Christine Hakim Muncul di The Last of Us

JAYAKARTA NEWS – Penayangan serial The Last Of Us di HBO GO sukses mencuri perhatian publik Indonesia. Tak hanya diperankan oleh aktor Hollywood ternama seperti Pedro Pascal, ada juga aktris kawakan asal Indonesia, Christine Hakim.

Christine Hakim muncul di sebuah video promo alias trailer singkat episode 2. Ia terlihat sekilas sebagai seorang ilmuwan wanita.

The Last of Us mengangkat tema virus yang membuat makhluk hidup bermutasi menjadi zombi. The Last of Us terjadi 20 tahun setelah peradaban modern dihancurkan. Joel, seorang penyintas yang tangguh, disewa untuk menyelundupkan Ellie, gadis berusia 14 tahun, keluar dari zona karantina yang menindas.

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan kecil segera menjadi perjalanan yang brutal dan memilukan, karena mereka harus melintasi Amerika dan bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup

Film seri ini dibintangi oleh Pedro Pascal (Joel) dan Bella Ramsey (Ellie). Lalu Gabriel Luna sebagai adik laki-laki Joel dan mantan tentara yang bernama Tommy, Merle Dandridge sebagai pemimpin perlawanan Marlene, serta Anna Torv sebagai Tess, seorang penyelundup dan sesama penyintas yang tangguh.

Sebagai bintang tamu serial ini ada Nico Parker, Murray Bartlett, Nick Offerman, Storm Reid, Jeffrey Pierce, serta Lamar Johnson sebagai Henry dan Keivon Woodard sebagai Sam.

Lalu ada Graham Greene sebagai Marlon dan Elaine Miles sebagai Florence, pasangan suami istri yang bertahan hidup sendirian di belantara Wyoming pasca-apokaliptik.

Serial ini ditulis serta diproduksi secara eksekutif oleh Craig Mazin dan Neil Druckmann dari franchise video game The Last of Us dan Uncharted.

Sementara Carolyn Strauss menduduki posisi produser eksekutif bersama Evan Wells dari pengembang game asli, Naughty Dog, serta Asad Qizilbash dan Carter Swan dari PlayStation Productions. (Pik)

Adagium, Kisah Pelik Seorang Wanita

JAYAKARTA NEWS – Cerita di mulai dari Alenda yang memiliki dua orang sahabat pria yakni Arga dan Bian. Mereka bertiga sudah menjalin pertemanan sejak kecil hingga dewasa. Setiap hari mereka bertemu setiap hari dan melakukan kegiatan yang membuat persahabatan makin erat. Namun ketika lulus SMA, mereka bertiga harus menjalani kehidupan masing-masing.

Alenda memilih kuliah di jurusan programming dan Arga jurusan hukum. Mereka berdua masuk di perguruan tinggi yang sama dan semakin sering bertemu. Sementara Bian harus mengubur cita-citanya sebagai pelukis dan memilih jadi pekerja ojek online. Karena biaya yang tak mencukupi membuat Bian harus merelakan keinginannya menjadi pelukis.

Suatu ketika Bian dan Alenda menjalin kasih dan hal itu membuat Arga kecewa. Persahabatan mereka bertiga runtuh hanya karena perasaaan cinta. Arga pun mencoba untuk melupakan dua sahabatnya karena sakit hati. Karena biaya yang tak mencukupi membuat Bian harus merelakan keinginannya menjadi penulis.

Penata musik dan pemain Adagium. ( foto Sri )

Akhirnya Bian dan Alenda menjalin kasih dan hal itu membuat Arga kecewa. Persahabatan mereka bertiga runtuh hanya karena perasaaan cinta. Arga pun mencoba untuk melupakan dua sahabatnya karena sakit hati. Ternyata Arga menyimpan perasaan dengan Alenda yang menjadi sahabatnya.

