Chef Aiko Unjuk Kebolehan di SaveMax Cibubur

 

 

CHEF Aiko mengisi acara cooking rally di SaveMax Cibubur terkait perayaan dua tahun resmi berdirinya super grosir tersebut di wilayah pertumbuhan ekonomi kawasan Jakarta Timur, jelang akhir pekan ini.

Chef Aiko mengakui meski itu pertama kalinya hadir di SaveMax, dia jadi telanjur menyenanginya karena peralatan dan perabotan masak tersedia dengan lengkap banget.

Di kesempatan itu, dia menganjurkan para peserta cooking rally yang kesemuanya pelaku usaha kuliner supaya sering-sering mampir melihat berbagai foto dan video tentang resep-resep masakan terbarunya yang penuh sentuhan citarasa kuliner Indonesia, dan resep sehat dengan berah merah dan hitam di Instagram @aiko_sarwosri.

Sudah terhitung dua tahun ini, SaveMax Super Grosir Cibubur dibuka dengan kini telah beranggotakan pelanggan resmi sampai sebanyak puluhan ribu dan kustomer tetap yang sekarang mendekati hampir seratus ribu orang. “Target pembeli utama masih kalangan pihak Hotel, Restoran, Kafe dan Katering (Horeka), serta kaum pengusaha kecil dan para retailer hingga penyediaan kebutuhan produk belanjaan keluarga sehari-hari,” dijelaskan CEO dan Presiden Direktur Anastasios Michailidis dalam mengomentari perayaan dua tahun peresmian SaveMax Cibubur yang dimeriahkan antara lain oleh program “2 Hari Dahsyat Hematnya” hingga Jumat (24/11/2017), cooking rally dipandu Celebrity Chef Aiko, demo masak pada 7 Desember nanti, dan Hiburan Dangdut Seru bersama Eva Puka (16 Desember 2017).

Pilihan berlokasi awal di kawasan Cibubur, Jakarta Timur  adalah pertimbangannya sebagai growing area berprospek tinggi. “(Pastinya) Dengan harapan nantinya mampu berekspansi maju sampai keluar wilayah Jakarta Timur ataupun malah bisa sampai meluas keluar Jakarta. SaveMax adalah merek super grosir lokal Indenesia. Local brand, kita (merupakan) perusahaan milik Indonesia, bukan dari luaran, owner-nya juga orang indonesia,” tegas Anastasios Michailidis.

SaveMax bisa diartikan saving maksimal kalau berbelanja kesini, lanjut penjelasannya. “SaveMax adalah modern market berkonsep bisnis yang bukan retailer tetapi kita berbisnis wholesaler dimana menjalankannya dengan konsep business to business (B2B). Kita memberikan layanan pada setiap kustomer untuk menjalankan bisnisnya. Berharap bisa membuat mereka berkembang (terus usahanya) lantaran kita,” janji pria Yunani ini.

Tujuan utama SaveMax adalah membrikan pelayanan segala kebutuhan-kebutuhan kustomer utamanya pebisnis Horeka, dan juga para pedagang usaha kecil di sekitar lokasi SaveMax Cibubur. Selama dua tahun ini, kami memberikan solusi berbeda-beda tergantung lini bisnis industri para pelanggannya. Kemudian berkolaborasi dengn para kustomer untuk bersama-sama maju. Bahkan setiap pelanggan pedagang-pedagang kecil kita berikan harga yang sangat kompetitif. Ketika mereka berbelanja, diberikan harga kompetitif. Kami memberikan harga dan keuntungan bagus buat bisnis kecil mereka,” ungkap Anastasios Michailidis, melengkapi penjelasannya.

Film Pokemon Hadir di Indonesia, Yuka Tamada Bernostalgia

Film POKEMON THE MOVIE: I CHOOSE YOU bakal hadir di Indonesia. Di Indonesia, film ini berubah menjadi THE MOVIE POKEMON: AKU MEMILIHMU. Tentu ini menjadi kabar bahagia bagi penggemar Pokemon di Tanah Air. Yuka Tamada, jebolan Indonesian Idol itu merasa sangat senang film Pokemon hadir di Indonesia.

