Heboh! Gading-Gisel Cerai

Kabar penyanyi Gisel gugat cerai Gading Marten bikin kaget sejumlah pihak.

Hingga kini Penyebab Gisella Anastasia gugat cerai Gading Marten belum diketahui.

Kabar isu Gisella Anastasia dan Gading Marten cerai justru disampaikan kerabat Gading.

Berita ini juga dibenarkan Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Achmad Guntur.

“Iya benar, ada gugatan (cerai) masuk dengan nomor 908. Setelah saya cek itu ada perkara masuk tanggal 19 November,” ujar Achmad Guntur di PN Jakarta Selatan, Rabu (21/11/2018).

Perkara dengan nomor No.908/Pdt.G/2018/PN.JKT.SEL telah didaftarkan sejak Senin (19/11/2018) lalu.

“Yang mendaftarkan di sini ada kuasanya, penggugat tidak hadir langsung,” ujar Achmad Guntur.

Banyak yang tak menyangka jika pasangan selebritis yang menikah pada 14 September 2013 ini akan berpisah. (pik)

‘Message Man’ Film Join RI-Australia, Berdarah-darah, Sadis dan Keras

Proyek film laga ‘Message Man’ koproduksi Australia-Indonesia ini dibintangi oleh Paul O’Brien dan telah melakukan syuting di Jakarta lima tahun silam. Beberapa bintang asal Indonesia juga ikut bermain dalam film ini, antara lain Agni Pratistha, Ferdi Solaiman, Mike Lewis, Mario Irwinsyah, Rony P Tjandra, dll.

Henry Ambarita, produser eksekutif dari HJ Production, menyebut prosesnya memakan waktu lebih lama dalam pasca-produksi.

“Namanya seniman, susah,” ujar Henry usai pemutaran film khusus untuk media di XXI Epicentrum Jakarta. “Kami mau benar-benar berbeda dengan film-film lain terkini. Memang butuh waktu dan dana.”

“Waktu itu kami simpulkan, omong ke (sutradara-penulis) Corey Pearson, yuk kita coba lakukan pasca-produksi di Australia. Kami dapat kesempatan di situ. Dari situ, kami olah dengan baik dan hasilnya seperti ini. Kami lihat, November adalah waktu yang cocok (untuk merilis),” jelasnya.

Henry juga menyatakan bahwa lewat proyek ko-produksi dua negara ini, mereka ingin membangun jembatan antara Indonesia dan Australia dalam bidang film supaya “Hollywood ketuk pintu ke Indonesia”.

“Semua muara (perfilman) ke Hollywood, Hong Kong, tetapi kami mau ke tetangga dekat, Australia. Saya pilih Corey Pearson, ini film pertama dia. Kami kasih dia kesempatan untuk menunjukkan talenta dalam suasana Indonesia.”

“Kami mau promosikan Indonesia keluar. Nanti, sebentar lagi, Hollywood ketuk pintu ke Indonesia, bukan Indonesia ketuk pintu ke Hollywood,” ujar Henry.

Message Man diproduksi HJ bersama Rhythmic Films dan Citra Entertainment Group. Naskahnya ditulis Corey Pearson, yang sekaligus menjadi sutradara dan produser. Ini menjadi debut Corey sebagai sutradara film cerita panjang.

Kisahnya mengikuti seorang pensiunan pembunuh bayaran bernama Ryan (Paul O’Brien), yang hidup di laut terbuka untuk menjauhkan diri dari masa lalu. Karena perahunya rusak, Ryan terpaksa tinggal di salah satu pesisir Kepulauan Seribu dan menjalin hubungan dekat dengan keluarga Jenty (Agni).

Serangkaian peristiwa berdarah membocorkan keberadaan Ryan kepada Lee (Verdi), gembong mafia kejam yang bertahun-tahun memburunya. Lee pun mengirim tim pembunuh bayaran untuk memancing Ryan keluar. Sementara itu, masa lalu Ryan yang brutal kembali muncul ke permukaan.

Message Man dijadwalkan rilis di Indonesia pada 22 November 2018. Distribusi ke negara lain masih dalam proses negosiasi. (pik)

Pee Wee Gaskins Isi Soundtrack Boboiboy

GROUP pop punk asal Jakarta, Pee Wee Gaskins mengisi soundtrack film animasi BoBoiBoy versi Indonesia. Lagu berjudul BoBoiBoy Hero Kita merupakan terjemahan dari lagi BoBoiBoy Our Superhero.

