JAYAKARTA NEWS— Merayakan 40 hari wafat James F Sundah (penulis lagu ‘Lilin Lilin Kecil’), isteri almarhum Priscilla Sundah Suntoso mendirikan James Sundah Foundation, organisasi nirlaba yang berpusat di New York, Amerika.
Bertujuan menjaga, merawat dan melanjutkan warisan karya, pemikiran dan nilai-nilai yang ditinggalkan almarhum.
“Kita akan memberikan fellowship (beasiswa) kepada mahasiswa tingkat akhir yang meriset dan meneliti tentang hak cipta dan kekayaan intelektual, royalti dan perlindungan hukum atas karya kreatif serta kebijakan karya di era digital,” ucap Priscilla Sundah Suntoso yang bekerjasama dengan AAPI Creative, New York (beranggotakan diaspora) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Komite Seleksi Beasiswa beranggotakan Adi Harsono (profesor senior), Aminoto Kosin (arranger, musisi, produser), Dahlan Iskan (jurnalis, mantan Menteri BUMN), Naratama Rukmananda (sutradara TV, broadcaster, penulis) dan Wendi Putranto (penulis, wirausahawan).
“Almarhum James F Sundah semasa hidup pernah menggaungkan filosofi terkenal ‘no song no music industry’. Warisan terbesar dari James tak hanya di lagu tapi juga pemikiran dan perjuangan untuk mendudukkan pencipta lagu pada posisi yang layak dan strategis dalam ekosistem musik Indonesia kepada generasi baru,” pungkas Wendi Putranto selaku juru bicara James F Sundah Foundation. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Drama keluarga yang disutradarai Hasto Broto berjudul ‘Dua Nafas’ ini produksi kolaborasi antara RI dan Korsel.
Produksi Sunrise, Anypearl dan Syakir Films ini terjadi di sebuah desa terpencil Sukamakmur, Tasikmalaya antara seorang nenek renta dan cucunya.
Wati (Adelia Rasya), 30 tahun, menitipkan anaknya bernama Anto (Auzan Noh Karepesina) yang berumur 8 tahun kepada nenek Maryam (Aty Cancer) yang sudah renta dan sulit bjcara di desa Sukamakmur.
Anto semula merasa tertekan karena terbiasa hidup di kota metropolitan Jakarta.
Setiap hari disuguhi makanan ubi rebus, ogah. Karena Anto terbiasa makan di kfc, pizza dan burger.
Lalu ia bab di jamban jongkok, tambah bingung. Mandi air harus menimba sendiri dari sumur.
Lama kelamaan lambat laun Anto harus melakukan hal tersebut. Timbul kasih sayang antara nenek dan cucunya. Nenek memandikan cucunya di kali yang jernih airnya.
Anto harus belajar tradisi di desa. Ia bermain yoyo bersama 2 sahabat baiknya, Udin dan Fitri.
16 tahun kemudian, Anto pulang ke desa menyandang gelar dokter sesuai cita-citanya.
Ia bangga membawa ijazah dokter dan akan ditunjukkan kepada sang nenek.
Nenek Maryam sudah menyiapkan hidangan ubi rebus dan opor ayam kesukaan Anto agar bisa makan bareng.
Namun, takdir berkata lain.
Nenek wafat dalam posisi duduk di meja makan dalam usia 77 tahun.
Anto sedih dan menangis. Ia memeluk jasad nenek dan memakamkannya.
“Nafas nenek nafas kita semuanya,” ujar Syakir Daulay selaku produser dan berperan sebagai Anto dewasa.
“Film ini diangkat dari kisah nyata tentang dunia pendidikan dan perjuangan meraih masa depan yang direstui sang nenek,” papar Hasto Broto.
Park Young-kuk, produser dari Korsel optimis film ini bisa diterima oleh bangsa Indonesia.
“Karena dua budaya Indonesia dan Korsel pada intinya sama yaitu memuliakan harkat orang tua dan nenek,” ucapnya.