Ia pun mencoba untuk mengalihkan fokus dengan memutuskan untuk masuk kesatuan Tentara Nasional Indonesia. Kehidupan Arga pun disibukkan dengan kegitan militer yang setiap hari menguras fisik. Hal itu pun membuat Arga sedikit melupakan pikirannya terhadap Alenda.

Sementara Alenda berhasil menjadi seorang perempuan yang lihai mengotak-ngatik kode di komputer alias program. Perjalanan hidup ketiga sahabat ini ternyata baru dimulai.

Kisah cinta bukanlah konflik utama dari film Adagium ini. Di balik Alenda yang ahli programming ternyata menyimpan rahasia yang besar. Bahkan melibatkan negara atas rahasia yang disimpan Alenda. Tentunya keamanan negara menjadi jaminan akibat ulah Alenda.

Sebagai programer ternyata Alenda dimanfaatkan pihak musuh dari negara asing untuk menghancurkan Indonesia. Alenda pun menjadi buronan karena keahliahan programingnya.

Pada masalah tersebut, Arga selaku anggota TNI harus terlibat dalam urusan Alenda. Ia ikut melakukan penyelidikan atas kasus Alenda. Sementara Bian mengetahui masalah yang dialami sahabatnya itu.

Di tangan sutradara Rizal Mantovani, film Adagium banyak dibintangi pelakon top, seperti Jihane Almira, Pangeran Lantang, Angga Asyafriena, Teuku Rifnu Wikana  dan seabreg pelakon lain, cerita mengalir lancar. Diproduseri Irving Artemas, film ini akan main di skhir Januari 2023. (Pik)

AUTOBIOGRAPHY – Jejak Militerisme Penuh Kekejaman

JAYAKARTA NEWS – Film ‘Autobiograph produksi Kawankawan Media ini mempersembahkan masalah kekejaman dan kekejian yang struktural, turun temurun. Hubungan kekuasaan yang brutal dan sadis masih menghinggapi otak seorang pensiunan jenderal yang purnatugas.

“Jejak militerisme pasca Orde Baru masih punya power yang cukup kuat. Primus itu yang saya kemukakan dalam film cerita perdana ini,” kata Makbul Mubarak, sutradara Autobiography, kepada penulis  baru-baru ini. Nilai-nilai kekuasaan yang sudah bobrok dan usang yang sudah dihapus pasca reformasi ternyata hendak dibangkitkan kembali lewat bedil dan kebohongan internal.

Bercerita tentang sosok Rakib (diperankan secara cemerlang oleh Kevin Ardilova) yang bekerja di sebuah rumah kosong milik Purna, Jenderal tua purnatugas (Arswendy Bening Swara).  Rakib melanjutkan titah ayahnya (yang dipenjara) dan keluarganya yang telah mengabdi secara turun temurun.

Dengan pemikiran yang otorian, Purna kembali ke desanya untuk memulai kampanye bupati. Rakib terikat dengan lelaki tua itu yang menjadi mentor dekat dari figur ayahnya. Boleh dikata Rakib adalah asisten spesial dalam pekerjaan dan kehidupan Purna.

Lewat kekejian yang sangat kotor, rantai kekerasan yang panjang mulai meningkat.

“Ini tafsir saya selaku generasi baru atas riwayat panjang kekuasaan yang dibangun lewat kekerasan di republik ini. Ironisnya, Rakib di ujung cerita juga berlaku balas dendam, meneruskan pembunuhan sampai mati kepada boss nya, Jenderal Purna. Rakib menuntut balas atas kematian sahabatnya, Agus, yang ditembak mati di rumah kosong itu,” lontar Makbul Mubarak.

“Kib, tembak mati saya dari depan. Bukan dari belakang,”  teriak Purna yang mengajarkan cara menembak dengan senapan kepada Rakib.

