‘Lantai 4’, Gara-Gara Tetraphobia

JAYAKARTA NEWS— Anda pernah bermalam di lantai 4 sebuah hotel atau kontrol kesehatan di lantai 4 sebuah Rumah Sakit? Bagaimana perasaannya, biasa-biasa saja atau mengalami gangguan?

Takut terhadap angka 4 atau Tetraphobia ini kerap diterapkan pihak hotel, apartemen, mal atau Rumah Sakit di negara-negara Asia yang dihuni ras Mongoloid (seperti China, Jepang, Korea, Vietnam dll).

Di negara-negara tersebut angka 4 ditiadakan dan dicoret. Alasannya, 4 dalam bahasa Mandarin berarti ‘si’ yang berarti kematian. Siapa yang berani mencantumkan angka 4 pada lantai, kamar dan mal, nasibnya akan sial dan mati.

Benarkah kepercayaan ini ?

“Kita angkat kembali mitos ini. Film ‘Lantai 4’ akan tayang di hari keramat 17 Agustus 2023,” ujar Line Producer Kreasi Jingga, Toto Soegriwo.

Kalau di Amrik dan Eropa meniadakan angka 13 (biasanya diganti 12 A) di kamar hotel, mal, Rumah Sakit dll, maka di Asia, angka 4 disetip, dihapus dan dihilangkan.

Toto Soegriwo memang pernah mengalami suasana yang mencekam dan horor ketika mendiami lantai 4 di sebuah apartemen. “Film ini enggak untuk menakuti penonton. Tapi mengingatkan agar kita waspada dan hati-hati di lantai 4,” imbuh Toto.

Alkisah, Jonathan dan Julia diterpa krisis ekonomi, usahanya selalu bangkrut. Jonathan itu keponakan Oma Lie, nenek Tionghoa yang berani menempati lantai 4 apartemen Flamboyan. Makanya Jonathan dan Julia kemudian pindah ke apartemen yang artistik ini bersama 2 anaknya: Laura dan Citra. Apalagi setelah rumahnya disita Bank.

Anehnya, lift apartemen yang naik selalu berhenti di lantai 4.

Kengerian dan ketegangan terus menghantui keluarga Jonathan dan Julia. Dan bagaimana nasib oma Lie dan siapakah Sutikem?

“Film Lantai 4 nyaris tiga tahun menggantung. Pas pandemi, semua bioskop tutup. Ketika dibuka kembali 50%, kita tahan dulu. Kala itu, banyak film dari label besar main sedangkan Lantai 4 masih antre menunggu jadwal tayang,” beber Wahyu Nugroho selaku sutradara.

“Kita ambil hikmahnya. Bersyukur kita dapat support dan turun tangannya pak Muhadjir Effendy (Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) sehingga Lantai 4 dapat tayang pas di hari keramat,” urai Wahyu Nugroho lagi yang menambahkan, Menko PMK Muhadjir Effendy juga hadir dan ikut nonton preview Lantai 4 di Epicentrum, Jakarta.

Lantai 4 dimeriahkan sederet bintang terkenal yaitu Yuki Kato, Tio Pakusadewo, Ruth Marini, Inggrid Wijanarko, Aqilla Nathaya, Nyimas Faza, Budi Bima, Yan Widjaya, Juli Wow Clarisa Violeta dan masih banyak lagi.

O ya, Lantai 4 juga didedikasikan untuk almarhum FX Purnomo dari Kreasi Jingga. “Ketika film masuk finishing, dia pergi meninggalkan kita. Dan almarhum enggak sempat nonton,” timpal Toto Soegriwo. (pik)

‘Air Mata di Ujung Sajadah’, Bersatunya Cinta dan Keikhlasan

JAYAKARTA NEWS— Di tengah kepungan film horor yang masih marak tahun ini, terselip beberapa film drama keluarga dan drama anak yang tayang di bioskop. Salah satunya adalah ‘Air Mata di Ujung Sajadah’ dari Beehave Pictures dan MBK Productions.

Film yang disutradarai Key Mangunsong ini berkisah ihwal bersatunya cinta dan keikhlasan.
Keikhlasan menjadi muara atas cinta kasih tanpa pamrih.

Kehidupan Aqilla yang menikah dengan seorang seniman tanpa direstui ibunya, Halimah. Takdir tak dapat ditolak. Sang suami meninggal karena kecelakaan sepeda motor. Aqilla kini menjadi janda.

Tatkala bayi yang dikandungnya lahir, Halimah menitipkannya kepada pasangan Arif dan Yunna yang belum dikaruniai anak tapi pasangan ini harus hengkang ke Solo. Aqilla diberitahu ibunya bahwa bayinya ketika lahir meninggal.

Tujuh tahun kemudian, anak titipan yang diberi nama Baskara (yang berarti cahaya) besar dan bersekolah. Pasutri Arif dan Yunna sangat berbahagia.

