Didik Nini Thowok Tampil Beda: Jadi Tokoh Kunci di Monster Pabrik Rambut

JAYAKARTA NEWS—  Selama hampir lima dekade, aktor dan penari Didik Nini Thowok alias Didik Hadiprayitno (Kwee Tjoen An, 71 tahun) tampil di ranah film Indonesia.

Di film terbaru garapan sutradara Edwin berjudul ‘Monster Pabrik Rambut’, Didik berperan sebagai Maryati, boss pabrik rambut yang berpembawaan unik dan eksentrik.

“Aku tampil beda dan jadi tokoh kunci di film yang akan beredar 4 Juni 2026,” ujar Didik tenang.

Produksi Palari Films dan ko-produksi Singapura, Jepang, Jerman dan Prancis ini juga dibintangi Iqbaal Ramadhan, Rachel Amanda, Lutesha, Aryani Willems, Sal Priadi dan Kev.

Ia tertarik membintangi film ini karena menghadirkan pengalaman horor fantasi retro dari latar pabrik rambut dan situasi para pekerjanya yang kurang tidur.

Situasi-situasi horor dibangun dari atmosfer pabrik rambut yang creepy.

“Mas Edwin menugaskan aku selalu tersenyum manis namun eksploitatif dan misterius,” jelas Didik yang sehari-hari mengajar tari di ISI Jogjakarta.

Dikatakannya, ia menjadi nyawa film ini. “Horor di sini dipenuhi kritik sosial yang sangat dalam. Monster nya terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era 80an tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror.”

“Ya Maryati dan Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan. Visualisasinya tampak liar, berani dan penuh fantasi. Bona itu didesain mampu meregenerasi tubuhnya. Dan Maryati dengan senyum manisnya secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan oleh para pekerja Indonesia,” imbuh Didik.

Hebatnya, Edwin di film ini bereksplorasi yang ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI untuk menyuguhkan sisi retronya.

Di sini, Edwin menggandeng Menfo Tantono yang menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli sekitar dua truk beserta manekin, prostetik, sisir paku dan berbagai elemen yang ada di dunia nyata.

“Film ini menjadi refleksi terhadap kondisi kerja yang belum ideal. Para pekerja kerap lembur sehingga kurang waktu untuk tidur dan istirahat. Cerita dan para karakter memperlihatkan betapa horornya dunia kerja yang dinormalisasi,” timpal Didik.

Apakah sistem kerja ini benar jika sakit dianggap kerja keras ? tanya Didik.

Di Monster Pabrik Rambut, Didik unjuk diri apa adanya dan realistis.

Sedangkan di beberapa pertunjukan, ia tampil dengan topeng, humor dan cross gender.

Ia lihai meramu dan memadukan tari tradisi Jawa dan klasik Tionghoa.

Maklum, sejak kecil Didik cenderung sempat berlaku seperti wanita dan suka permainan cewek seperti pasar-pasaran, masak-masakan dan berdandan keibu-ibuan.

” Saya suka menjahit, menyulam dan merenda,” pungkas Didik. (pik)

Tribute to Erros Djarot: Rayakan Perjalanan Cinta di Java Jazz 2026

JAYAKARTA NEWS— Hari kedua (Sabtu, 30/5) Java Jazz 2026, Nice Hall di PIK 2 dipenuhi pengunjung.

Mereka ingin melihat dan bernyanyi bersama Erros Djarot yang selama 45 tahun berkarir di ranah musik dalam acara ‘Tribute to Erros Djarot’, Sebuah acara yang digagas sebagai penghormatan kepada komponis, musikus dan penulis lirik lagu.

“Malam ini kita saksikan sebuah perjalanan panjang karya, idealisme, pengorbanan dan cinta mas Erros Djarot terhadap musik Indonesia,” sambut pembuka pendiri Java Jazz, Peter F Gontha.

“Terima kasih, Pit. Musik bukan agama tanpa batas suku dan negara,” balas Erros.

“Musik itu bahasa universal

Menyatukan manusia. Di panggung, kita tetap merasakan harmoni yang berbeda,”  imbuh Errod Djarot yang pernah mendirikan Barong’s Band bersama mahasiswa RI di Jerman Barat.