Syakir Daulay sebagai Dokter Anto setelah dewasa (foto syakir)
Film yang sangat menyentuh hati ini juga diramaikan oleh sederet pemeran yaitu Mantra Gurindam Smaratungga, Bilqis Hafsa dan banyak warga desa jadi cameo.
Penulis naskah Jo Hyeon-suk dan Exan Zen.
Aktor cilik Auzan Noh Karepesina yang didapuk menjadi Anto cilik (berusia 8 tahun) adalah blasteran Maluku dan Betawi berakting wajar dan polos.
Dua Nafas yang akan tayang di bioskop 2 Juli 2026 dikurasi LSF untuk semua umur. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Kerusuhan Poso, Sulteng meletus antara tahun 1998 – 2001. Konflik primordial yang dipicu soal sepele menjadi sejarah hitam bangsa Indonesia yang toleran.
Masuknya orang dari luar Poso menambah kecamuk dan ruwet yang menyebabkan luka, kehilangan dan jatuh korban yang sia-sia.
Sutradara Rudi Soedjarwo mengangkat konflik agama ini kedalam film barunya berjudul ‘Tanah Runtuh’ yang akan tayang di bioskop mulai 25 Juni 2026.
Lokasi syuting full di Teluk Naga, Tangsel yang ‘disulap’ menjadi pantai Poso nan elok dan pasar tradisional yang selalu ramai. Juga tenda-tenda pengungsi dan rumah ibadah gereja yang dibom oleh para pelaku tak bertanggung jawab.
Yang menjadi korban utama adalah anak-anak kehilangan ibunya dan ibu atau ayah yang sibuk mencari anak-anaknya.
Dua anak bernama Kai dan Ringgo yang down syndrome terpisah dari ibunya bernama Emmy dan harus bertahan hidup dan berpindah tempat.
Beruntung mereka bertemu Komandan polisi TNI Idham dari Jakarta yang sedang ditugaskan pimpinannya guna meredam meluasnya konflik kerusuhan Poso.
Sutradara dan pemeran Tanah Runtuh (Foto: Antara)
Dicari di gereja yang porak poranda akibat dibom – sampai salib di belakang altar terbalik – , tak bertemu.
Dengan kasih sayang, Idham berusaha mempertemukan kembali ke dua anak dengan ibunya. Tidur dan makan ditemani seperti layaknya anak sendiri.
Kai dan Ringgo sebelum makan tak lupa berdoa atas nama Tuhan Jesus sementara Idham dan jajarannya khusyuk bersembahyang sebagai penganut muslim yang taat.
“Toleransi ini sangat kami utamakan dan divisualisasikan di film ini,” ujar Rudi Soedjarwo yang sudah membuat sekitar 30an film.
Idham adalah sosok polisi yang baik dan diperankan oleh Vino Giovani Bastian secara apik dan mengesankan dalam film drama kemanusiaan ini.
Setelah bertemu ibu Emmy dan pelaku kerusuhan Poso berhasil ditangkap, di ending Idham harus balik ke Jakarta.
Tugas telah usai. Perpisahan mencuat. Sebuah happy ending yang mengharukan dan emosional.
Metode penegakan hukum dan upaya rekonsiliasi total antara kelompok Islam (diwakili ustad) dan kelompok Kristen Protestan (diwakili pendeta Dominique) diteken di Malino, Sulteng.
Sebuah deklarasi perjanjian damai yang terjadi pada 25 Desember 2001.
“Saya ingin mengangkat sejarah ke ranah film agar peristiwa getir di masa lalu tak terulang lagi dan memberi lembaran pelajaran dan peradaban yang berguna untuk generasi hari ini dan masa mendatang,” pesan Rudi Soedjarwo.
Tanah Runtuh adalah petilan dan perpisahan yang berakhir dengan pertemuan kembali antara ibu dan anak menjadi magnitude alur cerita di film ini.
Film yang diproduseri Denny Siregar ini wajib tonton bagi para pelaku sejarah dan pengamat politik di Republik ini.