Cerita ini masih mengaduk-aduk emosi. Beralih ke Aqilla yang sedang studi di London harus cepat pulang ke Jakarta karena ibunya koma.

Sebelum mengembuskan nafas terakhir, Halimah jujur mengaku kepada Aqilla bahwa bayinya masih hidup dan dititipkan kepada pasutri Arif dan Yunna di Solo.

Akhirnya, Arif dan Yunna luluh juga melihat keakraban Aqilla dan Baskara. Bahkan, Baskara diajarkan menyanyi dan dijemput pulang dari sekolah.

Antara ibu kandung dan ibu titipan, siapakah yang berhak mengasuh Baskara ?

Hampir sepanjang pergantian adegan, dipenuhi air mata. Yang membuat keterharuan yang mengharu biru tatkala Aqilla dalam shalat nya bersimbah air mata di ujung sajadah. Ia mengadu kepada Sang Pencipta sebagai ibu kandungnya tidak boleh merawat Baskara.

Sedangkan Yunna sebagai ibu titipan yang semula mengira Aqilla ingin merebut kembali Baskara dari asuhannya juga bertahan diri: apakah sebagai ibu titipan yang selama 7 tahun mengasuh Baskara tak boleh hidup serumah dengan Baskara?

Persoalan yang cukup pelik ini bisa diselesaikan secara manis di ending antara dua ibu: kandung dan titipan. Kepada Yunna, Baskara memanggilnya ibu. Sedangkan kepada Aqilla, Baskara menyapanya : mama.

“Skenario awal yang ditulis Titien Wattimena dirampungkan hampir 5 tahun. Bongkar sana bongkar sini,” aku sutradara Key Mangunsong.

Produser Ronny Irawan dibantu Nafa Urbach (ini pertama Nafa jadi produser) memaparkan hampir keseluruhan cerita berlokasi di Solo.”Solo obyek wisatanya variatif dan beraneka. Kita syuting pertama di Taman Primata di Solo,” beber Ronny Irawan.

Barisan artis yang sangat kuat seni perannya memperindah artistik film ini, yaitu Titi Kamal, Fedi Nuril, Citra Kirana, Tutie Kirana, Jenny Rahman, Krisjiana Baharudin dan Faqih Alaydrus. Ikut memperkuat di sisi musik yaitu Yuni Shara yang melantunkan lagu ‘Sepi’ dan Fadhilah Intan yang menyenandungkan lagu ‘Dawai’.

Irama sentimental dan melankolis yang mengiringi bersatunya cinta dan keikhlasan dalam film ‘Air Mata di Ujung Sajadah’ ini bakal menghiasi gedung bioskop seluruh Indonesia, 7 September 2023. (pik)

Gangsadewa Tampil Lagi Setelah Covid

JAYAKARTA NEWS— Festival Bhumi Atsanti (FBA) digagas dan diselenggarakan oleh Yayasan Atma Nusvantara Jati atau Atsanti Foundation, bertempat di Bhumi Atsanti, dusun Bumi Segoro, Desa Borobudur, Magelang, sebagai wujud konkrit kepedulian bersama dalam upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan bangsa.

Festival Bhumi Atsanti (FBA) pada tanggal 12-13 Agustus 2023 merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya, mengambil tema “Gema Mahardika”. Festival Bhumi Atsanti pertama, diadakan pada bulan Maret 2023, dengan tema “Irama Bhumi”.

Menurut M.F. Nilo Wardhani, Ketua Atsanti Foundation, Festival Bhumi Atsanti (FBA) secara khusus merupakan aktualisasi dari misi Atsanti Foundation untuk menjadi “jembatan, wahana dan wadah” sekaligus menghadirkan Bhumi Atsanti di dusun Bumi Segoro, Borobudur sebagai “rumah, ruang, rasa” bagi pelaku seni budaya, komunitas, sanggar, sekolah, kampus serta berbagai institusi untuk bergotong royong dan bersinergi dalam membangun ekosistem kebudayaan yang kondusif bagi tumbuhnya ruang-ruang kreasi, ekspresi dan srawung bagi para pelaku, pemerhati dan penikmat ragam seni budaya nusantara yang melibatkan lintas generasi.

Dengan dasar ini, Festival Bhumi Atsanti II yang akan dibuka pada tanggal 12 Agustus 2023 pukul 19.00 WIB oleh Bupati Magelang Bapak Zaenal Arifin, S.IP menampilkan berbagai bentuk seni budaya antara lain tari, musik, teater, live painting dan lain sebagainya, baik yang berupa kesenian rakyat, tradisi maupun modern serta membuka ruang bagi karya inovatif kekinian dari berbagai kalangan baik yang berasal dari kawasan Borobudur, lereng dan gunung di sekitar Magelang, maupun dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Tema “Gema Mahardika” yang menjadi nyawa di Festival Bhumi Atsanti II kali ini diambil dari 3 hari besar yang diperingati di bulan Agustus, yaitu Hari Masyarakat Adat Internasional yang diperingati pada 9 Agustus, Hari Pemuda Internasional (International Youth Day) 12 Agustus dan puncaknya adalah perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 78 pada 17 Agustus 2023.