DItemui saat jumpa pers di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, pada Senin, 19 November 2018, Pee Wee Gaskins merasa bangga menerima tawaran ini karena BoBoiBoy merupakan film yang lekat dengan anak-anak mereka.

“Sudah tahu sejak lama film ini, karena anak-anak menonton,” ujar Fauzan alias Sansan, vokalis Pee Wee Gaskins.

Meski membawakan lagu untuk pasar anak-anak, bukan berarti Pee Wee Gaskins berkompromi dengan aransemen. Mereka tetap pada identitas musik pop punk dalam meramu BoBoiBoy Hero Kita.

“Sentuhan lagu tetap sebagaimana Pee Wee Gaskins, energi tetap sama,” lanjut Sansan.

BoBoiBoy Hero Kita jadi bagian dalam promosi film BoBoiBoy Galaxy. Film ini dirilis dalam format DVD dan diedarkan melalui gerai KFC. Ini adalah kali kedua KFC mengedarkan DVD BoBoiBoy. Pada tahun lalu, KFC berhasil menjual DVD BoBoiBoy The Movie sekitar 500 ribu kopi. (Pik)

Keluarga Cemara Tayang Perdana di Festival Film JAFF 2018

Film Keluarga Cemara–istimewa

Film adaptasi Keluarga Cemara produksi Visinema Pictures akan dirilis di bioskop reguler pada awal Januari 2019. Namun sebelumnya, film drama keluarga ini akan tayang perdana secara internasional dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-13 di Yogyakarta pada akhir November 2018.

Keluarga Cemara masuk ke program kompetisi Indonesian Screen Awards (ISA) yang dimulai sejak edisi tahun lalu. Sebelumnya, program untuk film domestik hanya berupa penayangan, tetapi ditingkatkan menjadi kompetisi demi memberi apresiasi lebih banyak bagi sinema lokal.

Tujuh film lainnya dalam JAFF ISA adalah If This is My Story (Djenar Maesa Ayu & Kan Lume) yang belum dirilis, Love for Sale (Andibachtiar Yusuf), Petualangan Menangkap Petir (Kuntz Agus), Menunggu Pagi (Teddy Soeriatmadja), Wage (John de Rantau), Sultan Agung (Hanung Bramantyo), serta Aruna & Lidahnya (Edwin).

Menurut Direktur Program JAFF Ismail Basbeth menyebut, delapan film ini dipilih atas alasan kesediaan produser dan mampu mewakili keragaman perspektif perfilman lokal. Terkait tema, delapan film tersebut juga turut merefleksikan tema festival, yaitu Disruption.

“Kami juga ingin menunjukkan Indonesia yang beragam. Jadi dalam kompetisi, ada berbagai macam cara pandang terhadap film Indonesia yang berbeda pula,” kata Basbeth dalam jumpa pers di XXI Plaza Indonesia Jakarta, Selasa, 13 November 2018.

Terkait juri, komite festival belajar dari evaluasi tahun lalu dan mengundang juri mancanegara demi menjaga penilaian adil. Ada tiga juri dan salah satunya Isabelle Glachant, produser asal Prancis yang belakangan aktif di Tiongkok.

Keluarga Cemara diadaptasi dari serial televisi berjudul sama era 1990-an karya Arswendo Atmowiloto. Naskah ditulis Gina S Noer bersama sutradara Yandy Laurens. Ini adalah debut Yandy sebagai sutradara film cerita panjang, setelah sebelumnya membuat film pendek Wan An (2012) peraih Piala Citra. Film diproduksi oleh Visinema bersama Ideosource dan Kaskus dengan produser Anggia Kharisma dan Gina.

Film ini berkisah tentang keluarga Abah (Ringgo Agus Rahman) dan Emak (Nirina Zubir), yang harus menghadapi masalah ekonomi dan beradaptasi dengan situasi baru. Abah harus ganti pekerjaan dan Euis harus pindah sekolah. Dalam kehidupan sederhana, mereka menemukan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.

JAFF edisi ke-13 akan digelar di Yogyakarta pada 27 November hingga 4 Desember 2018. (pik)

Mama Mama Jagoan, Sebuah Pembuktian Widyawati

Tiga mama-mama jagoan. (Foto: Screenshot Yoiutube)

 

AKTRIS senior Widyawati (68),  menerima tantangan yang tak lazim, dalam  film terbaru yang dibintanginya.  Film gres janda Shophan Shopiaan ini, bertajuk ‘Mama Mama Jagoan’ itu, besutan  sutradara Sidi Saleh bersama rumah produksi Budy Budy Pictures.