Yuka mengaku, kehadiran film Pokemon di Indonesia membuat dirinya kembali mengingat masa kecil dulu. Baginya, film Pokemon menjadi tontonan paling menarik. Bahkan, saking sukanya dengan Pokemon, gadis keturunan Jepang itu mempunyai beberapa permainannya. Film Pokemon tayang 29 November di 200 layar di jaringan CGV dan Cinemaxx di seluruh Indonesia.

“Aku pertama kali nonton itu umur, aduh lupa berapa. Aku tahun ini udah 25 tahun. Berarti pas umur aku 5 tahun, dulu ngumpulin kartunya. Dulu namanya anak sering main kartu, yang kalah kartunya diambil sama yang menang,” kata Yuka saat ditemui dalam acara press screening Pokemon.

Yuka mengaku film THE MOVIE POKEMON: AKU MEMILIHMU sangatlah menarik untuk ditonton. Apalagi, banyak Pokemon-Pokemon baru yang muncul di film tersebut.

“Yang paling menarik banyak Pokemon. Kan yang di film, nggak cuma gen pertama. Aku dari 90an dari gen pertama, Pikachu, Nidorino, Onix. Itu pas liat pokemon dari pertama. Tapi pas ada gen baru aku kurang tau,” katanya.

Selain itu Yuka megatakan, banyak pesan yang diambil dari film THE MOVIE POKEMON: AKU MEMILIHMU. Menurutnya, lewat film ini orang-orang diajarkan tidak boleh terlalu kasar dengan binatang.

“Pelajaran dari Pokemon itu jangan terlalu kejam sama hewan yang ada. Karena aku juga punya binatang peliharaan. Jadi lebih sayang, dan care. Soalnya karena hewan itu kalo diberikan kasih sayang, kasih sayang itu juga akan berbalas kepada kita. Pelajaran itu lebih menghargai makhluk hidup lain,” ujar Yuka.

DNA Production selaku pemegang hak distribusi film ini mengatakan, kehadiran film Pokemon di Indonesia sebagai tanda 20 tahun keberadaan animasi dari Jepang tersebut.

Menurut CEO DNA Production, Rina Novita mengatakan film Pokemon sangat tepat untuk ditonton oleh masyarakat Indonesia. Rina menilai, banyak nilai positif yang diambil dari film ini.

“Penayangan ini sekaligus merayakan 20 tahun keberadaan Pokemon. Film ini asik, satu hari lalu saya preview. Awalnya saya nggak pernah nonton Pokemon. Waktu ambil Pokemon karena anak saya seneng. Ternyata asik juga dari awal persahabatan Pikachu sampai akhirnya sama-sama berjuang. Itu anak muda yang harus belajar, jangan mudah menyerah,” tandas Rina.

Anime karya Shoji Yonemura akan tayang di Indonesia pada 29 November 2017. THE MOVIE POKEMON: AKU MEMILIHMU akan hadir sebanyak 200 layar di CGV Blitz dan Cinemaxx Theater. ***

Pernyataan LSF tentang Kontroversi Film “Naura dan Genk Juara”

FILM musikal Naura dan Genk Juara berkisah tentang rombongan anak-anak sekolah yang cerdas dan kreatif yang berkegiatan di sebuah hutan konservasi. Di tengah kegiatan itu ada 3 orang penjahat yang melakukan pencurian hewan dari kandang konservasi yang ternyata didalangi si petugas penjaga konservasi itu sendiri.

Tiga orang penjahatnya bercambang dan bertampilan agak kasar, sebagaimana layaknya tampilan penjahat pada umumnya. Satu di antaranya memakai celana pendek bukan celana cingkrang. Oleh karena itu jauhlah dari gambaran saudara-saudara kita yang sering dipandang sebagai radikal/ teroris, karena jenggot dan model celananya.

Sebagai film setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa-bisa saja penjahatnya beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim penjahat non muslim. (Seperti dalam film Home Alone misalnya)

Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam. Tapi yang dibaca salah ‘comot’, yaitu doa mau makan. Karena itu ditegur temannya, doanya salah, doa makan.

