AFTER SCHOOL HORROR 2 adalah sebuah film horor terbaru Indonesia ditahun 2017. Film After School Horror 2 ini akan bercerita tentang seorang pemuda bernama Putra, yang mana dirinya terobsesi ingin menjadi pacarnya Nicole, yaitu seorang Gadis cantik serta populer se SMA Kharisma. Padahal Nicole sangat anti dengan Putra, yang penampilan nya jauh sekali dari kesan menarik. Film ini akan diarahkan dan disutradarai oleh sutradara film bernama Nayato Fio Nuala, Sedangkan untuk naskah skeanrionya ditulis oleh Erry Sofid.
After School Horror 2 Movie ini, diproduksi oleh Rumah Produksi Film BIC Pictures, dan diproduseri oleh H.M. Firman Bintang. Film ini direncankan rilis pada tanggal 16 November 2017 (Indonesia), dengan menggunakan bahasa Indonesia. adapun untuk para pemain film, yang akan turut meramaikan, yaitu seperti Yoriko Angeline, Randy Martin, Devin Putra, Amara Sophie, Citra Hikmah, Maura Gabrielle, Indah Nic, Cassandra Lee, dan Miehe. “Selama syuting, kita dikejar-kejar setan terus”, kata Randy Martin.
Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Putra, dirinya terobsesi ingin menjadi pacarnya Nicole, yaitu seorang Gadis cantik serta populer se SMA Kharisma. Padahal Nicole sangat anti dengan Putra, yang penampilan nya jauh sekali dari kesan menarik.
Rangga dan pacarnya yaitu Sandra, berusaha menasehati Putra bahwa, keinginan nya untuk menjadi pacarnya Nicole hanya sia-sia belaka, dikarenakan Nicole sesungguhnya adalah seorang wanita yang materielistis, dan hanya ingin melihat putra celaka. Berawal dari iseng, namun akhirnya malah berakhir menjadi bencana.
Serawal saat Nicole menantang Putra untuk melukis wajah dari seorang wanita, yang mana wanita tersebut pernah hidup di tahun 50-an, yang bernama Sumarni. Dan Putra harus menggambar pada saat tengah malam di dalam gudang sekolah. Jika Putra mempunyai nyali, maka Nicole pun akan bersedia menjadi pacarnya .
Sandra dan Rangga yang mengetahui tantangan tersebut, tak setuju. Denagn menggambar wajah Sumarni, maka berarti akan mengundang murka arwah dari Sumarni. Mitos yang beredar arwah Sumarni akan merenggut nyawa siapapun juga, yang berani menggambar wajahnya.
Dengan mendapatkan bantuan dari seorang teman sekolahnya, yang meminjami sebuah Boneka untuk dijadikan sebagai media pemanggilan arwah Sumarni, putra akhirnya nekad melakukan tantangan dari Nicole. Akan tetapi arwah Sumarni, tak muncul sendirian. Putra dan Nicole kemudian menjadi sasaran dari kemarahan Sumarni dan juga kawannya. Seperti apakah kelanjutan kisahnya? Akankah mereka dapat lolos dari gangguan arwah sumarni dan kawanya? ***
Salah satu adegan film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”.
FILM “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” adalah cerita yang berdasarkan kisah nyata seorang janda di Sumba, Nusa Tenggara Timur yang memenggal kepala seorang perampok dan membawanya ke polisi. “Ide cerita ini berasal dari Garin Nugroho. Pada 2014, saat itu saya sedang menjadi juri di FFI dan Garin tiba-tiba menemui saya di dalam bioskop,” cerita Mouly Surya yang menyutradarai film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” di Jakarta.
Saat itu Garin mengutarakan ide tentang janda yang memenggal kepala perampok kemudian mengajak Mouly bekerja sama untuk membuat film tentang kisah perempuan itu. Mouly pun menceritakan ajakan Garin kepada Rama Adi, dan merekapun setuju dengan ajakan Garin. “Padahal waktu itu kita juga punya proyek, tetapi kita menerima tawaran kerja sama ini karena ceritanya sangat menarik,” jelas Mouly.
Ini bukan kali pertama buat Mouly menggarap sebuah film, sebelumnya Mouly telah melahirkan sebuah karya berjudul fiksi. Dia pun berhasil meraih tiga penghargaan Festival Film Indonesia 2008 untuk kategori film, sutradara dan penulis skenario terbaik untuk film tersebut. Pada 2013 dia pun membuat film tentang hubungan yang tak biasa antara perempuan buta dengan laki-laki tuli dalam film “What They Don’t Talk About When They Talk About Love”.