Tanah Runtuh dibintangi banyak pemeran yaitu Vino G. Bastian, Sigi Wimala, Tike Priatnakusumah, Jenda Munthe, Tubagus Ali, Luna Allegra, Agnes Naomi, Rohyan Hidayat, Umar dan masih banyak lagi.
Yang paling mengesankan adalah akting dua pemeran aktor anak yaitu Ridho Chalik yang berkebutuhan khusus (down syndrome) sebagai Ringgo dan Yoan Cocohamida yang berprofesi penyanyi sebagai Kai.
“Sebenarnya pemeran utama film ini ya mereka berdua, Yoan dan Ridho. Tanpa mereka, film ini tak ada apa-apanya,” timpal Vino G. Bastian mantap. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Apakah tari tradisi masih hidup dan berkembang ?
Menyongsong ultah ke 33 Swargaloka pimpinan Suryandoro, digelar Festival Ksatria 3.0 di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Teater Usmar Ismail, TIM dan TMII.
Mengusung semangat tradipop (tradisi tanpa batas, populer tanpa kehilangan identitas), dihelat kompetisi ke 3 yang dimulai 17 Juni s d 4 Juli 2026.
Diikuti banyak peserta solo, duet dan kelompok dari seluruh RI, festival ksatria dimulai.
“Peserta dibatasi dengan durasi maksimal 6 menit. Lebih dari itu, akan didiskualifikasi,” ujar Bathara Sawerigadi Dewandoro, inisiator dan creator director acara ini (pernah raih medali gold di PON cabang dance sport) kepada penulis di GIK, lantai 8 Galeri Indonesia, Jakarta, baru-baru ini.
Dikatakannya, lewat kompetisi ini bisa dilahirkan ruang baru yaitu kemegahan tradisi tari Nusantara yang adiluhung yang melebur selaras dengan dinamisnya budaya populer.
Acara ini akan dinilai oleh 5 juri utama. Pemenang akan menerima gelar Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Grada Ksatria Tari untuk duet dan Wira Ksatria Tari untuk solo.
Siko Setyanto, Wakil Dewan Juri
“Festival Ksatria tak hanya kompetisi tapi juga edukasi dan kolaborasi,” urai Siko Setyanto selaku Wakil Dewan Juri.
Acara ini ditegaskan bukan sekadar simbol tapi merupakan bentuk tanggung jawab moral kontribusi dalam perkembangan industri tari.
“Konsep Tradipop menuntut karya tari yang ringkas, visual kuat dan mudah diakses tanpa kehilangan esensi budaya.
Suryandoro sebagai pendiri Swargaloka menjelaskan bahwa Festival Ksatria bukan nengganti tradisi.
“Tapi melengkapi dan mengajak generasi muda kita untuk kenal dan mempopulerkan tradisi budaya kita yang lebih dalam,” urai Suryandoro.
Kita menantang generasi muda Indonesia dengan seruan ‘Jagoan harus Percaya Diri !’.
Memerhatikan keseluruhan peserta, tampaknya irama gercep (gerak cepat) dan kedinamisan penari lebih diutamakan sesuai era terkini yang menuntut kecepatan dan kepadatan gerak tari.
Bathara Saverigadi Dewandoro
“Pernah ada beberapa peserta dari daerah yang memeragakan gerakan tari nan elok yang slow dan sentimental tapi ya durasinya tak boleh dilanggar,” tandas Bathara Saverigadi Dewandoro.
Sekedar diketahui, pemenang Festival Ksatria 2022 adalah Silak dari Jogjakarta dan juara 2023 diraih Eyes On Us dari Kalimantan.
Babak final akan digelar secara luring di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM).
Berhasilkah panitia mencari talenta-talenta baru yang muda dan bergairah tahun ini, yuk kita dukung penuh. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Panen Entertainment berjudul ‘Maju, Jejak Pahit Si Kembang Gula’ yang akan dirilis 6 Agustus 2026 ini mengangkat petualangan seru 4 sahabat remaja dan bahaya narkoba.
