan kedua putera, namun juga meninggalkan warisan ruang kreatif yaitu Studio Banjarmili dan Bedog Arts Festival. Walaupun Direktur Bedog Arts Festival telah berpulang ke Sang Pencipta, akan tetapi spirit beliau menggerakkan istri, putera, dan teman-teman di sekeliling beliau untuk merancang Bedog Arts Festival ke 12 tahun 2022.

Yayasan Banjarmili yang menaungi Studio Banjarmili dan Bedog Arts Festival sepakat bahwa istri alm. Miroto, yaitu Ibu Yuli Miroto (Tri Yuliyanti Setyasari) yang akan mengantikan alm. Miroto menjadi Direktur Bedog Arts Festival yang ke 12 tahun 2022 agar spirit kekaryaan dan teladan hidup tokoh Martinus Miroto dapat semakin dikenal dan terus hidup. Tidak hanya di kalangan pelaku seni namun juga masyarakat secara luas; Sehingga api semangat hidup dan kekaryaan sang maestro tari dapat diwarisi dan diteruskan oleh generasi berikutnya.

BAF #12 mengusung tema “Memayu Hayuning Sukma” – Tribute To Miroto yang dapat dimaknai sebagai bentuk lelaku untuk mengabdikan sekaligus memberikan penghormatan kepada jiwa seseorang atas jasa dan pelayanan yang diberikan selama hidup. Karya-karya yang ditampilkan pada BAF #12 adalah karya cipta alm. Miroto yang dikreasi untuk Festival di Eropa dan Jepang, diselenggarakan pada hari Minggu, 23 Oktober 2022, pukul 19.30 WIB di indoor space Studio Banjarmili. Melalui berbagai pertimbangan, BAF #12 belum bisa diselenggarakan di outdoor space Studio Banjarmili walaupun unsur artistik berupa setting alam dengan ratusan senthir tetap dilakukan. Untuk penonton yang tidak mendapatkan tempat duduk maka dapat menyaksikan pada siaran tunda BAF#12 pada hari Selasa 25, Oktober 2022, pukul 20.00 WIB  di youtube channel Bedog Arts Festival.

Karya-karya alm. Miroto yang akan ditampilkan dalam BAF # 12 antara lain “Dancing Shadows”, sebuah karya yang diciptakan tahun 2002 untuk Festival di Belanda, Belgia, dan Jerman dengan penari yang masih sama saat itu yaitu Agung Gunawan, Mugiyono Kasido, Anter Asmarateja, dan Sudiharto, dengan pemusik Eko PT Wibowo.

Karya lainnya adalah “Rites Of Revival” yang diciptakan pada tahun 2018 untuk Festival di Jepang dalam rangka memperingati kejadian Tsunami di Jepang dengan penari yang masih sama yaitu Widi Pramono, Anang Wahyu, Irwanda Putra, dan Bima Arya, pemusik Sambung Penumbra.

Selanjutnya dengan tema air akan tampil karya Dr. Memet Chairul Slamet yang berjudul “Air Mata Air”, merupakan karya kolaborasi dengan alm. Miroto pada tahun 2019 yang ditampilkan di PostFest, Surakarta dengan mengusung isu pencemaran air.

Kemudian mengingat alm. Miroto sangat dekat dengan anak-anak, maka akan tampil pula kelompok dolanan anak dari Sanggar Dolanan Bocah Gayeng Regeng dari Kabupaten Sleman. Tidak ketinggalan pula puteri alm. Miroto, Bunga Seouli akan mengekspresikan kerinduan kepada ayahnya melaui ekspresi tubuh, sebuah karya tari yang diarahkan oleh murid alm. Miroto, Maharani Ayuk Listyaningrum dengan judul “Talk to the Moon”, pemusik oleh Setyaji Dewanto.