Erros Djarot bersama Barong’s Band (foto istimewa)

Acara ini menghadirkan Dwiki Dharmawan selaku pengarah musik.

Penyanyinya adalah Dira Sugandi, Once Mekel, Monita Tahalea, Andre Hehanussa dan Balawan (virtuoso).

Lagu pembuka ‘Serasa’ yang dibawakan Dira Sugandi yang jangkauan vokalnya nyaris tiga oktaf

Penonton bagai tersihir ikut menyanyi.

Suasana menjadi hangat ketika disusul Once Mekel yang melantunkan ‘Angin Malam’ yang bersuara khas.

Andre Hehanussa membawakan ‘Merpati Putih’ dan Monita Tahalea menyenandungkan ‘Cinta”.

Nomor demi nomor menyemarakkan  malam nan dingin.

Once lagi-lagi mengajak penonton ‘sing a long’ di lagu ‘Selamat Jalan Kekasih’ yang bernada sentimental.

Dan ditutup lagu ‘Simfoni’ bersama semua penampil.

Ada yang terlupakan. Kenapa lagu ‘Badai Pasti Berlalu’ yang menjadi karya monumental Erros (yang juga difilmkan Teguh Karya dan Erros berhasil meraih Citra pertama sebagai penata musik) tidak dibawakan ?

Apakah karena biduanita Berlian Hutauruk yang bersuara sopran seperti di album kasetnya, tak hadir malam itu ?

“Waktunya terbatas dan mepet,” alasan Dwiki Dharmawan.

Iya deh.

Malam semakin larut.

Selamat jalan kekasih, terdengar sayup-sayup masih didendangkan pengunjung. (pik)

Menanti 17 Tahun, Akhirnya Slank Kembali Tampil di Java Jazz 2026 Minggu Besok, Siap-siap Kejutan!

JAYAKARTA NEWS—  Grup rock legendaris Slank akan tampil di Nice Hall, PIK 2, Tangerang, di hari terakhir (Minggu, 31/5/2026), Java Jazz 2026. Slank pernah unjuk diri di Java Jazz 2009 di JCC, Jakarta. Setelah menanti selama 17 tahun, Slank kini akan menyapa para slankers.

“Slank akan tampil dari pk 4.30 PM hingga pk 5.30 PM dengan sentuhan rock, blues, reggae dan R&B,” ujar Kaka, vokalis Slank, kepada penulis di Gang Potlot (markas Slank), Jakarta.

Dikatakannya, Slank akan merombak total lagu-lagunya dengan konsep baru yang lebih segar dan berbeda.

Pemain drum, Bimbim memaparkan kali ini Slank tak banyak menghadirkan kolaborasi.

“Kita kasih challenge. Penonton belum pernah dengar konsep baru spesial di Java Jazz 2026,” ungkap Bimbim.

Berdurasi satu jam, Slank membocorkan deretan nomor lagu-lagu hits miliknya.

Antara lain ‘Virus’, ‘Ku tak bisa’, ‘Orkes Sakit Hati’, ‘Suit..suit..Hei..Hei’, ‘Tong Kosong’ dan lagu lain yang bernuansa menghentak dan blues.

Slank tampil di hari terakhir Java Jazz 2026, Minggu (31/5/2026)/ Foto jjf

Slank masih tetap berformasi Kaka (vokalis), Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee Negara (gitar).

Bertema ‘beyond the horizon’, Java Jazz ke 21 tahun ini dihelat selama 3 hari : 29, 30 dan 31 Mei 2026.

Dengan 10 panggung, Java Jazz 2026 boyongan dari JIExpo Kemayoran ke Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 milik grup Agung Sedayu Group dan Salim Group.

NICE Hall disebut-sebut merupakan venue terbesar di Asia.

Sederet jazzer lokal dan mancanegara meramaikan perhelatan festival musik terbesar yang diadakan setiap tahun.