Ketahuan penjahatnya muslim -ya karena dia baca doa itu, yang cenderung latah-latah juga. Tapi tidak ada penggambaran spesifik atau kesan penegasan bahwa muslim itu jahat. Tidak bedanya jika ada film tentang kasus korupsi lalu koruptornya di dalam bui berdoa atau shalat, itu sama sekali tak berarti merepresentasikan Islam/umat Islam itu jahat.

Bagi LSF, tidak terlihat adanya bagian yang secara jelas mendiskreditkan Islam. Jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Kita tahu kalo penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu.

Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar. Tetapi sekali lagi, bagi LSF (Lembaga Sensor Indonesia), itu tdak berarti menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam. “Untuk memahami film “Naura dan Genk Juara” ini kiranya memang perlu menonton langsung filmya,” ujar Ketua LSF Ahmad Yani Basuki. ***

Film ‘Naura & Genk Juara’ Dituding Berbau SARA

Film anak-anak ‘Naura & Genk Juara’ menjadi salah satu film yang tengah mengisi layar bioskop saat ini. Namun ada kabar tak enak yang muncul terkait film tersebut belakangan.

Sejumlah tudingan menyebut, film ‘Naura & Genk Juara’ dinilai memiliki cerita yang melecehkan agama Islam.

Di media sosial, seorang netizen mengungkapkan adegan yang dinilai melecehkan tersebut. Salah satunya ada dalam adegan beberapa orang yang tengah beraksi hendak menculik tokoh anak-anak yang terlibat dalam cerita film yang disutradarai Eugene Panji tersebut.

Film ‘Naura & Genk Juara’ dinilai netizen menempatkan simbol-simbol Islam secara keliru terlebih disematkan pada tokoh antagonis dalam ceritanya.

Film ini dibintangi oleh penyanyi cilik Naura dan beberapa bintang cilik lainnya. Personel B3 Nola bersama penyanyi Shelomita turut ambil bagian meramaikan film anak-anak ini.

Sampai sejauh ini Eugene Panji dan beberapa orang yang terlibat dalam film tersebut masih belum bisa dimintai komentarnya mengenai tudingan itu.

Di sisi lain, salah seorang ibu menganggap adegan penculikan itu tidak menonjol. Mereka justru banyak menyoroti Naura yang sepanjang film memperlihatkan semangat mengajak kebaikan.

“Ramai soal film Naura. Sebagai orangtua yang sudah menonton film Naura sebelum ada pesan berantai itu, saya kaget. Karena saya yang mendampingi anak saya dan teman-temannya menonton film itu di Pondok Indah Mall, sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Ingat ada adegan soal penculikan sambil menyebut takbir itu pun nggak. Yang justru diingat bagaimana serunya Naura dan teman-temannya menyelamatkan teman mereka yang diculik,” kata ibu bernama Eny itu kepada penulis. Baldi, ayah Naura yang ikut main di film tersebut tak mau berkomentar tentang film Naura yang dituding lecehkan Islam. “Biar nanti pihak orang film yang bicara”, ungkap Baldi. ***

Deddy Corbuzier Berperan Serbabisa di “Knight Kris”

 

AWAL  dari trilogi dari film layar lebar animasi anak bertajuk “Knight Kris”, siap diputar serentak pada sejumlah bioskop di Indonesia mulai Kamis  (23/11/2017). Rencananya, film ini juga akan ditayangkan di beberapa negara tetangga. Inilah sebab mengapa  judul film ini memakai berbahasa asing.

Deddy Corbuzier sebagai produser eksekutif selain pula berperan jadi dubber dan penyanyi untuk original soundtrack (OST), menyinggung pentingnya kini ada film animasi layar lebar yang diproduksi menjadi  bukti kemampuan para animator asal negeri sendiri. Ye,  mereka sudah banyak berkarya untuk berbagai produk film animasi keluaran  perfilman Hollywood.

Keberanian mantan mentalis ini yang kabarnya rela menghabiskan biaya produksi selama sekitar tiga tahunan sampai melebihi angka Rp 20 miliar tersebut, cenderung jadi bagian upaya menolong anak Indonesia supaya bisa menikmati tontonan cerita bermanfaat.