Meski sudah berkali-kali membuat film Mouly mengaku menggarap “Marlina” tidaklah mudah. “Kata orang kalau sudah membuat film pertama dan kedua, membuat film berikutnya akan lebih mudah, tetapi saya rasa kok ini semakin sulit ya,” ujarnya tertawa. Ada beberapa hal yang dirasa Mouly membuat film ini tak segampang film sebelumnya salah satunya lokasi syuting yang berada di Sumba.
“Selama ini saya tidak pernah syuting jauh-jauh dari Jakarta, seperti film pertama saya berlokasi di Bendungan Hilir begitu juga film kedua saya masih di Jakarta. Biasanya saya syuting di lingkungan yang sempit dan padat, pada film ketiga ini saya harus mengambil gambar lebih luas karena jarak rumah dari satu rumah bisa sampai 20km. Maka kalau kita lihat scene di film ini banyak pemandangan luas, gersang dan tidak ada apa-apa, karena memang seperti itu di Sumba,” kata dia.
Menurut Mouly, lokasi film ini memang tidak dapat digantikan di tempat lain, karena Garin sendiri telah menuliskan cerita tersebut lengkap dengan ikon budaya setempat, salah satunya adalah kuburan batu yang ada di Sumba. “Sejujurnya saya tidak tahu Sumba itu seperti apa, ketika kami ke sana dan melakukan riset saya melihat keindahan sekaligus ketragisan di sana, hal itu juga yang ingin ditampilkan dalam film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak ini,” kata dia.
Rama Adi sebagai produser mengatakan pengambilan gambar film yang akan tayang pada awal 2017 tersebut dilakukan di dua tempat di Sumba dan di Jakarta. “Untuk eksterior kami mengambil di Sumba, sedangkan untuk interior seperti rumah Marlina di lakukan di studio PFN, Jakarta,” kata Rama.
Proyek film yang digarap rumah produksi Cinesurya Pitcures dengan Kaninga Pitcures dan Yisha Production ini dibintangi oleh Marsha Timothy, Dea Panendra, Egi Fedry dan Yoga Pratama.
Dukungan Pemerintah Prancis Film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” menjadi film Indonesia pertama yang mendapatkan Aide aux cinemas du monde (pendanaan bagi film di luar Prancis) dari Kementerian Komunikasi dan Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Prancis yang dikelola oleh Centre National du Cinema et de l’Image Anime (CNC) dan Institut Prancis di Indonesia (IFI).
Subsidi tersebut diberikan melalui mitra ko-produksi asal Prancis yaitu Isabelle Galnchant dariYisha Production, dan memiliki syarat 50 persennya harus dikeluarkan untuk jasa dari Prancis. Setelah Mouly dan kawan-kawan mempresentasikan proyek tersebut di Cinefondation L’Atelier di Cannes Mei lalu, akhirnya mereka pun memilih Isabelle untuk bekerja sama, kemudian film tersebut didaftarkan ke cinemas du monde pada Juli lalu.
Isabelle mengatakan film Marlina tersebut terpilih secara aklamasi oleh 10 orang anggota komite yang dikepalai oleh Charles Tesson, Direktur Artistik pada Semaine de la Critique Cannes Film Festival. “Hal ini jarang terjadi 10 juri menyetujui film yang sama, biasanya pasti ada pilihan berbeda diantara mereka,” kata Isabelle. CNC memasukkan film Mouly ini pada kategori “2d college” yang dikhususkan untuk sutradara yang membuat film ketiga dan seterusnya.
Pada kategori tersebut persaingan mendapatkan dana cinemas du monde semakin sulit karena harus bersaing dengan sutradara-sutradara yang telah berpengalaman. Isabelle Glanchant pun yakin film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” dapat diterima di pasar internasional. “Film ini memiliki cerita yang bagus dengan banyak nilai lokal di dalamnya. Selain itu,film ini digarap oleh sutradara yang berpengalaman, artistiknya bagus dan karakter tokoh di dalam film ini sangat kuat,” kata Isabelle yang juga menjadi ko-produser untuk film “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”.
Produser dari Yisah Production itu yang juga merupakan agen penjual film “Siti” karya Edie Cahyono dan “Istirahatlah Kata Kata” karya Yosep Anggi Noen mengatakan bisa saja orang Indonesia menonton film Indonesia tidak menyadari keunikan dari film tersebut karena menjadi hal yang biasa. “Kalau orang Indonesia mungkin menonton Marlina seperti biasa saja, tetapi untuk penonton internasional bisa jadi itu hal yang luar biasa, yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya,” kata dia.