Agak nyeleh dari biasanya. Dalam film anyar tersebut,  Widyawati memerankan tokoh Dayu. Profil wanita paruh baya yang  tetap energik, dengan karakter yang tomboy dan juga berani.

“Dayu keluar dari zona saya yang biasanya. Karena saya biasanya kan kalem atau gimana gitu, tetapi disini saya jadi wanita yang tomboy,” kata Widyawati ketika ditemui disela-sela jumpa pers film ‘Mama Mama Jagoan’ di XXI Epicentrum Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (15/11/2018).

“Tapi memang awalnya saya kaget. Karena, usia saya yang sudah segini, masih mendapatkan peran utama,” tambahnya.

Widyawati mengaku awalnya sempat kesal, melihat karakter yang ia perankan. Dimana sosok Dayu, adalah sosok wanita yang berbeda dengan dirinya sendiri.

“Dayu itu berpenampilan cuek dan berantakan. Ada kesel gitu, tapi itulah Dayu. Jadi saya tetap mengikuti sutradara kalau ada berlebihan aktingnya, sutradara akan memberikan batasan untuk jangan begini deh,” ucapnya.

Widyawati mengaku sangat nyaman menjalani semua proses syuting yang ia lakukan itu. Terlebih, alasan kenyamanan tersebut karena memang ia bekerja dari hati, dan mencintai serta menyukai jalan ceritanya.

“Saya sangat menikmati proses syuting ini. Peran dan ceritanya menarik. Saya pertama banget kalau mau main itu pasti lihat ceritanya seperti apa, lalu perannya. Akhirnya saya putuskan iya karena memang menarik dan saya suka,” ujar Widyawati.

Film ‘Mama Mama Jagoan’ menceritakan tentang Myrna (Niniek L Karim), yang suaminya baru meninggal dan ia mengalami depresi berat atas kepergian suaminya itu.

Semangatnya baru muncul, setelah mendapaatkan kartu pos dari Monang (Lolox), anak laki-lakinya yang tidak pulang selama bertahun-tahun akibat bersitegang dengan ayahnya.

Kemudian, ditemani dua sahabatnya, Dayu (Widyawati) dan Hasnah (Ratna Riantinarno), Myrna memutuskan untuk mencaari Monang di Bali, yang merujuk pada kartu pos tanpa alamat tersebut.

Tantangan dihadapi oleh Myrna, Dayu, dan Hasna selama di Bali, ketika mencari Monang. Ketiga sahabat itu tidak mudah menemukan Monang di Bali, dengan timbulnya beberapa konflik.

Selain tiga aktris ternama Indonesia itu, film ‘Mama Mama Jagoan’ dimeriahkan oleh Jerinx, Nadine Alexandra, David John Schaap, dan lain lain. (Pik)

Nikki Thierry Tampil Cemerlang di ‘The Legends 6: ANIMATIONS’

Nikki Thierry–foto istimewa

Nikki Thierry, gadis remaja 16 tahun berprestasi ini tampil dalam konser Trinity Youth Symphony Orchestra bertajuk ‘The Legends 6: ANIMATIONS’ di Auditorium Universitas Bunda Mulia (UBM), Jakarta Utara, baru baru ini.

Mengenakan dress ala Cinderella, Nikki, membawakan lagu klasik Disney berjudul When You Wish Upon A Star, yang diangkat dari film Pinocchio. Nikki, tampil cemerlang dan menawan dalam konser yang digawangi konduktor Nathania Karina ini.

Ditemui usai tampil, Nikki, mengaku baru kali pertama tampil di konser bertajuk ‘The Legends’ ini. Diketahui, dalam tahun-tahun sebelumnya, konser ini kerap dibawakan berbagai tema.

Lagu ini ditawarkan langsung oleh Nathania. Mengaku tertantang, bagaimana kesiapan awal Nikki sebelum ‘menguasai’ lagu ini di panggung?

“Kalau lagu-lagu Disney yang lain pernah menyanyikan, tapi kalau ini, kan soundtrack Disney yang clasical banget. Tentang tema tokoh karakter Pinokio di zaman dahulu,” katanya, yang gemar karakter Disney bernama Moana dan Ariel ini.