Semacam nasib lagu-lagu anak, film anak pun begitu langka disajikan di layar televisi, kalah dengan apa yang disebut Deddy, “tontonan alay.”

Mulai ditayangkan di bioskop sejak 23 November 2017, Deddy dan Sys NS selaku produsernya memilih berkolaborasi dengan Viva Fantasia Animation dan SSS Production.

Secara unik dan spesial, “Knight Kris” melibatkan putra bungsu Presiden Joko Widodo, ya siapa lagi kalau bukan Kaesang Pangarep yang disini ditugaskan jadi dubber atau karakter animasi bersama-sama Deddy Corbuzier, Chika Jessica serta juga Stella Cornelia.

Inspiratif dan bermutu, itu janji Deddy Corbuzier tentang muatan “Knight Kris” guna menjadi pilihan tontonan anak Indonesia.

“Anak Indonesia memerlukan hiburan yang cedas dan memberikan inspirasi,” tambah Deddy yang juga ditugasi jadi pelantun lagu untuk original soundtrack film animasi ini.

Apalagi, lebih lanjut diterangkannya, pola cerita “Knight Kris” mengangkat kekuatan budaya lokal yaitu Keris, dimana tokoh utamanya yakni sang bocah berusia delapan tahun bernama Bayu melindungi jagat Nusantara dengan kesaktian senjata kebudayaan tradisional tersebut.**

Joey Alexander Gelar Konser Dua Hari

Joey Alexander (14) kembali menggelar konsernya di Indonesia. Kali ini, konser bertajuk “A Night With Millions of Imagination”.

PIANIS muda asal Indonesia Joey Alexander (14) kembali menggelar konsernya di Indonesia. Kali ini, konser bertajuk “A Night With Millions of Imagination”  digelar dua hari berturut-turut yakni show case di Balairung Soesilo Soedarman Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata, Jakarta Pusat, 11 November 2017.

Konser ini dihadiri undangan khusus, termasuk para duta besar dan tamu penting serta beberapa menteri. Hari kedua di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang Selatan, 12 November 2017, yang dibuka untuk umum. Konser ini merupakan rangkaian konser Asian Tour Joey Alexander yang sebelumnya telah digelar di Jepang, Singapura, dan Hong Kong.

Joey sendiri mengaku bersyukur bisa kembali ke dan menggelar konsernya di Indonesia. “Bersyukur, I’m thankful bisa balik ke Jakarta, Indonesia. Terima kasih untuk support-nya dan bawa aku ke sini. Saya rasa bersyukur bisa bawa my new song, bisa share. Saya berharap posisi jazz bisa diberi kesempatan,” kata Joey dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona, Kementrian Pariwisata, Gambir, Jakarta Pusat.

Nantinya Joey tampil trio bersama drummer jazz Ulysses Owens Jr serta Dan Chmielinski pada bass. Anak muda bernama lengkap Josiah Alexander Sila itu juga berkolaborasi dengan Glenn Fredly, Isyana Sarasvati, dan Adinda Shalahita.

Sementara untuk konsep serta berapa lagu yang akan dibawakan oleh Joey, produser dari konser ini, Irsan Walad, memilih untuk memberikan Joey kebebasan. “Joey selalu ingin memberikan kejutan-kejutan. Bisa tambah lagu untuk memberikan nilai lebih dalam pertunjukan ini. Kita memberikan kebebasan pada Joey dan Joey memang begitu penuh dengan improvisasi,” ungkap irsan, produser konser. ***

Sruti Respati, Sam Bobo dan Rudianto Hasilkan Lagu “Kerjo Kerjo Kerjo”

Sruti Respati

 

ADA kerja kolaborasi menarik di antara komposer musik pop, Sam Bobo dengan penghasil komposisi aransemen andal, Rudianto dan penyanyi pop Jawa, Sruti Respati yang telah menghasilkan singel keren berbahasa Jawa bertajuk “Kerjo Kerjo Kerjo”.