“Gema Mahardika” berasal dari kata “Gema” yang berarti gaung dan “Mahardika” dapat  diartikan sebagai yang berbudi luhur, makmur, dan bijaksana.

Kedua kata ini kami gabungkan menjadi sebuah tagline yang mengandung makna dan harapan bahwa Festival Bhumi Atsanti, melalui berbagai kegiatan di dalamnya, dapat menjadi wadah bagi banyak orang dan terus menciptakan gaung-gaung berbudi luhur yang kuat dan menginspirasi, terutama untuk pelestarian kebudayaan dan nilai-nilai luhur Nusantara.

Dalam konteks perayaan Kemerdekaan RI ke 78, Atsanti Foundation ingin agar Festival Bhumi Atsanti dapat menjadi wujud konkret kemerdekaan bagi generasi muda Indonesia untuk mengekspresikan kecintaannya pada adat, tradisi dan keberagaman budaya Nusantara tanpa halangan apapun. Ekspresi seni budaya pada FBA ini merupakan bagian dari ekspresi kebangsaan dalam memperingati hari kemerdekaan RI ke 78.

Para penampil di FBA II kali ini antara lain berasal dari kawasan Borobudur dan Magelang yaitu Sanggar Omah Guyub, Bengkel Seni Sasana Aji, Sanggar Dhom Shuntil Warangan Merbabu dan Kelompok Kuda Lumping Lestari Krido Budoyo Onggosoro.

Selain itu ada Gangsadewa, Sanggar Seni Kinanti Sekar, dan teater musikal “Drupadi” dari Padepokan Seni Sukanedha Yogyakarta, Astakosala dan Komunitas Seni Daneswara dari Solo, Tridhatu Semarang, Isvara Jazz dari Yogyakarta dan Temanggung, Sanggar Dhea Roemah Martha Tilaar dari Gombong, Damar Art dan Komunitas Baswara SMP 2 Muncar dari Banyuwangi, Komunitas Seni Senbi dari Jambi, NOS Indonesia (Medan-Yogyakarta), dan Yadi Muryadi Theater Kita dari Kalimantan.

Selain seni pertunjukan, Festival Bhumi Atsanti II juga menyajikan bazaar, workshop dan sarasehan. Workshop dan sarasehan musik akan dipandu oleh Bapak Dr. R. Chairul Slamet M.Sn (seorang composer, praktisi & akademisi) dari ISI Yogyakarta dan Bapak Agung Gunawan dari Agung Dancing Center.

Pengunjung juga dapat menikmati aneka sajian makanan tradisional seperti getuk bakar, aneka jajanan pasar, wedang tradisional, kopi, dan berbagai macam hidangan lainnya.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat-lihat aneka produk kerajinan di area bazaar, mulai dari sapu, kreasi batik, ecoprint, dan lain-lain, serta mengikuti demo memasak masakan tradisional dan mencoba membatik atau membuat gerabah yang akan melibatkan UMKM di Borobudur.

Festival Bhumi Atsanti kali ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation sebagai sponsor utama, serta didukung oleh beberapa perusahaan nasional maupun lokal yang menjadikan FBA sebagai wujud nyata gotong royong dari berbagai kalangan yang peduli akan pelestarian kebudayaan Nusantara.***PR

‘Primbon’ Teror Melanda Akibat Pelanggaran terhadap Budaya Jawa

JAYAKARTA NEWS— Primbon adalah pedoman semacam perhitungan dan ramalan (mirip feng shui) yang dipercaya oleh orang Jawa yang masih percaya jika mereka melakukan kegiatan yang berkaitan dengan adat istiadat dan kepercayaan religi misalnya pernikahan, pindah rumah, ruwatan, sunatan dll.

Budaya primbon ini sangat kental di Jawa dan bisa terjadi suatu teror akan melanda jika ada pelanggaran terhadap isi dan falsafahnya.

Rana dan Janu sedang mendaki gunung saat cuaca buruk. Mereka berdua tersesat di tengah hutan yang lebat. Tepat Janu pulang ke rumah, Rana raib tanpa kabar.

Pencarian besar dilakukan oleh seluruh warga desa.

Dan ibunya Rana yang bernama Dini dan suaminya, Banyu percaya bahwa Rana masih hidup.
Seminggu berlalu. Rana tetap hilang dan dinyatakan telah meninggal.

Jajang C Noer (foto : Yoen)

Keluarga Dini yang berdarah biru didesak warga untuk segera mengadakan tahlilan.
Pas hujan deras, sontak Rana datang dengan badan basah kuyup. Seluruh kelurga Dini, Banyu dan dan adiknya, Tari bergembira.