Disutradarai Franklin Darmadi dan diproduseri Silvia Yunita, film ini menyisipkan nilai-nilai edukasi dibalut misteri dan membawa pesan yang kuat.
Empat sahabat adalah Kirana, Hanna, Gerald dan Bagas yang bertualang sedang mensurvey lokasi kegiatan jambore bersama guru mereka, pak Wina.
Bagas tiba-tiba hilang di desa lokasi perkemahan.
Hanya ada jejak yang ditemui berupa potongan kembang gula.
Berhasilkah mereka menemukan Bagas kembali ?
“Ini film anak penuh petualangan uji keberanian,” ujar Franklin Darmadi.
Film ini diwarnai OST berjudul “Teman Selalu’ yang dinyanyikan Princesza Leticia dan Alexander JED yang juga ikut berperan.
Unang Bagito sehat bisa bermain film lagi (Foto Keluarga)
Syuting full di kota Jogjakarta yang mencuatkan pesona panorama wisata nan elok dan indah. Didukung Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), belakangan terdapat 3, 3 juta remaja Indonesia berusia 15 – 25 tahun terpapar natkoba.
“Tema film ini sejalan dengan misi BNN,” ungkap Deputi bidang pencegahan BNN, Irjen Pol Muhammad Zainul Muttaqin.
Maju pernah meraih penghargaan sebagai best feature di FF Moscow 2026 dan sedang disiapkan ikut di FF lain di mancanegara.
Maju diramaikan sederet pemeran yaitu Bukie B Mansyur, Unang Bagito, Sarah Sechan, Bebe Gracia, Aradhara Rahadi, Alby Enrani, Princesza Laticea dan Alexander JED.
Unang Bagito mengaku kembali sehat saat diajak main film lagi.
“Saya senang bisa berakting lagi di depan kamera. Apalagi bersama pemeran anak. Semoga kedepannya saya bertambah sehat walafiat,” timpal Unang Bagito. (pik)
JAYAKARTA NEWS – Menjelang penayangannya di bioskop, film horor Indonesia “402 Rumah Sakit Angker Korea” garapan MD Pictures dan Umbara Brothers Film memperkenalkan poster final serta trailer terbaru yang menampilkan nuansa teror lebih kelam dan penuh misteri.
Peluncuran materi promosi tersebut dilakukan dalam konferensi pers pada Selasa (9/6/2026) yang dihadiri jajaran pemain dan tim produksi. Poster terbaru menampilkan suasana rumah sakit tua yang menyeramkan dengan kehadiran boneka berbusana hanbok di tengah bercak darah, menambah kesan mencekam yang berbeda dari materi promosi sebelumnya.
Trailer final juga memperlihatkan kejutan baru melalui hadirnya ritual Jelangkung, tradisi pemanggilan arwah yang dikenal luas di Indonesia. Ritual tersebut dikisahkan berlangsung di Rumah Sakit Yongwon, Korea Selatan, sehingga menghadirkan perpaduan unik antara unsur mistis Indonesia dan horor Korea.
Sutradara Anggy Umbara menjelaskan bahwa penggabungan dua budaya horor itu dilakukan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih segar bagi penonton. Menurutnya, film ini tidak hanya mengadaptasi cerita asli, tetapi juga memberikan sentuhan baru yang membuat alur teror semakin sulit ditebak.
Sementara itu, Arbani Yasiz yang memerankan tokoh Juna mengatakan film ini menawarkan ketegangan psikologis yang lebih mendalam. Ia menilai konflik yang dihadapi para karakter bukan sekadar mencari sensasi, melainkan perjuangan untuk bertahan hidup setelah ritual yang mereka lakukan memicu kemunculan kekuatan mengerikan.