Meskipun sudah lebih dari 5 tahun berkarier sebagai penyanyi, baru kali ini Nikki sedikit keteteran ‘menguasai’ lagu ini. “Susah karena ini lagu clasical, sedangkan tipe suaraku pop banget. Ada nada tinggi di lagu ini. Itu tantangannya. Dulu, pernah menyanyi clasical dan orkestra tapi saat umur 9 tahun,” tukasnya.

Tantangan yang dilalui, seperti menjangkau nada tinggi. “Masih aman (suara tinggi), dari awal sampai akhir. Karena suaraku mezzo, di tengah-tengah. Tapi kalau lagu ini, ada nada tinggi, itu tantangannya,” sambungnya.

Ketika awal menerima tawaran lagu ini, Nikki, tak menolak, justru terpacu ingin lebih baik. Terlebih, ia menyukai lagu tersebut. Untuk mengatasi nada-nada tinggi, sebelum tampil, ia berlatih dengan vocal coach. Latihan berlangsung setiap 1 jam dalam sekali pertemuan.

“Lebih sulit di bagian reffrain, karena clasical dan zaman dahulu. Ada nada-nada miring, apalagi di aransemen. Waktu latihan, aku belum tahu aransemen dan bagan-nya. Aku belajar dari lagu original-nya. Gampang didengar, tapi agak susah saat dinyanyikan,” ungkapnya.

Nikki, senang dipercaya membawakan lagu ini. Lagu ini membawa kisah nostalgia Nikki di masa kecil yang suka menonton tayangan dan lagu-lagu Disney. Nikki kecil, memfavoritkan karya Cinderella dan Bella.

“Apalagi yang menonton konser ini enggak cuma anak-anak tapi ada orang tua. Nostalgic banget,” katanya. Terinspirasi performance ini, Nikki, bermimpi akan membuat konser clasic atau orkestra.

Diketahui, Nikki, sukses dengan single pertama dan kedua, Bersamamu dan Please Say Yes, yang dirilis pertengahan dan akhir 2017. Awal Juli 2018, ia  kembali dengan lagu ketiga berjudul “Basi”. Rencananya, lagu keempat akan dirilis 2019 mendatang. (pik)

 

Tyo Pakusadewo Persembahkan Pagelaran Teater Kenang Kasih Ibu

Tio Pakusadewo–foto istimewa

Setelah mendekam selama sembilan bulan dibalik jeruji besi akibat kasus narkoba yang menjeratnya, salah satu aktor senior Tanah Air, yakni Tyo Pakusadewo akhirnya bisa menghirup udara bebas

Kembalinya Tyo Pakusadewo juga ditandai dengan dirinya yang memutuskan kembali ke industri seni peran yang sudah membesarkan namanya sejak dulu. Namun, bukan kembali ke dunia film seperti biasanya, kali ini Tyo bergabung dalam proyek pagelaran teater berjudul ‘Ibu’.

Tak tanggung-tanggung, pada pagelaran yang diberi nama ‘Untuk Ibu’ ini, Tyo Pakusadewo duduk sebagai produser sekaligus pemain.

Alasan kembalinya Tyo ke dalam dunia seni peran khususnya teater ternyata karena berkaitan dengan Almarhum sang Ibunda. Tyo mengaku ingin memberikan penghormatan yang terbaik bagi ibunya sekaligus bagi para ibu di seluruh dunia ini.

“Ini adalah teater modern atau kerja panggung saya yang pertama yang akan saya persembahkan khusus untuk ibu saya dan kebetulan untuk memperingati hari ibu tanggal 22 Desember,” kata Tyo saat ditemui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 15 November 2018.

Ia pun menambahkan, “Ibu saya pada 15 Desember kemarin sudah berpulang, saya ingin mengenang sesuatu untuk beliau, kebetulan ini sudah ada dari setahun yang lalu,” ujarnya.

Tyo membeberkan bahwa sebetulnya proyek pembuatan teater ini sudah ia rencanakan sejak satu tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasi akhir tahun ini.

“Sebetulnya ingin setahun yang lalu saya merencanakan ini tapi Tuhan mungkin baru memberikan jalan untuk tahun yang sekarang,” tuturnya.

Sementara itu diketahui, pagelaran teater ini bakal berlangsung pada 15 Desember 2018, di Teater Komunitas Salihara. Pemain lain adalah Reza Rahadian, Teuku Rifnu Wikana, Shelomita, Donny Damara, Chatib Basri, Patrisha Pakusadewo, Jerome Gabe sebagai pianis, Yudhis gitaris dan Heidy Awuy harpist. (pik).