Selain Slank, gelaran ini juga menampilkan  Baskara & Ardhito Pramono, Andien, Ruth Sahanaya, Dira Sugandi, Yura Yunita, Dwiki Dharmawan, 5 Petani, Barry Likumahuwa, Andre Dinuth, Maliq d’Essentials, John Batiste, Daniel Caesar, Dave Koz, Earth Wind n Fire dan masih banyak lagi. (pik)

Cigarnesia 2026 Disambut Antusias, Pecinta Cerutu Siap Ramaikan Event di Jakarta

JAYAKARTA NEWS – Ajang Cigarnesia 2026 yang digagas PT Sejahtera Cerutu Indonesia atau Sultan Cigar Indonesia mendapat sambutan positif dari komunitas pecinta cerutu di Tanah Air. Event yang akan berlangsung pada 3–5 Juni 2026 di Juntos Bar & Grill, Lotte Mall, Kuningan, Jakarta Selatan itu dipastikan bakal dipadati pengunjung dari berbagai kalangan.

Tak hanya komunitas cigar enthusiast, acara ini juga menarik perhatian pebisnis, profesional muda, hingga masyarakat umum yang baru ingin mengenal budaya cerutu Indonesia.

Salah satu pecinta cigar asal Jakarta, Alif, mengaku tertarik hadir bukan sekadar menikmati cigar gratis, tetapi juga ingin mendapatkan pengalaman baru mengenai dunia cerutu.

“Yang menarik bukan hanya bisa menikmati cigar, tapi juga ada sesi edukasi dan demo rolling cigar secara langsung. Itu yang bikin acara ini spesial,” ujarnya.

Founder Sultan Cigar Indonesia, Frederiko Ratu Kedang atau yang akrab disapa Om Fred, menilai tingginya minat masyarakat menunjukkan budaya cerutu lokal semakin diterima sebagai bagian dari gaya hidup modern dan ruang sosial yang terbuka bagi siapa saja.

“Animo teman-teman penyigar sangat luar biasa. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati cigar, tetapi juga ingin memahami proses pembuatan, karakter rasa, hingga budaya di balik cerutu Indonesia,” kata Om Fred di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurutnya, meningkatnya minat terhadap cigar lokal juga menjadi bukti bahwa kualitas cerutu Indonesia kini semakin mampu bersaing dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Selama acara berlangsung, pengunjung akan disuguhkan berbagai varian cigar premium dari Sultan Cigar Indonesia. Selain itu, mereka juga dapat berdiskusi langsung dengan para tursedor atau penggulung cerutu mengenai teknik menikmati cigar, pemilihan tembakau terbaik, hingga perkembangan industri cerutu nasional.

Om Fred menambahkan, suasana hangat dan penuh keakraban menjadi salah satu konsep utama yang ingin dihadirkan dalam Cigarnesia 2026.

“Cigarnesia bukan sekadar event menikmati cerutu, tetapi juga ruang silaturahmi, edukasi, dan apresiasi terhadap budaya cigar Indonesia,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Sultan Cigar Indonesia ingin memperkenalkan bahwa cerutu bukan hanya produk konsumsi, melainkan bagian dari seni, tradisi, dan pengalaman sosial yang terus berkembang di Indonesia.***/mel

Film Badut Gendong, Terjebak dalam Teror Kutukan

JAYAKARTA NEWS— Terinspirasi dari ledek Gogek (seni tradisi di Jawa Tengah), sutradara Charles Gozali membuat film drama horor terbaru berjudul Badut Gendong.

Film karyanya ke 11 ini menghadirkan karakter lebih komplek dan berjalan di garis moral abu abu.

“Tidak hitam putih. Di satu sisi menyeramkan tapi di sisi lain menyimpan trauma dan luka,” ujar Charles Gozali usai press screening Badut Gendong di XXI Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Jumat, 22 Mei 2026.

Darso (Marthino Lio), pengamen jalanan saat kehilangan isterinya, Darsi (Dayinta Melira) yang dibunuh sekelompok preman jahat. Darsi sedang mengandung 3 bulan.

Kemudian Darso tempatkan jasad isterinya dalam boneka gendong.

Darso harus dihadapkan dan terjebak dengan teror kutukan serta kekuatan gelap di kampung halaman yang penuh konflik.

“Badut Gendong yang penuh misteri dan gore (banyak darah) plus jumpscare menjadi ikon horor baru di negara kita,” jelas Charles Gozali.

Charles Gozali, sutradara Badut Gendong

Tatkala ditayangkan di 6 kota besar di RI pada 20 dan 21 Mei 2026 yang lalu, respon masyarakat dan pecinta atau penonton horor dibuat penasaran dan emosional.