Namun, warga desa dan beberapa bude nya yang mengandalkan primbon, yakin dan percaya, yang pulang ke rumah itu bukan Rana, manusia sejati.

Sebagai bukti, warga dan bude mengajukan cara terbaik : digelar acara ruwatan.

Benarkah Rana telah wafat ? Lalu siapakah yang datang ke rumah ? Makhluk astral ?

Film berjudul Primbon yang disutradarai Rudi Soejarwo yang akan beredar 10 Agustus 2023 dari awal sampai akhir dipenuhi adegan ketegangan.

“Saya mau menerima tawaran di film Primbon karena sutradaranya mas Rudi Soejarwo. Dia sutradara luar biasa dan saya senang didirect sama dia. Filmnya ‘Ada Apa dengan Cinta’ meledak dimana-mana. Menurut saya mas Rudi kerjanya sungguh-sungguh,” ucap Happy Salma yang berperan sebagai Dini, ibunya Rana.

Oppie Andaresta (foto: Cakra)

Sependapat dengan Oppie Andaresta. Biduanita yang pernah melejit ini berkat lagu ‘Cuma Khayalan’ pernah main film sekali dalam film ‘Kuldesak’ yang disutradarai Nan Achnas, Rizal Manthovani, Riri Riza dan Mira Lesmana. Itu sudah hampir 35 tahun silam dan baru tahun ini ditawari lagi di film bergenre horor.

“Sebagai seorang bude yang ngikut sana ngikut sini di sini kerja saya yah hanya ya iya ya iya. Ikut bude-bude yang lain, haha…,” lontar Oppie Andaresta tertawa.

Setali tiga uang dengan Jajang C Noer yang bermain cukup natural. “Sebagai bude Nur, kerja saya juga hanya pintar omong. Hasut sana hasut sini,” jelas Jajang C Noer.

Rudi Soejarwo selaku sutradara menegaskan Primbon yang digarapnya adalah film drama bernuansa horor. “Zaman kiwari ini semua horor. Politik juga horor. Relawan inginkan kandidatnya unggul dan menang, sikut dan intrik senyap dan curang dilakukan. Coba itu bude-bude di Primbon apa kerjanya benar?” Tanya Rudi tersenyum penuh arti.

Yang jelas, putra eks Kapolri Anton Soejarwo ini sedang menyiapkan sebuah naskah film anyar yang bukan horor pasca Primbon.

Film produksi Cakra Film, Maxima dan Maxstream ini selain dimeriahkan sederet artis junior juga diisi banyak artis senior seperti Agustinus Gusti Nugraha (Nugie), Chicco Kurniawan, Flavio Zaviera, Azrela Putri, Happy Salma, Jajang C Noer, Oppie Andaresta dan masih banyak lagi.

Terkadang ada orang bijak berpendapat bahwa kematian itu lebih mudah diterima daripada kehidupan.

Benarkah pendapat ini ? Wallahu alam bissawab. (pik)

‘Catatan Si Boy’, Karakter Ikonik 1987 Direboot Lebih Fresh

JAYAKARTA NEWS— Bagi Anda yang lahir tahun 1970 dan 1980an, pasti masih ingat dengan sosok Si Boy dalam sandiwara radio yang populer di Radio Prambors. Si Boy ciptaan Marwan Alkatiri ini digambarkan ganteng, suka menolong dan rajin beribadah.

Di mobilnya, selalu ada sajadah dan digantungkan seuntai tasbih. Sandiwara ini sangat disukai pendengar Radio Prambors dan bicara ihwal persahabatan, percintaan, keluarga dan cita-cita.

Tatkala diangkat ke film dan yang jadi Si Boy adalah bintang baru Onky Alexander, cerita tentang pencarian jati diri seorang anak muda perkotaan ini langsung meroket. Bahkan, dibuat sampai 5 seri dan di-TV-kan.

Si Boy difilmkan ? “Ketika pak Manoj Punjabi (produser MD Pictures) menawarkan ke saya untuk difilmkan, saya kaget. Saya ini orang Jogja. Baru hengkang ke Jakarta karena kuliah di Sinematografi IKJ. Ini susah. Catatan Si Boy itu gambaran sosok anak muda dan kota Jakarta di tahun 1987 (36 tahun yang lalu),” cerita sineas Hanung Bramantyo pada suatu hari.

Tapi dayung sekali dikayuh, pantang surut. “Saya harus bisa me ‘reboot’ (menciptakan ulang) dengan cerita yang lebih fresh. Ibaratnya : same wine, different bottle,” ucap Hanung tersenyum.

Dan jadilah ‘Catatan Si Boy’ (kerap disingkat jadi Cabo) versi 2023.

Dari kiri ke kanan: Amrit Punjabi (produser), Angga Yunanda (aktor) dan Manoj Punjabi (produser). (Foto : Arul)

Apakah ceritanya relevan dengan masa kini ? Apakah di era kiwari masih ada orang tua kolot yang melarang putrinya berpacaran dengan seorang cowok kota?