Kebohongan dan kebengisan lain mencuat tatkala Purna diam-diam mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Agus yang dihabisi oleh dirinya. Adegan penuh kepura-puraan, kesantunan dan kekejian ini sukses ditampilkan Arswendy Bening Swara dengan apik. Tanpa dialog berpanjang-panjang, hanya gesture dan improvisasi yang memukau dari Arswendy pas dan berhasil membetot nurani penonton.

Tanpa penerangan listrikdan hanya genset yang dihidupkan, syuting film dikhususkan di sebuah desa terpencil dari kota di Jawa Timur selama 43 hari. Dari lohor ke menjelang magrib, para pelakon benar-benar memerankan tokoh-tokohnya di panas udara yang menyengat.

“Saya menginginkan keringat yang riil di terik matahari. Biar tubuh bermain dengan sendirinya,” pesan Makbul Mubarak polos, berfalsafah.

Selain Kevin Ardilova dan Arswendy Bening Swara, film ini juga disesaki sederet pemain berbakat yang seluruhnya lelaki, seperti Lukman Sardi, Yusuf Mahardika, Rukman Rosadi, Yudi Ahmad Tajudin, Haru Sandra dan Gunawan Maryanto (almarhum).

Sebuah film yang patut direnungkan ini melibatkan tujuh negara (Polandia, Perancis, Singapura, Jerman  Qatar, Filipina dan Indonesia) yang berkolaborasi dalam hal pendanaan, dan juga di ranah artistik. Beberapa kru  berasal dari luar Indonesia, diantaranya pengarah sinematografi Wojciech Staoh dari Polandia, penyunting film Carlo Franclsco Manatad asal Filipina dan penyunting suara Remy Couze dari Perancis.

Setelah beberapa penghargaan digaet lewat Festival Film di Venice Toronto,,Taipei, Maroko, Stockholm, JAFF Netpac dan beberapa penghargaan lain dari dalam negeri seperti FFI dan FF Tempo, akhirnya Autobiography bisa diputar di negaranya sendiri, Indonesia.

Tabik ! (pik)

Musikal KEN DEDES – Perebutan Kekuasaan, Pembunuhan, dan Misteri

JAYAKARTA NEWS – Dua tahun prei, kini Ciputra Artpreneur Jakarta akan menyuguhkan musikal ‘Ken Dedes’ oleh EKI Dance Company yang akan dihelat 18 dan 19 Maret 2023 mendatang. Disutradarai Rusdy Rukmarata dan koreografer, Titien Wattimena penulis naskah, Oni Krisnewinto penata musik dan Iskandar Loedin penata artistik.

“Tantangan menggarap musikal ini adalah bagaimana menyajikan kisah sejarah yang tetap relevan, namun masih aktual untuk penonton masa kini,” ujar Rusdy Rukmarata kepada penulis, baru-baru ini.

Setali tiga uang janji Titien Wattimena yang mengatakan bahwa musikal Ken Dedes yang ditulisnya jarang ditampilkan oleh berbagai versi yang pernah ada. “Ada perebutan kekuasaan, pembunuhan dan tentu misteri. Tapi ada juga komedinya,” kata Titien yang menambahkan, sejarah Ken Dedes dan Ken Arok di Kerajaan Singasari penuh darah dan pembunuhan terus menerus oleh keris Empu Gandring.

“Ini menjadi peringatan bagi generasi muda di negara kita, pembunuhan dan perebutan kekuasaan secara licik dan enggak benar akan berdampak buruk. Darah dibalas darah. Intrik dihantam intrik ” ungkap Titien.

Beberapa penari dan pelakon musikal terkenal dari EKI Dance Company yang berjumlah sekitar 70an orang skan unjuk diri. Mereka adalah Ara Ajisiwi sebagai Ken Dedes, Taufan Purbo (Ken Arok)  Nala Amyrtha (Ken Umang), Uli Herdi (Tunggul Ametung), Fatih Unru (Anusapati), Geraldo Tanor (Tohjaya) dan Nino Prabowo (Kebo Ijo).

Ara sebagai Ken Dedes. Taufan sebagai Ken Arok, Nala sebagai Ken Umang. ( foto-foto: Iwan S )

Kenapa musikal ?