Unsur cinta dan kehilangan  yang belum selesai sangat kuat dan relate di hati penonton. “Badut Gendong akan menjadi sosok lawan baru ustaz Qodrat,” imbuh Charles.

Di ending, ditampilkan aktor pemeran Vino Giovanni Bastian sebagai Qodrat naik motor melintasi rel kereta api. Dan di layar ada tulisan “Qodrat return”

Badut Gendong akan dirilis di bioskop seluruh RI mulai 27 Mei 2026.

Naskah ditulis Asaf Antariksa dan Dharma Putra, Badut Gendong diramaikan sederet pemeran yaitu Marthino Lio, Dayinta  Melira, Clara Bernadeth, Iskak Khivano, Vonny Anggraini, Totos Rasiti, Derby Romero dan Akbar Kobar.

Pemeran spesial adalah Barry Prima dan Yose Rizal Manua, dua aktor senior. Linda Gozali, produser Magma Entertainment mengaku Badut Gendong over budget.

“Tapi saya puas karena ceritanya oke,” timpal Linda.

Badut Gendong dikurasi LSF untuk 17 tahun ke atas. (pik)

Happy Asmara dan Pikachu Ramaikan Dunia Dangdut Lewat “Kopi Dangdut” Versi Baru

JAYAKARTA NEWS – Dunia hiburan Indonesia kembali menghadirkan kolaborasi unik dan segar. Penyanyi dangdut ternama Happy Asmara resmi berkolaborasi dengan Pikachu dalam proyek musik bertajuk “Kopi Dangdut ver. Goyang HEPIKA” yang dirilis pada Selasa, 19 Mei 2026.

Video musik lagu tersebut kini sudah dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Happy Asmara, sementara audionya juga tersedia di berbagai platform streaming musik digital.

Lagu “Kopi Dangdut” yang merupakan karya legendaris ciptaan Fahmi Shahab hadir dengan nuansa baru melalui sentuhan aransemen modern garapan Tyo Adrian. Meski tetap mempertahankan ciri khas dangdut klasik, versi terbaru ini dikemas lebih enerjik dan dekat dengan selera generasi muda.

Kolaborasi tersebut menjadi momen perdana bagi Pokémon menghadirkan unsur musik dangdut dalam proyek resminya di Indonesia. Melalui konsep yang ceria dan penuh warna, Pokémon ingin menghadirkan hiburan yang dapat dinikmati lintas generasi.
Dalam video musiknya, Happy Asmara tampil berjoget bersama Pikachu dengan gerakan khas bernama “Goyang HEPIKA”. Nama HEPIKA sendiri merupakan gabungan dari nama Happy dan suara ikonik Pikachu, “Pika”.

Tidak hanya menghadirkan video musik, kampanye ini juga akan diramaikan lewat tutorial “Goyang HEPIKA” yang segera dirilis di TikTok resmi Happy Asmara. Masyarakat juga diajak ikut meramaikan challenge tersebut melalui tagar #HEPIKA di media sosial.

Happy Asmara mengaku senang dapat terlibat dalam kolaborasi yang menurutnya berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Ia berharap lagu tersebut bisa membawa suasana bahagia bagi para pendengar.
“Saya berharap lagu ini bisa menghadirkan kebahagiaan dan senyum untuk semua orang. Ayo ikut joget bersama Pikachu,” ujar Happy Asmara.

Kolaborasi ini juga akan berlanjut ke sejumlah proyek lainnya. Happy Asmara dipastikan ikut terlibat sebagai pengisi suara dalam serial anime terbaru Pokémon berjudul Pokémon Horizon: Season 3 – Asa Mengangkasa. Serial tersebut dijadwalkan tayang di Mentari TV mulai 30 Mei 2026 dan tersedia di kanal YouTube resmi Pokémon Indonesia mulai 5 Juni 2026.

Selain itu, Pokémon juga akan menghadirkan merchandise spesial berupa boneka gantungan kunci Pikachu berkostum dangdut bertajuk “Happy BARENG PIKACHU Plush Key Chain”.

Keseruan kolaborasi ini bakal berlanjut lewat penampilan spesial Happy Asmara bersama Gilga Sahid yang akan membawakan lagu tersebut di kanal YouTube RC Music pada 13 Juni 2026.