Dan yang terpilih memerankan Boy adalah aktor muda asal Lombok, Angga Yunanda.

“Jujur, gue enggak lewat proses casting. Langsung ditunjuk begitu saja. Tapi gue menantinya hampir dua tahun. Gue memang merindukan sosok ikonik Si Boy,” beber Angga Yunanda.

Rasa kangen dan nostalgia terhadap Si Boy memang melekat dalam pikiran Angga.

“Boy jadi legenda hidup kala itu. Dibicarakan dimana-mana, terutama kalangan cewek. Banyak temannya, tapi banyak pula lawannya. Yang gue suka dari karakternya adalah anti permusuhan, cinta damai dan suka menolong orang yang susah,” papar Angga lagi.

Tapi karena Boy anak orang kaya ? Apa-apa sudah tersedia ? Masalahnya enggak disitu.
Dalam masalah percintaan pertama ‘love at the first sight’, Boy hampir gagal. Orangtua pacarnya yang bernama Nuke enggak setuju. Nuke disekolahkan ke Amrik.

Tanpa kabar.

Boy melewati hari-harinya di Jakarta. Sekolah, buku dan pesta. Ajojing lagi ngetren kala itu. Namun, jangan salah. Biar nyosor ke pelukan cewek, Boy juga tekun dan rajin shalat di rumah dan dia selalu jadi imam shalat.

Vera adalah cewek terakhir yang dipacarinya.

Vera sangat atraktif. Tanpa malu dia melumat bibir Boy di hadapan teman-temannya.

Lho, Nuke kembali dari negara paman Sam. Dia masih ingat Boy.

Lalu, bagaimana cinta berlabuh Boy ? Ke Nuke atau Vera ?

Sungguh, drama anak muda di tahun 1987 merupakan pop culture yang sangat manis tapi sedikit berbelit dipenuhi bumbu kesalahpahamaman dan rasa sentimen yang berlebihan. Di sini, cara Boy menyelesaikan masalah pantas ditiru oleh anak muda yang lain.

Produksi bersama MD Pictures, MVP Pictures dan Dapur Films ini bakal ikut mewarnai dan memeriahkan momen HUT ke-78 Kemerdekaan RI. Tepat 17 Agustus 2023, ‘Catatan Si Boy’ akan menggiring penonton bernostalgia di ratusan bioskop seluruh RI.

Segerobak artis muda menandai pemutaran Cabo 2023 ini yaitu Syifa Hadju, Alyssa Daguise, Rebecca Clopper, Elmondsipasi, Arya Vasco, Carmela van der Keuk, Naima Aljufri serta Angga Yunanda dan artis-artis senior seperti Meriam Bellina (dulu tampil di Cabo 1987), Dede Yusuf, Lukman Sardi dan masih banyak lagi. (pik)

‘Hari Ini akan Kita Ceritakan Nanti’, Bagian Penutup nan Manis dari Trilogi NKCTHI

JAYAKARTA NEWS— Setelah hampir tiga tahun, sutradara Angga Dwimas Sasongko akhirnya menyuguhkan bagian penutup kisah semesta dari trilogi waralaba film ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ (NKCTHI). Judulnya masih panjang ‘Hari Ini Akan Kita Ceritakan Nanti’ (HIAKCN) dan hanya tayang di aplikasi Netflix.

Kali ini, Angga Dwimas Sasongko sengaja bergaya paralel yaitu kisah masa lalu dan masa kini keluarga Narendra.

“Saya memberikan esensi universe yang berkaitan dengan proses hidup dan total ada 5 film secara komplet yang saya buat sejak 2020. Yaitu sekuel NKCTHI dan ‘Jalan Yang Jauh Jangan Lupa Pulang’ ditambah 2 spin off (carangan) bertajuk ‘The Story of Kale’ dan ‘The Story of Dinda’,” lontar Angga.

Dikatakannya, apa yang terjadi di masa depan dibangun apa yang terjadi di masa lalu.
HIAKCN berlatar waktu tahun 1987 dan ini prekuel dari NKCTHI yang dibikin lebih dahulu.
“Saya lega. Syuting di masa pandemi ini akhirnya bisa selesai juga. Prosesnya struggling banget,” jelas Angga.

Rio Dewanto yang berperan sebagai Angkasa (foto Visinema)

“Saya senang. Kerja banyak kru dengan passion dan cinta sama proyek film ini,” imbuh Angga.

Cerita HIAKCN berfokus kehidupan Angkasa dengan Lika yang berada di ujung tanduk. Sementara Narendra hadir sebagai ayah di tengah konflik rumah tangga anaknya sebagai penengah.

Di sini, Angga menyajikan ketika Narendra muda.

“Benang merahnya sama, yaitu bagaimana mempertahankan cinta,” timpal Angga lagi.

Sederet bintang memeriahkan bagian penutup ini yaitu Rio Dewanto, Donny Damara, Agla Artalidia, Jourdy Pranata dan Yunita Siregar.