Pernyataan serupa disampaikan Saputra Kori yang mengaku atmosfer selama proses syuting terasa begitu kuat sehingga para pemain turut merasakan ketegangan saat menjalani adegan-adegan penting, terutama ketika ritual Jelangkung mulai dilakukan. Tak hanya menarik perhatian di dalam negeri, film ini juga mencatat prestasi di tingkat internasional. “402 Rumah Sakit Angker Korea” terpilih sebagai Official Selection dalam Bucheon International Fantastic Film Festival (BiFan) 2026 dan akan ditayangkan dalam program bergengsi Gala Presentation.
Untuk pasar global, film ini menggunakan judul “Korean Haunted Hospital”, sedangkan di Korea Selatan akan dipasarkan dengan judul “폐병원 402 (Pye-byeong-won 402)”. Programmer BiFan, Martin Lee, menilai film tersebut mampu mempertahankan nuansa mencekam dari karya aslinya sekaligus menghadirkan pendekatan baru yang sesuai dengan perkembangan budaya digital dan tren konsumsi konten masa kini.
Dengan perpaduan elemen mistis Nusantara, suasana horor khas Korea, serta pengakuan dari festival film internasional, “402 Rumah Sakit Angker Korea” diprediksi menjadi salah satu film horor yang paling dinantikan dan banyak dibicarakan sepanjang tahun 2026.(Agus Oyenk).
JAYAKARTA NEWS— Film horor thriller psikologis berjudul ‘Dosa : penebusan atau pengampunan’ (DPaP) debut sutradara Sondang Pratama menyoroti teror di masa lalu.
“Film ini tidak hanya membuat merinding tapi juga mengajak berpikir. Pemerannya tak menjadi sosok seram tapi muncul dari kesalahan masa lalu yang menghantui karakter-karakternya,” ujar Sondang Pratama yang banyak membuat series dan sinetron.
Diproduseri Reza Aditya dan Irish Bella (direktur eksekutif) dari HAS Entertainment, DPaP yang akan beredar 11 Juni 2026 ini mengisahkan suami isteri, Bima dan Ersya, melakukan perjalanan malam ke luar kota meski sudah dilarang oleh ibu Nungki karena berfirasat buruk.
Di tengah jalan, mobil mengalami petaka, kecelakaan masuk jurang guna menghindari laju supir truk bernama Nanang yang ugal-ugalan.
Foto: has
Dalam keadaan luka-luka, mereka bermalam di Hotel Samsara.
Terjebak menghantui mereka, Bima dan Ersya terkena teror dari makhluk misterius yang menuntut balas. Berdua berjuang agar bisa keluar dari kutukan.
“Ada pesan-pesan misterius dan jump scare di ending. Jadi adegannya mengejutka. Kemunculan sosok Sheren pemilik hotel juga tak terduga mengejutkan ,” jelas Sondang Pratama.
Pengarah peran (casting director) Philip Tenonet mengaku semula syuting akan dilakukan di sebuah hotel tapi ceo hotel tak mengizinkan dengan alasan membawa citra jelek. Jadi dibuat set di studio.
“Ini takdir. Semula saya berakting kali ini mencoba bekerja dibalik layar. Yah macam-macam urusannya tapi mengasyikkan,” kenang Irish Bella yang mendapat support dari sang suami, Haldy Sabri sebagai CEO HAS Pictures.
Pemeran utama pria, Muhammad Riza Irsyadillah (anak penyanyi dan aktris Nella Regar) bercerita saat syuting di set hotel Samsara.
“AC nya dingin banget. Jadi saya harus minum air jahe agar badan hangat,” ungkap Irsyadillah.
Film ini dibintangi sederet pemeran yaitu Riza Irsyadillah, Ratu Sofya, Revaldo, Dominique Sanda, Natasha Urbach, Dede Sunandar, Jennifer Evev dan banyak lagi cameo lain.
Walhasil, apakah pelaku layak dapat penebusan ataukah justru harus menerima konsekuensi dari perbuatannya ? (pik)
JAYAKARTA NEWS— Festival Film Uni Eropa (Europe on Screen/EoS) edisi ke 26 yang digelar dari 4 s d 14 Juni 2026, menjadi FF terbesar dan terlama. Event ini menampilkan 55 film dari 28 negara Eropa secara gratis dan diputar di institut budaya, pusat komunikasi dan bioskop di 8 kota yaitu Jakarta, Bandung, Denpasar Bali, Medan, Surabaya, Jogjakarta, Semarang dan Malang.