Menurut dia, produser di Eropa tidak akan mengubah nilai lokal dari cerita film asing, justru mereka ingin nilai-nilai tersebut semakin kuat. ***
Hans de Kraker menerima penghargaan atas nama film Silariang.
LEMBAGA Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggelar acara penghargaan ‘Anugerah LSF 2017’ di Balai Kartini, Jakarta Selatan, belum lama ini. Pada gelaran tersebut, ‘Silariang’ memenangkan kategori film bioskop.
‘Silariang’ mengalahkan empat film lainnya yang masuk dalam nominasi tersebut. Keempatnya, yakni ‘Turah’, ‘Kartini’, ‘Rudy Habibie’, dan ‘Nyai Ahmad Dahlan’.
Malam itu Rere selaku sutradara ‘Silariang’ tak dapat hadir. Ia diwakili oleh Hans de Kraker. Hans sendiri mengaku melakukan videocall untuk memberi tahu Rere perihal kemenangan filmnya. Menurut Hans, Rere sangat senang mengetahui filmnya meraih Anugerah LSF 2017.
“Sudah (beri tahu Rere). Saya bikin videocall, terus saya kasih lihat (penghargaan). (Rere) senang sekali karena ini pengakuan untuk film Makassar dan itu juga ada Kartini dan Rudy Habibie (dalam kategori yang sama). Sudah pasti dia senang,” tutur Hans ketika ditemui saat acara rampung digelar.
‘Silariang’ berkisah tentang sepasang kekasih dari suku Bugis yang memilih untuk kawin lari, setelah tidak direstui oleh orangtua karena perbedaan kasta antara keduanya. Bisma Karisma, salah satu mantan personel SM*SH, dipercaya menjadi pemeran utama film tersebut dan ditemani oleh Andania Suri. ***
AJANG penghargaan film nasional Festival Film Indonesia (FFI) 2017 digelar malam ini di Manado Sulawesi Utara. Festival Film Indonesia (FFI) merupakan ajang penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. FFI pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955 dan berlanjut pada tahun 1960 dan 1967 (dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional), sebelum akhirnya mulai diselenggarakan secara teratur pada tahun 1973.
Mulai penyelenggaraan tahun 1979, sistem Unggulan (Nominasi) mulai dipergunakan. FFI sempat terhenti pada tahun 1992, dan baru diselenggarakan kembali tahun 2004. Penghargaan FFI merupakan simbol atas usaha keras, kompetisi dan keseriusan setiap peraih penghargaan sehingga siapapun pemenang terpilih akan menjadi kebanggaan perfilman Indonesia.
Berikut daftar pemenang FFI 2017 seperti dikutip dari twitter resmi @ffi_2017
Pemenang kategori Penata Busana Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Gemailla Gea Gerintiana dalam Night Bus!
Pemenang kategori Penata Rias Terbaik Festival Film Indonesia 2017 diraih oleh Cherry Wirawan dalam film “Night Bus”.
Pemenang kategori Penata Suara Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Khikmawan Santosa & Anhar Moha dalam Pengabdi Setan.
Pemenang kategori Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Aghi Narottama, Tony Merle & Bemby Gusti dalam Pengabdi Setan.
Pemenang kategori Sinematografi Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Ical Tanjung dalam Pengabdi Setan.
Pemenang kategori Pengarah Artistik Festival Film Indonesia 2017 adalah Allan Sebastian dalam film Pengabdi Setan.
Pemenang kategori Pencipta Lagu Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah The Spouse dengan Lagu Kelam Malam untuk film Pengabdi Setan.
Pemenang kategori Pemeran Anak Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Muhammad Adhiyat dari Pengabdi Setan.
Pemenang Penyunting Gambar Terbaik Festival Film Indonesia 2017 diberikan kepada Kelvin Nugroho dan Sentot Sahid dalam film Night Bus.
Pemenang kategori Penata Efek Visual Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Finalize Studios dalam Pengabdi Setan.
11.Pemenang kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik dimenangkan oleh Tonny Trimarsanto, sutradara Bulu Mata.
Pemenang kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Wahyu Utami Wati, sutradara The Unseen Works.
Pemenang kategori Film Pendek Terbaik Festival Film Pendek Indonesia 2017 adalah Ruah, arahan Makbul Mubarak.