Tak hanya hadir secara digital, acara offline bertajuk “Goyang HEPIKA di CFD” juga segera digelar di kawasan Senayan, Jakarta. Pengunjung nantinya dapat menikmati suasana kolaborasi dangdut dan Pokémon sekaligus bertemu langsung dengan Pikachu berkostum dangdut.

Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana budaya pop internasional dapat dipadukan dengan musik lokal Indonesia menjadi hiburan yang kreatif, unik, dan penuh keceriaan.(Agus Oyenk)

‘Kamu Harus Mati’: Teror Psikologis Menimpa 3 Cewek

JAYAKARTA NEWS—  Horor psikologis adalah subgenre  horor yang mengandalkan teror mental, trauma dan paranoia daripada sekadar penampakan penampakan makhluk halus.

Cerita tentang eksplorasi sisi gelap pikiran manusia, ilusi dan ketakutan yang mengganggu nalar tiba-tiba berubah menjadi ancaman menyeramkan.

‘Kamu Harus Mati’ karya ke lima sutradara Tema Patrusza ini tak ada kaitan dengan film “Aku Harus Mati’ yang yang poster balihonya diturunkan Satpol PP di 3 titik Jakarta.

“Kamu Harus Mati murni saya buat berdasar horor psikologis, thriller dan misteri yang menimpa tiga cewek,” ujar Tema Patrusza  yang sukses membuat film ‘Jin Khodam’, ‘Sakral’, ‘Tumbal the Ritual’ dan ‘Terima kasih Cinta’.

Kisahnya berfokus ihwal teror psikologis dan halusinasi yang menghantui karakter Meta, mahasiswi Fakultas Film di kos (Sahila Hisyam).

Hal ini menimpa Meta setelah kehilangan kawan terdekatnya bernama Sam (Leo Consul, aktor Pilipina) yang mendadak wafat dalam kejadian tragis.

Banyak kejadian ganjil yang sulit dijelaskan menimpa Meta.

Dan Meta diteror oleh arwah Sam.

Namun, Kesi dan Dona tak percaya hal tersebut. Meta berusaha mencari jalan dengan memecahkan teka teki di sekitar rumah ortunya.

Dua sobat kentalnya sudah retak kejiwaannya.

Teror psikologis makin menjadi-jadi.

Bisakah Meta ‘berdamai’ dengan halusinasinya sendiri dan mengusir secara halus arwah Sam kembali ke alamnya semula ?

Film yang akan dirilis di bioskop 21 Mei 2026 yang didistribusikan oleh Nant Entertainment ini juga dibintangi Leon Alexander dan sederet cameo di hutan, kampus dan ruangan kos.

Seni peran Sahila Hisyam sangat ciamik dan menjiwai perannya di beberapa adegan.

Produser Muhammad Hananto optimis film Kamu Harus Mati bisa sukses dalam peredaran.

Mungkin sebentar lagi sineas kita akan membuat film Kalian atau Mereka Harus Mati ? (pik)

Film Dokumenter ‘Pesta Babi’ Dilarang Diputar di Ternate dan Mataram

JAYAKARTA NEWS— Film dokumenter ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ boleh diputar di M Bloc dan kota lain, tapi dicekal di Ternate (Maluku Utara) dan Mataram (NTB).

Karya sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini dianggap judulnya terlalu provokatif  dan masyarakat banyak yang menolak di medsos.

Dandim 1501/Ternate, Letkol Inf Jani Setiadi menilai penayangan dan diskusi Pesta Babi sarat isu SARA dan masyarakat mudah dipolitisir. “Mari kita saling menghargai dan menjaga keamanan yang kondusif di Ternate,” pinta Jani Setiadi.

Namun, Yunita Kausar  selaku Koordinator Penyelenggara dari Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) Ternate mengecam pembubaran Pesta Babi.

“Ini bagian dari kebebasan ekspresi dan dijamin Konstitusi. Setiap warganegara berhak bersuara dalam negara demokrasi dan ruang diskusi asal tak melanggar hukum,” elak Yunita Kausar.

Ditegaskannya, saat ini negara menjadi takut terhadap diskusi dan film dokumenter.

Senada yang terjadi di Universitas Mataram (Unram), Mataram, NTB. Pihak Rektorat Kampus membubarkan acara penayangan dan diskusi Pesta Babi.