“Jourdy Pranata dan Yunita Siregar berperan sebagai Narendra muda dan Ajeng. Mereka tampil total dan mengubah penampilan karena kisahnya berlatar waktu 1987. Namun, di sini saya sajikan kehidupan Narendra muda dan Ajeng yang saling bersinggungan dengan masa sekarang,” pungkas Angga. (pik)

‘Suzzanna: Malam Jumat Kliwon’, Sundel Bolong Datang Lagi

JAYAKARTA NEWS— Malam Jumat kliwon saatnya dedemit bergentayangan bersinggungan dengan umat manusia.

Ingat Suzzanna, ingat Luna Maya. Meski tak mirip benar, tapi wajah dan karakternya dimake up oleh tim prostetik yang didatangkan langsung dari Rusia selama 4 jam.

Ya, karena Luna Maya (terutamanya cekikikannya) harus berperan sebagai Suzzanna sekaligus sebagai Sundel Bolong (setelah mayatnya dibongkar dan dihidupkan lagi) dalam film terbarunya berjudul ‘Suzzanna : Malam Jumat kliwon’.

Sutradara Guntur Soeharjanto kali ini merasa tertantang karena harus menghidupkan kembali karakter Suzzanna yang sangat fenomenal.

“Suzzanna tak bisa tergantikan. Tapi paling enggak, Luna Maya bisa mirip dengan ulah tingkah Sundel Bolong yang dingin dan siap menghajar lawan-lawannya,” lontar Guntur Soeharjanto dalam acara gala premier ‘Suzzanna: Malam Jumat kliwon’ di Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakannya, dalam filmnya kali ini, dia minim menggunakan CGI. “Artis-artisnya harus secara manual,” tegas Guntur Soeharjanto.

Produser dari Soraya Intercine Films, Sunil Soraya sangat serius menggarap film ini.
Beberapa adegan mengerikan dengan puluhan ular menjadi yang paling ditakuti Luna Maya.
“Untungnya, aku berhasil lolos melewati adegan ini, walau terus diawasi pawang ular selama syuting. Kirain cuma kecoa, tahunya ular,” cetus Luna Maya.

Luna Maya (foto Soraya)

Aktris dari Bali ini menceritakan adegan yang cukup menyeramkan selama syuting di hutan pinus. “Tiba-tiba terdengar tawa Suzzanna di tengah hutan pinus yang lebat itu. Semua kru juga terkejut. Setelah kita berdoa dan mohon izin kepada lelembut selaku penunggu hutan, syuting baru lancar,” sergah Luna Maya.

Ada lagi adegan yang kepala Luna Maya harus terbalik di bawah dan kakinya harus di atas.

“Saya benar-benar lakukan tenaga ekstra. Saya suka yoga dan pilate. Agar perut jadi kencang. Adegannya harus dibalik pakai sling. Jungkir balik. Olahraga yang rutin saya lakukan sangat berguna di film ini. Saya tahan cukup lama dengan posisi jungkir balik,” urai Luna Maya tertawa.

Pemeran film ‘Suzzanna : Malam Jumat kliwon’ ( foto Arul )

Lain lagi pengalaman aktor Achmad Megantara yang harus beradegan gulat lumpur.

“Ini adegan super berat. Selain syuting yang empat hari menjadikan badan saya jadi gosong, juga mata kerap perih terkena percikan lumpur,” papar Achmad Megantara.
Khusus untuk film ini, musikus Melly Goeslaw dan suaminya, Anto Hoed sengaja membuat lagu eksklusif berjudul ‘Janji Kita’.

Sebuah adegan menyeramkan harus dijalani total oleh Luna Maya. Di malam Jumat kliwon, pas melahirkan, sesuatu peristiwa terjadi. Bayi yang dikandung Suzzanna lahir dengan menembus punggungnya. Sang bayi selamat. Tapi Suzzanna meninggal.

Wafatnya Suzzanna membangkitkan Sundel Bolong yang mengerikan.

Selain Luna Maya dan Achmad Megantara, film horor nan mencekam ini juga dibintangi Tyo Pakusadewo, Sally Marcelina, Taskya Namya, Adi Bing Slamet, Clift Sangra , Opie Kumis dan banyak lagi.

‘Suzzanna: Malam Jumat kliwon’ akan gentayangan di bioskop mulai 3 Agustus 2023, hari nonton film nasional. (pik)

‘Susuk: Kutukan Kecantikan’ Fenomena Sosial yang Merasuki Kaum Wanita tidak Pede

JAYAKARTA NEWS— Apakah susuk masih ada di zaman kiwari? Susuk yang kerap dilakukan kaum wanita adalah memasukkan benda tertentu ke dalam tubuhnya dengan tujuan menambah kecantikan.