Pemenang kategori Animasi Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Lukisan Nafas arahan Fajar Ramayel.
Pemenang kategori Penulis Skenario Asli Terbaik adalah Ernest Prakasa dalam film Cek Toko Sebelah.
Pemenang kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Rahabi Mandra dan Teuku Rifnu Wikana dalam film Night Bus.
Pemenang Pemeran Pembantu Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Yayu Unru dalam film Posesif.
Selanjutnya adalah Pemenang Pemeran Pendukung Wanita Terbaik adalah Christine Hakim dalam film Kartini.
Pemenang kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik adalah Putri Marino dalam film Posesif.
20.Pemenang kategori Pemeran Pria Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Teuku RIfnu Wikana dalam film Night Bus.
Pemenang Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2017 adalah Edwin, sutradara Posesif.
Pemenang kategori Film Terbaik Festival Film Indonesia adalah Night Bus! Selamat!!
Dalam Festival Film Indonesia 2017 menganugerahkan Lifetime Achievement Awards kepada salah satu produser wanita: Budiyati Abiyoga. ***
Pria yang akrab disapa Rifnu itu berhasil memenangkan Piala Citra berkat aksinya dalam film Night Bus. Rifnu mengalahkan Adipati Dolken (Posesif), Deddy Sutomo (Kartini) dan Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah).
Rifnu tampil apik dalam Night Bus, sebagai kondektur di bus. Film itu bercerita tentang perjalanan bus yang penuh teror mencekam.
Night Bus merupakan film ke-36 yang dibintangi oler Rifnu. Dia sudah bermain seni peran sejak kelas 4 SD. Di layar lebar, Rifnu mulai menjajak karier pada 2004 dalam film Mengejar Matahari.
“Saya dari kecil dari kelas 4 SD berteater di teater 46 dengan Emil Heradi yang juga sutradara dan sudah beberapa kali nominasi, dan baru kali ini saya bisa mengambil ini (Piala Citra),” kata Rifnu saat konferensi pers usai menerima Piala Citra di Grand Kawanua, Manado, baru-baru ini.
“Mudah-mudahan ini enggak berhenti. Karena dari sini saya semakin dicambuk ya. Ini mengingatkan saya enggak boleh lalai dalam menjalani proses seni peran,” tutur Rifnu.
Dengan capaian ini, Rifnu berhasil menambah borongan Piala Citra untuk Night Bus. Selain Pemeran Utama Pria Terbaik, film itu memboyong lima Piala Citra lainnya yakni kategori Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, dan Film Terbaik. ***
KISAH perjalanan berawal dari terminal bus Kota Rampak, dimana penumpang sudah beberapa hari menunggu jalur dibuka setelah ditutup, dikarenakan terjadi konflik dan kontak senjata antara pasukan Samerka (Sampar Merdeka) dengan aparat pemerintah.
Para penumpang memiliki tujuan masing-masing untuk pulang dan bertemu dengan keluarga, atau berziarah ke makam anak yang baru meninggal, menyelesaikan urusan pribadi, serta mencari kehidupan yang lebih baik.
Kisah tersebut yang diangkat dalam film Night Bus itu, meraih penghargaan sebagai Film Panjang Terbaik di FFI (Festival Film Indonesia) 2017, di Manado, belum lama ini.
Produser Night Bus, Darius Sinathrya menerima penghargaan Piala Citra sebagai pemenang film Terbaik langsung dari tangan Presiden ke-5, Megawati Soekarnoputri.
“Terima kasih Ibu Megawati sudah menyerahkan piala kehormatan ini. Jujur saya merasa tidak pantas, saya merasa masuk nominasi saja sudah bagus. Sebuah hal luar biasa, kebanggan bisa bersanding di FFI 2017,” kata Darius. Namun semua itu adalah buah kerja keras, jam demi jam, bahkan tahun demi tahun.
“Penghargaan ini menjadi sebuah doping untuk lebih bersemangat menyelesaikan Film dan terus bekerja,” ujar Darius.
Dalam film Night Bus, pesan yang penting yang ingin disampaikan adalah kemanusiaan. “Jangan sampai kita terbelah, terpecah. Dalam skala paling kecil, ingatkan kalau kita terjerumus dalam konflik, maka kita semua yang menjadi korban,” katanya.***
PIANIS muda asal Indonesia, Joey Alexander, akan tampil trio pada dua konser yang akan digelar di Balairung Soesilo Soedarman Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Sabtu malam (11/11), dan Indonesia Convention Exhibition, Bumi Serpong Damai, keesokan harinya.