Menanggapi hal pelarangan di Ternate dan Mataram, sutradara Dandhy Laksono menyayangkan hal tersebut terjadi di era reformasi.

“Ini paradoks. Seharusnya diputar di kampus merupakan ruang aman untuk kebebasan berekspresi, bukan dipersempit,” gertak Dandhy Laksono.

Pesta Babi yang beroleh apresiasi saat diputar di Sydney, Australia, menceritakan kehidupan masyarakat adat di Merauke, Boven Digul dan Mappi, Papua Selatan yang tersingkirkan hutan adat dan lingkungan sekitarnya.

Film ini mengangkat isu deforestasi dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua serta keterlibatan militer di agenda negara yang membuka lahan pangan dan industri bioenergi.

Pesta Babi difasilitasi oleh Wachdog, Jubi id, Greenpeace Indonesia, Pusaka Bentala Rakyat  dan Expedisi Baru. (pik)

Gebrakan Leo Pictures: Series ‘Bunga di Tepi Jurang’ dengan 12 Episode

JAYAKARTA NEWS— Dunia hiburan digital Indonesia tengah marak. Beragam konten-konten berkualitas tinggi memperkuat posisi video on demand.

Tahun ini, Leo Pictures menggebrak dengan series dan film yang akan menghiasi layar televisi dan bioskop. Series ‘Bunga di Tepi Jurang’ akan disutradarai Angling Sagaran dan naskah ditulis oleh Tisa TS.

Sebanyak 12 episode disiapkan akan tayang di iqiyi n maxstream dan series ini diramaikan sederet pemeran yaitu Stefan William, Clarista Taufan, Erika Carlina, Derby Romero, Alliando Syarief, Georgio Antonio dan Mos Panuwat Sopradi dari Thailand.

“OST nya kita ambil dari lagunya Koes Plus yaitu ‘Bunga di Tepi Jalan’. Series ini mengangkat isu sensitif tentang luka dan perjuangan wanita dari sudut pandang yang berbeda,” kata produser Agung Saputra dalam acara Showcase 2026 di Mal Central Park, Grogol, Jakarta Barat, baru-baru ini.

Untuk film layar lebar, Leo Pictures juga menyiapkan ‘Jangan Buang Ibu’ dan ‘Rumah Terakhir Kita’.

Jangan Buang Ibu disutradarai Hadrah Daeng Ratu akan dirilis di bioskop  11 Juni 2026.

Pemeran-pemerannya adalah Nirina Zubir, Dwi Sasono, Refal Hardy, Erika Carlina, Amanda Manopo, Fadly Faisal dan Basmalih Gralind dll.

Para pemeran dan penulis naskah Bunga di Tepi Jalan (foto tisa)

Luna Maya kali ini bertindak sebagai Direktur Eksekutif.

Berkisah ihwal emosi keluarga antara ibu dan anak yang menyangkut konflik emosional.

Drama keluarga ini menceritakan tentang Ristiana (Nirina Zubir) yang sepeninggal suaminya yang wafat, oleh tiga anaknya dititipkan di panti wreda.

“Saya tertarik menjadi direktur eksekutif karena ceritanya menyangkut lapisan terdalam dari seorang ibu yang renta yang dititipkan di panti wreda,” ungkap Luna Maya.

Produser Agung Saputra menjelaskan bahwa film bukan sekadar hiburan tapi juga cara untuk menyampaikan rasa, pengalaman batin dan hal-hal yang sulit diucapkan langsung.

Pengalaman dan rasa ini diungkapkan dalam bentuk cerita yang dekat dengan kejadian sehari-hari penonton Indonesia. (pik)

Swarna Bumi Bahari Menutup Meriah Rangkaian Semarak Budaya Indonesia 2026 

JAYAKARTA NEWS— Festival tahunan Kota Surakarta, Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026 sukses mencapai puncaknya pada malam kedua yang berlangsung pada Sabtu (09/05/2026) di pelataran Balai Kota Surakarta. Acara ini dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dibuka gratis untuk masyarakat umum. Mengangkat tema besar “Swarna Bumi Bahari”, festival yang telah memasuki tahun ke-13 ini resmi ditutup dengan meriah. 