Pertunjukan karya alm. Miroto dalam BAF # 12 ditutup dengan “Umbul Donga”, sebuah ekspresi doa untuk sukma alm. Miroto oleh seniman- seniman senior dari Yogyakarta dan Surakarta diantaranya adalah Prof. Y. Sumandiyo Hadi, Dr. Ni Nyoman Sudewi, Dra. Setyastuti, M.Sn., dan Dr. Darmawan Dadijono (seniman-seniman tari dari Yogyakarta), Wahyu Santoso Prabowo, S. Kar. M.S., Dr. Dr. Eko Supriyanto, M.F.A., Dr. Silvister Pamardi, S. Kar. M.Hum., Dr. Daryono, S. Kar. M. Hum., Hari Genduk Mulyanto, Djarot B. Darsono, Nuryanto, S.Kar. M.Sn., Mugiyono Kasido, dan Ting Sahita (seniman-seniman tari dari Surakarta).***/pr

CRAZY STUPID LOVE: Bangun dari Hiatus Sang Pejuang Cinta

JAYAKARTA NEWS – Siapa yang crazy? Siapa yang stupid? Dalam film ‘Crazy Stupid Love’ yang disutradarai M Ainun Ridho, berkisah tentang karakter-karakter yang berjuang dalam menghadapi tantangan hidup sekaligus dalam mencari cinta.

Sang pejuang cinta Surya, bisa melakukan hal konyol dan nekad. Dalam istilah kekinian, sang tokoh utama ini dianggap bucin alias budak cinta. Surya orangnya seru, banyak hal unik bisa dilakukan. Anak muda yang menyikapi hidupnya dengan kebodohan. Namun, siapa sangka, pada akhirnya bisa menjadi sesuatu yang berarti.

Plot cerita dalam film komedi romantis ini jadi menarik. Lantaran ada sosok-sosok lain di lingkaran kehidupan sang Romeo dan gadis pujaan hati.

Ada si cantik Mayang yang mencintai Surya. Ada pula sosok Jaka, pria beristeri yang ganteng dan membuat Asti jatuh cinta. Asti adalah cewek cuek yang dikejar-kejar Surya.

Memang, cinta selalu menemukan jalannya. Tetapi, apakah sang pejuang cinta bakal meraih kebahagiaan sejati, meski harus melalui jalan tak biasa ?

Bagaimana tatkala harus menghadapi tuntutan orang tua tentang nilai-nilai mencari pasangan hidup ? Kali ini  sang Romeo  seperti ‘bangun dari hiatus’ (celah) dan apa yang terjadi pada Surya  Asti, Mayang, Jaka dan lainnya bisa menjadi cermin kita.

Kegilaan dan kebodohan dalam hidup. Siapa yang paling gokil  di film ini ? Temukan cermin itu dalam film ‘Crazy Stupid Love’. Dan endingnya, kita semua tertawa bareng.

Film produksi Screenmedia Films ini sangat mencuat kekuatan cerita dan pengarahan bintang-bintangnya dari berbagai rentang usia. Ada Dimas Anggara, Susan Sameh, Chicco Kurniawan, Ibnu Jamil, Ira Maya Sopha, Tyo Pakusadewo, Tania Ayu, Ayu Dyah Pasha, Epy Kusnendar, dan masih banyak lagi.

“Skenario ditulis Jujur Prananto. Harapan saya film drama berbumbu komedi ini bisa diterima penonton,” papar Sukhdev Singh, produser film ini. Syuting digelar di Jakarta, Bali dan Jogjakarta. (pik)

Pekerja Film Sudah Harus Memiliki Standar Acuan Perlindungan Hukum

JAYAKARTA NEWS – Banyak  pekerja film belakangan tidak mendapat kepastian perjalanan hukum. Kemalsyah Siregar sebagai pakar hukum perburuhan mengemukakan hal tersebut dalam webinar sesi IV Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2022 yang digelar secara Zoom, baru-baru ini.

Mengusung tema ‘perlindungan hukum bagi pekerja film’, Kemalsyah Siregar mengemukakan bahwa sudah seharusnya pekerja film mendapat perlindungan hukum. “Dengan kata lain, harus ada warning system,” ujar Kemalsyah Siregar.

Dikatakannya, ada dua aspek dalam hal ini, yaitu hak kekayaan intelektual seperti Hak Cipta dan sebagainya dan aspek kedua adalah perlindungan hukum terhadap diri sendiri. “Aspek pertama diluar bidang saya. Dan saya hanya mengungkapkan perlindungan hukum bagi pekerja film,” imbuh pengacara yang banyak mengurus perlindungan hukum tenaga kerja di sejumlah perusahaan besar ini. “Idealnya, perjanjian kerja yang pas dan sesuai dituangkan dalam surat kontrak dan waktunya hanya tujuh jam sehari atau 40 jam dalam 6 hari kerja,” tandas Kemalsyah Siregar.