Melihat dari judulnya, jelas ini terinspirasi dari slogan Presiden RI, Joko Widodo, suatu makna yang dinilai Sruti sebagai juga bermotif sikap toleransi yang  tidak melihat Anda dari mana, suku dan agamanya apa, karena menurut dia,  “Keberhasilan didapat dari kerja keras. Dari situ munculnya spirit lagu Kerjo Kerjo Kerjo,” ungkap perempuan penyanyi usia 37 tahun kelahiran Surakarta, Jawa Tengah ini.

Ditegaskan oleh Sruti, dirinya menerima tugas menyanyikan lagu “Kerjo Kerjo Kerjo” lebih pada konsep berkeseniannya. “Menafsirkan dengan sudut pandang itu dengan spirit awal yang mau disampaikan untuk berbuat sesuatu yang baik dan tulus bagi  negeri ini. Walau dengan kacamata dan sudut pandang berbeda satu sama lainnya, tapi tetap intinya dari minat berkesenian,” lebih lanjut katanya.

Ihwal adanya sentuhan musik electronic dance music (EDM) yang membalut lagu berlirik bahasa Jawa Kromo Inggil, ini dijelaskan Sruti punya tujuan yang pasti sesuai dengan jaman now.

“Tradisi banget, tapi beda,” imbuhnya. “Kita hidup di jaman kekinian, boleh dibilang ada perubahan yang pasti harus  beradaptasi dengan jaman baru. Tapi tetap pegang pakem dengan nada pelog slendro yang moga mau dipahami oleh anak muda. Mungkin arranger berpikir ingin merangkul semua kalangan dan mengajak mengerti apa yang disampaikan. Ingin mengajak sampaikan pesan sembari beradaptasi dengan jaman now tetapi gak hilangkan spirit tradisional. Jadi mirip ke pelog diatonis,” ujarnay  lagi.

“Saya sebetulnya (sempat) agak kaget, beliau (Sam Bobo) senior pencipta lagu seperti Nurlela, kenapa ya mau buat lagu berbahasa Jawa?!” tambah Sruti mengenang.***

Setting Khusus Film “Stadhuis Schandaal”

MEMPRODUKSI sebuah film dengan setting waktu tertentu memang membutuhkan konsep artistik yang menggambarkan situasi dan kondisi saat peristiwa terjadi. Namun, untuk menggambarkan setting yang dibutuhkan, tidak semudah mewujudkan cerita di dalam tulisan, perlu perwujudaan fisik yang dibuat sesuai dengan konteks cerita. Jika kebutuhan artistik tidak dapat dipenuhi dengan barang-barang, bangunan, lingkungan yang ada, pembuat film harus membuat tiruannya.

Atas pertimbangan sutradara dan produser film Adisurya Abdy bersama timnya, saat ini tengah membangun sebuah set berupa tangsi dan benteng Belanda, untuk set khusus film “Stadhuis Schandaal” yang akan diproduksinya. Set khusus itu dibangun di atas tanah seluas 1.500 m2 di atas tanah milik PT. Inter Studio, di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

“Kita sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kita lakukan, jadi lebih baik membamgun set sendiri, supaya kerjanya lebih bebas,” kata Adisurya Abdy .

Film pertamanya setelah istirahat selama 14 tahun ini akan mulai melakukan pengambilan gambar pada kawartal ketiga November 2017 ini. Selain syuting di set yang dibuat khusus, film ini juga akan melakukan pengambilan gambar di kawasan Kota Tua Jakarta, terutama di Museum Fatahillah, dan di Shanghai, Cina.

Setting masa kolonial dan modern. Ada dua kurun waktu yang akan ditampilkan dalam film terbaru karya Adisurya Abdy ini, yakni setting jaman kolonial dan kekinian (modern).

Sinopsis
“Stadhuis Schandal” mengisahkan tentang Fei, seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya.

Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatiin oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Je Specx, biasa dipanggil Sarah. Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei manakala dering iphone membuyarkan perhatian Fei akan sosok Sarah itu. Fei bertanya kemudian apakah temannya ada yang melihat SARAH? Namun temannya menjawab tidak.

Pertemuan antara Fei dan Sarah itu membuat Fei tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yangmemperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis itu.