“Saat ini, musikal telah jadi pertunjukan yang trend dan digemari masyarakat. Ken Dedes hadir bukan sekedar untuk meramaikan, tapi berusaha memberikan warna tersendiri bagi dunia hiburan Indonesia,” tutur Aiko Senosoenoto.

Tahun ini, EKI Dance Company yang berusia 25 tahun telah banyak menghasilkan karya tari dan puluhan karya musikal. EKI menerapkan sistem para penari tinggal di asrama. Anggotanya rutin mendapatkan modern ballet, jazz kontemporer, etnik, hiphop, tari tradisional, teater, vokal serta kelas penunjang seperti etika, bahasa Inggris dan pelajaran lain.

Tepat kiranya EKI tahun ini mementaskan musikal Ken Dedes. Seorang wanita yang sangat berpengaruh dalam sejarah Nusantara. (pik)

HIDAYAH – Bekas Napi jadi Ustad

JAYAKARTA NEWS – Hidayah artinya petunjuk jalan menuju kemenangan di sisi Allah SWT. Ustad muda Bahri membawa perjalanan kehidupan religinya di pondok pesantren di Desa Mekarwangi. Ia ingin mengubur masa silamnya yang kelam sebagai bekas napi.

Sebenanya Bahri sudah pindah ke kota. Namun, suatu hari, ia ditemui sobat baiknya, Hasan agar Bahri mengungkapkan keganjilan dan hal-hal yang tak beres yang terjadi di Desa Mekarwangi. Warga desa belakangan selalu diganggu sosok gaib bernama Ratna, sehingga warga tidak tentram dan aman.

Saat Bahri kembali ke Mekarwangi, Ratna sedang sakit keras dan ketika ia kesakitan, Ratna berteriak. Horor meneror warga desa. Hingga Ratna meninggal, horor mencekam masih menghantui warga pesantren. Hal ini terjadi karena tabiat buruknya semasa hidup.

Beberapa penduduk desa yang sejak semula tak menginginkan Bahri kembali ke desanya, menuding kedatangan Bahri selalu membawa masalah.

“Ini horor berkonsep klasik. Basicnya ketika azab seseorang yang melenceng dari jalan Allah,” ujar sutradara Hidayah, Monty Tiwa kepada penulis.

“Saya hati-hati menggarap Hidayah. Film ini punya nilai yang enggak diketahui penonton. Jadi saya harus cermat memvisualkan karakter tokoh-tokohnya. Plot juga menggiring saya agar saya berulang-ulang membaca dan mengeceknya di kitab suci Al Quran,” papar Monty Tiwa yang menambahkan, cerita Hidayah berasal dari sinetron religi yang pernah dibuatnya tahun 2005-2007.

Manoj Punjabi

Pemeran utama Bahri adalah Ajil Ditto, 21 tahun yang namanya sedang meroket sebagai model, penyanyi boy band Super 7 dan pelakon. “Selama syuting, saya terus didampingi seorang ahli agama yang mengajarkan doa-doa yang diambil dari Al Quran. Agar pelafalan bahasa Arab saya benar dan enggak melenceng,” tutur Ajil Ditto yang bernama lengkap Muhammad Fazzill Alditto.

Pemain lain adalah Alif Joerg, Dewi Yull, Givina Lukita, Revaldo, Unique Priscilla, Fanny Ghassani, Joshua Pandelaki dll.