Dalam rangkaian konser Asia Tour bertajuk A Night with Million of Imagination yang sebelumnya telah digelar di Jepang, Singapura, dan Hongkong itu, Joey ditemani Ulysses Owens Jr pada drum dan Dan Chmienlinski pada bas.
Konser 11 November di Kementerian Pariwisata, adalah pertunjukan yang dihadiri undangan khusus, yakni para duta besar, tamu penting dan beberapa menteri.
Pada hari berikutnya, barulah Joey akan tampil untuk publik dan menggandeng beberapa musisi Tanah Air. “Di antaranya akan ada Glenn Fredly, Isyana Sarasvati, dan Adinda Shalahita,” kata Joey, dalam jumpa pers yang digelar di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Sabtu.
Joey mengatakan, konser kali ini adalah konser kedua baginya di Indonesia dan senang bisa kembali main di depan publik Tanah Air. “Saya sekarang memang tinggal di New York tetapi Indonesia adalah rumah saya dan selalu senang tampil di sini,” kata dia.
Sebagai kejutan, Joey enggan menyebut lagu apa saja dan berapa lagu yang akan dia bawakan di panggung nanti, begitupun lagu apa yang akan dikolaborasikan dengan musisi lain.
Tetapi yang pasti, lagu itu akan berasal dari album terdahulunya yakni My Favourite Things, Countdown, dan album baru yang tengah ia persiapkan. “Kebanyakan bawa komposisi saya sendiri yang akan keluar di album selanjutnya,” kata dia.
Produser dari konser ini, Irsan Wallad, mengatakan, Joey memang sering tampil penuh kejutan dan improvisasi. “Sampai sekarang pun kita belum tahu setlisnya. Apalagi musisi jazz itu kan ketika di atas panggung, panggung itu milik mereka,” kata Wallad.
Tetapi sebagai produser dia memberi kebebasan untuk Joey. “Jazz itu pendekatannya selalu kemerdekaan,” kata dia.
SETELAH sempat menghebohkan netizen di Youtube saat meng-cover lagu yang lagi ngehits saat ini, “Akad” milik Payung Teduh, Hanin Dhiya, salah satu jebolan ajang pencaria bakat Rising Star Indonesia, kini mencoba peruntungan dengan menyanyikan lagu miliknya sendiri.
Tak tanggung-tanggung, dara berusia 16 tahun itu langsung mengeluarkan dua buah single sekaligus. Lagu tersebut berjudul ‘Darling’ dan ‘Kau yang Sembunyi’. Dua single itu dirilis Hanin medio September lalu.
“Konsepnya, itu dua lagu judulnya berbeda, tetapi video klipnya itu nyambung. Jadi video klipnya itu bercerita,” ujarnya saat dijumpai di kantor Warner Music Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Mengapa begitu? Itulah pilihan setelah Hanin berdiskusi dengan label, sutradara dan produsernya.
Hanin Dhiya mengungkapkan kalau kedua video klip single terbarunya itu memang dibuat dengan konsep yang unik dan menarik. Vieo klip single pertama bercerita tentang seseorang yang bingung dengan sikap sang kekasih yang tiba-tiba saja berubah.
Sementara video klip kedua, “Kau yang Sembunyi” merupakan kelanjutan atau ending dari video klip yang pertama. Di video klip yang kedua ini si wanita akhirnya tahu mengapa si pria sikapnya berubah.
Rupanya, diam-diam pria itu merahasiakan bahwa dirinya sebenarnya tengah sakit keras. Saat detik-detik menjelang maut menjemput pria itu, wanita itu baru dikasih tahu oleh teman-teman, bahwa perubahan sikap lelaki pujaannya itu karena ia sakit. ***
SUTRADARA Jose Poernomo, seakan punya ikatan emosional saat menggarap film Gasing Tengkorak. Film itu memang diangkat dari kisah mistis di tanah Minang, tempat Jose pernah tinggal lama dan mendengar tentang kisah mistis tersebut.
Permainan tradisional dari tanah Minang ini bukan permainan sembarangan. Jika di Jawa ada permainan Jailangkung, maka di Minang ada permainan gasing yang terkenal. Bukan sembarang gasing, tentunya karena ia terbuat dari tengkorak manusia, yang dipercaya bisa menjadi perantara untuk mengirimkan teluh pada seseorang. Kematian, menjadi ujung cerita dari aksi yang memanfaatkan gasing tengkorak ini.