Kaka Azraff dari Malaysia Main Film Zharfa

Nama Kaka Azraff di Malaysia, mungkin sudah tidak asing lagi. Penyanyi, sekaligus aktris asal Negeri Jiran tersebut, untuk pertama kali membintangi film religi Indonesia berjudul Zharfa yang akan tayang awal tahun depan.

“Saya harap, penonton Indonesia dapat menerima pesan dari film ini. Pesan yang positif. Saya juga berharap, film ini mendapat tempat bagi pemirsa di Indonesia dan dapat menerima saya di film ini,” ucapnya usai peluncuran trailer di kawasan SCBD Sudirman Jakarta Selatan pada Senin 12 November 2018.

Zharfa menjadi debut film Kaka Azraff sebagai pemeran utama, dia mengaku sangat ingin beradu akting dengan aktor ternama Indonesia, Reza Rahadian. “Karena, dia adalah aktor yang top di Indonesia. Jadi, saya pengin berperan dengan dia kalo ada kesempatan. Saya suka filmnya Habibie & Ainun,” ungkapnya.

Tidak hanya Habibie & Ainun, Kaka juga sangat mengagumi film-film Indonesia. “Saya mau ke sini, mencoba pasar Indonesia. Karena, saya menghargai film-film Indonesia dan saya mau kongsi dengan pasar indonesia,” tutur pelantun lagu Sibuk tersebut.

Selain Kaka Azraff, Zharfa juga dibintangi oleh Donny Alamsyah, Shelomita, Piet Pagau, Betari Ayu, Benny Ruswandi serta Dini Fitri. Film ini menjadi projek Ario Sagantoro sebagai creative produser, setelah tiga tahun lalu menggarap film The Raid 2. (pik

Ervanka Rekam Album Berbahasa Jawa ‘Takdir Tresnoku’

Ervanka–foto istimewa

Penyanyi jebolan Bintang Pantura, Ervanka membuktikan eksistensi di industri musik. Setelah mengalami pasang surut, kini dia kembali siap merilis karya-karya terbaru.

“Saya berjuang untuk terus membuktikan komitmen saya di dunia tarik suara,” kata Ervanka saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Keseriusan menapaki karier di dunia musik dibuktikan pria yang menyuka campursari itu lewat sebuah mini album. Ervanka melepas album anyar yang bertajuk Takdir Tresnoku.

Album tersebut berisi lima lagu yang diciptakannya sendiri. “Album ini bentuk pencapaian saya, suatu penanda dalam hidup saya pernah berjuang,” ujarnya.

Mini album Takdir Tresnoku bagi Ervanka bukan sekadar menghasilkan karya di jagat musik Indonesia. Menurutnya album ini adalah sebuah pembuktian keberaniannya melawan arus karena dia melantunkan Takdir Tresnoku dengan bahasa Jawa.

“Bahasa Jawa karena passion saya campursari dan saya ingin melawan arus. Jujur buat saya yang terpenting dari lagu adalah memiliki notasi yang enak, soal bahasa bagi saya nomor dua,” ucap Ervanka. (pik)

Ngeri! Luna Maya ‘Bernafas Dalam Kubur’

foto-tribunews

Yang senang film seram-seram, nah film yang satu ini jangan sampai terlewatkan. Ngerinya Luna Maya ‘Bernafas Dalam Kubur’ bisa bikin anda merinding tiada henti.  Penasaran? Silahkan meluncur ke bioskop terdekat.

Trailer terbaru tersebut dibuka dengan adegan Suzanna (Luna Maya) yang mengenakan mukena tengah mengaji bersama suaminya, Satria (Herjunot Ali) duduk bersama.

Satria membacakan ayat suci Alquran sementara Suzanna merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Satria.

Ia menutup kedua telinganya dengan tangan lalu berteriak dan seketika pula kaca-kaca yang ada di sekitar mereka pecah.

Adegan lain menunjukkan potongan cuplikan saat Suzanna dan Satria mendapatkan kabar bahagia penantian 5 tahun pernikahan mereka karena akan segera dikaruniai keturunan.

Nampak keluarga Suzanna dan Satria begitu bahagia.

Hingga akhirnya, pada masa kehamilannya Suzanna harus ditinggalkan suaminya pergi dan pada saat itulah kejadian buruk menimpanya.

Rumah Suzanna dirampok dan istri Satria itu dibunuh oleh perampoknya. Tapi Suzanna yang tengah hamil dibunuh mendadak hidup kembali dan membalas dendam kematian dirinya. (pik)