Ihwal lembur, harus sesuai dengan UU Perburuan. Segendang sepenarian  dengan Niniek L Karim selaku psikolog sosial lulusan Universitas Indonesia. “Saya acap mendapati soal jam kerja yang tidak sesuai dengan upah yang diterima pekerja film. Ini seperti kerja rodi,” lontar Niniek L Karim. “Ada pekerja figuran yang bekerjs dari subuh ke subuh lagi hanya diberi honor yang kurang pantas,” timpal Niniek L Karim yang juga aktris teater dan film.

Sedangkan sutradara Hadrah Daeng Ratu dalam paparannya berpendapat, perlindungan hukum bagi pekerja film lebih ke kontrak kerja. “Sering terjadi yang tanda tangan chief-chiefnya dan tidak semua kru teken. Semua chief di surat kontrak ditulis dan ini berlaku untuk semua kru bawahan juga. Dan ini dilindungi secara hukum,” ungkap Hadrah Daeng Ratu yang baru saja merampungkan sebuah film horor.

Menurutnya, hal normal para pekerja film bekerja tidak lebih dari 14 jam. “Kalau bekerja 20 jam sehari bisa terjadi sakit dan dampaknya banyak, bisa pulang larut malam dan ini berbahaya di jalan,” jelas Hadrah Daeng Ratu.

Ihwal terjadi pembatalan dan pemunduran syuting, ini sepihak dan pekerja tidak ada kompensasi apa pun. Padahal seharusnya ada,” urainya lagi. “Melihat persoalan ini, harus dikampanyekan  lagi agar ada kesadaran kontrak kerja antara kru dan pemilik rumah produksi,” pungkas Hadrah Daeng Ratu dalam webinar yang dibuka oleh Direktur Perfilman, Musik dan Media Kemdikbud Ristek Ahmad Mahendra  ini. (pik)

Papandayan Jazz Festival Digelar di Bandung

JAYAKARTA NEWS – Lagi-lagi jazz. Setelah Java Jazz, Prambanan Jazz, Solo City Jazz, kini Bandung tak ketinggalan. Setelah sukses menyuguhkan The Papandayan Jazz Festival (TPJF) selama delapan terakhir, tahun ini TPJF kembali dihelat di Hotel Papandayan Bandung tanggal 28 dan 29 Oktober 2022.

Konsepnya tahun ini lebih menarik, dan puluhan musisi tanah air akan tampil di empat stage “Pada empat stage yang tersedia, line up yang unjuk diri adalah Rendy Pandugo, Rizky Febian, Teddy Aditya, Dwiki Darmawan, Cakra Khan, Oela Pattiselano, Agis Kania, The Groove & Rieka Roslan, Andre Dinuth  Kuba Skovronski, dan pemenang-pemenang TPJF 2021 dan masih banyak yang lainnya,” kata Bobby Renaldi, founder TP Jazz Management kepada penulis, baru-baru ini.

Juga ada acara lain seperti music clinic, jazx session, jazz talk, tribute to Donny Suhendra dan Pasar Jazz yang menghadirkan booth UMKM Bandung. “Pasar Jazz adalah bentuk dari kepedulian dan dukungan  TP Jazz kepada UMKM khususnya di industri food beverage dan handycraft di Bandung,” imbuh Bobby Renaldi.

TP Jazz kali ini diselenggarakan oleh The Papandayan Bandung dan Media Group sejak tahun 2013. Sederet nama musisi jazz ternama baik nasional maupun internasional telah tampil di TPJF yang dideklarasikan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil sebagai ‘The address of Jazz in Bandung’.  

TP Jazz memiliki filosofi pemikiran dan semangat guna memfasilitasi dan mengembangkan potensi jazz di kota kembang Bandung yang diharapkan dapat mendorong Bandung sebagai produsen musisi dan kelompok musik andal yang akhirnya dapat mengharumkan nama Indonesia pada tahap internasional. (pik)