Produksi Pichouse Film dan Clockworks Films berdurasi 92 menit ini diakurasi untuk 13 tahun ke atas. Ceritanya ditulis Baskoro Adi dan diproduseri Rajesh Punjabi dan Manoj Punjabi. “Film ini semula akan tayang 20 Oktober 2022, kemudian diundur 12 Januari 2023. Semoga berkenan di hati penonton khusus pencinta horor religi,” ucap Manoj Punjabi optimistis. (pik)

Anak Titipan Setan – Kontrak Darah dengan Penguasa Kegelapan

JAYAKARTA NEWS – Banyak orang melakukan jalan pintas melalui persekutuan dengan setan agar menjadi kaya raya (pesugihan). Ilmu pesugihan Jaran Penoleh di daerah Solo-Magetan masih terjadi. Satu cara pesugihan dengan tumbal berat yaitu menumbalkan keluarga atau anak cucunya setiap 10 tahun sekali.

“Ketika saya liputan di Jawa Tengah 1994-1995, ada beberapa orang melakukan pesugihan dengan perjanjian dengan Jaran Penoleh,” ujar Erwin Arnada, mantan wartawan Bintang Milenia yang kini jadi sutradara dan penulis skenario film ‘Anak Titipan Setan’.

Film produksi Jaman Studio. Maxstream, MediaHub dan Perum Produksi Film Nrgara (PFN) ini dikatakan Dwi Heriyanto B selaku Dirut PFN, mempunyai pesan bahwa pesugihan dengan bersekutu dengan penguasa kegelapan in tidak benar dan menyimpang dari norma agama.

“Film horor juga bisa memacu adrenalin penonton. Trend ini sedang in di masyarakat, kita buat film horor, asal ada misi dan pesannya,” urai Dwi Heriyanto.

“Kolaborasi antara PFN dengan Maxstream adalah titik awal dari tahap transisi PFN yang dulu memproduksi film (seperti Si Unyil, G 30 S/PKI) dan kini jadi suatu lembaga negara pembiayaan film. Harapannya ekosistem perfilman di Indonesia dapat  semakin maju dalam memberikan kontribusi di dunia hiburan, pendidikan, budaya dan sosial bagi masyarakat Indonesia,” tutur Dwi Heriyanto.

Film ini bercerita mengenai Putri yang harus kembali ke kampung halamannya setelah tahu ibunya jatuh sakit. Putri yang membawa anaknya menemui kenyataan bahwa sang ibu, Susana, telah bersekutu dengan iblis Jaran Penoleh.

Putri mau tak mau harus mengungkap misteri keluarga ini sebelum terjadi masalah yang lebih besar. Bagaimana cara Putri mengungkap misteri tersebut dan apakah ia mampu menyelesaikan perjanjian dengan Jaran Penoleh?

‘Anak Titipan Setan’ juga merupakan kembalinya sktris Gisella Anastasia ke dunia film, setelah cukup lama tersandung kasus video porno. “Ini merupakan kesempatan luar biasa lagi, karena pasti betmain drama akan berbeda dengan film horor. Apalagi aku di film ini bisa bermain dengan lawan main yang lebih berpengalaman ” ucap Gisel

Selain Gisel, juga ikut bermain sekeranjang artis top dan dari Jogjakarta, diantaranya Ingrid Widjanarko  Annisa Hertami,  Ibnu Gundul, Soeyik, Nano Asmorodono dan memperkenalkan pemain cilik Gabriel Bifolaru.

Menghabiskan waktu pengambilan gambar 17 hari di sebuah desa kecil bernama Desa Minggir  di pinggiran kota Jogjakarta, di daerah cagar budaya rumah joglo  yang dibangun sejak tahun 1980an.

‘Anak Titipan Setan’ bakal menakuti penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 12 Januari 2023. (pik)

Puisi Cinta yang Membunuh – Intrik, Puitik, Teror dan Horor

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Garin Nugroho membuat film horor ? “Ini adalah film horor pertama saya. Judulnya ‘Puisi Cinta Yang Membunuh,” ujar Garin Nugroho kepada penulis, baru-baru ini.

“Inspirasi dari  buku puisi saya ‘Adam, Hawa dan Durian’, juga terinspirasi dari fenomena masyarakat tentang trauma healing, berbagai bentuk kekerasan ekstrim hingga mitos tenaga supernatural maupun budaya populer di komik, film hingga radio yang membawakan kiaah mistis dan horor,” urai Garin.