Meliputi berbagai genre : drama, komedi dan petualangan. Juga ada acara diskusi, lokakarya dan pameran.
Film pembuka diputar di CGV, Grand Indonesia, Jakarta, berjudul ‘The Baronnesses’ (Les Baronnes) yang disutradarai duo anak dan ibu, yaitu Nabil Ben Yadir dan Mokhtaslia Yadir. Melibatkan kerjasama Perancis, Belgia dan Luxemburg.
Film penutup berjudul ‘Atlas of the Universe’ (Atlasul Universului) sutradara Paul Negooeseu. Film tentang ‘coming of age’ (pencarian jati diri) yang melibatkan Rumania dan Bulgaria.
Asmara Abigail (‘Sehidup Semati’) sebagai Juri EoS 2026 – foto istimewa
Cerita-cerita yang bertema humanis yang mengangkat pengalaman lintas budaya dan tradisi.
Di FF Uni Eropa yang menarik tahun ini adalah ada 31 sutradara wanita dan 9 sineas debutan.
“EoS 2026 menjadi ruang publik baru dengan cerita-cerita yang dekat kehidupan sehari-hari,” ujar Kuasa Usaha Delegasi Uni Eropa, Stephane Mechati.
Dewan Juri tahun ini ditunjuk aktris Asmara Abigail plus juri Internasional yaitu Damian McCaan dan Zar Donato, aktris dari Siprus.
Khusus untuk juri kompetisi adalah Ifan Ismail (produser dan penulis skenario).
“Beragam tema menarik diangkat di EoS menyangkut isu minoritas, identitas dan kesehatan mental personal,” urai Asmara Abigail.
“Khusus di Short Pitching Project dibahas dan juga ada diskusi masalah peredaran dan film pendek bagi sineas muda Indonesia. Kita bisa saling belajar dan berbagi ilmu ihwal film,” imbuh Asmara Abigail bersemangat. (pik)
JAYAKARTA NEWS— fusion jazz masih menggeliat. Menyongsong HUT DK Jakarta ke 499 tanggal 22 Juni 2026 dan World Music Day tanggal 21 Juni 2026, Deheng House di Taman Kemang Jaksel menggelar acara musik berjudul ‘Jakarta Fusion Jazz Festival’ (Jakfuze), 19 dan 20 Juni 2026.
Dihelat oleh Dehilis Production dan didukung DSS (penyedia tata suara dan tata cahaya), gelaran musik ini diramaikan puluhan jazzer dan musikus selama dua hari.
Hari pertama (19/6) unjuk diri band Karimata (Chandra Darusman, Aminoto Kosin, Indro Harjodikoro) dan ditutup Krakatau.
Formasi Krakatau sejak wafatnya Donny Suhendra dan istirahatnya Pra Budi Dharma, masih diperkuat oleh Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Trie Utami plus Andre Dinuth dan Barry Likumahuwa.
Beberapa nomor lama kerap dilantunkan Trie Utami yang acap dijuluki ‘si bola bekel’ seperti ‘Gemilang’, ‘Sekitar Kita’ dan ‘La Samba Primadona’ bakal menggiring pengunjung ikut bernyanyi dan berjoget tipis-tipis bersama.
Band Audiensi pimpinan Donny Hardono tampil di hari kedua (20/6) bertema ‘tribute to Casiopea’ (band jazz rock dari Jepang) yang akan menggebrak dengan sederet lagu hit Casiopea.
Disusul T 42 mengcover lagu-lagu band Level 42 dari Inggris.
Disela-sela kedua band tersebut, bergiliran tampil Bhaskara, Spirit Band dan Funk Section.
Yance Manusama, basis Funk Section dan Vonny Sumlang dan As Mates dari Bhaskara juga diundang untuk memperkokoh acara ini.