Sebagai bagian dari misi pelestarian dan apresiasi warisan budaya, SBI 2026 menjadi ruang aktualisasi bagi generasi muda untuk menampilkan karya-karya terbaik mereka di hadapan publik. Antusiasme ini terpancar dari kehadiran ratusan penonton yang memadati pelataran Balai Kota Surakarta untuk menyaksikan pagelaran akbar ini. SBI 2026 berhasil menghadirkan berbagai sanggar dan komunitas seni dari seluruh penjuru Nusantara. 

Pada hari kedua ini, beberapa penampil meliputi Sanggar Gantari Nareswari Ishwara – Tari Kidung Pananjung, Sanggar Tari Greged – Tari segoro Pujo, Sanggar Aneuk Nanggroe Nusantara – Tari Ratoh Jaroe Aceh, Sanggar Satya Pandita – Tari Burayak Sari Laut, Semarak Candrakirana Art Center – Tari Blonyo Wadon, Sanggar Mada Ntana Dompu – Tari Lakey Dompu Wonderful of Dompu

Sanggar Niskala Hayu – Tari Nyetri, Damar Art – Tari Sraddha Patni, Miroton Dance – Tari Sorop Areh, Perwira Budaya – Tari Tambak Lorok, Sanggar Wung Ayu – Tari Ayodyakarta, IPMKRS (Ikatan Pelajar Mahasiswa Kepulauan Riau Surakarta) – Tari Gemerlap Zapin Bahari, Pelangi Ngesti Budaya – Tari Senandung Layar, dan Lokatari Art – Tari Puspa Daya. 

Foto: dok panitia SBI 2026

Hari kedua SBI 2026 dibuka dengan tarian Kidung Pananjung dari Sanggar Gantari Nareswari Ishwara, asal Cirebon Jawa Barat. Yang menceritakan tentang rasa dendam, sedih dan kecewa yang bisa muncul secara tiba tiba bagi siapa saja. Seperti yang dialami seorang putri dari kerajaan pananjung yang bernama Dewi Siti Samboja yang ditinggal suaminya akibat dibunuh oleh raja bajak laut yang bernama Bajo. 

Penampilan yang tak kalah memukau hadir dari Sanggar Aneuk Nanggroe Nusantara (SANSA) dan membawakan Tari Ratoh Jaroe. Tarian ini berhasil menjadi salah satu primadona pada malam kedua Semarak Budaya Indonesia (SBI) 2026. Kecepatan tangan serta kekompakan gerakan badan dan kepala para penari berhasil menciptakan energi yang luar biasa di panggung.

Selama 12 menit pertunjukan, 20 penari dari berbagai kategori usia tersebut sukses menghipnotis penonton di Balai Kota Surakarta. Mereka mengkolaborasikan keharmonisan gerak, kecepatan tempo, dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas tarian asal Serambi Mekkah tersebut, sehingga suasana menjadi sangat meriah dan penuh apresiasi dari para penonton.

Pertunjukan Tari Puspa Daya oleh Lokatari Art menjadi penampilan penutup SBI 2026. Acara ini kemudian dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kepada para penampi. Penyerahan sertifikat diberikan oleh Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A. selaku Wakil Walikota Surakarta, Apriza Rizaldi Na’im, S.H., selaku Ketua Festival SBI 2026, dan Dra. R.Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn., serta perwakilan Paguyuban Putra Putri Solo.

“Semoga semangat kebudayaan yang telah kita bangun, dalam kegiatan hari ini akan terus hidup dan berkembang di tengah-tengah kita semuanya,” ujar Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A. dalam closing statement-nya.

Rangkaian SBI 2026 resmi ditutup dengan pemukulan kentongan oleh Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., Apriza Rizaldi Na’im, S.H., Dra, R.Ay. Irawati Kusumorasri, M.Sn., serta perwakilan dari Paguyuban Putra dan Putri Solo. Kemudian rangkaian acara diakhiri dengan flashmob bersama seluruh penonton, penampil hari kedua, dan panitia.

Acara SBI 2026 berhasil digelar dengan meriah dengan dukungan dari berbagai pihak, diantaranya, Semarak Candrakirana Art Center, Pemuda Indonesia Kreatif, Pemerintah Kota Surakarta, serta Sponsor dan kawan Media Partner. (*)