Fei memiliki pacar bernama Chiko  yang posesive. Hubungan Fei dan Chiko sedang berada pada titik terendah, karena Chiko ingin seutuhnya menguasai serta mengatur Fei. Hal itu membuat Fei menjadi terganggu dan terbebani dan perlahan tapi pasti rasa cinta dan sayangnya terhadap Chiko mulai memudar, namun Chiko tidak ingin kehilangan Fei.

Suatu hari Fei menemani ayahnya, Wisnu , yang seorang pengusaha, ke China. Partner Wisnu adalah seorang pengusaha  sukses  keturunan China-Indonesia bernama Danny Wong (40 tahun). Di Shanghai Fei mengenal Danny Wong lebih dekat, dan Fei mengetahui bahwa Ayahnya dan Danny akan memaksimalkan perkebunan sawit mereka di Pulau Sumatera, sekaligus memaksimalkan pabrik pengolahan minyak sawitnya. Danny ditemani oleh Fei meninjau perkebunan sawit dan pabriknya di Sumatera.
Pertemuan demi pertemuan membuat Fei dan Danny mulai semakin dekat, walau usia mereka berbeda agak jauh, namun hati mereka bicara berbeda.

Kembali ke Jakarta, Fei yang masih harus menyelesaikan tugas kampusnya, kembali bersama beberapa temannya mengunjungi kota tua Batavia sebagai pusat kajian mereka. Disana Sarah kembali muncul memandang Fei dengan senyum memikat menyenangkan. Fei merasa bahwa ada satu kekuatan sepertinya SARAH memintanya untuk mendekat. Fei tanpa sadar kakinya melangkah mendekati Sarah. Dengan senyum yang lembut tulus memikat, Sarah lalu menyentuh bagian dada Fei, dan seketika masa kini beralih kemasa lalu, persisnya Fei dibawa oleh Sarah menembus lorong waktu menuju Batavia pada tahun 1628.

SARAH adalah putri hasil hubungan gelap dari seorang Perwira Tinggi VOC bersama wanita Jepang saat Perwira Tinggi VOC itu bertugas disana. Sarah dibawa oleh ayahnya ke Batavia dan tinggal di rumah Jan Pieterzoon Coen sang Gubernur Jenderal.

Di Batavia Sarah yang tumbuh remaja dan cantik membuat beberapa perwira VOC baik muda maupun tua tergila–gila, namun dalam perjalanannya hati Sarah hanya tertambat kepada seorang perwira muda VOC, salah seorang pengawal J.P. Coen yang bernama Pieter C.

Pada masa – masa itu, hubungan beda ras dan beda strata tanpa ikatan perkawinan adalah sesuatu yang tabu, dan jika ketahuan maka dianggab hubungan terlarang sebagaimana perselingkuhan, dan hukumannya adalah mati. Chiko yang semakin merasa bahwa Fei berupaya menjauh dan menghindar darinya, tidak dapat menerima. Terlebih – lebih manakala Fei  mengatakan bahwa hubungan mereka sebaiknya disudahi dan putus. Chiko kelihatan perangai aslinya yang tidak baik, dan memang sesungguhnya selain childish, Chiko tanpa diketahui oleh teman-teman kampusnya adalah bagian dari sindikat yang seringkali memeras banyak perusahaan. Dengan kata lain, Chiko adalah anggota dari sindikat Cyber Crime.

Film produksi PT. Xela Film dengan produser Omar Jusma, ini cerita dan skenario ditulis sendiri oleh Adisurya Abdy. Para pemerannya, yaitu Tara Adia (Saartje Spech / Sarah), Michale Lee (Pieter Cortenhoff), Amanda Rigbi (Fei), Rensi Millano (Samina), Volland Humonggo (Danny Wong), George M Taka (JP Coen), Roweina Umboh (Eva Mert), Iwan Burnani (Jaques Spech), Septian Dwicahyo (Hans), Lady Salsabila (Mila), Stephanie Adi (Rika), Ati Cancer (Bibi), Bangkit Sanjaya (Pelayan misterius), Kiki Amalia (Via), Anwar Fuadi (Abimanyu), Yanto Tampan (Anak buah Hans), Cindy (Tasya), Andika Ariesta (Aby), Iqbal (Rayman), Ricky Wala (Babam).