Tak ketinggalan Iwang Noorsaid dari Emerald BEX juga disebut-sebut bergairah unjuk diri.
Dirut Deheng, Amallah Ananda Abadi optimis acara yang digagas istimewa ini akan sukses dan dipenuhi pengunjung
Targetnya mencapai seribu pengunjung saja sudah bagus.
Musisi fusion ini juga tampil di Kofi n Ti pukul 4 sore.
“Ada jam session, talk show dan performa di Deheng yang menjadi ‘rumah’ bagi musisi Indonesia,” imbuh Amallah Ananda Abadi. (pik)
JAYAKARTA NEWS— Bali International Film Festival (Balinale) ke 19 digelar 1 s d 7 Juni 2026 di lokasi utama Icon Bali Mall XXI dan Sinema XXI Sanur, Denpasar, Bali. Diikuti total 94 judul film dari 38 negara terdiri atas penayangan 10 world premier, 10 international premier dan 20 Asian premier.
Ada program khusus HongKong Film Asia meliputi presentasi dan film pilihan karya sineas Hong Kong sepanjang masa.
“Balinale menjadi ruang pertemuan bagi sineas, film maker, penonton, pelaku industri, komunitas dan mitra lintas negara untuk menayangkan cerita-cerita yang menggerakkan, menantang dan menginspirasi,” ujar founder Balinale FF, Deborah Gabinetti.
Dikatakannya, Balinale menjadi panggung bagi karya baru yang pertama diperkenalkan kepada publik secara luas di kategori penayangan.
Pemeran dan film makers hadir dan berbagi pengalaman sebagai proses kreatif bagi fans sinema. “Di Balinale 2026 ini ada kategori baru yaitu Best International Short Tapestry of Indonesian yang khusus merayakan karya budaya dan ragam narasi cerita,” ungkap Deborah Gabinetti.
Adapun film pembuka berjudul ‘Euphoria’ karya kolaborasi Julian Rosefeldt yang bekerjasama lintas negara Jerman, Ukraina, Bulgaria dan AS.
Sedangkan film penutup berjudul ‘The End’ karya Joshua Lincoln Oppenheimer.
Untuk menilai film-film peserta ditunjuk 5 juri nasional yaitu Yosep Angga Noen, Marcella Zalianty, I Made Denny Chrisna Putra, Nirartha Bas Diwangkara dan Shanty.
Ini ditambah lagi 5 juri internasional yang malang melintang di berbagai FF dunia yaitu Eros Zhao (AS), Yoseph JU Taylor (Selandia Baru), Denise Castelli, David Hanan dan Richard Todd (Australia).
“Kita targetkan sebanyak 8000 pengunjung bisa diserap menonton dan berdiskusi di Balinale 2026,” harap Deborah Gabinetti.
Yang istimewa di Balinale 2026 diikuti pertama oleh mahasiswa IKJ bernama Mirza Nadlar Mazini yang menyertakan film karyanya berjudul ‘Holy Salt’. Film pendek berdurasi 15 menit ini lolos seleksi Balinale 2026.
“Obsesi saya di Balinale ini menjadi pintu masuk ke Oscar. Kami mendaftar tanpa ekspetasi tinggi tapi ada gengsi,” ucap Mirza merendah.
Balinale ruang pertemuan sineas dan penonton (foto balinale)
“Saat ini, Balinale menjadi tempat belajar yang berharga guna memahami bagaimana film Indonesia bisa berbicara kepada penonton dunia,” imbuh Mirza.
‘Holy Salt’ bercerita sangat sensitif yaitu seorang guru agama terkenal menjual garam ruqyah palsu ke pengikutnya di internet.
Sebuah fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Syuting dilakukan di Jaktim dan Jakbar selama 5 bulan dengan biaya patungan sekitar Rp 30 juta.
Walhasil, Balinale FF bukan sekadar pemutaran film belaka tapi juga ihwal perayaan kreatif dan kolaborasi antarnegara yang menginspirasi. (pik)