Dikatakannya, film ini mengandung unsur thriller dan drama karena berpusat pada perwujudan cinta manusia serta upaya manusia yang selalu memiliki trauma. Menggabungkan fenomena dunia tak terlihat dan terlihat serta aspek rasional dan mistik yang hidup dan menghidupi masyarakat Indonesia.

“Kisah horor ini merepresentasikan tentang tenaga supernatural pada tubuh manusia dan kekerasan yang menjadi sumber dari teror dan horor hidup manusia,” imbuh Garin.

Azhar Kinoi Lubis selaku Co Sutradara mengungkapkan film produksi Starvision ini bisa menjadi salah satu warna baru dalam memperkaya genre film horor Indonesia. Style-nya berbeda dengan film horor yang banyak beredar di Indonesia. Cara bercerita yang berbeda nuansa horornya.

“Memegang kuat makna dari setiap kata-kata puisi yang tertulis dalam buku ‘Adam, Hawa dan Durian’. Terkadang kengerian dan teror dalam hidup kita bukan hanya karena sosok yang menakutkan saja, namun bisa hadir dalam bentuk ketraumaan hingga nengganggu psikis kita sendiri yang muncul dari karakternya,” beber Azhar Kinoi Lubis.

Sedangkan produser Ir Chand Parwez Servia mengatakan pihaknya begitu antusias untuk terlibat dalam karya Garin ini. “Ada teror, horor dan slasher tetapi tetap indah, puitik, intrik, romantik dan penuh twist yang mencekam,” timpal Chand Parwez Servia.

‘Puisi Cinta Yang Membunuh’ mendapat  undangan dari berbagai festival diantaranya International Film Festival Rotterdam dalam sesi World Premiere dan World Premiere di Jogja – Netpac Asian Film Festival dan sold out.

Sejak penulisan script sudah menemukan pemeran utamanya adalah Mawar de Jongh sebagai Ranum yang perjalanan hidupnya penuh horor. Pemain lainnya adalah Baskara Mahendra, Morgan Oey, Raihaanun, Ayu Laksmi, Kelly Tandiono, Unique Priscilla, Isabel Jahja, Yayu Unru, Messi Gusti dll.

“Film memberikan kebebasan ekspresi dan demokratis. Saat politik dan ekonomi enggak bisa mencuatkan solusi permasalahan, seni dan budaya justru yang merawat dan membersihkannya,” demikian Garin Nugroho, SH yang baru menerima gelar Doktor dari ISI Surakarta. (pik)

Levi, Suka Nyanyi di Kamar Mandi, Kini Rekaman

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Namanya Levi. Singkat. Usia 20 tahun. Dari hobi nyanyi di kamar mandi dan karaoke, kini Levi bisa masuk dapur rekaman.

Single perdananya bertajuk ‘Cerita Manis’ benar-benar punya kenangan manis. Lagu ciptaan ayahnya, Lemmy R Ibrahim ini cukup singkat pengerjaannya. “Hanya 6 bulan, sampai release. Kemudian syuting video klip.

“Saya agak canggung. Grogi. Tapi semua kesulitan lewat. Apalagi papa menemani di studio. Alhamdullilah,” lontar Levi.

Selama proses rekaman, Levi menggandeng sejumlah musisi ternama, ada Dewa Budjana, Gilang Ramadhan, Happy Pretty, Iwang Noorsaid dan Shadu Rasjidi.

Debut single ini berkisah ihwal dunia  remaja. “Tapi enggak ada related dengan pengalaman saya,” timpal Levi.

Senang tarik suara sejak kecil. Kelurganya juga punya hobi sama : menyanyi. Lalu, apakah hobi ini akan terus dilanjutkan ?

“Inshaa Allah ya. Bisa rekaman impian sejak lama. Bisa kolaborasi dengan musisi kondang saja enggak terpikir,” jawab Levi tegas.