Festival Film Tempo Kini Dipanggungkan

JELANG akhir 2017, Tempo kembali mengadakan kegiatan rutin yakni penjurian terhadap sejumlah film sepanjang periode Oktober 2016-November 2017 untuk diulas dalam edisi khusus Film Pilihan Tempo. Untuk pertama kalinya ajang pemilihan ini diangkat ke atas panggung Malam Penghargaan. Berkembangnya bentuk pemilihan ini, kegiatan tersebut lantas dinamakan Festival Film Tempo.

Ada beberapa alasan mengapa pemilihan film pilihan Tempo ini terus berlangsung dan dikembangkan dalam bentuk malam penganugerahan. “Sebetulnya sudah lama beberapa kawan dari komunitas film menyampaikan bahwa penghargaan Tempo itu penting,” ujar Leila S. Chudori, salah satu juri dari Tim Tempo, Rabu 15 November 2017.

Menurut Leila, biasanya setelah Festival Film Indonesia mengumumkan hasil, para sineas menengok hasil penjurian Tempo yang diadakan tiap tahun. Selain itu menurut Leila mereka pun mengusulkan adanya pemberian piagam. “Jadi kami sepakat ya jangan hanya piagam, sekaligus piala dan malam penghargaan,” tutur Leila.

Festival Film Tempo menurut Leila boleh dikatakan cukup berbeda karena tak mengharuskan produser untuk mendaftarkan film mereka. Tim dari Tempo yang mencari dan menyeleksi film-film tersebut. Selanjutnya, film-film yang dinilai pun tak harus film yang ditayangkan di bioskop komersial. “Jadi film yang masuk festival atau diputar di komunitas film saja kami nilai juga,” lanjut Leila.

Penilaian yang dilakukan dalam Festival Film Tempo menggunakan sistem penjurian. Di mana para juri terdiri dari wartawan-wartawan Tempo dengan dua juri mandiri. Tahun ini juri yang dilibatkan adalah Seno Gumira Ajidarma dan Adrian Jonathan Pasaribu.

Di rentang bulan Agustus-September 2017 merupakan waktu bagi para juri untuk menonton film-film. Penjurian berlangsung pada pekan pertama dan kedua bulan Oktober. Dari hasil penjurian ditetapkan beberapa nominasi untuk delapan kategori yaitu Film Pilihan Tempo, Sutradara Pilihan Tempo, Skenario Pilihan Tempo, Aktor Pilihan Tempo, Aktris Pilihan Tempo, Aktris Pendukung Pilihan Tempo, Aktor Pendukung Pilihan Tempo, dan Pemain Anak Pilihan Tempo. Berikut daftar nominasinya:

  1. Nominasi Film Pilihan Tempo 2017
    1. Marlina The Murderer in Four Acts
    2. Turah
    3. Posesif
    4. The Seen and Unseen
    5. Pengabdi Setan
    6. Cek Toko Sebelah
  1. Nominasi Sutradara Pilihan Tempo 2017
    1. Mouly Surya (Marlina and The Murderer in Four Acts)
    2. Edwin (Posesif)
    3. Kamila Andini (The Seen and Unseen)
    4. Wicaksono Wisnu Legowo (Turah)
    5. Joko Anwar (Pengabdi Setan)
  1. Nominasi Skenario Pilihan Tempo 2017
    1. Marlina The Murderer in Four Acts (Mouly Surya dan Rama Adi)
    2. Turah (Wicaksono Wisnu Legowo)
    3. Posesif (Gina S. Noer)
    4. The Seen and Unseen (Kamila Andini)
    5. Pengabdi Setan  (Joko Anwar, Sisworo Gautama Putra)
    6. Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa)
  1. Nominasi Aktor Utama Pilihan Tempo 2017
    1. Egi Fedly (Marlina The Murderer in Four Acts)
    2. Adipati Dolken (Posesif)
    3. Ubaidillah (Turah)
    4. Slamet Ambari (Turah)
    5. Deddy Sutomo (Kartini)
  1. Nominasi Aktris Utama Pilihan Tempo 2017
    1. Marsha Timothy (Marlina The Murderer in Four Acts)
    2. Dian Sastrowardoyo (Kartini)
    3. Tara Basro (Pengabdi Setan)
    4. Putri Marino (Posesif)
    5. Ayushita Nugraha (Bid’ah Cinta)
  1. Nominasi Aktor Pendukung Pilihan Tempo 2017
    1. Chew Kinwah (Cek Toko Sebelah)
    2. Fuad Idris (Bid’ah Cinta)
    3. Bron Palarae (Pengabdi Setan)
    4. Yayu Unru (Posesif)
    5. Yono Daryono (Turah)
  1. Nominasi Aktris Pendukung Pilihan Tempo 2017
    1. Dea Panendra (Marlina The Murderer in Four Acts)
    2. Christine Hakim (Kartini)
    3. Ayu Laksmi (Pengabdi Setan)
    4. Djenar Maesa Ayu (Kartini)
    5. Cut Mini (Posesif)
  1. Nominasi Pemain Anak Pilihan Tempo 2017
    1. Muh. Riziq (Turah)
    2. Ni Kadek Thaly Titi Kasih (The Seen and Unseen)
    3. Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena (The Seen and Unseen)
    4. Nasar Annuz (Pengabdi Setan)
    5. Muhammad Adhiyat (Pengabdi Setan)