“Susuk dilakukan kaum wanita yang mengalami insecurity (tidak percaya diri) karena enggak bisa tampil cantik dan sempurna,” ujar Ginanti Rona selaku sutradara film bertajuk ‘Susuk: Kutukan Kecantikan’ dalam acara peluncuran trailer (berdurasi 66 detik) dan poster ‘Susuk

di Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakannya, di film terbarunya ini pelakunya mengalami ‘psysically look’ dengan cara menambah sesuatu agar tampil mencorong.

“Di sini, wanita yang sudah dirasuki susuk menebar teror ‘gore’ (sadis, berdarah-darah) di balik kecantikannya,” jelas Ginanti Rona sembari ditambahkan film bergenre horor ini menyuguhkan konflik yang dekat dalam masyarakat.

Setali tiga uang dengan uneg-uneg aktris Hana Malasan (semula menolak dan akhirnya mau) yang berperan sebagai pelacur bernama Laras yang memasukkan susuk dalam tubuhnya.

“Film ini ada pesan moralnya. Ketika ditawari karakter ini, saya ingin mengadakan riset dengan pengguna susuk. Bagaimana cara melepas susuknya. Apa efeknya dan bagaimana cerita kenyataannya,” sergah Hana Malasan.

Seluruh pemeran film ‘Susuk…’ ( foto Ipik )

Apa pendapat Jourdy Pranata, aktor yang berperan sebagai supir taksi berlogat Sumatera.
‘Ini fenomena sosial dan temanya dekat dengan budaya khas Indonesia. Saya jadi penasaran, susuk ada enggak sih sekarang? Tadinya saya skeptis dan enggak percaya. Tapi ternyata belakangan pengguna susuk bejibun,” lontar Jourdy Pranata.

Menyaksikan trailer ‘Susuk…’ memang dipenuhi adegan kengerian yang lebih utuh. Aspek ‘gore’ disajikan dengan kuat. Teror mencekam, misteri dan drama.

“Indonesia kan banyak cerita horor yang bersumber dari mitos, kebudayaan atau dari aspek religi juga. Ini bisa dikembangkan dan dikemas dengan cara yang menarik dan bisa jadi hiburan. Aku mau bikin film yang selalu punya ciri khas sendiri,” ungkap Ginanti Rona.

Selain Hana Malasan dan Jourdy Pranata, film produksi Visinema Pictures dan GoodWork ini juga disesaki pemeran lain seperti Ersya Aurelia, Muhammad Khan, Elang El Gibran, Izabel Jahja, Whani Dharmawan dan M.N Qomaruddin.

Mengangkat cerita tentang Laras yang ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai pelacur dan memperbaiki hubungan dengan adiknya, Ayu. Namun, sebuah kecelakaan membuat Laras ditolak oleh kematian dan terus terjebak dalam sakaratul maut. Tubuh Laras terus hidup, namun badannya mulai membusuk seperti mayat.

Ditemani supir taksi bernama Arman, Ayu pun mencari berbagai cara guna menyembuhkan Laras. Mendatangi Damar (kepala desa), ustad Rahmat (pemuka agama yang mengerti efek susuk yang terus memburuk) hingga meminta bantuan Prasetyo, seorang dukun.

Tapi ternyata susuk di tubuh Laras bukanlah susuk biasa. Tubuh Laras semakin membusuk dan menciptakan teror bagi Ayu, Arman dan bahkan warga desa.

Bagaimana kiat cespleng agar susuk di tubuh Laras raib dan mayat Laras bisa kembali ke alam asalnya? Nantikan saja 31 Agustus 2023. Susuk akan menebar teror di gedung bioskop seluruh Indonesia. (pik)

Sinead O’Connor Meninggal, Dunia Musik Terguncang

JAYAKARTA NEWS – Dalam sebuah berita yang mengejutkan, dunia musik kembali berduka. Senin (tanggal), legenda musik terkenal, Sinead O’Connor, telah meninggal dunia pada usia 56 tahun. Kabar tersebut meninggalkan para penggemar dan rekan-rekan musisi dalam kesedihan mendalam.

Sinead O’Connor, yang dikenal sebagai salah satu penyanyi paling berbakat dalam industri musik, telah menyentuh hati jutaan orang dengan suara emasnya dan lirik-lirik yang kuat dan bermakna. Bakatnya yang luar biasa telah membawanya meraih kesuksesan di berbagai negara dan menginspirasi banyak generasi musisi.

Namun, kehidupan Senead juga dipenuhi dengan perjalanan rohaniah yang menarik perhatian banyak orang. Beberapa tahun sebelum wafatnya, pada 2018, Senead mengumumkan keputusannya untuk memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Shuhada Sadaqat.

Entah apa yang mengilhami perubahan besar dalam hidupnya ini, keputusan Senead untuk menjadi mualaf menjadi suatu momen yang sangat berarti dalam perjalanan hidupnya. Setelah menjadi Muslim, Senead atau Shuhada Sadaqat dengan teguh berpegang pada nilai-nilai agamanya dan menjalani kehidupan dengan lebih bermakna. Dalam berpakaian misalnya, ia mengenakan hijab.