Pendatang baru di industri musik ini boleh diberi punten dan semangat. Kita sorong dengan doa ya. (pik)

Levi dan Dewa Budjana. (foto: Ria HD)

Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Difilmkan

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari adalah seorang tokoh ulama multi disiplin dari tanah Banjar. Kedalaman Ilmu agama dan Ilmu pengetahuannya mencakup aturan-aturan Fiqh maupun pengajaran ilmu Tasawuf.

Dengan kegigihannya beliau mampu mencerahkan masyarakat Banjar  dari kurangnya literasi keagamaan berbahasa Melayu saat itu. Karyanya, khususnya Sabilal Muhtadin menjadi referensi pula bagi banyak negara tetangga. Kitab ini dikenal luas di kalangan kaum muslimin di kepulauan Nusantara, dan sampai saat ini masih banyak digunakan, khususnya di Kalimantan dan Sumatera.

Billy David William Boedjanger. (foto Dudut SP)

Keahlian Ilmu Astronomi atau Ilmu Falak Syekh Arsyad saat memindahkan lokasi kiblat di salah satu masjid di Batavia serta mengukur kedalaman laut menjadi point penting dalam  film layar lebar Biopic yang menggambarkan jejak rekam sejarah ilmu pengetahuan yang dimiliki Syekh Arsyad diluar ilmu keagamaan yang dikuasainya.

Kitab Sabilal Muhtadin karya Syekh Arsyad juga tersebar hingga Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand dan Malaysia, bahkan tersimpan pula di berbagai perpustakaan besar di dunia Islam, seperti di Mekkah, Mesir, Turki dan Beirut.

Melalui kitab ini, Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari merupakan satu-satunya tokoh yang mengarang begitu luas dan sistematis di bidang fiqh dalam Bahasa Melayu.

Didasarkan atas kecintaan dan kekaguman kepada Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, maka

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan memberikan amanah kepada PT. Expressa Pariwara Media Production House untuk memfilmkan jejak kehidupan beliau yang dalam sejarahnya mampu memperkuat keagamaan Kesultanan Banjar dan kerajaan-kerajaan Islam di sekitarnya. Syekh Arsyad tercatat dalam sejarah sebagai penggaggas Mahkamah Syar’iyah yang kemudian menjadi cikal bakal Pengadilan Agama saat ini di Indonesia.

Film Feature Panjang Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari ini dimainkan hampir keseluruhan pemerannya adalah putra-putri Kalimantan Selatan diantaranya melibatkan siswa sekolah Perfilman SMKN 2 dan SMKN 3 Banjarmasin untuk ikut Magang sebagai Crew Produksi Film. Melibatkan pula beberapa Zuriyat Syekh Arsyad sendiri baik sebagai pemeran film maupun sebagai narasumber. Begitupula Jajaran Instansi Pemerintahan Kalimantan Selatan ikut memeriahkan pada beberapa adegan film.

Proses riset dilakukan untuk naskah melalui pengumpulan data literasi maupun keterangan lisan serta pembahasan materi film melalui Focus Group Discussion (FGD) antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Akademisi dari berbagai disiplin Ilmu, Zuriyat dari Syekh Arsyad yang diadakan sebanyak tiga kali guna mendapatkan informasi seakurat mungkin.

Sutradara Ensadi Joko Santoso, lulusan IKJ. (foto Toto S)

Dengan permintaan khusus dari keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari maka sosok beliau tidak ditampilkan dalam Film Biopic Islamic ini. Gaya perfilman Jean Luc Godard seorang Sineas Perancis Swiss menjadi referensi Sutradara dalam menggambarkan adegan film melalui Point Of View Sang Tokoh Utama.

Film Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari akan menampilkan pula Budaya asli dan keindahan alam Kalimantan Selatan dengan Geo Park Meratusnya diantaranya di Kawasan daerah Matang Keladan, Rian Kanan dan Loksado, serta Bumi Sholawat Kiram.