Meski tampil seorang diri dalam sepanjang film produksi Dee Company dan MD Pictures ini, Nikita Willy yang berperan sebagai Veronica, mampu menarik emosi penonton dengan karakternya yang kuat. Bahkan kemampuan akting Niki, sapaan akrab Nikita, mendapat pujian dari Jose Poernomo.
“Pemain film horor biasanya sedih, senang, takut. Dan takutnya tidak bisa cuma satu level. Saya sangat puas dengan kemampuan bermain (Nikita), menunjukkan kualitas Nikita yang punya kemampuan akting mendalam,” kata Jose baru-baru ini.
Dalam film ini, Veronica diceritakan mengalami kejadian menakutkan saat sedang menikmati libur panjang dari kesibukannya sebagai seorang diva. Lewat serangkaian kejadian, nyawa Veronica terancam karena ada seseorang yang memainkan gasing tengkorak dan menginginkan kematiannya.
Kisah menegangkan yang membuat jantung penonton berdebar seolah tenang sejenak saat dimanjakan dengan keindahan alam yang disisipkan dalam beberapa adegan. Akhir cerita film ini juga ternyata di luar dugaan, sama sekali jauh dari bayangan. Di film ini, Nikita main sendiri. Lawan mainnya, Randy Khrisna hanya beberapa kali nongol.***
SUKSES membawa pulang penghargaan Anugerah Planet Muzik 2017 untuk lagu “X” sebagai kolaborasi terbaik, kini Afgan telah siap memberikan kejutan lainya untuk para penggemarnya.
Lagu yang lahir dari hasil kolaborasi dengan Rapper asal malaysia, SonaOne, ini memang bukan lagu yang biasanya Afgan bawakan. Afgan sendiri mengaku kalau dirinya keluar dai zona nyamannya dalam bermusik untuk menghasilkan single ini. Afgan yang dikenal sebagai penyanyi Ballad indonesia, kini Afgan mempersembahkan genre yang berbeda dan memperlihatkan kualitasnya sebagai penyanyi indonesia yang serba bisa. “saya akui kalau lagu ini merupakan a whole new sound from me. Tapi saya rasa dari liriknya sendiri pasti bisa relate dengan lagu ini,” ucap Afgan yang mengakui kalau lagu ini adalah lagu favoritnya di album “Sides”.
Proses pembuatan lagu ini cukup singkat, karena Afgan dan SonaOne telah saling mengenal dan mengagumi karya masing-masing, sehingga chemistery diantara keduanya terbentuk dengan mudah.
“Saya dan Afgan sudah saling kenal lama sejak lama, dan waktu itu kami juga pernah saling kontak dengan Trinity Optima Production. Dan waktu pembuatan album Afgan, pihak Trinity Optima Production mengajak saya untuk membantu membuat lagu di album “sides”. Hanya butuh seminggu, Afgan ke malaysia untuk membicarakan lagu ini. Dan minggu depannya saya ke jakarta untuk proses rekaman.” ungkap SonaOne yang bangga bisa memenangkan penghargaan Anugerah Planet Muzik 2017 pertamanya bersama Afgan.
Single ini juga memiliki makna mendalam dan diikuti dengan kampanye yang menarik. #XCeritaMu menjadi salah satu kegiatan yang mendekatkan para penggemar dengan Afgan. Dalam kampanyenya Afgan mengajak penggemarnya untuk menceritakan perjuangan move on dari kisah masa lalu mereka ke instagram, dan sekitar lima ratus akun instagram mengikuti kampanye #XCeritaMu. Afgan juga berencana mengadakan Xmarket, sebuah garage sale dimana para penggemar dapat menghibahkan barang-barang dari masa lalu mereka untuk dijual.
Tidak hanya itu, video klip yang digarap baik oleh Candi Soeleman berlokasi di korea selatan, menggunakan konsep urban dengan pemandangan gedung-gedung futuristik yang tiap sotnya diambil dengan gaya clean cut dan minimalis. korea selatan dipilih sebagai lokasi pembuatan video klip karena Candi Soeleman ingin memperlihatkan sisi Afgan yang modern gentelment di tengah kota dan juga karena korea selatan memiliki lebih banyak panorama gedung-gedung berdesain futuristik.
Afgan sendiri kini telah mendapatkan nominasi dari Anugerah Musik Indonesia 2017 untuk kategori Best Pop Album, Best of The Best Album, dan Best Pop Solo Artist. Mengingat kesuksesan di single “X” ini, tidak menutup kemungkinan mereka akan berkolaborasi kembali di projek selanjutnya.***