Sebagai seorang Muslim, Shuhada Sadaqat berjuang untuk menemukan keselarasan antara karier musiknya dan keyakinan agamanya. Ia menentang stereotip dan prasangka yang ada tentang Islam, dengan berusaha untuk menyampaikan pesan-pesan cinta, perdamaian, dan persatuan melalui karyanya. Ia merilis lagu-lagu dengan pesan-pesan yang mengajak pada kedamaian dan kerukunan antar umat manusia.

Magdalena juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, terutama yang berkaitan dengan peningkatan pendidikan dan kesejahteraan anak-anak yang kurang beruntung. Ia menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk amal dan berpartisipasi dalam kampanye-kampanye peduli sesama.

Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, dia juga memberikan ceramah untuk berbagi pengalaman dan kekuatan yang ia temukan dalam agama Islam. Ia berusaha untuk memperbaiki pemahaman orang-orang tentang Islam dan menekankan pada nilai-nilai toleransi, kasih sayang, dan saling pengertian antarumat beragama.

Meskipun dunia musik sering kali dikenal karena gaya hidup yang glamor dan kontroversi, Senead menunjukkan bahwa seorang artis juga bisa menjadi teladan positif dalam menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan yang mendalam dan universal.

Kehilangan Senead merupakan kehilangan yang mendalam bagi dunia musik dan kemanusiaan. Namun, semangatnya sebagai seorang Muslim dan kontribusinya dalam menyebarkan pesan-pesan kedamaian akan tetap diingat oleh banyak orang.

Semoga rohnya mendapatkan kedamaian di sisi-Nya, dan semoga keluarga serta orang-orang terdekatnya diberikan kekuatan untuk menghadapi masa-masa sulit ini. Selamat jalan, Senead. Dunia musik akan selalu merindukan Anda dan menghormati perjuangan Anda sebagai seorang Muslim yang penuh inspirasi.

(dihimpun berbagai sumber/sm)

Atiek CB, Ita, Mayangsari dan Ronnie Sianturi akan Gelar Konser ‘Musik Eraku’

JAYAKARTA NEWS— Empat penyanyi lama Indonesia yaitu Atiek CB, Ita Purnamasari, Mayangsari dan Ronnie Sianturi akan menghelat konser legenda bertajuk ‘Musik Eraku’ di Balai Sarbini, Jakarta, 5 Agustus 2023 mendatang.

“Konser ini reuni yang akan membawa penontonnya kembali bernostalgia ke era 90-an dengan lagu-lagu mereka yang jadi hits sampai sekarang,” ujar Mayangsari selaku sponsor dan pencetus gagasan acara ini.

Namun, tidak ingin tertinggal zaman, konser ini juga akan dikemas dengan suasana yang baru dan spektakuler, mengajak penonton ikut bernyanyi dan bergoyang bersama, serta mengobati rasa rindu penggemar terhadap 4 penyanyi ini.

Berawal dari persahabatan yang sudah terjalin selama 25 tahun di awal tahun 90-an. Diawali pertemuan Atiek CB dengan Ita Purnamasari berlanjut pertemuan bersama Mayangsari dan juga Ronnie Sianturi. Hingga kini pertemuan mereka masih akrab meski terpisah oleh jarak.

“Lalu kami menggandeng bestie (sahabat, bahasa slang) yang lain. Ita, Mayang dan Ronnie,” cetus Atiek CB yang lama mukim di Amerika.

Persahabatan yang begitu dekat membuat mereka kerap duduk dan makan bareng saat mereka memiliki waktu luang. Ketika berkumpul mereka ngobrol dan saling bertukar ide dan salah satu ide tersebut adalah menggelar konser bersama.

Empat penyanyi lama berpose bersama (foto Anggie)

“Awalnya ngobrol biasa kangen-kangenan. Mendadak kita pikir gimana kalau kita mengadakan konser bersama? Apalagi sudah lama juga kita enggak sepanggung bareng. Akhirnya kami semua setuju dan jadi dibuatlah konser ini bertajuk ‘Konser Legend Musik Eraku’.Bagaimanapun, kita ingin mengobati rasa rindu penggemar kita yang sudah lama menanti kita kembali bernyanyi bareng,” jelas Mayangsari.

“Di kita, penyanyi berusia di atas 50an tahun dianggap selesai. Di Barat, kita lihat banyak penyanyi berusia di atas 50an tahun masih unjuk diri dan rekaman baik di panggung maupun rekaman. Makin tua, makin berminyak. Lihat Cliff Richard, Mick Jagger, Tom Jones dll,” urai Ronnie Sianturi yang pernah berjaya saat bergabung bersama Trio Libels.

Konser Legend Musik Eraku ini bekerjasama dengan tim KSH Entertainment dan harga tiketnya sangat terjangkau. (pik)