Film ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari kepada generasi  muda sehingga lebih mengenal dan mencintai sosok ulama Banjar tersebut, sebagai tokoh panutan yang mampu menjadi penyemangat bagi generasi penerus untuk mengikuti jejaknya sebagai Ulama, ataupun menggeluti profesi lainnya dengan menghasilkan pikiran-pikiran inovatif serta mampu menjadi Problem solver di bidang keagamaan maupun Ilmu Pengetahuan Umum.

Bertindak sebagai  Produser Film Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari produksi Expressa Pariwara Media Production House adalah Chandra Purnama Restu, Sutradara Ensadi Joko Santoso dan Zulkifli Anwar, dan Penulis Skenario Irfan Wijaya

Dengan menghadirkan aktor Billy Boedjanger dan Asrul Dahlan serta Afrizal Anoda ikut memperkuat karakter Tokoh dalam film ini. Begitupula melibatkan pemain dan crew film putra – putri daerah Kalimantan Selatan seperti Yadi Muryadi, M. Syahriel dan Paman Birin (Dr. H. Sahbirin Noor, S.sos, M. H., Gubernur Kalimantan Selatan) beserta ASN Jajaran Instansi Kalimantan Selatan.

Film ini dibuat dalam waktu singkat lebih kurang memakan waktu 2 Bulan dan memakan biaya hingga 4 Milyar. (Pik)

‘ALENA, Anak Ratu Iblis’ – Horor Membuka Tahun 2023

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Tahun 2023 benar-benar Tahun Horor. Bulan Januari saja, ada 4 film horor dan thriller merajai bioskop di RI, yaitu ‘Alena, Anak Ratu Iblis’, ‘Anak Titipan Setan’, ‘Bayi Ajaib’ dan ‘Puisi Cinta Yang Membunuh’. Kamis (5/1) tahun 2023, dibuka film nasional bergenre horor berjudul ‘Alena, Anak Ratu Iblis’ yang disutradarai Sonu Samtani. Produksi perdana Arjuna Mega Film berdurasi 1 jam 37 menit ini benar-benar menyeramkan dan menegangkan.

Mistik dan horornya pas. Cerita yang ditulis Maruska Bath ini mengisahkan ihwal pasutri Hendra dan Maya yang lama tak mempunyai anak

Suatu hari, mereka menemukan seorang bayi di tengah jalan dan diadopsinya. Aneh, keluarga Hendra dan Maya setelah mengadopsi anak yang kemudian diberi nama Alena   ini, ekonominya mulai membaik. Namun, terjadi keganjilan-keganjilan yang menimpa mereka. Siapakah Alena sebenarnya?

Setelah ditelusuri, ternyata Alena bukan anak manusia, tapi anak penguasa kegelapan alias setan.

Yang berperan sebagai Alena adalah Clara Brosnan, aktris cilik yang sebelumnya bermain gemilang di film ‘Bumi Manusia’ dan trilogi ‘Kuntilanak’.

“Film Alena benar-benar menguras tenaga. Cukup sulit memerankan Alena. Bayangkan, selama take camera, mata saya enggak boleh berkedip. Kan Alena itu anak Ratu Iblis,” tutur Clara Brosnan polos kepada penulis, usai preview film Alena di Jakarta, baru-baru ini. 

Sedangkan yang jadi Ratu Iblis ditunjuk model Karenina Anderson. Pelakon lain adalah Ririn Ekawati, Wulan Guritno, Temmy Rahardian, Ali Zainal, Jerico Gowtama dan seabreg yang lain.

“Seluruh pemain berperan bagus sesuai karakternya. Enggak ada yang pakai stunt woman atau stunt man,” beber Sonu Samtani.

Khusus untuk adegan-adegan berbahaya dan menyeramkan, digunakan teknik Computer Generated Imagery (CGI) sehingga yang terlihat di hadapan mata penonton benar-benar seperti realistis. (pik)