Pengumuman pemenang akan berlangsung di malam penganugerahan Festival Film Tempo pada 27 November 2017 di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. ***

Ayushita Syuting di Swiss, Takut Copet Ternyata Aman

Ayusitha dan poster film yang dibintanginya, “Satu Hari Nanti”.

INI pengalaman baru bagi aktris Ayushita Nugraha syuting di Swiss. Ia didapuk sutradara Salman Aristo berperan sebagai Chorina di film drama bertajuk ‘Satu Hari Nanti’. Dalam film produksi Rumah Film dan Evergreen Picture yang merupakan kerjasama antara RI dan Swiss ini, ikut main sederet bintang terkenal yaitu Adinia Wirasti (Alya), Deva Mahenra (Bima) dan Ringgo Agus Rahman (Din).

“Dalam bayangan sebelum berangkat, saya paling takut copet. Ternyata, aman-aman saja. Naik kereta api, aman dan disiplin. Swiss adalah negara di Eropa yang rakyatnya ramah dan hangat,” lontar Ayushita dalam peluncuran teaser, trailer dan poster film ‘Satu Hari Nanti’  di Jakarta, belum lama ini.

Selama hampir tiga minggu, Ayushita jalan-jalan bersama bintang lain dan mencoba transportasi umum di Swiss. “Swiss itu enggak memiliki pohon cokelat. Tapi bisa memproduksi cokelat terbaik se dunia,” papar aktris yang dilahirkan di Jakarta, 9 Juni 1989 ini.

Ayusitha

Diungkapkan, ketika membaca skenario, Ayushita tak suka karakter Chorina. “Tapi ternyata ceritanya bagus, akhirnya saya ambil juga Terlebih lagi, syutingnya di Swiss,” lanjutnya. Chorina adalah wanita manajer hotel di Swiss, Ia diungsikan oleh keluarganya dari Indonesia ke Swiss untuk bertahan hidup.

Ayushita meroket namanya sejak membintangi film ‘3 Dara’ (2015), ‘Gila Jiwa the Movie’ (2016), ‘Bid’ah Cinta’ (2017) dan terakhir ‘Kartini’ (2017). Di film ‘Bid’ah Cinta’, Ayushita masuk nominasi untuk kategori alkris utama Festival Film Tempo (FFT) bersama Dian Sastro, Tara Basro, Marsha Timothy dan Putri Marino.

Ayushita menyukai alur cerita ‘Satu Hari Nanti’ yang mengisahkan tentang pilihan dari kegelisahan anak muda dalam membangun sebuah komitmen di Swiss, baik di lingkup cinta, pekerjaan dan keluarga. “Film ini berkisah tentang lika-liku pertemanan  dan kisah cinta yang kelam yang tumbuh bersama dalam pencarian makna akan jati diri dari mereka di negeri orang,” demikian ujar sutradara Salman Aristo. ***